[EXOFFI FREELANCE] Somebody (Chapter 6)

somebody3

Title: Some Body (chapter 6)

Author: Jung21EunSoo

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), J-hope/Jung Hoseok (BTS).

Cast:

  • Jung Eunji (Apink)
  • Do Kyungsoo (EXO)
  • Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)
  • Oh Hyemi, Kim Nara, Lee Miju (Oc)

Genre: School life, Friendship, Brothership, Romance(?), Sad.

Rating: PG-13

Length:  Chaptered

Disclaimer: Semua pemain bukan milik saya. Cerita ini murni berasal dari pikiran saya, jadi kalau ada kesalahan saya mohon maaf dan kalau ada kesamaan hal tersebut terjadi atas ketidaksengajaan.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca… J

I’ll be the one to hold your hand

Look at me and smile

Enforce fixed head

I’ll be there for you

When things get tough, you can lean on me

Let us share the dream

Recommended Song:  For You – Lovelyz, I – Taeyeon ft Verbal Jint, Wishlist – Apink, Love Blossoms – K.Will, Crystal – Apink, Lightsaber – EXO.

*~*~*~*~*~*~*

Hayoung’s Dream

Pour a light in the sky. A kid standing under that sky. Fly as a dream.My Life is a Beauty. (I – Taeyeon ft Verbal Jint)

Disebuah ruangan yang serba putih itu ada seorang yeoja mengenakan dress putihnya yang simple sebatas paha dengan bagian lengan yang agak tranparan dan rangkaian mahkota bunga yang berada dikepalanya tengah kebingungan dengan tempat dimana ia berada sekarang. yeoja tersebut terus menyapu pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.

Kriiett…

Bunyi sebuah pintu yang terbuka itu menggema ke seluruh ruangan putih tersebut, membuat yeoja itu menoleh ke sumber suara dan melihat pintu putih polos tersebut terbuka dengan sendirinya menampilkan sebuah pemandangan. Yeoja itupun mulai melangkahkan kaki panjangnya ke pintu tersebut dan keluar dari ruangan serba putih itu masih dengan perasaan yang kebingungan.

Setelah keluar dari ruangan tersebut, yeoja itu tidak lagi melihat ruangan serba putih polos yang membuatnya semakin pusing melainkan sebuah padang rumput yang luas dengan langit biru yang membentang diatas dan udara segar disekelilingnya, membuatnya nyaman dengan semua itu. Sambil berjalan-jalan santai tanpa tahu arah yeoja itu pun merentangkan kedua tangannya dan merasakan semilir angin yang menerpa tubuhnya juga menerbangkan anak rambutnya. Lalu sedetik kemudian ia mulai berlarian dipadang rumput tersebut menikmati keindahan alam yang disediakan oleh padang rumput itu.

hayoung dream

Tiba-tiba ditengah kedamaiannya, sebuah suara lembut memanggil namanya. “Hayoung-ah!” membuat yeoja itu – Hayoung mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan melihat seorang yeoja tengah melambaikan tangan kepadanya disertai dengan senyuman manis yang tercetak diwajah putihnya. Hayoung termenung sesaat dan memikirkan apakah ini hanyalah mimpi atau benar-benar nyata. Sedetik kemudian Hayoung menarik kedua sudut bibirnya dan berlari sekencang-kencangnya kea rah yeoja itu. Sampai akhirnya ia bisa merasakan tubuh hangat yeoja yang ia peluk, bukan sebuah ruang hampa karena yeoja itu menghilang. Tidak, itu tidak akan terjadi karena kali ini yeoja itu tidak kabur melainkan ikut memeluk hangat tubuh Hayoung.

“Oenni. Hyemi oenni. Aku merindukanmu. Aku sangat sangat merindukanmu, kau tahu itu?” ujar Hayoung sambil mendongakkan kepalanya dan menatap wajah yeoja yang sangat dirindukannya, Oh Hyemi yang notabenenya adalah oenninya sendiri.

“Aku tahu. Aku juga merindukanmu.” Jawab Hyemi sambil mengelus lembut rambut halus Hayoung.

“Oenni kemana saja selama ini?” Tanya Hayoung sambil menyandarkan kepalanya dipundak Hyemi dan merasakan aroma harum Hyemi.

“Aku? Aku tidak kemana-mana kok. Aku selalu berada dihatimu.” Jawab Hyemi tulus.

Beberapa detik kemudian Hyemi ingin melepaskan pelukan rindu tersebut namun ditahan oleh Hayoung. “Tunggu sebentar. Aku masih ingin merindukanmu.”

“Aku tahu. Tapi, apakah kau tidak merindukan dia?” Tanya Hyemi membuat Hayoung mendongakkan kepalanya dan menatap dirinya dengan heran.

“Nugu?”

“Aku.” Jawab seseeorang dibelakang Hayoung dengan suara beratnya, membuat Hayoung melepaskan pelukannya dan menoleh ke sumber suara yang menjawab pertanyaannya.

“Oppa. Kyungsoo oppa.” Gumam Hayoung shock dengan orang yang kini berada dihadapannya. Sekali lagi Hayoung berpikir bahwa ini bukanlah mimpi dan berharap bahwa ini benar-benar nyata.

“Iya. Ini aku, Kyungsoo oppamu.” Jawab orang itu – Kyungsoo, membuat Hayoung menarik lagi kedua sudut bibirnya dengan bahagia. Lalu sedetik kemudian Kyungsoo merentangkan kedua tangannya. “Kau tidak merindukanku?” Tanya Kyungsoo membuat Hayoung tersenyum gembira menampilkan sederet gigi putihnya dan melangkahkan kakinya ke Kyungsoo, lalu memeluk erat tubuh Kyungsoo.

“Kau terlalu percaya diri. Aku tidak merindukanmu.” Canda Hayoung ketika merasakan Kyungsoo yang membalas pelukan hangatnya sambil menyengir tidak bersalah.

“Gotjimal! Aku tahu kau sangat sangat sangat merindukanku. Lihatlah airmatamu saja sudah membasahi bahuku.” Ujar Kyungsoo sambil terkekeh begitu juga dengan Hyemi yang kini berada dibelakang Hayoung. Membuat Hayoung mendongakkan kepalanya dan menatap sebal Kyungsoo. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Kyungsoo, mata Hayoung terlihat agak sembab seperti habis menangis. Memang sebenarnya sedari tadi Hayoung sudah berusaha menahan air matanya namun air matanya tumpah ketika ia memeluk Kyungsoo.

“Kau mendapatkanku.” Ucap Hayoung kesal dengan suara yang tertahan karena hidungnya yang agak tersumbat.

“Aku merindukanmu.”

“Nado.”

.

.

Hold my hand and look at my eyes. The person who will listen to my story. As in drama or movie. People would come to me and keep me safe in his side. (Wishlist – Apink)

“Hayoung-ah, bagaimana hari-harimu?” Tanya Hyemi yang tengah mendorong tali ayunan dengan rangkaian bunga-bunga indah yang diduduki oleh Hayoung yang menikmati hal tersebut.

“Eumm… cukup membosankan karena tidak ada kalian disampingku.”

“Bagaimana dengan Sehun?”

“Dia… aku tidak tahu.” Jawab Hayoung sambil menundukkan kepalanya dan berpikir, tidak bisakah oenninya tidak membicarakan Sehun? Ia sangat tidak ingin memikirkan namja itu saat ini. Namun sedetik kemudian Hayoung mendongakkan kepalanya. “Keunde, aku mempunyai beberapa orang teman sekarang yang selalu menghiburku.” Lanjutnya dengan senyuman manis yang tercetak diwajahnya.

“Benarkah? Siapa saja itu?” Tanya Kyungsoo yang berada disamping Hayoung yang juga sedang memainkan ayunan yang tengah didudukinya dengan perlahan, tidak sekencang Hyemi yang mendorong tali ayunan Hayoung dengan agak kuat.

“J-hope oppa, Namjoo, Nara oenni, Miju oenni. Kupikir hanya segitu saja.”

“Kenapa hanya ada satu laki-laki?” Tanya Kyungsoo heran.

“Sebenarnya ada dua, tapi yang satu lagi adalah dirimu.”

“Bagaimana dengan Sehun? Apakah ia tidak menemanimu?” Tanya Hyemi lagi, membuat Hayoung mengerucutkan bibirnya. Hayoung kesal karena sedari tadi oenninya itu terus mengungkit tentang Sehun.

“Oenni, bisakah kita tidak membicarakan tentang dirinya. Aku hanya ingin bersenang-senang bersama kalian.”

“Memangnya ada apa lagi dengan kalian? Bukankah dulu kita selalu bersama?” Tanya Hyemi seperti tidak menghiraukan permintaan Hayoung, membuat Hayoung hanya menghela nafas lega.

“Itu dulu. Semenjak kau tidak ada, semuanya berubah. Appa dan eomma jadi gila kerja. Sehun oppa cuek kepadaku dan terkadang ia kasar kepadaku sebagai pelampiasannya. Aku sendirian disana. Aku hanya ingin bersama kalian.” Kata Hayoung sambil menahan butiran liquid bening yang sudah menumpuk dimatanya.

“Mianhee. Kau merasa berat karenaku.” Ujar Hyemi sambil menghentikan ayunan Hayoung yang tengah ia dorong dan memeluk Hayoung dari belakang.

“Aku merindukan kalian.” Ucap Hayoung sambil mengelus lembut tangan Hyemi dan menyandarkan kepalanya kepada kepala Hyemi yang berada disampingnya sebagai ganti membalas pelukan oenninya. Tanpa Hayoung sadari butiran-butiran liquid bening yang sedari tadi ia tahan, mulai berjatuhan satu persatu secara perlahan membasahi lengan mulus Hyemi.

“Gwenchana, sekarang kami berada disini.” Ujar Kyungsoo sambil beranjak berdiri dari ayunannya dan berjalan perlahan ke depan Hayoung. “Makanya jangan menangis lagi. Uljima…” sambung Kyungsoo sambil menghapus air mata Hayoung dengan ibu jarinya, setelah ia berada didepan Hayoung dan sedikit membungkuk untuk mesejajarkan dirinya dengan Hayoung yang masih duduk diayunan. “Dan tersenyumlah.” Lanjut Kyungsoo sambil menarik kedua sudut bibir Hayoung dengan kedua jari telunjuknya. Membuat Hayoung ikut tersenyum dengan manis dan melupakan beban beratnya tadi.

“Ayo kita bersenang-senang sebentar.”

hayoung in her dream

Hayoung’s Dream end…

***

Seoul, 2015

Du du du du du du du oh my love

Du du du du du du du na na na~

Du du du du du du du oh my love

Di sebuah tangga yang sepi, seorang yeoja tengah berjalan diatasnya sambil bersenandung ria yang menggema ke seluruh lorong tangga tersebut. Yeoja dengan name tag ‘Kim Nara’ itu terus meniti tangga-tangga kecil itu, ia berniat akan pergi ke atap sekolah karena ia sedang kebosanan. Sampai pada akhirnya ia sampai didepan pintu yang akan membawanya melihat pemandangan dari atap sekolahnya. Namun Nara hanya merasa aneh karena pintu tersebut sedikit terbuka, berarti ada seseorang yang lain yang berada diatap sekolah mereka. Tapi tidak terlalu masalah bagi Nara sendiri, karena tempat ini bukanlah tempat pribadinya namun umum hanya saja sedikit siswa yang mau capek-capek naik tangga dan hanya duduk-duduk di atas sini.

Dan benar saja, ketika Nara mendorong pintu tersebut ia dapat melihat seorang namja yang tengah duduk di kursi yang telah disediakan disana. Namun betapa terkejutnya Nara ketika ia mengetahui bahwa namja itu adalah Oh Sehun, namja yang sebenarnya telah mengisi hatinya, karena wajah namja itu terlihat dari samping. Awalnya Nara merasa ragu, apakah ia akan tetap merefreshing diri disana atau kembali ke kelasnya karena disana ada Sehun. Tapi begitu melihat tatapan mata Sehun yang sendu, Nara menjadi merasa kasihan kepada namja tinggi putih itu. Nara baru ingat kalau Hayoung yang notabenenya adalah adik Sehun, pasti namja itu tengah merasa lebih kesepian sekarang. nara pun berinisiatif untuk melangkahkan kakinya mendekati bangku panjang yang diduduki oleh Sehun sendirian.

Tuk! Tuk! Tuk!

Nara mengetukkan jari telunjuknya ke bahu lebar Sehun, membuat Sehun yang tadinya tengah termenung sambil mendengarkan music lewat earphone yang terpasang dikedua telinganya kini melirik kea rah orang yang mengetuk bahunya dan melepaskan earphonenya dari telinganya. Sebenarnya Sehun terkejut begitu melihat Nara yang sudah berada disampingnya dengan wajah yang polos namun hal itu ia sembunyikan dalam-dalam, dan hanya menunjukkan tatapan herannya kepada Nara seakan-akan bertanya ‘ada apa?’.

“Bolehkah aku duduk?” Tanya Nara sambil menunjuk bangku panjang yang berada di sebelah Sehun.

“Silahkan, duduk saja.” Jawab Sehun mempersilahkan Nara untuk duduk dibangku tersebut, namun detik berikutnya ia kembali memalingkan wajahnya karena takut salah tingkah didepan Nara. Nara pun duduk di bangku panjang tersebut dengan jarak yang agak jauh dari Sehun.

“Kau… sedang mendengarkan apa?” Tanya Nara dengan agak canggung memulai percakapan.

“Aku? Aku sedang mendengarkan lagu ‘Dear My Family’.”

“Ooh, lagu itu. Aku menyukai lagu itu. Lagu itu seperti menceritakan seseorang yang merasa sulit ketika sendirian pada awalnya namun akhirnya orang itu percaya ketika bersama-sama ia akan lebih bahagia, dan dia sangat mencintai mereka semua.” Jelas Nara dengan tulus sambil menerawang kedepannya, membuat Sehun terperangah dengan penjelasan Nara. Sehun merasa seperti kalimat itu ditujukan kepadanya namun entahlah.

“Benarkah?”

“Menurutku sih, seperti itu. Tapi aku tidak tahu bagaimana dengan pendapat dari orang lain.”

Hening sebentar di antara mereka, membiarkan diri mereka tenggelam kepada pikiran sendiri dan mencari-cari bahan pembicaraan yang baru. Mereka membiarkan semilir angin menerpa tubuh mereka dan membiarkan diri mereka terhanyut dengan kesejukan yang diberikan oleh angin tersebut.

“Bagaimana kabar Hayoung?” Tanya Nara memecah keheningan.

“Dia masih belum sadar.” Jawab Sehun sambil menundukkan kepalanya lesu. Membuat Nara yang melihatnya hanya menghela nafas berat.

“Kau pasti merasa berat.” Ujar Nara turut prihatin.

“Sangat.”

“Kudengar dari Namjoo, kalau sebelumnya kalian saling cuek dan dingin.”

“Hmm…”

“Kali ini, setelah Hayoung sadar. Cobalah untuk mendapatkan kesempatan kedua darinya.” Kata Nara memberi nasihat kepada Sehun. Namun Sehun hanya terkekeh pelan, memikirkan kalimat usulan Nara.

Kesempatan keduaku adalah dirimu. Batin Sehun didalam hatinya

“Aku sudah kehilangan kesempatan kedua itu. Aku bahkan membuatnya semakin parah dan membiarkan dirinya terbaring dirumah sakit.” Ratap Sehun.

“Kalau begitu buatlah kesempatan ketiga.”

“Kesempatan ketiga? Mana ada hal yang seperti itu.”

“Mungkin saja. Cobalah…”

“Tanpa kau suruh pun, tetap akan kulakukan. Tidak perduli jika itu adalah kesempatan keempat atau kelima.”

“Woah! Itu  baru namanya seorang oppa. Jjang! Jjang!” ujar Nara semangat sambil memamerkan senyuman manisnya dan memberikan dua jempol kepada Sehun, membuat Sehun yang melihat tingkah Nara yang kekanakan itu hanya terkekeh pelan dan kembali ke wajah datarnya.

“Yak! Kenapa wajahmu seperti itu lagi hah?” Tanya Nara agak emosian ketika melihat Sehun yang kembali sendu.

“Hmm?”

“Wajahmu tidak boleh seperti itu. Kau mau Hayoung kembali sedih hah?”

“Memangnya Hayoung akan melihat ini? Dia kan sedang koma dirumah sakit.”

“Tapi mungkin saja arwahnya melihat wajahmu yang terus seperti ini, makanya dia tidak mau bangun-bangun sebelum kau mengubah wajahmu menjadi lebih ceria.” Jelas Nara asal-asalan, sementara Sehun yang mendengar penjelasan aneh itu ingin sekali tertawa karena yeoja yang didepannya ini sangat lucu namun Sehun hanya memutar bola matanya jengah seperti memperlihatkan bahwa dirinya kurang menyukai hal tersebut.

“Cih! Imajinasimu terlalu tinggi nona.” Ujar Sehun, membuat Nara mengerucutkan bibirnya kesal.

Benar kata Hayoung. Namja ini adalah namja kulkas. Cibir Nara didalam hatinya. Hening kembali menyergap kedua sejoli itu, masing-masing hanya menatap lurus kedepan dan menikmati pemandangan yang disediakan disana. Sampai sebuah ide terlintas dibenak Nara, membuat Nara diam-diam menyengir jahil.

“Yak! Oh Sehun! Lihat itu!” seru Nara sambil menunjuk ke suatu tempat.

“Apa itu?” Tanya Sehun sambil mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Nara. Namun sayangnya ia tidak melihat apapun yang menarik disana, membuatnya agak kesal. “Tidak ada apa-apa disana.”

“BOO!!”

“HWAA!”

“HAHAHA!! Wajahmu lucu sekali!” ucap Nara sambil tertawa puas setelah melihat wajah Sehun yang baru dikejutkannya. Sementara Sehun hanya terkekeh pelan dan mengembalikan wajahnya seperti semula, dingin.

“Yak! Kau menipuku!” seru Sehun dengan suara beratnya, membuat Nara mendengus kesal.

“Habis, sedari tadi kau terlihat murung terus. Tertawa atau tersenyumlah sesekali, Hayoung akan sangat menyukainya.” Jelas Nara dengan kesal karena sedari tadi Sehun terus menunjukkan wajah kulkasnya. Namun pada nyatanya tidak seperti itu, justru Nara telah berhasil membuat hati Sehun tersenyum, karena semua tingkah Nara.

***

Di sebuah ruangan dengan suara music hip hop yang menggema ke seluruh ruangan tersebut, ada seorang namja yang berada di depan cermin selebar salah satu dari empat dinding yang ada di ruangan tersebut. Cermin lebar tersebut menampilkan namja itu tengah menari mengikuti music hip hop yang menggema diruangan itu. Namja itu adalah Jung Hoseok atau lebih akrabnya J-hope, ia memang suka menari namun kali ini ada yang beda dengan tariannya itu. Kali ini J-hope terlihat menari dengan penuh emosi seperti sedang melampiaskan sesuatu, bukan seperti biasanya yang menari bersama teman-temannya hanya untuk bersenang-senang.

“Hoseok, kau menyukai Hayoung?”

j-hope terus menari sambil memikirkan pertanyaan yang Sehun lontarkan kepadanya sewaktu mereka berada ditaman rumah sakit beberapa hari yang lalu, yang sampai sekaranga ia tidak tahu apa jawabannya. J-hope tahu bahwa Hayoung hanya menyayangi dirinya sebagai pengganti Sehun atau oppanya, dan ia tahu Hayoung tidak akan memikirkan hal yang lebih dari itu. Hayoung tidak akan pernah melihatnya sebagai seorang namja. Dan juga ia tahu bagaimana tatapan seseorang kepada Hayoung, orang yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri.

J-hope terlalu focus kepada tarian dan pikirannya, sampai-sampai ia tidak tahu bahwa pintu ruangan tersebut dibuka oleh seseorang. Menampilkan seorang yeoja dengan kaos putih polos dan training hitamnya serta rambut hitam panjang yang ia gerai begitu saja, masuk ke dalam ruangan itu dan terkejut begitu melihat J-hope yang menari dengan penuh emosi. Namun lama kelamaan, yeoja itu merasa kesal sekaligus kasihan dengan J-hope yang menari seperti pelampiasan namja itu. Yeoja itu pun berinisiatif untuk melangkahkan kaki panjangnya ke sebuah benda yang mengeluarkan music hip hop yang menggema ke seluruh ruangan tersebut dan mematikannya. Dan tepat setelah itu, J-hope menghentikan tariannya karena music-nya telah berhenti dan duduk dengan kaki yang sengaja ia luruskan.

“Sudah puas sekarang?” Tanya seorang yeoja  yang tadi mematikan pemutar music J-hope, membuat J-hope mengalihkan pandangan ke sumber suara dan baru menyadari bahwa ada orang lain diruangan tersebut. “Minumlah.” Sambung yeoja itu sambil melemparkan sebotol minuman mineral, yang ditangkap dengan baik oleh J-hope. J-hope pun membuka tutup kecil botol tersebut dan meneguk air mineral yang disediakan oleh botol plastic bening tersebut.

“Hhh, segarnya. Komawo.” Ucap J-hope setelah ia menyudahi kegiatan minumnya dan merasa lebih baik, serta kembali menutup botol tersebut dengan tutup kecilnya. “Kalau tidak salah kau temannya Nara kan?”

“Iya, namaku Lee Miju.” Jawab yeoja itu – Miju memperkenalkan diri. “Kau, kenapa kau menari seperti tadi?”

“Seperti apa?”

“Menari seperti sedang melampiaskan emosi atau kekesalan.” Jawab Miju tepat sasaran.

“Tidak kok.”

“Iya.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Sudah kubilang tidak.”

“Mengaku sajalah. Jelas-jelas aku melihatmu tadi.” Ujar Miju membuat J-hope tidak dapat berkutik lagi.

“Arasseo, kau benar.”

“Kenapa kau seperti itu?”

“Aku… aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Jawab J-hope pasrah.

“Apa itu?”

“Sesuatu yang bahkan aku sendiri bingung apa jawabannya.”

“Apa-apaan itu?” gumam Miju, merasa aneh dengan jawaban J-hope.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, kenapa kau kemari?” Tanya J-hope mengalihkan bahan pembicaraan.

“Tidak bolehkah? Aku juga ingin menari disini.”

“Kau suka menari?”

“Sangat.”

“Ternyata kita bertiga sama. Hayoung juga suka menari.” Ujar J-hope.

“Bagaimana kabar Hayoung?” Tanya Miju, membuat J-hope harus mengambil nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin terasa berat bagi J-hope untuk mengingat bahwa Hayoung masih terbaring lemah dirumah sakit.

“Dia masih tidur dengan baik.”

“Kau, apa kau menyukai Hayoung?”

Pertanyaan yang sama dengan apa yang dilontarkan oleh Sehun dan masih bersarang dipikirannya, kini harus ditanyakan lagi oleh Miju yang notabenenya adalah teman baru Hayoung.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Ani, hanya saja. Biasanya, didalam persahabatan namja dengan yeoja aka nada salah satu dari mereka yang menyukai sahabatnya sendiri atau mereka berdua saling menyukai satu sama lain. Tapi, tidak perlu terlalu dipikirkan. Ini hanya salah satu pemikiranku yang cukup sering membaca novel.” Jelas Miju. Sementara J-hope hanya ber-oh ria.

Didetik berikutnya, J-hope berdiri dan berjalan kea rah Miju, membuat Miju agak salah tingkah. J-hope menekan salah satu tombol di pemutar musiknya yang berada disamping Miju, membuat benda itu kembali mengeluarkan lagu hip hop yang tadi dihentikan oleh Miju. “Kau bilang kalau kesini ingin menari kan?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Kalau begitu ayo kita menari.” Ajak J-hope.

“Baiklah, tapi jangan menari seperti tadi, ya. Kali ini harus lebih santai, dan yang tepenting hanya untuk bersenang-senang.” Pesan Miju mengingatkan J-hope untuk tidak menari seperti tadi.

“Arasseo, aku tahu itu.”

***

Disebuah gedung yang besar dan luas itu ada banyak orang yang melangkahkan kaki mereka disana, baik itu untuk urusan pekerjaan atau mengunjungi seseorang atau urusan lainnya, termasuk seorang namja tinggi yang tengah berjalan diantara orang-orang itu. Namja itu terus melangkahkan tungkainya disepanjang lorong yang tidak terlalu sepi dan berhenti didepan pintu ruangan bernomor 203 dengan nama pasien yang berada dibawah angka tersebut, ‘Oh Hayoung’. Namja itu pun menggenggam kenop pintu tersebut sebelum memutarnya dan mendorong pintu ruangan tersebut, lalu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut.

Pada awalnya, mata namja itu menangkap seorang yeoja yang masih terbaring lemah dikasur ruangan tersebut. Namun pada akhirnya ia mengalihkan pandangannya kepada seorang wanita paruh baya yang tengah sibuk dengan berkas  yang berserakan dimeja didepan sofa yang tersedia disana dan kacamata yang bertengger dihidung mancungnya walaupun terkadang kacamata itu sedikit melorot, menyebabkan wanita itu harus mendorong kacamata itu dengan jari telunjuknya.

“Eomma, aku sudah datang, kau bisa pergi sekarang. biar aku saja yang menjaga Hayoung.” Ujar Namja itu kepada wanita paruh baya tersebut yang dia panggil dengan sebutan ‘eomma’. Membuat wanita itu mendongakkan kepalanya dan mengulum senyuman manis dibibirnya begitu melihat anaknya berdiri dihadapannya, walaupun kata-kata yang namja itu lontarkan sedikit menusuk hatinya.

“Sehun-ah, Kau sudah datang? Apa kau sudah makan? Bagaimana harimu?” Tanya wanita tersebut bertubi-tubi kepada namja itu – Sehun sambil merapikan berkas-berkasnya.

“Aku baik-baik saja.”

“Baiklah, aku masih harus kekantor sekarang. Tolong jaga Hayoung baik-baik.” Pesan eomma Sehun sambil beranjak dari tempatnya menuju pintu ruangan itu setelah dirinya selesai merapikan berkas-berkasnya dan memasukkannya kedalam tas kulit hitamnya.

Tanpa kau suruh pun sudah akan kulakukan. Ujar Sehun dengan sinis didalam hatinya.

“Ne.”

“Eomma pergi dulu.” Pamit eomma Sehun sambil membuka pintu ruangan tersebut dan melangkahkan kakinya keluar ruangan, lalu menutup pintu tersebut dengan hati-hati.

“Ne.”

Hati-hati eomma. Batin Sehun didalam hatinya sambil menatap punggung kurus eommanya yang menghilang seiring dengan pintu ruangan tersebut yang ditutup oleh eommanya. Entah kenapa ia merasa gengsi hanya untuk mengatakan dua kata tersebut dan merasa bahwa dirinya bukanlah anak yang baik.

Detik berikutnya, Sehun melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur Hayoung dan duduk dikursi yang telah disediakan disamping kasur tersebut. Tangan besar Sehun beranjak meraih tangan dingin Hayoung yang terdapat suntika infuse disana dan menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatannya ke Hayoung dengan harapan Hayoung dapat terbangun karrena kehangatannya. Ia tahu itu adalah pemikiran terkonyol yang pernah ia pikirkan, hal itu tidak mungkin terjadi. Ia hanya ingin menggenggam tangan kecil yang sudah lama tidak ia genggam, dan membuatnya rindu akan tangan hangat itu.

Teringat oleh Sehun percakapannya dengan J-hope sewaktu mereka ditaman kompleks perumahannya setelah mereka pulang dari pemakaman Hyemi.

Flashback

“Bagaimana kau mengenal adikku? Jika kau mengenal Hayoung, maka seharusnya kau mengenalku disaat kita pertama kali bertemu. Bagaimana mungkin kau tidak mengenaliku dan mengharuskan kita untuk berkenalan terlebih dahulu?” Tanya Sehun bertubi-tubi, membuat J-hope menghela nafas berat seperti ada sebuah beban untuk menjelaskannya kepada Sehun.

“Kau benar-benar ingin tahu?” Tanya J-hope sambil mengerutkan keningnya heran.

“Katakan sajalah…”

“Ani, aku hanya takut kau merasa semakin bersalah.”

“Mworagu?”

“Baiklah akan kuceritakan.”

“…”

“Aku bertemu dengannya disaat ia hampir bunuh diri didekat Sungai Han. Awalnya kupikir dia sedang menikmati pemandangan sungai yang indah itu, namun aku melihatnya mulai melangkahkan kakinya ke sungai tersebut dan akan menceburkan diri disungai yang dingin itu sebelum aku berhasil menarik tangannya untuk menjauh dari sungai itu.” Jelas J-hope, setelah mengambil nafas dalam-dalam.

“Tunggu dulu, hampir bunuh diri?” Tanya Sehun heran sekaligus terkejut. Ia tidak pernah menyangka, adiknya akan berbuat se-ekstream itu.

“Iya. Saat itu ia hanya memberi tahukan namanya dan memberitahu alasannya hampir bunuh diri karena ia baru saja kehilangan oppanya yang bernama ‘Kyungsoo’, aku mengajaknya untuk bermain dan bersenang-senang menghibur dirinya. Tapi, waktu itu aku pernah menangkap basah dirinya membeli obat tidur, aku marah saat itu. Kenapa dia membeli obat itu? Dia bilang obat itu untuk kakaknya. Namun aku tahu pada saat itu ia tidak mempunyai seorang kakak perempuan dan hanya memiliki seorang kakak laki-laki bernama Kyungsoo.”

“Hari itu, Hayoung pun menceritakan semuanya. Tentang Hyemi noona yang meninggal. Kyungsoo hyung yang satu-satunya teman yang dia punya yang sudah dia anggap seperti oppanya sendiri, meninggal karena menyelamatkan dirinya. Keluarganya yang selalu sibuk sendiri dengan dunia mereka. Oppa kandungnya yang selalu mengabaikannya, bahkan terkadang berlaku kasar kepadanya. Dan dirinya yang selalu dibully oleh siswa disekolahnya.” Sambung J-hope menceritakan apa-apa saja yang pernah Hayoung ceritakan kepadanya.

“Tapi bagaimana dengan waktu itu? Kalian berpelukan seperti sudah lama tidak bertemu.”

“Oh, yang waktu itu. Disaat aku lulus SMP, aku harus kembali ke Gwangju sebentar karena nenekku. Makanya, aku termasuk anak baru disekolah kalian karena aku menghabiskan kelas 1 SMA-ku di Gwangju.” Jelas J-hope tentang pelukan rindunya dengan Hayoung sewaktu mereka berada di basecamp mereka, sementara Sehun hanya ber-oh ria mendengar penjelasan J-hope.

“Bagaimana kau tidak mengenalku? Bukankah dia bilang dia mempunyai seorang oppa kandung?”

“Dia memang mengatakan bahwa dia memiliki seorang oppa. Tapi dia tidak pernah memberitahukan namamu kepadaku ataupun mengenalkan dirimu kepadaku. Makanya aku tidak mengenalimu sebagai oppanya Hayoung, disaat kita pertama kali berteman.” Jelas J-hope agak kesal karena pertanyaan Sehun selalu berputar-putar.

“Hhh…” Sehun hanya menghela nafas berat, begitu mendengar dirinya yang begitu buruk dimata adiknya.

“Ini adalah kesalahanmu juga.” ujar J-hope yang merasa kasihan melihat Sehun yang menghela nafas berat seperti ingin beban itu keluar seiring dengan dirinya yang membuang uap air itu.

“Aku tahu. Tapi siapa itu Kyungsoo? Aku merasa seperti pernah mendengar atau melihat namanya.”

“Bukankah tadi sudah kujelaskan? Namanya Do Kyungsoo, dia adalah teman pertama Hayoung setelah Hyemi noona meninggal dan dirimu yang mulai mengabaikannya. Atau mungkin juga pengganti dirmu dikehidupannya.”

“Apa yang terjadi padanya?”

“Dia meninggal karena menyelamatkan dan menggantikan Hayoung yang hampir tertabrak mobil dengan dirinya. Hayoung benar-benar merasa terpukul saat itu, tapi kenapa kau malah semakin memperburuknya, brengsek?” Tanya J-hope yang mulai emosian.

“…”

“Tidak hanya dirimu yang merasa terpukul dan sedih saat itu. Jangan egois.”

“…”

“Sudah! Lupakan saja itu! Semuanya sudah berlalu. Makanya kau harus membuat lembar yang baru sekarang. buatlah Hayoung bahagia. Maka kau tidak akan sesengsara sekarang.”

“Aku tahu.”

“Sehun-ah, aku rasa hanya kau yang bisa mengembalikan Hayoung seperti semula.”

“Apa maksudmu?”

“Dia tidak sepenuhnya menjadi pribadi yang terbuka dan ceria ketika aku berada disampingnya dan menghiburnya, ketika kami bersahabat. Didalam dirinya, dia masih seorang Hayoung yang beku walaupun diluarnya dia tampak bahagia. Aku pernah mencoba mengenalkannya kepada sepupuku, berharap mereka bisa bermain bersama dan saling berbicara sesame yeoja karena dia tidak mungkin akan leluasa bercerita dengan diriku yang seorang namja. Tapi, dia tetaplah seorang Hayoung yang dingin, dia tidak benar-benar mencair.”

“Maldo andwae! Dia tampak sangat bahagia ketika bersamamu. Dia pasti sudah mencair karenamu.”

“Ani, tidak seperti itu. Hayoung sepertinya sangat pandai berakting sampai-sampai kakaknya sendiri pun bisa ia tipu. Berakting seakan-akan dirinya baik-baik saja sampai kau tidak harus mengkhawatirkannya, tapi sebenarnya dia sangat tidak baik-baik saja. Dia kesepian dan merasa sangat tersiksa akan hal itu. Karena kau adalah oppa yang sangat disayanginya, maka hanya kaulah yang bisa mencairkan Hayoung yang membeku itu, Sehun-ah. Selamatkanlah dia.”

Flashback end

“Kau tahu? Sekarang aku baru tahu siapa itu Do Kyungsoo. Aku juga pernah bertemu dengannya, walaupun itu hanyalah sebuah pusara dengan nama ‘Do Kyungsoo’. Pantas saja aku merasa familiar dengan namanya. Rupanya, dulu dia satu sekolah dengan kita, namun aku saja yang tidak terlalu perduli.” Kata Sehun seperti sedang curhat dengan Hayoung yang masih tertidur sambil terus menggenggam tangan dingin Hayoung dengan erat.

“Bagaimana dirinya? Apakah dia baik? Apakah dia lebih baik dariku?”

“Tentu saja. Karena aku adalah seorang oppa yang buruk, kan?”

“Apa kau sedang bertemu dengannya sekarang? tolong sampaikan terima kasihku kepadanya, karena telah menjadi teman yang baik untuk Hayoungku.”

“Apa kau juga bertemu dengan Hyemi noona? Tolong sampaikan salamku kepadanya. Aku benar-benar merindukannya.”

Sampai akhirnya ia menghentikan kegiatan bermonolognya, dan menjatuhkan pandangannya ke bawah atau lebih tepatnya ke tangan besarnya yang menggenggam tangan kecil Hayoung, seperti sedang menerawang sesuatu.

“Mianhee, kau pasti merasa berat selama ini.”

“Aku benar-benar bodoh, kan?”

“Aku minta maaf atas semua kebodohanku, atas segala ketidak pekaanku kepadamu. Mianhee…”

Teringat oleh Sehun ketika mereka kecil dulu lebih tepatnya setelah Hyemi pergi. Hayoung masih menginginkan perhatian Sehun dan terus menempel kepada Sehun, tapi Sehun selalu menepisnya dengan kasar sampai terkadang membuat Hayoung terluka namun sayangnya hal itu tidak diperdulikan oleh Sehun. Sehun malah bertingkah seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, bertingkah seakan-akan Sehun hilang ingatan sampai-sampai tidak mengenali Hayoung sama sekali.

“Nuguseyo? Apakah kita bertemu?”

“Dasar hobae ini! Apakah kau adalah adikku? Mengapa aku tidak mengenalmu? Kenapa kau terus menempel kepadaku?”

“Dasar hobae yang tidak sopan! Pergilah kau sana dan jangan ganggu aku!”

Saat itu seperti hati hangatnya telah dibakar bersama dengan jasad Hyemi, menyisahkan hati dinginnya yang membeku didalam diri Sehun. Mengingat semua pisau yang pernah ia tusukkan kepada Hayoung, menjadikan Hayoung seperti sekarang ini, Sehun hanya menutup matanya yang perih dan kembali merutuki dirinya yang begitu bodoh sambil menghela nafas berat berharap semua itu hanyalah mimpi buruk dan semuanya akan hilang seiring dengan dirinya yang menghembuskan campuran uap air dan karbondioksida itu dari mulutnya.

“Mianhee… jinja mianhee…”

“Tapi… bisakah kau kembali? Ani, maksudku. Bisakah aku menyelamatkanmu?”

Sehun kembali merenung dan menatap lekat wajah cantik Hayoung, sebelum melanjutkan pertanyaannya. “Hayoung-ah, apa yang harus kulakukan?”

***

Dijalanan kota Seoul yang cukup padat, seorang namja berpakaian casual tengah berjalan dengan santai di trotoar sambil menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang disediakan oleh kota Seoul. Selama diperjalanannya, namja Gwangju itu – J-hope terus memikirkan apa yang telah terjadi dengannya saat ia berada disekolah tadi. Entah kenapa ia merasa ada yang lain dengan jantungnya ketika ia menari bersama Miju ketika disekolahnya tadi. Memang biasanya setelah menari, jantungnya akan memompa darah dua kali lebih cepat karena tubuhnya yang memerlukannya, namun kali ini ada yang berbeda ketika ia menari bersama Miju dan sayangnya J-hope tidak tahu apa itu.

Sampai pada akhirnya namja itu, berhenti didepan sebuah café namun ia tidak langsung memasuki café tersebut karena pandangannya tertuju pada seorang yeoja yang tengah berbincang-bincang dengan teman yeoja itu lewat kaca etelase café tersebut. Ia termenung sambil terus memandang yeoja itu yang notabenenya adalah yeoja yang menari dengannya ketika mereka disekolah – Miju dan menikmati bagaimana cara yeoja itu tertawa, tersenyum dan lainnya bersama temannya, tidak lupa dengan sesuatu yang terjadi di jantungnya. Sampai J-hope tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah mengendap-endap dibelakangnya.

“Yak! Hoseok-ah! Ini benar kau kan?!” seru orang itu girang sambil merangkul leher J-hope.

“Yak! Nugu–” kalimat J-hope terpotong seiring dengan dirinya yang melirik orang yang merangkul lehernya.

“Dasar bocah! Kau tidak mengenalku?!”

“ Eunji Noona! Akh! Kau benar-benar membuatku jantungan!” seru J-hope sambil melepaskan rangkulan orang itu – Eunji yang notabenenya adalah sepupunya sendiri.

“Benarkah? Bukannya yeoja yang ada dicafe itu?”

“A-apa maksudmu?”

“Heii, jangan mencoba untuk berbohong. Aku melihatmu tadi.” Goda Eunji membuat J-hope salah tingkah. “Aigoo, adikku sudah besar sekarang.”

“Noona, geumanhee…” pinta J-hope yang hanya ditanggapi dengan kekehan jahil oleh Eunji.

“Kenapa kau hanya memandangnya seperti itu tadi?”

“Aku… hanya tidak tahu apa yang terjadi denganku.”

“Aigoo, ternyata adikku ini masih polos.”

“Noona…” rengek J-hope kesal.

“Hehehe. Kajja!” ajak Eunji sambil kembali merangkul leher J-hope.

“Kemana?” Tanya J-hope heran namun hanya dijawab kekehan oleh Eunji. Eunji hanya menyeret J-hope yang berada dirangkulannya ke café yang berada didepannya. Satu tangan Eunji yang bebas, digunakannya untuk mendorong pintu café tersebut dan melangkahkan kakinya kedalam café tersebut. Membuat J-hope harus salah tingkah karena Eunji membawanya masuk kedalam café, tempat Miju berada.

“Duduklah!”

“Noona, kenapa kau membawaku kemari?” Tanya J-hope sambil mendudukkan dirinya di kursi yang berada didepan Eunji, menyebabkan dirinya duduk berhadapan dengan Eunji. Dari tempat itu J-hope dapat melihat Miju yang tengah makan dan bercanda ria dengan Nara

“Kudengar makanan disini enak-enak.” Jawab Eunji santai. Lalu detik berikutnya, Eunji mengangkat salah satu tangannya dan memanggil salah seorang pelayan café tersebut untuk memesan makanan. “Permisi!”

“Alasan yang lain? Kau tidak sedang ingin meledekkukan?” Tanya J-hope curiga.

“Memangnya kenapa? Jangan terlalu percaya diri. Aku baru saja mendapatkan bonus hari ini. Kau tidak mau kutraktir?” Tanya Eunji santai. J-hope baru ingat bahwa noonanya ini bekerja paruh waktu sebagai pemain piano sekaligus menyanyi di suatu tempat. Ani, dia bekerja bukan karena ia orang yang tidak berkecukupan. Eunji hanya bekerja karena memainkan piano dan bernyanyi adalah hobinya. Just for have fun.

“Tentu saja mau. Sejak kapan aku tidak suka ditraktir?”

“Lagipula kenapa kau harus seperti itu hah? Seharusnya kau merasa senang karena bisa melihat yeoja itu dengan jelas dari sini.”

“Haishh, noona. Sudah kuduga kau akan meledekku, seperti itu.”

“Hehehe. Kau tahu bagaimana diriku.”

Tak lama kemudian, datang seorang pelayan café tersebut ke meja Eunji dan J-hope. “Anda ingin memesan apa, pelanggan?” Tanya pelayan tersebut dengan sopan.

“Kau ingin memesan apa?” Tanya Eunji kepada J-hope.

“Terserahmu sajalah.”

“Arasseo. Kalau begitu, aku memesan dua ice cream waffle dan minumannya dua caffe latte.” Pesan Eunji.

“Baiklah, silahkan menunggu sebentar ya.” Ujar pelayan tersebut dengan sopan, lalu berlalu dari meja tersebut menuju dapur café tersebut.

“Ne.” balas Eunji sopan.

Sementara disudut lain di café tersebut atau lebih tepatnya dimeja Nara dan Miju, Miju tengah memakan strawberry shortcake­-nya sambil melirik kea rah J-hope yang sedang bercanda ria dengan seseorang yang tidak ia kenali. Sementara Nara yang sedari tadi tengah memakan makanannya, merasa ada yang aneh dengan Miju.

“Miju-ah, ada apa?”

“Hah? Ani. Tidak ada apa-apa kok.”

“Kau yakin?”

“100% yakin. Jangan khawatir. Habiskan saja makananmu dan ayo kita segera pergi dari sini.” Jawab Miju, membuat Nara merasa curiga dengan apa yang disembunyikan oleh Miju. Nara pun membalikkan tubuhnya kebelakangnya atau lebih tepatnya kea rah namja yang sedari tadi dipandangi oleh Miju.

“Yak! Lee Miju, apa kau sedang cemburu hah?” Tanya Nara curiga.

“Mwo? Cemburu? Maldo andwae! Memangnya aku cemburu dengan siapa hah?”

“Jung Hoseok dan yeoja itu, benarkan?” Tanya Nara memastikan.

“Aniya. Aku tidak cemburu kok.”

“Gotjimal!”

“Geure! Aku cemburu puas?!” jawab Miju dengan kesal dan nada yang agak tinggi. Namun didetik berikutnya, Miju menutup mulutnya dengan kedua tangannya seperti salah bicara. Nara yang melihat itu hanya terkekeh pelan. “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita saja, oke?”

“Okay!”

“Kalau kau sampai membocorkannya, kau akan mati.”

“Arasseo, arasseo. Habiskanlah makananmu, aku tidak mau api cemburumu semakin membara dan membakar tempat ini.”

“Yak! Noe!” seru Miju kesal melihat Nara yang hanya terkekeh pelan. “Sudahlah! Aku sudah selesai.”

“Geure? Kajja!” ajak Nara sambil beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Miju. Mereka pun pergi ke meja kasir untuk membayar makanan mereka dan melangkahkan kaki mereka ke pintu café untuk keluar dari café tersebut.

Kembali ke meja J-hope dan noonanya, akhirnya pesanan mereka pun datang dan memenuhi meja mereka. “Yak! Tunggu dulu!” intrupsi Eunji menghentikan pergerakan tangan J-hope yang baru saja akan memotong waffle-nya.

“Waeyo?” Tanya J-hope heran. Namun Eunji malah mengeluarkan handphonenya dan memotret makanan yang berada dimeja mereka.

ice cream waffle

caffe latte

“Kau mau tahu?” Tanya Eunji sambil masih memfokuskan pandangannya ke handphonenya dan seperti tengah mengetik sesuatu disana.

“Iya.”

“Tunggu saja sebentar lagi. Makanlah.” Ujar Eunji mempersilahkan J-hope untuk memakan makanannya. Tanpa bu-bi-bu lagi, J-hope pun mulai menggoreskan waffle-nya dan memasukkannya ke dalam mulutnya, begitu juga dengan Eunji.

“Woah… noona, ini enak. Pilihan noona tidak pernah salah.”

“Benarkah? Tentu saja, noonamu inikan yang terbaik.”

“Tapi noona, kalau saja Jimin dan yang lain ada disini pasti akan lebih meriah.” Ujar J-hope, sementara Eunji hanya senyum-senyum tidak jelas.

Tidak lama kemudian, pintu café tersebut terbuka menampilkan tiga namja tampan yang memasuki café tersebut bersama-sama. J-hope yang penasaran dengan siapakah yang datang pun mengalihkan pandangannya ke pintu café tersebut dan terkejut dengan siapa saja yang datang.

“Noona, kau benar-benar yang terbaik. Kau bahkan bisa membaca pikiranku.” Ujar J-hope sambil memberikan kedua jempolnya untuk Eunji yang hanya terkekeh melihat tingkah J-hope.

Setelah melihat ke sekeliling café, ketiga namja tampan itu pun berjalan ke tempat Eunji dan J-hope duduk. “Noona, annyeong!” sapa salah seorang dari mereka bertiga kepada Eunji.

“Annyeong Jimin-ah! Kalian sudah datang? Duduklah!” ujar Eunji sambil menunjuk meja yang berada disebelahnya. Ketiga namja itu – Jimin, Taehyung dan Jungkook – pun duduk dimeja yang ditunjuk oleh Eunji.

“Noona, kapan kau kembali ke Seoul?”

“Noona, apakah kau baru saja mendapatkan bonus?”

“Noona, apakah kau akan mentraktir kami?”

Duk! Duk! Duk!

“Akh! Noona!” seru mereka sambil menahan sakit dikepala mereka karena Eunji baru saja memukul kepala mereka dengan sendok.

“Bertanyalah satu persatu. Aku baru saja kembali ke Seoul kemarin dan aku hanya bertahan disini selama beberapa hari, lalu aku harus kembali pergi ke Jeju. Aku hanya mengambil liburan sebentar disini. Terus, kalian benar aku akan mendapatkan bonus dan akan mentraktis kalian.”

“HOREE!!” seru mereka bahagia sambil ber-high five satu sama lain terutama Jungkook yang sangat menyukai makanan.

“Komawo, noona!”

“Saranghaeyo, noona!”

“Kau benar-benar yang terbaik!”

Eunji pun kembali memesan makanan yang sama dengannya untuk ketiga makhluk yang sudah Eunji anggap seperti dongsaeng sendiri. Mereka pun memakan makanan mereka dan dibumbui oleh beberapa candaan yang dibuat oleh dongsaeng-dongsaeng Eunji itu.

“Hayoung dimana? Bagaimana kabar Hayoung sekarang? Sepertinya aku merindukan yeoja es itu.”

“…” keempat namja itu hanya terdiam dan saling menyikut siku satu sama lain.

“Yak! Kenapa kalian hanya diam?”

“I-itu… sebenarnya… Hayoung masuk kerumah sakit.” Jawab J-hope agak ragu. Ia merasa ragu untuk mengatakannya kepada Eunji.

“Mwo?! Bagaimana bisa?!”

“Dia…” kalimat Jimin sengaja ia gantung karena Jimin tidak tahu harus menjawab apa. “Bagaimana cara mengatakannya?” bisiknya kepada Taehyung yang berada disebelahnya, yang hanya dijawab oleh gelengan ragu oleh Taehyung seakan-akan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu.

“Yak! Apa yang sedang kalian lakukan hah? Cepat jawab pertanyaanku!” seru Eunji membuat keempat namja itu bergidik ngeri. Eunji sangat menyeramkan kalau sudah marah, kira-kira itulah yang sedang mereka pikirkan saat ini.

“Sepertinya Hayoung meminum obat tidur. Sekarang ia sedang koma dirumah sakit.”

“Mwo?!”

Tak! Tak! Tak!

Kini Eunji hanya menatap kesal keempat namja yang berada disekelilingnya yang tengah mengusap-usap kepala mereka yang baru saja Eunji hadiahkan sebuah jitakan disana. “Noona, kenapa hanya aku yang dijitak tiga kali sih?” protes J-hope.

“Itu hukuman untuk kalian karena tidak menjaga Hayoung dengan baik.”

“Tapi seharusnya kau juga menjitak oppanya.” Protes J-hope lagi tidak terima.

“Kau tahu bagaimana hubungan Hayoung dengan oppanya. Seharusnya kau juga membantu oppanya.” Jawab Eunji dengan nada suara yang meninggi karena kesal. “Haishh, seharusnya aku tidak mentraktir kalian.”

“Noona…” rengek keempat namja itu kepada Eunji.

“Cepat habiskan makanan kalian! Lalu antar aku menjenguk Hayoung!” titah Eunji masih dengan nada yang tinggi.

“Ne.”

***

Disebuah tempat yang penuh dengan rerumputan dengan berbagai macam pusara yang tertancap diatasnya, seorang namja jangkung bediri dihadapan salah satu makam tersebut. Namja itu meletakkan sebuket bunga chrisant yang berada ditangannya dipusara itu, lalu melakukan sujud hormat didepannya.

“Kyungsoo-ya, bagaimana kabarmu disana?”

“Aku sedikit tidak baik-baik saja disini.”

“Kyungsoo-ya, apa kau akan marah kepadaku karena tidak menjaga Hayoung dengan baik?”

“Mianhee, aku benar-benar bukan penggantimu yang baik.”

“Mianhee, karena sekarang Hayoung malah terbaring lemah dirumah sakit.”

“Mianhee…”

“Mianhee…”

***

Kriiet…

Pintu kayu itu terbuka menampilkan seorang yeoja dengan empat namja tampan dibelakangnya, lalu yeoja itupun memasuki ruangan yang hanya ada seorang yeoja yang tengah berbaring lemah dikasur ruangan itu – Hayoung dan seorang namja – Sehun yang telah mengalihkan pandangannya ke lima orang yang memasuki ruangan itu dan mulai beranjak dari duduknya ke arah lima orang itu, Sehun dapat mengenali keempat namja yang memasuki kamar rawat Hayoung namun tidak dengan yeoja yang tengah menggenggam sebuket bunga bersama mereka.

“Sehun-ah, annyeong.” Sapa seorang namja yang memasuki ruangan itu, yang Sehun kenali sebagai sahabatnya yaitu Jung Hoseok.

“Annyeong hyung.” Sapa ketiga namja lainnya.

“oh, annyeong, Hoseok, Jimin, Taehyung, Jungkook. Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Sehun bingung.

“Kami hanya menjenguk.” Jawab seorang yeoja yang berada diantara keempat namja itu.

“Nuguseyo? Apa kau mengenal Hayoung?” tanya Sehun heran.

“Perkenalkan, dia sepupuku Jung Eunji. Yang pernah kuceritakan waktu itu.” jelas J-hope mengenalkan yeoja itu – Eunji kepada Sehun. “Noona, namja ini adalah oppanya Hayoung. Namanya Oh Sehun.” Jelas J-hope kepada Eunji, mengenalkan Sehun kepada yeoja itu.

“Annyeong haseyo.” Sapa Sehun sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Eunji.

“Annyeong.” Sapa Eunji sambil membalas uluran tangan Sehun, lalu melepasnya. “Jadi kau oppanya Hayoung. Kau memang terlihat seperti namja yang dingin dan kurang peduli, ternyata dalamnya juga.” Kata Eunji, ber-opini kepada diri sendiri.

“Noona…” tegur J-hope sambil menyikut siku Eunji.

“Ara. Aku minta maaf kalau perkataanku menyinggung.” Ujar Eunji sambil membungkukkan kepalanya.

“Gwencanayo.” Balas Sehun dengan senyuman tipisnya, walaupun dalam hatinya ia tengah mengutuk yeoja itu karena terlalu berterus terang dan benar-benar menyinggung perasaannya. “Bukankah tadi kalian bilang ingin menjenguk Hayoung? Silahkan.” Ujar Sehun mempersilahkan.

“Kamsahamnida.” Balas Eunji, lalu dia pun melangkahkan kakinya melewati Sehun dan berjalan kesisi kasur Hayoung. Namun ketika Eunji melewati Sehun, Eunji berhenti sejenak dan membisikkan sesuatu ke Sehun. “Cobalah untuk tersenyum, mungkin kalian berdua akan terlihat lebih baik dengan itu. Dan  mungkin kau akan lebih laku, arachi?” ujar Eunji santai sebelum akhirnya kembali melangkahkan kakinya.

J-hope yang melihat sikap noonanya yang terbilang tidak sopan itu, hanya berdecak kesal. Sementara Jimin, Taehyung dan Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka.

Eunji meletakkan buket bunga yang ia bawa ke meja nakas yang berada disamping kasur Hayoung, lalu duduk dikursi yang berada disamping kasur Hayoung. “Annyeong, yeoja es. Kau benar-benar mirip dengan oppamu, seperti es.”

Eunji melirik sejenak kea rah empat namja yang saling berbincang-bincang satu sama lain, terutama namja tinggi yang dingin itu, lalu kembali memandang Hayoung yang masih tertidur.

“Cepatlah bangun, dia sudah sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukannya?”

“Kalau kau bilang kau tidak merindukannya, kau adalah pembohong besar. Aku tahu, kau pasti juga sangat merindukannya.”

***

Hayoung’s dream

If the wind blows like today, I’ll feel crazy all day. Because you continue to haunt. The scent of fragrant spring breeze. I feel the perfection of sunlight that falls on both cheeks. Look at the white petals dance. When I shared with you. (Love Blossoms – K.Will)

Disebuah padang rumput yang luas yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran disana sini, Hayoung merentangkan tangannya sambil menutup kedua matanya dan menikmati udara segar yang disediakan oleh taman tersebut. Ini adalah kesempatan emas yang sangat jarang datang kepadanya, ia tidak bisa menyia-nyiakan semua ini karena tentu saja Hayoung tidak akan menemunkan tempat senyaman dan setenang ini di Seoul. Tidak akan pernah.

Tidak lama kemudian Hayoung kembali membuka matanya dan menyapukan pandangannya kesekeliling, bola matanya dapat menangkap seorang namja berada tidak jauh darinya tengah merangkai beberapa bunga. Hayoung sangat mengenali punggung namja itu. Tapi tunggu dulu, seorang namja merangkai bunga? Yang benar saja. Apakah namja itu tidak mempunyai hal normal lainnya yang bisa namja itu lakukan? Karena merasa penasaran Hayoung pun melangkahkan kaki panjangnya kea rah namja itu.

Hayoung berjalan mengendap-endap dibelakang namja itu agar tidak ketahuan olehnya. Disaat Hayoung ingin mengagetkan namja itu, sebuah suara berat mengintruksinya. “Ada apa Hayoung-ah?”

“Ah, Kyungsoo oppa. Bagaimana kau bisa tahu? Padahal aku ingin mengagetimu.” Rengek Hayoung kesal kepada namja sang pemilik suara itu – Kyungsoo. Sementara Kyungsoo hanya terkekeh pelan sambil terus melanjutkan kegiatannya.

“Karena aku selalu mengawasimu.”

“Omong kosong.”

“Kau tidak percaya?”

“Iya, aku tidak percaya. Bahkan kini kau berada didepanku, bukan dibelakangku.” Jawab Hayoung santai, tanpa memikirkan makna lain yang ada didalamnya. Hayoung tidak pernah mau memperdulikan hal itu. “Apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak lihat? Aku sedang merangkai bunga.” Jawab Kyungsoo sambil memamerkan kegiatannya.

“Kenapa kau merangkai bunga? Bukankah itu pekerjaan perempuan? Seolma, apa kau sebenarnya seorang yeoja yang menyamar menjadi Kyungsoo oppa?” Tanya Hayoung curiga.

“Mwo? Pertanyaan macam apa itu hah?” Tanya Kyungsoo balik dengan kesal. Bagaimana mungkin Hayoung bisa mencurigainya seperti itu? Dia adalah namja sejati, waaupun hanyalah roh.

“Mungkin sajakan?”

“Lupakan sajalah.” Ucap Kyungsoo menyerah dengan pertanyaan konyol Hayoung. “Selesai!” seru Kyungsoo bahagia sambil memamerkan sebuah mahkota sederhana dari rangkaian  bunga yang baru saja dibuatnya.

“Woah! Cantiknya!” gumam Hayoung kagum.

“Kuetjo? Aku benar-benar membuatnya dengan baik.”

“Oppa, mahkota ini untukku saja ya.” Pinta Hayoung sambil menunjukkan aegyonya.

“Eumm… bagaimana ya…”

“Jebal… kau tidak mungkin memakai benda yang seharusnya digunakan oleh yeoja. Apa kau mau menjadi seorang waria?” Tanya Hayoung bercanda.

“Arasseo.” Ucap Kyungsoo sambil menyematkan mahkota bunga sederhana itu dikepala Hayoung. “Kunobatkan kau sebagai seorang putri kerajaan Exo Planet.” Canda Kyungsoo sambil membungkukkan kepalanya dan menekuk lututnya dihadapan Hayoung beranggapan bahwa Hayoung benar-benar seorang putrid raja, sementara Hayoung hanya terkekeh senang melihatnya.

“Terima kasih pangeran Do Kyungsoo.” Jawab Hayoung mengikuti permainan Kyungsoo sambil sedikit membungkukkan kepalanya dan memamerkan senyuman manisnya.

Detik berikutnya Kyungsoo kembali menegakkan dirinya, lalu mengulurkan tangan kanannya kehadapan Hayoung. “Maukah kau berdansa bersamaku?”

“Dengan senang hati.” Jawab Hayoung sambil menerima uluran tangan Kyungsoo. Kyungsoo pun menyampirkan tangannya ke pinggang ramping Hayoung, dan Hayoung pun ikut mengalungkan tangannya ke leher Kyungsoo, membuat wajah mereka cukup dekat untuk menikmati keindahan wajah lawan masing-masing.

Lalu Kyungsoo pun mulai menggerakkan kakinya diikuti oleh kaki Hayoung, ditemani oleh suara merdu burung-burung yang bersiul dipohon-pohon, bukan suara orchestra teater, dan bunga-bunga sakura yang mulai berjatuhan diatas mereka yang diterbangkan oleh semilir angin yang berhembus.

“Hayoung-ah.”

“Hmm?”

“Waktuku tidak akan lama lagi. Aku akan kembali.” Ujar Kyungsoo, membuat Hayoung serasa disambar sesuatu dan menghentikan pergerakan kaki mereka namun masih dengan posisi yang sama. Hayoung masih belum rela untuk berpisah dengan Kyungsoo lagi.

“K-ke-ma-na?”

“Ketempat seharusnya diriku berada.”

“Tidak bisakah aku bersama denganmu selamanya? Seperti ini? Aku tidak mau kehilanganmu lagi.” Ujar Hayoung melemah.

“Kau tidak bisa seperti itu Hayoung-ah. Kau harus hidup dengan baik. Seseorang menunggumu disana.” Hayoung hanya terdiam, matanya mulai memerah menahan kesedihan yang harus kembali menimpanya. Bagi Hayoung, kenapa kehidupannya didunia nyata dan didalam mimpi harus sama menyedihkan? Tidakkah dia bisa merasakan akhir yang bahagia?

Detik berikutnya, dengan perlahan Kyungsoo mendekatkan wajahnya dan bibir Kyungsoo pun menyentuh bibir kecil Hayoung. Sementara Hayoung hanya membelalakkan matanya terkejut, namun lama kelamaan Hayoung menikmati bibir Kyungsoo yang menempel dibibirnya. Ciuman tulus yang diberikan oleh Kyungsoo, tidak bertahan lama karena Kyungsoo lebih dulu menarik wajahnya.

Tunggu dulu, apakah Kyungsoo baru saja menciumnya? Hayoung meraba-raba bibirnya tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Oh tuhan, mimpi indah macam apa ini? Ciuman pertamanya diambil oleh cinta pertamanya walaupun hanya didalam mimpi. Tapi, bukankah ini hanyalah mimpi? Tapi kenapa ciuman itu terasa sangat nyata bagi Hayoung? Hayoung merasa bahwa dirinya benar-benar dicium oleh seseorang.

“Hiduplah dengan baik. Dan berbahagialah. Jangan menangis lagi, atau aku akan kembali menghantuimu.” Pesan Kyungsoo yang berakhir dengan ancaman yang tidak terlalu serius. Lalu perlahan-lahan tubuh Kyungsoo mulai menghilang seiring dengan angin yang berhembus, meninggalkan Hayoung dengan ruang kosong didepannya.

.

.

Oh love of my life I wanna wake you up. Shine a light, no matter what anyone says, you’re like a star. You’re so dazzling, a mysterious light in between, shine a light. Clearly, as if you’re whispering, you shine on me. (Crystal – Apink)

 

Hayoung membuka matanya dan menangkap pemandangan yang hampir sama dengan yang tadi, yaitu langit biru dengan beberapa kumpulan awan putih yang menghiasinya, dibawah langit itu Hayoung dapat melihat dedaunan yang menempel pada ranting-ranting pohon yang melindunginya dari panas sinar matahari dan seorang yeoja yang tengah menutup matanya dan menyandarkan kepalanya dibatang pohon yang berada dibelakang kepala yeoja itu. Pantas saja Hayoung merasakan kepalanya berada diatas tempat yang cukup empuk namun tidak dengan tubuhnya yang terasa sedikit basah karena berada diaias rerumputan yang agak lembab, karena kepala Hayoung berada diatas paha yeoja itu.

“Oenni.” Panggil Hayoung pelan tanpa ada niat untuk membangunkan yeoja yang dia panggil ‘oenni’ itu – Hyemi. Namun Hyemi tetap saja membuka kedua kelopak matanya perlahan.

“Hayoung-ah. Bangunlah!” ujar Hyemi, membuat Hayoung mengerutkan keningnya kebingungan.

“Apa maksudmu?” Tanya Hayoung heran, sambil mendudukkan tubuhnya menghadap Hyemi.

“Kau harus kembali.”

“Tapi aku masih ingin berada disini bersamamu.”

“Aku juga ingin seperti itu, tapi aku harus pergi juga ke tempat asalku.” Kata Hyemi sambil beranjak berdiri dari duduknya, diikuti oleh Hayoung yang masih tidak rela.

“Aku tidak ingin kembali.”

“Kau akan menyesali itu Hayoung-ah.”

“M-mwo?” Tanya Hayoung bingung. Apa yang akan ia sesali?

“Pulanglah! Semua orang sudah menunggumu.”

“Ani, mereka tidak perduli denganku.” Sanggah Hayoung sedih. Teringat olehnya appa dan eommanya yang selalu sibuk bekerja begitu juga dengan Sehun.

“Kalau begitu bukalah matamu dan hatimu, maka kau akan baik-baik saja.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.” Jawab Hyemi yakin. “Aku harus pergi. Hiduplah dengan baik dan berbahagialah Hayoungiie.” Ujar Hyemi dengan suara lembutnya. Lalu dia mengecup pipi dongsaengnya pelan, namun lagi-lagi kecupan itu terasa nyata oleh Hayoung. Detik berikutnya, Hyemi perlahan-lahan menghilang seiring dengan sinar matahari yang mulai meninggi, meninggalkan Hayoung yang kini harus kembali sendirian.

“Baiklah, aku juga akan kembali pulang.”

.

.

Danger, dangerous. luminous figure in the dark, hurry, faster, before the day ends. I’ll take to my side before anyone else can see. Subjecting your head, just follow my shadow shining white. (Lightsaber – EXO)

Yeoja berambut panjang yang digerai itu – Hayoung hanya memandang sekelilingnya dengan heran, ia hanya bingung ia berada dimana. Dan memikirkan tempat macam apa ini. Karena mata hazel Hayoung hanya mendapati pemandangan yang hitam legam disekelilingnya, ia bahkan tidak tahu apakah tempat ini adalah sebuah ruangan atau jurang yang memungkinkan dirinya akan jatuh kapan saja karena tempat ini sangat sangat gelap. Ia bahkan tidak dapat melihat setitik pun cahaya saking gelapnya tempat ini.

Hayoungterus mengerjapkan matanya dan beralih melihat kesekelilingnya, berharap tempat yang hitam gelap ini berubah menjadi sebuah padang rumput yang indah ataupun tempat lainnya yang lebih terang. Namun hasilnya nihil, ia hanya mendapati tempat gelap itu lagi dan lagi. Hayoung merasa takut untuk melangkah barang kali satu langkah pun, ia takut akan tersesat karena sebelumnya dirinya sudah tersesat dan jatuh dilubang yang cukup dalam.

“Oenni!” seru Hayoung yang menggema keseluruh tempat gelap itu.

“Oppa!” seru Hayoung lagi yang memenuhi tempat itu.

“Kalian dimana?”seru Hayoung lagi. Hayoung merasa semakin takut sendirian, matanya mulai berkaca-kaca sambil terus memandang kesekelilingnya yang masih saja gelap. Namun ia masih mempertahankan dirinya untuk tidak melangkah sejengkal pun dari tempatnya berdiri.

Samar-samar telinga Hayoung dapat menangkap suara seseorang tertawa sinis yang ia yakini bukanlah Hyemi oenninya maupun Kyungsoo oppanya. “Nu-nuguseyo?” Tanya Hayoung masih dengan mata yang berkaca-kaca. Oh tuhan, ia benar-benar ketakutan saat ini.

“Hahaha, apa kau sedang tersesat yeoja kecil?” Tanya suara itu, membuat Hayoung semakin ketakutan. Pasalnya Hayoung tidak dapat mengetahui rupa orang itu karena tempat ini sangatlah gelap.

“N-nu-nugundeyo?” Tanya Hayoung bersama dengan satu tetes air matanya yang jatuh kepipinya.

“Ayo ikuti aku. Maka kau akan semakin tersesat.” Bisik orang itu sambil mulai menyetuh  tangan mulus Hayoung.

“KYAA!!!” teriak Hayoung ketakutan sambil mulai melarikan diri dari tempatnya berdiri tadi. Persetan dengan prinsipnya tadi agar tidak akan pergi kemana-mana, yang harus ia lakukan saat ini adalah menyelamatkan diri dari apapun itu.

“Kau tidak akan bisa melarikan diri dariku, Oh Hayoung.” Bisik suara itu. Hayoung tidak tahu persis orang itu berada dimana, karena suaranya menggema dari depan, belakang maupun kanan dan kirinya.

“KYA!!”

“Karena aku bersarang didalam dirimu.”

“KYA!!!” teriak Hayoung sambil terduduk menekuk lutunya dan menutupi erat-erat kedua telinganya dengan kedua tangannya. “Jebal, tolong aku…” lirih Hayoung yang mulai meneteskan beberapa cairan liquid dari matanya.

Saat itulah muncul segerombolan kupu-kupu berwarna putih terang, berterbangan ditempat yang gelap itu. Membuat Hayoung dapat sedikit bernafas lega karena akhirnya ada setitik cahaya yang dapat dilihatnya. Tak lama kemudian, gerombolan kupu-kupu itu bergabung dan mulai membentuk siluet seseorang dan berubah menjadi seorang namja tinggi dengan rahang yang tegas mengenakan pakaian serba putih membawa sesuatu yang panjang seperti pedang yang bersinar ditangannya, namja itu berada tidak jauh dari tempat Hayoung.

Namun ketika namja itu akan beranjak ketempat Hayoung, beberapa bayangan abu-abu membentuk siluet beberapa orang menghalangi namja itu untuk mendekati Hayoung. Membuat namja itu mau tak mau harus melewati bayangan abu-abu itu terlebih dahulu. Namja itu pun mulai mengayunkan pedangnya melawan bayangan-bayangan tersebut.

“Pergilah kalian!”

Tidak sampai disitu saja, ternyata bayangan-bayangan abu-abu itu juga mengganggu Hayoung, membuat teriakan ketakutan lolos dari mulut Hayoung dan tangisan Hayoung mulai deras. Tubuhnya mulai bergetar hebat seiring dengan  rasa takut yang terus menghantuinya. Begitu juga dengan namja itu yang semakin lihai memainkan pedangnya dan berhasil menghabiskan lawan bayangannnya, lalu namja itupun berlari kea rah Hayoung dan membasmi bayangan-bayangan yang mengganggu Hayoung dengan pedang bercahayanya.

Blush…

Akhirnya namja itu berhasil membasmi semua bayangan-bayangan abu-abu itu. Namja itu menghela nafas lega, namun tidak dengan Hayoung yang masih ketakutan dengan punggung yang gemetaran. Namja itu melirik kea rah Hayoung sejenak dan merendahkan tubuhnya alias menjongkokkan dirinya dihadapan Hayoung. Namja itu menggenggam tangan Hayoung yang berada ditelinga yeoja itu dengan lembut seakan-akan memberikan kekuatan disana.

“Gwenchana. Jangan takut.” Ujar namja itu lembut dengan suara beratnya sambil melepaskan tangan Hayoung yang tadi digenggamnya dari telinga yeoja itu, membuat Hayoung mendongakkan kepalanya ke namja itu.

Namja itu mulai berdiri dan mau tak mau membuat Hayoung untuk berdiri bersamanya karena tangan Hayoung yang masih berada di genggaman hangat namja itu. “Kau bilang kau mau pulangkan?” Tanya namja itu, yang hanya dijawab anggukan polos oleh Hayoung yang masih kebingungan.

“Ayo kita pulang. Aku merindukanmu.”

 

 

Tbc

Akhirnya selesai juga chapter satu ini. Aku mohon maaf karena update-annya agak lama karena akhir-akhir ini lagi banyak pikiran. Dan mungkin seterusnya juga akan seperti itu, tapi aku akan tetap berusaha.

Oh, iya. Disini aku mulai membuat J-hope fallin in love, dan seseorang misterius yang berada dimakam Kyungsoo yang mungkin akan kuceritakan di chapter selanjutnya.

Kalau ada yang kurang bagus atau agak membingungkan, silahkan ditanggapi atau ditanya. Saya akan berusaha untuk menjawabnya.

Dimohon dukungan dari kalian semua, agar aku terus semangat untuk melanjutkan ff ini. Jeongmal kamsahamnida bagi yang sudah mendukungku.

 

Meet Jung Eunji

eunji

v 3j

 

 

 

 

 

 

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Somebody (Chapter 6)”

  1. Siapa tu namja yg nolong hayoung? Jadi kasihan sama sehun pasti ngerasa bersalah banget.. ceritanya makin seru ma sedih.. ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

    1. Mungkin saya tidak akan menjawabnya sekarang tapi hal itu akan saya ceritakan di chapter selanjutnya. jadi mohon ditunggu ya.
      selamat menikmati!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s