[Chaptered] Heart Attack (6th Chap) | by L.Kyo

3. heart-attack

Title: Heart Attack | Author: L.Kyo♪ [ @ireneagatha ] | Artwoker: Keyunge Art | Cast: Jung Hyerim (APink), Byun Baekhyun (EXO), Do Kyungsoo (EXO) | Genre: Drama, Romance, Comedy | Rating: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

Prev:: [1st Chap] [2nd Chap] [3rd Chap]  [4th Chap] [5th Chap]

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

.

—oOo—

 

H A P P Y R E A D I N G

.

.

“Kau mengajakku kesini?” Yura berlari kecil, menuju air mancur dengan lampu berwarna-warninya. Setelah makan malam Baekhyun mengajaknya untuk berjalan-jalan sebentar. Baekhyun tersenyum, menatap punggung Yura yang kini asyik memainkan air disana. Seharusnya ia bahagia bukan? Sungguh, ia tak menikmatinya. Ayolah, ini kencan. Ia harus memulainya dari sekarang. Baekhyun menegakkan kepalanya dan berjalan mendekatinya Yura.

 

Noona, kau senang?” Baekhyun memulai percakapannya, membuka awal perkenalan dekat mereka. “Tentu saja aku senang Baek, aku lama sekali tidak pergi kesini”. Yura tersenyum tipis lalu duduk dibadan air mancur, ia seakan menatap kosong air yang sedang beraksi menampakkan antraksinya. “Ada apa noona? Apa yang noona lakukan selama hidupmu ini?” Baekhyun juga ikut duduk disisi Yura, menatap sama apa yang dipandang gadis disampingnya.

 

“Kau tahu Baek, aku terakhir disini saat aku berumur 4 tahun. Bukankah aku terlihat sangat takjub dengan perubahan ditempat ini? Aku terlihat kampungan bukan? Aku sangat merindukan Ayahku. Sangat! Aku hanya belajar, pulang, menikmati masakan Ibu, menolak ajakan teman-temanku untuk sekedar hiburan, aku hanya melewati tempat ini. Padahal aku selalu melewatinya. Tidak ada niatan untuk pergi kesini.” Yura menghela nafasnya berat lalu menatap Baekhyun intens.

 

“Lalu alasan apa noona tidak berkunjung kesini? Kau bisa mengajak Hyerim atau temanmu. Kau populer noona, setiap orang pasti akan senang hati menemanimu”. Baekhyun menatap wajah cantik Yura mengkerut, ia memejamkan matanya sekedar menghela nafasnya, menikmati setiap hembusan angin dimalam hari. “Apa pertanyaanku terdengar menyinggung?” Tentu saja Baekhyun ingin menarik kata-katanya. Faktanya ia paham bahwa Tuan Jung tak ada didunia ini.

 

“Tidak. Tidak apa kau menanyakan ini padaku. Sejujurnya, ini lebih menyakitkan jika kau tanyakan ini pada Hyerim. Karena kau adalah teman dekatnya, ku harap kau menghindari pertanyaan seperti itu”. Yura menepuk kepala Baekhyun gemas. Tentu saja Baekhyun tak suka, ayolah dia adalah pria dewasa. “Noona, jangan melakukan itu. Aku sudah dewasa. Aku bukan anak umur 5 tahun!” Baekhyun merapikan rambutnya namun gadis itu tertawa. Lalu ia kembali menghela nafasnya.

 

“Kau tahu. Hyerim sama sekali belum pernah melihat Ayah secara nyata. Ia masih didalam kandungan Ibuku. Aku akan menceritakan ini karena aku percaya, kau dapat melindungi Hyerim selain diriku. Ayah pergi karena kecelakan saat ia pulang bekerja, bahkan sebelumnya ia berjanji akan mengajak kami jalan-jalan. Bahkan ada kejadian dimana Ibu hampir saja membunuh janinnya, Hyerim. Kurasa Ibu sangat frustasi saat mendengar Ayah meninggal.” Yura mengusap airmatanya. Baekhyun ingin menepuk bahu Yura untuk sekedar memberikan kekuatan. Tapi ia urungkan, bahkan tangannya sudah ia masukkan kembali kedalam saku jaketnya.

 

“Tak apa. Setidaknya aku bersyukur karena aku pernah mendapatkan kenangan bersama Ayah. Tapi, tidak untuk Hyerim. Karena itulah, aku benar-benar sangat menjaganya. Dia adalah gadis yang kuat. Dan aku sangat bersyukur karena dia terlahir dengan sifat Ayah. Bahkan, ia sama sekali tak mengeluh padaku. Menangis didepanku pun ia tak pernah. Aku tahu, ia mempunyai beban berat”. Lanjut Yura.

 

“Maka dari itu, kami sangat memanjakannya. Jadi, maafkan dia jika ia memang anak sangat keras kepala Baek. Terimakasih kau sudah menjadi teman adikku”. Bahkan, saat Yura menahan airmatanya, ia tidak bisa. Gadis itu terlalu rapuh jika membahas tentang Ayahnya, tentang Hyerim yang diam-diam menangis sendiri memandangi foto Ayahnya. Sekuat Jung Hyerim, ia tidak bisa masuk dalam hatinya, tak bisa menjadi penyalur dan naungan untuk berteduh.

 

Tanpa perintah, seakan motoriknya tak terkendalikan. Yura terdiam, merasakan tangan Baekhyun menghapus airmatanya. “Tak apa. Menangislah, aku akan menghapusnya”. Dan sapuan lembut mendarat dipipi Hyerim, merasakan tangan Baekhyun sudah menyentuh pipi Yura lembut. “Aku disini. Biarkan aku akan mendengarkan semua keluhanmu noona. Mulai sekarang, aku akan mengajakmu mengelilingi Seoul. Noona tidak sendiri, ada aku ada Hyerim. Jangan merasa terbebani”. Baekhyun tersenyum membuat Yura membalas senyumannya. “Terimakasih”.

 

***

 

Kyungsoo menyiapkan beberapa bahan untuk membuat kimchi. Lelaki itu sibuk menyiapkan bahan yang ia keluarkan dari lemari dan kulkas. Ia menatanya dengan sangat rapi. “Kau tahu cara membuat kimchi?” Hyerim duduk, bersiap dengan baskom besar didepannya. Kyungsoo mengangguk sembari mengambil sarung tangan berbahan plastik. “Tentu saja, walaupun banyak pembantu disini, aku lebih suka makanan buatan sendiri. Kau pernah membuat kimchi?”

 

Kata Kyungsoo sembari memberikan sepasang sarung tangan plastik. “Aku hanya melihat. Aku tidak suka berada didapur”. Hyerim memakai sarung tangannya namun ia ragu memulai mana buat. Ia lebih penasaran akan perkataan Kyungsoo diruang tamu depan tadi. Bahkan, tujuan utama ia berada disini pun lupa, ia harus membantu Kyungsoo membuat beberapa kimchi karena keluarga Do akan datang dari Swiss besok. “Jadi, kau terpaksa membantuku? Maaf, aku tidak tahu kau tidak suka dapur Jung!”

 

Kyungsoo tersenyum, membunyikan tawanya dibalik tangannya. Oh tidak, ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya. Dan apa ini? Seorang gadis tidak suka dengan Dapur. Hyerim menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Kyungsoo sangat jago memasak, bagaimana bisa Hyerim tak memikirkan satu mendasar sekalipun. Ia merutuk dalam hati. Mana mau ia besanding dengan gadis yang tidak suka dapur dan tidak pernah memasak? Hyerim mengambil beberapa sawi dan memasukkan beberapa bumbu yang super banyak.

 

Apa ia harus bertanya pada Kyungsoo? Ia benar-benar tidak tahu membuat kimchi. “Eh? Kau sudah memasukkan bumbu? Bukan seperti itu”. Kyungsoo ingin tertawa, ia berdiri dan duduk disisi Hyerim. “Membuat kimchi itu sederhana. Sebelum memasukkan sawi, kau harus menuangkan ½ gelas garam kasar yang sudah berisi air. Bukan langsung kau olesi bumbu Jung! Seperti ini!” Seakan petir menyambar dikepala Hyerim. Baiklah, ia sudah mempermalukan diri sendiri. “Lalu rendam seperti selama beberapa jam. Oke?”

 

Kyungsoo menoleh, memperhatikan Hyerim yang sudah merah padam menahan malu. “Ada apa? Kau sakit? Kau hanya diam saja saat aku menjelaskannya padamu?” Kyungsoo menatap Hyerim intens. Lelaki itu tahu, jika Hyerim tak bisa membuat kimchi. “Tak apa. Aku tidak mengatakan pada siapapun. Aku berjanji!” Kyungsoo melepas sarung tangannya dan menunjukkan jari kelingkingnya. Bukannya lega justru Hyerim semakin mengerut, menahan malu yang sangat.

 

“Hei, tak apa”. Dan seperti sengatan listrik mengenai pembuluh darahnya. Kyungsoo menepuk puncak kepala Hyerim lembut. “Ayo kita mengobrol didepan. Kita tunggu beberapa jam lalu kita bisa memberikan beberapa bumbu”. Kyungsoo melepas sarung tangan Hyerim dan ia bisa merasakan sentuhan hangat Kyungsoo menyentuh lengan tangannya lembut. “Ayo, berdirilah!” Dans satu tarikan Kyungsoo berhasil membuat Hyerim tersadar dan untuk kedua kalinya lelaki itu menggegam pergelangan tangannya.

 

“Aku bisa memasak!” Langkah Kyungsoo terhenti, menatap Hyerim yang berada dibelakangnya. “Benarkah? Itu bagus. Lalu?” Kyungsoo berbalik, seakan fokus pada Hyerim yang sebenarnya gadis itu banyak diam saat didalam rumahnya. “Aku tidak suka dapur karena beberapa alasan.” Hyerim menunduk, menyembunyikan ekspresi yang Kyungsoo ingin lihat.

 

“Kenapa?” Kyungsoo mengernyitkan dahinya, lelaki itu bersender, seakan sudah siap mendengarkan Hyerim mengungkapkan perasaanya. “Ayahku adalah seorang chef. Saat aku SMA, aku beberapa kali mencoba resep yang dibuat Ayahku di buku yang ia tinggalkan. Aku sempat ingin membuka Restoran tapi kata Ibu, rasa masakanku tak sama dengan Ayah. Jadi, aku terpaksa masuk Universitas, menjadi seorang penyanyi. Ibuku sangat pintar bernyanyi. Itulah daya tarik Ibuku sehingga Ayahku sangat menyukainya” Hyerim tertawa lirih, ia mulai memainkan dress nya asal.

 

“Kau bisa. Bertanyalah langsung pada Ayahmu. Mungkin kau mempunyai bakat yang sama sepertinya! Kau juga mempunyai bakat dari Ibumu. Kau adalah paket komplit.” Ujar Kyungsoo. Namun gadis itu menghela nafasnya berat. “Jika itu bisa. Aku akan bertanya. Menunggu Ayah menjawab doaku. Diatas sana”. Hyerim menunjukkan langit dengan bintang diatas, menunjuk jendela tak jauh mereka berdiri. “Ayahku adalah bintang paling besar dan bersinar”

 

Kyungsoo menegakkan badanya, ia paham bahwa Ayah Hyerim sudah tak ada. “Maaf. Aku tidak tahu.” Ujar Kyungsoo. Ia merutuk dirinya sendiri karena tidak berhati-hati berbicara. Gadis itu mengangguk, seolah sudah terbiasa. “Tak apa. Lagipula aku tak mempunyai kenangan bersama Ayah. Ayahku meninggal saat aku dalam kandungan. Jadi, aku tidak terlalu sedih. Karena aku tidak mempunyai tentang memori bersamanya”. Hyerim tersenyum. Lelaki itu tahu, ada butiran airmata bersembunyi diujung sana. Akankah ia bisa memeluknya? Tidak! Ini bukan waktunya.

 

***

 

Hyerim melempar tubuhnya ke sofa, merasakan sakitnya kaki karena memakai sepatu berheels tinggi. Tapi semua itu terbayar saat tangan Kyungsoo menggegamnya saat mengantar ke Halte. Hyerim terkikik malu, ia menutupi sebagian wajahnya dengan selimut dan bersiap untuk berguling-guling. “Kenapa ini membuatku malu sekali!!” Hyerim semakin memeluk gulingnya gemas, sungguh ia menyukainya. Tapi ia terdiam, menghentikan aktivitas pergulingannya.

 

“Sampai sekarang, aku tidak mengerti apa yang dikatakan Kyungsoo”. Ia menggigit bibir bawahnya. Akankah ia kalah lebih awal? Sekali kencan ia menemukan fakta itu? Hyerim menghela nafasnya pasrah. “Sepertinya aku bersiap-siap patah hati dan anak monyet itu pasti akan bahagia karena aku hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Tidak! Tidak! Aku tidak mau kalah dengan cara ini”. Hyerim menggelengkan kepalanya, membayangkan bagaimana Baekhyun turut senang dengan ini.

 

Trrt~ Trrt.

 

Ponsel Hyerim bergetar. Hyerim mengambil malas ponselnya di nakas meja dan memperhatikan siapa gerangan tengah malam meneleponnya. Tentu saja raut wajah Hyerim berubah. “Tck, kau benar-benar panjang umur Baek”. Dan dalam satu tekanan, Hyerim menggeser tombol merah ponsel secara sepihak dan meletakkan kembali dalam nakas meja. “Kenapa dia meneleponku malam-malam seperti ini?” Hyerim menutup tubuhnya dengen selimut, bersiap untuk aktivitas tidur.

 

Trrt~ Trrt~

 

“Brengsek!” Hyerim segera duduk. Memperhatikan ponselnya menyala kembali. “Kenapa dia selalu mengangguku?” Dia melempar bonekanya setengah frustasi. Terpaksa ia harus mengangkat sebelum matanya membengkak karena kurang tidur, ia ada kelas pagi besok. “Ada apa?” Dan satu kalimat sinis keluar dari mulutnya. Sambungan sana terdiam, seakan membeku dengan suara teriakan dari Jung Hyerim.

 

“Kau diam sampai kapan?” Hyerim menghela, hanya suara nafas diujung sana. “Kau masih diam? Baiklah, aku tutup!” Hyerim bersiap menutup teleponnya tapi sambungan sana sudah terdengar suara walaupun hanya suara gesekan suatu benda. “Tu.. tunggu! Ya! Kau benar-benar tidak sopan. Ucapkan salam dengan benar! Apa-apaan tadi?” Baekhyun murka, sesungguhnya ia tak ada niat untuk menelepon Hyerim.

 

Tak ada pembahasan apa yang harus mereka bicarakan. “Kau ingin mengatakan apa?” Hyerim bertanya. Tentu saja bagi seorang Baekhyun, ia tak tahu harus bertanya atau tidak. Tapi didalam hati kecilnya ia benar-benar sangat ingin tahu. “Katakan ya atau tidak”. Baekhyun menghela nafasnya, ia menetapkan bahwa tak ada maksud apapun bertanya satu hal ini. “Kau ingin bertanya apa? Kau ingin aku mendekatkanmu pada Yura Unnie lagi?”

 

Baekhyun terdiam, mencoba mencerna dugaan Hyerim yang sama sekali tak tersirat didalam otaknya. “Kenapa kau diam saja? Ya! Apa kau lupa? Kita sekarang sedang bertaruh. Jadi, jangan harap kau meminta bantuanku Baek? Asal kau tahu, aku tidak ingin start, aku sudah memulai awal dengan sangat baik”. Kikikan Hyerim terdengar, membuat Baekhyun mematung disisi jendela, menatap langit malam yang menampak bintang.

 

Menatap jauh seakan pandangan kosong. “Bagaimana kau dengan Kyungsoo? Apa yang kalian lakukan?” Tidak membentak, tidak juga menuntut. Hyerim merasa jika nada dan pertanyaan Baekhyun seakan seperti pertanyaan biasa. Dan pada detik itu juga, Baekhyun tersadar bahwa pertanyaan benar-benar tak akal. Untuk apa? Ia bukan kekasih Hyerim. Bukan seorang mantan. Hak apa ia menanyakan seperti itu.

 

“Lu … lupakan!” Gadis diujung sana terdiam, mendengar nada Baekhyun kembali sinis terhadapnya. “Untuk apa kau mengatakan itu padaku? Apa kau juga berharap aku akan bertanya hal sama sepertimu? Aku tidak tertarik Baek! Sudah malam, besok aku ada kelas pagi. Aku tutup!” Dan Hyerim benar-benar menutup teleponnya secara sepihak, lagi. Ia meletakkan ponselnya kembali ke nakas. Tapi ia tak tenang.

 

Ia tak bisa tidur lagi. Didalam hatinya, ia ingin Baekhyun meneleponnya lagi. Merindukan dimana Baekhyun selalu meneleponnya tanpa ampun, membiarkan ponselnya berdering tiap menit, sekedar mendengarkan sumpah serapah dari Baekhyun. Tapi untuk apa? Jika pria itu hanya ingin tahu dirinya bersama Kyungsoo, sudah dipastikan bahwa Baekhyun akan bercerita banyak hal bersama Yura. Ada disisi hatiku merasa sakit. Ia tak ingin mengakuinya. Mengakui bahwa ada sedikit perasaan tumbuh.

 

Secuil kerikil dipojok hatinya. Tapi sungguh, Hyerim mencoba tak peduli. Berharap rasa konyol itu hilang dan tertutup oleh perasaannya pada Kyungsoo yang semakin hari membesar. “Aku tidak menyukai Baekhyun, kan? Tidak, kan?” Gumam Hyerim didalam selimut. Ia heran, kenapa ia masih saja fokus pada ponselnya. Hyerim menggeleng dan menutup sebagian tubuhnya mencapai puncak kepala. Ia tidak seharusnya begitu. Tidak seperti ini.

 

***

 

“Hyerim-ya!” Lambaian dan teriakan Kyungsoo dalam kelas sore ini membuat Hyerim tersadar kemudian berlari mendekat. Kyungsoo menepuk kursi sebelahnya membuat Hyerim wajib berpikir keras. “A … apa?” Tentu saja Hyerim tak paham. Jika seseorang menepuk kursi disebelahanya bukankah itu untuk duduk disisinya? Namun pikiran Hyerim seakan error jika bertemu Kyungsoo semendadak ini.

 

“Kau tidak ingin duduk disini?” Alis Kyungsoo terpaut, matanya menunjukkan kursi sampingnya, menyuruh Hyerim segera duduk disisinya. “Apa tidak apa-apa?” Hyerim duduk sedikit ragu, namun Kyungsoo mengangguk mantap. Suatu kehormatan jika Kyungsoo mencari tempat untuk dirinya. Suatu reward yang paling berharga, seolah Hyerim tak percaya jika kencan semalam mendapatkan dampak begitu besar. Semula tak akrab pun kini sudah menjadi hal biasa.

 

“Tidur nyenyak?” Senyum mengembang Kyungsoo membuat Hyerim menghentikan aktivitasnya sejenak. “Nyenyak”. Dan mereka saling tersenyum, menatap layar didepan yang sebenarnya kelas akan dimulai 15 menit lagi. Mereka banyak terdiam sebenarnya, Kyungsoo banyak membaca buku. Dan Hyerim tak berhak untuk menganggu. Ia tahu Kyungsoo anak dengan IQ tinggi, sosok misteris dan lebih tertarik membaca buku walaupun penjelasan sudah terpampang jelas didepan.

 

Kelas semakin terisi. Dan satu perhatian Hyerim sempat membuatnya tak mengedipkan mata. Baekhyun dan Yura masuk kelas bersama. Satu pertanyaan yang tersirat di kepala Baekhyun. Sejak kapan Baekhyun mengambil mata kuliah yang sama banyak dengan dirinya dan Yura. Dan ia bisa melihat Baekhyun dan Yura semakin akrab. Lihat saja bagaimana dengan Kakaknya gemas memainkan rambut Baekhyun. Dalam hati kecilnya, ia benci Yura melakukan itu. Bukannya apa, Baekhyun adalah pria dewasa bukan anak-anak.

 

Dan seketika pandangan mereka bertemu. Dan Hyerim sadar juga bahwa Baekhyun dan Yura berpisah, berpisah tempat duduk. Masing-masing menuju ke segerombolan angkatannya. Dan Baekhyun bergegas duduk disamping Jongdae. Tatapan kembali bertemu dan Baekhyun seolah tak peduli. Menyibukkan diri dengan bersenda gurau bersama Jongdae. Dan apa yang didalam hati Hyerim? Ada semburat pipi memerah disana, ia menyembunyikan sesuatu tapi ia mengelak.

 

Hyerim segera mengambil earphone dan mencoba tak mempedulikan kehadiran Baekhyun yang entah kenapa membuatnya tak berani menatap, bahkan gadis itu tak tahu jika Baekhyun mencuri pandang padanya. Berseling dengan gurauan bersama Jongdae, tapi bahasa tubuh tak pernah berbohong. Lelaki itu mengambil ponselnya, mengetik sesuatu dan menatap Hyerim kemudian. Dan playlist dalam ponsel Hyerim terhenti, satu pesan LINE terpampang jelas dilayarnya.

 

Hyerim melepas earphone nya dan menatap sang pengirim. Namun lelaki itu justru asyik bersama Jongdae. Hyerim memasang earphone nya kembali kemudian membaca pesan Baekhyun satu per satu kata.

 

Aku ingin bicara!’

 

Singkat namun membuat Hyerim bertanya banyak hal. Untuk apa? Apa yang harus mereka bicarakan? ‘Apa yang harus kita bicarakan? Kurasa tidak ada!’ Hyerim menekan kirim lalu menambah volume playlist nya. Ia tak boleh berpikir macam-macam. Ia harus bisa mencapai tujuan awalnya dengan baik, tanpa ada gangguan sedikit pun. Ia sudah sampai ketahap ini, dimana ia bisa duduk berdampingan dengan Kyungsoo. Berselang beberapa detik ponselnya berbunyi. Baekhyun lagi.

 

‘Hanya sebentar. Nanti sore, ditempat biasa’.

 

Hyerim menoleh, menuju tempat duduk Baekhyun yang berada diujung sana. Pandangan mereka bertemu namun tak ada ekspresi apapun dari Baekhyun. Dan detik itu juga Hyerim tahu, mungkin lelaki itu akan mengatakan serius secara ia sama sekali jarang melihat sorot mata itu. Sungguh. Sesuatu menyentuh kulit putihnya dan pelakunya adalah Kyungsoo. Lelaki itu menunjukkan telinganya, bahwa ia ingin Hyerim melepas earphone nya.

 

Hyerim melepasnya dan menatap Kyungsoo penuh tanya. Lelaki itu menepuk puncak kepala Hyerim gemas dan tentu saja membuat gadis itu semakin mengerti akan maksud dari itu. Demi apa, Hyerim menyukainya. “Lepaskan! Dosen Ahn sudah datang. Fokuslah!” Dan satu cubitan dari Kyungsoo mendarat bebas dipipi Hyerim. Dan seketika gadis itu tersipu. Ia yakin bahwa perasaanya tak bertepuk sebelah tangan. “Iya”. Hyerim membuka laptop, bersiap untuk memperhatikan slide dengan sungguh-sungguh. Bahkan ia tak tahu, ada sepasang mata yang masih memperhatikannya, diujung sana. Dengan gigitan bolpin yang menjadi sasarannya.

 

***

 

Hyerim tak henti mengecek arlojinya. Sudah 30 menit ia menunggu diatas balkon namun Baekhyun sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Hyerim beranjak dari duduknya, melempar asal ranselnya yang sudah sangat berat. Ia sedikit berlari, mencoba menengok dibawah sana. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, matahari sudah terbenam diujung sana. Ia mengantuk, lelah dan tak ada tenaga untuk sekedar membela. “Dia mencoba membodohiku? Aku tertipu lagi? Sudah beberapa kali aku dibodohinya?”

 

Hyerim menyandarkan kepalanya pada pembatas, merasakan kelakuan Baekhyun yang sudah ia sadari sejak awal. Pria itu tak pernah mengatakan secara serius. Tapi bagaimana dengan raut dingin itu? Hyerim menegakkan kepalanya, memandang kosong halaman bawah yang sudah sepi. “Aku bukan orang suka menipu”. Hyerim segera menoleh, mendapati Baekhyun berjalan santai dengan jus strawberry disalah satu tangannya. “Kau beraninya membeli minuman dan tak memikirkan aku menunggumu lama disini?”

 

Sungguh, Hyerim ingin melempari ranselnya dan berharap jus Baekhyun jatuh tak bersisa. Tapi Hyerim tak berniat untuk memperpanjang masalah. Ia ingin menyelesaikan ini dan segera pulang, meluruskan punggung-punggungnya yang seraya akan patah. ”Maaf!” Baekhyun menjawab enteng seakan tak peduli bahwa Hyerim benar-benar sangat murka.

 

“Ada apa? Apa yang ingin kau katakan? Apa kau ingin bertanya apa yang aku lakukan pada Kyungsoo. Baiklah aku akan memberitahumu”. Hyerim berdiri tepat dihadapannya Baekhyun. Lelaki itu berhenti menyeruput jusnya dan menatap Hyerim sedikit malas. Bukan, lebih tepatnya pria itu acuh. “Apa yang kau katakan?” Baekhyun bertanya dengan nada datar, ia mencoba mengikuti alur Hyerim. “Bukankah ini yang kau dengar, aku dan Kyungsoo …”

 

“Ayo kita pergi malam ini. Hari ini cuaca cerah. Aku akan mentraktirmu”. Baekhyun memotong pembicaraan Hyerim dan melempar asal jus kosongnya. Dan gerangan apa Baekhyun mengajaknya pergi? Apakah ini suatu jebakan lagi? Jebakan dimana lelaki itu kembali menguak hal-hal tentang Yura, menipunya dengan cara mentraktirnya namun nyatanya tidak? “Apa yang kau inginkan? Kau menggunakan ku untuk mendekati Kakakku? Ayolah, kita sedang bertaruh. Kau jangan mencoba curang padaku!” Kedua tangan Hyerim berada disisi, merasa bahwa permintaan Baekhyun tak pernah benar.

 

“Bisakah kau melupakan taruhan itu? Aku sedang dalam suasana baik hari ini!” Baekhyun beranjak, mencoba menenangkan suasana. Namun gadis itu tak bergeming, malah semakin menatapnya curiga. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tentu saja Baekhyun tak nyaman, ia bukan buronan ataupun tukang tipu. “Kau tidak menyuruhku membelikanmu sesuatu dan membawakan jajjangmyeon untuk Kakakku lagi, kan?” Hyerim ingat betul bagaimana saat pertama Baekhyun mengajaknya pergi makan.

 

Bukannya ia merasa kenyang, justru ia pulang dengan kelaparan. “Tidak. Aku akan mentraktirmu. Sungguh. Sebelumnya, ayo kita bermain ke Time Zone!” Dan satu ajakan itu membuat Hyerim semakin curiga. Time Zone, tempat wahana bermain. “Ke … kenapa kau ingin pergi kesana? Kau menyukaiku? Ka … kau bukan tipeku!” Ini bukan kencan kan? Tentu saja tidak!

 

Dan Baekhyun seakan tergagap, saat mendengar pernyataan yang sangat percaya diri itu. “Kau kira kau saja? Sudah kukatakan aku tidak suka wanita berdada kecil sepertimu? Kenapa kau sangat berharap banyak seperti itu?” Baekhyun berjalan menjauh sembari terus menggerutu, seakan bersiap meninggalkan Hyerim dengan penuh banyak pertanyaan. Namun lelaki itu terdiam dan berhenti, kemudian berbalik menatap Hyerim .

 

“Emm, aku dengar disana sangat menyenangkan. Pukul 7 malam, tunggu aku didepan”. Baekhyun berlalu, hilang saat ia turun dalam tangga. Ayolah, sejak kapan dan kerasukan sosok apa jika Baekhyun hari ini sangat tenang. Dan maksud dari semua ini? Hyerim hanya memainkan rambut kuncirnya asal. Dan saat itu pula, jantungnya berdetak diatas normal. Ia bisa merasakan pembuluh darahnya berdesir cepat, seolah merasakan tekanan kuat. “Apa yang terjadi denganku? Perasaan ini? Tidak mungkin Jung! Hahaha”. Hyerim memukul kepalanya lirih. Sejak kapan dan niat apa ia menyukai Baekhyun? Tak ada satu spesial dari Baekhyun kecuali penggangu hidupnya.

 

TO BE CONTINUE..

 

Hai, Happy Friday guys, Happy Heart Attack. L.Kyo Back, CHAP 6. YEaahh~ Berkat semangat kalian aku ngebut sebelum jumat aku selesaian. Kenapa sih satu chap aja susah sekali astagaaah. Tapi berkat reader ku, entah itu lama sampe aku inget uname kalian sama reader baru. Thank you. Aku harap jangan jadi siders yah, setidaknya satu patah kata kalian ucapkan. Kalo gamau gapapa sih, setidaknya kalian harus tahu membuat FF itu ga mudah. Gimana H.A Chap 6 ini. mungkin yak, ini kurang lebih 10-12 chap udah tamatan, mungkin lo kalo perkiraanku. Aku ga bisa kalau terlalau panjang sampe chap 20 an. ku ga bisa bikin konflik banyak.. wkwkwkwk.. Oke.. Next week Chap 7 guys. Lav yuhh.

 

by. L.Kyo

53 tanggapan untuk “[Chaptered] Heart Attack (6th Chap) | by L.Kyo”

  1. Ayolah baek. Jangan membuat hyerim merubah haluannya. Dari kyungsoo lalu dirimu. kyungsoo menyukainya lebih dulu. Hyerim menyukai kyungsoo sejak awal. Lalu kau datang bagai badai. *pletak/ditimpukBaekyun.
    Maafkan. Aku tidak suka secondlead tersakiti.
    Hehehe kak kyo aja aku panggilnya yaa. Aku mulai baper. Mikirkan perasaan kyungsoo. Ahhh jadi aku yang dilema disini

  2. Aduh awalnya udah bikin sedih aja,, kasian hyerim ato eunji,oke eunji aja soalnya uda kebiasaannya eunji,j
    Kasian dia belum pernah ketemu sapa ayahnya,,sedih… dia juga jadi bandel karena dia uda dimanja sejak kecil,tapi tetep aja eunji nya kasian,,,aku bingung sama visual Yura,susah ngebayanginnya,walaupun cast nya uda diganti tapi tetep aja ngebayanginnya sama si leader unyu unyt Taeyon wkwkwk

    Cie ada yang mulai bingung sama perasannya,cie yang juga masih suka sama penguin dyo kkk hayoloh si eunji gimana tuh? Si baekhyun juga tuh,uda gak terlalu suka Yura,aseek kamu itu uda suka sama eunji kkk

  3. Yuhuuu!!! akhirnya ff favorit dinext ><
    Baekhyun tiba" aneh gitu ya.. tapi gak apa lah, Hyerim juga sama, walaupun masih sedikit memberontak/?
    oh ya kak, cuman mau kasih tau, " Hyerim-ya!! " itu salah kak.. harusnya kek gini " Hyerim-ah!! " soalnya kan huruf akhir hyerim bukan huruf vokal, jadi pakenya ' ah ' 😀

    1. ahhhh…. makasih sdh jadiin epep abalku favoritmu say. kucinta kamu..

      bener, dan itu typohh… chap sebelumnya aku pake -ah knp entah di chap ini ku sedang mabuk sianida atau mabukk gilter nya kopinya wendy.. wkwkkwkwk… makasih koreksinya^^

  4. tau nggak? nunggu satu minggu itu lamaaaa banget😑😣
    ah akhirnya kesampean baca chap selanjutnya, unhh mereka mulai ngeh sama perasaan masing” tub: D
    tapi Hyerim mah emang masih demen sama kyungsoo Yah, beda sama baekhyun yg beneran suka sama Hyerim keliatannya..
    aishh, jumat depannya masih lamaaaaa: (

    1. hahahaha. maaf byunbaek >< tapi tapi hidup RL itu susah nafas.. wkakakak…. iya nih, hyerim g peka ama kegejean baek yg makin menjadi.. sabar yak, kutau kau reader setia. yg selalu kuharapkan hadir. eaaakk ❤

    2. aishh jadi malu hahaha 😀
      bdw, maapin itu id aku salah harusnya byunbek 😦
      baru komen” di epep lagi soalnya jadi kelupaan *bow*

  5. tau nggak? nunggu minggu itu lamaaaa banget😑😣
    ah akhirnya kesampean baca chap selanjutnya, unhh mereka mulai ngeh sama perasaan masing” tub: D
    tapi Hyerim mah emang masih demen sama kyungsoo Yah, beda sama baekhyun yg beneran suka sama Hyerim keliatannya..
    aishh, jumat depannya masih lamaaaaa: (

  6. Jumat tibaaaaaaa!:D *senengbgt wkwkwk
    Kok makin keren thooooor!!!
    Itu hyerim dah beneran sukakan? Tp Baeknya udah suka belum sih thor? Wkwkwkwk
    Kyungsoo jadinya suka sapa nih thor??
    Aaaa, bikin penasaraan!!!!
    Keep writing thor! Ditunggu terus tiap jumat!:) fighting!!;)

  7. aku pernah baca ff ini di fb, beneran ,ini jadi salah satu ff favoritku, seingatku dulu eonninya kalo nggak salah taeyeon kan? di ganti ya? nggak pa2 sih, dulu waktu aku bacanya udah chapter berapa ya, lupa. thanks deh di publish lg, jadi refresh lg sama ff ini.

    1. ya ampunnn, wakakak. bener, aku pernah dishare do fb,dan itu lamaaaaaaa banget. 2 taun silam. ajaib kalau ada ingat ama epep abal iniiih.. yaampun, makasih untuk apa. ? ini emang kuniatin buat namatin ini sumpah.. sudah betaun2 kugantungin ini epep >< makasih dukungannya.. kutunggu komenan km di chap selanjutnya

  8. Horee next chap…
    Yang ditunggu datang…
    Yippy yehet horre. Aku baca lagi ah.. Huh rasanya baekhyun kencan ama yura akunya ikut nyesek. Pas kyungsoo ama hyerim akunya malah sebel. “Abaikankomensayahehe. Baekhyun ada apa dengan mu? Inikah awalnya cinta? Aku rasa begitu. Hyerim apa kau juga merasakannya.. Uduh baekhyun kamu ajak dia main, kamu ngga ajak aku main jahat banget kamu tah, okeh baek kita putus/gamparfans/. Yayaya ini bikin baper. Next kakak.
    Semoga ide lancar, semungut terus lah. Ada aku disini yg setia menunggu next chap. Lupyoutoo kakak heheh

  9. iyaaa,,ini keren,,,serru,,dan ikut berdebar debar,,menunggu,,dng siap akhirnya hati mereka berlabuh //wkwkwkwww….
    iya jng terlalu panjang dan beribet,,yg simple aj,,tp ngena ke hati,,//apa ini //

    1. njir… edisi apaan ini? pake ada kata puitis hati berlabuh?/ wkakakkak ampun kakak.. hooh, selama ini aku bikin chap paling byk 7 .. hiksue….

  10. Kalo aku sih gapapa kak, yg penting ceritanya gak gantung aja. Aku juga udah nikmatin ceritanya kok
    Iihiiyy baek ngajak hyerim kencan 😍😍 tuh kan emang muna couple deng mereka itu huu
    Next week ditunggu kak 😜 figting!!🤗

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s