DECISION [EPISODE 5] – by GECEE

req-grace-decision

GECEE proudly present

 

  E     I   S     O   N


 WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2] | [EP 3] | [EP 4]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“The reason these tears come form, I hope it’s not because of you. ”

–I hope it isn’t (Lee Ki-Chan)

 

==HAPPY READING==

PARK Chanyeol membuka matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Segalanya masih terasa samar-samar bagi matanya. Ia menggerakkan kepala sedikit ke samping, dan seketika rasa nyeri melanda kepalanya. Chanyeol memejamkan mata sejenak, berusaha mengusir rasa nyeri di kepalanya itu. Tangannya terangkat untuk memegang kepalanya. Ia tidak mengerti apa yang telah terjadi dengannya, bagaimana ia bisa sampai di kamarnya, dan mengapa kepalanya terasa begitu nyeri seperti ini. Ia tidak ingat.

“Neo gwaenchanha?”

Suara seorang perempuan. Chanyeol menolehkan kepalanya ke samping, mengabaikan rasa nyeri yang serta-merta melanda kepalanya. Hatinya sangat berharap bahwa saat ini wanita yang berada di sampingnya itu adalah tetangganya, Jane Han. Chanyeol menyipitkan matanya, berusaha melihat dengan jelas siapa perempuan yang ada di sampingnya itu. Perasaan kecewa menyergapnya ketika akhirnya mengetahui bahwa perempuan itu adalah Choi Seolri.

Dengan susah payah Chanyeol berusaha untuk duduk, dan dengan sigap gadis itu membantu menopang punggungnya dengan tangan. Kepala Jimin masih belum bisa diajak berpikir. Apa yang terjadi semalam? Kenapa kepalanya terasa sakit berdenyut-denyut seperti ini? Dan kenapa gadis ini bisa berada di kamarnya saat ini?

“Sehun menyuruhku kemari. Katanya, semalam kau mabuk berat. Dia memintaku untuk menemanimu karena pagi ini dia tidak bisa menemanimu,” jelas gadis itu seolah tahu jalan pikiran Jimin.

Chanyeol memejamkan matanya. Sungguh, ia tidak ingat kejadian apa pun yang terjadi kemarin malam. Hanya beberapa hal yang bisa ia ingat. Ia masih bisa mengingat kejadian ketika Sehun masuk ke apartment-nya dengan membawa plastik besar berisi kaleng-kaleng bir. Dan juga cerita tentang Jane yang telah berpacaran dengan Byun Baekhyun.

Chanyeol meringis. Mengapa di tengah situasi seperti ini, justru fakta itu yang bisa ia ingat? Fakta yang telah menyengsarakannya semalam ini, yang membuatnya sampai mabuk berat. Mengapa? Tanpa sadar ia memukul kepalanya sendiri.

“Ada apa? Kenapa kau memukul kepalamu?”

Dengan lembut gadis itu meletakkan tangannya di atas tangan Chanyeol, kemudian meremasnya pelan. Gadis itu seolah berusaha untuk menghibur Chanyeol. Tidak seperti biasanya, Chanyeol tidak menolak sentuhan gadis itu. Ia terlalu lelah untuk menarik tangannya dari genggaman gadis itu. Chanyeol hanya diam sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri untuk tidak menangis.

“Ada apa?” tanya gadis itu lagi. “Apa yang membuatmu susah? Apa kau ada masalah?”

Sejujurnya Chanyeol butuh teman cerita, seorang teman yang mengerti isi hatinya, seorang teman yang mau mendengarkan semua cerita serta keluh kesahnya. Teman cerita agar semua perasaan sesak di dadanya ini menghilang. Dan sepertinya gadis di hadapannya ini siap untuk mendengarkan seluruh ceritanya. Tetapi entah mengapa, mulutnya tidak mau untuk digerakkan. Suaranya tidak bisa keluar.

“Kau bisa bercerita padaku,” kata Seolri lagi.

Chanyeol menggeleng. Sungguh, ia tidak bisa.

Seolri melingkarkan lengannya di leher Chanyeol, dan memeluknya erat. Chanyeol memejamkan matanya. Air mata yang daritadi telah berkumpul di pelupuk matanya merembes keluar. Dan untuk beberapa menit kemudian, ia menangis. Ia tidak sanggup lagi memendam perasaan sesak ini sendirian. Ia butuh menangis.

Gadis itu hanya membelai kepalanya, menepuk-nepuk punggungnya, dan mengusap-usap lengannya sambil berkata, “Sudah, jangan menangis. Kau adalah lelaki yang kuat. Apapun itu, kau pasti bisa mengatasinya,” dan kata-kata penghiburan lainnya.

Saat itu, Chanyeol baru menyadari satu hal. Ia akhirnya menyadari, apa yang membuat dirinya menjadi gila dalam enam jam terakhir ini. Apa yang membuat perutnya mual, dadanya sesak, kepalanya berdenyut-denyut, perasaan sedih, marah, tidak terima, dan segala macam bentuk emosi lainnya ketika ia mendengar cerita tetangganya kemarin, yang akhirnya membuatnya mabuk berat dan kehilangan akal sehatnya.

Ia mencintai Han Jaein.

***

“Han Jaein!”

            Jane tersenyum begitu melihat siapa yang memanggil namanya barusan. Byun Baekhyun sedang tersenyum ke arahnya di depan pintu kelasnya. Sebelah tangan lelaki itu terentang, seolah memanggilnya untuk mendekat ke arahnya. Jane memalingkan wajah, berpura-pura tidak peduli pada lelaki itu, dan meneruskan pekerjaannya menghapus papan tulis.

Diam-diam Jane melirik Baekhyun kembali. Tangan lelaki itu masih terentang, dan lelaki itu melemparkan tatapan yang seolah mengatakan Benar kau tidak mau menemuiku? kepadanya. Baiklah, Jane tahu ia tidak akan pernah bisa menghindar dari lelaki ini, menghindari perasaan sayangnya terhadap lelaki ini. Jane menjatuhkan penghapus papan tulis yang ia pegang di sembarang tempat, kemudian berlari kecil menghampiri Baekhyun dan melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher lelaki itu, memeluknya erat.

“Sudah selesai?” Suara Baekhyun terdengar lembut di telinganya.

Jane mengangguk.

“Kau lapar?”

Jane kembali mengangguk. “Lapar. Sangat lapar.”

Lelaki itu melepaskan diri dari pelukannya lalu menggamit tangan Jane. “Kalau begitu, kita pulang sekarang. Kita bisa mampir ke kedai ramen saat perjalanan pulang nanti.”

Dengan tangan yang saling menggenggam, kedua orang itu menuruni tangga sekolah mereka dengan senyum yang merekah di bibir mereka.

***

Chanyeol menghela napas. Pemandangan yang ia saksikan barusan benar-benar membuat hatinya perih. Gadis itu jelas-jelas terlihat bahagia dengan kekasih barunya. Gadis itu tersenyum kepada lelaki bernama Byun Baekhyun itu, dan senyum itu benar-benar memancarkan sebuah kebahagiaan. Senyum yang tidak pernah gadis itu tunjukkan kepadanya. Selama ini, ekspresi wajah yang gadis itu tunjukkan untuknya hanyalah ekspresi penuh ketakutan dan rasa tertekan.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Sudah tidak mungkin jika ia masih mengharapkan Jane untuk kembali kepadanya. Mengharapkan gadis itu untuk dapat bersamanya adalah seperti mengharapkan salju turun di musim panas, sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi.

Dengan langkah gontai Chanyeol perlahan menuruni tangga sekolahnya. Hatinya serasa sakit serasa diremas-remas. Ia merutuki dirinya sendiri. Dulu Chanyeol telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi jatuh cinta pada siapapun, karena cinta itu hanya akan membuat hatinya terasa perih. Namun kali ini Chanyeol melanggar janji yang telah ia buat sendiri, dan sekarang ia kembali merasakan sakitnya cinta tersebut.

***

“Baekhyunah!”

Baekhyun menoleh ke arah Jane. Gadis itu sedang meniup-niup kuah ramen pedasnya yang masih mengepul. Baekhyun menggenggam tangan gadis itu erat. Gadis itu balas menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Ada apa?”

Gadis itu menggeleng sambil mengibaskan sebelah tangan. “Bukan apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu.”

“Sesuatu apa?”

Jane menyuapkan ramen ke dalam mulutnya sebelum menjawab, “Park Chanyeol sunbae pernah bertanya kapan kita akan merayakan hari jadi kita?”

Baekhyun mengangguk-angguk. Keningnya berkerut memikirkan perkataan kekasihnya yang duduk di sampingnya ini. Merayakan? Apa yang harus mereka lakukan untuk merayakannya. Akhirnya ia balas bertanya pada Jane. “Kau punya ide?”

Kekasihnya itu mengangkat bahunya sambil menyuapkan ramen. “Entahlah. Aku juga tidak ada ide.” Jane mengibaskan sebelah tangannya lagi. “Sudahlah. Nanti saja kita pikirkan tentang hal itu. Lagipula itu bukan sesuatu yang wajib kita lakukan, bukan?”

***

Jane bertepuk tangan pada dirinya sendiri begitu melihat semangkuk besar jjajangmyeon yang telah tersaji di atas meja makannya. Mie tersebut baru saja matang. Asapnya masih mengepul, membawa bau yang begitu sedap dari saus kedelai hitam dan potongan daging sapi yang tercampur di dalam mie tersebut. Kemarin ia sempat mencari-cari resep jjajangmyeon dari internet, kemudian ia bertanya sedikit-sedikit kepada tantenya yang ia tahu pandai memasak. Setelah merasa ia bisa melakukannya, Jane mencoba untuk memasak jjajangmyeon itu sendiri. Di luar dugaannya, ia berhasil dan sekarang bau mie campur itu sudah menyebar di apartment-nya, mengundang siapapun yang menciumnya untuk makan.

Merasa bahwa mie yang ia masak terlalu banyak, ia teringat akan Park Chanyeol dan memutuskan untuk memanggil tetangganya itu untuk datang dan makan bersamanya. Ya, kalau boleh dibilang, ini juga bisa dijadikan sebagai acara perayaan hubungannya dengan Baekhyun. Jane tersenyum. Setengah berlari ia menghampiri pintu depan apartment-nya dan bergegas memanggil tetangganya itu sebelum jjajangmyeon itu menjadi dingin.

“Oppa!” Jane berkali-kali membunyikan bel apartment Chanyeol. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa pintu abu-abu di depannya ini akan terbuka. Jane mendesah. Mengapa tetangganya itu tidak membuka pintunya? Apakah Chanyeol tidak ada di rumah? Jika benar, kemana tetangganya itu pergi?

Tepat ketika Jane memutuskan untuk kembali ke apartment-nya sendiri, pintu abu-abu itu terbuka, dan keluarlah Park Chanyeol dengan raut wajah yang lesu dan mata yang merah. Jalannya terhuyung dan kalau Jane tidak salah lihat, wajah lelaki itu pucat.

“Astaga, oppa!” Tangan Jane sigap menahan tubuh Chanyeol, seolah-olah lelaki itu bisa jatuh tergeletak setiap saat bila tidak ada yang menopangnya. “Apa yang terjadi denganmu?”

Lelaki itu berusaha melepaskan diri dari topangan Jane. Setelah memejamkan mata sejenak, Chanyeol menegakkan tubuhnya, berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja di depan Jane. Dan ia menggeleng.

Jane menatap lelaki itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin tidak ada yang terjadi jika wajahnya pucat, matanya merah, dan berdiri tegak saja butuh bantuan? “Benar tidak ada apa-apa?”

Lelaki itu mengangguk. “Ada apa kau kemari?” tanyanya dengan suara serak.

Jane berdeham sejenak. Ia akhirnya kembali ke alasan utamanya memanggil tetangganya ini. “Aku baru saja mencoba resep jjajangmyeon dari internet. Sepertinya aku membuatnya terlalu banyak, dan aku tidak yakin bisa menghabiskannya sendiri. Jadi aku mau mengajak oppa untuk makan bersama. Mungkin sekaligus merayakan hubunganku dengan Baekhyun.” Jane menatapnya dengan pandangan memohon. “Bagaimana? Oppa mau, ya?”

Tetangganya itu tidak langsung menjawab. Chanyeol menyandarkan kepalanya sejenak ke dinding dan memejamkan matanya. Sepertinya lelaki itu sedang berpikir. Jane meraih tangan lelaki itu dan meremasnya erat. “Mau ya, oppa? Ya? Ya?” ujarnya dengan nada membujuk.

Akhirnya, tetangganya menghela napas, dan akhirnya mengangguk. Jane memekik senang, dan dengan semangat ia menarik tangan tetangganya itu menuju unit apartment-nya, tidak mempedulikan Park Chanyeol yang harus terhuyung-huyung mengikuti langkahnya.

***

Harus Chanyeol akui, jjajangmyeon gadis itu terasa enak di lidahnya. Terlalu enak. Entah karena mie berkecap yang sedang dikunyahnya ini atau karena gadis itu yang membuat, tetapi perlahan Chanyeol merasa perasaannya lebih baik. Jauh lebih baik. Perasaan menyesakkan di dadanya perlahan menghilang, membuatnya merasa bisa menghirup napas dengan lebih leluasa.

Di sebelahnya, gadis itu terus menerus memperhatikannya makan dengan kedua mata yang berbinar-binar. Bibirnya sedari tadi tidak berhenti menyunggingkan senyum lebar. Sepertinya gadis itu ingin mendengar komentarnya tentang masakan buatannya. Akhirnya Chanyeol memutuskan untuk membuka mulut. “Jjajangmyeonmu enak.”

Jane memekik girang, kemudian cepat-cepat menuangkan satu porsi jjajangmyeon lagi dari mangkuk besar itu ke piringnya, tidak mempedulikan protes Chanyeol yang mengatakan bahwa ia sudah kenyang. Gadis itu kemudian kembali duduk manis dan memperhatikannya makan. Senyum di bibirnya tidak hilang-hilang.

Tak ingin membuat gadis itu kecewa, Chanyeol kembali memasukkan satu demi satu suapan jjajangmyeon ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan, dan menelannya, walaupun sebetulnya perutnya sudah mulai sakit karena kekenyangan.

Di dalam hati, Chanyeol mendesah. Melihat gadis itu memperhatikannya, melihat gadis itu tersenyum lebar kepadanya – sesuatu yang jarang gadis itu lakukan untuknya, membuat hatinya terasa semakin sakit. Perasaan sesak kembali melandanya. Ia sadar bahwa ia tidak akan bisa menghindari gadis itu. Sekeras apa pun usahanya untuk menghindar dari gadis itu, sekuat apa pun tenaganya untuk menjauhi gadis itu, untuk melupakan gadis itu, hatinya tetap tidak pernah bisa berpaling dari Jane Han. Gadis itu tetap membayangi pikirannya selama ini.

Dan sekarang, barulah Chanyeol sadari, bahwa ia merindukan gadis itu. Amat merindukannya.

Suara gadis itu menyadarkannya dari lamunan. “Oppa! Masih ingin tambah?”

Buru-buru Jimin menggelengkan kepalanya dan mencengkram lengan Jane sebelum gadis itu mengulurkan tangannya untuk mengambilkan porsi jjajangmyeon berikutnya. Perutnya sudah terasa sangat penuh sekarang dan ia yakin sebentar lagi perutnya akan meledak jika ia menyantap porsi berikutnya. Ia bahkan tidak yakin perutnya masih muat untuk sekedar diisi dengan air putih satu gelas.

Gadis itu menghentikan gerakannya, kemudian menatapnya serta tangannya yang masih mencengkram lengan gadis itu bergantian. Buru-buru Chanyeol melepaskan genggamannya. Suasana terasa canggung sejenak sebelum akhirnya gadis itu membuka mulut. “Baiklah. Aku akan mencuci piring-piring ini dahulu. Oppa mau membantuku atau – “

Sebelum gadis itu pergi meninggalkannya, Chanyeol dengan cepat menggenggam lengan Jane dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Kata-kata gadis itu terhenti ketika Chanyeol memeluknya erat. Gadis itu diam saja, tetapi punggungnya menegang. Chanyeol tahu bahwa gadis itu pasti kaget, namun ia tidak ingin melepaskan pelukannya begitu saja. Chanyeol memejamkan matanya, kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak gadis itu.

“Oppa…” suara gadis itu terdengar lirih di telinga Chanyeol. “Oppa… sedang apa?”

Sebelah tangan Chanyeol terulur untuk membelai rambut gadis itu dengan lembut. “Tetaplah di sini,” Chanyeol berkata lirih. Suaranya terdengar serak penuh emosi.

“Jangan meninggalkanku.”

***

Chanyeol menggerutu. Pasalnya sejak dari tadi bel pintu apartment-nya tidak henti-hentinya berdering. Chanyeol sedang tidak ingin menerima tamu siapapun saat ini, bahkan orang tuanya sekali pun. Suasana hatinya sedang tidak baik untuk menerima tamu, dan ia takut tamu yang berkunjung ke apartment-nya itu akan mendapat imbasnya.

Bel pintu itu masih berbunyi. Chanyeol mendesah. Sambil mulutnya mengeluarkan berbagai macam omelan dan rutukan yang otaknya bisa pikirkan, ia menyeret kakinya keluar dari kamarnya menuju pintu depan apartment-nya. Dalam hati ia sudah bersumpah akan mendamprat siapa pun yang tidak berhenti-berhenti menekan tombol bel pintu apartment-nya.

Tetapi ia tidak sempat marah dan mendamprat seperti rencananya barusan, karena begitu ia membuka pintu, seseorang telah menempelkan kepala di dadanya dan melingkarkan lengan di perutnya, memeluknya erat. Chanyeol bahkan hampir terjungkal ke belakang karena pelukan mendadak itu jika saja ia tidak berpegangan pada pintu apartment-nya. Untuk beberapa detik kemudian, ia hanya diam terpaku. Otaknya terlalu kaget untuk diajak berpikir jernih.

“OPPA!” ujar sebuah suara yang familiar di telinga Chanyeol

Chanyeol menoleh ke bawah untuk memeriksa siapa yang mendadak memeluknya seperti ini. Rupanya itu adalah ulah tetangganya, Jane Han. Gadis itu mengenakan baju tidur dengan pola beruang berpita. Rambut gadis itu dikucir ekor kuda dan wajah gadis itu terlihat berkeringat. Kalau tidak salah, gadis itu terlihat ketakutan.

“Jaein-ah!” Jimin berusaha melepaskan diri dari pelukan erat gadis itu. “Ada apa?”

Gadis itu melepaskan pelukannya dan kepalanya tertunduk. “Lampu ruang duduk apartment-ku tidak mau menyala.”

“Apa lampunya rusak?”

Gadis itu menggeleng. “Aku sudah memanggil teknisi apartment. Katanya sepertinya kabel listrikku bermasalah.”

“Lalu?”

Gadis itu mendongak dan menatapnya dengan pandangan yang betul-betul nelangsa. “Bagaimana denganku?”

Chanyeol mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud pertanyaan Jane. “Bagaimana denganmu?”

“Ige..” Gadis itu kembali menunduk sambil memainkan jemari tangannya. “Aku takut gelap.”

Mendengar pengakuan jujur gadis itu, mau tidak mau Chanyeol menyunggingkan seulas senyum. Jane sepertinya melihat senyumnya dan memukul lengannya. Melihat tingkah gadis itu, Chanyeol malah tertawa. Pipi gadis itu makin merah padam karena menahan malu dan ia kembali memukul lengan Chanyeol. Untuk sejenak, terjadi adegan pukul-memukul lengan yang disertai dengan tawa Chanyeol dan suara Jane yang merajuk.

“Oke, oke,” sahut Chanyeol setelah berhasil melepaskan diri dari serangan pukulan Jane. “Jadi, apa yang kau minta dariku?”

Gadis itu kembali dalam posisinya, kepala yang ditundukkan. Ia mengangkat bahu. “Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa yang hendak aku lakukan. Tetapi, oppa, rumahku benar-benar gelap gulita. Aku tidak tahu apa yang bisa aku kerjakan di ruang yang gelap gulita seperti itu. Asal kau tahu, aku benar-benar – “

Chanyeol meraih lengan gadis itu, menariknya masuk ke dalam apartment-nya, lalu menutup pintu abu di belakangnya itu. “Tunggu saja sementara di sini.”

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 6

“Terima kasih atas bantuannya. Aku permisi dulu.”

***

“Kau masih sama seperti dulu, tidak pernah pandai berbohong. Kau hanya sengaja mampir untuk bisa pergi ke sekolah bersamaku, bukan?”

***

“Astaga! Apa-apaan ini? Siapa yang meletakannya di sini?”

“Seseorang yang sedang cemburu padaku.”

***

“Saranghae, Jaein-ah.”

A/N
Kapan terakhir aku update? Nggak tahu..
Maafkan untuk kalian yang sudah menanti dengan sabar tapi aku updatenya lama sekali hwhwhwhw…
Still don’t forget to RCL 😀
(Agak nggak penting tapi… di sini ada yang nonton DOTS? :D)

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

30 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 5] – by GECEE”

  1. thor.. aku rasa harus cek lagi deh sebelum post.. nama Chanyeol masa ganti ganti😂😂..
    tolong ya thor di cek sekali lagi.. kadang aku ngakak loh tiba² namanya Chanyeol diganti Jimin.. soalnya biasku Jimin BTS..
    maaf nih banyak kritik🙇🙇

  2. Thor ini kapan sih dilanjut lagi?? Aku udah bolak balik terus ke sini tapi gak update2 plis jangan menggantung reader setia mu ini thor 😦

  3. aah kasian bgt si si chanyeol..
    gmn dia punya ksempatan dptin hane klau udah gitu..
    hahahaha
    tp sbnr nya cast utamanya siapa sih??
    chanyeol atau jimin?? perasaan jadi ada 2 nama

    1. dan jane masih belum peka sama perasaan ceye hikseu..
      sebenarnya chanyeol tapi itu karena ff remake dan aku masih ada keliru hwhwhw maafkan kalau membuatmu bingung…
      anyway makasih sudah baca ya 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s