Forced Married (Chapter 9) by Nisa Amini

CNn6OARUkAAQ6Ph

Title : Forced Married | Author : Nisa Amini | Main Cast : Oh Sehun – Kim Hyejin | Genre : Romance, Comedy (little) Angst | Rating : PG-17 | Length : Chaptered

Summary : 

Pernikahan paksa yang dijalankan oleh Hyejin dan Sehun menyebabkan mereka berdua menemukan sebuah takdir yang sudah di garisi oleh Tuhan.

Prev

Chapter 8

.

 

.

 

.

 

.

 

Tatapan matanya terasa kosong…

Bibirnya seakan kelu seakan tak bisa berkata apapun…

Tubuhnya sedikit terhuyung karena kepalanya semakin terasa berat…

 

Hyejin memundurkan langkahnya semakin kebelakang sembari menggelengkan kepalanya kuat seperti orang yang ketakutan. Kedua matanya seakan tak bisa lepas dari sebuah foto berbingkai tadi.

 

Anak itu…

 

Tidak mungkin….

 

Suara seseorang yang terus memangil namanya pun tak Hyejin hiraukan. Ia sendiri pun bingung dengan apa yang terjadi sekarang, kenapa kepalanya terasa pusing? Ada apa sebenarnya?

 

“Akh…”

 

Hyejin merasakan dirinya sudah tidak kuat sampai-sampai ia tak terasa sudah meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Tak terasa kini Hyejin sudah terduduk lemah sambil bersandar pada dinding kamar ini.

 

“Apa yang kau inginkan dihari ulang tahunmu nanti?”

 

“Aku ingin boneka.”

 

“Boneka lagi? Apa kau tidak bosan?”

 

“Jika Oppa yang memberikan aku tidak akan pernah bosan sama sekali.”

 

“Baiklah akan Oppa berikan.”

 

“Hunhun!” panggil gadis kecil itu sedikit keras, lalu ia melanjutkan. “Sejujurnya pestamu ini sangat tidak menarik sekali, semua dipenuhi oleh robot aneh itu. Aku tidak suka!”

 

        “Aish! Kau ini – “

 

“Sshhtt…. Aku tahu pasti kau mau meneriaki kan?? Keterlaluan sekali.” Cemberut gadis tersebut. “Tapi sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun Hunhun. Aku mencintaimu…”

 

“Mworago?!”

 

“Oh Yaampun lagi-lagi seperti ini. Sudah lupakan saja.” Kata gadis kecil itu terlihat semakin kesal. “Tapi aku mempunyai hadiah untukmu! Lihat!”

 

Tiba-tiba saja gadis kecil tersebut memberikan sebuah gelang lucu berbandul robot yang tentu saja laki-laki kecil itu sukai. Tanpa berfikir panjang laki-laki itu langsung mengambilnya.

 

“Dan lihat aku juga memakai gelang yang sama sepertimu! Tapi aku memakai yang berbandul Barbie, lucu kan? Sekarang kita mempunyai gelang yang sama! Dan kau harus memakinya dimanapun, mengerti?”

 

“Ngh, Ya aku meng – “

 

Bagaikan sebuah roll film yang terus berputar dipikirannya, seakan terasa nyata bagi Hyejin. Di dalam benaknya terlihat samar ada seseorang pria dengan suara yang terdengar familiar ditelinganya. Sebenarnya siapa anak kecil yang berada difoto itu? Kenapa Hyejin menjadi seperti ini?

“Kenapa… ia mirip denganku?” suara isakan tangis yang lolos begitu saja. “Siapa sebenarnya dia?! Kenapa ia mirip denganku?!” seru nya sambil berteriak keras.

 

 

 

PRANG!

 

 

 

Hyejin meraih vas bunga yang tak jauh dari jangkauannya dan melemparkan begitu saja kearah foto tersebut. Membuat suara pecahan kaca yang sudah banyak berserakan mengisi kamar ini.

Hyejin menangis tak kuat, matanya yang sudah memerah masih menatap foto itu. Pandangan kini terasa mulai mengabur, membuatnya tak fokus kembali pada sekitar. Sampai pada akhirnya ia merasakan seluruhnya terasa gelap dan juga suara teriakan seseorang yang memanggil namanya.

 

“Nona Hyejin!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Sehun mengencangkan laju mobilnya dengan kecepatan yang sudah berada diatas rata-rata. Ia sungguh tidak perduli dengan banyaknya mobil yang berlalu-lalang, bagaimanapun ia harus cepat sampai menemui Hyejin.

Meski wajah Sehun terlihat tenang tapi tanpa terasa jantungnya sedari tadi terus berdetak dengan kencang, perasaanya pun terus dirundung rasa khawatir yang teramat. Seluruh pikirannya sudah terkunci oleh nama Hyejin.

 

Mobil yang membawanya kini sudah sampai didepan rumah Joonmyun. Baru sesaat ia ingin memasukkan mobilnya kedalam rumah Joonmyun, tiba-tiba saja matanya yang tajam itu menangkap ada seseorang dengan motornya yang terus menatap rumah ini.

Sehun sampai memberhentikan mobilnya sebentar dan mencoba memfokuskan pengelihatannya. Orang itu memakai pakaian serba hitam dan juga sebuah topi berwarna hitam pula. Membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu sebenarnya.

 

Tapi entah kenapa Sehun merasa tidak asing dengan orang itu…

 

Tapi siapa? Apa ia pernah mengenalnya?

 

Sedangkan orang itu mungkin merasa dirinya mulai dicurigai jadi segera ia seperti ingin meninggalkan rumah Joonmyun dan juga Sehun yang masih mengawasinya dari jauh. Sehun kembali mengumpulkan fokusnya lalu memilih mengabaikan orang itu karena sekarang yang terpenting adalah Hyejin. Ya gadis itu benar-benar sedang memonopoli perasaannya.

Baru sampai pintu utama Sehun sudah disambut oleh Bibi yang terlihat gelisah. Langsung saja Sehun bertanya. “Dimana Hyejin, Bi?”

 

Bibi menjawab dengan nada khawatir. “Nona Hyejin sudah dibawa kerumah sakit oleh tuan Joonmyun.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Sepanjang perjalanan bibirnya tersenyum lebar, apalagi ketika matanya teralihkan oleh sebuah gelang yang melingkar di tangannya. Bolehkah ia katakan hari ini sebagai hari yang menyenangkan?

 

“Jihyun-ah, apa yang kau berikan pada Sehun tadi?” ia langsung menunjukan gelang itu pada sang Ibu.

 

“Aku memberikannya gelang. Ini bagus kan, Bu? Aku tidak tahu ia menyukainya atau tidak tapi tenang saja aku sudah memaksanya untuk memakai gelang ini setiap hari.” Ia menjawab dengan nada terkesan bangga pada dirinya sendiri.

 

“Kau menyukai Sehun, kan?” kali ini sang Ayah berbicara dengan cara menggodanya. Sedangkan sang Ibu hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya.

 

“Ehm… itu aku sudah mengatakan padanya kalau aku menyukainya.”

 

“Lalu? Sehun mengatakan apa?”

 

Sambil mengerucutkan bibirnya, Jihyun menjawab. “Dia hanya terkejut dan tidak mengatakan apapun. Dia pria yang menyebalkan, Sungguh!”

 

Sang Ibu terkekeh pelan. “Jangan berkata seperti itu – “

 

“Oh? Ada apa dengan rem nya?!! Kenapa tidak bisa berhenti?!”

 

“Awas sayang!”

 

 

BRAK!

 

 

Ia merasakan tubuhnya terbentur dengan berbagai macam yang terasa keras, tapi anehnya itu tidak terasa sakit. Sampai ia tidak tahu bahwa kini tubuhnya sudah berguling di sebuah jurang, membuatnya harus terpisah dari mobil dan juga kedua orang tuanya yang sekarang entah dimana. Hal itu terhenti kala tubuhnya membentur sebuah pohon besar yang membuatnya berhenti berguling.

 

“Ibu… Ayah…”

 

Hanya itulah kata-kata yang bisa ia keluarkan karena setelahnya kedua mata itu tertutup dengan rapat sampai tidak terlihat apapun lagi. Mulai detik ini semua terasa hampa, sebuah kenangan yang ia ingat selama ini pun terasa mulai terhapus perlahan.

 

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Sehun berlari dengan sedikit cepat, menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat sedikit ramai. Sungguh hatinya saat ini terus berdebar dengan cepat, perasannya pun sedari tadi masih diliputi kecemasan teramat sangat. Tentu kini yang ada di dalam otaknya hanya Hyejin.

Sampai langkahnya itu harus terhenti ketika ada Joonmyun yang tepat berada dihadapannya kini. Sehun mencoba menetralkan deru nafanya yang memburu, ia lihat dengan seksama wajah Joonmyun yang terlihat datar, sejujurnya pria ini sedang dilanda rasa bingung sekaligus tidak pecaya dengan apa yang terjadi. Membuatnya Sehun yang melihatnya masih bertanya-tanya.

 

“Hyung…” Sehun memanggil Joonmyun dengan nada suara yang khawatir. “Dimana Hyejin?! Sebenarnya apa yang terjadi?!”

 

Joonmyun menurunkan pandangannya sebentar lalu sebelah tangannya ia taruh di pundak Sehun. “Sebelumnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.” Joonmyun terlihat menarik nafas sejenak. “Kau tentu belum melupakan adikkku, Jihyun? Bagaimana jika ia kembali lagi? Kau senang kan?” Joonmyun melontarkan berbagai macam pertannyaan dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya yang membuat Sehun semakin dilanda rasa penasaran dan juga bingung.

 

“Apa yang sedang kau bicarakan, Hyung?” Sehun terlihat tidak mengerti dengan arah pembicarakan Joonmyun. “Kenapa kau tiba-tiba mananyakan tentang Jihyun? Dan… kau bertanya bagaimana jika ia kembali lagi? Hyung … tapi Jihyun sudah tidak pernah kembali lagi sampai saat ini. Aku bahkan berfikir ia sudah… ia sudah…” suara Sehun terdengar sedikit serak dan juga matanya mulai memerah.

 

“Ia masih ada di sini. Ya ia masih ada didunia ini Sehun-ah.” Sambar Joonmyun cepat. “Jika kau tau dimana ia sekarang kau mungkin akan terkejut. Ya lebih terkejut dariku. Bahkan sampai sekarang ini aku tidak percaya.”

 

Sehun terdiam selama beberapa detik. Sungguh ia tidak mengerti dengan Joonmyun sekarang ini. Apa sebenarnya yang ia maksud? Apa Jihyun benar-benar masih hidup?

Selama beberapa detik Sehun nampak berfikir dengan keras, sampai pada akhirnya kedua matanya terlihat terbelalak. “Jangan bilang kalau…”

 

“Ia istirimu, Hyejin. Hyejin itu Jihyun yang selama ini kau cari.” Jawab Joonmyun langsung.

 

Sehun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya yang mulai tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Joonmyun. Mana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Sejujurnya Sehun tidak percaya dengan sesuatu yang dinamakan keajaiban tapi bolehkan ia sebut hal ini sebagai takdir?

 

“Bagaimana mungkin? Kau tidak bercanda, kan?!” kembali Sehun melontarkan pertanyaan mencoba memastikan.

 

“Asal kau tahu. Hyejin menjadi seperti ini karena ia baru saja melihat foto masa kecilnya yang berada dikamar Jihyun. Membuat seluruh kenangan yang ia lupakan menjadi terkuak kembali menguasai pikirannya, dan pada akhirnya ia menjadi tak sadarkan diri karena pikirannya terus berkecamuk.” Joonmyun menepuk bahu Sehun pelan. “Pada awalnya mungkin kau tidak akan percaya. Tapi mulai sekarang cobalah untuk membantunya menemukan semua memori yang ada didalam dirinya. Aku percaya padamu Sehun-ah.”

 

.

 

.

 

.

 

.

Sepanjang hari ini Sehun terus setia berada disebelah Hyejin yang masih belum membuka matanya dengan menggengam tangan gadis itu sampai pada langit yang mulai gelap karena hari sudah malam. Membuat laki-laki ini tak terasa tertidur sejak satu jam yang lalu, bahkan gorden jendela kamar rumah sakit ini belum tertutup membuat sinar bulan masuk menyinari kamar ini.

 

Sampai pada saat jemari mungil tersebut mulai bergerak secara perlahan lalu setelah itu kedua mata Hyejin mulai terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang terasa asing dan juga tercium bau obat-obatan yang menghampiri indra penciumannya. Ia arahkan pandangannya ke sebelah kanan, terlihat ia sedikit terkejut. Pantas saja tangannya terasa hangat sekali, ternyata Sehun sedang berada disisinya.

 

Hyejin mencoba melepaskan genggaman itu tapi yang ia dapat adalah genggaman itu terasa semakin menguat. Tanpa terasa setitik air bening mengalir begitu saja dari mata Hyejin, bahkan dalam tidurnya ia masih tidak mau melepaskan Hyejin. Ia tersenyum tipis menatap Sehun yang masih tertidur dengan tenangnya. Terdengar isakkan tangis yang keluar begitu saja, Hyejin mencoba menahannya dengan sekuat tenaga. Sungguh emosinya sangat memuncak ketika melihat Sehun yang masih setia padanya sampai selama ini. Hyejin sungguh berterima kasih atas semuanya.

 

Isakkan tangis Hyejin yang sedikit gusar membuat Sehun menggeliat dalam tidurnya.  Pelan kepala itu mulai mendongkak dan matanya langsung bertemu dengan Hyejin yang menatapnya dengan air mata yang masih menetes. Dengan manis Hyejin menyambutnya dengan senyuman tipis, membuat Sehun terdiam sejenak.

 

“Kau…”

 

Hyejin kembali tersenyum. “Kenapa kau tidur seperti itu? Kepalamu bisa sakit, Hunhun.” Suara Hyejin terdengar serak.

 

Sehun tertegun, mendengar sebuah nama panggilan yang tidak asing baginya, karena hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan nama seperti itu. Membuat Sehun tidak tahu harus berkata apa sekarang.

 

“Hunhun!”

 

“Tapi sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun Hunhun. Aku mencintaimu…”

 

“Baiklah aku pulang dulu. Jangan lupa untuk selalu memakai gelang itu! Jika kau menghilangkannya maka aku akan memukulmu hingga seratus kali! Bye Hunhun.”

 

“Hei. Kenapa kau diam saja?” Tanya Hyejin sambil menghapus air mata pada pipinya. “Kau tidak mau bicara apapun padaku?”

 

Tanpa bicara apapun Sehun mencoba menggapai pipi Hyejin. Menangkup dengan kedua telapak tangannya. Hyejin hanya bisa memejamkan matanya sejenak mencoba merasakan setiap kehangatan yang Sehun berikan.

 

“Bagaimana ini bisa terjadi?” Sehun masih terlihat tidak percaya. “Bagaimana… bagaimana bisa aku tidak menyadarinya dari awal?” Mata Sehun kembali memerah menahan sesuatu yang terus mendesaknya. “Asal kau tahu aku sama sekali tidak percaya dengan sebuah keajaiban, tapi… bolehkah aku menyebut hal ini sebagai sebuah takdir?”

 

Hyejin membuka matanya, “Aku benar-benar minta maaf karna baru menyadarinya. Maaf juga karna sudah membuatmu menunggu selama ini, aku benar-benar minta maaf… Sehun-ah.”

 

“Kau mengingat semua?”

 

“Anak yang didalam foto itu… apa benar-benar aku?”

 

“Jihyun… Kim Jihyun…”

 

“Sehun-ah maafkan aku.”

 

Sehun menuntun dirinya sendiri untuk duduk di atas ranjang rumah sakit agar lebih dekat dengan gadis yang berada dihadapannya ini. Sehun benar-benar tidak tahan lagi, ia pun langsung membawa tubuh Hyejin – yang kini sudah diketahui nama aslinya yaitu Kim Jihyun – kedalam pelukannya.

 

“Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku lama mencari keberadaan dirimu. Seharusnya aku bersikap lebih cepat agar kau tidak menunggu lama.” Bisik Sehun, kembali suara isakkan tangis gadis itu terdengar membuat Sehun mendekapnya semakin erat. “Kau tahu? Sekarang aku merasa menjadi seseorang yang paling bahagia didunia ini, sampai aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

 

“Kau bahagia aku kembali menemukan ingatanku?”

 

“Bukan hanya itu, aku bahagia kau kembali padaku dalam keadaan yang baik-baik saja. Hal seperti itu sudah sangat lebih dari cukup untuku.” Sehun melepaskan pelukannya lalu menatap wajah gadisnya. “Ji – ah maksudku Hyejin.” Sehun menghela nafas sejenak. “Bagaimana aku harus memanggilmu? Aku bingung…”

 

“Ehm… untuk saat ini aku masih merasa nyaman jika kau memanggilku dengan nama Hyejin. Mungkin nama Jihyun masih terdengar asing bagiku karena aku sudah tidak memakainya beberapa tahun lamanya.”

 

Sehun mengangguk mengerti, kemudian ia bertanya kembali. “Apa… ingatanmu sudah kembali semua?” terlihat nada kehati-hatiannya dalam bertanya. “Aku hanya penasaran saja.”

 

“Aku tidak yakin.” Lalu Hyejin menunduk. “Aku melihat semuanya Sehun-ah… aku mengalami hilang ingatan karena kecelakaan itu kan? Kecelakaan yang terjadi setelah aku menghadari pesta ulang tahunmu.” Hyejin kembali melanjutkan setelah beberapa detik, sedangkan Sehun masih diam menyimak. “Ibu dan Ayah kandungku… mereka semua datang kedalam mimpiku… dan sekarang mereka semua sudah pergi kan? Kenapa hanya mereka? Kenapa hanya aku yang hidup Sehun-ah?” kembali suara serak yang keluar dari bibir manis Hyejin.

 

Kembali Sehun membawa Hyejin kedalam pelukannya. Setelah itu Sehun mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Hyejin, mencoba memberikan kekuatan serta kenyamanan bagi gadisnya. “Sshhtt. Kau tidak boleh bicara seperti itu, ketika kau tiba-tiba mulai beredih seperti ini dan ketika kau merasa seperti tidak ada satu pun yang ada di sampingmu. Ingat bahwa kau tak sendirian, karena masih banyak orang yang berdiri disampingmu… termasuk diriku Hyejin-ah.”

 

“Sehun-ah…”

 

“Sudahlah sekarang kau lebih baik istirahat lagi.”

 

“Tapi – “

 

“Tenang saja aku tidak akan pergi.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Kyuhyun nampak memastikan alamat yang tertera diatas kertas yang ia sedang pegang sekarang.  Saat ini dirinya sedang berada di sebuah gedung yang terlihat sangat besar untuk ukuran di pedalaman kota Daegu.

 

“Bukankah ini salah satu cabang hotel dari Byun corp?” ia bersuara pada dirinya sendiri. “Ah… jadi dulu Sehun merayakan ulang tahunnya di hotel ini?” Kyuhyun berkata sambil berjalan dengan langkah ringan ke dalam gedung ini.

 

Kyuhyun langsung menuju pihak keamanan untuk mencari lebih banyak info dari kasus ini. Tak banyak yang Kyuhyun cari, ia hanya mengincar sebuah video cctv di gedung ini pada tahun kejadian kasus tersebut. Meski kasus itu diputuskan sebagai kecelakaan kelalaian pengemudi tetapi tetap saja Kyuhyun harus mencari info yang mungkin saja terabaikan begitu saja.

 

“Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah satu pihak keamanan tersebut.

 

“Saya ingin mengetahui catatan pengunjung pada tahun tertentu, apa bisa?” Kyuhyun ikut bertanya dengan santainya, sedangkan salah satu pihak keamanan tersebut terlihat mulai mencurigai Kyuhyun.

 

“Maaf Tuan, kami tidak bisa memberikan catatan tersebut pada sembarang orang.”

 

Kyuhyun menghembuskan nafasnya berat, kadang menjadi seorang detektif kepolisian itu harus mempunyai sifat yang sabar. Dan sebenarnya Kyuhyun sudah tahu bahwa pasti ia akan mendapat jawaban seperti itu. Pada akhirnya pun terpaksa Kyuhyun harus mengeluarkan sebuah kartu intentitas yang mengungkapkan bahwa dirinya adalah seorang anggota kepolisian.

 

“Saya adalah seorang anggota kepolisian Seoul dan saya harus memastikan sebuah informasi dari gedung ini.”  Ketika Kyuhyun berkata seperti itu terlihat pihak keamanan tersebut sedikit terkejut bahwa dihadapannya adalah seorang anggota kepolisian.

 

“Anda seorang anggota kepolisian?” tiba-tiba terdengar suara dari arah berbeda, membuat Kyuhyun langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Orang tersebut kini berjalan mendekati Kyuhyun.

 

“Perkenalkan saya Byun Baekhyun. Saya adalah Direktur dari Hotel ini.” Orang yang bernama Baekhyun tersebut memperkenalkan dirinya sambil membukuk.

 

Kyuhyun balas membungkuk lalu ia kembali berbicara. “Kebetulan sekali bertemu dengan anda.” Kyuhyun menampaksan senyuman tipisnya. “Ada sebuah informasi yang harus aku cari di Hotel ini dan saya meminta kerja sama anda untuk membantu proses berjalannya sebuah kasus.”

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya, ia terlihat bingung. “Kasus? Kasus apa?”

 

Dengan senang hati Kyuhyun menjawab. “Ini mengenai kasus yang terjadi pada tahun 2000 silam.” Kyuhyun kembali melanjutkan. “Saat itu ada sebuah keluarga yang mengadakan  pesta ulang tahun di Hotel ini dan ada sebuah tamu undangan yang sudah pulang lalu pada saat mereka dalam perjalanan pulang, mereka semua mengalami kecelakaan yang cukup parah. Bahkan ada dua korban meninggal pada saat itu kemudian juga ada korban hilang yang sampai pada saat ini belum ditemukan.”

 

Mendengar seluruh penjelasan Kyuhyun, membuat Baekhyun sedikit terkejut  dan juga penasaran mendengar hal itu. Karena pada saat kejadian itu terjadi ia masih kecil jadi ia belum tahu pasti apa yang terjadi.

 

“Jadi apa yang kau inginkan?”

 

“Data pengunjung dan juga video cctv pada tahun tersebut. Bagaimana?”

 

“Baiklah aku akan membantu proses kasus ini. Silahkan ikut aku.”

 

.

 

.

 

.

 

Ketika mendengar kabar bahwa Hyejin sudah sadar membuat Joonmyun langsung bergegas pergi kerumah sakit kembali setelah tadi ia pergi sebentar untuk menemui seorang tamu di perusahaan yang sama sekali tidak bisa ia tinggalkan.

 

Senyuman ceria tidak bisa lepas dari bibir Joonmyun ketika ia melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa orang yang di hadapannya saat ini adalah adiknya yang sudah lama ia nantikan, Kim Jihyun.

 

“Selama ini kau kemana saja. Huh? Apa kau tidak tahu aku selalu mencarimu?” kata-kata pertama yang terlontar dari bibir Joonmyun. “Jadi selama ini dugaanku benar bahwa kau adikku. Aku benar-benar bersyukur.”

 

“Maafkan aku Joon – ah maksudku Oppa!” hampir saja ia memanggilnya dengan nama seperti biasanya bukan sebuah panggilan adik pada kakaknya. “Ah seperti aku belum terbiasa memanggilmu seperit itu.” Hyejin merasa tidak enak.

 

Joonmyun tersenyum melihat tingkah Adiknya, lalu kembali ia melanjutkan. “Tidak apa-apa, selama kau baik-baik saja itu sudah cukup untukku.” Hyejin pun ikut tersenyum, “Ah ya, aku sepertinya akan melontarkan beberapa pertanyaan padamu, bagaimana? Kau bisa kan?”

 

“Selama aku bisa menjawabnya itu tidak masalah.” Jawab Hyejin cepat.

 

“Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi… jujur saja aku benar-benar menyesal. Jika saja… ya jika saja pada saat itu aku menyuruh Ayah, Ibu dan kau agar tidak pergi kesana mungkin akan lain ceritanya.” Jooonmyun kembali melanjutkan. “Pada saat itu… apa kau melihat Ayah dan Ibu untuk terakhir kalinya? Apa mereka sempat mengatakan sesuatu padamu?”

Hyejin nampak memainkan jarinya terlihat sedang gusar karena otaknya kini tengah sibuk mengingat pada kejadian saat itu. “Kecelakaan itu terjadi dengan sangat cepat, mobil yang kami tumpangi sempat menabrak pembatas jalan dan juga pepohonan yang ada di pinggir jalan. Mobil kami juga beberapa kali terguling, pada saat itu kami hanya bisa berteriak tapi… aku merasakan Ibu sempat memegang tanganku.” Hyejin memejamkan matanya sejenak, ia sedang berfikir dengan keras untuk mengingat dengan jelas kejadian tersebut. “Aku hanya bisa berteriak sambil memejamkan mata tanpa tahu bahwa pada saat itu aku sudah tidak berada didalam mobil lagi.” Saat ini isakkan tangisnya mulai tak terbendung, setiap kata-kata yang ia lontarkan pun sempat tersendat. Membuat Joonmyun yang melihat merasa tak tega lalu dengan segera ia mengenggam tangan Hyejin.

 

“Jihyun-ah…” Joonmyun menyebut nama Hyejin yang sesungguhnya, Kim Jihyun. “Sudah sampai disini saj – “

 

“Sampai pada akhirnya aku terguling di sebuah jurang yang sama sekali tidak aku ketahui dan yang aku ingat pada saat itu kepalaku sempat terbentur sebuah pohon dengan cukup keras.” Hyejin mencoba menetralkan suaranya yang sedikit serak. “Dan disitulah awalnya aku tidak bisa mengingat apapun. Aku bahkan tidak bisa mengingat nama asliku, sampai ada seorang Ibu yang menolongku dan memberiku nama Kim Hyejin.”

 

Tanpa berfikir panjang Joonmyun langsung memeluk Adiknya. “Sekarang aku percaya bahwa Tuhan benar-benar menyayangiku, ia kembali mengirimkan Adikku yang cengeng ini.” Hyejin pun tersenyum disela-sela tangisnya.

 

“Oppa…”

 

“Ah aku benar-benar merindukan suara panggilan ini.”

.

 

.

 

.

 

Sehun berjalan melewati lorong rumah sakit dengan membawa sebuah kantung yang berisikan makanan yang beberapa saat lalu ia beli untuk Hyejin. Semoga saja dengan makanan ini Hyejin akan merasa semakin senang, karena Sehun tahu sekali bahwa makanan rumah sakit ini bukan selera Hyejin. Karena beberapa jam yang lalu sebelum kedatangan Joonmyun yang menggantikannya, seorang suster membawa makanan untuk Hyejin dan gadis itu sama sekali tidak mau menyentuhnya apalagi memakannya. Kebiasaan gadis itu yang suka memilih-milih makanan belum sepenuhnya hilang.

 

Sampai tak terasa Sehun sudah berada di depan pintu kamar rawat Hyejin, tanpa menunggu lama Sehun segera membukanya. Tapi yang ia lihat hanyalah sebuah ruangan kosong tanpa Hyejin didalamnya. Sehun pun masuk dan mencari Hyejin di kamar mandi maupun di balkon depan ruangan ini tapi hasilnya nihil. Sehun segera bergegas keluar ruangan lalu mencari keberadaan gadis itu dengan sedikit gusar. Kemudian ia menghentikan langkahnya, ia melihat gadis itu sedang membeli sebuah sebotol air di kantin rumah sakit ini.

 

Sehun menghembuskan nafasnya lega, sempat ia berfikir yang tidak-tidak. Tapi syukurlah Hyejin baik-baik saja, Sehun kembali berjalan mendekati Hyejin yang belum mengetahui keberadaannya.

 

“Terima kasih.” Hyejin membungkuk pelan kearah seorang kasir yang baru saja memberinya sebotol air. Kemudian ia berbalik sambil membawa sebuah tiang dengan infus yang masih terhubung oleh lengannya. Kepalanya yang sedari tadi menunduk lalu kini mendongkak kearah atas. “Oh! Yak kau mengagetkanku!”

 

Dengan wajah datarnya ia menjawab. “Setidaknya kau bisa memanggil perawat yang ada disini untuk memebelikanmu sebotol air minum, bodoh.”

 

Hyejin akan tahu kalau akhirnya akan seperti ini, ya pria itu akan selalu marah-marah jika ia berbuat hal seperti ini. “Aku tahu perawat disini tidak hanya mengurusiku saja, jadi aku berfikir untuk beli sendiri sambil jalan-jalan disekitar sini.” Hyejin kembali melanjutkan. “Lagipula asal kau tahu aku itu sangat bosan didalam ruangan hanya seorang diri dan kau! Darimana saja, huh?”

 

Sehun mengangkat kantung yang berisi makanan yang ia beli. Mencoba memperlihatkannya kearah Hyejin. “Aku pergi keluar untuk membelikanmu makanan, Nyonya cerewet! Ayo lebih baik kau cepat makan agar tidak cerewet lagi.” Lalu Sehun membantu Hyejin berjalan dengan merangkul pundak gadis tersebut lembut sedangkan Hyejin hanya pasrah mengikutinya.

 

.

 

.

 

.

 

Malam yang terasa dingin ini pasti bisa membuat siapapun tidak sanggup menahannya, tapi lain halnya dengan apa yang mereka lakukan. Ya Sehun dan Hyejin kini berada dibalkon luar ruang rawat. Dan ini semua adalah ide Hyejin yang katanya ingin sekali makan di balkon ini sambil melihat bintang yang malam ini sangat banyak bertebaran dilangit.

 

“Ah benar-benar. Apa kau ingin membuatku mati membeku?” Tanya Sehun yang sedikit mendramatisir. “Kau juga apa tidak dingin, huh? Kau ini adalah pasien rumah sakit. Setidaknya apa kau bisa menuruti perkataanku?”

 

“Kau ini bukan Dokterku jadi jangan suka bertindak menyuruhku seperti itu Oh Sehun.” Jawab Hyejin santai, kini ia sedang duduk di kursi roda miliknya sedangkan Sehun berada disebelahnya yang juga duduk menggunakan kursi yang ada di balkon ini. “Lagipula disini pemandangannya bagus.” Tuturnya sambil menunjuk kearah langit, membuat Sehun langsung mengikuti arah pandangan gadis itu.

 

Entah sejak kepan Sehun sudah melepaskan jas yang ia gunakan. Kemudian ia langsung menyampirkannya di punggung Hyejin, baginya meski sejak tadi ia selalu mengerutu tapi didalam hatinya ia sejujurnya tidak perduli jika mati membeku yang terpenting adalah Hyejin tidak merasa kedinginan. “Meski kau merasa tidak kedinginan tapi kau harus tetap menggunakannya.”

 

Hyejin tidak mampu menahan senyumannya, ia suka atau mungkin ia sangat menyukainya? Ya menyukai setiap perlakukan Sehun padanya. “Tapi perbuatanmu bisa merugikan dirimu sendiri. Kau bisa kedinginan nanti.”

 

“Kau biasanya tidak akan menolak sesuatu yang menguntungkanmu. Jadi jangan bicara seperti itu.” Sehun lalu mengambil semangkuk bubur hangat yang tadi ia beli. “Lebih baik kau makan dulu.” Kembali Sehun akan menyuapi gadis itu.

 

“Apa ini? Makanan yang kau beli dengan yang ada dirumah sakit tidak ada bedanya.” Hyejin sempat protes. “Apa semua orang sakit harus memakan makanan seperti itu? Aku tidak mau…”

 

“Lalu kau mau makanan seperti apa, pasien cerewet?” Sehun selalu mencoba menjadi suami yang sabar menghadapi gadis yang kadar cerewetnya semakin menjadi. “Pizza?  Jajangmyeon? Udon? Spagetthi?”

 

“Hm sepertinya itu enak. Kenapa kau tidak membelikan itu saja, huh?”

 

“Apa kau ingin aku memukul kepalamu lagi?” Kemudian Sehun langsung melanjutkan. “Itu semua bukan makanan seorang pasien Kim Hyejin!” Kembali Sehun mencoba menyuapi Hyejin dengan menyodorkan sesendok bubur.

 

Hyejin pun kembali pasrah menerimanya, sama sekali tidak ada penolakan lagi yang keluar dari bibirnya. “Jadi sekarang siapa yang cocok di sebut ‘cerewet’ ?”  sebuah pertannyaan yang sedikit membuat Sehun seakan mundur satu langkah dari arena permainanya bersama Hyejin.

 

Melihat dirinya yang sejak tadi sering sekali berbicara di depan Hyejin. Jadi… apa sekarang dirinya yang cerewet?

 

“Ok kita sama.” Kata Hyejin sambil mengunyah bubur yang berada didalam mulutnya. Sedangkan Sehun hanya bisa diam tanpa menanggapi, kembali Sehun menyuapi Hyejin yang langsung disambut olehnya. Udara yang berhembus semakin membuat sebelah tangan Hyejin dingin, refleks ia memasukannya kedalam saku jas Sehun yang menutupi sebagian tubuhnya.

 

Tetapi ia merasakan didalam kantong tersebut seperti ada sesuatu. Dengan rasa penasaran Hyejin langsung mengambilnya, yang ia pegang adalah sebuah gelang berbandul robot.

 

“Ini…”

 

Sehun tentu menyadarinya, lalu ia berkata. “Itu gelang yang kau berikan dulu padaku saat pesta ulang tahun.” Hyejin masih memperhatikan gelang itu yang masih berada ditangannya. “Dan masih aku simpan sampai sekarang. Sampai suatu saat aku pernah berjanji, kalau aku bertemu denganmu kembali aku akan membawa gelang itu kehadapanmu. Sekarang… aku sedang mewujudkannya… tepat dihadapanmu.”

 

Hyejin tanpa sadar memejamkan matanya, sejujurnya ia seperti pernah melihat gelang ini didalam pikirannya saat ia mencoba mengembalikan ingatannya di kamar Jihyun. “Bukankah… bukankah gelang ini mempunyai pasangannya? Gelang berbandul Barbie?”

 

Sehun mengangguk cepat,. “Apa kau masih menyimpannya?” Tanyanya dengan hati-hati.

 

“Sepertinya aku… aku sudah menghilangkannya.” Kembali ia melanjutkan. “Tapi aku tidak yakin, mungkin saja gelang itu ada di rumahku di Daegu?” ada nada keraguan didalam perkataan Hyejin tadi. Sejujurnya ia seperti pernah melihat keberadaan gelang itu tapi ia tidak tahu pastinya dimana. “Maafkan aku… tapi aku berjanji akan mencarinya kembali.”

 

Tanpa sadar Sehun tersenyum tipis, membuat Hyejin sempat tertegun. “Sudahlah tidak perlu mencarinya. Yang terpenting aku sudah menemukan kembali orang yang memberikan gelang tersebut.” Setelah itu Sehun beranjak dari duduknya lalu berdiri di hadapan Hyejin, menuntun gadis itu untuk berdiri tepat di depannya. “Aku tidak akan mengulangi perkataan ini jadi kau harus dengar dengan baik!.”

 

Hyejin hanya bisa mengangguk mengikuti perkataan Sehun.

 

“Aku mencintamu…”

 

Belum sempat Hyejin mencerna apa yang terjadi karena ada sesuatu yang terasa lembut itu lebih cepat membungkam bibirnya, bahkan kedua mata Hyejin masih terbuka sampai pada akhirnya ia merasakan pinggangnya seperti tersengat oleh listrik karena sentuhan Sehun yang tiba-tiba. Yang pada awalnya Sehun hanya menempelkan bibirnya kini sudah berubah, karena Hyejin bisa merasakan Sehun mulai menggerakan bibirnya dan membuat kedua mata Hyejin otomatis tertutup rapat.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Pria ini benar-benar tidak bisa melepaskan pandangannya dari rumah Joonmyun yang beberapa langkah lagi akan sampai pada gerbang utama. Pakaiannya yang serba hitam tersebut membuatnya tak akan bisa dikenali dengan jelas oleh siapapun. Sampai tiba-tiba ada sinar mobil sempat mengagetkannya, ia pun mencoba melihat siapa orang yang mengemudi mobil tersebut.

 

Dan kedua matanya kini harus bertemu dengan seseorang yang dikenalnya. Ya dia Oh Sehun… seeseorang yang kini menjadi menantunya. Hyunseok tahu Sehun kini sedang mencurigainya karena melihat Sehun sekarang sampai menghentikan langkahnya demi melihat dirinya ini. Tapi hal itu tidak berlangsung lama sampai Sehun kembali berjalan masuk kedalam rumah Joonmyun tanpa memperdulikann dirinya.

 

Baru Hyunseok ingin menaiki sepeda motornya sampai ada suara dering telepon yang sedikit membuatnya terkejut. Melihat nama seseorang yang tertera di layar ponsel membuatnya langsung mengangkat panggilan tersebut.

 

“Oh istriku, apa ada sesuatu yang kau ingi – “

 

“Hyunseok-ah apa ini kau?”

 

“Ini siapa?”

 

“Ini Bibi tetangga sebelah istrimu. Aku meneleponmu hanya ingin memberi tahu bahwa…”

 

“Apa yang terjadi?!”

 

“Hyunseok-ah… istrimu telah meninggal beberapa menit yang lalu. Aku menemukannya tak sadarkan diri di kamarnya.”

 

“Apa?!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Sejak  sesuatu hal yang diperbuat Sehun tadi sempat membuat suasana menjadi sedikit hening. Tapi untunglah sekarang tidak lagi karena mana mungkin mereka akan terus seperti itu?

 

“Sehun-ah ada sesuatu yang ingn aku kata – “

 

Perkataan Hyejin harus terputus kala suara dering ponsel Sehun yang tiba-tiba saja berbunyi. Dengan segera Sehun mengambil ponselnya, melihat siapa yang meneleponnya membuat ia langsung beranjak dari duduknya.

 

“Aku harus mengangkatnya dulu.” Seru Sehun pada Hyejin yang langsung mendapat anggukan dari gadis tersebut. Sehun pun berjalan menjauh dari tempat Hyejin.

 

“Ada apa Hyung?”

 

“Bisakah kau mengecek E-mail mu? Aku baru saja mengirimkan sebuah video dan beberapa file tentang kasus ini. Asal kau tahu aku mendapatkan video cctv itu dari gedung tempat kau merayakan ulang tahun dulu! Ah ya Sehun-ah satu lagi yang harus aku beritahu padamu…”

 

“Apa itu?”

 

“Ternyata mobil yang ditumpangi oleh keluarga Kim bukanlah karena kelalaian pengemudi. Tetapi, kecelakaan itu sudah direncanakan oleh seseorang yang berada di dalam video cctv tersebut! Jadi kau harus cepat melihatnya! Siapa tahu saja kau mengenalnya Sehun-ah.”

 

Mendengar apa yang dikatakan oleh Kyuhyun tadi membuatnya langsung menutup panggilan tersebut. Lalu dengan cepat ia mengecek E-mail nya, membuka pesan tersebut lalu memutar video itu.

 

Selama beberapa detik Sehun melihat dengan teliti video tersebut. Sampai pada detik berikutnya ia melihat dengan sangat jelas ada seseorang yang mencoba memutuskan sebuah kabel yang di ketahui oleh Sehun itu adalah kabel rem mobil tersebut!

 

Kedua mata Sehun pun terbelalak kaget. Ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa apa yang dilihatnya saat ini adalah sebuah kesalahan.

 

“Ini tidak mungkin… Hyunseok Aboenim?!”

 

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

p/s : udh bisa nebak kan apa yang terjadi? hehe

Aku tekankan ya sekali lagi kalau Hyejin itu adalah Jihyun. Hyunseok? Aku bakal perjelas di chapter selanjutnya yap.

Terima kasih buat yg masih nunggu ff ini ya. Aku tunggu comment kalian:)

hye1

btw ada yg tau gambar ini?? Itu tulisannya Sehun ❤ Hyejin. Dan tulisan itu ada di EXO SHOWTIME ep 7><

68 tanggapan untuk “Forced Married (Chapter 9) by Nisa Amini”

  1. Baca ff ini aku bneran dukung bngt pasangan ini thor lucu bngt mereka pokoknya pasangan yg cocok bngt
    Dan seneng nya pas tau hyejin udah kembali ingatan nya 😄😄😄

  2. Yeay~!!! 😊😊😊 Akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali… Senangnya diriku… 😁😁😁 Tapi kok jadi salfok ke gambar Se Hun ❤ Hye Jin yakk???

  3. jadi yang sabotase mobil keluarga nya jihyun itu orang terdekat mereka astaga tega banget sih…terus buat ap dy masih ngikutin sehun?!?jangan” sehun mau di ap” in…
    udh deh aku tunggu Next nya ya thor

  4. maaf ya thor baru sempat kasih komentarnya.ini cerita feelnya dapet banget. dan akhirnya ketehuan juga siapa yang buat kecelakaan itu terjadi. ternyata ayah angkatnya si hyejin.
    di tunggu chap selanjutnya ya thor.
    KEEP WRITING

  5. Akhirx hyejin ingt jg ms lalux ahh senang mrk brsama lg walaupun mrk udh ketemu ajk awl😂😂😂😂
    Hm kthuan jg ayh angkt hyejin dalang dblik kecakaan ortu hyejin.gmn reaksi hyejin y??

  6. Ahh seru!
    Konflik Hyunseok itu kayak konflinya Min Joon Guk di I Hear Your Voice yaa,sama² balas dendam gara² gak dapet donor buat istrinya hhaaa

  7. oemjiii… itu sehun atuuuhhh akhirnya mesra. tuh kan dugaan aku bner klo hyejin itu jihyun wklwkwkw… ku senanggggg…
    jahat juga ya tuh hyunseok atau siapa lah itu. ga tau diri banget. dendam ajaa siiii

  8. aku cinta kamu ka nisaaaaa :* ayo lanjutin chapter selanjutnnya, seru!!!!! rajin rajin post dong seminggu sekali gitu!!! jangan sering ngaret-__- luvyu ka nisaaaa, muach:*

  9. Akhirnya hyejin udah kembali ingatannya, dan sehun ga terpaksa lagi mencintai hyejin 😆😆
    Khawatir kalau nanti hyejin tau yang ngerancanain itu semua ayah angkatnya sendiri
    Ayo eon dilanjut penasaran sama lanjutannya 😆😆

  10. Kok “ayah”nya hyejin mencelakakan keluarganya hyejin? Dia pernah kerja di rumah sehun? Mungkin ada hubungannya sama keluarga sehun jg kah? Hmm makin menarik😆

    Btw…………..
    Kok lama banget updatenya? :’) hampir lupa loh sama jalan ceritanya:’) wkwk canda
    Ditunggu yaa kelanjutannya! 화이팅💪🏻

  11. Alasan dari “ayah angkat” hyejin apa? Kok dia mencelakakan ortu hyejin? Kalau dia pernah kerja di rumah sehun, mungkin kah ada hubungannya sama keluarga sehun? Hmmm makin menarik😆

    Btw…… kok lama banget update nya? Aku hampir lupa sama ff ini:’) wkwk canda

    Ditunggu yaa chapter selanjutnya!! Jangan lama2 ya:’) hehe 화이팅💪🏻

  12. Fans kali yg pengen abadi sama cintanya ke sehun bukan cintanya sehun kekekekekeke
    Aaaah kangen ff ini
    Astagaa aku kira nggak akan inget secepat ini kekekekekeke tapi overall bagus kok suka ssuka sama ff nyaa
    Dan aku telat baca fiks
    Aaah hunhun dan jiji kekekekekeke

  13. Aku udah bca dari awal tp aku cma komen disini hehe mian thor. Btw keren banget thor gasabar nunggu crita selanjutnya 😀 oh iya mksd dri sehun ❤ hyejin itu apa? Apa hyejin ada di kehidupan nyata sehun?

  14. Daebak nih ff… akhirnya semua rahasia sdah terkuak… ternyata Hyejin itu Jihyun kan??? Itu Huejin tau ga klo ibunya udah meninggal??? Lanjut ya kak… jgn lama2 update nya ya kak???

  15. alhamdullilah nemu lagi ini efef yaampun seneng banget

    makin penasaran sma jaln ceritanya ff’a slalu di tunggu min

    pkok’a alur’a itu istimewa banget ga bosen nunggu ini efef

    tapi boleh request ga min klo post ff slanjutnya jangan lama” boleh ga min???
    yudah min klo ga boleh gpph :”( #readersinirapopomin

    yudh lah pokoknya ditunggu bnget min
    *salken anyeong 🙂

  16. Akhirnya keluar juga chapter 9 jadi penasaran gimana reaksi hyejin kalo tahu bapak angkatnya yg ngebunuh orang tua kandungnya

  17. Ayahnya jahat.. dia mau ngebunuh karena ibu kandung hyejin ngambip ginjal istrinya kan? Dia mau balas dendam ckckck kasian kan dia ga salah malah dibunuh.. sehun sama hyejin emang paling cocoklah.. next chap nisa^^ keep writing and fighting!!!

    1. Aku lurusin sedikit ya. Hyunseok itu bukan ayah Sehun, tapi dia ayah angkat Hyejin. Tapi dulunya Hyunseok itu pernah jadi supir dari keluarga Sehun. Itu aku udh jelasin di ep sebelum”nya ya:)
      Ok thanks ya udh comment:)

  18. kenapa baru nongol huaaaa kangen ff ini
    dan sekalinya muncul cerita tambah seru aja….
    ditunggu banget lah kelanjutannya ya….

  19. Hyunseok itu kan supir nya srhun dulukan dan dia knp dendam sm keluarga nya hyejin dan aku sempat berfikir kalo ff ini gk bakal di lanjut karena udh dri bln nov smpe sekarang dan akhirnya di lanjutt yey senang bgt pas nama fanfic forced married ada di daftar publish seneng bgtt kak di next ya ku tunggu kelanjutannya KEEP FIGHTING AND WRITING AUTHOR

  20. Oh ternyata HyunSeok yang membuat ayah dan ibunya Hyejin meninggal . Benar-benar apa maksud dianya untuk merencanakan itu . Aku akhirnya bisa tau kalau ternyata Sehun juga sangat mencintai Hyejin maupun Jihyun. Next chapternya ya .

  21. Yawla kaka aku nunggu nya lama banget dan akhir nya publis juga , gak sbar nunggu next chapter nya .. Ff nya keren .. Keep writing

  22. Senang nya ini dilanjut!!! Udh lumayan lama bgt ya thor.. aku aja lupa udh baca chapter 8 apa belum :v
    btw Hyunseok itu sengaja mutusin kabel rem mobil supaya keluarga Hyejin kecelakaan karna dia dendam y kalo gk salah?
    Ahhh intinya next dan hwaiting^^

  23. Waduh jadi itu kejahatan berencana? Trus bagaimana nasib hyejin nantinya, bagaimana sehun akan mengatakannya pada istrinya nanti. Ataukah akan menjadi rahasianya saja.
    Hhh nextlah kutunggu jawabannya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s