[EXOFFI FREELANCE] Who Are You? (Chapter 1)

Who Are You.jpg

Tittle :  Who Are You?

Author : BabyJae96

Genre : Romance, Time-Machine, Fantasy

Lenght  : Chapter

PG-15

Cast :

Xiumin a.k.a Kim Minseok

Jin (Lovelyz) a.k.a Park MyungEun

Dll

 

Disclaimer :

FF ini terinspirasi dari film ‘Secret’ sama MV Jin ‘Gone’ tapi alur ceritanya malah beda jauh sama filmnya  dan ini murni hasil khayalanku!

FF ini pernah aku post di blog pribadiku

babyjae96.wordpress.com


 

-Musim Semi, 2013-

Kim Minseok adalah murid pindahan dari Busan, ia mengikuti sang Ayah yang dipindah tugaskan ke Seoul. Tahun ini, ia berada di kelas akhir sekolah menengah atas dan usianya sudah menginjak 19 tahun. Minseok sendiri tipe pria pendiam dan suka menyendiri, ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain piano.. Ya, sejak kecil piano adalah satu-satunya teman baginya.. Menurut Ayahnya, Sang Ibu meninggal ketika usianya masih 5 tahun. Sebenarnya Minseok tak mengingat kenangan bersama Ibunya hanya saja ada satu hal yang ia ingat yaitu ketika Ibunya sering memainkan piano bersamanya saat itu, maka dari itu Minseok sangat menyukai piano karna dengan itu ia akan merasa bahwa Ibunya tengah bersama dirinya dan akan mengobati rasa rindunya akan sang Ibu.

Kini, Minseok tengah berkeliling disekitar sekolah diantar Suho yang merupakan ketua kelasnya. Suho terus berbicara mengenalkan setiap sudut sekolah dan ruangan-ruangan disana, Minseok hanya menganggapinya dengan anggukan atau jawaban ‘iya’ saja.. Sebenarnya Suho kesal karna dari tadi ia sudah berbicara lebar tapi hanya dibalas singkat, mungkin itu adalah karakter Minseok atau mungkin karna dia masih malu.

“Sebentar lagi bel masuk, kau mau ke kantin dulu?”

“Tidak”

“Baiklah. Kau sudah tau jalan ke kelas kan? Atau.. kau ingin aku antar ke kelas”

“Tidak. Kau pergi saja! Aku masih ingin disini” Setelah Minseok selesai menjawab, Suho segera berbalik menuju kantin.. jika diingat nya jawaban Minseok tadi merupakan kalimat panjang pertama yang Minseok ucapkan padanya. Siswa baru itu benar-benar pendiam.

 

Minseok berjalan kecil di bagian samping sekolah hingga kakinya terus melangkah menuju bagian belakang sekolah yang sepi, di bagian belakang ini hanya ada beberapa pohon rindang dengan halaman kosong disekitarnya. Seram, itulah yang Minseok rasakan ketika menginjakan kaki disana, mungkin karna itu tempat ini sepi dan Suho juga tadi menyebut bahwa bagian belakang sekolah memang jarang di datangi para murid karna rumornya disini ada hantu.

Hantu? Minseok tak takut mengenai hal itu tapi…

Suara apa itu?

Bukankah itu suara piano?

Niat Minseok untuk kembali ke bagian depan sekolah gagal setelah mendengar suara alunan piano.Apa benar-benar itu hantu? Tapi… mana mungkin hantu bisa bermain piano terlebih nada itu…

Nada itu….

Nada yang sama dengan nada yang slalu aku dengar ketika kecil

Itu…

Nada yang Ibuku mainkan..

 

Dia semakin melangkah mendekati sumber suara yang berada di gudang bawah bagunan sekolah, ia menuruni anak tangga menuju gudang itu dan suara alunan piano itu semakin terdengar jelas.

Tidak mungkin…

Itu nada buatan Ibuku..

mana mungkin ada seseorang yang memainkannya..

Itu mustahil..

Perlahan, dia semakin mendekat hingga kini tengah memegang kenop pintu gudang yang memang tak terkunci. Rasa penasarannya benar-benar membuatnya masuk kedalam gudang itu, ia melihat ada seorang siswi tengah memunggunginya dan siswi itu sedang memainkan piano.

Prang!!!

Sialnya, Minseok malah tak sengaja menendang kaleng kosong dibawah sana sehingga menimbulkan bunyi yang tentu saja didengar siswi itu, sehingga dia menghentikan kegiatannya dan berbalik menatap Minseok yang juga sama terkejutnya disana.

“Siapa kau?” Tanya keduanya bersamaan. Siswi itu berdiri dari tempatnya “Kau mau memakai tempat ini?”

Minseok diam ditempatnya, ia menatap siswi itu dari atas sampai bawah. Tidak! Siswi itu bukan hantu, kedua kakinya menginjak tanah dan dia terlalu nyata untuk dikatakan hantu.

“Apa kau menganggap ku hantu?” Siswi itu menyadari tatapan Minseok yang seperti tengah memastikan dirinya bahwa ia manusia atau bukan “Aku sama seperti mu, aku bukan hantu”

“Ah.. Itu…Aku…” Minseok mengaruk-aruk kepalanya yang tak gatal, entahlah mulutnya terasa kaku begitu saja. Pertanyaan yang tadi sudah ada dikepalanya untuk gadis itu tiba-tiba hilang begitu saja dari ingatannya.

 

Tereretreret…Tereretreret…

 

“Oh, Itu bel masuk! Kau harus masuk kelas!” Ucap Siswi itu masih berdiri disana pada Minseok yang masih terlihat bingung.

“Benarm aku harus pergi” Minseok segera membalikan badannya dan berjalan cepat menuju pintu dan keluar dari sana. Tapi… Tiba-tiba! Dia masuk kembali ke dalam sana “Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, Sepulang sekolah.. Aku menunggu mu disini!” Siswi itu hanya memandang bingung pada Minseok yang sudah menutup pintu gudang dan pergi dari sana.

“Menunggu..” Dia tersenyum kecil mengingat ucapan siswa yang baru ia lihat tadi. Ini pertama kalinya ada seorang pria yang berbicara seperti itu padanya..

 

Siswi itu terus saja mondar-mandir di dalam gudang itu, ia tak bisa berhenti mengalihkan kedua matanya melihat kearah jendela maupun pintu dengan harap siswa itu akan datang segera. Ya, siswi bernama Park Myung Eun itu menunggu Minseok padahal ini sudah beberapa menit sejak bel pulang. Apa dia lupa? Mana mungkin… Dia kan yang bilang untuk menunggunya disini?

Myung Eun akhirnya memilih untuk duduk di salah satu bangku tak jauh dari pintu gudang karna kedua kakinya sudah terasa pegal berdiri terlalu lama menunggu pria yang sama sekali ia tak kenal itu.

“Maaf, Aku telat!” Suara Minseok yang terdengar tak jelas itu langsung membuat Myung Eun berdiri dari bangku itu. Minseok masuk kedalam dan langsung meminta maaf kembali, ia juga menjelaskan alasannya terlambat karna ia harus mencatat semua tugas yang harus ia kerjakan nantinya karna ia banyak tertinggal pelajaran.

“Aku sibuk, jadi katakan apa yang ingin kau tanyakan?”. Minseok langsung diam karna bingung harus bertanya dari mana, apa ia harus bertanya langsung saja “Itu…..”

“Katakan saja!”

“Permainan piano mu… “ Minseok ragu haruskah ia bertanya yang sebenarnya tapi mungkin pertanyaannya nanti sedikit aneh “Dari mana kau mengetahui nada yang kau mainkan tadi?”

“Mwo?”

“Maksudku… Nada itu, apa kau membuatnya sendiri?”

Myung Eun mengganguk yakin “Tentu saja, aku sudah memainkan nada itu sejak lama..”

“Apa kau yakin?”

“Haruskah aku menunjukan buktinya”

“Apa?” Balas Minseok, ia sadar pembicaraan mereka sudah terlalu jauh dan ia tak enak untuk bertanya lagi.. mungkin saja memang ada kesamaan diantara nada itu lagipula nada yang dibuat Ibunya itu mudah jadi..

“Mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Myung Eun membuat lamunan Minseok hilang “Apa…”

“Bukan apa-apa. Lupakan saja! Aku pergi” Minseok langsung berbalik pergi dari sana, tanpa ragu sama sekali dia keluar dari dalam gudang itu dan melupakan untuk bertanya lebih jauh. Mungkin ini hanya kebetulaan saja.

Myung Eun masih diam disana, menatap pintu gudang dimana baru saja Minseok keluar dari sana. Apa dia menyuruhnya menunggu hanya  untuk bertanya seperti? Itu saja? Tapi, mengapa dia seperti itu? Apa yang salah dengan permainan piano ku?

Dia masih belum mengetahui siapa nama siswa tadi, hanya saja… wajah siswa itu tidak asing baginya, walaupun tak begitu yakin tapi siswa tadi mirip dengan seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang ia sayangi. Memang terdengar tak mungkin, tapi.. mengapa tidak? Karna sekarang dia berada di tahun 2013 tahun dimana anak itu sudah menginjak remaja.

 

 

Minseok masuk kedalam rumah dan langsung disambut oleh Ayahnya yang tengah menyiapkan makan malam untuk mereka. Mungkin karna Sang Ayah baru dipindahkan jadi beliau belum sibuk bekerja sebagai polisi dan masih bisa menyiapkan makan malam.

“Kau sudah pulang? Bagaimana hari pertama mu sekolah? Apa menyenangkan?”

“Biasa saja” Minseok menaruh tas nya di sofa ruang tengah dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin.

“Cobalah untuk berteman dengan mereka, pasti akan menyenangkan terlebih kau masih muda”

“Aku tidak berpikir seperti itu” Balasnya sembari meneguk air dari botol yang baru diambilnya dari dalam kulkas, ia duduk di salah satu kursi meja makan. Sang Ayah ikut duduk di depannya setelah menyiapkan semua hidangan makan malam mereka diatas.

“Kau harus menikmati masa mudamu sebelum berakhir, apalagi sekarang kau berada di kelas tiga” Ucap Ayah menaruh lauk diatas mangkuk nasi Minseok “Setidaknya cobalah berkencan dengan seseorang”

“Abeoji!”

“Aku tau. Makanlah!” Ayah tersenyum melihat putranya itu. Miseok sendiri tumbuh mandiri sejak 10 tahun yang lalu, karna kesibukan Ayahnya jadi dia sudah pintar mengurus dirinya sendiri tapi satu kelemahannya yaitu sifat dinginnya.. mungkin itu karna kurangnya sentuhan kasih sayang seorang Ibu dan juga karna kejadian 10 tahun lalu saat ingatannya hilang, tapi itu yang terbaik bagi Minseok jika ingatannya tak hilang mungkin hidupnya akan diliputi penyesalan.

Minseok langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang kamarnya setelah membersihkan dirinya, ia menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan ucapan Ayahnya tadi untuk berteman. Sejak dulu, ia tak memiliki teman.. ia tak memiliki seseorang yang dekat dengannya dan bisa saling bercerita satu sama lain. Entahlah, Hanya saja MinSeok lebih menyukai sendiri.

10 tahun yang lalu ia pernah tinggal di rumah ini sebelum Ayahnya dipindah tugaskan Busan, rumah dimana kenangan dirinya dan Ibu muncul. Minseok sendiri tak begitu mengingatnya, kecelakaan 10 tahun yang lalu memang benar-benar menghilangkan semua ingatannya. Usianya saat itu masih 9 tahun dan saat itu ia masih duduk disekolah dasar, ia sudah berkali-kali mencoba mengingat kenangannya yang hilang tapi itu malah akan membuat kepalanya semakin sakit.

Minseok teringat dengan gadis  tadi, gadis yang memainkan nada yang sama dengan Ibunya. Dia langsung beranjang dari atas ranjangnya dan berjalan keluar menuju ruang tengah, dimana piano tua milik Ibunya itu berada disana.

 

piano kayu itu masih sama seperti 10 tahun yang lalu, karna sudah sedikit rapuh jadi piano itu tak ikut dibawanya ke Busan dan disimpan disini. Rumahnya ini disewakan bersama beberapa barang didalamnya saat ia dan Ayahnya pindah ke Busan dan sepertinya penyewanya itu tak menyukai atau tak tertarik dengan piano tua ini jadi kondisininya masih sama hanya saja dengan tumpukan debu masih berada di sela-sela kecil bagian piano itu kecuali bagian keyboard yang bersih karna tertutup.

Minseok duduk di bangku kayu yang sama tua nya dengan piano itu, ia berada didepan piano tersebut dan bersiap memainkannya mulai dari nada-nada sederhana.. Suara yang dikeluarkan piano itu berbeda karna mungkin sudah termakan jaman berbeda jauh dengan piano miliknya yang berada didalam kamar yang jauh lebih modern dan suara yang dihasilkan pun lebih nyaring. Minseok semakin leluasa memainkan nada tersebut karna Sang Ayah sedang pergi bertugas setelah mendapat panggilan yang mungkin Ayahnya itu akan menangkap penjahat lagi.

Jemari-jemarinya sangat lentur menekan setiap keyboard sehingga menghasilkan nada-nada yang indah. Itu adalah nada yang sering ia mainkan bersama Ibunya, nada yang juga dimainkan gadis tadi di gudang sekolahnya. Tidak.. Minseok sadar, bahwa permainan gadis itu sama persis dengan nada milik Ibunya, pemikirannya tadi yang beranggap itu hanya kebetulan saja salah, mana mungkin kebetulan semirip ini,kan?

Krek…

“Apa itu?”

Suara itu berasal dari bagian dalam piano. Ya, harusnya Minseok tak memainkan piano itu lagi karna piano itu sudah tua dan bisa saja rusak kapanpun. Minseok berdiri dari tempatnya dan mengecek ke bagian belakang piano itu dimana sumber kerusakan itu berasal, ia sendiri tak mengetahui bagaimana cara memperbaiki jadi ia hanya melihatnya saja dan membiarkan itu hingga sesuatu di bagian samping piano tersebut menangkap kedua matanya.. Itu..

Minseok berjongkok lalu bertumpu pada kedua lututnya melihat sesuatu itu, itu adalah sebuah tulisan. Tulisan dalam huruf hangul itu tertulis namanya Kim Min Seok dan nama seseorang lainnya yaitu Park Myung Eun. Ya, itu adalah nama Ibu Min Seok, dimana di antara nama kedua nya itu ada bentuk hati yang menunjukan rasa cinta dan kasih sayang. Minseok memegang tulisan itu dan sedikit membersihkan debu di sana, ia tersenyum tipis melihat itu untuk pertama kalinya.. Ia sendiri tak ingat, apa dia yang menulisnya atau Sang Ibu.

“Omma, Aku merindukanmu”

 

~ To Be Continued..

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Who Are You? (Chapter 1)”

  1. Apa cewe itu arwah ibunya? Hiiiiii spekulasi aja siii. Abisan tadi cewenya bilang ga asing sama muka umin. Dan ngerasa mungkin remaja yg dikenalnya itu tahun dimana sudah menginjak remaja? Atau ibunya punya kekuatan? Ah mollaaaaaaaaa hehehe
    Keep writting~
    Ditunggu next chapnyaahhh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s