[EXOFFI FREELANCE] DREAM (DEJA VOO) – Chapter 3

DREAM - CHAPTER 3.jpg

DREAM – CHAPTER 3

[ DEJA VOO? ]

Author: Azalea
Cast : Byun Baekhyun (EXO), Bae Suzy (Miss A)
Genre : Romance, Sadness.
Rating : +17
Length : Chapter
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Kalian juga bisa baca ff ku ini di wattpad. Nama id ku mongmongngi_b, dengan judul cerita DREAM. Jangan plagiat, ataupun me re-upload ff ini tanpa sepengetahuanku.

Cerita Sebelumnya : CHAPTER 1 ( DREAM )  ->  CHAPTER 2 (REAL?)


 

~ Suzy Side ~

Aku terus menangis dalam diam sampai seorang perawat menghampiriku untuk mengecek keadaanku. Dia begitu terkejut saat melihatku sudah sadar dan sekarang sedang menangis. Dengan terburu-buru perawat itu pergi kembali untuk memanggil dokter jaga. Tidak lama kemudian, seorang dokter laki-laki yang sudah agak berumur datang menghampiriku yang sedang menangis.

Dia mengecek kondisiku, kemudian bertanya padaku.

“Nona Bae Suzy, bagaimana keadaan anda? Bagian tubuh mana yang anda rasakan sakit?” tanyanya padaku yang masih saja menangis. Semua orang bingung dengan sikapku saat ini. Mereka menunggu dengan sabar jawabanku.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba menggerakan lidahku untuk mengatakan sesuatu.

“H..A..T..I..” jawabku sedikit demi sedikit. Tubuhku masih kaku untuk digerakkan karena tidak tahu sudah berapa lama aku jatuh tertidur. Dokter segera menyuruh perawat untuk melakukan CTR untuk mengecek keadaan hatiku. Kemudian dokter bertanya kembali padaku.

“Apakah ada bagian tubuh yang lain lagi yang sakit?” tanyanya padaku.

“B..A..E..K..H..Y..U..N..” jawabku terbata-bata. Dokter kembali memandangku bingung.

“Baekhyun?” tanyanya memastikan bahwa pendengarannya sedang tidak terganggu. Aku mengangguk membenarkan ucapanku padanya.

“Di..ma..na..di..a..?” tanyaku lagi pada dokter yang sedang memeriksaku.

“Hm..” dokter itu terlihat berpikir sejenak sebelum melanjutkan perkataannya padaku. “Sepertinya anda butuh istirahat. Saya akan memberitahu keluarga anda, bahwa saat ini anda sudah siuman.” Katanya mengabaikan pertanyaanku padanya. Aku bisa melihat dia menyuntikan sesuatu pada selang infusku yang tidak lama kemudian membuatku merasakan kantuk yang luar biasa. Aku pun jatuh tertidur untuk yang kedua kalinya.

Saat aku membuka mata, ruangan yang aku tempati bukan lagi di ruangan yang hanya bercat putih saja. Dinding ruangan yang aku tempati di lapisi sebuah walpaper berwarna biru laut dengan motif bunga-bunga kecilnya, menandakan bahwa aku sudah dipindahkan dari kamar inapku yang dulu.

Beberapa selang aku rasakan sudah terlepas dari tubuhku, tapi tubuhku masih belum bisa digerakkan karena kaku. Mataku melirik ke sekeliling untuk melihat keadaan. Bisa ku lihat eomma sedang memotong buah-buahan di sebuah sofa yang ada di ruangan ini.

“EO..MM..MA..” panggilku padanya membuat dia mengalihkan perhatiannya dari buah-buahan yang sedang dia potong. Dengan segera dia menghampiriku yang masih terbaring, wajahnya tampak khawatir saat melihatku.

Sebutir air mata kembali jatuh dari mataku. Aku bahagia masih bisa melihatnya, dan begitu juga dia. Eomma menangis sambil menatap wajahku yang kuperkirakan pucat pasi.

“Suzy-ya…akhirnya kau bangun juga sayang.” Elusnya pada pipiku. “Eomma begitu khawatir, selama sebulan terakhir ini kau hanya terbaring tidak berdaya. Myungsoo juga sangat khawatir akan keadaanmu, setiap hari dia pasti menunggumu siapa tahu kau akan terbangun sewaktu-waktu.” Jelasnya padaku.

Myungsoo? Kenapa Myungsoo menungguiku selama ini? Bukankah pertunangan kami sudah berakhir? Aku menatap eomma bingung. Tapi dalam pikiranku hanya satu nama yang selalu aku khawatirkan keadaannya bukan Myungsoo.

“Baek…hyun? Di..ma..na..Baek..hyun? Ba..gai..ma..na..ke..a..da..an..nya..?” tanyaku pada eomma, membuatnya menatapku bingung akan pertanyaan yang aku ajukan padanya.

“Baekhyun?” tanya eomma yang aku jawab hanya dengan anggukkan kepala, eomma terlihat berpikir sejenak sebelum menjawabnya. “Siapa Baekhyun?” tanya eomma membuatku bingung akan ucapannya. Siapa Baekhyun? Kenapa eomma berkata seperti itu? Bukankah Baekhyun adalah suamiku?

“Su..a..mi..ku..” jawabku membuat eomma semakin bingung.

“Suami?” kembali tanya eomma bingung. “Kapan kau menikah dengan Baekhyun? Dan siapa Baekhyun itu? Eomma tidak mengenalnya sayang. Lagi pula kau masih bertunangan dengan Myungsoo. Calon suamimu Myungsoo, bukan Baekhyun, sayang.” Jelas eomma padaku. Bagai tersambar petir, aku terkejut akan penjelasan eomma tentang Baekhyun. Apa kejadian itu hanya sebatas mimpiku saja? Tapi aku merasa itu sangat nyata.

“Kepalamu terbentur sangat keras saat kecelakaan itu, sayang. Mungkin itu yang menyebabkan kau berhalusinasi tentang orang lain. Sebaiknya kau istirahat lagi saja. Jangan kau pikirkan orang lain.” Kata eomma padaku sambil membenarkan letak selimutku dan memberikan sebuah kecupan singkat di dahiku sebelum kembali duduk di sofa sebelumnya.

Ku pejamkan mata lagi untuk menjernihkan pikiranku saat ini. Sebutir air mata kembali jatuh menyadari bahwa itu hanya mimpi semata. Entah air mata bahagia karena itu hanya sebuah mimpi atau air mata kesedihan karena itu sebuah mimpi juga. Perasaanku masih kacau. Aku masih belum bisa membedakan mana kejadian yanga nyata atau mimpi. Tapi walaupun itu hanya mimpi, aku merasa hampa tanpa dirinya.

Selama beberapa minggu setelah aku bangun dari komaku, dengan perlahan aku mulai mengingat jika memang benar kalau aku masih bertunangan dengan Myungsoo. Walaupun aku masih bertunangan dengannya tapi hatiku sudah menjadi milik orang lain yang aku sendiri tidak yakin kalau dia memang benar ada atau hanya imajinasiku saja.

Akhirnya aku keluar dari rumah sakit tapi aku masih belum berangkat bekerja karena dokter masih menganjurkanku untuk beristirahat di rumah selama seminggu sebagai waktu pemulihanku dari sakit. Berdasarkan penuturan eomma, aku bekerja di perusahaan appa sebagai salah seorang arsitek di dalamnya. Perusahaan appa memang merupakan sebuah perusahaan penyedia jasa perancangan bangunan dan aku bekerja di dalamnya sebagai salah satu arsitek andalannya.

Karena aku masih dalam kondisi pemulihan, aku mengajak Jinri  pergi berlibur ke pulau Jeju untuk menyegarkan pikiranku yang masih kacau akan mimpi itu dan juga untuk membantu proses pemulihanku. Selama 5 hari kami habiskan untuk berlibur di Jeju berdua saja, karena Myungsoo memiliki pekerjaan yang sangat banyak menyebabkan dia tidak bisa ikut pergi berlibur. Tapi aku bersyukur dia tidak ikut, karena aku masih ingin menata kembali perasaanku padanya dan pada orang yang tidak jelas keberadaannya.

Saat aku dan Jinri sedang berjemur di salah satu pantai di pulau Jeju, aku memberanikan diri untuk bertanya padanya tentang Baekhyun. Memastikan dia benar ada atau hanya halusinasiku saja.

“Jinri-ya…” panggilku padanya untuk memulai percakapan kami.

“Hm..” jawabnya.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Lanjutku.

“Katakan saja. Aku mendengarkanmu.” Katanya lagi masih dengan posisi tertelungkup.

“Kau mengenal Baekhyun?” tanyaku hati-hati.

“Baekhyun?” tanyanya padaku.

“Hm…bukankah di kelas kita ada siswa yang namanya Baekhyun?” tambahku. Ku lihat dia membuka kaca mata hitamnya untuk menatapku langsung.

“Kau baik-baik saja kan?” tanya khawatir padaku.

“Hm..aku baik-baik saja.” Jawabku.

“Hm..” Kulihat dia sedang berpikir sejenak, menimang-nimang perkataan apa yang akan dia katakan padaku. “Asal kau tahu saja, di kelas kita tidak ada yang namanya Baekhyun. Dan aku tidak mengenal siapa Baekhyun yang kau maksudkan itu.” Jelasnya padaku, membuatku menatap dia bingung.

“Benarkah tidak ada yang namanya Baekhyun di kelas kita?” kataku mencoba mengkonfirmasi ucapannya barusan.

“Sepertinya kau harus memeriksakan otakmu lagi. Semenjak kecelakaan itu kau jadi aneh.” katanya sambil memasangkan kembali kaca mata hitamnya mengabaikan tatapan bingungku padanya.

Jadi Baekhyun itu tidak ada? Dia hanya halusinasiku saja? Hanya sebuah mimpi saja? Hatiku rasanya sesak saat mengingat bahwa itu hanya mimpi. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis saat ini juga. Aku kecewa ternyata dia tidak nyata.

“Aku kembali ke hotel duluan.” Kataku sambil mencoba menahan tangis. Segera saja aku berjalan secepat mungkin agar aku bisa menenangkan diri. Mengabaikan teriakan Jinri yang terus saja memanggilku. Saat ini yang ada di pikiranku hanya kamar hotelku.

Setelah sampai di kamar hotel, aku mengurung diri di dalamnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Sampai aku jatuh tertidur di atas tempat tidur. Saat aku membuka mata, ternyata hari sudah malam. Aku mengecek handphone ku untuk melihat ada panggilan penting atau tidak.

Ternyata terdapat 50x panggilan tidak terjawab dari Jinri, dan 100 pesan darinya juga. Segera saja aku menghubunginya lewat pesan singkat, mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tidak lama kemudian handphone ku berbunyi, ternyata sebuah panggilan dari Jinri dan aku langsung mengangkatnya.

Yeobsaeyo?” jawabku.

Ya! Kenapa kau baru mengangkat panggilanku?” tanyanya begitu khawatir.

Mianhae. Aku tadi tertidur jadi tidak bisa mengangkat panggilan darimu.” Jelasku padanya.

“Kau membuatku khawatir saja.” Katanya terdengar suara lega.

Mianhae.” Ucapku meminta maaf.

“Suzy-ya…bagaimana kalau malam ini kita ke klub malam? Sudah lama kita tidak ke sana.” Ajaknya padaku. Saat ku tolehkan wajahku pada jam dinding, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Aku berpikir sejenak menimang-nimang apakah aku akan menyetujuinya atau tidak.

“Suzy-ya…” rengek Jinri padaku membuat aku tidak tega untuk menolak ajakannya.

“Baiklah. Aku akan siap-siap. Kita berangkat jam 9, oke?” kataku pada akhirnya menyetujui permintaannya padaku.

“Assa!! Sampai ketemu nanti.” Katanya memutuskan sambungan telepon kami. Dengan segera aku bersiap-siap untuk pergi ke klub malam dengan Jinri. Aku mandi, kemudian ku pilih sebuah gaun berwarna perak berkilau dan sebuah jaket kulit warna hitam.

Panjang gaun ini hanya sebatas dada sampai setengah dari pahaku. Gaun ketat ini aku padukan dengan sebuah sepatu heels warna perak pula. Rambut coklatku aku ikat ke atas seperti ekor kuda. Aku memakai riasan make up yang cukup tebal pada mataku untuk menutupi bekas tangisanku.

Setelah selesai bersiap, aku keluar untuk menemui Jinri yang sudah menungguku. Begitu sampai di lobi hotel, aku bisa melihatnya sedang menungguku dengan gaun merah setengah lututnya. Wajahnya begitu gembira saat melihat aku berjalan ke arahnya. Tanpa basa-basi lagi, kami langsung berangkat menuju tempat tujuan kami malam ini, sebuah klub mahal terkenal di Jeju.

Tidak membutuhkan waktu lama buat kami sampai di dalam klub ini, karena jarak dari klub malam ke hotel kami cukup dekat. Begitu kami memasuki tempat ini, kami langsung disambut oleh suara musik yang begitu memekakan telinga.

Hampir semua orang yang datang ke klub ini sedang berdansa di lantai dansa menikmati alunan musik yang dibawakan oleh seorang dj. Sebagian lagi ada yang lebih memilih menghabiskan waktunya dengan wanita penghibur, dan ada juga yang hanya minum-minum saja.

Jinri membawaku ke sebuah meja bar, kami memutuskan untuk duduk di sini. Pandangan kami berkeliling mencoba untuk melihat situasi sekitar. Seorang bartender bertanya kepada kami mau pesan minuman apa. Jinri memesan sebuah vodka, sedangkan aku hanya memesan sebuah squash karena dokter belum memperbolehkan aku untuk meminum alkohol.

“Suzy-ya, ayo kita dansa!” ajak Jinri padaku sambil berteriak karena saking kencangnya alunan musik di sini.

“Aku tidak mau.” Balasku berteriak padanya, dan dia hanya cemberut padaku.

“Baiklah, kalau begitu biar aku pergi sendirian saja.” Katanya sambil berlalu meninggalkan aku sendirian di meja bar ini. Aku hanya mengamati minumanku yang sudah tinggal setengahnya. Saat pandanganku tertuju pada Jinri di lantai dansa, dia terlihat sangat menikmatinya. Apalagi saat seorang pria bergabung untuk dansa dengannya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat kejadian itu.

Setelah sekian lama aku hanya duduk berdiam diri saja, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke toilet. Aku berjalan menuju toilet untuk menenangkan diri karena pengaruh musik yang keras membuat kepalaku sangat pusing. Setelah sekitar 15 menit aku di toilet, aku berjalan kembali menuju meja bar takut Jinri mencariku.

Saat di tengah perjalanan, aku melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat. Pertengkaran sepasang kekasih ini menjadi tontonan banyak orang termasuk aku yang tidak sengaja lewat di dekat mereka. Keadaan ruangan yang remang-remang membuatku tidak bisa melihat wajah keduanya. Suara keduanya juga tidak terdengar jelas karena volume musik yang sangat keras.

Aku mencoba mengabaikan keduanya dengan berjalan kembali menuju meja bar yang sebelumnya aku tuju. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti oleh sebuah tangan yang sedang menahan tanganku agar aku tidak beranjak sedikitpun.

Aku membalikkan badan untuk melihat siapa orang yang sedang menahan tanganku. Tapi sesuatu yang tidak aku duga aku dapatkan di sini. Sesuatu yang basah dan kenyal sedang mencium bibirku, membuat mataku membulat sempurna.

Tapi saat aku memandang manik mata orang yang sedang menciumku, aku mengenal manik mata hitam tegasnya walaupun dalam keadaan remang-remang. Manik mata itu seakan menusuk tepat di dalam mataku, membuatku tidak bisa bergerak sama sekali. Jantungku berdetak sangat kencang saat melihat matanya.

Ya, aku mengenal mata ini. Mata yang membuatku merasakan mimpi indah sekaligus mimpi terburukku. Mata yang selalu membuatku jatuh hati saat memandangnya. Manik mata milik seseorang yang telah beraninya mencuri hatiku di alam mimpi dan di dunia nyata sekaligus. Baekhyun. Dia nyata.

Walaupun aku tidak melihat seperti apa wajahnya saat ini, tapi tatapan mata dan sentuhannya pada bibirku membuatku yakin bahwa orang yang ada di depanku ini adalah dia, Baekhyun. Baekhyunku.

 

~ TBC ~

46 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DREAM (DEJA VOO) – Chapter 3”

  1. waaaaa critanya bkin baper, suka bmget sm jlan critanya dn penuh tnda tanya bnget, slalu smangat buat ffny Fighting!

  2. gua pikir udah bukan mimpi lagi ternyata masih mimpi ya jadi kaya perjalanan dia pas lagi koma ya udah kaya film postman to heaven aja nih 😁😁

    dan semoga pertemuan suzy sama baekhyun yang ini bukan mimpi lagi ya aammiinn 😁😁

    oke semangat ngelanjutin chapter selanjutnya ya say thankyou,gumawo,arigato,xie xie,terimakasih 😘😘😘😁😊

    ❤❤❤

  3. Waduh.. mana yg sbnernya jg2 ini jg mimpi. Masa mimpi di dalam mimpi. Jg buat kami bingung. Pnasaran dan galau sekaligus author nim. Semoga suzy bisa bahagia dg baekhyun di dunia nyata ff. Jg cma d dalam mimpi aja.

  4. Kali ini bukan cuma mimpikan thor?
    Ini nyatakan thorrr?
    Tpi kok baekhyun tiba2 gitu nyium suzy?
    Apa dia juga memimpikan tentang suzy juga? Kaya suzy memimpikan baekhyun?
    Oke next chapter cussssss

  5. Serius agak bingung sih😁*plak,sempet sakit hati jga pastau chapter 2 itu cuma mimpi,suka banget sama baekhyun disini misterius gmana gtu,hihihi.,, kak lea ditunggu lanjutannya^^ pesen dikit ya kak,baekhyunnya jdiin beneran(?) bukan dimimpi terus,soalnnya gereget bangett:3

  6. gua baca ini cerita jadi inget pilem beratnya leonardo de caprio yang judulnya inception yang ceritanya tentang dari mimpi ke mimpi ke mimpi sampe si leonardo kaga bisa bedain mana yang nyata mana yang mimpi hehehe…

    tapi ini bagus banget ceritanya say sukses ngaduk2 perasaan gua cerdas banget cakep kasih 4jempol buat authornya sumpah baca ni cerita bikin gua senyum2 sendiri sampe nangis sesunggukkan sendirian apalagi pas chapter2nya yang suzy mimpi anak kecil itu hadehhh sampe bengkak ini mata bacanya say hehehe…

    keep writing ya chingu karna gua masih penasaran banget sama chapter selanjutnya dan pengen tau sebenernya baekhyun itu ada apa kaga?

  7. kyaaaaa,,Dream,,,,, aku suka bnget ini!!!
    keren ga bosen bacanya!!! serius pas suzy kehilngan baekhyun,,berasa bnget sedihnya!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s