[EXOFFI FREELANCE] Good Night (Oneshoot)

moon-and-stars-in-the-sky-25176-400x250.jpg

Good Night

[Title : Good Night (안녕히 주무세요)]

[Author : Frachmii]

[Length : OneShoot]

[Genre : Romance, Drama and Comedy (a bit)]

[Rating : PG-13]

[Main Cast : Park Chanyeol (EXO) and Pa Nila (OC)]

[Disclaimer : FF ini benar-benar muncul dari pemikiranku, ketika aku sedang tidur dimalam hari dan saat itu aku langsung  membayangkannya. Please, jangan mem-plagiat-kan semua isi yang ada dicerita ini, kalau di-coppypaste- boleh, tapi hanya sekedar untuk membaca ulang, wkwkwk. O.K. Friends, terima kasih atas perhatiannya.]

>>Selamat Membaca<<

 

‘Cinta itu satu. Tidak bisa dibagi dua dan tak pernah dipisahkan, bagaikan bulan dan bintang yang hadir dimalam hari.’

Malam hari nan begitu gelap dan menutupi belahan dunia pun telah menghadiri para makhluk dimuka bumi. Chanyeol dan istrinya tinggal bersama sejak mereka berdua telah menikah, sekitar satu bulan yang lalu. Mereka menetap di sebuah rumah yang besar, yaitu sebuah kompleks yang cukup ramai dan dipenuhi oleh banyak orang. Kompleks yang dicap sebagai tempat yang paling damai dan tenang  itu telah hilang, karena kedua orang itu hampir setiap hari selalu saja berbuat keributan dan barang didalam rumah pun berserakkan dimana-mana. Bahkan, mereka pun bertengkar karena masalah sepele itu, lalu dibesar-besarkan. Yah.. begitulah. Pasangan yang tidak begitu harmonis.

Chanyeol baru saja pulang dari rumahnya. Dari pagi hingga petang tak kunjung pulang. Ia pergi berlibur sambil berekreasi bareng temannya. Ia sangat kelelahan karena selama ini dia telah menghabiskan waktu dan tenaganya hanya untuk pergi bermain.

“Hosy, aku sangat lelah.” Desahnya yang keras. Chanyeol langsung melompat kasar dan merebahkan tubuhnya diatas sofa berbulu yang empuk, yang terletak di ruang tamu. Sekarang ia pun tidak peduli bagaimana bentuk atau keadaan rumahnya sekarang. Ia hanya mempedulikan dirinya sendiri, bukan orang lain. Tak terkecuali istrinya yang tengah memasak didapur.

“Chanyeol Oppa!!! Kau kah itu.” Pa Nila, istri Chanyeol yang sedang memanggil namanya dan berteriak dari dapur.

“Yaaaa, siapa lagi kalau bukan aku? Nggak mungkin kan kalau aku ini seorang maling?!” Balas Chanyeol yang malas seraya memicingkan matanya.

Glekk…

Kabut asap telah memenuhi semua penjuru dirumahnya. Dengan mendadaknya, pria itu membulatkan matanya karena ada sesuatu benda asing yang memaksakannya untuk masuk kedalam kedua lubang hidungnya. Chanyeol pun menanggapi ciuman yang berbau hangus dan terasa pahit itu.

Ige mwo yeyo?’ Ia pun marah, bertanya sendiri lalu mengerutkan jidatnya. Kemudian, dengan cepat ia pergi kedapur untuk menengok istrinya yang sedang mengambil gayung jumbo.

‘Ohok..Ohokk’

Ia pun menoleh gadis kecilnya itu sangat panik dan tak tahu harus berbuat apa. Karena kepanikan gadisnya tersebut telah menutupi akal cerdasnya. Pani pun memakai cara yang spontan.

“Air..air..mana air. Hah, ini dia. Semoga saja ini berhasil.” Ujarnya yang tengah berjalan mondar mandir seperti orang bodoh.

Gadis yang berumur tujuh tahun lebih muda dari suaminya itu mengambil air dari bak mandi didekat dapurnya. Pani melemparkan jutaan butiran air itu ke tempat makanan yang terbakar diatas kuali tiris karena telah lama dibiarkan hidup diatas api nan besar dan minyak goreng tersebut lamban laun berjatuhan dikompor.

Byuuurrrr!!!…..

Oops.. Kejadian ini sungguh diluar akal pemikirannya. LUARRR BINASA! Ia pun tak sengaja melemparkan benda cair yang bening dan membuat suaminya itu basah kuyup. Sangat tidak tepat pada sasaran. Melihat keadaan itu, benda yang dipegangnya pun terjatuh. Chanyeol berusaha meredamkan amarahannya. Setelah itu, Chanyeol pun melangkah dan wajahnya pun mendekati api kompor yang menyala terbuka.

“Oppa! Jangan kau biarkan mukamu meleleh didepanku. Oppa pasti berbuat seperti itu karena pasrah melihat tingkahku yang bodoh ini! Andwae!!” Pekik Pani cepat seraya menarik rambutnya sendiri hingga rontok.

Fuhh… Oh, ternyata Chanyeol telah berhasil memadamkan api dengan cara yang simple, menggunakan angin dari mulutnya lalu diberi tekanan yang sangan besar.

“Terima kasih, Oppa.” Kata Pani. Lalu Pani pun melanjutkan kalimatnya dan mengatakan semua kesalahan yang telah membuat pria itu marah.

“Maafkan aku, kalau aku telah berbuat kesalahan besar hingga membuatmu menjadi basah, juga makanan yang aku buatkan untukmu jadi gosong. Dah.. kompor gasnya sudah rusak dan tidak bisa diputar dan dihidupkan lagi. Lebih baik, aku memakai kompor minyak saja. Malah hasilnya sangat buruk.” Ucap Pani dengan penuh merasa bersalah sambil menundukkan badannya. Lelaki yang bermata agak bulat itu meresponnya dan menatap gadis itu dengan tajam.

“Kau sudah tahu kan kalau kompor minyak ini rusak. Dari kelihatannya saja, benda ini sudah ditempeli oleh karat. Dan kau masih saja mempergunakannya.” Chanyeol tak kuat menahan amarahnya dan tak kuasa melihat dapurnya yang sangat kacau, KACAU-BALAU.

“Mengapa kau tidak membelikan makanan diluar saja, itukan praktis!” Ketus Chanyeol.

“Tapi Oppa, masakan buatanku lebih terasa hangatnya daripada masakkan diluar. Engkau tahu, kebanyakkan makanan cepat saji itu sedikit…..” Kalimat gadis itu terpotong.

“Ahhh! Biarpun begitu, aku tak peduli bagaimana kandungannya  –makanan-, kadar gizinya, ataupun manfaatnya. Yang penting aku bisa makan sepuas-puasnya.” Bentak Chanyeol dengan suara yang keras.

“Baiklah Oppa, aku akan menggantikannya dan membuatkan lagi makanan untukmu.” Ujar Pani yang sedang berusaha untuk menenangkan hati pria yang tinggi itu.

Shirreo!” Marahnya lagi. Chanyeol pun hendak pergi kekamarnya untuk menyegarkan pikirannya. Chanyeol melangkahi kakinya menuju keranjangnya. Istrinya pun mengikutinya. Setelah tiba dikamarnya, Chanyeol segera membanting pintu, yang membuat di sekitar kaca rumahnya pun ikut bergetar. Tepat sekali dihadapan yeoja-nya.

“Oppa, sejak kapan Oppa berhenti marah seperti ini didepanku? Dari awal, Oppa selalu saja melihatku dengan sinis, menatapku penuh kebencian. Apalagi, Oppa sangat tidak peduli dan menghargai pemberianku. Semuanya ditolak. Apakah Oppa, tidak suka? Apakah Oppa membenciku? Dari dulu aku sangat memperhatikanmu. Tetapi Oppa malah lebih mementingkan dirimu sendiri dan tidak menghiraukan orang disekitarmu. Kalau Chan Oppa membenciku atas kekuranganku, katakan saja padaku. Untuk itu aku pun bisa mengubahnya kearah yang lebih baik. Tapi,”

Pani sekejap menjedakan perkataannya karena saliva-nya telah menumpuk di dalam mulutnya. Kemudian ia menelan dan melanjutkan kalimatnya.

“mengapa Oppa memilihku untuk dijadikan ku sebagai pendamping hidupmu, Oppa??” Jelas Pani dengan menarik satu kali napasnya untuk mengucapkan semua perkataannya. Pertanyaan itu telah membuat Chanyeol sangat tertekan. Ia pun memikirkan jawaban dari pertanyaan yang dianggap bodoh olehnya.

“Ku ulangi sekali lagi. Mengapa Oppa memilihku? Jawab Oppa! Aku ingin mengetahuinya.”

“Cukup, Pani!!! Aku sangat kesal melihat kecerobohmu itu. Gara-gara kau, semuanya menjadi berantakkan dan kacau. Arrrgghhh.” Geram Chanyeol. Mendengar seruan Oppanya dikamar, itu pun tak membuat Pani marah. Ia tetap sabar menghadapi cobaan yang melandanya.

“Oh, begitu Oppa. Kalau Oppa tidak bisa menjawab dari pertanyaanku, tidak masalah. Saran dari ku, lebih baik Oppa mencari gadis yang bisa membuat hatimu nyaman dan selalu membuat Oppa tersenyum kembali.” Ujar Pani yang lirih sambil menangis. Suara tangisan gadis itu terdengar oleh pria tinggi itu yang tengah mematung.

‘Aku harap Oppa selalu mendapatkan yang terbaik dihari esoknya. Aku berjanji tidak akan membuatmu marah lagi.’

Ucapnya lagi sembari mengusap pintu kamar namja-nya yang berdominasi oleh warna silver yang mengkilat. Kemudian Pani membalikkan tubuhnya,  ia pun menuju kekamarnya dan mengunci pintu dalam-dalam. Dengan perlahan air mata yang dimiliki gadis berhati lembut itu mengalir deras di pipi halusnya. Pani pun berharap semua masalah ini tak akan terjadi dihari esok, lusa, minggu, bulan, ataupun tahun yang akan datang.

Park Chanyeol, kenapa kau seperti ini!! Apakah aku telah merusakkan perasaannya?’  Gumam Chanyeol dan memanggil gadis itu berulang-ulang. Chanyeol baru menyadari atas apa yang ia lakukan selama ini kepada istrinya. Sebenarnya Chanyeol itu tidak bermaksud jahat, hanya saja kemarahan yang ia lontarkan kegadisnya itu dengan bermaksud untuk menutupi perasaan cintanya. Ia sangat takut dan gugup untuk mengungkapkan perasaannya. Lantas, ia tidak pernah mengatakan cintanya kepada istrinya ataupun membalas rasa kasih sayangnya.

‘Pani..Mianhe… Jeongmal mianhe.’

Saat ini, Pani ditemani oleh kucingnya yang bernama ‘Gwiyomi’, namanya sama dengan  rupanya yang cantik dan imut. Ia tidak hanya menyayangi orang disekelilingnya, bahkan ia pun sangat mencintai binatang.

‘Hahahah. Wajahnya yang sangat imut, persis dengan Chanyeolie Oppa.’ Tawanya sambil mengelus rambut kucing yang lebat dan halus.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia akan memilih untuk tidur diatas paparan kayu itu. Gadis itu merasakan angin yang kencang, dan itu bertanda bahwa hari akan hujan. Pani tak sanggup menahan angin yang bersuhu dingin itu.

‘Aku harus bertahan.’ Katanya yang begitu optimis. Ia pun melanjutkan istirahatnya, lalu ia langsung memejamkan matanya.

‘Selamat malam semuanya… dan Selamat malam, Oppa.’

-ooOoo-

 

Rembulan pun sudah menghilang, kini mentari yang akan menggantikan posisi bulan dan bersiap-siap untuk  hadir serta membawakan keceriaan kepada para penghuni yang terletak dibawahnya. Kecuali Pani yang merasakan kesakitan yang disebabkan oleh angin yang menusuknya tadi semalam. Ia  juga lupa menutupkan jendela ataupun meminta kembali selimutnya yang terkurung dikamar Oppa-nya. Kekebalan tubuhnya mulai menurun, ia perlu untuk beristirahat kembali dan  berharap ia akan segera cepat sembuh dari penyakitnya. Tak lama kemudian, ada seseorang yang mendorong pintunya secara perlahan dan melangkahkan kakinya dengan mengeluarkan sedikit suara hentakkan.

Tokk..Tikk..Tokk.

Satu pasang mata yang dimiliki gadis itu terbuka lebar. Sepertinya ada seseorang yang memasuki kamarnya.

“Apa kau sedang tidur, hm?” Kata seseorang yang ada dibelakang Pani. Barulah ia tahu bahwa orang yang memasuki kamarnya tersebut adalah suaminya, Park Chanyeol. Dari suaranya yang sangat khas pun sangat jelas dan mudah ditebak olehnya. Siapa lagi kalau bukan pria berambut hitam tegak itu?

‘Tumben.. Kenapa Oppa itu datang kemari?’ Herannya. Pani berniat untuk membalikkan badan kearah pintu, tetapi ia takut kalau Oppanya itu marah dan membangunkannya dengan kasar. Pikirnya.

‘Aduh, gawat!’

Pani pun mendengarkan suara gorden sutera yang dibuka lebar oleh pria itu dan pancaran sinar matahari yang bersumber dari celah-celah ventilasi itu berhasil menyinari wajah Pani yang masih memejamkan matanya.

“Baru kali ini aku datang untuk melihat keadaanmu dikamar.” Kemudian Chanyeol duduk dan mendekati ranjang gadis itu yang sangat tua dan kasur yang keras. Ia pun menatap gadis itu dengan lembut lalu mengusapkan rambut hitam panjang milik gadisnya yang masih tertidur dalam posisi telentang.

“Pani, apakah kau terluka karena aku yang selama ini cuek padamu, hm?” Ucapnya yang lirih.

“Sebenarnya aku kesini untuk melihatmu.. aku… sangat takut kalau kamu merasa sedih sekarang. Siapa lagi kalau bukan karena aku yang menyebabkan semua ini?”

Tiba-tiba, wajah Chanyeol semakin mendekat ke wajah gadis itu. Pani merasakan hembusan napas pria itu dikeningnya. Ia sangat malu kalau Oppa melakukan hal-hal aneh itu hingga wajahnya sangat panas. Tapi Oppanya tidak melakukan apa yang ia pikirkan.

Hossyyyy.

Hanya saja Chanyeol menyentuh keningnya dan merasakan suhunya yang sangat panas.

Ommo!! Panas sekali! Pani, kau demam!” Chanyeol segera mencarikan termometer dilaci yang berada dibelakang tempat tidurnya. Ia pun meletakkan ujung benda tersebut kedalam mulutnya, mengecek dan mengetahui suhunya berapa.

Tepat.. 42 derajat celcius.

“Mwo!! Pani, tunggu disini sebentar, ya. Aku akan mencarikan obat yang paling tepat untukmu.” Chanyeol sangat cemas ketika ia melihat keadaan istrinya yang sangat pucat dan tak merona. Ia segera keluar rumah dan mencari apotek yang ada didekat rumahnya. Alhasil, semua apotik yang berada di kompleks ini tertutup. Tidak ada cara lain, ia langsung mengendarai mobilnya untuk mencarikan obat penurun panas ke apotik yang terletak sangat jauh.

Tak lama kemudian, Pani segera terbangun dan menyentuh kening yang baru saja disentuh oleh Chanyeol.

“Oppa. Kenapa engkau terlalu mencemaskanku?” Ujarnya. Saat ia masih dikamar, hanya ada satuhal yang hampir dilupakannya. Ia menoleh ke almanak dinding dan teluntuknya menunjuk ke salah satu tanggal sekarang.

“Kemarin hari sabtu, sekarang hari minggu, tanggal 27 November.” Tak lama berpikir, ia tak menyangka bahwa sekarang adalah hari ulang tahunnya Chanyeol.

“Ohh! Sekarang hari jadinya Chanyeol Oppa. Lihat saja, aku akan membuatkan kejutan utukmu.” Katanya sendiri sambil mengeluarkan senyumnya yang sangat lebar. Ia akan berencana sesuatu untuk membuat rumah ini menjadi rumah impian. Ia tidak mempedulikan keadaannya sekarang dan mulai membersihkan rumah dari atas sampai bawah. Bahkan ia pun nekad memanjat atap yang sangat kumuh itu. Namun, kalau ia bekerja keras pasti akan menghasilkan keringat yang banyak dan ia berharap demamnya akan segera turun. Gadis itu dengan semangatnya bekerja, mengumpulkan dan mengeluarkan alat pembersih ruangan yang ada didalam gudang.

“Ayo!! Semangat!!” Ujarnya yang tak kenal lelah.

-ooOoo-

Hari sudah mulai malam. Chanyeol belum saja pulang ke rumahnya karena ia masih mencarikan obat untuk istrinya. Sementara itu, Pani sudah siap mengubah semua rumahnya menjadi istana.

Clinggggg……

Pandangan yang begitu indah, semua orang yang melewati rumah tersebut sangat takjub melihatnya.

“Haaaahhh, akhirnya sudah selesai. Sekarang tinggal tunggu orangnya saja. Tapi, Oppa kemana yah? Mungkin lagi sedang mencarikan obat. Tapi kini kan badanku sudah sehat.” Gumamnya sembari mengusapkan kedua belah telapak tangannya. Ia segera membasahi dan membersihkan tubuhnya yang dipenuhi oleh daki dan keringat sambil menunggu kedatangannya. Setelah mandi, ia menukarkan kostum uniknya yang serupa dengan tokoh kartun ‘Pororo’. Setelah itu, semua makanan yang ada didapur akan dibawa olehnya ke halaman belakang rumahnya yang sangat luas dan menaruh semua itu diatas meja yang berukuran persegi panjang yang bentuknya mirip seperti sebatang coklat vanilla. Ia pun masih menunggu kedatangannya, saking lamanya menunggu, ia pun tertidur diluar.

Akhirnya Chanyeol telah sampai dirumah dan membawakan obat untuk gadisnya. Chanyeol sangat tercengang melihat semua ini yang dihiasi oleh ribuan balon yang memenuhi seluruh ruangan dan disertai oleh namanya yang letaknya dikamarnya.

Saengil Chukka Hamnida, Park Chanyeol.

Chanyeol pun tersenyum bahagia, karena ia hampir saja melupakannya. Anehnya, ia tidak tahu kalau hari ini jatuh pada tanggal 27 November.

“Siapa yang membuat semua ini.” Gumamnya didalam hati.

‘Apakah Pani, ahh! Pani, dimana kau?” Teriaknya sambil berlari menuju kekamar yang ia kunjungi tadi. Wal hasil, kamarnya tidak ada orang. Ia pun segera mencari keseluruh ruangan, namun hasilnya nihil. Tapi hanya ada sebuah tempat yang belum ia kunjungi.

Bingo! Dibelakang halaman rumah. Napasnya terengah-engah. Syukurlah ia menemukan gadis itu berpakaian badut dan tertidur pulas.

“Jadi semua ini yang ia lakukan hanya untukku. Kau benar-benar istriku yang baik.” Ujarnya yang sedikit parau dan menahan tangis. Chanyeol sangat tidak percaya bahwa Pani lah yang berusaha untuk membuat kejutan yang sangat special dihati pria itu. Chanyeol pun melangkah dan mendekati gadis itu yang masih tertidur. Ia segera melepaskan kostum badut itu dibagian kepala. Setelah dibuka, wajah Pani dipenuhi oleh keringat yang panas. Lelaki yang bertubuh tinggi itu mengeluarkan sapu tangan dari saku kemejanya, lalu mengusap keringat di wajah gadisnya itu. Chanyeol sangat bangga dan beruntung memiliki gadis yang kuat sepertinya. Ia sangat mampu untuk mengobatinya sendiri dengan bekerja keras.

“Syukurlah, kau sudah sembuh.” Ucapnya yang tersenyum lembut kehadapan istrinya. Chanyeol segera membangunkannya dengan cara yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Tanpa ia berpikir, Chanyeol memberikan ciuman yang hangat dan bibirnya pun mendarat di pipi bulat yang merona yang dimiliki oleh gadis mungilnya itu.

Degggg…

Setelah sepuluh puluh sekon berlalu, tiba-tiba Pani terbangun kaget dan Chanyeol segera melepaskannya agar tidak diketahui olehnya.

”Tidakkkkkk!!!!!” Jeritan Pani membuat Chanyeol merasakan pekikkan dari malaikat maut yang berhasil menulikan sepasang gendang di dalam telinga lebarnya.

“Yaaakk! Kau telah membuatku tuli.” Gerutu Chanyeol. Tidak ada respon, Chanyeol lagi melihat istrinya seperti menghadapi sakaratul maut. Hiyyyy, seram!

“Yaaa, kau kenapa, eoh?”

Sepuluh detik kemudian, Pani membalas pertanyaan singkat dari pria duduk disampingnya.

“Aa…a…aa… aku bermimpi aneh…kk..”

“Mimpi buruk?! Coba kau ceritakan.” Tanya Chanyeol penasaran.

“Baru semenit yang lalu aku merasakan hal yang sangat aneh. Lelaki tinggi yang berjiwa setan itu barusan mencium pipiku saat aku tidur dengan tenang dan….”

Dipertengahan kata yang dilontarkan oleh gadis itu Chanyeol hendak menuju ke meja makan itu dihadapannya dan mengambil sepotong kue untuk memaksakan Pani berhenti membicarakan soal itu. Setelah itu Chanyeol duduk didekatnya dan meminta ulang kembali apa yang terjadi pada gadis itu.

“Apa yang kau katakan itu! Tidak jelas. Coba kau ulangi lagi!”

“Itu…Oppa. Barusan tadi aku merasakan ciuman di pipiku yang panas dari Lelaki jangkung berjiwa setan saat aku tidur di bangku putih.”

“Lalu?”

“Lalu, ia melepaskan bibirnya dari pipiku dan …iiiaaa menyadarkanku … lalu ia… mengeluarkan senyuman lembutnya dan ia menampakkan gigii taringnya…iiitt…ttuuu dan langsung berubah menjadi malaikat… dan..gigi yang sangat rapi. Semuanya berubah!! A…ku.. tida..kkk ….”

Hap!

Mendengar hal aneh itu, Chanyeol langsung memasukkan sepotong kue ke mulut Pani dengan paksaan. Ia tak mau kalau Pani melanjutkan cerita mimpinya yang tidak masuk akal karena cerita itu menyangkut dengannya.

“Oppa!!!”

“Hey! Apakah kau meledekku?” Ujar Chanyeol sambil menjitak kepala bulat gadisnya.

“Tidak, Oppa?” Sahutnya sambil mengunyah makanan.

“Lalu, kau katakan tadi ciri-ciri orang yang menciummu itu lelaki yang jangkung, bertelinga besar dan mempunyai jiwa setan. Apakah orang yang ada di dalam mimpimu itu, aku??”

Pani pun terdiam dan mematung.

“Ia , agak mirip denganmu, Oppa. Hahahah.”

“Heyyy!!” Geram Chanyeol.

“Selamat ulang tahun, Oppa.” Ujar gadis itu dengan melemparkan senyumannya. Chanyeol memadangnya dengan perasaan yang begitu senang. Saat ini ia tidak bisa berkata apa-apa, tak  terkecuali untuk mengatakan perasaan……

“Umm.. maaf kalau aku terlambat mengatakan itu padamu, Oppa. Aku sangat meminta maaf atas kejadian sebelumya yang telah membuatmu jadi susah. Maaf, hanya ini saja yang bisa aku berikan untukmu dengan…. perasaan cintaku…. yang tulus, Oppa. Aku…. sangat…”

Tiba-tiba Chanyeol menarik Pani dan melekap tubuh gadis berbadan mungil kedalam dekapannya yang sangat hangat. Pani tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya semakin melemah dan getaran jantungnya bergetar keras, terasa oleh Chanyeol.

Ya tuhan.

“Pani. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Chanyeol sembari haruan yang bahagia.

Glek, Pani pun menelan saliva-nya.

“Walaupun aku ini orang yang menyebalkan bagimu, membuatmu sedih, tetapi aku akan tetap menyangimu. Maaf kalau aku tidak mengatakan hal ini sebelumnya. Terima kasih banyak atas apa yang engkau berikan untukku, aku akan membalas kebaikanmu.”

“Hah, Oppa. Tidak usah begitu?” Pani pun canggung.

“Pani, akan ku berikan kehangatanku untukmu. Mulai dari sekarang, aku akan memberikanmu kasih sayang dan menjadi suami yang baik dan setia untukmu.”

“Oppa??”

“Apa?” Tanya Chanyeol.

“Bisa tidak … Oppa melepaskanku sekarang? Mataku mulai memberat dan Aku harus pergi kekamar untuk beristirahat.” Dengan perlahan, Pani melepaskan pelukan Chanyeol. Tetapi…

“Tidak mau!” Chanyeol semakin mempererat pelukannya.

“Pani, kau tetap disini, bersamaku. SELAMANYA.”  Ujar Pria bersuara bass itu menekankan kalimatnya. Tak lama kemudian, Pani langsung refleks mendorong tubuh pria yang tegap itu.

“Mwo? Selamanya, berada dipelukanmu. Terus, kalau seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak makan, tidak mandi, tidak bekerja dan….”

“Maksudnya, bukan itu, BABO.” Chanyeol pun mengeluarkan senyum sinisnya. Lalu ia pun mendekati wajah merah merona milik gadis itu dan memberikan sebuah ciuman yang sangat lembut. DIKENINGNYA.

CHU~

“A…aaa…aaa. OPPA!!! KAU TELAH MEREBUT CIUMANKU!!!!” Marah Pani yang tidak bisa ditahan dan memukuli pundak Chanyeol.

“Hahahahah” Tawa Chanyeol yang puas.

“Ughhhh… apanya yang lucu?” Geram Pani sembari mengerutkan keningnya.

“Lihat, kedua alismu menyatu, bwahahaha.”

“Oppa puas sekarang? Sudah bisa tertawa, cih” Ejeknya.

“Akhirnya, kau bisa memarahiku. Ternyata, kau lebih galak dari apa yang aku pikirkan.”

“Apa???”

“Auummmm!! Dasar, singa!” Ledek Chanyeol.

“Yaaaa. Oppa, aku sangat malu!!!!” Chanyeol pun menatapnya dengan lekat dan kembali memeluknya.

“Oppa, aku….. “

“Pani, Jeongmal Saranghae.”

“Aku, juga sangat menyayangimu.” Pani pun membalas pelukannya.

 

EPILOG_

 

“Pemandangannya indah sekali, diatas langit yang menghiasi jutaan bintang yang menemani kita di malam hari.” Chanyeol sedang merangkul gadisnya disebuah bangku panjang saat memandangi dan menikmati pemandangan langit yang bersinar.

“Apa kau ngantuk? Pani?”

“Hmmm.. Nde.” Sahut Pani yang semakin lemah.

“Dah, chagi, tidurlah dipundakku.” Tawar Chanyeol.

“Tidak usah, Oppa. Kalau seperti itu, nanti aku bisa terjatuh.”

“Selama masih ada aku, kau tak akan terjatuh  kok. Aku akan menahanmu.”

“Ya, Gomawo, Oppa.” Jawabnya lagi sambil merebahkan kepalanya diatas pundak lebar milik namja-nya.

“Tidurlah Pani, semoga kamu mendapatkan mimpi yang indah. Selamat malam.”

“Selamat Malam, Oppa.” Akhirnya mereka pun tertidur pulas dengan penuh senyuman.

-Happy Ending-

 

Dah.. akhirnya FF versi Happy Virus-nya sudah selesai. Maaf, kalau ff yang saya buatkan ini klimaks-nya tidak nyambung, bahasanya agak kaku, kurang mendapatkan fell atau jalan cerita yang tidak sesuai dengan  apa yang readers pikirkan. Namanya saja ber-IMAJINASI, Hehehe. Tapi, terima kasih banyak ya, buat readers yang telah meluangkan waktunya untuk membaca FF ini. Butuh komen, kritik dan sarannya dari teman semua. Jeongmal Gansahamnida (tunduk hormat dengan penuh syukur).

CU  ^_^

 

Fani.

 

 

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Good Night (Oneshoot)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s