[EXOFFI FACEBOOK] ADORABLE YOU (Chapter 3)

11

Title : ADORABLE YOU

Author : ayasabyla

Cast : Byun Baekhyun, Nathania Edelyn (OC), Park Chanyeol, Ooh Sehun, Park Aeri (OC), Kim Bo Ra (OC), other EXO member (just named).

Genre : Romance, Drama.

Rating : PG-15.

Length : Chaptered.

Link :

Prologue + chapter 1 : https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-adorable-you-prologue-chapter-1-ayasabyla/925066510944067

Chapter 2 : https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-adorable-you-chapter-2-ayasabyla/927868180663900

 

 

Ini hanya tentang terbiasa dan kriteria. Kau bisa jatuh cinta karena terbiasa dan kau juga bisa jatuh cinta karena kriteria. Kau bisa pilih mau melalui cinta di jalan mana? Tapi secara langka mungkin kau juga bisa jatuh cinta secara terbiasa dan kriteria. Mungkin ketika kau menemukan seseorang yang benar-benar kau sukai dan dia menjadi milikmu karena kalian selalu bersama. Manusia memang selalu mengincar sesuatu yang membahagiakan. Itu hal yang normal, bukan?

Sudah jalan 3 minggu, Baekhyun belum bertemu lagi dengan Nathania. Ia ingat kejadian terakhir sebelum meninggalkan apartmentnya dan berpikiran bahwa apa yang dilakukannya benar-benar gila. Ia kembali fokus pada lembar microscoft word berisi desain rancangan mesin listrik yang ia buka di meja professor Park,

“Kau ketua panitia Freshly Science Week Festival tahun ini, baekhyun?” Tanya Professor Park disela-sela kerjanya

“Ah, iya Profesor.”

“Anakku akan tampil disana, lho.”

“Eh? Anak Professor?”

“Iya, dia anak band. Kau kaget ya?”

“Tidak Professor, hanya kagum saja.”

“Kagum?”

“Professor nampaknya benar-benar bijaksana.”

“Aish, kau bisa saja. Ohiya…” Professor menyesap black coffe nya

“Minggu depan aku pergi ke Jepang. Kau gantikan kelasku dulu, ya? Beri saja evaluasi.”

“Siap, Prof. “

“Proyek kita, simpan dulu saja. Lanjutkan kalau Freshly Science Week Festival nya sudah selesai, mengerti?”

Baekhyun membungkuk, Professor Park memang benar-benar baik.

“Ahiya aku hampir lupa..” Profesor Park mengambil sesuatu dari dalam tasnya,

“Kemarin aku ke toko buku baru di dekat rumah, berikan pada Chayong. Ini buku bagus untuk anak seusianya.”

Ya, Professor Park memang tahu riwayat hidup Byun Baekhyun. Inilah yang menyebabkan Professor sangat mempercayainya, tak mungkin lelaki dengan latar belakang yang sedikit susah akan main-main. Ia merasa bersyukur menemukan Baekhyun, bisa menemukan seseorang yang kemungkinan akan menjadi penerusnya walaupun bukan anaknya. Seseorang yang cerdas baik intelejen maupun hatinya  seperti professor Park tak pernah mempermasalahkan hal-hal yang yang tak patut diperdebatkan, impian setiap orang akan selalu berbeda. Tak selamanya, menjadi seseorang yang hebat di ranah akademik adalah yang terbaik. Professor Park mengerti betul akan itu. Ia akan selalu menyayangi putra semata wayangnya, apapun yang ia pilih.

[LINE]

13.45

Nathania : Kak Baekhyun…

“Astaga, apa yang aku lakukan?” Ucap Nathania mengacak-acak rambutnya. Nathania tahu pasti Baekhyun sibuk dan untuk apa juga ia mengirimnya pesan kalau tak ada keperluan? Entah, Nathania hanya ingin menyapanya, untuk apa mereka bertukar kontak jika tak saling menghubungi. Nathania hanya ingin tahu kabar tempat pensilnya. Alah, tempat pensil? Klise.

Senyum merekah di wajah Byun Baekhyun, ketika lelaki itu mendengar notif line yang masuk ke ponselnya. Pukul 05.00 pagi ia sudah berangkat dari rumahnya, mengurusi acara yang ia tangani karena sudah hampir menginjak waktunya. Belum lagi, hari ini ada kuis dadakan dalam kelas Fisika Nuklir. Baekhyun tak terlalu mempermasalahkan kuis, ia hanya lelah dengan kepanitiannya. Sudah 2 minggu lagi acara akan digelar, tapi beberapa anggota malah mangkir dari rapat. Tanpa izin, tanpa persetujuan, dan tanpa tanggung jawab. Sebagai seorang Ketua Panitia, ia hanya bisa memberi arahan dan tambahan semangat mungkin. Baekhyun bukan tipikal orang yang mudah marah dan meledak-ledak pada masalah. Ia tak bisa berlaku begitu ke siapapun. Manusia kan memang ladangnya salah.

20.35

Baekhyun : Edelyn…

Nathania : Hehe. How was your day, kak? Persiapan acaranya lancar?

Baekhyun : Doakan saja yang terbaik, Nath. Aku bahkan benar-benar sedang ekstra kerja keras disana.

Nathania : Kau selalu kerja keras, kok.

Baekhyun : Hahaha. Bagaimana kuliahmu? Tugasmu? Handukmu yang tergantung di balkon?

Nathania : Handuknya masih kugantung, siapa tau peter parker mau ambil. Hm, kuliahku tak pernah baca jurnal electronica , dan tugasku selalu tentang karya sastra.

Baekhyun : Kau sepertinya sedang meledekku, ya?

Nathania : Meledek apanya?  Aku hanya jujur :p

Baekhyun : -_- Kau sedang apa?

Belum sempat membalas, seseorang melakukan panggilan ke ponsel miliknya. Terpampang nama ‘KAK YEOL’ disana. Ia menekan tombol hijau di layar ponselnya,

“Nathania!” Teriak seseorang disebrang

“Ada apa kak?”

“Aku didepan kamarmu, hehe.”

“HAH?!” Nathania berdiri dari tempat tidurnya, segera bergegas keluar dari kamarnya, membuka pintu ruangan apartmentnya. Laki-laki berjaket kulit hitam dengan kaos putih didalamnya, bertopi dan bermasker hitam muncul didepannya. Ia segera menurunkan ponsel yang menempel di kupingnya.

“I miss you.” Ucap Park Chanyeol dengan gamblang.

“…..” Nathania hanya memasang wajah datar.

“Selalu datang tanpa memberi tahu.”

“Memang tidak rindu padaku?”

“Apa? Kau sedang ingin ditemani makan? Atau apa?” Ucap Nathania

“Tidak sih, hanya butuh semangat.”

“Kata siapa aku akan kasih semangat untukmu, Kak?”

“Masih tidak paham juga? Sudah bertemu saja, urusanku kelar kok.”

“Aish. Mulai.”

“Hehe.”

Keduanya merasa dalam scene yang begitu canggung. Nathania nampaknya tak terlalu memikirkan. Ia merasa harus fokus lagi pada ponselnya. Satu deret kalimat yang ia baca, membuatnya tak bisa menahan senyum. Tanpa ada perintah, Chanyeol langsung masuk menuju ke ruang tamu apartment milik Nathania. Mereka duduk berdua sambil Chanyeol membuka snack yang ia bawa.

“Kak, kalau laki-laki sedang sibuk itu apa yang paling dibutuhkan?”

“Mungkin butuh semangat, butuh didengarkan ceritanya, butuh diberikan sesuatu yang menyegarkan.”

“Oh…”

Park Chanyeol tersenyum melihat gadis itu. Ia langsung mengusap puncak kepalanya lagi.

“Jangan modus, Kak.”

“Siapa suruh, untuk apa bertanya hal-hal begitu?Kau sedang dekat dengan siapa?”

“Belum bisa aku ceritakan.”

“Bukan Ooh Sehun, kan?”

“Ooh Sehun itu sejenis apa ya? Kingdom plantae?”

Kakak, aku benci Ooh Sehun. Dia selingkuh lagi, kak. (Menirukan gaya bicara Nathania). Perempuan Indonesia memang suka sok-sok pelupa begini, ya?”

Nathania memukul keras lengan Park Chanyeol, “Dasar menyebalkan.” Ia memajukan bibirnya.

“Sejak kapan kau mulai membuka hati lagi?”

“Kata siapa?”

“Senyum-senyum liat layar ponsel, gayamu seperti orang yang sedang punya kekasih saja.”

“KAK, HAH.” Nathania membalasnya dengan tatapan tajam.

“Jangan teriak, Nath. Tidak merdu.” Chanyeol terus menerus menggodanya.

“Kak Yeol, kalau kau masih menyebalkan begini ku geret paksa tubuhmu keluar dari kamarku, lho?”

“Hehehe, jangan. Aku masih ingin disini.”

Nathania kemudian membalas pesan Line dari Baekhyun. Park Chanyeol membuatnya terus-menerus gagal fokus, kali ini ia harus membalas pesan Baekhyun.

Nathania : Maaf kak, ada temanku datang ke apartment. Tetap semangat, Kak Baekhyun. Selamat malam ^^

Ia putuskan untuk tak mengajak Baekhyun berinteraksi lagi. Nathania rasa ini adalah jam Baekhyun sedang sibuk-sibuknya pada urusan kuliah. Bahkan ia sudah bisa menebak bahwa Baekhyun pasti sedang fokus pada jurnal atau materi kuliahnya.

“Minggu depan kau datang ke fakultas sains untuk nonton aku, kan?”

Nathania mengerjap ketika Chanyeol menanyakan sesuatu,

“Aku dan Park Aeri akan datang, kok. Kami sudah janjian.”

“Untuk lihat aku, kan?”

Nathania kemudian berpikir, lalu membatin dalam hati ‘Karena kak Yeol, ya? Sepertinya bukan?’

“Terserah kau saja.”

Chanyeol melipat bibirnya dan mendecakkan lidah,

“Aku tidak memaksa, Nath.” Ekspresi kecewa Park Chanyeol terpampang saat jawaban yang Nathania munculkan adalah demikian.

‘Astaga, Kak Yeol mulai memunculkan kegundahan lagi di depanku?’ Batin Nathania

“Kak, kau ini memang selalu mengekspresikan perasaanmu sedemikian jujur ya dihadapan orang lain?”

Chanyeol sempat terkaget, ia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan respon seperti ini.

“Tidak juga.” Chanyeol mendelik,

“Lalu di depanku kenapa begitu? Kalau galau sangat terlihat, sedih juga terpampang, senang apalagi.”

“Aku hanya begini di depan orang yang aku sayang.”

Park Chanyeol menatap lurus kedalam mata Nathania. Gaya tatapan itu..

“Hahahaha…..” Nathania tidak tahu harus membalas seperti apa.

Ditolak lagi? Ah ini bukan di tolak, ini rasanya seperti kau bertanya pada seseorang tapi kau tidak mendapatkan jawaban. Park Chanyeol terlalu bingung pada ‘adik’ didepannya, apa selama ini usaha untuk mendekatinya masih jauh dari kriteria untuk membuatnya jatuh cinta?

“Ini kesekian kalinya kau memberikan respon seperti ini, Nathania.”

“Lantas aku harus bagaimana, Kak? Aku benar-benar bingung harus menjawab apa?”

“Apa usahaku ini kurang?”

“Apa kau sama sekali tidak pernah memikirkan tentang aku?”

“Apa aku hanyalah seorang kakak bagimu? Tidak bisa lebih?”

Nathania menutup kedua muka dengan telapak tangannya yang dingin. Baru sekarang ia merasakan suasana secanggung ini bersama ‘Kak Yeol’ nya.

Keduanya masih terdiam…

Park Chanyeol rasa ia merasakan matanya perih, mungkin jika ia berkaca warnanya memerah dan terasa sedikit basah.

“Apa kau sedang banyak pikiran kak? Apa ayahmu tiba-tiba melarangmu untuk main band?”

Nathania hanya mencoba menetralkan suasana yang benar-benar ambigu, Nathania merasa sangat canggung dan Park Chanyeol merasa ini menyesakkan. Park Chanyeol hanya bisa menunduk, ia mengusap puncak kepala Nathania untuk kesekian kalinya, menepuk pelan pipinya, kemudian berdiri dari posisi duduknya. Ia berbalik seperti ingin pergi dan mengatakan,

“Jangan lupa kunci jendela, jangan lupa makan pagi, dan jangan lupa……… aku pergi, Nath.”

Park Chanyeol meninggalkan Nathania tanpa menoleh. Nathania hanya bisa menghela nafasnya yang tertahan beberapa menit lalu. Sebenarnya, bukan pertama kalinya Chanyeol berusaha mengungkapkan perasaan didepannya, tapi sepertinya baru kali ini Chanyeol terlihat sangat kecewa.

Nathania sebenarnya masih bingung dengan dirinya. Bagaimana bisa ia sama sekali tidak jatuh cinta pada seorang Park Chanyeol yang baik, perhatian, pintar menyanyi, dan tentulah tampan? Ia sesekali ingin merutuki dirinya sendiri, menghempaskan perasaan lelaki itu bukan kehendaknya. Ia mungkin bisa menggunakan pepatah ‘Karena cinta tak pernah salah’ atau ‘Cinta tak bisa dipaksakan’, tapi bagaimana dengan perasaan Park Chanyeol terhadapnya? Ia mungkin bisa menyalahkan dirinya yang tak bisa membalas perasaan Park Chanyeol, tapi ia sama sekali tak bisa menyalahkan Park Chanyeol yang se…sebegitu sayangnya pada Nathania.

Park Chanyeol pulang dengan sedikit muka yang masam tapi tetap tampan. Sesak rasanya, ia harus begitu jatuh cintanya pada perempuan yang hanya menganggapnya  sebagai ‘kakak’, bukan sebagai ‘lelaki 20 tahun, Park Chanyeol’. Persahabatannya selama 2 tahun ini, apa memang terlalu salah ia mengartikannya? Apa memang tidak seharusnya ia jatuh cinta pada Nathania? Ketika dahulu pertama bertemu, Chanyeol ingat betul bahwa Nathania adalah satu-satunya perempuan yang bisa tertawa dalam menangis dan menangis dalam tertawa, Nathania adalah satu-satunya perempuan yang berani mengatakan padanya bahwa menjadi seorang vokalis band bukanlah hal yang buruk ketika ayahnya adalah seorang professor, Nathania adalah satu-satunya gadis yang memiliki suara dan senyum yang sama persis dengan ibunya. Park Chanyeol jatuh cinta seumur hidupnya pada ibu, dan ia merasa beruntung ketika menemukan Nathania yang begitu mirip dengan perempuan yang paling ia sayang namun sudah pergi ke surga. Tapi, sekarang Park Chanyeol rasa ia tak bisa memilikinya. Ia bahkan masih bisa memberikan sedikit perhatian kecil saat sedang kesal-kesalnya dengan gadis itu. When you mad at someone that you love, it doesn’t mean you must stop to care her. Hanya itu yang terbesit dalam benak Park Chanyeol. Ia bahkan rela menerjang hujan salju malam ini di Seoul, dan ia baru sadar bahwa pakaian yang ia kenakan sama sekali tak bisa melindunginya dari rasa dingin. Ia peka betul pada rasanya, dan rasa dingin itu, sudah sampai ke hatinya.

Byun Baekhyun belum pernah mengendarai mobil sebelumnya, tapi baru saja ia berhasil membawa mobil professor Park yang tertinggal di basement kampus dan memang ternyata ia benar-benar jenius. Ia berada di depan rumah professor Park saat ini. Ia teringat ucapan professor lewat telepon tadi pagi, “kau masuk saja dulu, baekhyun. Berikan kunci itu pada anakku, kemungkinan ia ada di dalam.

Ia melangkahkan kakinya perlahan, mengetuk pintu rumahnya yang cukup besar, ia tunggu sampai 1 menit, tapi tak ada respon apapun. Baekhyun lalu mendorong pintu itu dengan sedikit tenaga, dan…. voila! itu tidak dikunci. Awalnya ia takut untuk masuk, ia putuskan untuk menelpon lagi professornya. Setelah professor memberikan izin, ia langsung masuk ke dalam.

Rumah ini terlihat besar, tapi begitu dingin. Ia baru ingat jika professor hanya tinggal dengan anaknya saja, tanpa wanita di rumah yang biasanya membuat sebuah konsepan ‘ramai’, ‘berwarna’, ataupun ‘hidup’. Baekhyun benar-benar bingung harus kemana? Apa ia harus membuka satu persatu kamarnya? Sampai menemukan anak professor Park?

“Permisi, halo.” Ia berbicara dengan nada yang sedikit tinggi, dan memang benar-benar belum ada jawaban. Ia merasa tidak enak jika harus meninggalkan kunci mobil itu di sembarang tempat terlebih barusan ia tahu bahwa pintunya tidak dikunci. Akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan diri mencari anak dari professor Park yang sekarang entah kemana dan entah kenapa tak menjawabnya.

Baekhyun menelusuri rumah yang dalam kategori tidak terlalu rapih, rumah ini besar tapi seperti kurang terawat, beda sekali dengan rumahnya yang kecil, sempit, tapi ada ibu yang selalu merapihkannya dengan sistematis dan terkesan nyaman. Ia memasuki area dapur yang sebenarnya memiliki perkakas yang lengkap, mungkin mendiang istri professor adalah seseorang yang suka masak.

Ia melihat satu pintu yang dipenuhi dengan stiker nama-nama band yang begitu banyak, sampai pintu yang berwarna putih itu tak memunculkan warnanya lagi, terlalu banyak ditutupi oleh stiker. Ia rasa ia harus masuk kesana. Ia ketuk dengan perlahan, dan masih tak ada jawaban. Ia rasa ia harus ‘menyerobot’ lagi.

Dan benar, pasti ini kamar anak professor Park. Dipenuhi dengan gitar, komputer, dan beberapa cd original dari band-band luar negeri yang berserakkan. Ia menuju ke tempat tidur yang diatasnya terdapat seseorang yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh selimut hitam. Seperti menyadari akan kedatangan orang lain, seseorang yang menutupi dirinya dengan selimut itu memperlihatkan mukanya kearah Baekhyun.

“Park Chanyeol-ssi?”

“Si…siapa?” Ucap Chanyeol yang terlihat masih memejamkan kedua matanya di waktu sesiang ini.

“Byun Baekhyun.” Kata Baekhyun to the point.

“Baekhyun-ssi? Kenapa kau bisa kesini?” Ingin rasanya Chanyeol berdiri, sedikit menyalami Baekhyun. Tapi, ia merasakan sakit di badannya, matanya perih, hidungnya penuh dengan air, dan rasa tubuhnya sedang panas. Ya, ia demam. Baekhyun melihat Chanyeol seperti dalam keadaan tidak biasa, ia terlihat sedang sakit.

“Aku..aku hanya dimintakan tolong oleh professor untuk menaruh mobil. Beliau lupa mengembalikannya kemarin. Chanyeol-ssi, kau baik-baik saja? Atau tidak?”

Chanyeol memberi respon senyuman, seperti ingin merahasiakan, tapi kenapa harus dirahasiakan?

“Hanya sedikit tidak enak badan. Berikan kuncinya padaku, terima kasih, baekhyun. Sungguh.” Chanyeol sekarang bisa menangkap bahwa Baekhyun pasti adalah asisten ayahnya. Ia sama sekali tidak berpikir, bahwa ketua panitia yang ia temui sebulan lebih lalu adalah asisten ayahnya.

Baekhyun merasa ia harus melakukan sesuatu. Anak professor Park yang berada di depannya memang sedang tak sehat, dan ia begitu tak tega jika harus meninggalkannya tanpa melakukan apapun. Ia dan Park Chanyeol adalah sebaya, dan ia tahu bahwa Chanyeol sudah tak punya ibu. Siapa coba yang akan mengurusnya jika dalam keadaan begini?

“Chanyeol-ssi, aku izin menggunakan dapurmu, ya?” Tanya baekhyun sembari menunjuk kearah sembarang.

“Eh? Apa ayahku menyuruhmu memakai dapur juga?”

“Ahaha.. tidak kok.”

“Pakai saja, dapur itu sudah lama tidak disentuh. Aku dan ayah kan selalu makan di luar.”

Baekhyun memberi respon sedikit tertawa, ia kemudian pergi ke dapur dan memulai kegiatannya.

Disinilah Baekhyun, mencari bahan-bahan yang ia gunakan untuk membuat bubur. Ia hanya menemukan beras dan bumbu dapur pelengkap rasa. Setidaknya, ia harus memastikan bahwa Park Chanyeol harus makan sesuatu yang cocok ketika ia sakit. Ia tidak pintar memasak, tapi ia bisa memasak. Ibunya hanya mengajarkan sedikit cara memasak hidangan urgent yang kemungkinan bisa dimakan. Bubur adalah salah satunya. Byun Baekhyun memang tumbuh menjadi lelaki yang serba bisa. Walaupun ia sama sekali tak menyadarinya.

Dengan tenang ia memasak, dan melihat kearah ponselnya, membuka icon LINE nya, dan melihat history chat nya. Teratas ada grup kepanitiaannya, kedua ada grup tentoringnya, ketiga ada grup kelasnya, dan keempat ada Nathania Edelyn. Ia tidak membalas chat terakhir yang dikirimkan gadis itu, Baekhyun memang sibuk. Entah kenapa tiba-tiba muncul niat itu lagi, ia ingin menemui gadis itu lagi. Sekedar berbincang dan pasti ia dibuat tertawa di depan Nathania. Tapi mana Baekhyun tahu dimana Nathania sekarang. Tapi, sesungguhnya ia benar-benar butuh pertemuan dengan gadis itu, mengingat acara yang sedang ia kerjakan tiba minggu depan. Ini sedang dalam suasana hectic, memang. Bahkan grup kepanitiaan saja benar-benar ramai, tapi setidaknya ia senang, staf-stafnya terlihat bekerja keras untuk acara ini di akhir-akhir. Ia tersenyum lagi, sembari mengaduk bubur yang sedang direbus. Apa iya dia harus bertanya dimana Nathania dan segera menemuinya. Apa iya. Tapi untuk apa, Baekhyun? Baekhyun segera menyadarkan ilusinya, tak seharusnya ia seperti itu. Baekhyun belum boleh seperti itu.

“Park Chanyeol-ssi.” Panggil Baekhyun dari luar kamar Chanyeol.

“Masuk saja, baek.” Baekhyun masuk kedalam kamar itu lagi

“Aku sudah memasak bubur di dapur. Segera di makan saja. Aku juga memberikan sedikit obat demam yang biasa ibuku berikan. Semoga cepat sembuh, Chanyeol-ssi.”

Chanyeol terkaget. Apa katanya? Bubur? Obat demam? Baekhyun meminjam dapur hanya untuk itu? Chanyeol merasa ia sudah bisa berdiri, kemudian ia menonjok bahu Baekhyun pelan,

“Wah kau repot-repot sekali, Baekhyun. Tapi, terima kasih ya. Hehe.”

Chanyeol mengacungkan jempol pada Baekhyun.

“Kapan-kapan main saja kesini, aku bosan di rumah sendiri. Aku punya PS4, kita bisa main PES, eh tapi itu kalau kau tidak sibuk, Kak Asisten.”

Baekhyun tersenyum lagi,

“Acara minggu depan selesai kemungkinan kesibukanku berkurang. Professor sampai masih minggu depan, kau harus bisa jaga diri Park Chanyeol. Cuaca malam akhir-akhir ini memang sedang tak baik. “

“Kau pasti asistennya ayah kan? Aku seperti sedang menghadapi ayah sekarang, kenapa caramu berbicara begitu mirip ayahku? Hahaha.”

Baekhyun menepuk jidatnya, mengingat entah berapa kali ia dibilang mirip professor Park ketika sedang berbicara.

“Acara minggu depan kemungkinan akan ramai, Park Chanyeol. Semoga diberi kelancaran latihan.”

“Baekhyun, sebenarnya aku lelah berbicara formal denganmu. Sungguh. Memang anak sains seperti ini semua, ya? Santun dan sistematis dalam berkata.”

“Hahaha tidak juga. Hey, kau kan anaknya professor Park. Mana mungkin aku bicara sembarangan?”

“Santai saja, baek. Panggil aku Chan atau Yeol atau Chanyeol saja, tidak perlu ‘Chanyeol-ssi’ atau apalah.”

Baekhyun lagi-lagi bisa memakluminya, seseorang yang dominan akan otak kanan, akan selalu pintar untuk berinteraksi dengan orang lain. Ia adalah seseorang dengan dominan otak kiri yang mungkin sangat berbeda dengan Chanyeol.

“Baiklah, yaya ngerti, kok. Besok main kesini lagi, deh.”

“Nah gitu, bro. Jangan canggung denganku, ya. Sukses untukmu, pak ketua panitia.”

“Amin, aku pulang chanyeol. Sampai jumpa.”

Kemudian mereka saling high five, dan Chanyeol menepuk keras bahunya.

Hari yang ditunggu tiba, Baekhyun begitu nervous hari ini. Menjadi seorang ketua panitia acara sebesar ini ditengah kesibukannya yang lumayan parah. Dan ia sangat bersyukur, bahwa hari ini tiba.

“Kapten Baeeeeek.” Ujar seorang junior perempuan yang bernama Lee Soojung, koordinator  divisi acara.

“Bagaimana semua sudah beres kan Soojung? Time keepernya kau? Atau Kyungsoo?”

“Aku, kak. Kyungsoo aku jadikan koor. lapangan bersamamu. Pyromaniacs sampai kesini jam berapa?”

“Tadi aku sudah menelepon vokalisnya, katanya 30 menit lagi kemungkinan sampai. Ia minta tambahan waktu sekitar 10 menit, bisa tidak soojung?”

“Aku rasa tidak masalah kak, pyromaniacs tampil terakhir dan yang paling ditunggu kok.”

“Baiklah, good job Nona Lee.” Baekhyun mengacungkan jempolnya.

Ramai sekali fakultas sains hari ini. Panggung megah sudah berdiri di area utama yang cukup besar depan gedung kuliah (re : tempat Nathania bertemu Baekhyun saat mencari tempat pensilnya).

Mahasiswa yang terlihat mayoritas adalah fans pyromaniacs, terlihat dari baju yang mereka kenakan. Pyromaniacs adalah sebuah band popular di kampus Nathania, Chanyeol, dan Baekhyun.  Genre musik yang mereka punya seperti menyegarkan suasana kampus yang begitu hectic dan memusingkan. Lagu andalannya adalah Don’t go dan Lightsaber. Fans pyromaniacs sudah pasti mayoritas perempuan. Suara berat, serak, dan seksi ala Park Chanyeol, petikkan cantik gitarnya Zhang Yixing, ujung tombak bass dipegang oleh Kim Minseok dan pemukul drum yang punya ciri khas senyum-miring-ganteng-kesukaan-park-aeri siapa lagi kalau bukan Kim Jongin. Mereka hari ini harus siap ketambahan kuota fans, nampaknya.

Hari ini Baekhyun tentu sibuk, lari-lari sana sini, mengecek segala kelengkapan, mengecek stand, mengecek ruang istirahat para guest star, dan sesekali membantu stafnya yang benar-benar kelimpungan membutuhkan sesuatu.

Nathania melihat Baekhyun sebegitu sibuknya. Ingin menyapa masih belum berani, tapi dengan lihat saja ia sudah senang. Keringat lelaki itu mengalir beberapa kali di pagi yang dingin ini. Ia dan Park Aeri sudah stay dari jam 8 pagi. Aeri ingin melihat ‘Kak Jongin’ nya tanpa boleh terlewatkan dan Nathania…..Nathania, Nathania kan penasaran dengan fakultas sains. Nathania baru ingat, ia akan bertemu Park Chanyeol. Ia masih merasa tidak enak mengingat kejadian terakhir yang ia lewati bersama tuan Park.

Acara musik sudah dimulai, pyromaniacs sudah sampai. Ia melihat Park Aeri yang mulai mengeluarkan lensa kamera untuk menangkap beberapa foto dan video kedatangan ‘Kak Jongin’ nya, dan beberapa kali ia teriak-teriak setelah melihat hasil jepretannya. Tapi Nathania hanya bisa menatap sendu kearah Park Chanyeol, pasti akan canggung sekali nanti jika sampai bertautan mata.

Baekhyun dimintai tolong sebentar oleh koordinator divisi pubdekdok untuk memegang handycam dan merekam beberapa kejadian yang pantas untuk diabadikan. Kedatangan pyromaniacs, ramainya stand milik jurusan fisika, kimia, dan biologi, adapula beberapa makanan dan minuman yang diberi wadah menyerupai perkakas laboratorium, kreatif sekali. Tiba-tiba ia menangkap sebuah objek yang menarik, wajah bulatnya, rambut panjangnya yang sedikit ikal, gaya berpakaiannya yang sederhana, tas nya yang ia kenakan di punggung kecilnya, dan baru saja tersenyum saat melihat apa yang temannya lakukan. Nathania Edelyn adalah objek itu.

“Edelyn…” Sapa seseorang dari balik handycamnya, Nathania terkesima melihat apa yang barusan ia dengar.

“Kak Baekhyun..” Ucapnya tersenyum riang kearah lensa handycam yang Baekhyun pegang

“Pipimu kenapa semakin mengembang?”

“Aish, kak.” Nathania terlihat tersipu. Baekhyun melihat dengan gamblang wajahnya berubah menjadi merah. Baekhyun tertawa kecil menyadarinya.

“Kak jangan terus direkam, lah.” Ucapnya sambil menutupi setengah wajahnya, tangan satunya ia gunakan untuk menutupi handycam yang Baekhyun arahkan.

“Terima kasih sudah datang ke acara ini, nona Edelyn.” Ucap Baekhyun lagi. Nathania sama sekali tak bisa berhenti senyum.

“Kau ketua panitia kak, sana kerja lagi.” Perintah Nathania, ia sungguh tak bisa terus menerus membiarkan Baekhyun begini.

“Katakan sesuatu untuk acara ini, Nath.” Ucap Baekhyun lagi

“Acaranya sungguh keren, aku sukaaaaaaa. Terima kasih fakultas sains, terima kasih panitia.”

“Wah kau melupakan seseorang.”

“Apa, kak? Haish.”

“Hahahah tidak jadi.”

Baekhyun hendak mengarahkan handycam berpaling dari perawakan Nathania yang sudah dibuat malu bukan main. Tapi kemudian,

“Kak Baekhyuuuuuuuuuun….semangaaaaaaaaaat.” Ucapnya sambil memipihkan kedua telapak tangannya di pipi kanan dan kirinya. Baekhyun sudah menunduk, kali ini ia yang dibuat grogi.

“Yakkkkk, ini sudah sampai di waktu puncak. Dan pasti kalian tau kan siapa yang akan tampil setelah ini?” Ujar MC dari atas panggung megah itu.

PYROMANIAAAAAAAACS.”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaak Park Chanyeol.”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak Zhang Yixing.”

Beberapa fans sudah mulai rusuh berteriak sana-sini.

“Yak, langsung saja kita panggilkan. PYROMANIAAAAAAAAAAAAAAACS.”

Baekhyun membisikkan sesuatu ke Nathania dan langsung mengarahkan handycamnya ke panggung. Nathania hanya mengangguk dan melihat Baekhyun dari belakang. Ia masih terhipnotis dengan kejadian barusan.

Merah sudah pipinya, berdetak sudah jantungnya, tak berhenti sudah senyumnya.

Kemudian ia sadar, bahwa Park Chanyeol sudah berada diatas panggung sekarang. Park Aeri sudah berisik bukan main, meneriakki nama Kim Jongin sampai ukuran suaranya tak bisa Nathania hindari meski sudah menutup telinga.

“Nath, kau tidak mau meneriakki nama Kak Yeol?” Park Aeri bertanya sesuatu

“Eung…” Nathania mendelik, dan menggigit kukunya.

Pyromaniacs menyanyikan lagu Lightsaber, semua penonton melonjakkan kaki. Park Chanyeol terlihat lincah dan ia sudah menyadari Nathania ada disana dan ia rasa ini akan menjadi momen yang pas. Nathania ikut sedikit menggoyangkan tubuhnya, seperti terlihat menikmati music dan suara dari band yang sedang tampil itu.

“Lagu mereka memang bagus ternyata.” Tiba-tiba Baekhyun membuka obrolan

“Kak Baekhyun belum pernah mendengar lagu pyromaniacs?” Baekhyun menggeleng mantap

“Terlalu banyak belajar, sih.” Ucap Nathania meledek

“Nath, aku lebih suka musik klasik.”

“Hm sudah aku duga, kak. Memang tidak membosankan?”

“Tidak, justru menenangkan.”

“Aku bahkan belum pernah mendengarkan musik klasik.”

“Besok akan aku perdengarkan.”

“Kapan?”

“Kau maunya kapan?”

Baekhyun tersenyum lagi. Nathania tidak suka tawaran yang seperti ini, masa harus ia yang mengajak?

“Kapan ya…”

“Bilang saja kau mau aku yang menentukan kan, Nath?”

“Sudah sepantasnya Kak Baekhyun begitu. Haha.”

“Dasar.”

Tiba-tiba music berhenti, mereka berdua terlalu banyak mengobrol sampai kelewatan aksi panggung enerjik pyromaniacs. Kini suasana hening, hanya ada suara seseorang yang Nathania kenal.

“Cek..cek. Hai..hai..hai.” Vokalis berbadan tinggi itu mengeluarkan suaranya

“HAAAAAAAAI PARK CHANYEOL.” Kemudian segepok gadis membalas dengan suara nakalnya.

“Hehehe. Terima kasih untuk semuanyaaaaa.” Teriak ala-ala anak band. Kan memang anak band.

“Boleh aku minta waktu kalian semua sebentar?”

“Aku Park Chanyeol. Ingin mengatakan sesuatu.”

Tatapan Chanyeol lurus kedalam mata Nathania. Gadis itu kini juga sudah menatap Chanyeol khawatir. ‘Apa yang akan dilakukan Kak Yeol lagi, hm.’ Batinnya sudah mulai tak tenang.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih pada ayahku yang telah mengizinkanku untuk pentas disini.”

“Aku juga ingin…”

.

.

.

.

-To Be Continued-

Hallo, chapter 3 nih. Semoga ini menghibur ya >.< jujur saja, aku kesulitan kalo mau buat plot yang spektakuler, aku lebih suka buat cerita yang detail pake gaya penulisan dramatis. Jadi, maafkeun nih kalo ceritanya kurang greget ato apaa. Heheu. Buat yang udah baca terima kasih ya J Buat yang udah like makasiiih sekali J apalagi yang komen, apapun komen kalian aku seneng hueeee ngaruh banget buat nulis kitulah makasih pokoknya ^^ J. Doain ya, bisa nyelesain cerita ini segera di suasana yang sedang banyak tugas kuliah hoho. Have a nice day readers ^^

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FACEBOOK] ADORABLE YOU (Chapter 3)”

  1. Oh apa yang akan dikatakan Chanyeol.. aduh Nathania ia memang tak bisa membalas perasaan Chanyeol karena sekarang ia menyukai Baekhyun. Next chapternya ya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s