[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 4)

draft

Tittle: DRAFT

Author:

Length:

Genre: School life, Friendship, Romance

Rating: Teenager

Main cast: Oh Sehun (EXO) // Kim Kai (EXO) // Bae Irene (RV) // Kang Seulgi (RV)

Additional Cast: SM Artists.

Disclaimer: Fanfic ini murni terlahir dari otak author. Tapi #Konsep prolog terinspirasi dari

beberapa novel romance Indonesia. #Beberapa plot juga terinspirasi dari potongan-potongan

drama school korea yang mengudara pada tahun 2015.

JADI MOHON MAKLUM bila menemukan ke-familiar-an alur atau karakter.

A/N: Salam kenal. I’m a new freelancer(gapenting). Enjoy^^

Other Chap: [Prolog] [Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3]

-4-

Berada di tengah rumah besar yang dingin ini membuat Irene rindu apartemen Sehun yang

tenang.

Semua diam di tengah-tengah makan malam. Jarang-jarang Ayah dan Ibu tirinya ada di rumah

dan menghabiskan makan malam bersama. Tapi Irene tak merasakan kehangatan apapun. Sekali-

sekali, keluar pembicaraan bisnis antara Ayah dan sang istri. Kadang-kadang kakak tirinya juga

ikut menyahut sok asik. Tapi Irene hanya diam sampai Ayahnya membahas dirinya.

“Tahun kedua ini kau harus naik peringkat, Irene.” Anak itu menoleh, sedikit terharu atas

kepedulian Ayahnya yang sudah bertahun-tahun pudar. “Kalau kau tetap ada di posisi terendah

lagi, aku akan malu dengan teman-teman bisnisku. Anak-anak mereka kebanyakan siswa

berprestasi.” Itu menyakiti Irene. Dia pikir Ayahnya benar-benar peduli padanya. Dia melirik

kearah si bangka kakak tirinya yang diam-diam tersenyum meledek.

“Jika Irene butuh guru untuk belajar, aku siap membantu, kok.” Lelaki itu menatap Irene sambil

mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum sombong.

“Tidak, terima kasih.” Jawab Irene ketus.

“Kalau kau butuh guru privat, aku punya teman pemilik les privat professional. Pengajarnya pun

bisa menjamin.” Ibu tirinya mengusulkan.

“Tidak, terima kasih.” Lagi-lagi Irene menjawab dengan kalimat yang sama. Ayahnya

menatapnya heran.

“Kenapa, hm? Kau tak mungkin bisa belajar dan mengejar materi sendirian.” Nada bicara

Ayahnya naik sedikit.

Irene meletakkan sumpitnya diatas meja. “Aku tak akan suka belajar lama-lama di dalam rumah

ini.” Jawabnya ketus.

“Kau mau belajar di tempat les?” Tanya Ibunya memastikan.

“Tidak juga.” Irene memiringkan kepalanya.

“Lalu kau maunya apa? Keluyuran diluar sana dan menari-nari tak jelas? Mau kau kemanakan

masa depanmu itu?” Sindir Ayahnya.

Irene melirik kakak tirinya tajam, “Itu lebih baik ketimbang berada di dalam rumah dan dipaksa

untuk menjadi adik tiri yang hormat.”

“Irene!” Tegur Ayah. “Jika kau terus seperti ini, Ayah akan mengirimmu ke sekolah asrama yang

ketat supaya kau bisa lebih terurus.”

Anak itu lalu berdiri dan meninggalkan meja makan dengan tidak sopan. Ayahnya hanya bisa

menghela nafas.

Irene menutup pintu kamar dengan keras, ia membanting tubuhnya ke atas ranjang dan menatap

langit-langit sambil menghela nafas. Ia mengingat kembali kata-kata Ayahnya barusan, apakah

Ayah serius? Pikirnya. Itu artinya, jika semester ini Irene tidak bisa naik peringkat, ia akan

langsung pindah sekolah, begitu? Sebenarnya tak ada gunanya juga ia bersedih. Toh ia tak punya

teman sejati di sekolah. Dia juga selalu membuat onar dan membuat guru-guru kesal. Tapi

meskipun begitu, Irene pasti akan lebih senang di sekolahnya yang sekarang ketimbang

membayangkan sekolah yang disiplin dan tinggal di asrama. Sekolah itu belum tentu memiliki

club dance seperti disini. Toh, Irene senang berada di club dance sekolah, tidak sedikit anggota

yang bisa akrab dengannya dan hanya akan memandang dia sebagai anggota club yang hebat,

bukan siswa nakal yang pecicilan dan senang membuat onar.

“AAAARGH.” Irene menendang-nendangkan kakinya sambil merengek seperti anak kecil.

“Ah bagaimana ini? Aku malas sekali belajar. Apa yang salah dari peringkat terbawah?! Menjadi

dancer pasti bisa menghasilkan lebih banyak uang kan?!?”

Tidak, Irene tak sungguh-sungguh ingin menjadi dancer. Dia juga masih belum memikirkan

harus kemana ia membawa masa depannya? Irene hanya berusaha menikmati masa SMA nya

semenyenangkan yang ia bisa. Jika sudah seperti ini, Irene akan sangat merindukan mendiang

Ibunya. Andai Ibunya masih ada, dirinya pasti akan mendapatkan lebih banyak perhatian.

Ia tak pernah mengerti ada apa dengan dunia bisnis yang digeluti Ayah dan Ibu tirinya sampai-

sampai mereka harus menikah. Setau Irene, pernikahan mereka terjadi bukan hanya atas dasar

cinta, melainkan atas dasar kepentingan bisnis. Apakah itu masuk akal? Irene benar-benar tak

bisa paham. Ibu tirinya terlalu elegan untuk menjadi Ibu dari seorang anak seperti Irene. Anak

lelakinya juga benar-benar tidak berguna, hanya merasa kesenangan bisa mendapat pekerjaan

karna Ayah dan gila harta. Kemudian Irene berkaca pada dirinya sendiri yang sama tak

bergunanya. Ia mendengus, “Keluarga ini benar-benar sinting.”

Ponsel Irene bergetar. Ia meraihnya, lalu menemukan pesan kakaotalk dari forum grup kelasnya.

Ia membacanya satu persatu pembicaraan mereka tentang tugas dan juga hal-hal tak penting.

Lalu ia menemukan nama Kai dan tiba-tiba mendapat ide cemerlang. Jarinya pun segera

menekan nama Kai dan memulai obrolan personal.

Ya kimkai. Berikan nomer hp Sehun atau aku bunuh kau malam ini juga.

Irene mengirim pesan itu beserta foto aib Kai saat ia tertidur di sofa Sehun sore tadi. Irene

cekikikan, “Sudah kuduga foto ini akan berguna.”

Tak sampai satu menit, Kai membalas.

Beraninya kau mengancamku dengan cara seperti ini dasar gila!

Setelahnya nomor pensel Sehun segera menyusul, membuat Irene tertawa girang. “Astaga

mempan juga.”

Sambil cekikikan seperti anak kecil yang baru mendapat permen, Irene mulai mengetik pesan

untuk Sehun.

I: Oh sehun

Tak ada balasan.

I: Oh sehun ini aku Irene

S: Darimana kau dapat nomerku?

I: Sehunie aku bosan

S: Pasti Kai. Akan aku bunuh kalian berdua besok.

I: Tidak, sebelum aku membunuhmu. K k k k k.

S: Tidurlah. Aku sedang sibuk.

I: Tidak mau

Lagi-lagi Sehun tak membalas, namun Irene tak peduli.

I: Oh sehuuuuun.

I: Ya oh sehon

I: Sehunnieee

I: Puppy sehun

I: Mr. Oh

I: Ya! Ya! Ya!

I: Akan ku ganggu kau sampai mati!!

Irene terus mengirim pesan tak jelas sambil tertawa geli. Ia yakin Sehun pasti sudah memasang

mode silent pada ponselnya. Tapi Irene merasa ini sangat menyenangkan. Apalagi ketika dia

membayangkan ekspresi Sehun ketika nanti membukanya. Apakah Irene akan menjadi orang

pertama yang menghidupkan kembali ekspresi Sehun? Ia tertawa lagi.

Pagi di apartemen Sehun masih sama, tenang. Di menit-menit awal Sehun bangun, ia sudah

menyalakan musik-musik jazz yang nyaman didengar saat pagi untuk mengisi keheningan

apartemennya. Setelah mandi, Sehun meraih ponsel pintarnya dan menemukan 25 pesan baru

dari Irene. “Ck.” Keluhnya pelan. Meski begitu, entah kenapa ia membaca semuanya juga satu

persatu.

Bagaimana ini aku bosan sekali oh sehun

Apakah kau sudah tidur?

Tidak mungkin. Kau pasti sedang membaca pesanku dan tak mau membalas iya kan?

Ya oh sehun!

Oh sehun apa kau percaya kepala sekolah kita punya 2 gigi emas?

Semua orang tak ada yang mau mempercayaiku

Padahal, kan hampir setiap hari aku di panggil ke kantornya dan kau tidak akan menyangka

kalau aku melihat sendiri gigi emas itu! Hahahahaha

Mereka ada di mulut sebalah kanan. Jika kau tidak jeli, kau tak akan menemukannya.

Kau pasti tidak akan percaya! K k k k k

Setiap dia marah besar padaku, 2 gigi emasnya akan terlihat mengkilap dan itu lucu sekali omo

omo omo hahahahahah

Image galaknya benar-benar hancur cuma gara-gara gigi emas oh jinjja aku akan mati kegelian

jika melihatnya lagi

Apa kau sedang tertawa?

Apakah aku menjadi orang pertama yang membuatmu tertawa?

Ya oh sehun

Ooooh sehuuuunn

Cemilanmu itu kau beli dimana? Aku ingin menyimpannya juga sampai memenuhi kulkas di

rumahku

Dan bla bla bla pesan-pesan tak jelas lainnya. Wajah Sehun masih datar. Ia sama sekali tak

tersenyum apalagi tertawa. “Ha. Ha. Ha. Itu lucu sekali, Irene. Bahkan orang biasa pun tidak

akan tertawa karna lelucon anehmu itu.” Komentarnya pelan. Kemudian ia menyimpan nomer

Irene dan memberinya nama “Cewek sinting”.

Seulgi mengikat seluruh helai rambutnya di belakang kepala dan menatap dirinya di cermin

untuk beberapa saat. Kenapa pertanyaan itu masih saja menggeluti benaknya. Iya, pertanyaan

kenapa sunbae tampan terpopuler di sekolahnya itu begitu menyukainya? Pertanyaan bagaimana

bisa? Selalu menghantuinya semenjak cewek-cewek di sekolah senang sekali mempermainkan

harinya. Dia tak pernah menyangka, disukai seorang sunbae ternyata akan setidak beruntung ini.

“Selamat pagi Kang Seulgi, semoga hari ini kau beruntung. Kau pasti bisa menghadapinya lagi.”

Ucapnya di depan cermin pada dirinya sendiri, ia mencoba tersenyum meski berat.

Tiga bulan pertama masa SMAnya terasa menyenangkan sesuai harapan. Dia bisa mudah akrab

dengan teman-teman sekelasnya. Masih bisa tersenyum ramah pada semua yang menyapanya.

Menjalani semuanya dengan baik. Ketika itu juga dirinya lolos masuk club dance dan bertemu

dengan Wendy yang sangat menyenangkan. Ia ingat sekali betapa seringnya Wendy membuat

Seulgi tertawa saat jam-jam istirahat di tengah latihan dance.

Dan setelah ujian tengah semester selesai. Semua ketidak nyamanan itu dimulai. Seulgi-ssi,

sepertinya aku menyukaimu. Bolehkah aku meminta nomermu? Pertanyaan itu begitu terkutuk di

ingatan Seulgi. Saat itu terjadi, semua orang menoleh dan menatap mereka. Beberapa anggota

perempuan memandang tak percaya dan mulai menatap dirinya dengan tajam. Mwoya. Tidak

mungkin. Suasana itu masih terngiang jelas.

Seulgi menghela nafas pelan ketika langkahnya mulai menyusuri halaman sekolah yang besar.

Wajah datar dan cuek seperti ini lah yang ia buat setelah kejadian di club dance waktu itu. Saat ia

berjalan di koridor, orang-orang mulai berbisik menyebut-nyebut nama dirinya dan Kai. Tapi

hari ini ada yang aneh, dia sepertinya mendengar nama lain yang ikut disebut-sebut –Krystal.

“Apa? Kai sunbae berkata seperti itu?”

“Iya, gosipnya sudah menyebar. Kai sunbae membela Seulgi dari Krystal sunbae.”

“Ho daebak. Cewek itu semakin sok saja.”

“Tapi bukan itu gosip panasnya!”

“Iya. Kai sunbae sudah tak menyukai Seulgi.”

“Hah? Bagus sekali kalau begitu. Kai akhirnya sadar.”

“Kai tadi yang mengatakanya sendiri ketika ada yang bertanya!”

“Astaga ini berita hebat.”

Dan kasak-kusuk lainnya. Seulgi berusaha untuk tidak mendengar, namun isi gosip-gosip yang

mereka bicarakan itu membuatnya bertanya-tanya. Ia membuka lokernya dan –hebat. Tak ada

sedikitpun sampah didalamnya, hanya ada beberapa surat. Dengan penasaran Seulgi

membacanya, “Sudah kukatakan Kai tidak benar-benar menyukaimu, adik kecil.”, “Ya! Jangan

dekat-dekat Kai sunbae ku lagi! Dia tidak sungguh-sungguh menyukaimu. Selama ini kau pasti

kegeeran.” dan lain-lain semacamnya.

Seulgi memiringkan kepalanya. Ingatannya berputar pada percakapan dirinya bersama Kai

kemarin. Jadi perkataan Kai kemarin benar-benar dilakukannya? Aku akan berusaha membuat

semuanya jadi normal kembali.

Ia tak pernah membayangkan efeknya akan secepat ini. Tapi perasaan Seulgi biasa saja. Dia

tidak berpikir apakah dia gembira atau tidak melihat situasi ini. Yang pasti, ia berharap semua

akan benar-benar kembali normal. Dua bulan lagi ujian akhir semester. “Akhirnya aku bisa

belajar dengan tenang, kurasa.” Gumamnya. Ia pun menutup lokernya kemudian melanjutkan

langkahnya menuju kelas.

Tapi sial. Dia disana. Tepat beberapa langkah di depannya, Kai berjalan menuju arah yang

berlawanan. Jantung Seulgi hampir copot. Kenapa dia harus bertemu dengan sunbaenya itu

sepagi ini. Dia mencoba tak menghiraukan, tapi mata mereka bertemu beberapa detik. Seulgi

menggigit bibir bawahnya dan segera meluruskan pandangannya jauh ke ujung koridor. Sampai

bahu mereka saling berpapasan, Kai dan Seulgi sudah tak lagi saling mengenal –selain sebagai

sesama anggota club dance.

“Oke, thanks, ya, Kai.” Kai melambaikan tangan sebagai balasan. Ia lalu berbelok dan matanya

menemukan Seulgi yang baru saja menutup loker. Kai merasa kini jantungnya seperti tak

berdetak. Matanya mulai menyisir koridor disekitarnya yang tak terlalu ramai. Dan

pandangannya berakhir di mata Seulgi. Beberapa detik itu membuat otak Kai berputar-putar.

Namun matanya tak lepas dari pergerakan Seulgi yang lurus. Sampai bahu mereka berpapasan,

ujung matanya melirik Seulgi sampai batas penglihatannya. Setelah itu ia merutuk pada diri

sendiri, kenapa sepagi ini ia harus berpapasan dengan Seulgi? Kai harus susah payah menahan

dirinya yang sulit dikontrol setiap melihat gadis itu. Sungguh, ia tak yakin dirinya bisa bertahan

dalam situasi seperti ini lebih lama lagi.

Kai menggaruk-garuk kepalanya frustasi, membuat orang-orang yang melihatnya keheranan.

Baru saja satu langkah kakinya memasuki kelas, tiba-tiba seseorang menarik lengannya –Sehun.

“Oh Sehun? Sedang apa kau disini?” Tanya Kai baru sadar.

“Atas motiv apa kau memberi nomerku pada cewek sinting itu?” Tanyanya –datar. Kai diam

sebentar, kejadian barusan terlalu menyedot konsentrasinya untuk memahami apa yang sedang

dibahas Sehun.

“Aaah…” Kai mulai ingat. Kemudian merengek.

“Ah jinjja. Kenapa aku punya teman seperti kalian? Merepotkan sekali aish.” Kai mendekap

kusen pintu kelasnya dan mengetuk-ngetukkan dahinya di sana.

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Satu-satunya motiv yang membuatku memberikannya adalah foto ini.” Kai kemudian

menunjukkan isi percakapan singkatnya dengan Irene semalam. Sehun yang melihatnya

menggelengkan kepala.

“Dia benar-benar tau bagaimana cara membunuhmu.”

“Itu diaaa..”

“Geurae… Sebagai pembalasan dendam,” Sehun mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.

Tak berapa lama kemudian, Kai menerima pesan dari Sehun. “Istirahat nanti ambilkan buku-

buku ini di perpus untukku. Tidak ada alasan.” Lanjutnya lalu segera meninggalkan Kai yang

kini merengek-rengek lagi seperti bayi.

“Ya Oh Sehun!” Seseorang memanggil Sehun ketika baru saja keluar dari kelas pada jam

istirahat –dengan tangan kosong. Sehun yang dipanggil, tapi semua orang ikut menoleh, yang

dipanggil hafal sekali suara siapa itu. Tapi dia tak menghiraukan. Langkahnya terus berlanjut

tanpa peduli. Namun siapa sangka, gadis sinting itu berhasil menyusul dan menyamakan

langkahnya. Tapi Sehun tetap tak peduli. Begitu juga dengan Irene, meski saat ini beberapa siswi

memandanginya sinis karna dekat-dekat dengan Sehun. Irene masih berjalan di samping Sehun.

“Ya.. Kenapa kau tak membalas pesanku? Kenapa? Apa kau tak percaya apa yang kukatakan

semalam?” Bisiknya menyelidiki. Sehun hanya meliriknya.

“Kau tidak takut mereka akan mengganggumu seperti apa yang menimpa Seulgi, huh?”

“Omo-omo-omo. Sombong sekali kau! Memangnya seberapa berani, sih, mereka

menggangguku?” Irene merangkul leher Sehun kasar, membuat laki-laki itu harus

membungkukan punggungnya sesuai yang tangan Irene bisa raih.

Seketika cewek-cewek yang menyukai Sehun menganga dan merasa tidak rela melihat pujaan

hatinya diperlakukan seperti itu oleh Irene.

“Ya!” Tegur Sehun sambil menepuk lengan Irene.

“Apa-apa-apa? Kalian berani menatapku seperti itu, oh?!” Ledek Irene.

Dengan satu gerakan, Sehun menarik lengan Irene, mencoba melepaskannya dari leher. Tak

sengaja ia memutar tubuh ramping gadis itu dan melepaskannya, namun sepersekian detik

kemudian penglihatannya menangkap tubuh Irene yang tak tertahankan dan akhirnya…

Sehun menangkap punggung Irene. Hening seketika, dan tanpa berusaha mengelak, mata mereka

bertemu.

Entah kenapa, adegan klasik yang biasa terjadi di setiap cerita-cerita fiksi picisan ini, terjadi pada

dirinya. Ia bisa merasakan bagaimana adegan awkward yang sering di sebut-sebut dalam novel

itu mulai mengotori sistem logika Sehun.

Mata Irene… Bagus.

“Eeeiii… Kau mau menggodaku, Oh Sehun?” Irene memasang wajah jahil.

Kenapa dia seperti ini? Sehun segera melepaskan pegangannya, dan berhasil membuat Irene

jatuh ke lantai.

“Haish! Kenapa kau menjatuhkanku?” Ringis Irene seraya mengusap-usap bokongnya. Tapi

Sehun sudah tak disana. Yang tersisa hanya cekikikan siswi-siswi yang menyumpahi dirinya.

Gadis itu segera berdiri dan membalas sumpah serapah orang-orang dengan gerutuan tak

jelasnya. Ia dengan kesal berjalan menuju arah kemana Sehun pergi. Namun kakinya berhenti

ketika ia berbelok di ujung koridor dan menemukan Sehun berpapasan dengan seorang ahjussi

–bukan, bukan itu masalahnya. Tapi, sesuatu yang membuat kakinya lemas adalah; Ayahnya.

Kini semua orang mulai berbisik-bisik dan memperhatikan Ayahnya dengan tatapan penasaran.

Siswa mana yang tidak heran melihat tokoh bisnis tersukses di Seoul datang ke sekolah mereka?

“A-Appa?” Gumamnya terpaku. Ini pertama kalinya Ayah Irene datang ke sekolah. Tak ada

satupun orang yang tau siapa dan seperti apa orang tua Irene –kecuali Kepala Sekolah. Sebelum

Irene mencoba menghindar, Ayahnya sudah lebih dulu berbelok ke kantor Kepala Sekolah.

“Omo! Apa yang akan di lakukannya dengan Kepala Sekolah?!” Bisik Irene panik.

Ah. Terserah saja. Irene lebih baik pergi dan berharap dia tak di panggil bersamaan dengan

keberadaan Ayahnya sekarang. Tapi sial sekali. Baru saja Irene berbalik, pengeras suara sekolah

tiba-tiba memanggilnya.

“Bae Irene. Datanglah ke Kantor Kepala Sekolah sekarang.”

Astaga mati aku! Teriak Irene dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya, mau-tidak mau dirinya

harus pergi kesana. Dia merutuki dirinya sendiri –tidak, lebih tepatnya merutuki Ayahnya yang

–yaampun untuk apa dia membuang-buang waktu datang ke sekolah–.

Semua orang di sekitar Irene semakin penasaran karna mendengar nama Irene dipanggil. Mereka

mulai menerka-nerka ada apa diantara Irene dengan Ahjussi kaya itu?

“Omo apakah dia anaknya? Tidak mungkin!”

“Apa dia berbuat ulah dengan Ahjussi kaya itu?”

“Aku heran kenapa hari ini banyak sekali berita panas!”

DASAR GILA! Teriak Irene dalam hati ketika mendengar ocehan-ocehan tak karuan di

sekitarnya.

Irene duduk berhadapan dengan Ayahnya, bersama Kepala Sekolah yang duduk di sofa yang

berada di antara Irene dan sang Ayah. Gadis itu hanya bisa menunduk, takut sudah melakukan

kesalahan yang teramat fatal sampai-sampai Ayahnya yang super sibuk itu sanggup meluangkan

waktunya untuk menemui Kepala Sekolah.

“Silahkan, Sajang-nim. Seperti yang sudah kukatakan barusan, Irene harus mengetahuinya

langsung darimu.” Kata Kepala Sekolah dengan sopan.

“Baiklah kalau begitu,” Kini Ayah Irene menatap anaknya dengan serius. “Irene.” Anaknya itu

segera mendongak dan membalas tatapan sang Ayah.

“Kau ingat dengan usulanku semalam?” Tanyanya. Irene mengangguk kaku. “Aku

menyampaikannya juga pada Kepala Sekolah. Aku meminta padanya agar mulai sekarang kau

lebih diperhatikan lagi.” Lanjutnya.

“A-Apa maksudmu?”

“Seperti yang kukatakan semalam. Jika semester ini kau tidak bisa masuk minimal 30 besar, kau

akan di pindahkan ke Sekolah asrama. Dan Kepala Sekolah yang akan mengurusnya langsung,”

Ayah Irene lantas menoleh pada Kepala Sekolah, “Mohon bantuannya, Kepala Sekolah.”

“Tidak masalah, Sajangnim. Ketika nilai tugas dan tes hariannya tidak mencukupi, aku akan

memberinya pembahasan materi tambahan khusus untuk Irene. Dan aku akan menyiapkan semua

dokumen kalau-kalau Irene memang harus pindah. Staffku juga akan mengawasi perilakunya

lebih baik lagi.” Kepala Sekolah tersenyum sopan.

“Aku akan membuatnya belajar di rumah dengan guru privat agar dia tidak bermalas-malasan.”

Kedua alis Irene bertautan. “K-Kenapa harus di rumah juga?”

“Menaikkan peringkatmu itu akan sangat sulit. Jadi di rumah kau akan mempelajari materi-

materi yang tertinggal, dan Kepala Sekolah akan mengawasi tugas juga tes-tes harianmu jika

dapat nilai buruk.”

Irene menatap Ayahnya tajam. Mungkin ini salah satu perhatian Ayah untuk dirinya, tapi ia tak

merasakan itu adalah sebuah perhatian yang tulus. Aku akan malu dengan teman-teman bisnisku.

Kata-kata itu terngiang lagi di kepalanya. Sungguh menyebalkan.

Tanpa berlama-lama lagi, Ayah Irene berdiri dan membungkuk sopan pada Kepala Sekolah lalu

pamit meninggalkan Kantor. Di ambang pintu, Irene berdiri di samping Kepala Sekolah. “Sekali

lagi, kutitipkan anakku padamu. Terima kasih atas bantuannya.” Ujarnya kemudian berlalu pergi.

“Aku juga pamit ke kelas, Kepala Sekolah.” Irene membungkukan badannya sedikit, matanya

masih tak berani menatap ke sekitar koridor yang diisi dengan desas-desus tentang dirinya.

Kepala Sekolah tersenyum ringan.

“Akhirnya Ayahmu datang langsung dan memberi solusi. Aku harap kau bisa berkembang lebih

baik dan berhenti membuat onar, Bae Irene.” Wanita paruh baya itu menepuk pundak Irene lalu

masuk ke dalam kantornya.

Irene segera berjalan menuju kelas. Ia mendengus sebal. Terlebih ketika mendengar kasak-kusuk

di sekitarnya –seperti biasa.

“Astaga ternyata benar dia Ayahnya Irene!”

“Aku tidak percaya ternyata Irene anak orang kaya!”

“Ini benar-benar berita panas.”

“Ya! Kalian bisa diam tidak?! Aish.” Gerutu Irene keras.

Tapi semua pembicaraan hangat mengenai dirinya tak berhenti sampai disana. Awalnya Irene

pikir ia bisa menenangkan dirinya di dalam kelas, tapi ternyata ia salah besar. Baru saja beberapa

langkah ia memasuki kelas. Semua penghuninya memandanginya penasaran.

“Jadi kau, anak perempuan si Pembisnis sukses itu?” Sahut seseorang dengan ekspresi tak

percaya. Irene hanya diam di tempat dan memandangi teman-temannya dengan gelisah.

“Waa.. daebak. Aku tidak menyangka ternyata kau anak orang kaya. Apakah kau tau Ayahmu itu

sudah menjadi donatur terbesar sekolah ini sejak lama?” Seorang laki-laki melipat kedua

tangannya di dada dan maju beberapa langkah di hadapan Irene. Nada bicaranya lebih terdengar

seperti meremehkan, bukannya pujian dan semacamnya. Irene mengepalkan tangannya, mulai

panas.

“Kau cukup memalukan, ya, untuk seukuran anak dari orang yang sangat pintar dalam bidang

ekonomi.” Ledek yang lainnya sembari terkekeh melecehkan.

“Ya! Hentikan itu.” Kai tiba-tiba datang dan memprotes cibiran teman-teman sekelasnya. “Aku

ikut tersinggung karna posisiku hampir sama sepertinya.” Lanjutnya dengan wajah polos.

“Kau tidak usah membelanya, Kim Kai.” Balas laki-laki bernama Junmyeon itu.

“Bukankah aneh melihatnya bisa bertahan di sekolah ini bahkan tetap naik kelas meski

peringkatnya ada di bawah?” Seseorang ikut menyahut dengan tidak sopan.

“Apa maksudmu?” Irene mulai membuka suara.

“Cih. Apa kau yakin Ayahmu tidak memberi sesuatu pada Kepala Sekolah agar kau bisa tetap

naik kelas, hm? Huwaa. Kau harusnya merasa beruntung.” Sambung Junmyeon.

Sedetik kemudian, Irene mendekati lelaki itu, dengan kuat ia menarik kerah baju Junmyeon dan

menariknya ke papan tulis.

“Katakan sekali lagi.” Pekik Irene sembari mendorong tubuh Junmyeon sampai benar-benar

menempel degan papan tulis.

Laki-laki itu sepertinya memang menyimpan dendam pada Irene –entah apa. Dengan santai dia

hanya tersenyum sinis.

“Kau terlalu banyak membuat masalah untuk melakukan pembelaan, Bae-I-rene.” Ujar

Junmyeon dengan nada meremehkan, lagi. Itu membuat Irene geram dan tak kuat ingin

menghabisinya. Kepalan tangan kanannya sudah melayang dan hampir mengenai pipi Junmyeon,

tapi Kai menahannya.

Brak!

Seseorang tiba-tiba menggebrak meja, semua orang menoleh ke arah sumber suara.

“Jangan membuat keributan di kelasku.” Do Kyungsoo, si Ketua Kelas yang sejak tadi berusaha

fokus membaca bukunya tanpa memperdulikan, kini berdiri dan menghampiri mereka.

“Irene, lepaskan.” Perintah Kyungsoo tegas.

Gadis itu melepaskan cengkramannya dengan paksa. Namun mereka berdua masih bertatapan

dengan sinis, membuat Kyungsoo semakin sebal mengingat sebentar lagi Guru mereka akan

masuk kelas.

“Duduk semua, kubilang duduk di kursi kalian masing-masing!” Bentak Kyungsoo keras. Irene,

Junmyeon, dan Kai segera duduk di kursi mereka masing-masing.

Kyungsoo menatap seisi kelas dengan tatapan tajam lalu kembali duduk di kursinya,

“Merepotkan sekali.”

Suasana ruang latihan club dance siang itu sama canggungnya seperti kemarin, terutama karna

ada Seulgi yang kembali latihan, juga gosip Irene si anak orang kaya yang menyebar secepat

kilat. Entah kenapa, para pelatih pun belum ada satupun yang datang.

Sebagian anggota melakukan pemanasannya masing-masing, sebagiannya lagi hanya sekedar

mengobrol sesuatu dan yang lainnya. Kebanyakan dari mereka melakukannya sambil menatap

dan melirik Irene dengan tatapan masih tak percaya juga tak menyangka. Jadi selama setahun ini

Irene sengaja menyembunyikannya, atau apa? Begitu yang mereka pikir.

Kai memperhatikan suasana itu dan tak bisa berbuat apa-apa. Dia sendiri heran, apa yang salah?

Apakah Irene tak boleh memiliki Ayah seperti itu? Kai menyenggol Sehun di sampingnya yang

sedang melakukan pemanasan, “Kau juga pasti tidak percaya dengan kabar siapa Ayah Irene

sebenarnya. Iya, kan?” Bisik Kai mencoba sepelan mungkin.

Sehun hanya melirik Kai sedetik lalu memandang ke arah Irene, “Apakah aku harus

memperdulikannya? Apa yang salah dengan menjadi anak orang kaya?” Gumamnya pelan masih

dengan ekspresi datar.

“Tepat sekali!” Kai menjentikkan jarinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

Irene berhenti melakukan pemanasan dan mendengus kesal.

“Ya.. Sampai kapan kalian akan memandangiku seperti itu, oh?! Apa salahku, sih, ah yang benar

saja.”

Krystal yang sejak tadi memperhatikannya pun membuka suara. “Aku benar-benar masih tak

menyangka. Lagipula, kenapa kau tak pernah mangatakan kalau kau anak ahjussi itu?” Sahutnya

gemas.

Irene lebih gemas lagi. Dia menghentakkan kedua kakinya beberapa kali sambil merengek.

“Sepenting itukah sampai-sampai aku harus mengumumkan siapa Ayahku? Ya.. Menjadi anak

seseorang seperti dia bukanlah kesalahanku. Bisakah kalian fokus latihan saja dan mengoceh di

luar jam latihan?” Irene menghembuskan nafas kasar lalu mengambil botol minumnya dan

meneguknya dengan brutal.

Semua orang di ruangan itu mulai mengalihkan perhatian dan melanjutkan aktivitas club dance

seperti biasanya meski para pelatih masih ada yang belum datang.

Irene menghampiri tempat Sehun dan Kai berdiri. Lalu bergabung melakukan pemanasan dengan

mereka, “Kalian tidak akan mengucilkanku, kan?” Tanya Irene pesimis. Sehun dan Kai saling

pandang lalu menatap Irene beberapa detik.

“Memangnya kita berteman?” Tanya Sehun –datar.

“Yaa!” Kai menepuk belakang kepala Sehun.

“Kau benar-benar tidak sehati denganku, ya. Dia itu teman kita, Oh Sehun. Setidaknya anggap

saja begitu.”

“Kau sehatinya dengan Irene. Kalau begitu kalian saja sana yang berteman. Aku sedang sibuk.”

Jawab Sehun santai. Tapi Kai dan Irene tau itu hanya candaan. Hanya saja, membalas candaan

garing Sehun adalah hal yang akan sia-sia.

Dan entah kenapa, itu berhasil membuat Irene sedikit tertawa. Dia masih tak paham kenapa

kedua makhluk ini bisa membuatnya merasa nyaman. Pantas saja selama ini orang-orang yang

akrab dengan Kai dan Sehun terlihat betah –meski bersama orang yang tak bisa tersenyum sama

sekali. Irene yang sudah merasakannya sendiri pun masih tak menemukan jawabannya. Yang

Irene tau, dia hanya ingin berteman dengan mereka. Dan siap mengganggu mereka kapan saja.

19 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 4)”

  1. aaahhh, gue suka chapter ini 😀
    dan gue suka wktu irene sms sehun tentang gigi, gue etewa sendiri.
    gue suka karna ada crita lucu, sweet, dan menegangkan 😀
    gue lanjut ya thor

  2. Waaa jangan pindahin bae irene donggg dia harus punya alasan buat tetep tinggal den berusaha, sehun gitubyang di jadiin alaasaan hehehe . Sehun ekspresinya gak berubah nih tapi aku suka dari pada berubah telalu cepat gak asik kaya ginikan cool jadinya. Okay semangat ya menulisnya, ditunggu kisah menarik lainnya , sambil baca chap selanjutya hehe , thank you!!

  3. Disaat gosip kai-seulgi mereda, muncul lagi gosip irene anak orang kaya. Berasa nonton infotaiment hehehe tapi ceritanya tetap seruuu~~

  4. Baru kali ini suka pairing sehun sm irene biasanya bakalan sinis baca cerita irene sehun maklum jiwa bim berkelakar hahahha keren keren suka

  5. sehun mah gitu cuek mulu, udh gitu dingin tapi itu yg buat bagus jadi sehun jadi pendingin kalo lagi panas

  6. bagus bgt ceritanya….
    lanjut ya kak….
    moga sehun yg nanti ngajarin irene bljar di rumahnya biar mreka bisa makin deket….

  7. huhhhh,,serrrr byurrr segernya baca ni funfik/ada si dingin oh sehun/,,
    suka bnget ma masing masing karakter disini,,,!!!next next

  8. Kyaaaaaa~ Ku suka Bae Irene💕💕 Bae Irene jjang! Jadikan Oh Sehun guru privat Irene, biar makin sering digangguin makin cepet ketawa wkwk. Trus itu Seulgi kenapa oon banget gak suka sama Kai, padahal yang disini aja pengen banget dilihat sama doi:’) Ah, overall aku suka jalan ceritanya walaupun ini kurang panjang buat aku hehe. Btw, aku kehilangan tulisan rapi author di part ini, entah karna hp aku atau apa, tapi gak ada tanda buat pergantian scene disini jadi aku sedikit bingung buat nentuin ini dilihat dari siapa… Tapi tetep, no typo kok. Semangat ya authornim nulisya, aku menunggu dengan sabar kok disini hehe. Sayang autornim😘😚💕

    1. Kyaaaa hahahah makasih makasih udah baca hihi. Iya nih aku pasrah aja mungkin filenya jadi berantakan pas dikirim ke admin :’) baca ulang aja di blogku :p wkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s