[EXOFFI FREELANCE] Beautiful Target (Chapter 1)

beautiful target poster

Title : Beautiful Target | Author : Cho Sarang | Length : Chaptered | Genre : Romance, Family, School-Life | Rating : T | Main Cast : Park Chan Yeol, Hwang Eun Bi (OC) | Support Cast : Find in story

Disclaimer : Cerita ini adalah hasil dari hobi author yaitu berkhayal. Semua tokoh dan kepribadian dalam fanfic ini hanyalah fiktif yang diciptakan author di Neverland miliknya.

Author’s note : Pembaca yang budiman, tolong agar tidak meng-copy dan berikan komentarnya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas fanfic ini.

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung. Itu juga yang dirasakan oleh seorang gadis keturunan Australia – Korea bernama Lucy Dalton, dengan nama Korea Hwang Eun Bi. Dia lahir dan besar di Australia. Ayahnya Louis Dalton merupakan dosen dari University of Sydney dan ibunya Hwang Hyo Young punya café yang cukup laris di Bridge Street, Sydney. Eun Bi pindah ke Korea diusia enam belas tahun. Saat itu, ia baru saja memasuki tahun kesepuluh di sekolah menengah.

Kepindahannya ke Korea tentu bukan tanpa sebab. Nenek Eun Bi, yaitu Hwang Bo Young kini harus hidup sendiri di Seoul lantaran suami tercinta telah meninggalkannya. Karena ibu dari Eun Bi adalah anak tunggal, ia tak sanggup membiarkan ibunya hidup sebatang kara di kota metropolitan Seoul. Café-nya bisa dipercayakan kepada teman dekatnya dan dia bisa memantaunya dari Korea. Eun Bi pun harus memilih tinggal bersama ibunya menemani sang nenek dan untuk sementara berpisah dengan ayahnya yang masih belum mau meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen di universitas ternama di Australia itu.

**~ Eun Bi POV ~**

Aku mencoba memejamkan mataku tetapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Kucoba memiringkan badanku ke kanan, kiri, terlentang, tengkurap, memindah posisi bantal, dan segala gaya tidur manusia sudah kucoba namun hasilnya nihil. Aku tetap saja tidak bisa tidur dan terjebak dalam kekhawatiranku di hari pertama sekolah besok.

“ARGHHH….Ya Tuhan, apa yang terjadi padakuuu?” teriakku sambil bangun dan membanting bantal ke pangkuan.

Kamar baruku di rumah oehalmeoni malam ini terasa sangat sunyi dan yang kudengar hanyalah detak jarum jam. Sudah pukul dua belas lebih sepuluh malam. Kamar tidur ini disiapkan oehalmeoni untukku setelah beliau mendengar bahwa aku akan ikut Mummy tinggal di Seoul. Cat dindingnya berwarna biru muda. Wall sticker di atas ranjangku adalah gambar Sydney Opera House. Wall sticker di bagian yang lain adalah sebuah jalan dengan trotoar yang di sampingnya dipenuhi dengan pepohonan dan terdapat beberapa lampu kota. Ranjangnya berukuran kecil yang hanya cukup untuk tidur satu orang. Di sebelah kanan ranjang ada sebuah meja kecil dengan lampu duduk berbentuk Pororo. Aku baru tahu bahwa itu Pororo karena oehalmeoni yang mengatakannya. Aku tidak pernah tahu apa itu Pororo sebelumnya. Aku juga tidak tahu mengapa oehalmeoni membelikanku lampu duduk Pororo. Mungkin karena warnanya sama dengan warna favoritku. Di sebelah kiri ranjang terletak meja belajar yang sekaligus sebagai meja rias. Tepat di depan meja belajarku, di sisi yang berlawanan adalah lemari pakaian.

Aku bangkit dari ranjang, berjalan menuju depan cermin lemari pakaian berwarna biru muda kesukaanku. Kupandangi wajahku dan kucoba berbagai ekspresi muka agar tidak canggung saat bertemu dan berbincang-bincang dengan orang Korea.

“Annyeonghaseyo ~ “ kataku sambil membungkukkan badan 90 derajat di depan cermin.

“Nama saya Hwang Eun Bi. Saya siswi pindahan dari Penrith High School, Sydney, New South Wales, Australia……Ehmmmm oh, No. Itu terlalu canggung”.

Aku melihat sekeliling untuk mencari inspirasi kata-kata yang tepat untuk perkenalan. Kemudian, aku mendadak tersenyum sok manis.

“Chingu-deul, annyeong….! Saya Hwang Eun Bi………..ah, ani. Itu terlalu centil. Bagaimana ya besok? Kenapa aku tiba-tiba gugup?”

Aku mencoba menarik napas yang dalam dan panjang sambil memejamkan mataku. Kemudian kuhembuskan pelan-pelan.

“Tenang, Lucy. Besok akan baik-baik saja. Ya, semua siswa akan menatap takjub padamu dan semuanya akan sangat ingin berteman denganmu.” Kataku menenangkan diriku sambil tersenyum.

Tiba-tiba sekelebatan imajinasi menghampiriku.

‘Saat itu aku melangkah gontai menuju kelas dan semua siswa menatapku dalam kekaguman. Aku menyunggingkan senyuman termanisku. Aku melewati dua gadis di sebelah kananku yang membuka mulutnya lebar-lebar menatapku penuh kekaguman. Lalu di sebelah kiri, ada sepasang kekasih yang berjalan sambil membawa es krim. Si cowok menatapku takjub hingga es krimnya terjatuh di atas sepatu si cewek. Si cewek tidak sadar akan hal itu dan dia tersenyum kepadaku seakan melihat malaikat bersayap. Di belakangnya, deretan pria mimisan saking terpesonanya padaku. Di depanku rombongan guru berjalan sambil membawa buku mereka. Karena melihatku, mereka terhenti dan melongo. Buku-buku yang mereka bawa jatuh berserakan di lantai.’

Aku mengguncangkan kepalaku, “No way! Itu terlalu berlebihan. Ah, sudahlah. Aku hanya akan gila jika memikirkan bagaimana besok di sekolah. Okay, Lucy. Ingat bahwa besok kau akan memakai nama Eun Bi dan jalani hidup di Korea dengan normal. Lucy, Fighting!!!! No, Eun Bi-ah Fighting!!!”

Lalu langkahku menjadi semakin ringan menuju ranjang. Kucoba berbaring dan kututupkan selimut sampai ke leher. Kupanjatkan doa dan kupejamkan mata. Aku bersiap menyongsong hari esok. Apapun yang terjadi, pasti menjadi moment yang tak terlupakan untukku. Kunyalakan lagu-lagu Reece Mastin dari handphone sebagai pengantar tidur.

***

**~ ChanYeol POV ~**

Aku mendengar seseorang memanggil namaku dari kejauhan. Aku sudah tahu itu suara siapa. Siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun. Badut kelas itu selalu mendatangiku untuk mencotek pekerjaan rumah. Aku pura-pura tidak mendengar dan tetap berjalan di sepanjang koridor menuju kelas.

“Ya, Chan-ah! Apakah kau tuli?” tanya Baekhyun memegang bahuku dari belakang untuk menghentikanku. Napasnya memburu. Sepertinya ia sudah mengejarku dari tadi.

Aku memutar mataku dan menatapnya dengan malas, “ Mwoya? Apa kau mau mencontek PR lagi? “

Baekhyun nyengir lebar, “ Yaaa…Chanyeol-ah. Kau seharusnya tidak pelit membagi ilmumu itu. Kau kan tahu kalau sahabatmu ini terlalu sibuk, sangat sedikit waktu luangku yang bisa kugunakan untuk mengerjakan PR.”

“Itu karena kau tidak mau meluangkan waktumu. Dasar badut kelas pemalas….!” umpatku sedikit kesal. Meski begitu, aku membuka tasku dan menyerahkan buku PR-ku kepadanya.

Baekhyun menerima buku PR sambil tersenyum puas. ”Gomawo Chanyeol-ah…!” katanya dengan nada sok imut dan memamerkan eye smile-nya.

Dengan semangat, Baekhyun merangkulku menuju kelas. Aku pun menurut saja saat dia merangkulku dan menuntunku berjalan ke kelas. Kakinya meloncat-loncat selagi berjalan. Aku tersenyum di ujung bibir melihat tingkahnya yang sangat konyol.

Meski sering bertingkah konyol dan menjengkelkan, aku tetap senang bersahabat dengan Byun Baekhyun. Dia orang yang periang, suka menghibur orang, selalu optimis, pandai melucu, dan baik. Dia dikenal sebagai badut kelas sekaligus idola di sekolah ini. Namun, dia orang termalas yang pernah kukenal dan suka flirting dengan gadis-gadis di sekolah dari hubae hingga sunbae. Tak heran jika penggemarnya kebanyakan adalah para gadis. Mereka sering membawakan makanan dan hadiah untuknya. Bahkan, ada beberapa gadis yang mengisi mading sekolah dengan fanfiction tentang Baekhyun. Sungguh, terkadang aku iri dengan ketenarannya.

Setibanya di kelas, kami menyapa teman-teman. Baekhyun segera duduk di bangkunya. Di atas meja, dia menemukan sebuah kotak kecil merah hati dengan pita berwarna senada. Baekhyun membukanya, isinya coklat beraneka bentuk. Aku yakin itu pemberian dari salah satu fans-nya. Kemudian dia membungkukkan badannya kedepan dan menyodorkan kotak coklat itu kepadaku. Berisyarat menyuruhku mencobanya juga. Aku yang duduk di bangku depannya hanya melihat coklat itu sekilas dan menggelengkan kepala, menolak pemberiannya.

“Ya, kenapa kau tidak mau mencicipinya barang sedikit saja? Coklat ini kelihatannya lezat,” kata Baekhyun sambil melebarkan matanya menatap coklat-coklat itu.

Aku berbalik menghadapnya,”Kau pikir kau bisa menyogokku dengan coklat-coklat itu?”

“Menyogokmu? Apa maksudmu?”

“Tentu saja, kau selalu berlaku baik padaku agar kau bisa mendapatkan contekan dariku, kan? Makanya, kau selalu membagi hadiah-hadiah dari fans-mu padaku.”

“Mwo? Ya, Chanyeol-ah! Persahabatanku tidak serendah itu, kau tahu?”

“Sudahlah, aku tidak menginginkan hadiah-hadiah dari fans-mu itu.”

“Ya sudah, aku tidak akan memaksamu mencicipinya. Aku bisa membagikan coklat ini dengan anak-anak lain. Yedeura ~ aku punya coklat yang lezat! Kalau kalian mau, ambil di sini ya!”

Beberapa anak yang tertarik untuk memakan coklat, segera menghampiri bangku Baekhyun dan memasukkan coklat ke mulut mereka. Baekhyun membiarkan kerumunan itu meludeskan coklatnya. Ia membuka buku PR-nya untuk menyalin PR-ku.

“Apa kalian sudah dengar bahwa hari ini akan ada murid pindahan?” tanya Baekhyun sambil menatap buku dan menggoreskan pena di atas bukunya.

“Iya, aku dengar dia perempuan. Pindahan dari luar negeri,” sahut Jongin dengan mulut masih dipenuhi coklat.

“Aku dengar dia pindahan dari sekolah ternama di Australia,” kata Naeun.

“Aku juga tahu. Nama sekolahnya sangat sulit disebutkan. Pe….pep….apa ya?” tanya Jo Kwon.

“Sudahlah, kau tidak akan bisa mengingatnya. Nilai bahasa Inggrismu kan jelek, Jo Kwon,” sahut Baekhyun dengan senyum liciknya sambil tetap menulis. Tawa anak-anak pun pecah karena ucapan Baekhyun.

“Oh ya? Ngomong-ngomong, seperti apa orangnya? Apakah dia orang Korea?” tanyaku

“Ya, Chanyeol-ah….kenapa kau menanyakannya? Apa kau berencana untuk menjadikannya pacar?” goda Naeun.

“Memangnya aku salah bertanya seperti itu? Lagi pula, aku kan belum memikirkan untuk berpacaran.”

Hyerin yang sedang bercermin menurunkan cerminnya dan berkata,” Hol….Daebak…. Apakah kau tidak berpacaran agar kau bisa mempertahankan predikat juara kelas? Sebenarnya kau ini alien dari planet mana? Ayolah….kita masih muda. Nikmati saja hidup kita.”

“Ya, Hyerin-ah! Untuk menikmati tidak harus dengan berpacaran, kau tahu,” jawabku dengan nada agak tinggi.

Hyerin baru saja membuka mulutnya untuk menyanggahku saat bel masuk berbunyi. Semua siswa berlarian masuk kelas dan duduk di tempat masing-masing. Aku segera merebut buku PR-ku dengan paksa dari Baekhyun, membetulkan tempat dudukku, dan melipat lengan. Kulihat pintu terbuka dan Go seonsaengnim memasuki kelas.

***

22 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Beautiful Target (Chapter 1)”

  1. ini segini aja? huaaaa kurang puaaaaaasssss, tumben tumbenan chan perannya jd anak baik” hahhahahah vagus lanjutkan ☺☺

    1. Terimakasih atas masukannya.
      Next chapter bakalan dipanjangin deh.
      Chanyeol sengaja dibikin baik karena author menyukai kebaikan 😜

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s