[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 5)

draft

Tittle: DRAFT
Author: nakashinine
Length: Chapter
Genre: School life, Friendship, Romance
Rating: Teenager
Main cast: Oh Sehun (EXO) // Kim Kai (EXO) // Bae Irene (RV) // Kang Seulgi (RV)
With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak nakashinine yang rada geser. But, #Konsep prolog terinspirasi dari beberapa novel romance Indonesia. #Beberapa plot juga terinspirasi dari potongan-potongan drama school korea yang mengudara ditahun 2015.
Posted in [https://nakashinaka.wordpress.com/]
Enjoy^

 

List: [Prolog – Chapter 4]

 -5-

 

Kai keluar kemarnya sambil mengetik pesan untuk Sehun.

         K: Sehun kau benar-benar tak bisa izin dan menemaniku malam ini?

S: Tidak bisa. Kau ajak Irene saja.

         K: Eeeii.. Akhirnya kau menganggapnya sebagai teman.

S: Tidak juga. Dia itu temanmu, kan? Sudah, ya. Aku sibuk.

         K: Terserah kau!!

Kai mendengus kesal seraya memajukan bibirnya. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Lalu melirik jam ditangannya; 7 PM.

“Kau yakin tidak mau kuantar, Tuan Muda?”

“Ah. Tidak usah.” Setelah menjawab dengan ramah, Kai berjalan menuju keluar komplek dan pergi ke halte bus.

Terkadang Kai masih selalu heran kenapa Sehun merelakan hari liburnya untuk bekerja menjadi pelayan kafe demi menambahi biaya hidupnya. Padahal dia masih menginjak tahun ke dua SMA, biaya rumah sampai sekolah pun sudah di biayai oleh ayahnya.

Entah sudah berapa kali Sehun di tawari untuk menjadi bagian keluarga Kai dan tinggal bersama agar Sehun tak harus susah payah mencari uang sendiri. Tapi semua alasan menolak yang Sehun berikan padanya selalu saja membuat Kai luluh. Sehun benar-benar jauh lebih dewasa dari dirinya. Jadi karna itulah Kai sendiri memberi persetujuan agar Ayahnya membiarkan Sehun mulai hidup mandiri.

Meskipun Kai adalah anak orang kaya, tapi dia lebih suka naik bus jika ingin mempir ke apartemen Sehun. Melihat sahabatnya yang sangat dewasa itu, membuat Kai juga ingin berlatih agar tidak bersikap seperti pangeran yang ingin naik kereta kencana dan dikawal kemana-mana. Ayahnya sudah terlalu banyak memanjakan dirinya dan Kai mulai malu dengan itu. Ia juga ingin menjadi laki-laki mandiri dan dewasa seperti Sehun, meski rasanya sulit sekali karna ia juga masih banyak tak paham dengan kehidupannya sendiri.

Kai duduk di kursi bus paling belakang tepat disamping jendela, seperti kebiasaannya jika naik bus bersama Sehun. Hanya saja, biasanya Sehun yang selalu minta duduk di samping jendela. Jika sudah seperti itu, sahabatnya itu hanya akan fokus ke jalanan dengan tatapan yang santai. Entah secara sadar atau tidak, Sehun pasti akan mengomentari sesuatu yang ia lihat di jalan. Membuat Kai selalu tersenyum dan tertawa. Itu adalah kebiasaan favoritnya karna Sehun akan berubah menjadi seperti anak kecil yang kegirangan di ajak jalan-jalan oleh Ayahnya –meski dengan wajah yang datar.

Kai tersenyum kecil. Ternyata duduk di samping jendela dan memperhatikan banyak hal di jalan, memang cukup menyenangkan.

“Oh!”

Kai terkejut ketika bus yang di naikinya melewati sebuah halte dan matanya tak sengaja menemukan seseorang yang sedang berdiri disana. Sel-sel dalam otak Kai secara reflek memintanya berdiri dan turun segera dari bus.

Setelah turun, Kai malah terpaku melihat gadis itu. Kini, beberapa langkah di hadapnnya, ia memandangi Seulgi yang tengah bersandar di tiang yang berada tepat di samping halte. Gadis itu begitu sibuk memainkan ponsel di tangannya.

Kenapa langkah Kai jadi begitu berat? Matanya terus memandangi Seulgi. Dari atas rambutnya yang diikat, gadis itu tampak sangat manis dengan setelan kemeja biru muda dengan melipat lengan bajunya sampai siku. Kakinya yang jenjang dibalut skinny jeans dan sneakers putih. Di tambah tas selendangnya yang tergantung dibahunya.

Saking sepinya halte bus itu, Seulgi benar-benar tak menyadari keberadaan Kai yang telah berhasil mendekat beberapa langkah.

Beberapa menit berlalu Kai masih berdiri di sana tanpa mengalihkan pandangannya dari Seulgi. Dia sangat menyukai momen langka ini, mengingat ia sudah tak akan bisa melakukan ini lagi di sekolah. Keluar malam seperti ini adalah sebuah keberuntungan.

Seulgi terlihat memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu tak sengaja menoleh ke samping dan seketika waktu seperti berhenti. Keduanya sama-sama diam. Untuk yang kesekian kalinya, mata mereka bertemu, namun kali ini mata Seulgi dan Kai bertaut lebih lama dari biasanya.

Seulgi tak bisa mengontrol jantungnya. Dia sangat terkejut sejak kapan Kai ada disana?

S-Sunbae?” Gumam Seulgi.

Kai mengelus-elus belakang lehernya dan mencoba tersenyum, meski kaku.

Seulgi menggeser tubuhnya, dan kini mereka saling berhadapan. Gadis itu menoleh kesana kemari memastikan apakah Sunbaenya itu sendiri atau tidak.

“Aku sendiri.” Tanpa di tanya, Kai menyahut.

“Oh.” Gadis itu mengangguk sambil menatap Kai lagi sebentar lalu mengalihkan pandangan ke sepatu putihnya.

Kai merasa tersanjung. Seulgi tak mengusir dirinya atau menatapnya dengan tatapan sinis. Gadis itu malah memalingkan pandangannya dan mulai memainkan kakinya sedikit. Oh! Kai merasakan wajahnya mulai panas sampai ke telinga. Seulgi benar-benar manis.

“Kenapa.. Kau ada disini, Sunbae?” Akhirnya Seulgi memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu karna situasi super canggung yang menyelimuti.

“Ah..” Kali ini Kai yang mengalihkan pandangannya, ia tak mungkin memberi jawaban bahwa dirinya terlalu refleks melihat Seulgi dan memutuskan untuk turun, tidak, itu memalukan. Namun sial, sistem otaknya tak bisa menemukan alibi yang cukup bagus, selain kejujuran, “A-aku mau ke rumah Sehun, tapi tak sengaja melihatmu. Jadi…”

“Oh..”

Hening lagi. Kai menggaruk belakang kepalanya, frustasi.

“Kau… Tumben sekali tak mengusirku atau pergi dariku.” Akhirnya Kai membahasnya, penasaran.

“O-oh.. Kau ingin aku pergi sekarang?” Tanya Seulgi dengan wajah polos. Agaknya, Seulgi tidak menyadari apa yang sedang Kai bahas.

“Ah-ah tidak. Bukan begitu maksudku.” Kai maju selangkah. “Maksudku, bukankah biasanya… Hm, yah, kau taulah… Di sekolah,” Berbicara hanya berdua seperti ini membuatnya begitu gugup sekaligus tak tahan.

“Aaaah… Iya.” Seulgi baru menyadarinya. Tak ada sepatah katapun yang ia bisa keluarkan detik itu. Ia juga baru menyadari kenapa kakinya tetap berdiri di sana. Kenapa ia tak langsung pergi saja? Seulgi tiba-tiba frustasi mendapati dirinya tiba-tiba merasa linglung tak seperti biasanya.

Tak lama kemudian bus datang, membuat Seulgi merasa terselamatkan.

“Busku sudah datang, a-aku duluan, Sunbae.” Baru saja Seulgi berbalik, tiba-tiba sebuah sentuhan hangat menahan tangannya. Seulgi diam tak menoleh sedikitpun, beberapa menit hening sampai bus tujuan Seulgi pergi meninggalkan halte yang menyisakan mereka berdua.

S-Sunbae… Kau membuatku.. Telat, sampai rumah.” Gumam Seulgi terbata-bata. Ia tak mau berbalik, dan malah merutuki dirinya sendiri kenapa tadi dia tak lari saja ke tempat lain meski harus terlambat sampai rumah. Dan bukannya terbawa perasaan seperti ini.

“Apa kita tidak bisa berteman sama sekali?” Tanya Kai pada akhirnya. Seulgi menelan ludah mendengar pembahasan itu.

“Kurasa tidak.”

“Meskipun di luar sekolah seperti ini?” Tanya Kai lagi tak menyerah.

“Tidak.”

“Bahkan hanya di SMS pun kita tidak bisa?”

“Hm.” Seulgi bersikeras. Untuk kedua kalinya, ia menelan ludah lalu membalikkan badannya menghadap Kai yang ternyata sudah berdiri lebih dekat.

Apa ini? Ia tak pernah berhadapan dengan Kai sedekat ini. Matanya tak bisa berbohong melihat paras Kai yang –ternyata lebih sempurna dari pendapatnya selama ini. Manik matanya kini berakhir di sana, tepat menatap langsung mata Kai dengan leluasa.

Kali ini giliran Kai yang menelan ludah. Jantungnya berpacu sangat kencang ketika ia bisa dengan bebas memandangi wajah Seulgi lebih dekat dari biasanya, dan membalas tatapan intens pertama yang Seulgi beri untuknya.

“Berita yang beredar itu… Bohong.” Sambil terus menggenggam tangan Seulgi, ia membuka suara.

Namun lawan bicaranya tak menjawab. Seulgi masih tak mengerti, benaknya terlalu berantakan untuk melepaskan diri dari Kai dan memahami apa yang mulai dibahas oleh sunbaenya.

“Hal seperti ini baru pertama kali terjadi padaku. Perasaanku tak berkurang sedikit pun meski kau lari sejauh apapun, meski kau menolak sekeras apapun. Dan meski dunia ini melarangku, aku tak bisa berhenti menyukaimu secepat itu.” Kai menahan nafas sebentar. ASTAGA. Apa yang baru saja dikatakannya? Kai benar-benar kehilangan akal. Semua keluar begitu saja dari mulutnya.

S-sunbae…” Gadis itu hanya menggumam. Bingung harus menjawab apa. Seulgi pikir semua itu hanya gurauan belaka, selama ini ia pikir Kai memang hanya mempermainkan dan penasaran padanya saja. Seulgi mengalihkan pandangannya, tak ingin lama-lama terjebak dalam mata coklat Kai.

“Maaf.” Kai melepaskan genggamannya pelan. Mencoba untuk mengumpulkan kembali kesadarannya, namun gagal.

“Aku…” Seulgi menggantungkan kata-katanya.

“Aku tidak meminta jawabanmu. Aku cuma ingin memberitaumu.” Kai tersenyum getir. “Maafkan aku karna tak bisa melupakanmu.”

Mata Seulgi tak bisa mencegah untuk kembali menatap Kai yang detik ini tengah memberinya senyuman. Ia berhasil membaca kesedihan dalam senyuman itu. Lantas mau bagaimana lagi? Seulgi sendiri kebingungan.

Kai memasukkan kedua tangannya kedalam saku lalu mundur beberapa langkah.

“Jika kau memang ingin membuat jarak dariku.. Buat saja. Aku tidak punya hak untuk melarang.” Senyum pahit itu masih terpasang di wajahnya. Hatinya mengutuk diri, “Apa yang sudah kukatakan?!”

Tanpa menunggu respon apapun dari Seulgi, Kai segera mengangkat tangannya lalu melambai kaku, “Aku pergi, Seulgi-ssi.” Lantas ia berbalik dan pergi meninggalkan Seulgi yang masih membeku. Matanya terus menatap punggung Kai yang semakin menjauh dan hilang di ujung jalan.

xxxx

 

Irene menguap lebar tepat ketika memasuki lobi sekolahnya. Akhir pekan kemarin cukup berat dan membebani seluruh pikirannya yang lebih sering santai, ketimbang harus terdesak menerima segala macam tetek bengek materi pelajaran. Rasanya Irene ingin muntah setiap guru privat yang cerewet itu membahas sesuatu tanpa spasi. Setiap dia memberi jeda dan meminta pengulangan karna tak paham, gurunya malah berkata, kau ini lemot juga, ya. Iya, bagaimana tidak menyebalkan?

Irene berjalan lunglai di koridor yang masih sepi. Matanya masih berat, sebenarnya. Tapi ia kepanasan ingin cepat-cepat keluar dari rumah dan bertemu dengan Sehun juga Kai. Rencananya kemarin untuk mengajak mereka bermain jadi gagal begitu saja.

Sedang asik melamun, Irene tiba-tiba dikejutkan dengan suara rintihan dari dalam ruangan club dance yang baru saja sedang dilewatinya. Sebelum ia memeriksa, Irene sudah merinding duluan. Namun kala ia merasa familiar dengan suara itu, Irene segera mengintip di balik pintu. Seketika matanya membulat saat melihat Taemin hendak meninju Kai yang tengah ditindihnya. Tanpa pikir panjang ia menghampiri mereka dan menarik lengan Taemin dengan sekuat tenaga.

Ya! Ada apa dengan kalian?! Hentikan!” Teriak Irene histeris.

Taemin yang dikuasai dengan amarah, tanpa sadar mendorong Irene dengan keras hingga tersungkur ke lantai. Meski merasa sakit, Irene tak mau menyerah dan terus berusaha memisahkan Kai dan Taemin.

xxxx

 

Pagi itu Kai menyusuri koridor menuju kelasnya dan melihat Lee Taemin sedang berjalan dari arah berlawanan, tumben sekali sepagi ini anak berandal itu sudah datang, pikirnya. Tapi ia tak peduli. Kai merasa tak punya urusan dengannya sampai lengannya tiba-tiba ditarik paksa oleh Taemin ke dalam ruang club dance yang mereka lewati.

“Ada apa?” Tanya Kai bingung. Taemin menatap Kai dengan ketus.

“Aku tak tahan dengan keberadaanmu di sekolah ini, Kim Kai.” Katanya tajam.

Kai mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

“Kau –” Dengan tanpa sabaran, Taemin menarik kerah baju Kai. “Kau pikir kau siapa, seenaknya memperlakukan perempuan seperti itu, hah?”

Kai yang masih tak mengerti apa yang sedang dibahas, tanpa ragu mendorong Taemin sampai cengkraman dikerah bajunya lepas. “Bisakah kau to the point saja?!”

“Apakah kau tak punya hati sampai membuat Krystal menangis? Aku tau apa yang sudah kau katakan padanya. Apakah kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Kau benar-benar sok hebat, mentang-mentang seisi sekolah menyukaimu karna mempunyai popularitas yang selangit.”

“Menangis? Aku tak melihatnya menangis.”

Bugk!

Sebuah tinjuan keras berhasil mengenai tepat di wajah kiri Kai sampai tubuhnya tersungkur ke lantai. Kai menyentuh ujung bibirnya yang linu –berdarah. Astaga. Ia terkekeh pelan. Sepagi inikah moodnya harus hancur?

“Lalu kau ingin aku bagaimana? Memeluknya saat menangis dan mengatakan bahwa aku mencintainya, begitu?!” Kata Kai kesal. Taemin menarik Kai kembali.

“Aku benar-benar muak padamu sejak pertama Krystal mulai menyukaimu. Sampai kalian akhirnya berpacaran, aku mencoba menerima itu. Tapi aku tak bisa menahan rasa benciku ketika kau menyakiti Krystal seperti kemarin-kemarin.”

“Kau iri padaku, oh?! We? Karna dia tak menyukaimu?” Perkataan Kai berhasil membuat Taemin mendorongnya dan memukuli wajahnya beberapa kali.

Kai tak mau kalah, kali ini dia yang mendorong Lee Taemin dan membalas pukulannya dengan penuh emosi.

“Kau pikir aku tak merasa terluka melihat perempuan yang kucintai di olok-olok oleh orang lain?!” Bentak Kai keras. Semua emosinya seolah meluap-luap seperti lahar panas. Emosinya mengenai Krystal hanyalah sebatas kekesalan biasa. Namun semua itu kini tercampur dengan emosinya karna cinta yang tak terbalas, emosinya karna tak bisa melupakan Seulgi seperti yang seharusnya. Kekesalannya karna telah menjadi siswa populer dan tak bisa mencintai Seulgi sebebas yang ia mau. Semuanya bercampur dan melabrak seluruh logika dalam diri Kai.

Taemin memutar tubuh Kai dan menindihnya sambil mengangkat kerah baju Kai dengan kencang. “Krystal hanyalah salah satunya. Kemarahanmu terhadap semua orang lah yang membuatmu melampiaskannya pada Krystal karna kau sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Cinta kita sama-sama tak terbalas, tapi kenapa kau sendiri begitu sombong, Kim Kai?!” Taemin melepaskan cengkramannya dengan kasar, membuat Kai terbanting ke lantai dan merintih kesakitan. Dia berniat meluncurkan tinjuan terakhirnya sampai tiba-tiba seseorang menarik lengannya sambil berteriak.

Ya! Ada apa dengan kalian?! Hentikan!”

Namun Taemin tak peduli, ia menepis Irene dengan kencang hingga membuatnya terjatuh ke lantai. Kai yang sudah lelah dan kesakitan, tak bisa berbuat apa-apa melihat Irene terjatuh seperti tadi.

Ya Lee Taemin! Berdiri dari tubuh Kai! Apa yang kau lakukan padanya!” Teriak Irene lagi, ia menarik kerah baju Taemin dan menariknya dengan seluruh sisa tenanganya untuk menyingkirkan laki-laki itu dari tubuh Kai.

“Sadarlah dasar sinting! Kai sudah babak belur. Kau bisa membunuhnya, bodoh!”

“Kau tidak usah ikut campur, Irene! Kalau bisa aku akan membunuhnya sekarang juga!”

Ya! Bisakah kau sadar dasar gila!” Irene mendorong Taemin ke tembok dan menekannya seperti yang pernah ia lakukan pada Junmyeon di kelasnya.

“Lee Taemin, Kim Kai, Bae Irene! Ke ruanganku sekarang juga!” Seruan kencang itu tiba-tiba memenuhi ruangan, suara yang begitu familiar di telinga Irene dan Taemin –sebagai murid pembuat onar. Kepala Sekolah kini memasang wajah kesalnya dan segera meninggalkan ruangan itu. Beberapa siswa yang baru datang menonton mereka dengan penasaran.

“Haaiish. Lihatlah, lagi-lagi ini akan menjadi ‘berita panas’.” Irene melepaskan cengkramannya dengan kasar, lalu menghampiri Kai dan membantunya berdiri.

Jam pelajaran pertama sudah berjalan. Namun ketiga siswa itu kini harus berdiri di hadapan meja Kepala Sekolah. Yang satu siswa bermasalah, yang satu siswi pecicilian, dan yang satunya –Kepala sekolah menggelengkan kepalanya– siswa terpopuler di sekolah.

“Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi pada mereka, Bae Irene?” Tanya Kepala Sekolah serius.

“Aku tidak tau apa masalah mereka, Kepala Sekolah. Aku hanya –“

“Lalu kenapa kau tidak langsung melapor padaku? Malah ikut bergabung dengan mereka.” Katanya gemas.

“Aku tau. Tapi bagaimana aku bisa tahan melihat temanku terkapar gara-gara laki-laki sinting ini.”

Kepala Sekolah memasang wajah penasaran ketika mendengar Irene membahas soal ‘teman’. Irene memutar bola matanya.

“Kalaupun Kai bukan temanku, aku akan tetap membelanya, Kepala Sekolah.”

“Cih. Cintamu bertepuk sebalah tangan, Irene.” Kata Taemin asal.

“Apa?!” Seru Irene tidak terima.

Kepala Sekolah menarik nafas. “Diam!”

“Aku tak punya masalah dengannya, Kepala Sekolah. Tapi pagi tadi Taemin tiba-tiba menarikku ke ruang club dance dan mempermasalahkan sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan. Dan Irene hanya berusaha memisahkan aku dan Taemin. Dia tidak bersalah.” Kata Kai akhirnya.

Kepala Sekolah diam sebentar. Namun akhirnya ia memutuskan untuk menghukum mereka –termasuk Irene, sampai bel istirahat berbunyi.

xxxx

 

Kai, Taemin, dan Irene berdiri melingkar di tengah lapangan. Taemin menarik telinga kiri Irene, Irene menarik telinga kiri Kai, dan Kai menarik telinga kiri Taemin. Dengan tangan kiri, mereka mengangkat satu kaki mereka masing-masing. Dan mereka harus mengganti posisi setiap 10 menit –dari kiri lalu kanan dan kembali ke kiri–. Sungguh, ini hukuman paling rumit yang pernah Irene dapat.

“Kenapa aku juga ikut dihukum seperti ini, sih?!” Rengek Irene sebal. Kai dan Taemin hanya diam dan berusaha memalingkan pandangan enggan saling bertatapan.

Ya Kim Kai. Kau berhutang banyak padaku, hm!” Kata Irene sambil menatap Kai sebal.

“Apa? Bukankah tadi itu pembalasan budi padaku karna aku sudah menyelamatkanmu waktu itu?” Balas Kai tidak terima.

“Kalian dekat? Heol. Kim Kai apakah kau seorang playboy?” Ledek Taemin pelan, tanpa menoleh pada siapapun.

“Tubuh bagian mana yang belum kupukul, Lee Taemin? Hm?!”

“Psssttttt!” Seru Irene kesal.

“Lee Taemin, kalau begitu kau yang harus membayar perbuatanmu karna sudah membuatku terlibat.”

Taemin menoleh pada Irene, ”Kau ingin aku melakukan apa? Mengajakmu bolos selama seminggu? Hm? Kau tertarik?”

“Ck. Dasar sinting.” Gumam Irene memalingkan pandangan ke arah lain.

Berbelas-belas menit berlalu, Kai dan Taemin yang lukanya sama sekali belum diobati mulai merasa kesakitan di seluruh badan. Sedangkan Irene yang sudah biasa menggunakan tubuhnya untuk menjalani macam-macam hukuman, sejak tadi hanya mengomel tak jelas seolah-olah dunia milik sendiri.

Para penghuni sekolah mulai berhamburan keluar kelas ketika jam istirahat, dan otomatis harus melihat pemandangan itu dengan penasaran. Banyak di antara siswi memekik kaget melihat wajah tampan Kai penuh dengan lebam dan luka, mereka merutuki Taemin dan menyumpahinya karna sudah membuat Kai seperti itu. Para siswa sudah biasa melihat Irene atau Taemin mendapat hukuman dari Kepala Sekolah. Tapi Kim Kai? Ini pertama kalinya seisi sekolah melihat Kai dihukum bersama para berandal karna sudah berkelahi sampai babak belur. Mereka juga mempertanyakan masalah apa yang meliputi kejadian itu.

“Ada hubungan apa Kai dengan Taemin dan Irene?”

Heol.. Apakah mereka berdua memperebutkan Irene? Atau apa? Aneh sekali.”

Irene yang mendengarnya memutar bola mata.

“Apa kubilang? Kita akan menjadi berita terpanas hari ini. Huwah! Daebak. Sekolah ini benar-benar daebak!!” Bisik Irene gemas pada Kai dan Taemin.

“Bisakah kau diam saja?” Tegur Taemin sebal.

Kai yang sejak tadi berusaha tak memperdulikan desas-desus para siswa, tiba-tiba matanya menemukan Seulgi yang sedang menatapnya di tengah koridor dengan ekspresi tanya. Ia menatap Seulgi tanpa sadar, membuat gadis itu berpaling dan pergi dari tempatnya berdiri.

“Oh Sehuuun.“ Ketika melihat Sehun menghampiri, Irene langsung merengek seperti bayi –kebiasaannya. Namun Sehun tak menghiraukan, dia malah menatap Kai penasaran.

“Kenapa kau bisa terlibat?” Sahabatnya itu hanya menoleh. “Heol. Lihat wajahmu. Sekarang tak ada lagi yang bisa mengalahkan ketampananku. Nanti aku obati setelah ini.” Lanjut Sehun –datar.

“Astaga Sehun, yang menjadi pemeran utama disini itu mereka berdua, akulah yang tak sengaja terlibat.” Tegur Irene.

Sehun mengangkat kedua jempolnya kearah mereka berdua, “Pertemanan kalian benar-benar luar biasa.” Kata Sehun datar. Kai dan Irene tak paham apakah itu benar-benar pujian atau sekedar ledekan yang kejam.

“Kau berteman dengan dua makhluk sombong ini?” Tiba-tiba Taemin menyahut. Irene, Kai dan Sehun menoleh kompak.

“Apa kita mengajakmu bicara?” Balas Sehun tanpa ekspresi –seperti biasa.

“Apa kau sudah bosan hidup?” Sahut Kai pelan.

Irene yang melihatnya menahan tawa. Astaga. Lagi-lagi dia jadi merasa lebih baik melihat tingkah mereka berdua. Ia melirik Sehun. Apakah laki-laki itu kini sudah menerimanya sebagai teman? Entahlah.

xxxx

 

Ada pemandangan yang aneh di kantin saat jam makan siang berlangsung. Hampir semua orang memandangi meja mereka dengan tatapan heran. Kini Sehun, Kai dan Irene duduk bersama dengan nampan makan siang masing-masing di atas meja. Setelah berita perkelahian Kai dan Taemin yang melibatkan Irene mengudara dengan begitu panas ke seluruh penjuru sekolah. Kali ini semua orang harus menerima pemandangan yang lebih aneh. Sejak kapan Irene bisa berteman dengan 2 siswa yang memiliki popularitas jauh terbaik di atasnya?

Wajah Kai yang di selimuti plester dan perban membuatnya terlihat semakin menarik di mata para penggemarnya. Namun Kai sendiri merasa tersiksa harus menahan sakit ketika mengunyah makan siang.

Irene bisa saja tak memperdulikan semua tatapan tajam di sekitarnya, namun ia sedikit risih. “Apa aku pergi saja dari sini?” Bisik Irene sudah siap membawa nampannya pergi.

Kai dan Sehun menatap Irene, mereka hanya menginjak kaki gadis itu bersamaan.

Aigoo. Kompak sekali.” Irene tersenyum tipis lalu melanjutkan makan siangnya dengan mencoba tak peduli.

“Kau terlalu berlebihan menanggapi Taemin sampai sebegitunya.” Kata Sehun membuka percakapan. Saat tadi di UKS, Sehun hanya mendengarkan cerita Kai tanpa memberi komentar.

“Kau tau kan bagaimana kalau aku emosi.”

“Aku tau. Tapi ini pertama kalinya kau hilang kendali dalam permasalahan cinta.”

Uhuk!” Irene yang duduk di hadapan mereka tiba-tiba tersedak mendengar perkataan Sehun barusan. Kai dan Sehun memandangi Irene yang kini sudah meneguk air minumnya cepat. Lalu gadis itu menahan tawa.

“Apa yang lucu?” Tanya Kai.

“Permasalahan cinta? Jadi kau berkelahi sampai babak belur seperti itu hanya karna cinta? Omo, jadi playboy juga bisa berkelahi karna hal seperti itu.” Sedetik setelah menyelesaikan ejekannya, Irene kembali melahap makan siangnya dengan nafsu.

Kai dan Sehun saling bertatapan lalu kembali menatap makan siang mereka. “Kau yakin akan terus berteman dengannya?” Gumam Sehun sebelum menyuapkan sumpitnya.

“Entahlah. Aku sedikit ragu, lihat saja nanti.” Jawabnya santai. Irene yang mendengarnya otomatis memandangi mereka berdua dengan gemas.

“Selera humor kalian benar-benar recehan.” Sebelum menyuapkan makanannya lagi, mata Irene menemukan Seulgi yang sedang santai menikmati makan siang dengan beberapa teman club dancenya. Irene melihat gadis itu tersenyum ringan. Manis sekali.

“Kim Kai. Sepertinya kau harus berterima kasih padaku karna keberadaanku membuat orang-orang tidak mengganggu Seulgi lagi.” Kata Irene. Kai menoleh kearah Seulgi sebentar lalu kembali menatap Irene tanpa memberi komentar apapun. “Yah… Mungkin saat ini orang-orang sedang merencanakan penyantetan untukku malam ini.” Lanjut Irene sambil menyipitkan matanya gemas.

“Cih.” Kai terkekeh. “Kau lebih cocok menjadi boneka santet ketimbang orang yang disantet.” Dia menggeleng sambil tertawa pelan.

Ya!” Irene menginjak kaki Kai kesal.

“Itu benar.” Sehun menyahut santai.

“Apa?!” Seru Irene tak percaya. Kai dan Irene memandangi Sehun yang ikut diam dan membalas tatapan mereka.

“Maksudku, tentang rencana penyantetan Irene, bukan boneka santetnya.” Kata Sehun mengkoreksi.

Irene menghela nafas. “Hm. Kalau begitu kalian harus membayarnya. Bantu aku menyingkirkan guru privat super cerewet itu dari rumahku.”

“Mudah saja. Kau kan selalu membuat onar dengan guru-guru di sekolah. Lalu kenapa tak kau lakukan hal yang sama di rumahmu?” Usul Kai. Irene menjentikkan kedua jarinya.

“Kau jenius sekali Kim Kai! Kenapa aku tak berpikir kesana?!”

“Ya.. Kenapa kau mengusulkan hal semacam itu? Bukankah bagus membiarkan Irene les privat?” Tegur Sehun heran. Tapi Irene hanya mengangkat tangannya di depan muka Sehun.

“Forum kritik dan saran di tutup!”

Kai tertawa, moodnya kembali membaik.

Sepulang sekolah, Irene benar-benar melakukan usulan saat makan siang tadi. Gadis itu mulai merencanakan aksi-aksi jailnya agar membuat guru privat super cerewetnya itu merasa terganggu. Mulai dari mengumpulkan serangga-serangga menjijikan, permen karet di kursi yang biasa diduduki gurunya, dan hal-hal jail jadul lainnya. Ia yakin, sejadul apapun jenis kejailannya, guru cerewet itu tetap tak akan bisa lolos darinya, Irene tertawa evil.

xxxx

 

[PREVIEW: CHAPTER 6]

“Oh Sehun. Maukah kau menolongku?”

>>

“Yaampun. Seharusnya aku menghentikan kalian sejak awal.”

>>

“Tanggal apa yang kau pakai dalam password apartemenmu itu, hm?”

>>

“Astaga sejenius-jeniusnya Sehun, ternyata mudah terpengaruhi juga.”

>>

“Hm. Aku memang selalu datang lebih awal.”

>>

“Ah.. Dance-mu bagus sekali, sunbae.

>>

“Oh? Memangnya kalau teman harus meminta izin dulu, ya? –“

>>

“Ih! Ayo Kai, kita bermain berdua saja. Jangan ajak-ajak Sehun.”

>>

“Kupikir kau sudah lupa dengan rencanamu itu.”

>>

“Astaga. Ada apa denganku.”

>>

“Terus mau bagaimana lagi? Aku memang tidak mengerti, Kai pesek!”

>>

“Kalau begitu kau beli dulu ke minimarket. Begitu saja, kok, susah.”

>>

“Sungguh.. Spesies perempuan macam apa itu?”

>>

TBC

Yeay! Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya~~

27 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 5)”

  1. ciee yang udah resmi…. temenan
    gue suka banget sama karakter irene disini, mskipun beda sama di dunia nyata tapi gue masih dapet feel dan masih bisa bayanginnya.

  2. Bagus bagus.. Seneng banget baca nya , sehun bisa ngelawak juga walau pun agak gak kebayang kalau terlalu datar hehe , semangat ya semoga semalin kreative ceritanya, thank you!!

  3. Kok aku ikutan deg2an ya liat kai ngomong sama seulgi hihihi.. Aseuli thor seneng beud sama karakter irene bener2 beda (y)

  4. hahahaha…. irene,, irene,, cantik2 tapi agak agak gimana yaaaa….. -_- tapi lucu pengin ketawa mulu 😀

  5. Wahhh tumben2an kai sama taemin berantem
    Biasanya mereka kan akur bgt gitu
    Malahan yg suka berantem sampe tendang2an itu biasanya kai sehun wkwkwk
    Suka ceritanya
    Gemes liatnya ><
    Oke deh mau lanjut baca next chapter nya hehe

  6. Trio Gila tapi mempesona wkwk. Lucu banget kak momen mereka kumpul, usahain next chapter banyakin momen mereka main bareng ya trus kalo bisa banyakkin momen Irene-Kai ngerjain Sehun. Pasti lucu>< Ini untuk yg kesekian kalinya aku mau bilang kalo aku suka banget karakter Irene disini wkwk. Happy Virus bgt! Btw, aku pengen liat momen tbtb mereka bertiga gabung main sama Seulgi boleh gak?:') wkwk. See you next chap kak, semangat nulisnya!

  7. Iiihhh airin yaa lucu bangeet,,, somplak2 cantik gt yee?
    Couplein ama sehunna ya? Ya ? Ya?
    So swit bgt pertemanan mereka,

  8. Hallo thor-nim mohon maaf baru meninggalkan jejaakkk. Aku baru baca dan langsung baca sampai chapter 5. Aku suka ceritanyaaaaa. Suka sama karakter sehun. Dan suka juga ditiap ending chapter selalu ada preview. Berasa kaya nonton drama. Terus jadi kaya nunjukkin kalo sebenernya ff ini udah disiapin secara matang hehehe.
    Ditunggu next chaptnya yaahhh thor-nim! Hehehe

    1. Haloo hahahaha awalmya emang udah disiapin dgn mateng, tapi pas tengah tengah jadi mentah lagi 😛 wkwk makasyiiii yaaah 😀

  9. Jadi like sm trio ini deh, moment sehun kai irene di bnykin ya thor, kalau bisa sih adegan mereka bertiga dibuat semenarik mungkin, lumayan ada comedynya gitu ekekek 😀 iya nih, next chap di panjangin ya thor. Ditunggu next chapnya fighting!!

  10. panjangin dong kak cz ini kpendekan.
    chapter slanjutnya bnyakin moment sehun-irene ya cz dsni dkit bgt moment mereka.
    seulgi kyk nya udh mulai suka kai deh….
    dtunggu chapter selanjutnya….
    semangat ya kak ^_^

    1. Waaahh ampuni diriku yah next chap gabakal sesuai harapan hihihii ditunggu aja ya wkwk thanks udah baca 😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s