[EXOFFI FREELANCE] The Pure Heart (Prolog)

Pure Hear Poster

The Pure Heart

A debut fanfiction, made by Riku. And also, the length is Chaptered. EXO’s Kai as the lead male and Twice’s Momo as the lead female, supported by EXO members, Twice members, and Seventeen members as an additional cast. Romance, Life, Fantasy as the genre, so i will take you to my imagination world. And because of that, this is rated PG-16.

DISCLAIMER!

Inspired by IRISH noona, i create this fanfiction, pure from my brain. With the BASIC from many stories and dramas, i made this fanfiction. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. I just BORROW the name.

EXO, Red Velvet, Twice and Seventeen Members belong to their real-life.

2016 © Riku Art & Storyline All Right Reserved

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

“Kau akan merasa bahagia jika saling melengkapi, karena itu adalah CINTA…”

Apakah kau percaya dengan cinta? Sebuah hal yang bisa membuat seseorang menangis, tertawa dan bahagia. Dan apa bahagia itu?

 

Aku kurang yakin dengan kata ‘Bahagia’, apakah memang ada kebahagiaan? Maksudku, apakah itu benar-benar nyata? Terkadang orang menganggap diri mereka tidak bahagia, padahal mereka sudah memiliki segalanya.

 

Lalu, ada sebagian orang yang mengatakan kalau mereka itu bahagia, padahal mereka itu kelaparan dan kesusahan?

 

Jadi, apa itu bahagia? Apakah itu nyata?

 

Itulah yang membuatku yakin bahwa kebahagiaan itu tidak ada, tidak ada kebahagiaan sejati, aku sering melihat orang menangis berlarut-larut karena seseorang. Dan mereka menyebut nya, Cinta.

 

Hal lain yang membuatku tidak percaya dengan kehidupan. Cinta, apa itu? Yang aku tahu hanya sepasang orang, lelaki dan perempuan yang selalu bersama dan tinggal bersama. Apakah itu cinta? Bukankah jika kau merasa nyaman dengan sesuatu itu juga di sebut cinta?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini yang membuatku bertanya-tanya. Apakah memang ada kedamaian sejati?

 

TING TONG

 

Aku terbangun dari mimpiku, bel sekolah berbunyi tanda bahwa kelas untuk hari ini sudah selesai. Aku memang suka tidur di kelas, bukan mengantuk karena kurang tidur, hanya saja pelajaran yang diberikan selalu tidak masuk ke otakku.

 

Aku tidak pandai, walaupun tidak bodoh juga. Aku selalu masuk 10 besar di kelasku. Itu membuktikan bahwa aku memang murid yang cukup pandai. Kebiasaanku tidur di kelas hanya… ahh, itulah satu-satunya hal yang aku yakini bahwa itu adalah kebahagiaan.

 

KREK!

 

Pintu kelasku ditutup oleh siswa terakhir yang keluar kelas, jadi sekarang hanya aku sendiri disini. Sejujurnya, aku ingin keluar dari kehidupanku yang sekarang. Terlalu monoton, bangun lalu sekolah dan tidur, dan itu dilakukan setiap hari. Seakan-akan memang ditakdirkan seperti ini.

 

Bosan. Jenuh. Kegiatan yang sama dilakukan berulang-ulang dan tidak menghasilkan apapun untukku. Bahkan untuk hal yang paling kecil saja, aku tidak mengerti. Kehidupan sekolahku terlalu datar, maksudku… tidak ada yang menarik, yang menarik di sini hanyalah pemandangan di luar jendela yang ada di sebelahku ini. Hahh, bisakah aku dilahirkan kembali??

 

Aku mengambil tas sekolahku, pergi meninggalkan tempat yang biasa aku kediami untuk menghabiskan waktuku selama 6 jam sehari. Dan, terakhir aku melihat keluar jendela sebelum pergi meninggalkan tempat ini, cuaca hari ini cukup bagus. Walaupun ada beberapa awan yang menyelimuti langit hari ini, matahari pun tidak menunjukkan sinarnya terlalu terang kali ini. Dan beberapa burung terbang memutari sekolah ini.

 

KREK!

 

Aku menutup pintu kelasku, berjalan perlahan melewati koridor yang sangat luas ini, memasang headphoneku dan mendengarkan lagu, berjalan dalam kesendirian. Aku tidak memiliki teman, mereka menganggapku sebagai orang aneh karena terus mengurung diri di kelas jika berada di sekolah.

 

Meskipun ada beberapa siswi yang mencoba berteman denganku, aku tidak terlalu menanggapinya, hanya menjawab YA, TIDAK, & MUNGKIN. Itulah kata-kata yang sering aku ucapkan. Beberapa namja pun banyak yang mendekatiku, tapi aku tak menggubrisnya, karena semua itu akan menyusahkan.

 

Menjadi seorang introvert, itu sudah tidak masalah bagiku. Aku memang tidak memiliki teman sejak aku masih kecil, teman-temanku dulu juga menganggapku adalah orang yang aneh.

 

DRAP DRAP

 

Aku melangkah kan kaki ku menuju atap sekolah, di iringi lagu dari Yoon Shi Woo yang mengalun indah melalui headphoneku. Atap sekolah, adalah tempat kedua yang menjadi kesukaanku, tidak pernah ada siswa yang pergi ke sana karena para guru selalu menakuti dengan cerita seram sekolah, jika ada hantu di atap sekolah.

 

Percaya? Aku tidak akan pernah percaya dengan hal-hal berbau mistis seperti itu. Aku sudah di ajarkan oleh orang tuaku jika hal-hal seperti itu adalah tipu belaka orang-orang usil.

 

Tapi, untunglah karena itu tidak ada orang yang berani naik ke atas sini, membuat tempat ini sangat rapi dan bersih. Kebahagiaanku yang kedua adalah menghabiskan waktu di atas sini.

 

CKKREEKKK

 

Aku membuka pintu atap sekolah dengan perlahan, dan menghasilkan suara yang cukup berisik mengingat pintu ini sudah cukup tua umurnya. Kulangkahkan kaki ku menuju tempat yang biasa aku tempati saat berada di atas sini, kemudian aku duduk dan menyandarkan badanku pada platform di sebelahku.

 

Aku melihat jam di tangan kiriku, 3:16 P.M. , masih terlalu siang untuk pulang ke rumah.

 

“Ngg….”

 

Aku melenguh ketika angin semilir berhembus melewati telingaku. Inilah kenapa atap menjadi tempat favoritku untuk melupakan masalah kehidupanku, seolah tempat ini memiliki kekuatan khusus untuk menenangkan jiwa.

 

“Bulan? Muncul dengan jelas pada jam sekarang? Hmm… ini sangat indah.”

 

Aku mengambil teropongku dan mengarahkannya ke bulan yang sedang terlihat di depanku. Terkadang, beberapa ekor burung terlintas di depan lensa teropongku. Sungguh, keindahan ini membuatku ingin pergi dari kehidupanku di sini dan tinggal di sini.

 

Kemudian aku menutup mataku, berharap bahwa aku bisa hidup seperti burung itu, bebas melakukan apapun yang di inginkan. Terbang kesana kemari mengelilingi dunia semaunya.

 

Aku membiarkan angin semilir menerpa mukaku, diiringi lagu karya Yoon Shi Woo, membuatku jatuh ke alam mimpiku yang dalam. Membiarkan kelelahan tubuh ini menjalar ke seluruh tubuhku dan membuat tubuhku beristirahat.

 

Ditemani dengan burung-burung dan bulan.

 

■♤♡♢♧■♤♡♢♧■♤♡♢♧■

 

KURRR KURR

 

Aku terbangun oleh suara burung hantu yang bertengger di pagar, bersuara seolah itulah kesempatan terakhirnya untuk bersuara. Burung hantu itu bersuara menandakan padaku bahwa matahari harus beristirahat dan sekarang bulan lah yang menggantikan tugasnya untuk menerangi malam.

 

“Sepertinya, aku tertidur terlalu lama. Kali ini terlalu lama.” Aku bergumam

 

Aku melihat handphoneku, tertera bahwa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, aku segera membereskan semuanya dan bersiap untuk pulang. Aku mengambil tasku dan berjalan melewati atap sekolah menuju bangunan kosong yang ada di sebelah sekolah, itulah jalan pulang, karena aku yakin penjaga sekolah sudah mengunci pagarnya.

 

Ditemani cahaya bulan, aku melangkah turun dari atap. Sedikit berhati-hati karena penglihatanku kurang di cahaya yang remang-remang ini. Seharusnya, aku memasang alarm sebelum tertidur. Merepotkan sekali harus memanjat, jika saja bukan karena teropongku aku akan memanjat pagar sekolah, teropong ini terlalu besar dan berat. Berjalan menuju lorong yang sudah kusam, hanya sedikit cahaya bulan yang bisa masuk. Rasanya kaki ku ingin patah, aku harus membuang kebiasaan tidurku in…

 

DAR!

 

Lampu-lampu di sebelahku tiba-tiba pecah tanpa alasan, kakiku membeku ditempat, merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi disini. Seketika, bulu kudukku berdiri, menandakan bahwa sekarang aku merasa ketakutan. Ini aneh, biasanya tidak seperti ini, walaupun aku tahu gedung ini sudah kosong tapi ada beberapa orang yang datang untuk menyalakan lampu.

 

Tapi anehnya, hanya lampu di sebelahku yang pecah, yang lainnya tidak. Dan aku masih berdiri mematung di tempat ku, menelan saliva-ku sendiri terasa sulit.

 

Aku memberanikan diri untuk melangkah, menuruni anak tangga di gedung yang sudah tak berpenghuni lagi. Setiap langkah yang aku ambil membuatku semakin yakin bahwa ada sesuatu hal yang tidak beres di gedung ini.

 

GREP!

 

“Diam…”

 

Kaget. Aku dibekap oleh seorang namja, aku berusaha memberontak sekuat tenagaku, tetapi namja ini sangat kuat. Aku berhenti memberontak ketika mata kami bertemu, matanya mengatakan seolah jika aku berhenti memberontak maka aku akan selamat.

 

“Diamlah, untuk keselamatan kita berdua.” Ucapnya sangat pelan, hampir tak terdengar olehku.

 

Agak sedikit mencurigakan, tapi keadaan membuatku terdesak. Aku pun mengikuti perintahnya, tak lama kemudian aku melihat beberapa orang berlari-lari di belakang kami, berpakaian hitam serta membawa pedang. Mataku terperanjat, mereka seperti para pembunuh yang ada di televisi. Apa yang mereka lakukan? Siapa yang mereka kejar? Berlari-lari seolah mereka harus membunuh apa yang mereka kejar, baru mereka bisa berhenti.

 

 

 

 

Beberapa saat kemudian, aku sudah tidak mendengar suara mereka maupun derap langkah kaki mereka. Aku menghembuskan nafas dengan lega, dan segera menggigit tangan namja yang sedang membekapku ini.

 

“Akh! Ya! Apa kau gila? Aku baru saja menyelamatkan nyawamu!” Bentaknya.

 

“Apa yang barusan kau lakukan itu sangatlah tidak sopan! Membekap seorang yeoja di tengah malam? Aku bisa melaporkanmu ke polisi.”

 

“Hei, nona. Aku baru saja menyelamatkan nyawamu dari para pembunuh itu, setidaknya berterima kasihlah padaku.” Balasnya.

 

“Hmm, terima kasih. Dan juga penampilanmu tidak jauh menyeramkan dari mereka. Hanya saja kau memakai seragam sekolah.”

 

Sebenarnya aku heran, seragam namja ini sangat berbeda dengan seragamku. Seragamnya itu seperti jas detektif hanya saja punyanya itu berwarna merah gelap dan ada lambang sekolahnya.

 

“Jangan menilai seseorang dari penampilan. Lagipula, kau sendiri kenapa ada disini? Apa yang sedang seorang siswi di gedung yang kosong dan anehnya ini dimalam hari?”

 

“Itu urusanku!”

 

Dia mendengus, kemudian berjalan mendekatiku. Akhirnya aku bisa melihatnya dengan jelas ketika dia berjalan di bawah sinar bulan. Rambutnya yang berwarna coklat gelap bersinar ketika cahaya bulan menyinarinya, kulitnya yang coklat pun terlihat, yang paling menarik adalah rahangnya. Sangat lurus dan lancip.

 

“Baiklah. Emm, siapa namamu? Tidak mungkin aku memanggilmu dengan sebutan ‘Si Rambut Pirang’?” Ucapnya.

 

Aku mendengus. Sikapnya ini sangat aneh, beberapa menit yang lalu dia sangat menakutkan. Membentakku seenaknya, dan sekarang dia ingin berkenalan.

 

“Momo, Hirai Momo. Dan siapa namamu? Aku juga tidak mungkin memanggilmu dengan sebutan ‘Siswa Penculik’?”

 

“Cih, kau tahu? Sikapmu ini sangat aneh untuk seorang yeoja.”

 

“Namamu…”

 

“Berkeliaran dan menuduh seseorang? Bagaimana bisa ada perempuan sepertimu?”

 

“Yak! Aku bertanya namamu!” Sentakku.

 

“Kai.”

 

“Ayolah, aku tahu kau berbohong!”

 

“Aku memberi tahumu yang sebenarnya, kau ingin namaku? Aku memberikannya, namaku Kai!”

 

“Benarkah? Kau tahu? Mukamu ini sangat mencurigakan!” Ucapku

 

“Aish. Teman-temanku biasa memanggilku dengan nama Kai. Margaku Kim, nama tengah Kai. Kim Kai.”

 

“Baiklah, kelihatannya kau memang jujur.”

 

Hmm, aku melihat penampilannya dari bawah ke atas.

 

“Kau bersekolah dimana? Seragam sekolahmu bukan dari sekolah-sekolah disini.” Tanyaku.

 

“Aku sudah memberi mu namaku, kenapa kau ingin tahu sekolahku juga?”

 

“Yak, apakah dilarang untuk bertanya? Ingat, aku bisa melaporkanmu atas kasus usaha penculikan, Tuan Kim.”

 

Dia mendengus kesal. Untuk yang kedua kalinya.

 

“Percayalah, meskipun aku beritahu kau tidak akan peduli.” Ucapnya

 

“Huh!” Gantian aku yang mendengus, dia sangat menyebalkan.

 

 

 

 

“Moorim School.”

 

“Nde? Apa yang kau katakan?”

 

“Moorim School. Kau tahu ‘Moorim School’? Aku bersekolah disana.”

 

“Itu dimana? Aku tidak pernah tahu itu.”

 

Dia menggeleng. “Sudah aku bilang kau tidak akan mengerti, sekolahku ini berbeda dengan sekolah-sekolah biasa.”

 

“Berbeda? Apanya?” Tanyaku.

 

Dia melipat tangannya, dan kemudian bersender di tembok di sebelah kanannya.

 

“Untuk apa kau menanyakan itu? Hm?”

 

“Ayolah, jangan membuatku kesal. Apa salahnya jika aku bertanya padamu?”

 

Dia terkekeh.

 

“Baiklah, aku akan beritahu sedikit. Sekolahku tidak mengajarkan tentang Matematika, Kimia, Fisika, dan pelajaran akademis yang lain yang membuat otak kita lelah dan stress. Kami lebih mementingkan hubungan sosial, kemampuan individual, seperti memasak, dan bela diri untuk melindungi diri kami. Kami diajarkan untuk hidup mandiri, jadi sekolah ini membuat kita bermanfaat untuk orang lain tanpa menyusahkan mereka.” Jelasnya.

 

“Dari apa?”

 

“Dari apa apanya?”

 

“Kau bilang, di sekolahmu kalian belajar bela diri, kalian melindungi diri dari apa?”

 

“Aish, kau ini. Kau baru melihatnya tadi.” Ucapnya kesal.

 

“Mereka yang terlihat seperti pembunuh? Memangnya mereka itu siapa?”

 

“Mereka adalah Juk Poong, mereka orang-orang yang mengincar Chintamani. Yang hanya di ketahui oleh anggota dari Moorim Association, mereka mengira bahwa kami juga tahu akan hal itu. Jadi mereka mengejar siswa-siswa Moorim jika ada yang keluar sekolah untuk melakukan sesuatu, seperti bekerja atau sekedar pulang ke rumahnya masing-masing.” Ucapnya.

 

“Kau sendiri. Kenapa kau ada diluar sekolah?”

 

“Itu urusanku.”

 

“Menyebalkan. Ah, iya, apa itu Chintamani ?” Tanyaku yang masih tidak mengerti.

 

“Kau ini reporter ya?”

 

“Jawab saja!” Ucapku.

 

Dia menghela nafasnya.

 

“Kepala Sekolahku bilang itu sebuah benda yang mana jika kau mendapatkannya kau bisa menaklukan dunia dengan tanganmu sendiri. Tapi, hanya ada 2 orang yang pernah melihat Chintamani itu jadi aku pun kurang mengerti.”

 

“Siapa 2 orang itu?” Tanyaku lagi.

 

“Kau ini banyak bertanya, aku yakin kau tidak akan paham jika aku jelaskan lebih lanjut. Aku harus pergi, ini waktuku yang paling lama selama aku berada di luar sekolah.” Ucapnya sambil beranjak pergi.

 

“Tunggu!” Teriakku.

 

“Ada apa?”

 

“Apa sekolahmu itu benar-benar ada? Maksudku, apakah ada sekolah yang tidak mengajarkan tentang pendidikan akademis??” Tanyaku.

 

“Kenapa? Kau malas belajar ya?”

 

“YAK!”

 

Dia terkekeh lagi.

 

“Moorim School tidak dibuka oleh publik jadi hanya segilintir orang yang tahu, dan akan sulit untuk menemukan sekolah kami.”

 

“Ahh, baiklah….” Balasku.

 

“Hmmm, kau ingin masuk sekolahku? Jika kau memang ingin, kau harus membersihkan pikiranmu dulu, Moorim tidak akan terlihat oleh orang-orang yang berhati kotor. Dan juga, kau yakin jika kau bisa menemukan Moorim? Sekolahku terletak di pegunungan.” Ucapnya panjang lebar.

 

“Ah, aku mengerti.” Jawabku.

 

“Baiklah, aku pergi. Ini sudah malam, berhati-hatilah!”

 

 

 

Kai pergi dan aku mematung disini, kebingungan akan hal-hal ini. Apakah memang ada sekolah seperti itu? Yang mementingkan hubungan sosial? Aku tidak yakin jika sekolah itu memang benar-benar ada.

 

Aku mengadahkan kepalaku, menatap bulan yang bersinar dengan terang menerang, aku merenung. Haruskah aku masuk kesana? Jujur saja, aku bosan dengan kehidupanku yang sekarang. Dan Kai, dia adalah orang pertama yang berbicara denganku selain guru dan orang tuaku.

 

Nyaman. Itulah yang aku rasakan tadi. Entahlah, aku jadi bingung. Aku menunduk dan memejamkan mataku.

 

“Apa yang harus aku lakukan? Kehidupanku yang sekarang sangatlah penuh kepalsuan, apakah aku harus pergi?” Ucapku.

 

Aku memikirkan semuanya, kehidupanku yang sekarang, semuanya. Aku ingin mengubah kehidupanku, dan aku rasa Tuhan memberikannya sekarang. Aku membuka mataku, menarik nafasku panjang-panjang.

 

“Aku akan kesana.”

 

To Be Continued…

 

 

Hai, semuanya^^ Namaku Riku, dan seorang namja yang menjadi EXO-L  sejak 2011. FF ini adalah FF debutku sebagai author dengan terinspirasi oleh Irish noona dan FFnya yang berjudul ‘One and Only’ yang disusun dengan apik. Mohon berikan kritik jika ada hal yang kurang berkenan. Dan juga, maaf jika tidak ada yang suka pairing Kai & Momo, author memasangkan mereka karena skill dance mereka yang jauh di atas rata-rata dan juga karisma dari mereka berdua itu khas. So, thats it. How’s the prologue?

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The Pure Heart (Prolog)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s