[EXOFFI FREELANCE] Isn’t Love Story (Chapet 1)

Title: Isn’t Love Story

Writen By: Vartstory

Main Character:

Kim Jongin | Jung Jihyun | Park Hyunji | Oh Sehun

Supporting Character:

Yook Sungjae | Park Soo Young/ Joy | Yoon Hyena | Jackson Wang | Do Kyungsoo | Kang Ahra

Genre:

Romance | Friendship | School

Leght:

Chaptered

Teaser + Cast Introduction

Chapter I : Beginning

Suara dentingan bell di sebuah restaurant berbunyi yang sebelumnya diikuti ucapan terima kasih

oleh kedua gadis yang berpakaian sebagai pramusaji. Salah seorang dari gadis itu mengeluarkan

ponselnya dan mengetikkan sebuah halaman website. Saat halaman website terbuka gadis itu

menarik lengan sahabatnya, salah satu dari gadis pramusaji tadi.

“ini.” ucap gadis itu lalu memberikan ponsel itu kepada sahabatnya dan menyuruh sahabatnya itu

untuk duduk di salah satu kursi.

“untuk apa?” tanya sahabat gadis itu dengan polos.

“tentu saja untuk mengecek apakah namamu masuk ke dalam daftar penerima beasiswa. Ini cepat

cari namamu. Atau biar aku saja yang mencarinya.” gadis itu atau orang biasa memanggilnya Kang

Ahra langsung merebut ponselnya dari tangan sahabatnya Jung Jihyun. Yang menurutnya sangat

lamban, tidak taukah Jihyun jika sahabatnya ini sangat penasaran dengan hasil beasiswa yang

beberapa bulan lalu tesnya diikuti oleh Jihyun.

Ahra pun mulai mengeja nama dari alphabet J lalu mengeja nama dengan marga Jung untuk mencari

nama sahabatnya itu “Jung Aeri…Jung Eunjoo….Jung Hannah….Jung…JUNG JIHYUN !!” Ahra

langsung berteriak begitu mendapatkan nama Jihyun di daftar penerima beasiswa sedangkan Jihyun

hanya terdiam tidak percaya sambil memandang namanya di layar ponsel Ahra dan saat sadar

Jihyun langsung memeluk sahabatnya itu.

“tunggu sebentar, kita bahkan belum mengetahui kau mendapatkan beasiswa di sekolah mana.” ujar

Ahra lalu kembali memfokuskan matanya pada ponsel dihadapannya lalu meng’klik’ nama Jihyun.

Dan keluarlah beberapa keterangan tentang Jihyun, mulai dari nama lengkap, tanggal lahir hingga

asal sekolahnya. “Ya Tuhan Jihyun kau sangat sangat beruntung”

“kenapa?” sahut Jihyun kemudian mengarahkan pandangannya ke arah ponsel Ahra dan mulai

membaca nama sekolah yang tertera di ponselnya. “Empire High School.”

Mata Jihyun membulat saat melihat nama sekolah yang tertera di ponsel milik Ahra. Katakanlah jika

Jihyun shock karena mengetahui dirinya mendapatkan beasiswa di Empire. Empire adalah salah satu

sekolah terbaik di Korea, hampir semua lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri baik itu

perguruan tinggi di Korea ataupun di luar negeri. Dan Jihyun juga tahu jika tidak sembarangan orang

bisa diterima menjadi siswa di Empire. Untuk menjadi siswa di Empire seorang calon siswa harus

melewati serangkaian test mulai dari test tertulis mengenai pengetahuan umum, test IQ, test

ishihara (Color Vision Test), psikotest bahkan hingga virginity test.

“Jihyun kau sungguh beruntung, tahukah kau jika Empire adalah sekolah nomor satu di Korea yang

rata-rata lulusannya di terima di perguruan tinggi negeri di seluruh dunia tanpa harus mengikuti tes

lagi? Belum lagi hampir semua siswa dan siswi disana berasal dari kelas elit. Dan pasti semua pria

disana sangat tampan.” Ahra berucap dengan nada berapi-api sedangkan Jihyun yang menjadi lawan

bicaranya hanya menanggapi seadanya.

“aku tahu, apa kau lupa jika Sungjae bersekolah disana?” Ah ya Ahra merasa sangat bodoh karena

lupa kalau salah satu sahabat Jihyun selain dirinya bersekolah di Empire dan sudah pasti Jihyun

mengetahui seluk beluk Empire High School.

“aku lupa jika kau mempunyai sahabat kelas atas yang bersekolah di Empire. Yaa tapi kenapa

wajahmu tidak bersemangat seperti itu huh? Kau seharusnya bahagia karena sudah mendapatkan

beasiswa di Empire, itu artinya sebentar lagi kau akan pindah dari Gyeonggi dan masuk sebagai siswi

Empire.”

Jihyun menghela nafas berat lalu menidurkan kepalanya di meja yang notabene adalah meja untuk

pelanggan namun karena saat ini suasana restaurant sedang sepi jadi tidak masalah jika Jihyun

sekedar menidurkan kepalanya di meja. “kau tahu bukan bagaimana ibuku, aku takut jika dia tidak

mengijinkanku untuk mengambil beasiswa itu ”

“aku yakin ibumu mau mengijinkanmu, katakan saja padanya jika lulusan Empire sangat

diperhitungkan di dunia kerja selain itu kau juga bisa menaikkan status sosialmu karena kau adalah

seorang siswi di Empire, yang artinya tidak ada lagi yang akan meremehkan keluargamu.”

Walau merasa kurang setuju dengan alasan yang diberikan Ahra, dalam hatinya Jihyun

membenarkan semua alasan yang dikatakan sahabatnya itu. Jika dia berhasil lulus dari Empire

dengan nilai yang memuaskan, pasti tidak akan sulit untuk mencari pekerjaan di perusahaan besar.

Dengan begitu Jihyun tidak perlu lagi membiarkan ibunya bekerja keras untuk membiayai hidup

mereka.

Suara bell berbunyi, menandakan jika Jihyun dan Ahra harus segera berhenti bercakap-cakap dan

melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pramusaji di sebuah kedai bubur. Kedai kecil yang hanya

memiliki 2 orang pelayan dan seorang pria yang berumur kurang lebih 10 tahun lebih tua dari

mereka sebagai pemilik dari restaurant ini.

Jihyun berjalan menyusuri trotoar jalan menuju rumahnya sambil memikirkan alasan yang tepat

untuk dia katakan pada ibunya. Sambil berharap jika Tuhan membantunya kali ini dengan membuat

ibunya mengijinkannya untuk mengambil beasiswa di Empire dan pindah ke sekolah elit itu.

Jihyun membuka pagar rumahnya dan melihat lampu rumahnya sudah menyala yang menandakan

jika ibunya sudah berada di rumah. Jihyun menarik nafas lalu membuangnya dan menyemangati

dirinya “Jung Jihyun semangat!!”

Jihyun pun masuk ke dalam rumahnya dan melihat ibunya sedang melipat beberapa pakaian. “kau

sudah pulang?” tanya ibu Jihyun yang dibalas anggukan kecil olehnya.

“Ibu.” panggil Jihyun dan duduk di samping ibunya sambil memainkan jarinya yang merupakan tanda

jika dirinya sedang gugup.

Ibu Jihyun pun menengok ke arah Jihyun “Ada apa?” lalu melanjutkan pekerjaannya melipat pakaian.

“Apa Ibu ingat test beasiswa yang aku ikuti beberapa bulan yang lalu?” Sungguh Jihyun benar-benar

takut akan reaksi yang akan dikeluarkan ibunya, Jihyun ingat dulu ibunya melarang dirinya berteman

dengan Sungjae karena mengetahui Sungjae berasal dari kalangan atas namun saat Sungjae

menjelaskan pekerjaan ayahnya yang hanyalah seorang karyawan, ibu Jihyun baru mengijinkan

anaknya berteman dengan Sungjae.

Ibu Jihyun berhenti dari kegiatannya, “Iya Ibu ingat. Ada apa memangnya”

“Aku mendapatkan beasiswa itu.” lanjut Jihyun yang langsung mendapatkan respon bahagia dan

juga pelukan dari ibunya.

“kau memang anak Ibu yang sangat pintar.”

Jihyun mencoba mengatur kata-kata yang sedari tadi berputar di otaknya sembari berharap jika

mendapatkan respon positif dari eommanya. “tapi beasiswa bukan dari Gyeonggi ataupun

pemerintah bu.” Jihyun meyakinkan dirinya sendiri, dirinya sudah sangat mantap akan mengambil

beasiswa itu apapun yang terjadi.

“lalu?” Ibu Jihyun langsung menatap anaknya dalam-dalam.

“beasiswa itu berasal dari Empire High School, dan mereka mewajibkanku untuk bersekolah disana

setelah aku mengambil beasiswanya.” Mendengar ucapan Jihyun, raut wajah ibu Jihyun berubah

menjadi datar. Melihat raut wajah ibunya, Jihyun pun langsung membujuk Ibunya.

“Ibu aku mohon. Ijinkan aku mengambil beasiswa itu. Jika aku mengambil beasiswa itu, saat aku

lulus nanti aku akan diterima di perguruan negeri manapun selain itu aku juga akan mudah

mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar. Dengan begitu Ibu tidak perlu lagi bekerja, dan aku

juga akan menaikkan status sosial kita agar tidak ada lagi yang meremehkan Ibu dan aku.”

“kau tahu bukan bagaimana Empire itu? Hampir semua siswa disana adalah anak dari pengusaha,

chaebol dan juga pejabat. Dan kau juga tahu jika Ibu tidak menyukai orang-orang seperti itu. Mereka

pasti akan meremehkanmu dan menyakitimu jika mereka tahu kalau kau tidak sederajat dengan

mereka.”

“Tidak semua siswa Empire seperti itu Ibu, apa Ibu lupa jika Sungjae bersekolah disana? Sungjae

pasti akan melindungiku. Ku mohon Ibu, ijinkan aku mengambil beasiswa itu.” Jihyun memandang

ibunya dengan tatapan memohon. Bahkan kini air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Ibu tetap tidak setuju!” Ibu Jihyun berkata dengan tegas lalu memalingkan wajahnya dari Jihyun

dan melanjutkan kegiatannya tadi.

Jihyun menundukkan kepalanya dan mengumpulkan semua keberaniannya, “Ku mohon Ibu,

kabulkan permintaanku. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu, aku selalu menurut

apa yang Ibu katakan. Bahkan aku juga menurut untuk tidak lagi menanyakan siapa ayahku dan juga

tidak keluar rumah seperti remaja pada umumnya kecuali untuk sekolah dan bekerja. Dan untuk kali

ini saja Ibu, ku mohon.” Jihyun sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, dia bingung apa yang

selanjutnya dirinya lakukan jika ibunya tetap tidak setuju dengan keputusannya itu.

Ibu Jihyun yang tahu sifat anaknya yang jika ada sesuatu yang diinginkannya dia harus

mendapatkannya dan dengan terpaksa menyetujui permintaan anaknya itu, selain itu ucapan Jihyun

juga membuatnya terenyuh. Ibu Jihyun membenarkan semua perkataan anaknya, termasuk untuk

tidak lagi menanyakan siapa ayahnya.

“Ya baiklah Ibu ijinkan kau mengambil beasiswa itu dan bersekolah di Empire tapi kau harus berjanji

pada Ibu akan menghindari semua anak orang kaya yang bersekolah disana.”

Jihyun menganggukkan kepalanya lalu memeluk ibunya, “terima kasih Ibu. Aku menyayangimu.”

“aku juga menyayangimu.” Ibu Jihyun membalas pelukan anaknya, gurat kecemasan terlihat dari

wajahnya. Entah apa yang kini dipikirkan ibu Jihyun.

Dan dua hari kemudian Jihyun mengurus beasiswanya di Empire. Karena Ahra harus sekolah dan

setelah itu juga harus menjaga restaurant, dengan terpaksa Jihyun datang ke Empire seorang diri.

Sebenarnya Jihyun ingin meminta Sungjae untuk menemaninya namun Jihyun belum ingin

memberitahu tentang beasiswanya kepada Sungjae.

Saat Jihyun melangkahkan kakinya untuk memasuki Empire, Jihyun bisa melihat perbedaan

sekolahnya dan Empire yang sangat jauh. Arsitektur Empire yang indah, fasilitasnya yang mewah dan

juga siswa-siswinya yang semuanya diantar jemput oleh mobil-mobil mewah, berbeda dengan

Gyeonggi yang mempunyai fasilitas seadanya, arsitektur yang sama dengan sekolah-sekolah lainnya

dan juga siswa-siswi yang hanya berjalan kaki dan menaiki kendaraan umum ke sekolah.

Seorang security yang sedari tadi memperhatikan Jihyun yang menurutnya mencurigakan, langsung

menghampirinya “ada yang bisa saya bantu nona?”

Melihat security menghampirinya membuat Jihyun menarik nafas lega karena jujur saja, Jihyun

benar-benar tidak tau ruangan mana yang harus dia datangi untuk mengurus beasiswanya. Tapi

securtiy tersebut memandang Jihyun dengan penuh kecurigaan.

“Maaf, bisakah anda beritahu dimana ruangan Kepala Sekolah berada?” tanya Jihyun namun security

itu hanya memandangnya dari atas hingga ke bawah yang membuat Jihyun merasa risih. Namun

bukannya menjawab pertanyaan Jihyun atau mengantarnya menuju ruang guru, security itu malah

langsung menarik paksa lengan Jihyun dan menyeretnya keluar.

“Yaa ahjussi, lepaskan tanganku.” Jihyun terus meronta agar security itu melepas tangannya namun

usahanya sia-sia.

“Lepaskan dia.” suara seorang pria menghentikan security itu untuk menarik tangan Jihyun. Jihyun

langsung mengarahkan pandangannya kearah suara tersebut berasal. Dan menemukan seorang

lelaki tengah berjalan kearahnya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Dia penguntit dari sekolah wanita di seberang jalan.” Mendengar ucapan security itu yang

menurutnya fitnah langsung membuat Jihyun membelalakkan matanya. Bisa-bisanya dirinya dikira

seorang penguntit, apa penampilannya mirip seperti seoran penguntit? Lagipula untuk apa dirinya

menguntit di sini, jika memang akan menguntit Jihyun lebih memilih menguntit para idol bukan

warga biasa.

“Yaa aku bukan penguntit, aku datang kesini untuk mengurus beasiswaku.”

Laki-laki itu pun melipat kedua tangannya di depan dada, “Dia bukan penguntit, jadi lepaskanlah

tangannya.” Petugas keamanan itu pun terpaksa melepas tangan Jihyun dan pergi sesuai dengan

aba-aba pria tadi.

Pria itu menatap penampilan Jihyun, tatapannya sulit diartikan, tatapannya bukan tatapan

meremehkan tapi juga bukan tatapan kekaguman. “Jadi kau adalah siswa beasiswa?”

“Iya dan aku ingin mengurus beasiswa itu hari ini namun bukannya memberitahu dimana letak ruang

Kepala Sekolah berada, petugas keamanan itu malah menarik paksa tanganku.” Jihyun mengusap

tangannya yang tadi di tarik oleh petugas keamanan.

Lelaki itu tersenyum kecil menanggapi ucapan Jihyun dan berjalan mendahului Jihyun “ikuti aku.”

ujarnya namun karena tidak mengerti maksud pria itu, Jihyun hanya diam di tempatnya.

Karena merasa jika Jihyun tidak mengikutinya, pria itu pun membalikkan tubuhnya dan melihat

Jihyun hanya terdiam di tempatnya “bukankah kau bilang kau ingin tahu dimana ruang Kepala

Sekolah?” ucap pria itu yang dibalas anggukan kepala oleh Jihyun.

Jihyun mengikuti pria itu hingga ke ruang kepala sekolah, Jihyun sendiri tidak habis-habisnya

berdecak kagum saat melihat interior Empire. Semuanya benar-benar mewah, bahkan Jihyun

merasa jika Empire lebih cocok menjadi sebuah mall atau hotel dibandingkan menjadi sebuah

sekolahan. Karena terlalu terfokus pada interior Empire, Jihyun tidak sadar jika pria yang

mengantarnya sudah menghentikan langkahnya. Jihyun pun secara tidak sengaja menabrak

punggung pria itu.

“Ah maaf, aku tidak melihatmu berhenti.” ujar Jihyun sembari menundukkan kepalanya, ini sungguh

memalukan.

β€œIni ruang kepala sekolahnya.” pria itu menunjuk sebuah ruangan di hadapannya. Ruangan dengan

pintu besar bercat putih yang kokoh.

Jihyun membungkukkan sedikit tubuhnya dan mengucapkan terima kasih pada pria yang

mengantarnya, “Terima kasih” ujarnya sembari memberikan senyum. Pria yang mengantar Jihyun

hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Jihyun.

Sebenarnya Jihyun cukup gugup namun Jihyun tetap memberanikan diri mengetok pintu ruang

kepala sekolah, dan sesaat setelah itu Jihyun masuk ke ruangan kepala sekolah. Jihyun duduk di sofa

yang memang di khususkan untuk tamu yang datang bertemu dengan kepala sekolah.

“Senang bertemu denganmu nona Jung.” tanpa perlu Jihyun memperkenalkan diri, kepala sekolah

tersebut sudah mengetahui jika gadis yang datang ke ruangannya adalah Jung Jihyun, si gadis

penerima beasiswa. “Tadi sekolahmu menelpon, jika kau akan datang untuk mengurus beasiswamu.

Dan aku ingin mengucapkan selamat karena kau telah menerima beasiswa dari Empire High School,

karena ini pertama kalinya Empire ikut bergabung dengan pemerintah untuk mengadakan tes

beasiswa untuk siswa kurang mampu bersama dengan sekolah-sekolah lainnya dan kau adalah orang

pertama dan terakhir yang menerima beasiswa tersebut.”

Pertama dan terakhir. Tiga kata itu cukup membuat Jihyun penasaran dan mengambil kesimpulan

jika Empire tidak akan membuka tes beasiswa terbuka lagi dan disisi lain Jihyun juga bingung karena

menurutnya gedung sekolah Empire yang sangat besar ini, masih mampu menerima puluhan atau

bahkan ratusan murid beasiswa.

“apa kau membawa berkas-berkasmu?” tanya kepala sekolah tersebut, Jihyun pun langsung

mengeluarkan berkas-berkas yang diminta dari dalam tasnya dan memberikannya kepada kepala

sekolah yang langsung melihat dan membaca berkas-berkas itu dengan cermat. Beberapa kali kepala

sekolah tersebut menganggukkan kepalanya saat membaca nilai-nilai yang diterima Jihyun saat di

sekolahnya dulu dan juga beberapa penghargaan yang diterimanya dari setiap lomba yang

diikutinya. Kepala sekolah itu kemudian berjalan kearah meja kerjanya dan menyerahkan beberapa

kertas yang berisikan data diri yang harus diisi oleh Jihyun. Setelah beberapa menit, Jihyun selesai

mengisi data dirinya.

“baiklah yang pertama harus kau tahu adalah beasiswamu sudah termasuk biaya ekstrakulikuler

yang wajib kau ikuti. Tapi beasiswamu tidak termasuk dengan biaya seragam. Kau bisa membeli

seragammu di butik pakaian khusus sekolah di Apgujeong.”

Butik di Apgujeong. Mendengar nama tempatnya saja Jihyun sudah bisa menebak kalau seragam

sekolahnya tidaklah murah. Bagaimana tidak, Apgujeong sendiri terkenal dengan butik-butik mewah

dari para brand dan desaigner ternama yang karyanya selalu menarik perhatian baik kaum hawa

maupun kaum adam seperti Dolce Gabana, Stella McCartney, Guess, Club Monaco, Giorgino Armani

dan masih banyak lagi.

Jihyun keluar dari ruangan kepala sekolah setelah mendengar sedikit penjelasan tambahan dengan

wajah bimbang. Apalagi jika bukan tentang seragam sekolahnya yang membuat Jihyun bimbang, saat

ini status Jihyun sudah resmi menjadi siswi Empire itu artinya Jihyun harus mengenakan seragam

yang sama dengan siswa/i lainnya dan tentunya Jihyun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit

untuk membeli seragam sekolahnya. Dan setelah menimbang-nimbang akhirnya Jihyun memutuskan

untuk mengunjungi sekaligus melihat harga seragam sekolahnya. Dari Empire yang terletak di

Daechi, demi menghemat waktu Jihyun harus menempuh perjalanan menggunakan Seoul Subway di

Line 3 untuk sampai di Apgujeong. Sebenarnya Jihyun bisa saja menaiki bus karena Daechi dan

Apgujeong sama-sama terletak di distrik Gangnam, namun untuk menghemat waktu Jihyun

memutuskan untuk menaiki subway karena setelah ini Jihyun tetap harus bekerja di restaurant.

Karena jika menggunakan bus Jihyun harus menempuh perjalanan hampir 1 jam namun jika

menggunakan subway Jihyun hanya menempuh waktu setengah jam.

Setelah sampai di butik yang dimaksud, Jihyun hanya terdiam di depan butik tanpa ada niatan untuk

melangkahkan kakinya lagi. Melihat bangunan butik yang mewah ‘nyali’ Jihyun langsung menciut,

namun Jihyun kembali meyakinkan dirinya sendiri. Saat memutuskan masuk ke dalam butik, Jihyun

disambut oleh karyawan butik yang langsung menanyakan barang apa yang Jihyun cari. “Ada yang

bisa saya bantu?”

“ah ya aku kesini hanya untuk melihat-lihat.” jawab Jihyun dengan kikuk. Mendengar jawaban

Jihyun, wajah karyawan tadi yang semula tersenyum langsung berubah masam.

Jihyun yang tidak memperdulikan karyawan tersebut melangkahkan kakinya untuk mencari seragam

sekolahnya, setelah mencari beberapa saat akhirnya Jihyun menemukan seragam sekolah Empire. Ya

sepertinya Empire memang sekolah nomor satu di Korea, buktinya saja butik ini sampai membuat

ruangan khusus untuk seragam sekolah Empire. Dan hal itu juga terbukti dari harga seragam yang

dijual, 500rb won. Tapi itu tidak termasuk seragam olah raga, seragam musim dingin dan seragam-

seragam lainnya. Harga untuk sepaket seragam Empire sekitar 1jt won. Dan harga itu cukup

membuat Jihyun kesulitan bernafas, bahkan gajinya selama sebulan saja tidak sampai 1jt won.

Sepanjang perjalanan menuju restaurantnya yang terletak di Gwacheon, Jihyun memikirkan

bagaimana dirinya bisa mendapatkan 1jt won dalam sehari. Bisa saja Jihyun mengambil uang

tabungannya tapi Jihyun tidak tahu apakah uang tabungannya itu cukup dan lagi Jihyun juga bingung

mengatakan pada ibunya tentang harga seragamnya yang mencapai 1jt won. Karena mengambil

beasiswa Empire dan menjadi siswa Empire adalah keinginan Jihyun, jadi Jihyun menganggap dia

yang harus bertanggung jawab atas semua keputusannya.

“kau kenapa terlihat tidak semangat, bukankah tadi kau habis mengurus beasiswamu?” Ahra yang

sudah lama mengenal Jihyun sangat afal dengan sifat sahabatnya itu, jika Jihyun hanya diam tanpa

mengatakan apapun dan terlihat tidak fokus pada apa yang dikerjakannya pasti ada sesuatu yang

sedang dipikirkannya.

“aku bingung Ahra, Empire menanggung semua biaya sekolah dan ekstrakulikulerku tapi tidak

dengan biaya seragam.” Jihyun menghempaskan tubuhnya di kursi dan menatap Ahra dengan

tatapan menyedihkan, memang benar di dunia ini tidak ada sesuatu yang mudah.

“ya tuhan Jihyun, hanya masalah biaya seragam saja kau sampai seperti itu. Memangnya berapa

harga seragamnya?” Jihyun memicingkan matanya saat melihat reaksi Ahra, Jihyun yakin pasti saat

ini Ahra menyamakan harga seragam sekolahnya di Gyeonggi.

Jihyun menebak jika setelah dirinya menyebut harga seragam Empire, pasti Ahra akan mengeluarkan

reaksi berlebihan “1jt won”

“sa-satu juta won? Yaa jangan bercanda. 1jt won? Ya Tuhan seragam macam apa yang harganya

mencapai 1jt won. Itu harga seragam atau harga cicilan rumah?” Reaksi yang berlebihan dari Ahra

membuat Jihyun tertawa kecil.

Benarkan apa yang Jihyun pikirkan. Wajar saja reaksi Ahra sebegitu berlebihannya, karena bagi

mereka berdua 1jt won bukanlah nominal yang kecil. Seragam sekolahnya di Gyeonggi saja hanya

100 won, tidak sampai setengah dari harga seragam di Empire.

“aku tidak bercanda Ahra.” Jelas Jihyun.

“Aku mempunyai simpanan beberapa ratus won, kau bisa memakainya.”

“Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu. Mungkin selama beberapa hari aku akan memakai

seragam Gyeonggi.” Jihyun menggelengkan kepalanya, Jihyun tahu bagaimana perekonomian

keluarga Ahra. Ayah Ahra hanyalah seorang pegawai swasta biasa dengan gaji seadanya sedangkan

ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga.

“Apa kau yakin?”

“Iya aku yakin, kau tenang saja.” Ucapan Jihyun berbanding terbalik dengan apa yang kini sedang

dirasakannya, sebenarnya tawaran Ahra bisa sangat membantunya tapi Jihyun merasa tidak enak

meminjam uang dengan jumlah besar kepada Ahra. Dan sekarang yang Jihyun pikirkan ialah

bagaimana caranya mencari alasan yang masuk akal kepada gurunya di Empire agar besok Jihyun

bisa selamat.

Well gimana chapter 1-nya? Sesuai dengan judul di chapter ini, ini baru permulaan. Di awal cerita

pasti ada beberapa yang ngeh soal Jihyun sama Ahra yang kerja di kedai bubur sama kayak BBF. Yep

ff ini terinspirasi dari drama Boys Before Flower dan The Heirs tapi dengan banyak perubahan, dan

tentunya dengan ending yang tidak terduga kkk. Aku harap kalian terus membaca ff ini dari chapter

awal hingga ke chapter selanjutnya, karena di setiap chapternya akan ada beberapa clue

tersembunyi yang berhubungan dengan endingnya. Dan yang terpenting, jangan lupa berikan kritik

dan sarannya ya ^^

24 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Isn’t Love Story (Chapet 1)”

    1. Coba kamu baca perkenalan castnya, mana tau bisa nebak siapa yang nolongin Jihyun. Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentarnya ^^

  1. Siapa ya, cwok yg baik hati ngnterin jihyun k ruang kepala sekolah??? Apkh itu kai???
    Ada yg misterius dgn ibunya jihyun?? Aaaaahhhh pnsaran ama klnjutannya…
    Fighting dtnggu chap brktnya?

  2. siapa yg nolongin jihyun..? Sehun kah atau Kai..? keren ffnya. cepetan d post yah chap 2nya authornim. bca teasernya udah pnasran q. dan chapter 1 nya keluar juga. panjangin lagi yah untuk chapter 2 nya..
    fighting..
    hehe..

    1. Hayo siapa yang nolongin? Chapter dua akan lebih panjang dari ini kok, tapi tetep gak panjang2 banget hehe. Soalnya masih chapter2 awal, nanti kalau sudah pertengahan cerita, aku usahain panjang. Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentarnya ^^

  3. Jadiii penasarannn yg bantuinn jihyun siapaa, kai atau sehun
    Penasaran juga sama sikap ibunya jihyun,kira” bisa berubah gak ya ? Duhh jadi penasaran bangett nihhh,ditungguu dehhh next chap nyaa

  4. SUKA >< .. Yang bantu Jihyun menemukan kantor kepsek siapa? Sehun atau Kai? Tapi Sehun deh kayaknya ya? Chapt 2 ditunggu loh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s