[EXOFFI FREELANCE] Transformer

bergandengan-tangan-615x300

Title : Transformer

Author : Yuki Hwang ( on instagram @dilaassepti )

Main Cast :

– EXO’s Oh Sehun as Sehun

– OC’s Go Eun Jung as Eun Jung

Support cast :

– OC’s Kim In Kyung as In Kyung

– find them by yourself;D

Genre : songfict, romance, school life, pshycology, slight!angst

Inspired by : “EXO – Transformer” dan “Transformer: The Movie”

Length/duration : oneshoot

Rating : PG15+

Disclaimer :

FF ini murni hasil pemikiran saya, bukan merupakan hasil jiplakan/plagiat/copy-an, bila ada kesamaan cerita/tokoh/judul itu diluar dugaan saya. Saya hanya meminjam tokoh, tokoh sebenarnya milik Tuhan, agensi, fans, dan keluarga mereka.

Tolong beri saran dan kritik atau apapun di kolom komentar atau bisa kirim e-mail ke dilaasepti@gmail.com setelah membaca (bisa juga dilike chingu). Harap maklum bila banyak kesalahan baik alur kecepetan/nggak nyambung atau typo bertebaran. Terimakasih partisipasinya. Selamat membacaJ

Summary : ‘Cause you change everything, girl…’


            2 Oktober 2014

Setahun terakhir ini aku merasakan perubahan yang signifikan terjadi dalam hidupku. Aku tak tahu persis apa yang menyebabkan perubahan ini, tetapi aku merasa gadis di sampingku ini yang mengubahnya. Aku bahkan tak tahu apa yang memotivasiku untuk menjadi pribadi yang berbeda seratus delapan puluh derajat dalam jangka waktu yang cukup singkat. Namun, aku merasa kekuatan cinta dapat mengubah segalanya.

“Kau harus memperhatikan apa yang disampaikan guru Park, Oh Sehun,” ujarnya saat aku tiduran di pahanya. Daun maple jatuh tepat di kelopak mataku, membuatku menyingkirkannya dan membenarkan posisi menghadap Go Eun Jung.

“Hei, ingat ya! Aku ini selalu memperhatikan pelajaran, aku bukan Oh Sehun yang dulu, Eun Jung-yaa,”

“Nde, nde terserah kau saja,” aku mencubit pipinya gemas. Sekelompok orang datang menuju kami. Jujur aku belum pernah mengenal mereka sebelumnya. Tetapi tampang mereka benar-benar menyeramkan. Mereka memang mengenakan seragam sekolah yang sama denganku tetapi tampangnya lebih mirip dengan preman pasar yang sering kutemui sepulang sekolah.

“Oh Sehun, jangan memulainya lagi!”

*

[ Flashback on – Author POV ]

5 September 2013

Sekelompok pria mengenakan pakaian serba hitam berdiri di gerbang sekolah. Siswa-siswi yang melihatnya langsung bergidik ngeri dan berlarian. Bahkan, penjaga yang bertugas pun tak berani menegur kedatangan mereka. Meski sudah jam pulang sekolah keberadaan mereka tetap mengganggu dan mengancam murid-murid.

“Hei kau! Panggilkan Oh Sehun!” ujar salah satu dari sekelompok pria tersebut. Si penjaga tersebut pun hanya mengiyakan perintah yang ia dapat tanpa mengelaknya. Rupanya sekelompok pria tersebut tak hanya datang satu dua kali ke sekolah ini, sehingga si penjaga hafal betul apa yang akan terjadi bila dia melawannya dan bahkan berani mengusirnya.

“Oh Sehun! Jangan sekali-kali kau mengajak mereka datang ke sini lagi,” ujar bapak penjaga sekolah kepada Oh Sehun. Sehun pun mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti apa yang pria di depannya ini katakan.

“Aku akan segera kembali, tunggu aku di halte,” ujar Sehun kepada Eun Jung sambil mengusap kepala Eun Jung.

“Sebenarnya siapa yang mencarinya, Pak?” tanya Eun Jung kepada penjaga sekolah yang masih berdiri di tempatnya.

“Akhir-akhir ini sekelompok pria berpakaian serba hitam mencari Oh Sehun. Pernah sekali aku menegurnya, tetapi aku mendapat pukulan di pelipisku,” Eun Jung yang mendengarnya pun langsung meninggalkan bapak penjaga sekolah. Ia berjalan dengan cepat, bahkan bisa dibilang berlari.

“Aku dengar dia itu kekasih Oh Sehun,”

            “Kenapa dia mau dengan Oh Sehun? Dia tidak tahu sifat aslinya Oh Sehun, ya?”

            “Bukankah dia salah satu siswa teladan di sekolah? Dan dia berpacaran dengan seorang berandal?”

            Samar-samar Eun Jung mendengar pembicaraan gadis-gadis yang berbisik menyebut nama Oh Sehun beberapa kali. Eun Jung benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ia merasa ada hal yang buruk akan menimpa Sehun, kekasihnya.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Eun Jung mengedarkan pandangannya ke seluruh badan jalan. Sekelompok pria yang dimaksud bapak penjaga sekolah tampak memabawa Oh Sehun ke dalam van hitam. Beberapa detik kemudian, van itu berlalu, dan menghilang dari pandangannya.

*

Sepanjang perjalanan menuju halte pikiran Eun Jung terus melayang pada sosok Sehun, kekasihnya. Rasa khawatir dan takut menggerogoti hatinya. Perasaan kecewa juga terbesit di benaknya. Mendengar perkataan yang tak mengenakan dari beberapa anak mengenai Sehun tadi yang membuatnya kecewa.

Dua jam sudah Eun Jung duduk di halte tempat biasa mereka menunggu bus. Dari gerimis, sampai hujan, dan sampai hujan reda, Sehun belum juga datang. Perasaan takut semakin menggerogoti pikirannya. Tiba-tiba pria bertubuh jangkung berlarian dengan tubuh basah kuyup.

“Maafkan aku, kau pasti menungguku terlalu lama,” ujarnya.

“Sehun-ahh, busnya datang. Kajja!” Eun Jung berjalan mendahului Sehun yang masih sibuk membersihkan pakainnya yang basah.

Eun Jung memilih tempat duduk yang masih kosong dan bisa duduk bersebelahan dengan Sehun. Di sepanjang perjalanan, Eun Jung sibuk mengedarkan pandangannya ke jalanan yang mulai basah kembali karena air hujan turun. Semenjak dari halte tadi belum ada pembicaraan yang serius dari mulut keduanya.

“Kau marah karena kau terlalu lama menunggu?” akhirnya Sehun membuka suara setelah lama menahan rasa penasaran atas kenapa kekasihnya itu enggan berbicara kepadanya. Biasanya dia yang paling cerewet jika Sehun kehujanan seperti sekarang. Hampir lima menit semenjak Sehun memberanikan diri untuk membuka suara, belum ada jawaban dari bibir Eun Jung.

“Aku takut, bodoh.” ucap Eun Jung lirih. Suaranya terdengar bergetar, seperti menahan sesuatu yang akan keluar.

“Eun Jung, lihat aku!”

“Lihat! Kau terluka,” kata Eun Jung sambil mengangkat dagu Sehun memeriksa luka di ujung bibir dan pelipisnya. “Yang aku takutkan terjadi, kan.” lanjut Eun Jung. Tanpa menjawab apapun Sehun langsung menarik tubuh Eun Jung ke dalam pelukannya.

“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” Sehun mengelus surai Eun Jung. Ia membiarkan seragamnya basah karena air mata kekasihnya tersebut. Lagipula ini salahnya membuat gadisnya ketakutan dan khawatir. “Menangislah, keluarkan semua emosimu.” Eun Jung memukul dada bidang Sehun, tetapi ia membiarkan dan menahan rasa sakitnya. Ia malah terus mengelus rambut kekasihnya.

Mereka pun sampai di halte tujuan mereka. Halte yang menjadi saksi kisah cinta mereka sejak satu tahun terakhir. “Akan aku antarkan kau pulang,” biasanya mereka akan akan berpisah di halte. Berhubung Sehun merasa bersalah, akhirnya ia pun mengantarkan Eun Jung sampai depan rumah.

“Kau masuklah, ke dalam. Aku akan mengobati lukamu,” ujar Eun Jung sambil membuka gerbang rumahnya setibanya mereka di depan rumah Eun Jung.

“Tidak aku akan langsung pulang saja,” Eun Jung pun menarik pergelangan tangan kekasihnya itu. Setelah mengambil kotak P3K Eun Jung langsung mengompres luka Sehun dengan handuk hangat. Sehun menelusuri wajah gadis di hadapannya itu, tampak raut wajah kecewa dan khawatir di sana. Terlukis jelas, wajah yang biasanya ceria berubah menjadi suram.

“Maafkan aku, telah membuatmu khawatir seperti ini,” ucap Sehun yang membuat Eun Jung berhenti mengompres luka Sehun.

“Aku tidak akan mendengarnya sekarang. Kau cukup diam saja,” jawab Eun Jung yang membuat Sehun semakin merasa bersalah. Sehun kembali terdiam dan masih saja menelusuri dengan detail wajah kekasihnya itu. Meski sedang marah, dia tetap terlihat lembut dan peduli terhadapnya. Sehun merasa benar-benar telah melukainya.

Setelah menempelkan plester pada pelipis Sehun, Eun Jung membereskan kotak P3K nya dan beranjak pergi. Hening sesaat. Sehun bergelut dengan pikirannya, ia merasa seperti bajingan sekarang. Hanya bisa melukai perasaan kekasihnya dan tak bisa berbuat apa-apa.

Eun Jung kembali dengan nampan berisi teh, kaus, dan handuk.

“Gantilah pakaianmu. Setelah ganti, habiskan tehnya, dan kau harus kembali ke rumah,” untuk saat ini Sehun hanya bisa menuruti perintah kekasihnya. Ia tak mau membuat kekasihnya lebih marah dengan menolak semua rasa peduli ini.

*

[ Seminggu kemudian… ]

Pukul enam pagi, Eun Jung sudah bersiap ke sekolah. Bahkan kabut masih menyelimuti kota Seoul. Hari ini jadwal piketnya. Semalaman hujan mengguyur Seoul sehingga udara pun menjadi lebih dingin dari biasanya. Titik-titik kecil air berupa embun menetes dari langit. Kenapa langit tak pernah kehabisan air untuk mengguyur bumi?

Namun, Eun Jungg tak terlalu memerdulikan cuaca hari ini. Yang pasti ia sudah mengenakan jaket dan mantel yang hangat dan cukup untuk melindungi tubuhnya dari suhu dingin. Eun Jung berjalan dengan tenang menuju halte tempat biasa ia menunggu bus.

Jalanan masih sepi, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Gerai-gerai pun masih tutup, hanya minimarket dua puluh empat jam yang masih buka. Karena udara terlalu dingin, dan dia pun belum sarapan, Eun Jung memutuskan untuk membeli kopi dan mi instan cup.

“Semuanya lima belas ribu won,” ujar kasir. Eun Jung mengeluarkan selembar dua puluh ribu won.

“Ambil saja kembaliannya,” Eun Jung memilih tempat duduk yang bisa memantau keadaan jalanan dari dalam. Saat mengedarkan pandangannya matanya tertuju pada sosok pria bertubuh jangkung dengan beberapa luka di wajahnya. Tentu saja, pria itu Oh Sehun. Tumben dia berangkat awal, pikir Eun Jung.

Eun Jung pun menyegerakan mengakhiri sarapannya. Sehun yang tadi sudah berdiri di halte sekarang menghilang dari pandangannya. Kemana dia pergi?

Tes…tes…tes…

Air hujan kembali mengguyur kota Seoul. Untuk pertama kalinya Eun Jung lupa membawa payungnya. Padahal, dia ingin sekali mengetahui keberadaan Sehun. Terpaksa ia harus menunggu sampai busnya tiba, ia bisa berlari dan langsung masuk ke bus tanpa harus basah kuyup.

Bus jurusan menuju sekolahnya melaju dengan kecepatan sedang. Saat ingin mengejarnya, seseorang mencengkeram lengannya dengan kuat. Pria itu, membawa payung lalu menarik pergelangan tangan Eun Jung untuk segera naik ke dalam bus.

“Tidak seharusnya kau nekat seperti tadi. Kau bisa kena demam,” ujar pria itu. Pria yang jarang berangkat pagi, pria yang tiba-tiba menghilang, pria yang membuat Eun Jung penasaran, pria yang membuat Eun Jung merasa takut dan khawatir, siapa lagi kalau bukan Oh Sehun?

Senyum mengembang menghiasi wajah Go Eun Jung. Rasa khawatir, takut, kecewa, dan marah seolah hilang bak tertiup angin dan terbang bersama debu. Semua perlakuan Sehun barusan membuatnya luluh seketika.

“Aku sakit tak apa, tapi tidak dengan kau. Kau tidak boleh sakit,” lanjut Sehun.

“Kenapa?” Eun Jung mengerutkan keningnya.

“Karena jika kau sakit, siapa yang akan merawatku saat sakit nanti?” Eun Jung memukul lengan Sehun. Semburat merah perlahan mulai muncul di wajah Eun Jung. Pria ini, kenapa dia bisa membuat hati wanita luluh seketika? Aku benar-benar membencimu, Oh Sehun, hatinya berteriak.

“Wajahmu memerah,” Sehun terbahak. Eun Jung menutupi wajahnya. Ingin sekali Eun Jung membunuh Sehun setelah ini, lihat saja nanti!

Waktu berjalan membakar habis semua perasaan yang sebelumnnya ada. Eun Jung dan Sehun pun sudah kembali seperti semula. Biarkan mereka seperti ini, meski masalah itu akan muncul lagi nantinya.

*

“Eun Jung-yaa!!” suara melengking yang sudah tak asing di rungu Eun Jung. Sudah jelas dia sahabatnnya, Kim In Kyung. Karena panggilan tersebut juga yang harus membuatnya berpisah dengan Sehun.

“Kita bertemu pulang nanti, daaahhh~~” Eun Jung berlari meninggalkan kekasihnya sambil melambaikan tangan dan berlari menuju In Kyung.

“Kita ke lab. Biologi sekarang, guru Kim sudah menunggu,”

Sesampainya di lab. Biologi, Eun Jung dan In Kyung mengatur napas mereka setelah berlarian sepanjang koridor sekolah. Cukup melelahkan juga, lari dari gerbang utama sekolah sampai lab. Biologi yang memang jauh jaraknya.

“Kalian terlambat dua menit tiga puluh tujuh detik nona Kim dan nona Go,” murid-murid mengerlingkan mata mereka. Guru Kim memulai kebiasaan buruknya, beliau memang guru yang sangat perhitungan. Selain perhitungan, dia juga salah satu daftar guru killer di sekolah ini.

“Chusohamnida, Kim seonsaengnim,” ujar Eun Jung sembil membungkukan badan dan diikuti In Kyung.

“Kau sebenarnya murid teladan nona Go, tetapi kau terlambat. Aku tak bisa memaafkanmu, kau bisa menggantikan jadwal piket hari ini, kau juga nona Kim,” murid yang melaksanakan piket hari ini pun bersorak. Sebenarnya, hari ini juga jadwal piket Eun Jung dan In Kyung. Jadi, tak terasa seperti hukuman.

“Kalian bisa duduk di bangku kalian,”

“Lihatlah wanita jalang ini! Dia memang tidak tahu malu. Katanya murid teladan tapi terlambat, dan mau saja berpacaran dengan Oh Sehun.”

            “Ya, aku lihat dia berangkat bersama Sehun tadi. Wajahnya pun penuh luka, bukankah sangat jelas dia itu berandal?”

Sepanjang pelajaran berlangsung, Eun Jung tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Teman-teman perempuan di belakangnya terus berbisik-bisik. Bahkan sempat beberapa kali ia mendengar nama Sehun disebut. Sudah jelas mereka pasti menggosip. In Kyung terus menenangkan Eun Jung dan menegur temannya itu, tetapi tetap saja tak membuat Eun Jung bisa fokus pada pelajaran. Seusai pelajaran, Eun Jung langsung mengemasi bukunya dan pergi.

“Eun Jung-yaa, jangan dengarkan apa yang mereka katakan. Mereka hanya iri kau bisa berpacaran dengan Sehun,” ujar In Kyung mencoba menenangkan sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya.

“Kau mendengarnya sendiri, kan?! Berandal? Sebenarnya bagaimana sifat Sehun selama ini? Apa Sehun menyembunyikan identitas aslinya, eoh?” Eun Jung melontarkan segala amarah dan pertanyaan yang ia tahan selama ini.

“Ani, dia anak yang baik, percayalah,” ujar In Kyung kembali menenangkan sahabatnya.

“Kau bahkan terlihat menutupi sesuatu. Apa selama satu tahun ini aku belum mengenal sifat asli kekasihku sendiri?” air mata yang Eun Jung tahan pun lolos membasahi pipinya. Di satu sisi, In Kyung takut rahasia yang ia sembunyikan tentang Sehun akan segera terbongkar kalau seperti ini caranya.

“Menangislah, Eun Jung-yaa. Ceritakan semua yang bisa kau ceritakan. Kita pergi ke tempat yang tenang,”

*

Angin menerpa surai keduanya. Sudah sepuluh menit lamanya mereka berdiam, suara angin yang berhembuslah yang mengusik ketenangan mereka. Sesekali isakan Eun Jung pun terdengar.

“Sebaiknya kau segera menceritakan apa yang ingin kau ceritakan.”

“Aku bingung darimana memulainya, tsk,”

“Kau bisa cerita dari apa yang kau alami kemarin,” In Kyung menatap nanar sahabatnya itu. Wajah yang ceria sebelumnya pun berubah, sepertinya Eun Jung benar-benar tertekan dengan apa yang ia alami.

“Akhir-akhir ini aku mendapati Sehun bertemu dengan sekelompok orang. Namun, hal ini tak terjadi sekali, biasanya setelah bertemu dengan mereka Sehun absen ke sekolah beberapa hari karena alasan sakit. Aku juga mendengar beberapa orang mengatakan Sehun adalah berandalan. Hal ini membuatku sedih, apa yang harus aku lakukan, In Kyung-ahh??” air matanya kembali meluncur dengan bebas membasahi pipi Eun Jung.

“Aku tahu betul apa yang kau rasakan,” In Kyung tampak merangkai kata-kata yang pas untuk memberi solusi kepada sahabatnya. “Yang mereka katakan sungguhnya adalah benar,” Eun Jung membelalakan matanya.

“Apa yang kau katakan?”

“Mungkin sekarang adalah saat yang tepat bagiku untuk menceritakan semuanya. Setelah satu tahun aku menyembunyikan semua yang sesungguhnya. Apa yang gadis-gadis penggosip katakan itu benar. Oh Sehun adalah berandalan,” In Kyung menggantungkan kalimatnya. “Dia memakai topeng di depanmu, menjadi sosok yang baik di depan, dan yang buruk di belakang. Dia adalah gangster di sekolah sebenarnya, tetapi untuk menjadi seorang kekasih murid teladan sepertimu, dia memberanikan diri keluar dari zona nyamannya. Bahkan dia memberi petisi semua anak agar tak membongkar identitas aslinya padamu. Dia suka merokok, tawuran dengan sekolah lain, keluar malam, dan minum-minuman keras. Dunianya sangat bebas.” Isakan Eun Jung terdengar semakin keras.

“Kau tahu dan kau menyembunyikannya dariku selama itu?”

“Maafkan aku, aku benar ketakutan waktu itu. Namun, melihat kau seperti ini, aku merasa harus membantumu. Kau menjadi terlihat sangat bodoh. Aku benar-benar kelewat batas karena berani menyampaikan ini kepadamu,”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” mereka kembali terdiam untuk waktu yang lama. Tak mungkin In Kyung yang akan menyelesaikkan masalah ini, nanti Sehun bisa berpikir dia ikut campur masalahnnya. Bahkan, Sehun tak segan membunuhnya.

“Aku memang tak bisa banyak membantu. Tapi kurasa kau bisa mengubah kepribadiannya. Coba bicarakan dulu semuanya dan cari solusinya bersama,”

*

“Hari ini Sehun absen.” Eun Jung membelalakan matanya. Mana mungkin? ia berangkat dengan kekasihnnya pagi ini.

“Kau berbohong, ya? Aku berangkat bersamanya pagi ini,” elak Eun Jung. Jelas saja ia tak terima. Jelas-jelas ia berangkat bersamanya tadi pagi.

“Sebenarnya kemarin ia juga absen dengan alasan yang tidak jelas. Hal ini sudah biasa dilakukan Oh Sehun,” Eun Jung langsung berlari keluar lingkungan sekolahnya dan pergi menuju halte. Di sana ia pun tak menemukan Sehun. Eun Jung memutuskan mencari Sehun di sekitar pusat kota.

Saat hendak mencari, tiba-tiba ponsel Eun Jung bergetar. Tertera nama kekasihnya itu, Oh Sehun.

‘Maafkan aku tak bisa menemuimu sepulang sekolah. Aku harus menyelesaikkan tugasku, sampai bertemu besok. Jangan lupa istirahat yang cukup, Eun Jung-yaaJ

Entah mengapa saat membaca pesan singkat dari kekasihnya dadanya terasa sesak. Kenapa ia bisa berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang orang-orang katakan?

*

Sehun mengepulkan asap rokok yang ia isap ke udara. Hampir seharian ia menghabiskan waktu di tempat ini. Tempat yang sebenarnya terletak di tengah kota, tetapi tak banyak orang yanng tahu. Tempat ini semacam basecamp gengnya berkumpul. Beberapa anak tiba dengan kantung berisi kaleng bir.

“Bos, akhir-akhir ini kudengar ada sekelompok orang yang mencarimu di sekolah. Apa itu benar?” seorang anak buahnya melontarkan pertanyaan. Namun, Sehun malah mengepulkan asap rokoknya ke udara.

“Bukan urusanmu,” jawab Sehun singkat.

“Kau bisa mengajak kami untuk menghajarnya, Bos.”

“Aku tidak sebajingan seperti kalian. Aku bisa menyelesaikkan masalah pribadiku sendiri,” Sehun membuang dan menginjak puntung rokoknya hingga sumbunya mati. Lalu, ia menyambar tas sekolahnya dan merapikan seragamnya yang berantakan.

Sehun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Sebenarnya ia sudah berjanji akan menemui Eun Jung, tetapi ia absen hari ini. Setelah mengirimkan pesannya, Sehun kembali berjalan menjauhi basecamp nya dan berjalan menuju pusat kota. Biasanya Eun Jung tak akan curiga jika dirinya sudah meminta maaf tak bisa bertemu. Baru berjalan sepuluh meter, tiba-tiba seseorang dengan mengejutkan memukul pundaknya.

“Aku ingin kau menjelaskan semuanya!”

*

Langit keabu-abuan mulai menutupi Seoul. Perlahan titik-titik air mulai berjatuhan dan membasahi tanah. Bau khas hujan menyeruak. Biasanya di saat-saat seperti ini sangat pas meminum teh hangat atau kopi panas sambil mengobrol santai.

Namun, tidak dengan Sehun dan Eun Jung. Keduanya justru tengah bersitegang, bergelut dengan perasaan dan pikiran mereka sendiri-sendiri. Keheningan menyelimuti mereka. Keduanya masih enggan berbicara, tapi hal yang pasti, mereka membenci hal seperti ini terjadi.

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf,” mulut Sehun akhirnya mengalah untuk melontarkan kalimat awal pembicaraan.

“Berhenti mengatakan kata maaf padaku. Aku ingin kau menjelaskan apa yang terjadi padamu sebenarnya,” Sehun kembali terdiam. Ia bahkan menunduk dan tak berani menatap kekasihnya sendiri.

“Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Sepertinya rasa suka padamu sudah berubah menjadi rasa sayang dan takut kehilangan,” Eun Jung mengerutkan dahinya. “Aku menyukaimu saat pertama kali aku melihatmu. Namun, semua rasa suka ku pupus setelah mendengar kau murid baik-baik, kau bahkan seorang murid teladan. Aku yakin jika kau tahu sifat asliku kau akan menolakku mentah-mentah,” tatapan yang mulanya berapi-api kini mulai padam dan lebih seperti tatapan sendu.

“Tidak, tidak, kau tidak perlu menatapku seolah aku perlu dikasihani. Aku memang bajingan, bersembunyi di balik topeng seperti ini,” Eun Jung menggenggam tangan Sehun. Manik mereka saling bertemu dan berbicara.

“Bukan seperti ini caranya,” Eun Jung mengeratkan genggamannya.

“Kau pasti malu punya kekasih sepertiku. Aku sadar itu. Karena kau sudah tahu semuanya kuserahkan saja semuanya padamu. Bahkan jika kau mau mengakhirinya sekarang juga,” Sehun perlahan melepaskan genggaman tangan Eun Jung.

“Aku tidak malu mempunyai kekasih sepertimu. Biarkan orang berkata apa tentang kita, toh kita yang menjalani. Aku hanya kecewa, kenapa kau melakukan ini semua padaku? Dalam masalah ini, aku terlihat menjadi seorang yang bodoh karena tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Oh Sehun, mereka semua selalu melihatku dengan tatapan iba. Di sini kau terlihat menjadi pria yang jahat. Aku tak mau kekasihku terlihat jahat di mata orang lain” Sehun menatap sendu gadis di hadapannya.

“Ayo kita selesaikan, ceritakan apa alasanmu seperti ini. Jika aku bisa, aku akan membantumu,”

“Ayah dan ibuku sudah bercerai sejak lama. Akhirnya, hak asuh ada di tangan ayah. Tetapi, ayah menitipkanku pada nenek. Setelah itu ayah pergi entah kemana. Kabar yang aku dengar terakhir dia telah menikah dengan wanita lain. Saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah, nenek meninggal dunia. Aku harus tinggal bersama paman dan bibiku. Setiap hari aku harus menimba air dan mencuci baju keluarga paman. Aku lebih mirip seperti budak waktu itu. Puncaknya saat aku pulang malam karena mengerjakan tugas, paman memukulku dengan tongkat baseball. Ada beberapa luka waktu itu, luka yang sangat sulit untuk aku lupakkan. Aku pun kabur dan pergi ke panti. Aku mendapatkan sekolah gratis sampai lulus bangku menengah pertama. Namun, saat akan masuk ke sekolah menengah atas seorang yang lebih tua dariku mengajakku untuk merokok dan minum, awalnya aku menolak, tetapi aku menurut saja karena setelah mencoba aku merasa masalah yang aku alami ikut terbang bersama kepulan asap itu. Sampai aku bertemu denganmu, aku merasa harus kembali pada waktu dimana aku belum se-brandal dan seliar ini.”

Eun Jung menatap nanar kekasihnya. Ternyata di balik semua kebahagiaan dan kehangatan yang ia miliki terdapat rasa rapuh dan ingin dilindungi dari sosok Sehun. Sekarang Eun Jung merasa dia lah yang bersalah karena tak mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan kekasihnya.

“Aku beruntung kau tak terjerumus ke masalah yang lebih dalam,” Eun Jung kembali meraih tangan kekasihnya. Digenggamnya dengan erat, ia yakin ini akan sedikit membantu menguatkannya. “Kau harus banyak berdoa untuk, nenek, ibu, dan ayahmu. Kita ke gereja esok,”

*

Seperti janji mereka, keesokan harinya mereka pergi ke gereja tempat Eun Jung biasa berkunjung dengan nuansa khas eropa kuno. Di dalam, semua jamaat tengah mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh pendeta. Sehun dan Eun Jung pun masuk menyelinap ke dalam dan memilih bangku panjang yang masih kosong.

Acara peribadatan berakhir. Namun keduanya masih menetap di sana. Mereka masih mengagumi corak dekoratif gereja yang antik itu. Terutama Sehun, ia tak bisa melepaskan pandangannya dari salib besar yang terpampang di altar gereja.

Sehun menundukkan kepalanya dan menautkan kedua tangannya dan mulai memanjatkan doa. Eun Jung tersenyum melihat Sehun berdoa seperti sekarang. Sepertinya dia benar bersungguh-sungguh akan berubah. Eun Jung pun menautkan kedua tangannya dan masuk ke nuansa khidmat.

‘Tuhan, izinkan kekasihku, Oh Sehun berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan selalu di bawah perlindunganmu. Biarkan dia berada di sampingku seperti ini, dan biarkan aku membantu dan menemaninya dalam keaadaan senang maupun susah. Amin’

*

[ Flashback off ]

Sekelompok pria itu memang menyeramkan. Tetapi ternyata mereka tak memiliki maksud tertentu. Mereka hanya adik kelas yang mengikuti kelas taekwondo bersamanya. Eun Jung hanya menahan malu setelah mengetahui jika sekelompok pria tadi hanya akan meminta bimbingan Sehun. Ia sudah mengira jika Sehun belum menjadi sosok yang Sehun inginkan sendiri.

Sudah satu tahun semenjak kejadian itu, rokok dan dunia malam mulai menghilang dari kehidupan Sehun. Eun Jung lah yang membantunya untuk berada di jalan yang benar. Di jalan sebagaimana mestinya ia menjadi pelajar yang baik.

Hari ini, mereka merencanakan untuk berkencan. Sebelumnya, Sehun dan Eun Jung pergi ke gereja untuk beribadah seperti janji mereka. Setelah itu mereka pergi ke makam nenek Sehun yang sudah merawatnya semenjak ayahnya bercerai. Dan yang terakhir, Sehun mengajak Eun Jung untuk melihat film di bioskop.

“Film apa yang akan kita lihat, Sehun-ahh?” tanya Eun Jung sambil menyeruput colanya.

Transformer,”

“Haa? Kau bercanda? Kita ini sedang berkencan Oh Sehun, kau tidak salah melihat Transformer? Bukankah seharusnya kau pilih film bergenre romantis?” Eun Jung mengernyitkan dahinya.

“Tidak, aku tidak salah memilihnya.” Sehun menarik Eun Jung untuk segera masuk ke gedung. Mulai mulai padam, dan film pun dimulai. Eun Jung benar-benar merasa kecewa dengan Sehun, kenapa ia memilih genre yang salah. Ini benar-benar di luar ekspetasinya.

Sepanjang film diputar Sehun sangat fokus dengan alur cerita yang ditayangkan. Ia bahkan tak menyadari kekasihnya menggumam tidak jelas. Eun Jung pun memilih memainkan ponselnya daripada melihat film bergenre fantasi itu.

“Kau tidak menikmati filmnya?” Eun Jung bergeming. “Kau tahu? Sebenarnya Transformer itu film yang romantis,”

“Leluconmu tidak lucu,”

“Hahah, kau kesal?” Sehun menatap gadisnya dengan gemas. Ingin sekali dia mencubit pipinya karena kekasihnya ini sangat menggemaskann jika sedang merajuk.

“Wanita mana yang tak kesal kekasihnya tak romantis?” Eun Jung mengerucutkan bibirnya.

“Dengar, kau tahu? Aku ini seperti Optimus Prime yang tak berguna, liar, keras, dan berkuasa. Tetapi, Transformer mengubahku menjadi sesuatu yang berguna. Aku berubah karena kau, kaulah Transformerku. Kau memenangkan permainan ini, semuanya berakhir. Aku kalah pada permainan ini, aku yang keras seperti batu bisa terkikis karenamu yang seperti air,” Eun Jung menatap kekasihnya. Tak didengarnya nada-nada ketidakseriusan, tak ia dapatkan pula tatapan kebohongan dari Sehun. Kekasihnya benar-benar sangat tulus mengatakan apa yang baru saja ia katakan. Pertahanan yang dibangun Eun Jung sedari tadi pun runtuh kembali. Kenapa Sehun selalu berhasil membuatnya seperti ini? Selalu membuatnya terbang dan ringan seperti kapas.

“Aku membencimu, Oh Sehun,” Eun Jung pun langsung memeluk lengan Sehun. Layar lebar di depan mereka sudah menampilkan bagian credits, pertanda film sudah berakhir.

*

Udara malam yang dingin menusuk tulang Sehun dan Eun Jung. Eun Jung mengeratkan jaket milik Sehun yang disampirkan ke tubuhnya. Tangan mereka saling bertautan untuk saling menghangatkan.

Mereka kembali terdiam menikmati dinginnya angin malam yang menyapu permukaan kulit mereka. Tangan mereka masih bertautan, entah sejak kapan mereka seperti ini, tetapi ini merupakan simbol bahwa mereka takut kehilangan satu sama lain.

Eun Jung meletakkan kepalanya di bahu Sehun. Sehun pun membiarkannya, justru ia merasa sangat nyaman seperti ini. Mereka ingin sekali menghabiskan hari mereka seperti ini, tanpa beban, ringan, dan bebas.

Mata mereka memandang langit yang bertaburan bintang. Meski udara dingin, tetapi langit tetap cantik dengan bintang-bintang.

‘Tuhan, biarkan aku menjadi Transformer Sehun. Biarkan waktu dan kekuatan cintalah yang melakukannya,’

            ‘Tuhan, jadikan aku Optimus Prime yang menjadi impian Transformerku. Dan izinkan aku hidup bahagia dengan Transformerku,’

-FIN-

 

 

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Transformer”

  1. waaaah….so sweet bgt ceritanya.
    fell nya dpet banget di setiap monent yg mreka berdua ciptakan.
    dtunggu cerita menarik lainnya….
    ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s