[EXOFFI FACEBOOK] Unfair (Chapter 2)

12710916_918683178249067_7951369076856299310_o

Author : Jo Liyeol

 

Tittle : Unfair

 

Light : Chaptered (words: 2,540)

 

Ratting : 16+ (Untuk penggunaan beberapa bahasa)

 

Main Cast: Kim Jongin | Do Kyungsoo

 

Other: Park Chanyeol | Byun Baekhyun | Oh Sehun | Huang Zi Tao

 

Genre : Drama, Romance, Family, School-life, Friend-ship, little bit hurt.

*summary*

Tak ada satu siswa pun yang mau bergaul dengan anak ter-bully satu sekolah. Terlebih anak-anak dari golongan kasta atas yang bernotabene siswa populer di sekolahnya, sekaligus biang dari adanya pem-bully-an yang terjadi.

Tapi bagaimana jadinya jika siswa kasta atas nomor satu, mendapat hadiah ‘saudara tiri’ siswa terbully yang di anggap paling hina?

 

 

Disclaimer : Tokoh milik Tuhan, orang tua dan Agensi mereka. Tapi cerita, OC, dan Chanyeol real milik Liyeol! =3=

 

Warning! GS! (Only Kyungsoo), Bullying, Typo, AU, EYD terabaikan, OOC (Maybe?), Mainstream, Gaje, Penulisan amatir, Abal, Mengecewakan dan banyak lagi keanehan lain yang merugikan didalamnya =3=

 

 

PROHIBITED COPAS, DON’T BE PLAGIAT, DON’T BE SILENT!

 

Happy Reading ^^

*

*

*

*

*

-Jo Liyeol present-

 

 

Chapter 2 : Black Pearl

Jongin merebahkan tubuhnya di atas ranjang sepulangnya ia dari sekolah tanpa berniat mengganti pakaian sama sekali. Entah kenapa rasanya ia kehilangan mood untuk beraktivitas, bahkan ketika masih di sekolah pun ia kehilangan mood tebar pesona ataupun hanya untuk menjadi sumber perhatian -seperti julukannya- yang ia inginkan hanya cepat pulang, dan menghilang.

 

Sungguh penghinaan yang luar biasa baginya memiliki saudara, siswi yang paling terincar untuk di-bully siswa kalangan atas satu sekolah.

 

Ia ada pada urutan pertama siswa yang paling disegani, dan saudaranya?

 

“Ya Tuhan.” gumam Jongin frustasi sembari membekap wajahnya dengan bantal.

 

Ini baru satu hari mereka resmi bersudara, dan dia telah benar-benar di buat stres setengah mati.

 

Saudaranya? ter-bully di hadapannya sendiri? bahkan di bawah kakinya.

 

Mudah saja bagi Jongin membebaskan Kyungsoo dari keterpurukan hidup yang gadis itu alami di sekolah. Tapi Jongin tidak mau ambil resiko. Bisa saja nanti dia yang malah ikut terjerumus bersama Kyungsoo -meskipun itu sama sekali tidak mungkin terjadi- Tapi tetap saja, gengsi tetaplah gengsi, jika teman-teman satu sekolahnya tau ia bersaudara -tiri- dengan Kyungsoo, habis sudah popularitas yang telah di genggamnya kini. Mau taruh dimana mukanya?

 

Jongin gundah, tapi salah jika ada yang berfikir Jongin tengah mengkhwatirkan keadaan Kyungsoo saat ini. Tak ada yang ia khawatirkan, bahkan kalau mau tau sebenarnya Jongin merasa senang Kyungsoo diperlakukan seperti itu oleh teman-teman sesama kasta atas di sekolahnya, dari awal Jongin tak pernah menaruh simpati pada Kyungsoo ketika gadis itu tengah di-bully seperti tadi siang, dan mengetahui fakta bahwa orang terendah di sekolah menjadi saudara tirinya, Jongin benar-benar merasa kesal, entah kenapa ketika melihat para temannya mem-bully Kyungsoo ia merasa lebih peduli dari sebelumnya- tidak! tidak! sudah kubilang ‘kan? bukan peduli untuk khwatir, tapi kepeduliannya lebih ke arah senang melihat gadis itu disiksa. Mewakili kekesalannya tanpa harus menghajar ataupun menyentuh gadis itu dan mendapat masalah dengan kedua orangtuanya mungkin?

 

Tapi yang menjadi bahan pikiran Jongin adalah perkataan sang ibu yang memintanya untuk menjaga Kyungsoo. Ingat dia anak yang berbakti?

 

Lupakan, Jongin lelah terus memikirkan masalah ini. Ia harus mengistirahatkan otaknya, tidur siang tak buruk juga.

 

Sadar atau tidak, Jongin telah berada di dalam alam bawah sadarnya diatas ranjang dalam kamarnya dengan meringkuk sembari memeluk bantal yang tadi membekap wajahnya.

 

***

Jam telah menunjukkan pukul 15:25 ketika pekikan panik sang ibu membangunkan Jongin dari tidur siangnya. Dia baru tidur kurang dari dua jam, dan ketika sang ibu memekik Jongin dengan cepat melompat dari atas ranjangnya dan bergegas turun ke lantai satu dimana ibunya kini berada -mengingat sang ayah tak ada di rumah karena mendadak ada meeting penting; pria hangat yang sibuk, bahkan di hari seusai pernihakannya.

 

Eomma, wae?!” teriak Jongin yang tengah menuruni deretan anak tangga dengan secepat mungkin untuk menuju ruang tengah.

 

Langkah panik Jongin terhenti, terhenti ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sang ibu tengah mengusap sayang pipi lebam Kyungsoo yang berdiri di hadapannya, namun jelas tersirat raut kekuatiran di sana.

 

“Kyung-ie, apa ini sakit?” dengan sedikit bergetar wanita 40-an itu bertanya pada gadis yang tersenyum kecil di hadapannya.

 

Kyungsoo tau, terlalu sakit jika ia membuka mulut untuk bersuara, maka ia memilih menggeleng kecil untuk menjawab.

 

Dengan insting keibuan yang kuat, ibu Jongin mendudukkan putri tirinya di sofa yang terdekat dengan lembut.

 

“Tunggu di sini, Eomma akan ambilkan obat.” setelah mengatakan sederet kalimat itu dengan garis wajah serius bercampur kuatir yang ia pancarkan, wanita itu melangkah meninggalkan Kyungsoo. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Jongin berdiri tak jauh dari mereka, “Ah! Sayang, jaga Kyungsoo di sana, jangan biarkan dia pergi kemana-mana.” ucapnya serius pada sang putera kemudian melesat meninggalkan Kyungsoo dan Jongin berdua.

 

Peduli setan, Jongin ingin sekali pergi dari tempat ini, kembali kekamar dan melanjutkan mimpinya yang putus di tengah jalan adalah ide terbaik yang terlintas di otaknya. Namun untuk beberapa pertanyaan yang tiba-tiba menghinggapi rongga otaknya, ia tetap bertahan menuruti perintah sang ibu meski hawa panas telah membakar hati dan otaknya kala iris itu menangkap sosok Kyungsoo di dekatnya.

 

Menghajar wajah gadis itu satu kali saja boleh tidak? -bukan aku, itu pertanyaan yang kini terlintas di otak Jongin.

 

Tapi sebenarnya ada hal lain yang lebih menarik perhatian Jongin untuk ia tanyakan pada gadis itu. “Hey!” seru Jongin sekali dengan delikkan tajam yang di balas dengan dongakan dan wajah datar Kyungsoo, “Bukankah tadi siang seragammu sudah hancur tak berbentuk? kenapa sekarang-”

 

“Aku bawa seragam lain di tas,” sela Kyungsoo yang mengalihkan perhatian pada ponselnya yang tiba-tiba bergetar.

 

Jongin menghembuskan hentakan nafas sembari menarik satu sisi bibirnya naik, “Niat sekali. Sudah menjadi kebiasaan, eung?

 

“Ya.” dan jawaban singkat tanpa beban lah yang Kyungsoo keluarkan.

 

Masih dengan smirk-nya Jongin tertawa pelan, meremehkan. “Lalu rambutmu? keramas di sekolah?”

 

“Ya.”

 

“Kau mandi di toilet siswa?” pertanyaan yang masih tetap dengan nada meremehkan kembali terlontar.

 

“Tidak.”

 

“Lalu?”

 

Kyungsoo meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian kembali mendongak untuk mengarahkan wajah datarnya pada Jongin, “Penting untukmu mengetahui bagaimana caraku bertransformasi menjadi bersih kembali?” Kyungsoo sadar ini sakit, luka lebamnya belum di obati. Tapi mau bagaimana lagi? saudara tirinya ini pasti akan terus bertanya dengan pertanyaan tak pentingnya.

 

Mendengar jawaban dengan nada dan ekspresi datar yang menantang dirinya itu membuat Jongin mendecih kesal, “Kau-”

 

Belum sempat Jongin kembali membuka suara sang ibu tiba-tiba datang dengan setengah berlari membawa kotak P3K. Memposisikan diri duduk di sebelah Kyungsoo setelah melewati puteranya begitu saja.

 

Jongin kesal, dan bertambah kesal ketika melihat perhatian ibunya sangat besar untuk seorang gadis yang ingin sekali ia hajar.

 

***

 

Jam telah menunjukkan pukul 19 lewat 15 menit. Saatnya makan malam untuk sebuah keluarga kecil yang baru tercipta kemarin ini.

 

Berbagai alat makan telah tertata rapih di atas meja dalam pantry. Seorang wanita paruh baya disibukan dengan aktivitasnya mengaduk sup yang siap dihidangkan, di dekatnya seorang gadis muda tengah menyibukkan diri dengan masakan bulgogi yang ditata di atas meja.

 

Wanita tadi mematikan kompor saat ia rasa sup-nya sudah benar-benar masak, kemudian mengambil sedikit sup yang ia buat dengan sendok sayur sebagai sempel untuk ia cicipi.

 

“Kyung-ie, kemarilah.” ucapnya lembut.

 

Yang merasa terpanggil mengalihkan pandang, lalu beringsut mendekat. “Ne Eomma?

 

“Coba kau rasakan ini.” wanita tadi kembali berucap dengan lembut sembari menyodorkan sendok sayur yang ia pegang pada celah bibir gadis di hadapannya. Sang gadis menerima, ia membuka mulutnya lalu menyesap sup itu. Menelannya dengan perlahan hingga tak tersisa sup di dalam sendok sayur yang di pegang ibu tirinya.

 

“Bagaimana?” pertanyaan antusias diiringi tatapan berbinar itu menyambut kala sang gadis berhenti menelan.

 

Kyungsoo. Gadis itu mendongak, menatap ibu tirinya dengan senyum manis. “Masita.”

 

Mendengar pujian itu, sang wanita paruh baya tadi tersenyum cerah kemudian mengelus sayang helaian panjang Kyungsoo dengan gemas. Di balas dengan senyum manis Kyungsoo yang semakin mengembang. Ia suka ini, ia suka ketika ibu tirinya mengelus sayang helaian panjangnya sembari tersenyum lembut, mengingatkannya pada sang ibu kandung yang telah tiada.

 

Untuk beberapa menit pemandangan seperti itu terus berlanjut hingga langkah kaki terdengar menggema mendekati mereka.

 

Sang wanita paruh baya mendongak -orang pertama yang menyadari ada sosok lain di dalam pantry selain mereka berdua, “Jongin-ie. Sudah bangun sayang?”

 

Yang di panggil mengangguk kecil dengan seulas senyum simpul yang di paksakan.

 

Mendengar nama itu dipanggil Kyungsoo menoleh, mendapati sang saudara tiri tengah berdiri di ambang pintu penghubung pantry dan ruang tengah.

 

Setelah melempar senyum hangat untuk puteranya, wanita paruh baya tadi kembali menghadap Kyungsoo kemudian kembali mengelus suray sang puteri dengan senyum yang sama sebelum ia berbalik untuk kembali menghadap kompor.

 

Senyum simpul yang di paksakan kehadirannya memudar kala iris pemuda tan itu bersinggungan dengan bola mata besar Kyungsoo, terganti dengan gertakkan rahang serta tatapan tajam yang menusuk.

 

“Kemarilah Sayang, bantu Eomma meletakkan sup ke atas meja.” wanita itu berujar tanpan membalikkan tubuhnya.

 

Kyungsoo menoleh ke arah wanita itu, “Biar aku saja yang meletakkannya, Eomma.” ujarnya sembari beringsut mendekat.

 

“Tapi ini panas Kyung-ie.” raut wanita paruh baya itu terlihat khawatir kala jemari lentik Kyungsoo mulai meraih kedua pegangan panci sup di atas kompor.

 

Gewanchigana, eomma. Aku bisa-” ucapan gadis itu tertahan ketika sebuah dorongan ia rasakan, membuat tubuhnya terhuyung satu meter menjauh dari kompor.

 

Jongin. Pemuda berkulit tan itu yang mendorongnya. Tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun Jongin mengangkat panci sup tadi dan memindahkannya keatas meja tak jauh dari sana.

 

Appa pulang!!” seruan yang berasal dari pintu masuk itu seketika mengalihkan perhatian ketiga orang didalam pantry ini.

 

Sang wanita tadi kembali tersenyum lembut, “Kyung-ie, tolong lanjutkan menata piring-piringnya ya. Dan sayang, bantu Kyungsoo.” ujarnya bergantian untuk kedua anak yang ada di dekatnya, setelahnya ia bergegas menuju ruang tengah.

 

Hening sebentar sebelum Kyungsoo berjalan mendekati meja makan, membuat Jongin mendelik seketika.

 

Tanpa memperdulikan Jongin yang ada di dekatnya, Kyungsoo kembali melakukan aktivitas awal yang ia kerjakan sebelumnya -menata piring dan daging bulgogi di atas meja.

 

Puas mendelik, Jongin mendengus kasar. Kemudian beringsut mendekati kulkas, membukanya dan mengambil sebotol air mineral dari dalam sana. Hendak saja ia akan menengguk air dalam botol itu, namun sebuah tangan memegang pergelangan tangan kanannya terlebih dahulu -membuat pergerakannya terhenti seketika. Jongin menoleh, bermaksud melihat siapa yang berani menghentikan aktivitasnya ini.

 

Kyungsoo.

 

Satu nama yang tentu saja Jongin muak mendengarnya, dan lebih muak melihat sosok dari pemilik nama itu.

 

Namun sang pemilik nama itulah yang kini tengah menahan pergerakan tangan kanannya untuk melesakkan air kedalam tonggorokannya.

 

Dengan tepisan kasar Jongin melepaskan jemari Kyungsoo dari lengannya, di iringi tatapan tajam yang tak lupa turut ia sertakan untuk menatap sang saudara tiri, “Wae?” tanyanya dingin.

 

Tak menjawab, Kyungsoo malah menyodorkan sebuah gelas ke arah Jongin. Membuat remaja berkulit tan itu mengernyit kesal. Malas menunggu Jongin menerima gelas pemberiannya Kyungsoo memilih meletakkan gelas itu di atas meja nakas disebelah kulkas. Kemudian kembali melangkah ke arah meja makan untuk melanjutkan aktivitasnya -diiringi tatapan tajam Jongin yang terus mengikuti pergerakannya.

 

“Jika kau ingin minum, gunakan gelas.” Kyungsoo berucap tanpa berbalik untuk menghadap sang lawan bicara.

 

Jongin tau dia tidak terlalu pintar dalam bidang akademik, tapi ia tau pasti bahwa gadis yang sedang membelakanginya itu tengah bicara padanya. Dengan sekali hembusan kasar Jongin meraih gelas pemberian Kyungsoo yang ada di atas meja nakas-pantry. Menuangkan setengah air mineralnya, meletakkan botol yang ia genggam menggantikan peran gelas yang diberikan Kyungsoo tadi di atas meja nakas, kemudian bersiap menengguk air itu sebelum suara Kyungsoo kembali terdengar, mengintrupsi pergerakannya kembali.

 

“Dan biasakan ketika memasukkan apapun ke dalam tubuhmu kau dalam posisi duduk, atau saraf kelana-mu (saraf otak kesepuluh) akan rusak.”

 

Jongin mengernyit, semakin menatap sebal punggung gadis yang tengah membelakanginya itu. Tak berselang lama ia memilih untuk mendekati sang gadis- tidak, dia berjalan mendekati kursi yang ada di dekat gadis itu. Mendudukinya tanpa meminta izin, lalu menengguk habis air yang berada di gelas dalam genggamannya dengan satu tarikan napas.

 

Selang tiga detik, Kyungsoo menghela napas halus kala menyadari tugasnya sudah selesai. Ia beringsut, berjalan mendekati kulkas meninggalkan Jongin yang menatapnya penuh tanya dengan tetepan tajam. Mengambil beberapa puding buah cup dari dalam sana, kemudian meletakkannya di tengah meja. Masih tetap tak memperdulikan tatapan tajam serta sang pemilik tatapan itu yang ada di dekatnya, Kyungsoo berjalan kearah pintu. Namun langkahnya terhenti kala suara berat saudara tirinya mengintrupsi.

 

“Bangsat, berhenti bersikap sok manis di depan ibuku.”

 

Kyungsoo menarik sebelah sudut bibirnya mendengar kalimat itu, tanpa berbalik ia menjawab, “Bukankah seharusnya kau mengatakan itu untuk dirimu sendiri?” kemudian kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Jongin yang menggeram kesal di buatnya.

 

“Sialan kau Do Kyungsoo.”

 

***

 

Matahari telah memancarkan sedikit biasnya, jam kini telah menunjukkan pukul 06:45.

 

Kyungsoo yang baru saja selesai membantu ibu tirinya membuat sarapan dikejutkan dengan leher Jongin yang muncul tiba-tiba di hadapan wajahnya. Perlu di ketahui tinggi Kyungsoo hanya sebatas leher atas Jongin. Remaja berusia 18 tahun itu semakin terkejut kala dirinya menurunkan pandangan dan mendapati dada polos Jongin yang tak tertutupi sehelai benangpun. Memilih alternatif lain, Kyungsoo mendongak, kini wajah datar saudara tirinya itulah yang tepat berada di hadapan wajahnya.

 

“Menyingkir dari jalanku.” ucapan yang tersirat penuh penekanan itu terlontar diiringi dengan tatapan tajam Jongin yang membalas tatapan datar Kyungsoo.

 

Malas meladeni, Kyungsoo mengalihkan pandangan kemudian menyingkir walaupun dalam hati ia sesungguhnya tidak terima. Dan Jongin melenggang begitu saja ke arah kamar mandi.

 

“Kyung-ie.” suara lembut itu membuat Kyungsoo berbalik, menghadapkan dirinya dengan sang ibu tiri yang tengah membawa tumpukan pakaian kotor di dalam keranjang.

 

Ne Eomma?”

 

“Bisa tolong ambilkan pakaian kotor di kamar Jongin?”

 

Kyungsoo tersenyum, mengangguk pelan, lalu melangkah ke arah kamar Jongin yang ada di sebelah kamarnya di lantai dua.

 

Sesampainya di sana, Kyungsoo mengambil pakaian kotor yang tergeletak maupun yang tersampir.

 

Kyungsoo mendecak kala menyadari keadaan kamar Jongin yang sangat berantakan, “Namja.” gumamnya.

 

Ia meletakkan pakaian kotor Jongin di atas sofa, lalu dengan cekatan membereskan kamar Jongin hingga benar-benar bersih. Setelah dirasanya telah selesai ia kembali mengambil pakaian kotor itu dan hendak meninggalkan kamar ini, namun pergerakkannya terhenti kala irisnya menangkap sang pemilik kamar yang muncul dari balik pintu.

 

Kyungsoo diam, Jongin terkejut.

 

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” pertanyaan yang tersirat penuh amarah itu terlontar.

 

“Mengambil pakaian kotormu.” jawab Kyungsoo sembari mendekati Jongin, melangkah ke arah pintu.

 

Jongin diam. Memperhatikan Kyungsoo yang semakin lama semakin mendekat dengan tatapan tajamnya, berharap dapat memusnahkan sang saudara tiri dengan tatapan itu. Kala Kyungsoo tepat berada di sisinya, pemuda berkulit tan itu mengangkat tangan kanannya untuk mencengkram pergelangan tangan kiri Kyungsoo, yang dengan secara tidak langsung menghentikan pergerakkan gadis itu.

 

Sakit?

 

Jelas saja, Jongin terlalu erat mencengkram pergelangan tangan Kyungsoo.

 

Gadis itu menghela napas, mengatakan pada dirinya sendiri untuk memaklumi kelakukan saudara tirinya ini, “Eomma meminta tolong padaku.”

 

Mendengar pernyataan itu, Jongin semakin mempererat cengkremannya, “Jalang, berhenti memanggilnya eomma.”

 

Yang dipanggil dengan sebutan ‘Jalang’ malah menarik sebelah sudut bibirnya keatas, seakan tak ada beban ia berkata dengan nada datar khas-nya, “Kalau begitu berhenti memanggil ayahku dengan sebutan appa.” kemudian gadis itu menepis kasar cengkrama tangan Jongin dari pergelangan tangannya, lalu kembali melangkah, terhenti tepat di ambang pintu sebelum menghilang. “Dan minta pada Ibumu untuk bercerai dengan Ayahku.”

 

Tepat ketika bunyi pintu tertutup terdengar dari arah belakangnya, Jongin menggeram kesal, detik selanjutnya ia memekik kencang.

 

“Jalang, sialan! Mati kau Do Kyungsoo … !!”

 

 

 

 

 

To Be Contiuned^^

Hai hai =w= Mungkin untuk sebagian readers rada nganu(?) Kyungsoo jadi cwe begini. Tapikan udah Liyeol peringatin di awal, ini ff GS!Kyungsoo… jadi kalo emang ga suka/kurang nge-feel Kyungsoo jadi cwe jangan di baca yaaa =w= Liyeol ga maksa kalian buat baca ff ini ko >w<

Sudahlah… Review Juseyo °O°

 

Ppyong! Saranghae Bbuing! ^^v

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FACEBOOK] Unfair (Chapter 2)”

  1. kyaaaaa,,,ini kan hanya fiksi,,ga masalh kyungsoo jd cewe,,,dan lbh klop klo posternya jg pke Kyung fersi cewe,,kyaaaa Kyung manis bnget/ klo jd cewe/
    kisahnya sngat menarik,,suka jg karaktet Kyung,,ye wlopun terbully d sekolah,,tp tetap tenang,,sabar,,,/ masi penasaran jg knp kyungsoo ga melawan /??
    dan sikap kyungsoo pas interaksi dng jongin pun,,itu kerenn pisan oe!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s