[EXOFFI FREELANCE] Reset (Chapter 3)

RESET part 3

Reset (Chapter 3)

Cast :

Choi Hyunsoo (OC) || Oh Sehun || Do Kyungsoo|| Song Inha (OC) || Park Chanyeol || Kim Joonmyeon aka Kim Suho || Other

Genre : Romance, Friendship, Timeslip, School Life, Medical

Type / Length : Countinue

Rating : 15

Author : Viehyun

Disclaimer : I only own the plot and story, do not take it out without permission, All cast is have god. This story 100% my imagination. No bashing.

Viehyun note: Hallo author kembali, maaf chapter ini lama, minggu kemarin author lupa kirim, jadi Insyaallah minggu ini 2 chapter.buat yang penasaran author dokter atau bukan tunggu part selanjutnya hehe *reader : siapa yang peduli.

Warning banyak typo bertebaran. Heppy reading 😁

“Apa yang ada di depan mata, mungkin hanya tipu daya.”

~ Fact ~

Seorang pria berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sebelah tangannya memegang ponsel yang ia tempelkan ke telinga kanannya. Sampai ia menghentikan langkahnya di depan pintu lift yang masih tertutup. Ia terus berbicara pada orang yang menghubunginya itu dan sesekali tawa terdengar darinya. Membuat Choi Hyunsoo yang berdiri disampingnya sekilas memperhatikannya.

“Aku sudah sampai, sebentar lagi aku kesana.” Kata pria itu sumeringah. “Baiklah, aku juga sangat rindu padamu.” Lanjutnya.

Hyunsoo menatap pria itu dan tersenyum, ia bisa merasakan suasana berbunga-bunga dari pria yang tidak dikenalnya itu.

“Tenang saja semuanya sudah ku bawa, apa kau lupa semua yang kau suruh pasti akan kulakukan.” Pria itu terus berbicara tanpa peduli dengan orang-orang didepan pintu lift yang kini menatapnya dengan tersenyum geli.

“Mm.. lukaku sudah membaik, dan berkat kau masalahnya cepat selesai. Polisi juga tidak banyak menuntut.” Ucap pria itu, membuat Hyunsoo kembali meliriknya dan memperhatikan perban yang masih menempel di lengan kanan pria itu.

“Oke, oke.” Lanjut pria itu menutup sambungan telepon tepat saat pintu lift terbuka.

Hyunsoo melirik jam tangannya dan sesekali menghelas napas, suasana lift yang cukup sesak membuatnya sedikit terganggu. Hyunsoo mengalihkan pandangannya dan entah mengapa ia kini malah memperhatikan pria yang sibuk menelepon tadi. Rasanya wajah pria itu tidak asing baginya. Tiba-tiba suara ponselnya mengejutkannya, ternyata Sehun yang menelepon.

“Ada apa Sehun-ssi?” Hyunsoo kemudian menganggukkan kepalanya “Baiklah akan kubelikan saat menuju ruanganmu.” Lanjut Hyunsoo setelah mendengar permintaan Sehun untuk membawakannya kopi.

Tepat setelah Hyunsoo berkata seperti itu, terdengar bunyi berdenting dan pintu lift terbuka. Hyunsoo melangkah keluar dari lift, ia memasukan ponselnya ke saku. Kemudian melirik orang yang ikut keluar lift bersamaan dengannya. Pria itu, pria yang sibuk menelepon kekasihnya tadi. Hyunsoo tersenyum ketika tatapan keduanya bertemu, begitupun dengan pria itu. ia tersenyum kemudian melangkah pergi berlawanan arah dengan Hyunsoo.

Hyunsoo berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Setelah urusannya dengan Sehun selesai ia bermaksud untuk kembali ke bangsal dan memeriksa pasien, namun perhetiannya teralihkan pada sosok Song Inha diujung koridor yang bersama dengan seseorang. Gadis itu menyipitkan matanya, berusaha melihat sosok pria yang berdiri dihadapan Inha. “siapa itu?” kata Hyunsoo karna matanya tak kunjung bisa fokus.

Hyunsoo memutuskan untuk mendekat dan menyapa mereka.

“Sayang, terimakasih kau sudah membantuku.” Ucap pria itu sambil mengelus pipi Song Inha penuh sayang.

“Ini belum apa-apa, lagi pula orang tua Kyungsoo sudah sangat percaya padaku jadi jika hanya untuk melepaskanmu dari polisi itu hal mudah.” Song Inha membalas elusan pria itu.

Tiba-tiba ponsel Hyunsoo bergetar membuatnya menghentikan langkah mendekati dua orang itu.

“Hallo, perawat Park. Ada apa ?” Hyunsoo terdiam mencerna apa yang dikatakan perawat Park.

“Baik, aku akan kesana secepatnya.” Ucap Hyunsoo mengakhiri pembicaraan.

Gadis itu mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan begitu terkejutnya ia saat melihat ekspresi Song Inha saat ini. Song Inha malah memeluk pria dihadapannya dengan ekspresi yang sangat bahagia. Ekspresi yang seharusnya tidak ditunjukan oleh tunangan Kyungsoo. Karna Kyungsoo sedang kritis saat ini. Dan itu adalah kabar yang baru saja di terima Hyunsoo.

“Song Inha-ssi.” Ucap Hyunsoo membuat gadis itu sedikit terperanjat dan melepaskan pelukannya pada pria yang tak dikenal Hyunsoo itu.

“O..o..Choi Hyunsoo-ssi. Ada apa?” Inha terlihat sangat terkejut saat ini dan hal itu membuat Hyunsoo mengerutkan keningnya.

“Kenapa kau disini, bukankah Kyungsoo akan dioprasi.” Ucap Inha karna Hyunsoo tidak kunjung bicara.

Hyunsoo membelalakkan matanya, ia menatap dua orang itu bergantian. Saat ini ia berusaha mengingkari situasi yang baru dimengertinya.

Benar pria itu, perasaannya memang tidak salah, pria itu memang tidak asing. Bukankah ia mantan kekasih Inha sekaligus cinta pertamanya di SMA dulu. Park Chanyeol.

“Ada apa?” Inha berusaha mengartikan ekspresi Hyunsoo saat ini.

Hyunsoo meliriknya, lalu tersenyum samar. “Ngomong-ngomong, kalian masih serasi seperti dulu.”

“Apa maksudmu?”

Hyunsoo mengangkat bahu. “Siapa yang tahu.” Ujarnya sebelum berjalan meninggalkan dua orang itu. Hyunsoo mulai berlari saat melewati belokan pertama lorong rumah sakit. matanya terlihat berkaca-kaca.

“Song Inha, lihat saja kau.” Gumam Hyunsoo di sela larinya menuju ruang oprasi.

>0<

Choi Hyunsoo sedang berada di kantor Oh Sehun. Ia memegang catatan medis Kyungsoo.

“Ayolah, semuanya kan baru prasangkamu saja.” Kata Sehun sambil tersenyum.

Choi Hyunsoo hanya terdiam kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak aku nyakin mereka yang membuat Kyungsoo seperti ini.”

“Apa kau sudah mempunyai bukti?” tanya Sehun sambil menatap Hyunsoo.

“Hyunsoo-ssi, kalau begitu kau harus mencari bukti yang kuat, karena keluarga Kyungsoo dan Kyungsoo sendiri tidak mungkin percaya begitu saja pada ceritamu.” Sahut Oh Sehun. Ia meraih catatan medis Kyungsoo.

“Kalau kau memintaku untuk menjaga Kyungsoo, maka aku akan menjaganya. Tapi kau jangan seperti ini.”

Hyunsoo mengangkat kepalanya dan menatap Sehun.

Oh Sehun berkata pelan seperti berbisik. “kau terlihat sangat kacau saat ini.” Sehun tersenyum. “ Istirahatlah dulu, dua jam lagi kita ada oprasi.” Lanjutnya.

Hyunsoo berusaha menenangkan diri dan mengumpulkan keberaniannya. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang diam-diam. Ia tahu masalah yang diketahuinya ini bukan masalah kecil. Tapi yang membuat Hyunsoo tidak habis pikir adalah apa alasan Song Inha melakukan ini pada Kyungsoo.

“Ngomong-ngomong, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Sehun

Hyunsoo mengalihkan pandangannya kemudian menatap Sehun. “Tentang apa?” katanya

“Apa Do Kyungsoo cinta pertamamu?” tanya Sehun tanpa basa-basi.

Hyunsoo terdiam lalu tersenyum sinis. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya merasa kau sangat peduli padanya dan kau sangat sensitif tentang hubungannya dengan Song Inha.” Sehun menjelaskan dan berusaha mengartikan ekspresi Hyunsoo saat ini. Dari semula yang sinis menjadi sendu.

“Apa maksudmu, aku hanya peduli karena aku tahu saat ini Do Kyungsoo sedang dijahati.”

“Tapi tatapanmu padanya berbeda, apa ini masalah yang belum kau selesaikan dengannya. Bahwa kau menyukainya dan Do Kyungsoo belum tahu itu.”

Hyunsoo diam, ia kini menunduk memandang lantai ruangan Sehun. Cukup lama ia melakukan itu. sampai akhirnya dia menghela napas dan menatap kembali Sehun.

“Apa terlihat sejelas itu dimatamu?” tanyanya.

Sehun mengangguk

“Tapi kenapa dulu dia tidak menyadarinya.” Kata Hyunsoo, kemudian menunjukan senyum miris.

“Aku akui dulu itu memang salahku, terkadang aku mengutuk diriku karena tidak bisa mengatakan perasaan ini, tapi mengingat sikapnya padaku dulu aku mulai kesal kembali. Mengapa ia harus memperlakukan aku seperti itu?, hingga membuatku salah paham. Sedangkan dia sebenarnya mencintai Song Inha dan bahkan bahagia dengannya dalam waktu yang lama, mengetahui itu semua membuatku kesal dan malah melampiaskannya dengan membenci Do Kyungsoo hanya karena dia tidak membalas cintaku yang bahkan ia tidak tahu…..”

Hyunsoo menghentikan kalimatnya ia terlihat menahan air matanya.

“Tapi mengetahui keadaannya saat ini, malah membuatku frustasi. Mungkin jika ia benar-benar bahagia itu akan lebih mudah bagiku untuk membencinya seperti dulu.” Kini isak tangis samar terdengar, air matanya terlihat mengalir.

Melihat itu membuat Sehun merasa bersalah karena ternyata ia mengungkin masalah yang menancap sangat dalam dihati Choi Hyunsoo.

“Aku…aku harus bagaimana sekarang? aku tidak bisa membencinya lagi karena ternyata dia lebih menyedihkan dari ku.” Kata Hyunsoo.

Sehun beranjak dari duduk dan menghampiri Hyunsoo. Tangannya ingin sekali mengelus pundak Hyunsoo namun entah mengapa ada keraguan dihatinya.

“Tidak apa-apa. Kau tidak bersalah disini.” Ujar Sehun berusaha menenangkan tapi malah membuat tangis Hyunsoo menjadi-jadi.

Sehun terlihat bingung, tanpa sadar pria itu malah memeluk Hyunsoo. “Cintamu padanya sangatlah tulus. Aku bisa merasakan itu.” bisiknya dengan mengelus punggung Hyunsoo.

Tidak ada jawaban dari Hyunsoo, gadis itu terus menangis dan semakin dalam masuk dipelukan Sehun.

Cukup lama Hyunsoo menangis, hingga air matanya sedikit berbekas di kemeja Sehun. Kemudian Oh Sehun tersenyum dan mengelus kepala Hyunsoo ketika gadis itu melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku.” Kata Hyunsoo yang membuat Sehun menggelangkan kepalanya.

“Tidak ada yang salah disini.” Ucapnya.

>0<

Hyunsoo berlari menghampiri pasien trauma yang baru sampai di ruang UGD.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyunsoo pada petugas yang membawa pasien tersebut.

“Tiba-tiba ia sesak nafas dan mengeluh nyeri di jantungnya.” Jelas petugas paramedik.

“Bagaimana tanda vitalnya?”

“Tekanan darah 140/90, denyut 90.” Ujar perawat yang menangani.

“Kemungkinan pasien menderita angina (kejang jantung).” Jelas Hyunsoo setelah memeriksa kondisi pasien kemudian ia mengalihkan pandangannya pada anggota keluarga pasien “Apa pasien selama 24 jam terakhir meminum obat, terutama obat viagra?” lanjutnya.

“Tidak, ayah tidak minum obat apapun.” Jawab seorang wanita yang merupakan istri pasien.

“Kalau begitu siapkan nitroglycerin.” Pinta Hyunsoo pada perawat. Hyunsoo kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada istri pasien. “Semuanya akan baik-baik saja setelah obat diberikan, jadi nyonya jangan khawatir.” Lanjutnya dengan tersenyum.

“Oo…., kau sudah ahli sekarang.” Puji Sehun saat melihat apa yang baru dilakukan Hyunsoo.

“Tentu saja.” Jawabnya bangga.

“Ah, apa dokter Goo kerja hari ini?” tanya Hyunsoo tiba-tiba pada Sehun.

“Ada apa memangnya?” jawab Sehun balik bertanya.

Hyunsoo menghela napas. “Apa Dokter Goo ada hari ini?” katanya sedikit kesal.

“Aku melihatnya di bangsal 15 tadi.” Kata Sehun,

Kemudian tanpa sepatah kata pun Hyunsoo segera pergi keluar dari ruangan UGD dan meninggalkan Sehun yang masih tidak mengerti.

“Terimakasih Dokter Goo.” Hyunsoo membungkukan tubuhnya sekilas pada seniornya itu. ia memandang kartu nama yang ia pegang. Kartu nama seorang detektif.

Hyunsoo menekan tombol yang ditampilkan dilayar ponselnya sesuai dengan nomor yang tertera di kartu nama. Selanjutnya ia menempelkan ponselnya di telinga kanan, menanti orang yang diteleponnya menjawab.

“Hallo, apa ini Detektif Kim?” tanya Hyunsoo saat teleponnya tersambung.

“Maaf menghubungi anda mendadak seperti ini, tapi ada yang ingin saya tanyakan….apa benar anda yang menangani kasus kecelakaan di perempatan Seocho-go?” tanyanya.

Kemudian Hyunsoo menganggukkan kepalanya.”Bisa kita bertemu nanti sore?” ujarnya.

“Oh, maaf nama saya Choi Hyunsoo, saya tahu nomor anda dari Dokter Goo Sojin.” Kata Hyunsoo karena Detektif Kim terlihat ragu menerima tawarannya.

Tapi tidak lama senyumnya mengembang “Baiklah, terimakasih Detektif Kim.”

Hyunsoo mengakhiri teleponnya dan menyimpan kembali ponselnya di saku. Sore nanti ia akan bertemu dengan Detektif Kim Suho. Ia akan mencoba mencari tahu semua tentang Song Inha dan Park Chanyeol, apa mereka benar-benar memiliki peran dalam kecelakaan Do Kyungsoo.

Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna di bahu jalan Hyunsoo melihat ke kiri dan ke kanan kemudian berjalan cepat menyebrangi jalan ke arah salah satu coffee shop yang berada di seberang jalan. Langit kota Seoul terlihat cerah seperti biasanya, tapi hal itu tidak disadari Hyunsoo saat ini karena ia terlalu sibuk memikirkan rencana untuk membongkar kedok Song Inha dan Park Chanyeol.

Hyunsoo mendorong pintu kaca coffee Shop, membuat lonceng diatasnya berbunyi nyaring, ia melangkah masuk ke dalam gedung dan menemukan orang yang telah memiliki janji dengannya.

Hyunsoo menunjukan senyumnya “maaf, membuat anda menunggu.” Katanya sambil duduk tepat di hadapan orang itu.

“Tidak, saya juga baru saja sampai.” ucap orang itu ramah.”Em.. sebenarnya apa yang ingin anda tanyakan tentang kasus kecelakaan di Seocho-go dan apa hubungannya dengan anda?”

“Saya dokter yang menangai korban sekaligus teman dari korban.” Hyunsoo menghembuskan napasnya. “Apa boleh saya tahu, kasusnya berakhir seperti apa?”

Detektif bernama Kim Suho itu terlihat berpikir sejenak “Pelakunya dibebaskan, karena permintaan dari pihak keluarga korban.” Katanya menjelaskan.

Hyunsoo mengerutkan keningnya, ia berpikir bagaimana mungkin pelaku yang membuat Do Kyungsoo terluka sangat parah bahkan hampir membuatnya mati seperti itu malah dibebaskan oleh keluarganya.

“Apa orang tua korban yang memintanya secara langsung?” tanya kembali Hyunsoo.

Detektif Kim mengangguk. Pria itu manatap Hyunsoo yang terlihat berpikir keras. “Sebenarnya apa yang ingin anda tahu?” tanyanya.

“Apa Detektif Kim tidak merasakan ada yang aneh pada kasus ini?” Hyunsoo menanti tanggapan Detektif itu, tapi ia malah terdiam.

“Jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, saya permisi.” Ucap detektif itu tiba-tiba kemudian beranjak dari duduknya, membuat Hyunsoo ikut berdiri dan menghalangi jalannya.

“Tunggu, saya hanya ingin tahu apa ada seorang gadis yang ikut dengan orang tua Kyungsoo saat pembatalan atau mungkin ada nama gadis yang disebut-sebut orang tuanya saat pembatalan?” tanya Hyunsoo bertubi-tubi.

Detektif Kim terdiam kemudian ia kembali duduk dikursinya. Sepertinya kecurigaan yang dirasakan Hyunsoo juga dirasakan oleh Detektif Kim Suho.

“Saat itu memang ada seorang gadis yang ikut saat pembatalan laporan dan tingkahnya sedikit aneh, ” Ujar Detektif Kim akhirnya.

Hyunsoo memandang laki-laki tinggi yang duduk dihadapannya. “Bisa anda lihat ini terlebih dahulu?”

Hyunsoo menyodorkan ponselnya, menunjukan sebuah Video. “ Ini dari CCTV rumah sakit yang saya ambil.”

Detektif Kim mengamati layar ponsel Hyunsoo dengan seksama,

“Apa dia gadisnya?” tanya Hyunsoo.

“Bukankah pria ini pelaku penabrakan? kenapa mereka berdua berpelukan seperti ini? Apa mungkin mereka saling kenal?” tanya Detektif Kim masih mengamati layar ponsel Hyunsoo yang memperlihatkan video Song Inha dan Park Chanyeol berpelukan di koridor rumah sakit waktu itu.

Hyunsoo mengangguk. “Mereka memang saling kenal, bahkan sudah tujuh tahun.” Jelas Hyunsoo yang membuat Detektif Kim mengalihkan pandangannya pada Hyunsoo.

Detektif Kim terlihat gusar ia menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak benar-benar gatal.

“Aku tahu ada yang mencurigakan tapi Detektif Lee tidak percaya.” Gumam Detektif Kim, namun gumaman itu masih terdengar Hyunsoo.

Hyunsoo mengangkat alisnya “Maksud Detektif Kim?”

“Sebenarnya ini tidak seharusnya saya bicarakan dengan anda, tapi saya rasa kita memiliki pemikiran yang sama tentang kasus ini.” kata Detektif Kim.

“Hari itu saat membatalkan laporan, orang tua Do Kyungsoo datang bersama sorang gadis, mereka terlihat terus melirik gadis itu saat melapor, seakan ingin memastikan apa yang mereka ucapkan sudah tepat. sepertinya mereka takut pada gadis itu.” Detektif Kim menghela nafas.

“Kalau boleh saya tahu alasan apa yang dipakai orang tua Do Kyungsoo untuk membatalkan laporan?”

“Mereka mengatakan itu hanya kecelakaan yang terjadi tanpa disengaja, dan mereka bilang pelakunya sudah bertanggung jawab dengan perbuatannya, sehingga tidak perlu dilakukan prose hukum lebih lanjut, setelah itu kasus segera ditutup, sehingga kecurigaanku tidak bisa kubuktikan” Lanjutnya.

“kenapa bisa semudah itu?” Hyunsoo terlihat tidak setuju.

“Begitulah hukum di negara kita, ketika Korban membatalkan laporan maka kasus dapat ditutup.” Jelas Detektif Kim.

“Apa kasus dapat dibuka kembali jika ada yang memintanya?”

“Bisa, tapi harus didukung dengan alasan yang kuat, sehingga bisa menyakinkan kepolisian.”

“Seperti apa alasan kuat itu?”

“Seperti adanya bukti atau saksi yang mengatakan bahwa ini bukan kecelakaan biasa, tapi suatu kejahatan.”

Hyunsoo mengerutkan keningnya “Kalau video CCTV yang tadi saya perlihatkan?”

“Itu masih belum kuat karena CCTV tadi belum mengarahkan mereka sebagai tersangka.”

“jika ada saksi?”

“itu mungkin bisa membuat mereka menjadi tersangka.”

Hyunsoo membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Amplop berisi data pribadi Song Inha dan Park Chanyeol yang ia dapat dari sekolahnya dulu.

“kalau begitu Detektif Kim harus selidiki mereka sekarang, terutama apa saja yang mereka lakukan selama tujuh tahun terakhir, mungkin akan ada jawaban dengan keganjilan ini, saat ini saya sangat bergantung pada Detektif Kim.” Pinta Hyunsoo.

Pria yang dipanggil Detektif Kim itu menatap Hyunsoo kemudian meraih amplop yang disodorkan padanya. “mungkin akan sedikit memakan waktu, tapi akan segera saya hubungi jika sudah ada informasi yang didapatkan.”

Hyunsoo tersenyum “terimakasih.” Katanya kemudian membungkukkan badannya saat Detektif Kim Suho berpamitan dan meninggalkan bangunan Coffee Shop.

Hyunsoo kembali terduduk. Memandangi cangkir kopinya yang hampir habis. Ia tidak sabar untuk mendapatkan petunjuk yang akan dibawa Detektif Kim Suho padanya nanti. Ia benar-benar ingin tahu apa alasan Song Inha dan Park Chanyeol melakukan ini semua. Dan apa yang membuat kedua orang tua Do Kyungsoo begitu takut pada Song Inha.

Hyunsoo bangkit dari duduknya setelah melihat jam tangannya. Jam menunjukan pukul 19.00 dan itu artinya dia harus segera kembali ke Rumah sakit.

Tanpa disadari Hyunsoo seorang pria mengamatinya dari jauh, pria itu memakai topi yang dipakai menutupi sebagian wajahnya. Pria itu terlihat tersenyum sinis saat Hyunsoo telah benar-benar meninggalkan gedung Coffee Shop.

“berani sekali kau akan menghancurkan rencanaku.” Ucapnya sinis.

>0<

Choi Hyunsoo duduk merenung di kantornya. Di meja terdapat beberapa laporan medis pasien yang dirawat olehnya. Ia telah memeriksa satu-persatu laporan itu, memastikan semua perkembangan yang terjadi pada pasiennya. Tapi yang membuatnya berpikir adalah isi dari amplop coklat yang berada bersama tumpukan laporan medis pasien. Amplop coklat yang diberikan Detektif Kim Suho padanya.

Setelah pertemuan mereka dua hari lalu, akhirnya Detektif Kim mengirimkan sesuatu padanya.

Choi Hyunsoo mengusap-usap dagu dan berpikir sambil memandangi foto yang dikirimkan Detektif Kim padanya. Foto sebuah keluarga yang tampak bahagia.

“Dokter Choi cepat, ada banyak sekali pasien!”

Suara perawat Park membuyarkan lamunannya. Hyunsoo menoleh dan segera beranjak dari duduknya kemudia mengikuti langkah perawat Park menuju UGD.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyunsoo pada perawat Park saat melihat kondisi UGD yang ramai dan di penuhi pasien serta petugas paramedik.

“Ada kecelakaan lalu lintas beruntun di jalan Yonggwang-gu.” Jelas perawat Park.

Hyunsoo mengelilingkan pandangannya dan menangkap Oh Sehun yang telah sibuk mengurusi pasien yang berdatangan. Kemudian pandangannya beralih pada paramedik yang baru saja sampai bersama pasien.

Hyunsoo menghampiri pasien itu.

“Tuan, apa tuan tahu tuan dimana sekarang?” tanya Hyunsoo pada pasien tersebut berusaha untuk memastikan kesadaran pasien.

“Rumah sakit.” Jawab pasien itu.

“Korban mengalami TA (Trauma Abdomen), tekanan darah 100/70 dan denyut nadi 85.” Ujar petugas paramedik saat menghampiri Hyunsoo.

Hyunsoo segera mengecek kepala dan perut pasien. “Segera lakukan X-Ray padanya.” Katanya pada perawat Park kemudian perawat Park langsung membawa pasien itu ke ruang X-Ray. Hyunsoo mengalihkan perhatiannya pada pasien lain yang belum ditangani.

“Korban tertimpa roda mobil.” Jelas petugas pada Hyunsoo.

Hyunsoo memeriksa perut korban “sepertinya mengalami TA dan dadanya juga terkena, cepat lakukan CT Scan dan bawa mesin USG.” Perintah Hyunsoo. “setelah CT scan segera bawa kembali padaku.” Katanya sebelum perawat pergi.

Tugas Hyunsoo belum selesai karena pasien terus berdatangan, kali ini ia menghampiri seorang remaja yang dibawa paramedik.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Hyunsoo.

“Tanda vitalnya stabil, tidak ada luka kecuali goresan.” Jelas petugas itu.

Hyunsoo tersenyum dan melirik pasien yang sepertinya berusia sekitar 13 tahun itu. “Sekarang kau sudah dirumah sakit jadi jangan takut.” Kata Hyunsoo yang menyadari kondisi pasien yang terlihat masih syok.

“Berikan selimut hangat padanya, usahakan suhu tubuhnya stabil.” Perintah Hyunsoo.

Hyunsoo kemudian beralih pada perawat Lee yang membawa hasil CT scan pasien yang mengalami TA tadi.

“Dokter Choi ini hasilnya.”

“Tidak ada luka parah di kepala dan dadanya.” Gumam Hyunsoo setelah melihat hasil CT scan, “Berikan mesin USG nya.” Pinta Hyunsoo. Kemudian ia segera memeriksa perut pasien.

“Ada penggumpalan darah di perut, pasti aorta di perutnya robek.” Ujar Hyunsoo. Ia mengalihkan pandangannya pada perawat Lee. “Segera siapkan ruang operasi, panggil juga tim anestesiologi dan sediakan kontong darah jenis O.” Perintah Hyunsoo.

Hyunsoo segera mencari Oh Sehun. Ia tahu dokter Intren sepertinya belum bisa memimpin operasi jadi ia harus meminta tolong pada Oh Sehun.

“Dokter Oh, ada pasien TA yang harus dioprasi sekarang.” Ujar Hyunsoo pada Oh Sehun.

Oh Sehun terlihat berpikir di sela pemeriksaannya pada pasien yang sedang ditanganinya. Ia kini memandang Hyunsoo kemudian memegang pundak juniornya itu dengan dua tangannya.

“Sepertinya ini sudah waktunya kau yang memimpin operasi sendiri.” Kata Sehun yang membuat mata Hyunsoo membulat.

Hyunsoo menganyunkan tangannya, tanda tidak setuju.”Aku belum siap, ini terlalu mendadak.” Katanya.

“Kau sudah sering menjadi asistenku, dan aku tahu sebenarnya kau sudah siap untuk memimpin operasi sendiri sekarang.” Sehun berusaha menyakinkan. Ia menatap lekat mata Hyunsoo yang terlihat cemas. “Aku nyakin pada kemampuanmu, dan kau juga harus nyakin pada kemampuanmu.” Pinta Sehun.

Hyunsoo terlihat berpikir, ia masih bingung harus bagaimana sekarang.

“Kau bisa Choi Hyunsoo, pasien sedang menunggumu sekarang.” Kata Sehun menyakinkan sekali lagi.

Hyunsoo menghembuskan napasnya lalu mengangguk “Baiklah.” Ujarnya yang membuat Sehun tersenyum padanya.

“Aku akan memimpin operasi ini, ini adalah operasi pertamaku jadi aku mohon bantuan kalian semua.” Ujar Hyunsoo pada semua dokter dan perawat yang membantunya.”Pasien harus kita selamatkan, kita harus membawa pasien kembali pada keluarganya dengan keadaan sehat.”lanjutnya.

“Pisau bedah.” Pinta Hyunsoo memulai operasi.

Operasi telah berjalan namun Choi Hyunsoo belum kunjung menemukan sumber pendarahan.

“Bagaimana ini dokter, pasien sudah kehilangan darah 1500cc.” Ujar Dokter Kim yang menjadi asisten Hyunsoo.

“Aku tidak bisa menemukan sumber pendarahannya.” Hyunsoo terlihat panik.

Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan berusaha menenangkan dirinya sehingga bisa kembali fokus.

Suction.” Pintanya

Tiba-tiba mesin EKG (Elektrokardiografi) berbunyi, Hyunsoo melirik mesin itu, terlihat irama detak jantung pasien menurun derastis.

Arrest (serangan Jantung), ini arrest Dokter.” Ujar Perawat Lee.

“Siapkan Defibrilator (mesin kejut jantung).” Perintah Hyunsoo. Sebelum mesin Defibrilator terisi ia melakukan CPR (Cardiopulmonary resuscitation) secara manual.

Hyunsoo terus mengkompresi dada pasien dengan kedua tangannya berusaha mengembalikan irama detak jantung pasien.

Defibrilator telah terisi.” Ujar Dokter Kim.

Hyunsoo kemudian mengambil alat itu. kini ia memegang paddles yang berbentuk seperti seterika di kedua tangannya, kemudian ia memberi gel elektrolit pada permukaan paddles dan menggosokkannya.

200 joule, all clear?” Hyunsoo memberi aba-aba.

Clear.” Jawab para perawat serempak, pertanda tidak ada seorangpun yang menempel ke pasien atau ranjang pasien.

Setelah itu Hyunsoo menempelkan paddles dibagian apex – sternum pasien. Membuat tubuh pasien kejang sejenak lalu kambali lunglai.

Hyunsoo melihat kembali mesin EKG tapi belum ada perubahan.

360 Joule, all clear?” katanya.

Clear.” Jawab para perawat kembali. Dan tubuh pasien dikejutkan untuk kedua kali

“Irama detak jantungnya telah kembali.” Ujar perawat Lee.

“Kembali bekerja, kita harus temukan sumber pendarahannya. Suction.” Hyunsoo meraih alat itu untuk menghisap darah yang menghalangi pandangannya.

“Gunakan kain kasa steril untuk menghentikan pendarahannya.” Pinta Hyunsoo pada Dokter Kim. Yang langsung memasukan beberapa kain kasa pada rongga perut pasien yang terbuka, berusaha mempercepat penyerapan darah.

“Apa ini?” gumam Hyunsoo saat melihat sesuatu di dalam perut pasien.

“Tolong aku.” Lanjutnya pada Dokter Kim untuk memperlebar lubang operasi dengan alat langenback sehingga ia bisa melihat isi perut pasien lebih jelas.

“Ketemu.” Ujarnya saat menemukan sumber pendarahan. “Berikan alat untuk menjahit.

Perawat Lee segera memasukan suture collagen (benang bedah yang dapat diabsorbsi jaringan tubuh) kedalam Surgical needles (jarum) dan menjepit jarum itu dengan Needle holders (mirip gunting) kemudian memberikannya pada Hyunsoo.

Hyunsoo segera menjahit bagian yang robek. “Cut.” Pintanya setelah jahitan selesai.

“Catether.”

“air”

Dengan cekatan Perawat Lee memberikan suntikan berisi air. kemudian Hyunsoo menyuntikannya kedalam catether.

“Bagaimana tanda vitalnya?” tanya Hyunsoo saat dirasanya oprasi telah selesai.

“Semuanya normal.” Jawab Dokter Kim.

“Kerja bagus, Dokter Kim tolong selesaikan sisanya.” Pinta Hyunsoo pada Dokter Kim untuk segera menutup luka pasien.

Dokter Kim menatap Hyunsoo “Dokter Choi sudah bekerja keras.” Ujarnya bangga.

“Terimakasih, semuanya karena kalian percaya padaku.” Kata Hyunsoo senang, karena operasi pertamanya telah sukses.

Hyunsoo melepas masker dan membuka baju oprasinya kemudian membuangnya ke tong sampah. Ia menghela napas, saat ini ia masih belum percaya ia bisa menyelamatkan pasien.

“Aku dengar, operasimu sukses.” Suara bernada rendah itu terdengar dari belakang Hyunsoo. Membuat gadis itu segera berbalik.

“Aku berhasil.” Ucap Hyunsoo pada Sehun yang berdiri dihadapannya.

Oh Sehun tersenyum lebar.”Kubilang juga apa.”

Hyunsoo ikut tersenyum dan selama dua atau tiga detik mereka saling menatap satu sama lain, tenggelam dalam pikiran masing-masing. kemudian Hyunsoo berdehem pelan, menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.

“Sekali lagi terimakasih sudah memberi kepercayaan padaku.” Katanya.

“Kau sudah mengalami banyak hal baru hari ini, bukan?” kata Sehun

Hyunsoo mengangguk.

“Sepertinya hutangmu padaku semakin banyak.”

Hyunsoo menatap Sehun dan tertawa kecil. Lalu ia mengangkat bahu dan menjawab. “Mungkin”

Sehun Tersenyum.

>0<

 

Choi Hyunsoo bangkit dari sofa yang di dudukinya sejak tadi dan bersalaman dengan Detektif Kim Suho yang baru saja datang. Tepat tiga jam yang lalu Detektif Kim menghubungi Choi Hyunsoo untuk menemuinya, dan akhirnya mereka bertemu di salah satu Restoran Itali di kota Seoul yang tidak jauh dari Rumah sakit tempat Hyunsoo bekerja. Meski Hyunsoo cukup lelah hari ini tapi ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, karena ia akan tahu apa Song Inha dan Park Chanyeol memiliki peranan dalam kecelakaan Do Kyungsoo.

Detektif Kim terlihat mengeluarkan sesuatu dari sakunya kemudian menyodorkan selembar foto ke arah Hyunsoo.

Hyunsoo menatap foto itu lekat, sebuah foto keluarga yang tampak bahagia.

“Bukankah ini foto yang Detektif Kim kirim waktu itu?” tanya Hyunsoo karena ia tampak tidak asing dengan foto itu

Detektif Kim mengangguk “Ini adalah foto keluarga Park Haejin pemilik Haejin group, perusahaan yang jatuh bangkrut 10 tahun lalu.”

Hyunsoo mengerutkan keningnya.

“Perusahaan yang kalah bersaing dengan Dohyun group, perusahaan milik ayah Do Kyungsoo.” Detektif Kim melanjutkan penjelasannya kemudian ia menunjuk anak berusia sekitar lima tahunan yang duduk di tengah.”Ini adalah Park Chanyeol, yang tak lain anak Park Haejin.” Lanjutnya.

Mendengar itu Hyunsoo tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Apa mungkin Park Chanyeol ingin balas dendam pada keluarga Do Kyungsoo karena perusahaan keluarganya yang jatuh bangkrut?” tanyanya.

Detektif Kim Suho menggaruk keningnya, “Mungkin tapi ada fakta lain yang saya temukan.” Kini Dektektif Kim menunjukan foto seorang gadis.

Alis Hyunsoo terangkat, sesaat ia bingung tapi ia perlahan mengingat sesuatu.

“Bukankah ini kakak Park Chanyeol?”

Detektif Kim mengangguk. “Kau benar, ini adalah kakak Park Chanyeol, Park Saeyi yang meninggal 5 tahun lalu.” Jelasnya.

Hyunsoo terdiam ia menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sekarang ingat, dulu saat ia kelas 3 SMA dia pernah mendengar kabar kematian kakak perempuan Park Chanyeol yang mati bunuh diri.

“Kematiannya yang tiba-tiba menambah rasa terpukul keluarga Park Chanyeol yang belum bangkit dari keterpurukan setelah bangkrut. Ditambah surat yang ditemukan di kamar Park Saeyi, yang mengatakan bahwa ia telah diperkosa oleh Do Jiyeong kakak Do Kyungsoo.”

Hyunsoo membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Detektif Kim.

“Itu tidak mungkin.” Katanya mengingkari. “Bagaimana mungkin ini semua….” Hyunsoo meremas tangannya sendiri. “Tapi setauku Do Jiyeong sampai saat ini masih hidup bebas, apa itu yang membuat Park Chanyeol ingin membalas den….” Hyunsoo tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Kita belum bisa menyimpulkan sekarang, saat ini kita hanya baru tahu bahwa Park Chanyeol memiliki motif yang kuat untuk mencelakakan Do Kyungsoo.” Kata Detektif Kim.

Hyunsoo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kemudian sedikit memijit keningnya yang terasa pusing saat ini.

Hyunsoo tidak percaya masalahnya akan serumit ini. Tapi kenapa harus pada Do Kyungsoo jika sebenarnya permasalahannya pada Do Jiyeong.

“Kalau begitu saya permisi.” Pamit Detektif Kim

Setelah hampir dua jam berbincang Choi Hyunsoo dan Detektif Kim Suho memutuskan untuk menyudahi obrolan mereka hari ini. Mereka berdua kini baru saja keluar dari lift dan berjalan ke pintu utama gedung tempat mereka bertemu tadi. Detektif Kim membungkukkan tubuhnya sekilas sebelum ia pergi duluan meninggalkan gedung.

Langkah Choi Hyunsoo tiba-tiba terhenti ketika pendangannya menembus pintu kaca yang lebar dan melihat seorang laki-laki keluar dari mobil hitam. Hyunsoo tertegun sejenak, lalu ia mempercepat langkahnya, mendorong pintu kaca sampai terbuka dan menghampiri laki-laki itu.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.

Laki-laki itu berbalik dan agak terkejut melihatnya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Hyunsoo sekali lagi. Ia tidak menyangka bisa bertemu Oh Sehun di sini. Ia menatap Sehun tajam dan melihat pipi laki-laki itu memerah.

“itu…aku sedang,” Sehun mencoba menjelaskan dengan agak bingung.

“Oh Sehun-ssi.” Suara lembut itu terdengar dari belakang Sehun. Seorang wanita berwajah manis sedang berdiri di belakang Sehun saat ini. Ia menatap Hyunsoo cukup lama kemudian berjalan mendekati Hyunsoo dan Sehun.

Choi Hyunsoo melirik Sehun, Ia mencari tahu sebenarnya siapa wanita yang bersama Sehun itu. “Apa dia pacarmu?” bisik Hyunsoo pada atasannya itu.

“Bukan.” Jawabnya balas berbisik.

Hyunsoo mengerutkan keningnya “lalu?”

Tiba-tiba wanita itu menggandeng lengan Sehun, menatap Hyunsoo kemudian menunjukan senyumnya.

“Hallo, saya Park Sooyoung,” Ucapnya memperkenalkan diri, wanita itu melihat Hyunsoo secara intens. “Anda pasti Choi Hyunsoo, junior Oh Sehun di Rumah sakit.” Katanya.

Hyunsoo tersenyum “Benar, saya Choi Hyunsoo senang bertemu dengan anda.”

Wanita itu hanya mengangguk menanggapi ucapan Hyunsoo, kini ia memalingkan pandangannya pada Sehun. “Oppa, ayo kita pergi bukankah kita mau makan spaghetti. Aku sudah lapar.” Katanya dengan manja.

Hyunsoo mengangkat halisnya kemudian menatap Sehun mencari jawaban sebenarnya siapa wanita bernama Park Sooyoung itu.

Sehun menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum risih “Aku duluan.” Katanya pada Hyunsoo dan berjalan menjauh memasuki gedung. Hyunsoo mengerutkan keningnya, bingung.

“Ada apa denganku.” Gumamnya saat melihat Sehun dan wanita itu terus menjauh dari tempatnya.

Hyunsoo berjalan menghampiri mobilnya yang terparkir di bahu jalan. Ia membuka pintu mobil. Sebelum masuk mobil, ia memandang kembali Sehun yang telah berada di dalam gedung , ia masih bisa melihatnya karena gedung itu hanya dihalangi jendela-jendela besar.

Hyunsoo memasang seat belt sebelum menyalakan mesin mobil. Ia melirik jam tangannya dan berkata. “sekarang aku harus kembali ke Rumah sakit.”

Saat akan menginjak gas mobilnya, ponselnya berbunyi sehingga ia mengurungkan niatnya. Hyunsoo melihat layar ponselnya dan membaca pesan yang baru saja ia dapat.

Hyunsoo sedikit mencibir “Memangnya apa hubungannya denganku.” Ujar Hyunsoo setelah membaca pesan dari Sehun yang mangatakan akan menjelaskan kejadian tadi padanya nanti di Rumah Sakit.

Hyunsoo menyimpan kembali ponselnya. dan mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area restoran. Ia sedikit mempercepat laju mobil saat jalanan mulai kosong, dan saat ia sampai di perempatan jalan ia melihat lampu berwarna kuning, sehingga ia mulai memperlambat laju mobilnya namun saat menginjak pedal rem, rem mobilnya tidak berfungsi.

Hyunsoo terlihat panik dengan terus berusaha menginjak rem mobilnya yang tidak merespon sama sekali. Mata Hyunsoo membulat saat lampu benar-benar merah dan mobilnya malah terus melaju. Menerobos lurus sedangkan mobil dari arah lain mulai melaju. Ia melihat ke sisi kanan saat sebuah bus melaju kencang ke arahnya.

Dalam seperkian detik mobil Hyunsoo dihantam bis yang belum sempat menghentikan lajunya tersebut. Kaca mobil Hyunsoo seluruhnya pecah karena tekanan dari benturan badan mobil dengan Bis. Tubuh Hyunsoo terguncang hebat karena kini mobilnya terguling dan berputar 360o.

Darah segar terlihat mengalir dari pelipisnya. Hyunsoo mengerjapkan matanya, berusaha mempertahankan kesadarannya saat mobil yang dinaikinya telah berhenti berguling. Nafasnya terdengar memburu, perih terasa dipelipisnya yang robek tergores pecahan kaca. Saat ini tubuhnya terlihat menggantung karena posisi mobilnya yang terbalik dan seatbelt masih terpasang ditubuhnya.

Air mata Hyunsoo mengalir, gadis itu tidak bisa menahan perasaannya saat ini. Semua kenangan masa lalunya kini terlintas seperti potongan film yang bergulir dengan cepat.

Saat ia berumur 7 tahun bersama kedua orang tuanya bermain di taman, saat ia lulus SMP. Saat ia mengenal sahabat-sahabatnya di SMA. Saat ia bertemu Do Kyungsoo, saat ia mengenal Oh Sehun. Dan pertemuan terakhirnya dengan Ayahnya minggu lalu.

Mengingat itu semua membuatnya mulai menangis hebat. Tapi gadis itu teringat sesuatu yang lebih penting saat ini, ia harus segera keluar, karena bau bensin mulai tercium olehnya. Pertanda tangki bahan bakar telah bocor dan kemungkinan mobilnya akan meledek lebih besar.

Hyunsoo mengerjapkan matanya dengan menahan semua rasa sakit yang dirasakannya saat ini, ia berusaha untuk meraih seatbelt, berusaha membukanya sehingga ia bisa keluar dari mobil.

Kini ia bisa melihat orang-orang mulai menghampirinya. Suara orang-orang itu terdengar samar di telinganya. Kemudian perlahan rasa kantuk menghampirinya, matanya terasa sangat berat dan sulit dibuka, tubuhnya lemas, pandangannya mengabur dan semuanya menjadi gelap. Kesadarannya menghilang.

>0<

“Hyunsoo-a, Hyunsoo bangun.” Bisikan itu terdengar samar ditelinga Choi Hyunsoo namun semakin lama rasanya semakin nyata, hingga sebuah sentuhan terasa dipundaknya.

“Hyunsoo-a cepat bangun.” Kini ada nada cemas dibisikan itu.

Kepala Hyunsoo terasa sangat berat saat ini, rasanya seperti telah dihantam benda tumpul dengan sangat keras.

“Choi Hyunsoo!” suara kencang itu membuatnya dengan cepat membuka maka.

Betapa terkejutnya Hyunsoo saat sosok yang hampir 7 tahun tidak ia lihat kini berdiri di hadapannya dengan gaya dan tatapan yang tak berubah sedikitpun.

“Mau sampai kapan kau tidur?” tanyanya sambil berkaca pinggang.

“Guru Lee.” Ujar Hyunsoo terperanjat

Ia mengedarkan pandangannya, kenapa ia bisa berada disini? Tunggu, dimana ini?

Mata gadis itu membulat, suasana ini…. kenapa ia berada di sebuah ruangan yang tak asing baginya, ruangan kelas bercat orange.

Hyunsoo melirik bangku disampingnya dan melihat Lee Nayeong yang menatapnya cemas. Tepatnya Lee Nayeong yang berusia 17 tahun.

“Apa yang kau lihat, aku sedang berbicara padamu.” Guru Lee memukul meja Hyunsoo membuat gadis itu menatapnya kembali.

“Keluar dari kelasku.” Bentaknya yang membuat Hyunsoo terperanjat untuk kedua kalinya.

Apa-apaan ini? Batin Hyunsoo

-To Be Countinue-

 

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Reset (Chapter 3)”

  1. Ah skr ngerti knp dikasi judul RESET. kayaknya dia dikasi ksmpatan sma tuhan buat kembali ke masa lalu.. buat perbaiki penyesalan dia dlu sma kyungsoo.. makin rame aja nih ff. Suka sma alur ceritanya. Unik!! Oke, semangat utk authornya.. nice job^^

  2. ini dia mimpi ya?
    smua kjadian yg dia alami itu cuma mmpikah?
    duuuhhh….penasaran bgt ma chapter selanjutnya….
    cpetan di publish ya kak, dtunggu ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s