[EXOFFI FREELANCE] Someone Like You (Chapter 5)

PhotoGrid_1457780940070.jpg

Title : Someone Like “You

Author : RainRainbow

MainCast : EXO’s Park Chanyeol || OC’s Nayla

Genre : Romance Comedy(Failed)

Length : Chapter

Disclaimer : It also posted on my wattpad @rain2bow

 

Chapter 5

 

“Iya… iya… itu…” Aku terus menyerukan pada orang yang sedang melompat-lompat guna mencapai topi yang tersangkut di ranting pohon yang tak terlalu tinggi bagi nya. Tapi itu sangat tinggi untuk ku.

 

Dia berhasil mencapai topi itu. Namun aku melihat kaki nya menginjak batu berlumut yang sedari tadi sebisa mungkin ia hindari. Dan_

Brak…

 

Aku menutup mataku. Aku tak sanggup jika melihatnya. Saat aku kembali membuka mataku orang bertubuh jankung itu sudah tersunggkur dengan posisi telungkup.

 

Aku langsung berlari ke arah nya. Aku mengguncang tubuh nya sambil terus menyerukan nama nya. Namun dia tak menunjukan respon apa pun. Dengan sekuat tenaga aku membalikan badan nyahingga dia terlentang.

 

“ASTAGA!!!” Aku memekik kaget setelah melihat dahi sebelah kiri nya mengeluarkan cairan kental berwarna merah. “Park Chanyeol! Wake up!” Aku lantas memukul-mukul sedikit keras, ingat hanya sedikit keras pipi nya sambil terus memanggil nama nya agar kesadaran nya kembali.Sia-sia dia tak kunjung sadarkan diri.

 

Setelah bersusah payah memapah tubuh nya yang pasti nya tidak ringan ini. Aku akhirnya bisa membawa nya kembali ke dalam mobil. Aku sudah bersiap akan mengemudikan mobil ini. “Kunci… di mana kunci nya?” Tanpa pikir panjang aku langsung merogoh saku jeans nya. Dapat. Segera kutancap gas mobil ini.

 

“Eunghh…” Suara lenguhan terdengar dari sebelah kanan ku. “You’ve woke?” Tanya ku sambil menoleh ke arah nya.

 

“L… look…” ucap nya susah payah sambil mengarahkan tangan nya ke depan. Aku pun langsung melihat ke depan. Aku lansung membelokan stir ke kiri, ternyata aku sudah memasuki jalur yang salah dan hampir menabrak mobil lain. “Huh… hampir saja.” Lega ku.

 

“Kemana kau mau membawa ku?” Tanya nya dengan suara parau.

 

“Tentu saja ke rumah sakit.”

 

“Are you crazy? Aku bisa habis jika pergi ke tempat itu. Do you forget who I am?” Aku langsung menepuk jidat ku. Benar juga, aku tak mungkin membawa nya ke sana.

 

“Jadi bagaimana dengan luka mu?” Aku kembali menoleh ke arah nya.

 

“Lihat ke depan nona!” Aku langsung melihat ke depan lagi.

 

“Tidak terlalu parah. Kau hanya perlu memberikan ku obat merah dan plester.”

 

“Me?” Aku mengerutkan kening ku.

 

“Of course. Kau yang menyebabkan ini terjadi.” Ucap nya enteng dan membuat ku semakin merasa bersalah.

 

-\\-

 

Dia memutuskan untuk kembali ke hotel, setelah aku membeli beberapa obat untuk nya.

 

“Ya! Kenapa kau hanya diam saja? Kau mau lari dari tanggung jawab?” Bentak  nya yang membuat ku tersentak. Aku pun berjalan perlahan menuju kasur dimana ia sedang terududuk dan menahan sakit di beberapa bagian tubuh nya.

 

Aku mengambil alkohol untuk membersihkan luka di lutut nya. Dengan hati-hati aku menyiramkan nya pada luka yang cukup parah itu. “Aaah…! Ya! tak bisakan lebih hati-hati?” Teriak nya saat cairan dingin itu menyentuh permukaan luka nya. Aku bersumpah aku sudah melakukanya dengan sehati-hati mungkin.

 

“I’m so sorry…” Setelah selesai dengan alkohol aku menaruh obat merah, lagi dia meringis, melihat itu pandangan ku jadi kabur. Air mata ku berlinang. Aku memang cengeng, ku akui itu.Aku tak tahan melihat orang yang kesakitan seperti iniapa lagi aku si penyebab nya.

 

“Aku benar-benar minta maaf… harusnya aku tak memaksamu untuk mengambil topi itu.” Ucapku sambil menepelkan plester pada luka di lutut nya.

 

“Kau menyesal ‘kan sekarang? Harusnya tadi kita melanjutkan perjalanan tanpa harus mengambil topi itu.”

 

“Tidak, bukan seperti itu. Harusnya aku sendiri yang mengambil topi itu tanpa meminta bantuan mu.” Kataku sambil menarik cairan yang akan keluar dari hidung ku.

 

“Kau ini tetap saja, keras kepala.” Aku mendengar nya mendecakan lidah nya. Tentu saja aku tak bisa merelakan topi ini begitu saja.

 

Aku mendongak setelah menghapus air mata ku yang belum sempat menetes itu. Aku beralih pada luka di dahi nya. Lagi ia meringis menahan sakit, aku membersihkan luka nya dengan alkhol.“Apa… hiks… sesakit itu… hiks…” Aku mulai terisak. Aku tak bisa menahan lagi untuk tidak menangis.

 

“Yaa… kenapa kau malah menangis?” Aku tak menghiraukan pertanyaan nya. Aku hanya memfokuskan penglihatan ku pada luka nya.

 

“Tahan… hiks… ini tak akan sesakit tadi.”

 

“How do you know?”

 

“Karena kau sudah tahu bagaimana rasa sakit nya. Jadi walau pun rasa sakitnya sama, ini tidak akan sesakit sebelumnya.” Aku pun meneteskan obat merah lalu menempelkan plester.

 

“Selesai.” Aku menghapus air mata ku, lalu melihatnya yang ternyata sudah melihat ku terlebih dahulu. Mata kami pun bertemu. Entah kenapa aku merasa ada yang berbeda dari cara nya melihat ke dalam mata ku.

 

“Ekhem…” Aku berdehem untuk memutuskan kontak mata kami. Dia nampak salah tingkah setelahnya. Aku hanya mengedarkan pandangan tak jelas untuk menghindari nya.

 

“Kenapa kau menangis?” Tanya nya pada akhirnya.

 

“Karena kau terluka dan begitu kesakitan.” Jawab ku enteng, karena itu memang alasan aku menangis tadi.

 

Dia tertawa renyah setelah mendengar jawaban ku. Dia pasti menganggap ‘ku aneh saat ini. Ok aku terima. Tapi apa dia harus mengejek ku dengan tertawa seperti itu?

 

“Aku tahu aku aneh. Tapi apa kau harus menertwakan ‘ku seperti itu? kau sungguh tak sopan.”

 

“Aku tak mengatakan kau aneh. Aku hanya merasa ini lucu. Aku yang terluka tapi malah kau yang menangis. Tak ada orang lain yang seperti itu kecuali mantan kekasih ku.” Aku terdiam dan memposisikan tubuh ‘ku lurus ke depan—tak berhadapan lagi dengan nya.

 

“Dan apa tadi? Sopan? Ya! Kau sendiri tak pernah bersikap sopan pada ku. Memang nya berapa umurmu?” Aku memutar bola mata ku malas. Kenapa orang ini jadi banyak bicara seperti ini?

 

“Tak menjawab? Kau pasti lebih muda dari ku ‘kan?”

 

Yang benar saja. Aku bahkan hanya setahun di bawah nya.

 

Dengan tiba-tiba dia meraih dompet ku yang terletak di sisi kiriku sementara dia berada di sisi kananku. Tangannya melewati tubuh bagian depan ku untuk mengambilnya. “Hey! What are you doing?” aku mencoba meraih dompet ku yang kini sudah ada di tangan nya. Namun dia bangkit dan segera mengambil sesuatu di dalam dompet ku.

 

Apa lagi yang dia akan ambil? Tak mungkin uang ku ‘kan? Tidak dia sedang tidak dalam kondisi saat pertama kali kami bertemu. Ya. Passport ku. Dengan teliti ia membaca benda itu.

 

Dia kembali mendekat. “Heh… kau bahakan setahun di bawah ku. Dan selama ini kau memanggil ku apa? ‘You’…?”

 

“It’s because we talk in English.” Aku mencoba membela diri.

 

“It couldn’t be. You can’t just call me like that.” Dia mengerutkan kening nya. Mungkin dia sedang berpikir. “Oppa, callme oppa.

 

“What?” Memikirkan nya saja membuat perut ku mual. Aku tak akan pernah menyebutkan kata itu. Tidak akan.

 

“Big no, Mr. Park!” Tolak ku lantang.

 

“Kau memang keras kepala. Di Korea kau harus memanggil orang yang lebih tua dengan embel-embel, atau kau akan dianggap tak sopan.”

 

“Tetap saja, aku tak akan memanggil mu seperti itu. Lagi pula seperti yang kubilang tadi kita bicara dalam bahasa inggris. Akan aneh kalau aku menyebut seperti yang kau katakan tadi.” Sungguh aku sangat berusaha untuk tidak menyebut panggilan itu.

 

Aku bangkit dari duduk ku. Dan mengambil semua barang-barang ku—mengemas nya.

 

“Kau mau kemana dengan semua barang-barang itu?” Dia lupa? Apa ini efek dari kepala nya yang terbentur?

 

“Tentu saja mencari hotel lain.”

 

“Yaa! Kau mau lari dari tanggung jawab? Lihat, aku masih sakit karena ulah mu.”

 

Aku menghela napas panjang. Benar juga aku tak mungkin meninggalkan nya. Berjalan saja dia sudah kesusahan. Sekarang bagaimana.

 

“Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu.”

 

“Just a minute.” Titah nya lalu mengangkat gagang telepon yang ada tepat di samping nya.

 

Aku mendengar nya berbicara dengan menggunakan bahasa Korea sambil menganggukan kepalanya. Setelah hampir sau menit menelfon dia akhirnya memutuskan sambungan itu.

 

“Ada kamar kosong di lantai 7. Kau bisa menggunakan nya, jadi tak perlu mencari hotel lain.”

 

“Benarkah?” Aku senang sekali mendengar nya. dengan begini aku tak perlu repot-repot untuk check in lagi di hotel lain.

 

“Ya. Kau bisa langsung ke sana.”

 

“Baiklah. Aku akan ke sana sekarang.”

 

-\\-

 

Akhirnya aku bisa merebahkan badan ku dengan bebas. Entah kenapa hari ini begitu terasa melelahkan. Padahal aku bahkan belum memulai petualangan ku. Mata ku juga ikut-ikutan menjadi berat. aku sangant mengantuk padahal ini masih sore.

 

Suara deringan telepon membangunkan ku. Dengan gerakan lambat aku mengambil benda itu dan langsung meletakan nya di telinga ku. “Halo…” Aku yakin suara ku pasti terdengar serak.

 

“Nayla…” Suara ini. Heh… lihat siapa yang akan menelfon lebih dulu.

 

“Ryan, kan?” Tanya ku yakin kalau dia memang Ryan.

 

“Nayla-ssi…” Aku mengerutkan kening ku. Ssi? Kulihat lagi layar ponsel ku yang menampilkan nama Park Chanyeol. Huh… suara mereka terdengar begitu mirip. Apa ini efek karena aku baru bangun tidur?

 

“Nayla-ssi… Do you hear me?”

 

“Yeah. Do you need something?” Aku mulai memposisikan tubuh ku untuk duduk tegak.

 

“Cepat lah ke sini. Aku sedang sekarat.”

 

TBC…

 

Kaya nya buat part selanjutnya aku gak bakalan kirim lagi ke sini. Jadi buat yang ingin membaca kelanjutan nya bisa main ke wattpad ku @rain2bow.  Thank you… J

 

 

 

 

 

 

 

 

14 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Someone Like You (Chapter 5)”

  1. si Chan keknya modus keknya dah biar si Nayla dateng:v kak knpa cuma sedikit doang ceritanya:'(
    Tapi FFnya keren banget kok kak, aku selalu nunggi FF ini next:)
    Fighting: )

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s