[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 6)

draft

Tittle: DRAFT
Author: nakashinine
Length: Chapter
Genre: School life, Friendship, Romance
Rating: Teenager
Main cast: Oh Sehun (EXO) // Kim Kai (EXO) // Bae Irene (RV) // Kang Seulgi (RV)
With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak nakashinine yang rada geser. But, #Konsep prolog terinspirasi dari beberapa novel romance Indonesia. #Beberapa plot juga terinspirasi dari potongan-potongan drama school korea yang mengudara ditahun 2015.
Posted in [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy^

 

List: [Prolog – Chapter 5]

-6-

Irene melahap makan malamnya dengan sumringah. Ia mengingat kejadian tadi siang saat guru privatnya ngomel-ngomel dan tak sanggup lagi mengajari Irene. Akhirnya, setelah berhari-hari kejailannya tidak sia-sia juga. Dengan penuh kekesalan, wanita itu meninggalkan rumah Irene dengan terpaksa. Dan Irene hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Tidak sopan, memang. Tapi, gadis itu terlalu keras kepala untuk mengikuti saja kemauan ayah apalagi ibu tirinya.

“Irene. Guru privatmu meneleponku. Dia bilang dia tak sanggup mengajar lebih lama lagi. Dia bahkan memaksa ingin berhenti.” Ibu tiri Irene membuka pembicaraan makan malam. Semua orang menolah ke arahnya sementara Irene kini membalas tatapan mereka dengan santai.

“Ada apa Irene? Apa yang kau lakukan padanya?” Tanya Ayah sambil meletakkan sendok dan garpunya.

“Aku tidak melakukan apapun.” Jawab Irene masih santai.

“Aku tidak yakin.” Sahut kakak tirinya tersenyum kecut.

“Aku juga tidak yakin, Irene. Apa kau ingin masuk sekolah asrama?” Tanya Ayahnya dengan nada mengancam. Irene diam, ikut meletakkan sendok dan garpunya.

Appa, kalau kau memang ingin tau, satu-satunya yang aku ingin hanyalah mempunyai teman.”

Geurae.. Kau pasti bisa mendapatkan teman di sekolah yang baru.”

“Bukan itu Appa.” Sela Irene sebal. “Aku tidak mau belajar degan guru privat itu lagi karna… She’s not my style! Setelah aku pikir-pikir, bagaimana kalau kau membiarkan aku belajar dengan teman baruku yang sangat pintar saja. Dia sangat menyenangkan dan bersedia mengajariku sampai aku lebih pintar darinya.” Usul Irene dengan wajah polos.

“Kau bisa punya teman juga?” Kakak tirinya menyahut lagi. Irene hanya membalas dengan lirikan sinis.

“Kenapa aku harus menyetujuinya? Memangnya temanmu itu sanggup mengajarimu? Kau pasti akan sangat merepotkannya.”

“Kenapa kau tidak pernah percaya padaku? Aku ingin belajar. Tapi dengan orang yang nyaman dan tidak di dalam rumah ini.” Irene mengalihkan tatapannya sambil memainkan sendok di atas piring.

“Dan kenapa kau begitu keras kepala melebihi Ibumu?” Ayahnya menghela nafas menahan kesal. “Baiklah! Terserah kau saja. Lihat saja kalau nilaimu tetap buruk. Aku akan mengirimmu ke sekolah asrama detik itu juga.” Ayahnya meneguk segelas air putih, lalu berdiri dan pergi dari meja makan. Irene diam-diam tersenyum. Jika sudah begitu, itu artinya Ayah malu karna sudah mengaku kalah.

xxxx

 

Entah sejak kapan Sehun menerima keberadaan Irene diantara persahabatannya bersama Kai. Dia terlalu sibuk untuk mencari tau. Hampir seminggu ini, dia bahkan membiarkan Kai dan Irene berdiskusi tentang rencana ‘pengusiran’ si guru privat yang selalu dibicarakan gadis itu. Entah kenapa juga akhir-akhir ini ia hanya menonton mereka tanpa menegur bahkan berkomentar apapun. Bukannya Sehun tak peduli. Hanya saja, kelakuan Kai dan Irene benar-benar mengasikkan untuk ditonton. Berusaha menghentikan mereka hanya akan menyusahkan diri sendiri.

Dan satu hal lagi. Pertanyaan ‘sejak kapan dan kenapa dia berteman dengan Irene?’ faktanya itu 10 kali lipat lebih sulit untuk dijawab ketimbang 5 soal Trigonometri. Pertemanan ini benar-benar diluar nalar Sehun. Sungguh.

“Oh Sehun. Maukah kau menolongku?” Tanya Irene di sela-sela makan siang.

“Tergantung.” Jawab Sehun singkat.

“Hmm. Aku ingin kau jadi guru privatku sampai kepintaranku melebihi kepintaranmu. Mau, ya?”

Sehun menoleh terkejut.

“Cih. Itu mustahil.” Ledek Kai terkekeh.

“Kenapa aku harus melakukannya?” Tanya Sehun cepat.

Irene menghela nafas dan merubah ekspresinya. “Maafkan aku karna tak pernah mengatakannya. Tapi kalau aku tidak bisa memperbaiki peringkatku aku akan di tendang dari sekolah ini ke sekolah asrama.” Irene memasang wajah bersalah sekaligus memelas.

Kai dan Sehun berhenti mengunyah lalu menatap Irene tak percaya.

Detik itu juga Sehun merutuki dirinya sendiri yang selama ini hanya diam. Seharusnya dia menghentikan mereka sejak dulu. Jika ia tau hal seperti ini akan terjadi, sungguh Sehun tak akan membiarkan Irene mendepak guru privatnya sendiri waktu itu.

Kai membulatkan matanya, “Apa?!”

“Kenapa kau tak mengatakannya? Kalau aku tau begitu, aku juga tidak akan membiarkanmu mengusir guru privatmu itu.” Kata Kai gemas.

“Yaampun. Seharusnya aku menghentikan kalian sejak awal.” Sahut Sehun –datar.

Irene memajukan bibirnya mulai merengek.

“Sehun. Kau tidak kasian padanya?” Tanya Kai yang mulai merasa kasihan pada Irene. Bagaimanapun juga, dia sendiri yang sudah membuat Irene menjahili guru privatnya seperti itu.

“Tidak.” Sehun menggeleng santai.

Yaaa Oh Sehuuuun.” Rengek Irene sambil menendang kaki Sehun pelan. Laki-laki itu menatap Irene beberapa detik. Mau merengek sampai bagaimanapun juga Sehun tetap tak akan terpengaruh dengan ekspresi memelas Irene itu.

“Apa yang harus kulakukan supaya kau mau menerima Irene sebagai muridmu?” Tanya Kai ikut memelas.

“Ah jinjja..” Gerutu Sehun.

Irene tiba-tiba ingat sesuatu. Lalu ia memasang cengirannya diam-diam.

“Sehun. Aku ingin tau..” Irene mengangkat sebelah alisnya.

“04.” Wajahnya mulai mendekati Kai dan Sehun.

“01.”

“11.”

“Tanggal apa yang kau pakai dalam password apartemenmu itu, hm?” Bisik Irene sambil mengangkat alisnya lagi.

Omo!” Sahut Kai dan Sehun dengan ekspresi yang berbeda. Kai kini lagi-lagi membulatkan matanya.

“Bagaimana kau bisa tau?” Tanya Sehun seraya menodong wajah Irene dengan sumpitnya.

Irene tersenyum jahil sambil membetulkan posisinya seperti semula. “Begini-begini juga mataku sangat jeli, tau!”

“Matilah kau Oh Sehun.” Sahut Kai lagi. Namun beberapa detik kemudian bibirnya mengembang dan menahan tawa. Ia mengerti rencana Irene. “Siap-siap saja, Hun. Setiap malam dia akan mendatangi apartemenmu dan menghantuimu sampai pagi.” Lanjutnya berlebihan.

Sehun hanya menepuk jidatnya kesal. Dia lagi-lagi merutuki dirinya ketika mengingat saat Irene ikut ke apartemen miliknya dan tak disangka sebegitu jelinya Irene melihat jari Sehun mengetik password. Perempuan itu benar-benar sinting, pikirnya.

“Aku akan menggantinya siang ini juga.” Kata Sehun –datar.

“Kau yakin?” Tanya Kai jahil. Benar juga, itu akan sia-sia saja selama ada Kai bersama mereka. Sehun meletakkan kedua sumpitnya kesal.

“Oke! Oke! Kapan kita akan mulai, hm?!” Sahut Sehun akhirnya. Meski terdengar terpaksa, namun Irene sangat bahagia mendengarnya.

“Sore ini aku siap, seonsaeng-nim!”

Sehun menghembuskan nafas. “Baiklah terserah kau saja. Tapi ada syaratnya. Kai juga harus ikut. Jika kalian tidak bisa belajar dengan benar, aku akan mendepak kalian ke sungai Han!” Sehun lalu berdiri membawa nampannya dan segera meninggalkan meja mereka.

“Berhasil!” Pekik Irene girang. Irene mengangkat tangannya untuk mengajak Kai berhighfive yang langsung disambut Kai dengan senang hati. “Astaga sejenius-jeniusnya Sehun, ternyata mudah terpengaruhi juga.”

Sehun kembali menyimpan nampan bekas makan siangnya di tempat yang seharusnya. Wajahnya tetap datar sejak tadi, namun isi hatinya penuh sebal dan ingin sekali rasanya menendang dua makhluk tadi jauh-jauh ke ujung samudra.

Apa yang salah dengan ingin hidup tenang dan berusaha untuk diri sendiri? Sehun tidak pandai mengajari seseorang, dirinya juga sama sekali tak paham kenapa mau menerima Irene menjadi ‘murid’nya bahkan meminta Kai juga bergabung. Oke, kalau masalah Kai, ia memang ingin melakukannya karna selalu merasa bersalah setiap melihat Kai diomeli sang Ayah karna mendapat nilai pas-pasan sedangkan dia –sahabat hidupnya, selalu mendapat peringkat pertama dengan mulus. Tapi alasan untuk mengajari Irene? Dia tak menemukan alasan apapun selain karna merasa kasihan dan diancam –terancam.

Sehun menarik nafas dan membuang rasa panik yang mengganggu dirinya. Oke. Mungkin dia bisa menghadapinya sampai Kai dan Irene benar-benar siap menghadapi UAS, setelah itu ia akan membuat mereka belajar sendiri, atau belajar bersama. Dan bukannya menjadikan dirinya menjadi guru yang harus menjelaskan banyak materi yang entah sebanyak apa mereka tak paham. “Astaga.” Keluh Sehun sambil menggeleng kepalanya pelan.

xxxx

 

Siang ini, Sehun datang ke ruang latihan lebih awal. Setelah ia mengganti seragamnya di kamar ganti laki-laki, Sehun menghadap dinding cermin dan mulai melakukan pemanasan sendirian. Selang beberapa menit, seseorang masuk dan sedikit terkejut melihat Sehun.

“Oh? Sehun sunbae.” Seulgi meletakkan ranselnya dan berjalan menuju ruang ganti perempuan.

“Oh, hai Seulgi. Kau datang lebih awal?”

“Hm. Aku memang selalu datang lebih awal.” Setelah menerima anggukan Sehun, gadis itu segera mengganti seragamnya dan melakukan pemanasan seperti Sehun. Karna Seulgi merasa awkward sendiri, dia memilih dinding cermin di sisi yang lain dan fokus pada dirinya sendiri.

Namun, belum 5 menit Seulgi pemanasan, Sehun menyalakan musik dan mulai menggerakkan tubuhnya. Mata Seulgi tak kuasa menahan diri untuk tidak melihat gerakan Sehun. Mereka dulunya hanya berbeda satu level, tapi Seulgi mampu mengejar dan akhirnya sekarang berada di level yang sama seperti para sunbaenya. Namun melihat Sehun bergerak freestyle sesuai hentakan musik, membuat Seulgi merasa tidak aneh jika Sehun menjadi salah satu yang paling berbakat. Dia bisa melihat bahwa Sehun menari dengan seluruh jiwanya. Seulgi merasa menyesal karna selama ini dia jarang memperhatikan bagaimana para sunbaenya yang sangat berbakat itu menciptakan gerakannya sendiri. Jika Kai dan Irene juga dinobatkan menjadi yang paling berbakat, ia menyerah untuk membayangkan bagaimana hebatnya kedua sunbae itu menari.

“Kenapa kau diam?” Sahut Sehun saat melihat Seulgi yang malah mematung dihadapan cermin. Kini keringat sudah bercucuran di sudut-sudut wajah Sehun, dia mematikan musik lalu meneguk isi botol minumnya setelah melontarkan pertanyaan ringan.

Seulgi hanya menoleh sambil menggaruk belakang kepalanya. “Ah.. Dance-mu bagus sekali, sunbae.” Jawabnya ragu.

Sehun tak menjawab, ia malah menatap Seulgi lalu menghampirinya dan berdiri di hadapan dinding cermin yang sama. “Terima kasih. Tapi kau juga tidak buruk, kok. Buktinya kau bisa menyusul ke level Kai. Mungkin itu yang membuatnya sangat menyukaimu.” Kata Sehun pelan. Tanpa menunggu jawaban, laki-laki itu pergi menghampiri ransel dan meraih ponselnya, kemudian seketika dia hanyut di sana. Seulgi hanya diam, merasa tersanjung mendapat pujian dari Sehun, namun kalimat terakhirnya sangat menempel di ingatan Seulgi. Tak berapa lama kemudian satu-persatu anggota yang lainnya masuk ke dalam ruangan. Dirinya pun melanjutkan kembali aktivitasnya.

Tetapi sore itu Seulgi kehilangan kosentrasi gegara perkataan ringan Sehun. Benarkah hanya alasan yang sesederhana itu Kai begitu serius menyukainya? Gadis itu menggeleng, tidak. Itu terlalu sederhana. “Sudahlah Seulgi, tidak usah dipikirkan.” Sugestinya dalam hati.

Ya!” Tiba-tiba Sehun menyeru saat ditengah-tengah isitirahat. Beberapa yang mendengar menoleh kearahnya.

“Siapa yang membolehkan kau meminum airku?!” Protes Sehun setelah melihat seisi botolnya habis tak tersisa oleh Irene.

“Oh? Memangnya kalau teman harus meminta izin dulu, ya? Bagaimana, dong, aku kehausan, Oh Sehun.” Balas Irene dengan wajah tak berdosa. Sehun hanya memutar bola matanya menyerah.

“Sudahlah Irene, terlanjur. Sehun memang suka banyak protes.” Sahut Kai santai.

“Ini! Buatmu saja.” Sehun menyodorkan botol minum kosongnya untuk Irene. Gadis itu hanya mengangkat alis bingung.

Mwoo?! Memangnya apa yang salah dengan bekas bibirku?” Gerutu Irene polos.

“Aku bahkan tidak mau mencucinya. Buatmu saja!” Balas Sehun sebal.

“Astaga Oh Sehun! Memangnya semenjijikan itu bekas mulutku? Ya! Kenapa kau berlebihan sekali.”

Kai tertawa lebar sambil menepuk punggung Irene, “Lumayan, Irene. Kau mendapat botol baru.”

“Ih! Ayo Kai, kita bermain berdua saja. Jangan ajak-ajak Sehun.” Irene memajukan bibirnya sambil meraih lengan Kai seperti anak kecil.

Pemandangan itu cukup menarik perhatian Seulgi. Membuatnya heran melihat keakraban Irene dengan keduanya. Entah apa, hanya saja ada sesuatu yang menggelitik perut Seulgi saat menemukan Kai dan Irene bercanda lalu tertawa lebar. Tidak hanya menggelitik, sesuatu yang tak bisa diterjemahkan itu seperti menyentil isi dadanya. Ada apa? Bukankah bagus melihat Kai sekarang tak memandanginya lagi, malah bisa terlihat bahagia seperti itu. Seulgi berusaha fokus, namun rasanya sulit sekali. Kini benaknya malah menelusuri kenapa Irene bahkan tak diprotes sama sekali oleh orang-orang semacam Krystal di club ini. Apa karna Irene gadis yang kasar dan bisa melawan siapa saja? Jadi orang-orang takut padanya. Seulgi menggelengkan kepalanya cepat. Merutuki dirinya sendiri kenapa sejak tadi isi otaknya dipenuhi dengan pertanyaan hal semacam itu. Harusnya dia tak usah pedulikan hal di depan matanya. Itu sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya.

Sebubarnya club dance sore itu, mata Seulgi kembali memperhatikan kebersamaan Sehun, Kai dan Irene.

“Kau bilang kau tidak akan ajak-ajak aku? Terus kenapa sekarang jadi ikut-ikut pulang bersama kami?” Kata Sehun memandangi Irene.

“Ish. Kau kan, akan mengajari kami.” Balas Irene merajuk.

Mereka bertiga lalu melangkah bersama menuju lobi sekolah. “Kupikir kau sudah lupa dengan rencanamu itu.”

Seulgi yang berjalan dibelakang mereka mendapatkan sebaris pertanyaan dalam benaknya, kapan Irene sunbae mulai menjadi teman mereka berdua?

Apakah semenjak kasus perkelahian Kai dengan Taemin dan melibatkan Irene? Setelah kejadian itu, Irene terlihat sangat akrab dengan Sehun dan Kai saat makan siang bersama di kantin. Minggu lalu juga ia melihat mereka mulai akrab saat latihan dance. Apakah semudah itu caranya berteman bagi Irene? Entahlah. Seulgi benar-benar tak bisa mendapatkan satupun jawaban.

Saat dirinya baru keluar gerbang, ia menoleh kembali kearah jalan berlawanan ia pulang, terlihat ketiga sunbaenya berjalan bersama dengan girang –kecuali Sehun. Pertanyaan baru muncul, sejak kapan rumah Irene satu jalur dengan mereka berdua?

“Astaga. Ada apa denganku.” Gumam Seulgi memegangi perutnya. Dia benar-benar merasakan seperti ada sesuatu mengganjal perutnya dan sesuatu mulai menyumbat pernafasan dalam dadanya. Mereka bertiga mungkin memang berteman, pikirnya. Dia merutuki dirinya sendiri untuk tidak mempertanyakan pertemanan mereka. Siapa saja bisa berteman bahkan dengan orang seperti Irene. Itu jelas bisa diterima oleh logikanya.

Namun hatinya tidak merasakan hal yang selaras dengan akalnya. Perasaan seperti ketika dia kehilangan sesuatu dan tak bisa menemukannya kembali, menguasai dirinya entah kenapa. Sambil berjalan, Seulgi memeriksa beberapa bawaannya, kali saja ada yang tertinggal. Tapi semua lengkap, tak ada yang lupa terbawa. Lantas apa ini? Pikirnya.

Seulgi menggerutu pelan. Dia sangat kesal pada dirinya sendiri. “Astaga kenapa aku ini?! Apa yang kau inginkan, sih, Seulgi?!” Tanyanya pada diri sendiri, merasa frustasi.

Gadis itu menghela nafas. Mungkin dia kelelahan, masuk angin atau semacamnya. Ya –ia harap memang begitu.

xxxx

“Aah aku tidak mengerti seonsaengnim! Coba jelaskan lagi.” Protes Irene merengek. Sehun mengangkat kepalanya resah lalu menghembuskan nafas kesal.

Ya! Masa kau masih tidak paham juga? Iq-mu serendah apa, sih? Astaga.” Gerutu Kai heran.

“Terus mau bagaimana lagi? Aku memang tidak mengerti, Kai pesek!” Balas Irene.

“Apa kau bilang?!”

Yah. Kai dan Irene mulai lagi, saling menghina dan berdebat. Membuat kepala Sehun mau pecah rasanya. Ia melihat jam di tangannya, 7 PM. Ini tidak akan efektif jika dipaksakan terus.

Ya sudahlah! Hari ini sampai sini saja. Yang penting, materi sebelumnya kalian sudah bisa menyelesaikannya dengan cukup baik. Materi ini akan kila ulang besok. Kalau dipaksakan malam ini otak kalian akan amburadul di depan mataku.” Keluh Sehun pelan, ia lantas membereskan papan tulis berukuran sedang beserta buku-bukunya ke dalam kamar.

Kai dan Irene berhenti berdebat lalu saling pandang dan menoleh kearah Sehun. Lalu tertawa lega.

“Akhirnya. Terima kasih untuk hari ini Sehun.” Kata Kai sambil berdiri membereskan ranselnya dan merebahkan diri di sofa. Irene yang masih duduk dibawah pun tidak lupa membereskan buku-bukunya.

Beberapa menit kemudian Sehun keluar dari kamarnya lalu menghampiri dapur. “Aku akan membuat sesuatu untuk makan malam.”

“Ah, tidak usah, Sehun. Ayah bilang dia akan makan malam di rumah hari ini. Jadi aku akan pulang sekarang saja.” Kai menggendong ranselnya lalu segera keluar dari apartemen Sehun tanpa menunggu jawaban.

Sehun diam beberapa saat sambil memandangi Irene yang masih duduk di tempatnya. Irene menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja sambil membalas pandangan Sehun.

“Apa?” Tanya Irene dengan wajah tanpa dosa.

“Kau tidak pulang juga?”

Irene menggeleng seperti anak kecil lalu memberi Sehun cengiran. “Ayah dan ibu tiriku ada urusan di China untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Kau tega membiarkanku di manfaatkan oleh kakak tiri yang lebih sinting dariku itu, oh?!“

“Terserah.” Sehun meletakkan kembali sayurannnya lalu menghampiri Irene dan duduk di sofa. Dia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Irene lagi.

“Cepat buatkan aku ramen sebagai bayarannya.” Ujar Sehun.

Gadis itu menghela nafas sambil memutar bola matanya. Tanpa protes dia segera berdiri dan menggantikan Sehun sebagai juru masak malam ini.

“Ramen katamu? Tapi dapurmu cuma punya sayuran dan telur. Apanya yang ramen?” Protes Irene keras.

“Kalau begitu kau beli dulu ke minimarket. Begitu saja, kok, susah.” Balas Sehun ketus.

Gadis itu menghampiri Sehun lagi, “Geurae… Mana uangnya?!” Pintanya sambil mengulurkan telapak tangan ke depan wajah Sehun. Namun laki-laki itu hanya menatap Irene datar. Kemudian ia menepuk telapak tangan gadis di depannya.

“Pakai saja uangmu.”

Heol. Kau mulai memanfaatkan kekayaanku, ya?” Geurutunya –bercanda. Setelah mendengus Irene pun pergi dari sana.

Setelah melihat pintu apartemennya tertutup, Sehun menghela nafas lega seraya merebahkan kepalanya di bahu sofa. Akhirnya dia bisa sendiri meski hanya untuk beberapa menit saja. Benaknya tiba-tiba berputar. Ini kedua kalinya Irene akan tinggal bersamanya. Sebuah pertanyaan muncul begitu saja, apa tidak apa-apa jika dirinya dan Irene tinggal bersama seperti ini?

Sehun menatap langit-langit beberapa saat. Pertanyaan bodoh. Tentu saja ini sebuah masalah jika ada orang lain yang mengetahuinya –selain Kai. Lagipula, dirinya dan Kai tidak menganggap Irene sebagai wanita. Begitupun dengan Irene, dia tidak pernah terlihat menganggap dirinya dan Kai adalah pria. Ingatannya memutar kembali memori tentang sifat kecewekan Irene yang dipertanyakan.

“Dia cengeng…” Gumamnya pelan.

“Suka merengek seperti anak kecil. Mengomel seperti ibu-ibu.”

“Ceweret dan suka berteriak.”

“Dia mungkin bisa melawan siapa saja termasuk aku, tapi cewek sinting itu sebenarnya orang yang lemah.”

Dia menutup matanya perlahan.

“Sungguh.. Spesies perempuan macam apa itu?” Lanjutnya dengan nada meledek. “Terserah saja.”

xxxx

TBC

[PREVIEW: CHAPTER 7 in nakashinine]

Yah.. Karna mau bikin preview pun harus revisi dulu hahaha efek gak sempet. /soksibuk/

Seperti biasa aku sangat mengharapkan jejakmuh~

38 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 6)”

  1. wah semakin menarik. gue sukaaaaaaaa 🙂
    gue suka jalan ceitanya, dan gue suka cara penulisan lu thor.
    ttp rajin nulis ya, fighting!!

  2. Waahh.. Seulgi cemburu, memang sesuatu akan sangat berharga ketika kita sudah kehilangannya kkkk~ aish… Sehuuunn.. Gitu2 juga irene cewek hun, jatuh cinta tau rasa loh wkwkwk

  3. Waaa seulgi udah mulai merasakan sesuatuuu hehe, irene lucu juga ya sifatnya semoga dengan tinggal bersama gak akan jadi masalah besar . Di tunggu ya cerita kelamjutannya thank you !!

  4. Kyaaaaa ya ampun gk sabar chapter 7 nya nih!
    Udah berduaan gitu lah ayooo ya ampun gk sabar bacanya wkwkwk
    Lanjutin lagi ya wkwk
    Unyu bgt sehun sama irene wkwk

  5. Nah kalo gini kan kehidupannya sehun lebih ada warnanya kalo ada irene daripada cuma sendiri doank.. wkwkk ceritanya makin seruu lucuu juga . Ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  6. Fanfic-nya bikin greget nih kak ^^ apalagi HunRene momennya. Banyakin momennya dong kak ^^. Gak sabar nunggu kelanjutannya nih. Fighting kak!

    1. Masa sih kkekekek aku merasa masih byk kekurangan gtu tapi makasih udah baca dan mau menunggu hihihi ^^

  7. senyum2 sendiri liar mereka ber tiga .. haha

    ciieee… seulgi gabung aja dari pada frustasi mikirin gimana irene bisa deket sama Hun-Kai

    lanjuuuutttt thor.. fighting!!

  8. aku gemes liat hubungan kai irene dan sehun huhu ama liat sikap kai-seulgi,, uh gemessssss

    Ditunggu next chapternya kak 🙂

  9. Huaaaaaaaaaaa suka sama gimana isengnya irene yg bisa bikin sehun jadi luluh. Tapi yah bener juga sih kalo isengnya irene kurang gereget sedikit hehehe.
    Mau req sweet momment boleh yaaahhhh. Ntah hunrene atau kairene. Ah tapi lebih milih sehun-irene siihhh. Pokoknya bikin sehun makin kepikiran sama irene hahahahah.
    Garela siihhh sebenernya kalo sehun sama yg lain. Tapi apa dayaaaa :”’
    Ditunggu next chapnya yaaaahhhhh~~
    XOXO~~

  10. Seperti harapanmu kak, aku meninggalkan jejakkuh😄. Setelah seharian disibukkan dengan FF yg main cast-nya Baekhyun, aku kembali mampir kesini dan bahagia menemukan Draft dilanjutin, 😘💕 nih kak peluk cium dari aku yg tulus karna cerita ini berhasil membangkitkan moodku setelah kesel karna dengan bodohnya baca ff yg belum selesai dan authornya lagi hiatus😭 #jadicurhat. Btw, ff ini jangan sampe kaya gitu ya! Aku setia menunggu loh, jadi harus diselesaikan dengan catatan Happy Ending. Wkwk, segitu aja deh komentar aku. Btw nakal-nya Irene kurang greget disini, jadi aku menunggu keisengan KaiRene di chapter kedepannya ya kak! Semangat!

    1. Ugh makasih jejak nya hahaha doakan aja ya semoga aku bisa menghandle nafsu spazzing supaya rajin nge fanfic wkwk:’) makasih udah setia menunggu, makasih muah 😀 mangat!

  11. Ecieee… Sehun kepikiran ciee..
    Atiati loh, semakin dipikirin semakin cintrong lama2.. Wkwkwkw
    Okefix gmau tau pkoe pairingnya hunrene yaaa chinguyaaa??

  12. kyaaaa,akhirnya sekeras apapun kepala oh sehun,,klo trus menerus d recoki iren,,jadi luluh jg,,, akhhhh suka bnget iren sehun kai,, cieee seulgi,,kehilangan,,emg nya pernah memiliki,,,, ya wajar aj,siapapun pasti iri melihat kebersamaan yg menyenangkan,,bisa bebas tertawa dan jd diri sendiri,,,
    nexttttttttt
    keren!

  13. spesies prempuan mcam apa itu???? tentu saja itu prempuan langka oh sehun, dan hnya ada 1 didunia, hehehe…..
    next ya kak cz makin seru ceritanya, jadi gk sbar nih lihat moment sehun-irene wktu di apartment nanti….
    moga aja ada sweet moment buat mreka brdua di part selanjutnya….
    semangat kak ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s