SPRINGFLAKES – Slice #1 — IRISH`s Story

irish-springflakes

Springflakes

With EXO’s ??? and OC’s Lee Chunhee

Supported by EXO and iKON Members, with OCs

An adventure, slight!action, dark, fantasy, life, romance, story rated by PG-17 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved

— release hurt with a truth —

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Chunhee’s Eyes…

Aku terlahir dengan nama Lee Chunhee, yang berarti gadis musim semi. Karena aku dilahirkan diawal musim semi, yang juga merupakan awal dari kehancuran kota Seoul.

Kehancuran? Kukatakan kehancuran karena dimusim kelahiranku, pasukan besar kerajaan vampire menyerang kota Seoul, menduduki kota ini dan mengubahnya menjadi istana besar. Kerajaan mereka.

Dan bagi kami, manusia yang tinggal disini, perlawanan berarti kematian. Karena mereka adalah makhluk dengan kekuatan luar biasa yang bisa membunuh kami dalam hitungan detik, hanya sekejap mata.

Aku kehilangan kedua orang tuaku dua puluh tahun lalu, saat usiaku masih sangat belia. Sampai detik ini aku bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah mereka, atau apa mereka berharap mempunyai anak sepertiku. Aku tidak pernah mengetahuinya.

Bahkan tidak ada peninggalan apapun yang mereka berikan padaku. Foto, atau apapun. Semuanya sudah musnah oleh bangsa vampire. Dan kami, manusia yang tersisa, diperbudak oleh mereka. Hidup dalam koloni-koloni kecil, beraktifitas saat siang hari dan bersembunyi rapat-rapat didalam rumah saat malam tiba karena vampire manapun akan sangat mungkin untuk membunuh kami tanpa kami bisa mencegahnya.

Dan tidak ada penuntutan yang bisa kami berikan pada mereka, karena kota ini sudah dikuasai oleh mereka, dan perlawanan berarti kematian bukan?

Kami, manusia yang tersisa, setiap tahunnya harus mengorbankan sepuluh orang remaja untuk diperbudak dikerajaan mereka. Menjadi prajurit yang akan dikerahkan oleh mereka saat perang perebutan kekuasaan dengan kerajaan vampire lain—perang yang terjadi setiap awal musim semi—dan itu artinya kota kecil ini harus rela kehilangan remaja-remaja nya karena sudah bisa dipastikan sebagian besar—prajurit-prajurit itu—akan mati, dan sisanya?

Pulang ke istana mereka sebagai makhluk pucat peminum darah yang tak lagi mengingat kehidupan manusianya.

Dulu, kami merelakan begitu saja bangsa vampire itu menyeret-nyeret remaja yang mereka lihat—mereka katakan bahwa mereka sudah memilihnya—keluar dari rumah dan dibawa ke istana. Meninggalkan tangisan dan bahkan beberapa orang terluka karena berusaha mempertahankan mereka.

Karena sekali mereka dipilih, saat itu adalah terakhir kalinya kami semua melihatnya. Tak ada satupun dari mereka yang akan kembali. Mereka benar-benar terpilih untuk bergabung bersama bangsa vampire yang perlahan berusaha melenyapkan kami.

Dari yang kami semua dengar, di istana pun mereka akan diseleksi dengan ketat, dan itulah alasan kami—yang berusia 11-20 tahun—akan berlatih mati-matian untuk mempertahankan diri.

Kami berlatih pedang, membela diri, dan belajar membuat strategi perang. Berutunglah bagiku dan beberapa yang lainnya yang sudah berusia diatas 20 tahun karena kami tak lagi menjadi sasaran vampirevampire itu.

Dan mengingat bahwa ada banyak remaja diusia rawan yang mungkin akan dipilih, kami yang sudah tak mungkin dipilih akhirnya mempunyai pekerjaan tetap. Melatih mereka.

Kuakui sudah sejak kecil aku melatih diriku, karena entah mengapa disaat itu aku yakin aku akan dipilih. Kemauan kerasku berhasil membuatku masuk jajaran remaja terkuat di segelintir manusia ini.

Tidak bisa kuhitung berapa banyak luka yang sudah tertanam ditubuhku karena latihan-latihan fisik maupun kecelakaan yang sudah kualami. Tapi nyatanya, sampai usiaku menginjak 21 tahun, aku aman. Jadi aku tak perlu lagi menambah luka ditubuh yang nyatanya sudah terlatih ini.

Aku tidak habis pikir, sampai kapan mereka akan melakukan hal seperti ini. Dan bagaimana jika suatu saat tidak ada lagi remaja yang bisa kami serahkan pada mereka? Maksudku, dengan mereka mengambil sepuluh remaja setiap tahun, ditambah jumlah orang tua yang sudah tidak banyak, hanya kami—remaja dengan usia diatas dua puluh tahun—lah yang tersisa.

Bukankah besar kemungkinannya mereka akhirnya akan menarik paksa kami untuk diperbudak saat tidak ada lagi remaja direntang usia yang mereka inginkan?

Lalu bagaimana jika sudah tidak ada lagi yang bisa mereka perbudak? Mereka akan membunuh manusia yang lain? Atau membuat rencana yang lebih buruk lagi bagi kami?

“Mereka datang.”

Aku tersadar saat seseorang menepuk bahuku. Kuhentikan kesibukanku mengasah pedang, dan aku dengan sigap berdiri. Kami sudah berdiri di depan gerbang raksasa yang memisahkan wilayah istana mereka dengan kota kecil kami.

Dan bersamaku, sudah ada puluhan remaja yang siap mereka pilih. Semuanya. Tidak terkecuali. Karena entah mengapa mereka bisa tahu jika kami menyembunyikan apapun, dan membohongi mereka berarti kami menyerahkan beberapa nyawa untuk mati sia-sia karena penyerangan kemarahan mereka.

Gerbang raksasa itu terbuka, dan aku tanpa sadar bergidik saat angin dingin berhembus pelan dari celah gerbang raksasa itu. Dan beberapa meter didepanku—juga empat orang berusia diatas 20 tahun yang datang kesini—aku bisa dengan jelas melihat beberapa orang berjubah serba hitam yang hampir menutupi seluruh tubuh termasuk wajah mereka.

Di sekitar mereka, tampak beberapa orang lain membawa tombak runcing—yang aku yakin adalah prajurit karena sedikit sulit membedakan mereka dari pakaiannya—dan berjalan mendahului mereka.

Tatapanku berputar kesekitar gerbang, dan bisa melihat jelas rantai besar yang pasti menghubungkan gerbang itu dengan knop pembukanya. Dan tembok setinggi kira-kira dua puluh meter itu pasti punya jebakan juga karena tak mungkin mereka membiarkan tembok kokoh itu berdiri begitu saja dan menerima serangan saat mungkin terjadi perang lagi.

Berlindung dibalik tembok kokoh itu pastilah sangat aman bagi nyawa kami—karena bangsa manusia adalah sasaran pertama penyerangan vampire manapun—dan aku tidak bisa membendung keinginanku untuk bisa membangun tembok sekokoh itu disekitar kota kecil kami dan melindungi nyawa kami yang seperti nya sudah tak dianggap berharga lagi oleh bangsa keji ini.

“Berapa jumlah semuanya?” aku sedikit terkesiap saat mendengar salah seorang dari sosok-sosok berjubah itu bicara.

Ini bukan pertama kalinya bagiku berhadapan dengan mereka setelah aku melalui sepuluh tahun tanpa dipilih. Dan aku terkejut bukan karena mereka punya suara yang indah, atau menakutkan, tapi karena mendengar suara mereka bisa menciptakan keadaan mencekam disekitar kami.

Sangat menyeramkan, seolah suara mereka saja sudah mampu membuat kami mati ditempat. Berlebihan memang, tapi itulah yang akan kami rasakan saat mendengar mereka bicara secara langsung.

“Empat puluh dua orang.” Hanbin, sahabatku yang sedari tadi berdiri disebelahku, menyahut.

Salah satu diantara sosok itu melangkah maju, dan langkahnya berhasil membuat tumbuhan yang Ia injak—termasuk tumbuhan lain disekitarnya—berubah layu, kering, dan mati.

Apa yang mungkin terjadi saat mereka melangkah berkeliling kota kecil kami?

“Kau, gadis manusia yang berdiri disudut sana,”

Aku tersentak saat Hanbin menyenggolku.

“Apa?” ucapku pada Hanbin.

“Dia memanggilmu.”

Aku menyernyit.

“Aku?”

“Apa pendengaranmu tidak cukup baik untuk mendengar ucapanku?” aku menoleh, dan beberapa sosok itu sekarang sudah menyarangkan pandangannya padaku.

Aku akhirnya menghembuskan nafas panjang dan melangkah maju mendekati mereka.

“Menghela nafas, salah satu cara manusia seperti kalian untuk mengeluh.” ucap sosok itu membuatku mengalihkan pandanganku darinya.

“Dan mengalihkan pandangan karena tidak suka pada sikap yang baru saja diterimanya.”

Aku menatap sosok itu, dan menunduk.

“Maafkan aku…” ucapku pelan, tahu jika semakin aku membuat masalah dengan mereka, aku hanya akan merugikan kelompok kecil kami.

“Hanya maaf?”

Aku memejamkan mataku sejenak, aku membenci saat ketika aku sama sekali tidak berkutik untuk melawan seperti ini. Bertarung dengan pedang jauh lebih baik daripada terjebak dalam perang kata-kata seperti ini.

“Maaf atas sikapku. Jika kau tidak memaafkannya, aku siap menerima hukuman apapun.” ucapku akhirnya, cara inilah satu-satunya yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa kami.

Sosok itu tidak menyahut. Dan malah melangkah mendekatiku, membuatku—yang masih tertunduk—bisa melihat dengan jelas bagaimana tanaman disekitarku berangsur-angsur layu dan mati.

Mereka bahkan sudah membunuh banyak makhluk hidup hanya dengan melangkah seperti ini.

“Emosi dari gadis belia sepertimu sangat menarik…” aku berjengit kaget saat sadar bahwa sosok itu sudah berdiri tepat dihadapanku, dan tanpa mempedulikan ketakutan dan keterkejutanku, ia mendekatkan wajahnya ke arah leherku, membuat nafasku memburu.

“Darahmu… mungkin bisa menebus kesalahanmu.”

Aku tersentak.

Tidak. Hukuman apapun asal jangan yang satu ini. Aku menyernyit membayangkan taring vampire menembus leherku, menghisap darahku sampai aku lemas dan berpikir bahwa aku mungkin akan mati, lalu mereka menghisap racun vampire mereka sehingga aku hanya akan kembali ke kota kecilku sebagai manusia kekurangan darah.

Dan butuh waktu berminggu-minggu bagi kami untuk pulih dan bisa menjalani hidup dengan normal. Trauma. Ketakutan. Hal itu akan terus memburu kami jika mereka sudah melakukannya.

“Kau tidak akan membantah lagi bukan?” ucapnya membuatku tersadar dari pemikiranku.

“Tidak,” apa lagi yang bisa aku katakan?

“Berbaliklah. Dan bawakan manusia-manusia yang kupilih kesini.”

Aku bisa bernafas normal saat Ia melangkah menjauh. Aku berbalik dan tatapanku bertemu dengan Hanbin, ia tengah menatapku penuh kekhawatiran, tapi aku tersenyum meyakinkannya.

Aku rasa aku akan baik-baik saja.

“Gadis berusia tujuh belas tahun dengan rambut hitam sebatas bahu dan berdiri di baris kiri.” aku segera menyarangkan tatapanku pada seorang gadis mungil yang berdiri di baris kiri, seperti yang Ia katakan.

Dan akhirnya aku hanya melakukan apa yang Ia suruh tanpa mengeluh apapun, aku tidak ingin hukuman lainnya. Hukuman yang akan membuatku sekarat ini sudah lebih dari cukup.

“Kau akan baik-baik saja, Chunhee-ah?” ucap Hanbin saat aku mengambil senjataku.

“Ya. Kembalilah dengan yang lainnya, aku akan baik-baik saja Hanbin-ah.”

“Tapi bagaimana jika kau tidak sanggup untuk berjalan kembali ke kota?”

“Kau meremehkanku?” ucapku berusaha bercanda dengannya.

Tapi tatapan Hanbin tidak menampakkan bahwa ia sedang bercanda denganku. Ia benar-benar mengkhawatirkanku.

“Lupakah kau siapa gadis yang bisa bertahan hidup setelah diserang dua ekor harimau?” ucapku akhirnya membuat Hanbin mengerjap cepat.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu di lumbung.” ucapnya sebelum melangkah menjauh bersama yang lainnya.

Aku menatap kepergian mereka dengan lega, tahun ini sudah berakhir. Dan kami masih punya tiga ratus enam puluh lima hari lagi sebelum mereka kembali membuat kami harus menyerahkan hidup sepuluh orang dan tak lagi bertemu dengan mereka.

Aku berbalik, dan tatapanku tertuju pada sepuluh orang yang sekarang berjalan dengan dihimpit oleh beberapa orang vampire bertubuh besar.

Kakiku melangkah ke arah gerbang, tak perlu perintah apapun bagiku untuk tahu bahwa aku juga ikut ke dalam sana, untuk pertama kalinya, dan hanya untuk menerima hukuman.

Salah seorang berjubah hitam—aku yakin ia prajurit—melangkah disebelahku. Membuatku sedikit berjengit kaget karena keberadaannya.

“Ikuti mereka. Pangeran sendiri yang akan memberikan hukumannya padamu.” ia berucap dingin, dan aku segera memandang kearah sosok yang tadi bicara padaku itu.

Dengan patuh aku melangkah cepat dan mengikuti mereka. Sejauh ini aku hanya mendengar dua orang vampire ini yang bicara.

Aku menghentikan pemikiranku saat tatapanku bersarang pada kemewahan bagian dalam istana ini. Aku hampir tidak sanggup berkedip. Tempat ini benar-benar sempurna.

Dan seperti dugaanku. Ada banyak perlindungan dibalik tembok raksasa itu. Dan dadaku terasa sejuk saat membayangkan beberapa gelintir bangsaku mempunyai perlindungan seperti ini. Kami mungkin bisa bertahan hidup untuk beberapa tahun ke depan.

Di sudut lain, terlihat kuda-kuda tanpa kaki, maksudku, aku hanya melihat badan mereka, dan goresan-goresan debu lembut dibawah tubuh mereka membuatku tidak bisa menemukan kaki mereka. Dan mereka mempunyai tanduk yang menyeramkan.

Sebuah taman kecil ada disudut istana, membuat istana menyeramkan ini tampak sedikit manusiawi. Bunga-bunga kecil dengan berbagai macam warna ada disana, bergerak lembut mengikuti arah angin yang berhembus, begitu cantik.

Aku memandang gedung raksasa di hadapanku. Entah berapa ratus meter tingginya. Istana ini bahkan terlihat sangat megah jika kulihat dari kota kecilku, dan melihatnya dalam jarak sedekat ini sanggup membuat jantungku melompat tidak karuan.

Entah berapa ratus atau bahkan ribu vampire yang ada ditempat ini, tapi tempat ini sungguh sempurna. Kami sekarang melangkah menaiki sebuah tangga, tangga panjang yang didesain berputar, dan saat aku sampai ditanah datar lagi, aku tercekat. Istana ini begitu luas dan besar.

Aku tidak tahu berapa kilometer jarak pandangku, yang jelas gedung megah ini masih berlanjut hingga tak terlihat dibalik bukit. Semegah inikah tempat tinggal monster yang tengah berusaha menghapuskan keberadaan kami?

“Ikut denganku.”

Sosok itu bicara padaku. Dan aku sadar jika sepuluh orang yang dipilih tadi sudah dibawa ke tempat lain. Sementara sekarang hanya ada aku dan sosok ini. Apa mereka yang bisa menghilang? Atau aku yang begitu sibuk memperhatikan tempat ini sampai tidak sadar jika mereka semua sudah pergi?

Aku melangkah mengikuti sosok itu. Dan kami masuk ke dalam sebuah ruangan besar, dengan tinggi beberapa puluh meter didalamnya, dan disetiap dindingnya merupakan lorong menuju ke setiap lantai.

Menakjubkan. Tempat ini begitu sempurna.

Aku tidak bisa berhenti mendesah kagum saat melihat desain interior tempat ini. Tapi aku masih tidak bisa melihat sosok-sosok vampire ini. Mereka semua mengenakan jubah yang sama. Dan menutupi wajah mereka.

Langkah ku terhenti saat sosok yang kuikuti—aku yakin Ia adalah pangeran pemimpin ditempat ini—berhenti didepan sebuah pintu. Pintu itu terbuka tanpa Ia sentuh sama sekali, dan hal itu membuatku mengerjap cepat.

Apa Ia bisa sihir?

“Masuk.” ia berucap

Aku melangkah pelan, dan saat aku masuk, pintu dibelakangku langsung tertutup. Membuatku sedikit terkejut.

“Kurasa kau sudah tahu apa yang akan terjadi pada manusia yang mendapatkan hukuman sepertimu sebelumnya bukan?”

Sosok itu berdiri membelakangiku, tapi ia sudah melepaskan jubah yang Ia kenakan.

“Y-Ya. Aku pernah meliha—”

Mulutku membeku seketika saat sosok itu berbalik. Aku sekarang bisa melihat wajahnya, caranya menatapku, dan hal itu membuatku benar-benar mematung. Tak sanggup untuk bahkan sekedar berkedip.

Ia menatapku dengan sepasang mata berwarna silvernya, tapi ia kemudian mengalihkan pandangannya, membuatku bisa melihat sosoknya dari sudut lain, dan sama seperti yang terjadi tadi, aku membeku.

“Ini pertama kalinya kau melihat vampire secara langsung?” tanyanya tidak dengan nada dingin yang tadi ua gunakan.

“Ya…”

Sekarang Ia menyarangkan tatapannya padaku.

“Dan bagaimana menurutmu?”

Mulutku terbuka, dan aku berusaha menemukan suaraku.

“Sangat sempurna…”

Sudut bibirnya terangkat sedikit, membuatku tak yakin untuk mengatakan bahwa Ia tersenyum.

“Tidak banyak manusia yang pernah melihat sosok asli kami.”

Aku mengalihkan pandanganku, tidak ingin terhanyut dan menginginkan untuk melihatnya lebih lama lagi. Dia monster Chunhee-ah, sadarlah.

“Bisa aku memberikan hukumanmu sekarang? Lepaskan semua senjata itu, aku tidak mau kau tiba-tiba menyerangku.”

Aku mengerjap cepat, dan tangan bodoh ini seolah tersihir untuk melakukan perintahnya. Terbukti dengan entah sejak kapan busur dan anak panahku sudah ada dilantai dan pedang ku sudah ada ditangannya.

“Pedang perak…” ia bergumam sambil menatap pedang itu

Tanganku terulur hendak merebut pedang itu saat Ia kemudian mengalihkan tangannya.

“Kau harus menerima hukumanmu dulu nona.” ucapnya.

Ia meletakkan pedang itu diatas tempat tidur lalu dalam hitungan detik ia sudah ada dihadapanku. Tanpa izin, ia mencengkram rahangku, memiringkan kepalaku dengan paksa.

Aku menyernyit saat merasakan hembusan nafasnya dileherku, membuatku merinding ketakutan.

“Darahmu pasti sangat manis…” ia berbisik, dan aku bisa merasakan sesuatu yang tajam menusuk leherku, taringnya, pasti.

Aku kembali merasakan sakit luar biasa disatu titik, mungkin ia tengah…

Sakit. Sungguh sakit. Aku mulai tidak bisa merasakan tungkaiku, lenganku…

Pandanganku mendadak buram… Rasa sakitnya…

Akh…

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

IRISH JAHAT YA? Iya kayaknya. Di saat semua fanfiksi chapterred belum selesai dan malah ada dua biji yang baru mulai, eh tetiba aja post chapter satu sebuah fanfiksi chapterred, di main cast gak diketahui siapa member EXO yang jadi main cast nya, gak juga ketauan ini cerita bakal jelas apa enggak.

Jadi begini kisahnya, fanfiksi ini udah beberapa bulan nganggur di dalem folder hina yang ada di laptop. Berhubung mau delete 100-an halaman itu sayang banget rasanya, lebih baik aku post kan? Jadi aku bisa semangat nyelesein ini cerita stuck yang karena main cast nya si anu jadi aku semangat. LAGI-LAGI FANTASY, RISH. READERS BOSEN. Terima kasih :’)

Maaf ya tanpa aba-aba (prologue ataupun teaser) aku sudah post, abisnya mau bikin teaser kok gak ada ide abnormal sama sekali… jadi langsung cus ke chapter satu aja. HAHAHAHAHAHAHAOHOKOHOKOHOKOHOK. Mumpung udah mau masuk musim semi dan udah mau say goodbye sama musim dingin jadi biar greget kupost aja deh, kasian kalo di delete kesannya aku menganak tirikan anak-anakku (re: fanfiksiku).

Dan maaf sekali ini ceritanya masih jaman fantasy-ku begitu liar dan tidak berpendidikan dan amat sangat teramat amat abnormal. Serius ini abnormal. Abnormal banget. Memalukan. Harga diriku tercabai-cabai rasanya tapi nekat juga aku post. GAPUNYA MALU KAN YA? Gapapa, kalo malu mulu kapan eksis?

EHEM BTW, bisa nebak siapa main castnya?

.

Show! Show! Show! Let’s come to my SHOW!

[ https://beepbeepbaby.wordpress.com/ ]

Sincerely, IRISH.

180 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #1 — IRISH`s Story”

  1. Kahttps://www.instagram.com/p/BedPrBll1gO/k irish… Aku ijin baca yaa, ceritanya seru bgt bikin gabisa move on haha, palagi genre nya fantasy… Kak irish mah kalo bikin slalu the best di hati aku wkwk, intinya smua karyamu gak pernah mengecawakan😘

    Fighting eon…!!

  2. Hiii!! I was bored so i decided to randomly search some fanfictions and i didnt know why did i end up being in here and im not regret it. I just want to say……… HOLY SHIT this is like one of the best ff ive ever read kaya anjir bener2 beda bangett dari story2 ff yg biasanya aku bacaa. Looking forward to the next chapter♥️♥️♥️.

    If u r reading this, may i know what is your instagram/twitter account? so that i can follow and get to know more abt you there. xo. my name is ica anywayss.

  3. Kak irishhh!!! Aku kngenn…..lama bangetttt gk keyemu sm kak irish. Kangen ff daebak nya kak irish….ini siapa yg jd pangerannya???

  4. Vampires invasion, menjajah kota Seoul? 1thn 1x minta tumbal 10 teenagers bwt jd their army & kemudian jd bangsa mrk! Ini exo formasi lngkp kah, ot12? Mmbr exo bangsa Vampir semua? Ga da yg manusia? Prnh bc komen di ff kamu yg laen ngbahas ff ini, spt’ny Baekhyun main cast disini. Itu pangeran Vampir yg emang dr awal ngancem Chunhee pas di dpn gerbang td kan? Kebayang exo di MV Mama pd pk jubah htm panjang cem para Death Eaters ja 🙂

    1. XD bahasa ‘tumbal’ ini entah kenapa bikin ngakak kak XD wkwkwk insya Allah engga ot12 karena aku sudah move on dari 3 mantan kak XD

  5. kak rish? Ijin baca ya. Ini ff bagus aku suka full of fantasy. entah kenapa kalo aku baca ff kak rish jadi dapet ide dan semangat buat ngelanjutin ff sederhanaku hehe.. Tapi bukan berarti aku plagiat ya kak.. Tapi lebih ke inspirasi. Kak irish you’re my inspiration.. Hehe

  6. Kak author i’m come back again to read your ff after reading kajima hahahah. I read this after finished with kajima. Good job kakak

  7. ff nya ceritanya keren nya parah aku bacanya sampe serius banget bingung harus komen apa lagi, ff nya mungkin emang agak ngebingungin siih cuma seruu penuh teka – teki, btw plisss main cast nya baekhyun…. dari tadi baca ini yang terus2 berputar2 dikepalaku cuma baekhyun/?

  8. Baru nemu ff kak irish yg ini, kayanya seru berhubung saya juga pecinta ff fantasy 😅
    Izin baca next chapter ya kak irish yg baik
    Semangat…!

  9. Maincastnya.. Baekhyuun juseyooo…. Waktu kamu deskripsikan warna matanya silver.. JEEENG!!! Langsung Baekhyun yg muncul di kacamataQ.. (aslinya sih mmg Baek yg selalu muncul di bayanganQ. Hahaahaa :D) Ayolaah… Baekhyun aja ya maincastnya… Udah langka nih author yg bikin Baek jd maincast. Genrenya fantasy terus jg gpp, aq ikhlas se ikhlas-ikhlasnya 😀 Soalnya siapa lagi yg bisa bikin FF abnormal kaya kamu.. Hihihi.. 😀 #justkidding

    Dan semoga FF yg lainnya gk terbengkalai ya… Fighting IRISH!!

    1. XD kenapa harus cabe kenapa? diriku ga kuat abis ngeliat dia di mv yang bareng kwill itu huhuhu XD
      mau gimanapun ff aku emang dasarnya abnormal semua XD

  10. Heloooo aku reader Baru nihh Kak. Ijin baca cerita buatanmu yaa.

    Kesan pertamanya keren banget.. Penuh teka-teki…
    Aku ping in banget Itu sehun hoho

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s