CODE NAME LIV: SPIN-OFF [2] — IRISH`s Story

irish-code-name-liv-spin-off

Code Name LIV

With EXO’s Byun Baekhyun as B/B-54, EXO’s Oh Sehun as O’Child

And

OC’s Liv (known as LIV/54 viral’s code)

A sci-fi, family, slight!crime story rated by PG-16 in mini-chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved

Sometimes the most real things in the world are the things we can’t see.”—The Polar Express, 2004, said by Liv.

Previous Chapter

Chapter 1: Black Area and O’Child || Chapter 2: Not A Crime, Just Loneliness || Chapter 3: Depend On Me || SPIN-OFF [1]: Memories From The Past || [NOW] SPIN-OFF [2]: Mosaic

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

.

.

.

Memori, misteri. Dua kata yang bisa menciptakan sebuah kehancuran dan rasa bersalah. Lantas, untuk apa ada memori jika kejahatan menenggelamkannya? Akankah rasa bersalah bisa membangkitkannya?

.

.

In Author’s Eyes…

“Bagaimana keadaannya, Ayah?” seorang gadis melirik ke arah papan yang tengah dipengang oleh lelaki paruh baya berpakaian putih. Di tatapnya lekat-lekat tiap kata yang ditulis sang ayah sementara ia sendiri bersikap seolah menaruh perhatian pada tubuh tak berdaya yang terbaring di atas bed.

“Dia masih hidup. Sebuah keajaiban, Sullivan, setelah melewati dua kali masa kritis.” tutur sang ayah membuat gadis bersurai sewarna jagung itu mengangguk-angguk paham.

“Dimana luka tembaknya? Aku tidak melihat perban di tubuhnya.” Sullivan lagi-lagi berucap, membuat sang ayah menatap dengan alis terangkat.

“Jangan bercanda dengan Ayah, nak.” ujar sang ayah membuat Sullivan tertawa pelan, lantas melangkah mendekati tubuh tak sadarkan diri itu dan dengan hati-hati menggunakan jemari lentiknya menyibak sisi pakaian yang dikenakan sosok itu.

“Ugh, dua tembakan di perut?” gumam Sullivan, “kenapa mereka sangat tidak berperasaan? Dia hanya anak kecil.” sambung Sullivan, diikuti nada geram yang tersirat, sementara dahinya berkerut, tak tega untuk terus menatap perban melingkar di bagian dalam tubuh sang anak.

“Bagaimana keadaan kakaknya?” tanya ayah Sullivan, mengabaikan komentar geram gadis itu.

Sullivan beranjak mundur, menghela nafas sejenak sebelum ia mengangkat bahu acuh. “Dia baik-baik saja, kurasa.” ujarnya, sedetik kemudian kembali melanjutkan, “seperti yang orang-orang kira, dia bisa bertahan dan beradaptasi dengan cepat.”

Sang ayah terdiam sejenak.

“Adiknya begitu menyedihkan.” gumam pria itu membuat Sullivan mengalihkan atensinya, sungguh tak biasa baginya mendengar sebuah empati meluncur keluar dari bibir sang ayah.

“Apa ini taktik lain untuk membuatku melakukan tugas baru?” tebak Sullivan mengundang tawa sang ayah.

“Tidak, nak. Sungguh. Dokter Byun adalah seorang yang kukenal dekat.” ujarnya, kembali, Sullivan menatap curiga.

“Lalu kenapa ayah setuju menjadi bagian dari percobaan ini?” tanyanya menyelidik.

“Kukira aku bisa mengawasi mereka dengan lebih baik, Inspektur Howard.” ujar sang ayah, menyebut pangkat putri semata wayangnya, sekaligus membuat Sullivan tergelak karena ia ingat jelas tentang nama yang baru saja disebut.

Sullivan Howard. Namanya.

Ugh, ayah membuatku merinding karena menyebutku seperti itu.” Sullivan tergelak, mengecup pipi sang ayah sekilas sebelum ia akhirnya melangkah ke arah pintu.

Hey, jangan lupa persiapkan pengintaian untuk mereka berdua.” pesan sang ayah.

“Iya, aku tak akan lupa, Profesor Howard.” canda Sullivan.

“Kau ingat password untuk mengaksesnya bukan?” tanya sang ayah segera dijawab dengan anggukan mantap oleh Sullivan.

Aquino. Aku ingat passwordnya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hey, apa yang sedang kau lakukan?” Sullivan tiba di ruangan tertutup yang hanya ditinggali oleh seorang anak laki-laki—Byun Baekhyun. Gadis itu melepas jaket yang ia kenakan dan lantas merapikan rambut jagungnya yang sedikit acak-acakan sementara atensinya masih bersarang pada satu fokus yang sama.

“Tidak ada, hanya sedikit bermain dengan sistem.” sahut Baekhyun, sepasang mata sipit miliknya tampak sembap, dan wajahnya juga memerah, sangat kentara jika ia baru saja selesai menangis.

Menyadari keadaan lawan bicaranya, Sullivan akhirnya merebahkan tubuh di kursi yang ada di sebelah Baekhyun, untuk kemudian memperhatikan kegiatan Baekhyun dalam diam.

“Ada apa?” tanya Baekhyun, tahu jika ia tengah diperhatikan meski tatapannya masih tertuju pada layar belasan inch di hadapan.

“Kenapa kau menangis?” Sullivan memulai pembicaraan, sejenak, sanggup membuat jemari kecil Baekhyun berhenti bergerak di atas keyboard, disusul dengan menghilangnya ekspresi tenang yang tadinya ada di wajah mungil Baekhyun.

“Aku rindu keluargaku.” tutur Baekhyun jujur, lagipula, untuk apa berbohong saat ia tak lagi bisa membedakan siapa yang harus ia percaya dan siapa yang tidak?

Sullivan terdiam sejenak. “Tidakkah kau penasaran?” tanyanya sejurus kemudian.

“Tentang apa?” Baekhyun menatap sekilas, tak begitu tertarik.

“Siapa yang membunuh keluargamu.”

Oh, tentu Baekhyun ingat bagaimana ibu dan ayahnya mati, ia juga ingat bagaimana adik tirinya, Oh Sehun, mendapatkan dua tembakan yang diyakininya juga mengakhiri hidup sang adik.

Dan bukannya Baekhyun tidak menyayangi kedua orang tuanya. Bagi Baekhyun, sudah terlalu banyak luka dan kenangan buruk yang ia dapatkan dari orang tuanya, menyisakan ruang gelap yang sesungguhnya tak ingin Baekhyun sentuh.

Namun, mengetahui bahwa orang-orang yang telah membunuh kedua orang tuanya adalah orang yang sama dengan yang membunuh adiknya, Baekhyun merasa terusik.

“Apa kau mengenal mereka?” tanya Baekhyun, maniknya kini bersarang pada Sullivan, membuat gadis itu sejenak ingin tertawa geli karena mendengar kata ‘mengenal’ yang meluncur dari bibir Baekhyun seolah sebuah ramalan.

“Bagaimana kau tahu?” Sullivan balik bertanya.

“Bahwa mereka adalah orang-orang yang kau kenal?” ujar Baekhyun, sebelah alisnya terangkat untuk kemudian membuat Baekhyun menggerakkan jemarinya di keyboard dengan cepat dan sekon selanjutnya berhasil membuat Sullivan terperangah.

Baekhyun baru saja memindahkan rekaman kamera pengawas koridor tempat ruangannya berada ke dalam layar proyektor besar yang terbentuk di jendela kamar.

“Ah, aku sungguh tidak terkejut.” ujar Sullivan, berbohong tentunya, “Semua orang mengatakan bahwa kau adalah seorang anak yang jenius.” sambung gadis itu, menyibak surai sewarna jagungnya untuk kemudian duduk manis dan memangku dagu sembari menatap layar proyektor di hadapannya dengan penuh perhatian.

“Tapi kau tidak khawatir mereka mendapati viralmu berkeliaran di dalam sistem?” tanya Sullivan membuat Baekhyun menyernyit.

“Mereka mungkin berdiam, tapi aku yakin mereka sekarang sedang menertawakan mainan kecilmu yang berputar dalam labirin. Berusaha memperoleh informasi, padahal kau tak akan dapat apa-apa.” tutur Sullivan.

“Lalu kenapa kau mengatakannya padaku? Kau bagian dari mereka juga bukan?” Baekhyun kembali bertanya.

Sullivan tersenyum simpul.

“Apa kau tidak mengerti?”

Baekhyun bungkam. Memang, ia tak mengerti keadaan konyol yang dihadapinya sekarang. Satu hal yang ditangkapnya dengan pasti, Sullivan sudah menyelamatkannya, sedangkan Sullivan bekerja di tempat yang sama dengan orang-orang yang membunuh keluarganya.

“Apa kau masih ingat namaku?” tanya Sullivan sejurus kemudian.

“Sullivan Eileen Aquino.” Baekhyun lekas menyahut.

Sullivan berdiri, menepuk puncak kepala Baekhyun beberapa kali sebelum ia akhirnya berucap.

“Jangan pernah lupakan namaku, suatu hari kau akan tahu apa peranku.”

Gadis itu kemudian melenggang pergi, meninggalkan Baekhyun dalam keterperangahan tak mengerti yang bahkan membuat Baekhyun tak bersuara.

Sesaat sebelum menutup pintu ruangan Baekhyun, Sullivan berbalik.

“Dan juga, jangan percaya pada siapapun.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau… siapa?”

Seorang gadis berambut sewarna jagung yang dipotong sebatas bahu mendongak, tersadar jika seseorang baru saja bicara padanya. Seseorang yang telah tertidur selama beberapa tahun lamanya.

“Kau sadar?” sang gadis, Sullivan, berucap terkejut, maniknya segera berkeliaran mengawasi keberadaan beberapa orang penjaga yang biasanya selalu ada.

“Kau siapa?” kembali, Sullivan mendapatkan pertanyaan yang sama.

Sullivan kembali mengabaikan pertanyaan sosok itu, manik karamelnya menatap tak percaya pada kalender digital yang ada di dinding.

“Apa kau tidak merasa otot-ototmu kaku?” Sullivan bergumam, jemarinya kemudian sibuk membolak-balik kertas yang tadi sempat beralih fungsi menjadi bantal pengalas tidurnya di meja.

“Kau sudah tertidur selama hampir dua tahun.” lagi-lagi Sullivan berucap, kali ini menatap sang sosok yang tak lain adalah Oh Sehun, dengan sepasang mata sarat akan haru.

“Dua tahun?” Sehun menyernyit, tampak berusaha mengingat, “apa yang sudah terjadi?” pertanyaan itu sanggup menghentikan kinerja jantung Sullivan selama beberapa sekon.

“Kau… tidak mengingat apapun?” tanya Sullivan, terkejut.

Sehun hanya terdiam, dahinya berkerut tak mengerti. Kenapa pula ia bisa ada di tempat asing seperti ini?

“Inspektur Howard, dia sudah terjaga?”

Bahu Sullivan terlonjak kala mendengar bariton khas yang sebenarnya dihindarinya.

“O-Oh. Dia sudah terbangun. Baru saja.” ujar Sullivan, berbalik untuk menghadap tegap tubuh sang pimpinan.

“Bagaimana keadaannya?” tanya sang pimpinan dengan nada tak peduli.

“Well, dia sepertinya tidak mengingat apapun.”

Sebuah senyum samar muncul di wajah sang pimpinan.

“Benarkah?”

Sullivan menatap waspada. Sungguh ia mengerti nada bicara seperti ini akan berujung pada sesuatu yang buruk. Dan demi apapun, Ayahnya tidak meninggalkan dua orang anak pada Sullivan untuk sekedar dijadikan robot pekerja pimpinannya sementara dua orang—bersaudara—itu bahkan tak saling mengingat satu sama lain.

“Letnan, aku harus—”

“Tidak. Kau tidak perlu melakukan pemeriksaan apapun, Nona Howard. Kami bisa membuatnya ingat pada masa lalunya, jika ia ingin.” ujar sang pimpinan.

“Tapi Letnan, dia hanya anak kecil.” Sullivan akhirnya tak tahan.

Cukuplah dirinya yang menjadi bahan siksaan dan menghabiskan bertahun-tahun membosankan di tempat seperti ini. Ia benar-benar enggan membayangkan dua orang anak harus menghabiskan waktu untuk hal yang lebih buruk dari yang ia dapatkan. Terutama, karena ia tahu sendiri bagaimana kedua anak itu telah direnggut kehidupannya.

“Kau selesai dengan tugasmu. Kembalilah ke Boston, Nona Howard.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sehun tidak mengerti. Kenapa ia sekarang berada diruangan tertutup pengap yang hanya berisi perlengkapan elektronik. Ia bahkan tak ingat namanya, atau apa yang sudah terjadi padanya. Kenapa lantas ia harus dihadapkan pada keadaan seperti ini?

Satu sisi kekanakannya ingin menangis, tapi melihat jajaran personal computer di meja sungguh menarik perhatiannya. Seolah ia dulu hidup dengan benda-benda itu, seolah barang-barang elektronik itu adalah bagian dari kehidupan yang ia lupakan.

Mengikuti naluri, Sehun akhirnya duduk di hadapan salah satu layar komputer, menatap layar kosong yang memantulkan wajahnya. Oh, jangan lupa bagaimana Sehun sebenarnya tidak mengingat seperti apa wajahnya, dan sekarang akhirnya ia bisa melihat bagaimana wajahnya sendiri.

“Sehun-ah…”

Ingatan lembut kini berputar dalam benaknya. Membuat Sehun yakin ia sangat mengenal pemilik suara sementara ia tak mengingatnya. Satu hal yang sekarang ada di ingatannya adalah mozaik kecil yang baru saja di dengarnya.

“Sehun. Apa namaku Sehun?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Alih-alih merasa khawatir pada keadaan seorang anak yang ruangannya bahkan tidak diketahui dimana letaknya, Sullivan lebih memilih mengawasi aktivitas seorang anak lagi—yang lebih dekat dengannya—dan lebih bisa diawasinya.

Akhirnya, senja ini Sullivan duduk di sebelah sang anak, memperhatikan bagaimana kesepuluh jari mungil sang anak bisa bergerak begitu cepat di atas keyboard hanya untuk menciptakan command-command kecil yang akibatnya membuat Sullivan sedikit merasa terhibur.

Bagaimana Sullivan tidak tergelak kala sang anak berhasil merusak susunan channel televisi hanya dalam beberapa menit?

“Lihat? Aku menang taruhan kita kali ini.” sang anak, Baekhyun, tergelak, dengan penuh kemenangan ia merebahkan tubuh di sandaran kursi, tersenyum puas menatap salah satu monitor yang menampakkan bagaimana channel televisi sekarang—yang sudah berubah kacau.

Sebenarnya, Sullivan tahu tindakan iseng Baekhyun bisa membuat kerugian berjuta dollar. Tapi selama ia merasa Baekhyun senang dengan kegiatan semacam itu, untuk apa ia khawatir?

“Baiklah, baiklah. Kau inggin Pizza bukan? Aku akan belikan sesuai dengan janjiku.” ujar Sullivan.

Selama beberapa bulan ini ia kerapkali bertaruh dengan Baekhyun, menggunakan iming-iming barang yang Baekhyun inginkan, setidaknya Sullivan bisa memastikan Baekhyun bisa mengembangkan kemampuannya.

“Benarkah? Pizza dengan taburan keju dan pinggiran keju?” ucap Baekhyun antusias.

“Ya, ya, aku akan belikan dua sebagai bonus.” kata Sullivan.

Yes!” Baekhyun melayangkan tinjunya ke udara, raut ceria Baekhyun membuat Sullivan merasa senang juga, mengingat bagaimana terpuruknya Baekhyun di bulan-bulan pertama ia berada di tempat ini.

“Oh, bonus ini tentu saja tidak cuma-cuma.” ujar Sullivan.

“Apa?” alis Baekhyun terangkat tak mengerti.

“Aku minta dua taruhan lagi.” Sullivan menatap Baekhyun serius, “pertama, dalam dua minggu, kau harus bisa membuat command yang tidak dideteksi oleh anti-viral manapun.”

Sejenak, Baekhyun terdiam. Terang saja Sullivan seharusnya tahu bagaimana Baekhyun sudah berusaha untuk menciptakan command semacam itu dan hasilnya selalu sama, gagal.

“Tapi aku—”

“Kau bisa, Baekhyun. Kau bisa menciptakannya. Karena kau seorang jenius.”

Lagi-lagi Baekhyun terdiam. Alih-alih kembali mempertanyakan ketidak bisaannya, ia akhirnya menatap Sullivan.

“Apa imbalan untuk taruhan ini?”

Sullivan tersenyum penuh kemenangan.

“Imbalannya? Taruhan terakhirku adalah imbalannya.”

“Apa? Mana bisa seperti itu?” tuntut Baekhyun segera membuat Sullivan tergelak.

“Kau tidak penasaran dengan taruhan terakhirku?” tanyanya berhasil membungkam Baekhyun.

Setahu Baekhyun, Sullivan tak pernah memberinya tantangan yang mudah. Dan Sullivan juga tak pernah berbohong soal imbalannya.

“Dan apa imbalan untuk taruhan terakhirnya?”

Sullivan terdiam sejenak.

“Jawaban yang kau inginkan.”

“Apa maksudmu?” Baekhyun berucap tak mengerti.

Sullivan lagi-lagi terdiam. Menatap Baekhyun dengan segala perasaan bersalah yang membelenggunya. Meski ia bukan seorang yang bertanggung jawab atas keadaan Baekhyun sekarang, tapi ia juga telah melukai Baekhyun.

Sullivan adalah agen yang bertugas mengawasi Baekhyun selama ia ada di tempat ini. Dan Sullivan tahu, Baekhyun akan terluka jika tahu Sullivan adalah satu dari sekian banyak orang yang berusaha merenggut kehidupannya.

Itulah mengapa, Sullivan sudah menyusun sebuah rencana.

Rencana yang akan membuatnya bisa berlari dari semua ini, sekaligus membawa kedua anak yang terbelenggu di gedung ini untuk berlari di jalur yang berbeda dengannya. Tapi satu yang jadi tujuan mereka, kebebasan.

“Kau seorang jenius, Baekhyun. Kau pasti tahu apa jawaban yang kubicarakan.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

Bukan hanya Sehun dan Baekhyun yang terbelenggu. Bukan juga kegalauan Sullivan. Tapi aku juga terbelenggu, sama satu kata: kerjaan—yang jeratnya mematikan sekaligus melelahkan.

ITU BAHASA ANAK ALAY BERNAMA IRISH.

Jadi ceritanya, akhir-akhir ini—setelah recover dari keadaan menyedihkan pasca kecelakaan—ada banyak deadline kerjaan (nyata maupun maya) yang harus kuselesaikan. Karena Irish itu diotaknya ada peri-peri fantasynya, jadi saat ada begitu banyak fanfiksi yang otewe eh peri-peri kecil bernama ide malah muncul dan lebih deres pula, saingan sama menstruasi di hari pertama yang seringkali berujung bocor. /apasihrish. readersgapahamrish/

Intinya, otak aku lagi begitu semangat buat mengangkat cerita yang anti mainstream lagi, dan karena outline nya gak kutulis (idenya cuma ada diotak doang) akhirnya aku harus balapan sama waktu buat ngetik karena takut idenya ilang.

KASIAN Sehun dan Baekhyun sampe terlupakan selama sebulan. BUAHAHA. Gapapa. Asal mereka survive di ingatan readers mah gapapa ya.

Oiya, fyi spin-off selanjutnya adalah spin-off terakhir, jadi kalau di spin-off selanjutnya kalian masih ga ngeh sama tujuan spin-off ini, tolong tanyakan jadi kalian gak tersasar ke dunia lain ya~

Sekian cuap-cuap dariku, salam ketjup dan sayang. Irish.

.

Show! Show! Show! Let’s come to my SHOW!

[ https://beepbeepbaby.wordpress.com/ ]

Sincerely, IRISH.

87 tanggapan untuk “CODE NAME LIV: SPIN-OFF [2] — IRISH`s Story”

  1. Kasian sehuunnn
    Sehun kaya nya lebih tersiksa ketimbang baek:((
    Imbalan buat baek apasih???
    Apa imbalannya ketemu sama sehun kah???
    Feelingku kok bilang gitu yaa :3
    Ehehe

  2. uuuwoo…Siapa sih si pimpinannany itu n tujuanny buat apa sih..
    oh jdi karna itu baekhyun mnciptkn liv..trus liv yg skrg akan kmna?(mksdku apa iya dia berhasil mbwa pergi baek sama oh kan klo dicrtany/ yg bkan spin off kayak” nya si liv ini gk ada)..ah tau ah next aja lah biar ngk klamaan mikir haha

  3. Padahal tinggal di 1 gedung yg sama 😦 tp kk-ade itu ga saling tau keberadaan masing2 😥 pengen cpt2 smp ke scene mengharukan saat 2 brothers itu reunite >//< Sehun-i anak baik, ga prnh nunjukin rasa skt di dlm diri'ny 😥 semua dy rasain sendiri & slalu ksh senyum tulus ke org2. Irish, jgn mati-in Sehun pliss.. Jd mikir pas di chptr 2 yg Sehun 'nanem' antidote ke Liv & Sehun jd tau semua command di dlm Liv itu, Sehun nyadar ga sih/pura2 ga tau klo dy tu ade'ny Baek? itu suara'ny Liv disetting Baek ky suara'ny Sullivan ya? Pizza.. jd inget hr trakhr knsr EXO'rDIUM bbrp hr kmrn yg Baek bilang dy mo mkn Pizza bis knsr & say goodbye bwt Abs'ny 😀 wkkk~

  4. Kalo yg ini aku udah baca belom?
    Kok aku lupa juga jadi aku baca lagi wkwkwkwkw..

    Sudah kubilang dari awal..
    Dari Liv belum debut..
    Dari Liv cuma mau diciptakan oneshot.
    Dari Liv masih jadi cadangannya 10 step to get a boyfriend.
    Aku sudah jatuh cinta sama Liv.
    Walaupun si Liv nya gak nongol di sini, aku rindu Liv!
    Tapi aku sukak sama yang ini wkwkwk..

    Lanjutkeeennn!!

  5. Aarggghh baekhyun-sehun-sullivan berlari-lari di otak ku membuat ku penasaran kak irish lanjutkan oke baekhyun pinter nya warbiasa padahal msh kecil udh ah cuap” nya bingung mau ngomong apa lg KAK IRISH I’M WAITING NEXT CHAP YEUU ><

  6. Dari semua ff kakak yg pernah ku baca … aku paling suka yang ini dan selalu nunggu kelanjutannya! Kak terima kasih karena udah bikin aku penasaran lagi… mohon cepet dilanjut dan semangat terus kak irish!!!!

  7. Hallo irish. Ini fanfik kedua kamu yg aku baca. Setelah emmm apa ya itu judulnya. Pokoknya ttg virus dan vampir kalo gasalah hehehe. Aku bacanya marathon jadi baru komen disini hehehe. Aku suka dua duanya karya fanfik kamu yg lagi aku baca hehehehe.
    Aku suka karena pas baca bikin aku harus mikir. Suka aja kalo harus mikir dulu dan nerka nerka samle akhirnya jadi lurus hehehe. Kebiasaan seneng sama yg rada berbau detektif soalnya hehehe.
    Keep writing yaaaaaaaa~
    Salam kenaalll hehehe

    Nb : pertama kali baca by irish ntah di otak yg kebaca itu malah ‘by ricis’ (ria ricis) /oke abaikan/

    1. XD haloooooo aduh duh kamu nyasar lagi di ff ku yang abnormal lainnya XD wkwkwkwkwkwk
      ini ff lumayan bikin mikir sih, walaupun ceritanya gajelas juga buakakakakak XD
      ihhh masa aku seunyu ricis nabati? XD

  8. apa lagi kelanjutan dari fanfic ini? saya tunggu kelanjutannya *biarkayapembawainfotaimentgitu* ,/efekbacafanficyanggilakayagininih/ wkwk
    semangat irish ^^

  9. kak irish semangat kerjanya ya~ kalo dijalanin dg semangat, iklas dan bahagia pasti rasanya kerja jadi menyenangkan, sama kek nulis ff kkk~ XD
    yoon pengen deh bisa deres kek kak irish, gak wb melulu XD
    back to spin off~ jadi ini sullivan yang asuh baek? sama sehun/? terus pengennya bawa mereka berdua kabur?
    btw baek jenius amat ya .-. kecil2 udah bisa kek gitu, kak irish beri makan apaan sih? XD

    1. XD ikhlas aku ikhlas mas (cabe maksudnya) XD wkwkwkwk ideku deres tapi kemauan ngetik ini susah banget huhu~~
      ITU CABE KUKASIH MAKAN KERUPUK IKAN~ GREGET KRENYES KRENYES XD

  10. yes…
    this is no mainstream,,,heheh…
    just love it how it goes…
    mau tamat di chap depan? wowww,,,ditunggu banget,,,hehehe
    gomawoyo…
    eh..semoga lekas sembuh dari kecelakannya ^_^

  11. mozaik sama memorinya keren,, makin penasaran dibuatnya gmana baekhyun sama sehun bakal ketemu lagi

    go! go! go! irish next spin offnya okey

  12. Huah, sullivan. Keknya tarohan terakhirnya itu yang bobol europol(?) Terus si baek di tinggalin sullivan, kan dia disuruh pergi sama pemimpinnya. Aaaakkkk jatuh cinta bangettzz qaqaaaaa. Oh iya aku ainun ashley kak.-. Siapa tau kak irish ngira aku pendatang baru. Hehe^^ semangat kak!

    1. aku senang membaca hipotesa kalian semua XD wkwkwkwkwk aku jatuh cinta sama pemikiran kalian yang kreatip2 semuaahh XD wkwkwkwkwk thanks ya XD aku inget id kamu yang lama kok XD

  13. Akhirnya datang juga nextchap. Dan akhirnya dapet pencerahan jadi udah bisa dibilang mudeng . Yippy yehet.
    Serius sehun koma 2 tahun. Wah bayangin bang baek otaknya jenius meleleh akunya.
    Eh kakak irish sekedar mau tanya nih. Kakak itu lulusan mana dan bidang apa? Kenapa bisa buat ff kek gini? Kepikiran darimana idenya? Soalnya aku rada rada bingung gitu. Karena bukan bidang saya. /huwaamalahcurhat/ *abaikan *tapikalpbisadijawabyakakak.
    Nextnya cepet harusnya karena kan katanya ide lagi deres nih. Next kakak

    1. akhirnya ada yang nungguin XD wkwkwkk ini AKU JUGA MELELEH bayangin cabe bisa menli dan jenius HUAHAHAHAH XD
      sejujurnya………..aku lulusan sekolah kebidanan……..jurusan kuliah dan kelakuanku bertolak belakang kan? XD wkwkwkwkwkwk thanks yaaa darl~~

    2. Wah kebidanan ternyata. Bener, bertolak belakang, tapi bisa gitu hasilnya keren pake banget..
      Salut dah kak..

  14. Kangen ff ini~~
    Alhamdulillah aku nya msh ngeh sma spin off dn kseseluruhan cerita smpe skrg ka Rish *sok bgt ini anak 😀 dn B-54, O’Child, Liv, Sullivan jelas msh survive di ingatan kok ka. mana bisa lupa atuh. ceritanya trllu keren 😀

    Ohiya, smga keadaan menyedihkannya segera berakhir y ka. Semangat ka Irish^^ 🙂
    pas ka Rish bilg kerjaan di dunia nyata & dunia maya, seketika berasa kek, kita ini hidup di dua dunia kah(?) *abaikan Kkkk~

    ~dan entah kenapa, sosok Sullivan yg masuk dlm visualisasiku jadi Kim Ji Won. Abis di Descendant of the Sun perannya jdi tentara gitu. Wkwk~ Demam DOTS nih~

    1. XD alhamdulillah aku bersyukur sama Tuhan YME karena kalian masih diberi kemudahan dalam memahami isi ceritaku XD wkwkwkwwk
      kita kan emang hidup didua dunia XD makanya aku pake istilah itu XD
      EBUSEEETT XD JIWON DISANA CUANTIK SEKALIIIHH AKU JATUH HATI KARENA DIA CANTIIKK~~

  15. Waaaah semangat kak rish lanjutinnyaa!! Jd itu sehun koma w taun gt? Wow.-. Emejing…… sy ingung mau komen apa kak rsh :v btw tanganny dah dasembuh kk? Semangatkak!!!

  16. Jadi liv itu tercipta karna taruhan terakhir dari sullivan ya
    Dan sullivan ini emang mau ngebantu baekhyun buat terbebas atau setidakny dia tau alasan keluarganya diburu dan sehun yg msh hidup

    Tapi kenapa sullivannya udah ga ada lagi ya pas liv udah tercipta
    Penasaran ama nasib ini orang saat ini

    Trus pass aquino buat ngintai mereka berdua bakal dipakai baek buat apa ya kalau dia ingat

    Wouw sehun komanya ampe dua tahun
    Setidaknya lu masih ingat hun nama lu sehun bukan seno *plak

    Hhmm ditunggu aj dh next nya

    1. Biarlah aku membiarkan kalian semua menebaknya XD aku bahagia membaca tebakan2 kalian semua XD wkwkwkwkwk UNTUNG NAMANYA SEHUN GAK SENO, KAN JAWA BANGET YA XD

  17. waaaa…. Sullivian cikal bakal Liv/? haha, sumpah cuma nebak doang bukan maksud apa2
    kangen banget sama ff ini :3 apalagi sama sehun baekhyun :’3
    oh Liv blom akan muncul di Spin-off jadi harus bersabar sampai Spin-off yg terakhir :’3
    yg bikin geger sebenernya itu ternyata baekhyun sejenis/? sama sehun (dikurung di ruang tertutup, dijadiin bahan percobaan/?) dan itu bukan di chapter ini *halah
    tapi tetep aja aku masih blom bisa mupon dari hal itu/?
    duh jeniusnya baek bocah/? aku ngebayangin alwi masa yg jd baek kecil :3 *jangan bash aku
    semangat IRISH :3 seperti semangat aku buat nungguin setiap update tan karya2 mu :3 *ngerayu biar cepet di publish :’3

    1. Cikal bakal XD berasa bibit tumbuhan ya huahahahhahahaha XD spin off ntar terakhir kok terus Liv muncul lagi huahahaha XD
      ASTAGFIRULLAH, KATA-KATA BAYANGIN BAEK SI ALWI PAS KECIL BENER2 BIKIN AKU KESELEK, MANA BALES KOMEN PAS MINUM, KAN KESELEK AKHIRNYA XD XD XD thanks yaaaa XD

  18. Iriiiishh sayaaaang. . Kamu udah sembuh dear. . syukur deeeh. . . Aku ikut seneng deeeeh… ouuh tentunya cerita kamu yg ini selalu kuingat dihati karna antimainstream banget
    Aku gak tau mesti komen apa tapi yg pasti dan selalu ff kamu ini jadi fav akuuuuu XD XD
    Teruuuus semangat ya utk tugas2 yg menjeratmu semoga terselesaikan ya dear ^^
    Keep writing!!!!

    1. alhamdulillah udah sembuh XD wkwkwkwkwk padahal ini ff aku abnormal semua heran aja kok masih ada yang mau baca ya buakakakakakak XD thanks yaaa

  19. First comment yaaaa
    Kak irishhh aku suka sama cerita ini, dan sedikit banyak aku ngerti tentang tujuan dari beberapa chapter belakangan tapi aku gak ngerti cara ngomonginnya.
    Oke semangat buat kerjaannya karena akhur2 ini aku lagi mumet dan banhak masalah #curhat
    Soo cerita dari kak irish ngehibur aku banget. Makasi bnayk kalok gak ada ff jni aku udah minum sianida kali wkwkwk

    1. XD cielah cieehh ada juga yang suka sama cerita gajelas ini XD aku heran kenapa saat banyak masalah pun kamu tetep typo XD wkwkwkwkwk thanks banget udah nyempetin baca dan komeenn, salam ketjup tjium darikuh XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s