[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 3)

draft

Tittle: DRAFT
Author: nakashinine
Length: Chapter
Genre: School life, Romance, Friendship,
Rating: Teenager
Main cast: Oh Sehun (EXO) // Kim Kai (EXO) // Bae Irene (RV) // Kang Seulgi (RV)
Additional Cast: SM Artists.
Disclaimer: Fanfic ini murni terlahir dari otak author. Tapi #Konsep prolog terinspirasi dari beberapa novel romance Indonesia. #Beberapa plot juga terinspirasi dari potongan-potongan drama school korea yang mengudara pada tahun 2015.
JADI MOHON MAKLUM bila menemukan ke-familiar-an alur atau karakter.
A/N: Salam kenal. I’m a new freelancer(gapenting). Enjoy^^

Other Chap: [Prolog] [Chapter 1] [Chapter 2]

-3-

Irene bangun dalam keadaan kepala yang cukup berat. Ia melirik jam di handphonenya dan terkejut mendapati dirinya yang tak pergi ke sekolah. Dia menyentuh dahinya. Demamnya sudah turun. Ia menghela nafas. Mungkin Sehun sengaja memberinya istirahat. Laki-laki itu benar-benar detail.

Irene berdiri dan pergi ke kamar mandi, saat melewati pintu kamar Sehun, dengan iseng dia membukanya, “Omo. Rapih sekali. Ckckck.” Irene menggelengkan kepala, takjub. Lalu ia masuk ke dalam dan menemukan beberapa bingkai foto di atas rak hitam dekat pintu. Dilihatnya satu-persatu, ada foto Sehun bersama Kai –saat lulus SMP. Irene tertawa kecil. “Dia pasti tidak berbakat dalam berfoto.”

Kemudian tangannya beralih ke foto Sehun saat masih kecil sekali, bersama kedua orang tuanya. Kali ini Irene tersenyum. “Ibunya cantik sekali. Apakah senyum Sehun mirip dengan Ibunya? Atau Ayahnya?” Ia menyimpannya kembali sambil mengedikkan bahu. Kemudian memutuskan keluar dan masuk ke pintu yang satunya.

Pagi –menjelang siang– itu Irene gagal mengobrak-abrik dapur Sehun ketika kelaparan, karna menemukan sticky notes yang menempel di kulkas, “Aku membuatkan sup kaldu ayam. Panaskan saja jika sudah dingin. Dan ingat, jangan membuat rumahku berantakan!”

Irene melirik panci kecil di atas meja dapur, “Heol. Entah berapa kali aku sudah mengatakan ini, tapi dia benar-benar detail.”

Tiba-tiba handphonenya bergetar. Matanya membulat saat menemukan nama Appa tertera di sana.

Ne, Appa.

“Kau tak pulang? Dimana kau sekarang?” Tanya Ayahnya tegas.

“Ah, iya. Aku lupa tak mengabari orang rumah. Aku menginap di rumah temanku.” Jawab Irene hati-hati.

“Wali kelasmu menelponku kenapa kau tak sekolah?”

“A-aku demam.”

“Demam? Yaampun kau pasti sangat merepotkan keluarga temanmu itu, Irene. Dimana rumahnya? Aku akan mengirim supir untuk menjemputmu.”

“Ah.. Tidak usah. Aku akan pulang malam ini.” Irene mengusap belakang lehernya. Ayahnya diam tak menyahut. Lalu terdengar helaan nafas setelahnya.

“Baiklah. Malam ini aku akan memastikan apakah kau pulang atau tidak.”

Telepon di tutup.

“Bodoh sekali. Harusnya aku tidak berjanji akan pulang malam ini.”

xxxx

 

“Sehun!” Kai menyusul Sehun yang sedang membawa setumpuk buku paket di tangannya.

“Kemana Irene? Tadi wali kelasku tak mendapat kabar apapun jadi dia absen tanpa keterangan.”

“Dia sakit.”

“Sakit? Bagaimana bisa? Apa yang sudah kau lakukan padanya?” Mata Kai membulat menyelidiki.

“Apaan, sih, kau ini? Kau pikir aku sudah melakukan apa. Dia hanya demam dan lengannya memar entah karna apa. Tapi aku sudah merawatnya.”

“Oh. Pasti gara-gara ahjussi gila kemarin.”

Sehun diam tak memberi respon. Ingatannya melayang ke pagi tadi saat ia memeriksa keadaan Irene. Karna wajahnya yang masih pucat, Sehun memutuskan untuk membiarkannya dan membuat sup kaldu ayam untuk sarapan Irene –itupun kalau dia bangun pagi.

Jika orang lain mengetahui hal semacam ini, pasti tidak akan ada yang menyangka Sehun ternyata bisa sangat baik sampai-sampai merawat orang lain seperti ini. Tapi jika ada orang lain yang benar-benar mengetahuinya, tamatlah riwayat Sehun dan Irene karna sudah menginap bersama.

Tepat saat Sehun berbelok ke kantor guru, Kai melihat seseorang lalu mengikutinya, “Ssstt! Hoobae!” Panggil Kai sedikit berbisik. Seulgi memutar bola matanya ketika mendengar suara sunbae itu, ia terus berjalan dan pura-pura tak mendengar.

Kai berhenti mengikuti. Lalu terkekeh. “Aaah.. Aku selalu saja sulit mengontrol diri. Itu sungguh kebiasaan buruk.” Kai mengeluh pada dirinya sendiri yang selalu lupa untuk tidak menyapa Seulgi di tempat umum.

Tiba-tiba dari belakang, Sehun datang sambil menepuk belakang kepala Kai tanpa menghentikan langkahnya.

“Sehun kau mau kemana?” Tanya Kai sambil mengusap-usap kepalanya.

“Perpus.” Sahut Sehun tanpa menoleh sedikitpun.

Sehun duduk di meja persegi panjang yang cukup luas tepat di samping jendela. Selang beberapa menit Seulgi datang dan duduk di ujung lain meja itu. Mata sayunya sempat melirik sedikit dan langsung teringat Kai hanya dengan sekali pandang.

Seulgi sedang sibuk menyalin sesuatu dari sebuah buku ketika tiba-tiba seseorang meletakkan selembar kertas terlipat tepat di atas bukunya. Sehun melihat kejadian itu dengan jelas, dan melihat siapa yang baru saja memberi surat itu. Perempuan tadi adalah teman sekelasnya. Sehun memandangi Seulgi yang sedang membaca isi kertas itu dengan ekspresinya yang tiba-tiba berubah menjadi risih. Gadis itu segera menutup bukunya dan pergi dari sana.

xxxx

 

“Menyebalkan.” Gumam Seulgi. Kenapa semua orang ingin sekali dirinya keluar dari club dance hanya karna ada Kai sunbae di sana. Seulgi membuka lokernya lagi untuk memastikan –err, benar saja. Sekarang tempat itu lagi-lagi sudah menjadi tempat sampah. Ia kembali menutup lokernya dengan keras dan kesal, membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh heran kearahnya.

“Seulgi, we?” Seseorang datang menghampirinya sambil meletakkan beberapa buku di sebelah loker Seulgi. Setelah menutupnya kembali, gadis itu bersender ke loker dan melihat beberapa sampah yang berserakan di sekeliling tempat Seulgi berdiri. Ia pun mengerti. Teman baik club dance Seulgi yang bernama Wendy itu kemudian tersenyum padanya selebar mungkin sambil merangkulnya dan menghiburnya sedikit.

Wendy mengajak Seulgi ke ruang latihan club dance untuk menemaninya menjalankan piket karna sore ini ada jadwal latihan. Seulgi sedikit membantu membereskan beberapa perabot yang berantakan.

“Tidakkah kau pikir ini sudah keterlaluan, Seulgi? Tak mungkin kau bisa menghadapinya setiap hari. Kau bisa gila.” Seru Wendy gemas tanpa menghentikan aktivitasnya. Seulgi kemudian memandangnya dengan tatapan lesu.

“Sepertinya kau harus berbicara dengan Kai sunbaenim. Mungkin dia mau mengerti dan berhenti.”

“Sepertinya yang harus kulakukan adalah pindah dari sekolah ini.” Bibirnya terangkat sedikit, terkekeh.

Aigo jangan –“

Tiba-tiba 4 orang senior membuka pintu ruangan yang berbahan dasar kaca itu. 1 orang diantara mereka tanpa peduli berjalan kedalam untuk mencari sesuatu entah apa. Tiga yang lainnya kini sudah berdiri di tengah ruangan dan membuang bungkus makanan mereka dengan sembarangan ke atas lantai sambil tersenyum sinis.

Aigo.. Jangan pindah sendirian, Seulgi. Sepertinya akan lebih bagus jika kau mengajak temanmu itu juga pinadah.” Sahut salah satu di antara mereka.

Wendy mendengus kesal sambil menatap sunbaenya tajam. Sedangkan Seulgi sudah memalingkan pandangannya. Dia berpikir jika hanya Kim Yeri yang melabraknya sama sekali bukanlah masalah besar baginya. Tapi kali ini dirinya malah harus berhadapan dengan seniornya sendiri –Krystal Jung. Teman sekelas Sehun, dan yang terpenting adalah; mantan kekasih Kai, dialah pacar pertama Kai saat masuk SMA yang sampai saat ini masih menyimpan sisa-sisa perasaannya.

Seulgi menggigit bibir bawahnya resah, ia lantas mencoba membalas tatapan Krystal. “Krystal sunbae-nim…” Gumamnya pelan.

Yang disebut namanya hanya memandang Seulgi ketus. Dialah orang yang tadi memberi surat padanya dan memintanya untuk tidak datang latihan mulai hari ini.

“Jika kau sangat menginginkan Kai-sunbae. Ambil saja. Aku tidak peduli meski kau menikahinya sore ini juga. Tapi jika kau memintaku keluar dari Club Dance ini. Jangan harap kau bisa. Aku tidak akan keluar dari manapun.” Kata Seulgi, ia berusaha menggunakan nada yang ringan meski dengan ekspresi menahan kesal.

Krystal tidak suka pada tatapan dingin Seulgi. Gadis itu diam. Menurutnya, apa sulitnya keluar dari club dance sekolah? Semua orang bisa menari dimana saja, bukan hanya di club sekolah.

“Tapi pandanganku sangat terganggu dengan keberadaanmu di club ini, Seulgi.” Balas Krystal.

Pintu kaca itu kembali terbuka, seseorang masuk membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut. Kai menutup pintu kembali. Kini eskpresi Kai berbeda sekali dari biasanya.

“Kenapa bukan kau saja yang keluar?” Sahut Kai ketus sambil tersenyum sinis.

“K-Kai –“

“Kau juga membuat pandanganku sangat terganggu karna sudah mengganggunya. Jadi kenapa bukan kau saja yang keluar? Krys-tal-Jung.” Nada bicara Kai semakin menyebalkan. Krystal hanya bisa menahan amarahnya saat ini. Dia tak menyangka Kai baru saja mengatakan itu padanya. Padahal selama ini mereka masih bisa berteman meski sudah tidak berpacaran. Dan itu hancur begitu saja hanya karna demi membela seorang adik kelas bernama Seulgi ini. Sungguh menyakitkan.

“Hentikan, sunbae. Kau memperkeruh suasana.” Seulgi menyahut, menolak pembelaan dari Kai. Namun laki-laki itu tak menghiraukannya.

“Jauhi dia, Krystal. Aku minta kau jangan mengganggunya lagi atau kau yang akan keluar dari club.” Ancam Kai. Krystal mengerutkan keningnya, kenapa Kai berani mengatakan hal semacam itu.

Ya.. Apa kau sadar siapa yang sedang kau bela ini? Dia hanya hoobae yang baru berapa bulan menjadi anggota club. Aku hanya ingin dia sedikit lebih tau diri.”

“Bukankah kau yang terlihat tidak tau diri?”

Sunbae!!” Sebelum Krystal menerjunkan kekesalannya, Seulgi sudah berseru lebih dulu. Dia menatap Kai dengan sebal. Dia ingin Kai berhenti, dia tak ingin Kai menyakiti siapapun untuk dirinya. Seulgi menghembuskan nafasnya kesal. Tak ada yang pernah tau bahwa seorang Kim Kai bisa setajam itu jika sedang serius. Dan Seulgi benci harus ada di situasi seperti ini. Ia lantas berjalan kearah pintu dan cepat-cepat pergi dari sana, yang segera disusul oleh Wendy.

“Kau..” Krystal tak kalah emosi. Hatinya hancur mendengar Kai mengatakan hal seperti itu padanya. Apa ia salah berusaha mempertahankan posisinya yang hampir direnggut Seulgi? Dia sungguh tak mengerti.

“Ingat, Krystal. Aku sudah tak menyukaimu lagi.” Tanpa menunggu reaksi Krystal, Kai pergi meninggalkannya dan mengejar Seulgi. Kalimat itu berhasil menghancurkan seluruh apa yang ada pada Krystal.

xxxx

 

“Seulgi,” Wendy meraih pundak Seulgi, temannya itu berbalik dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tatapannya pada Wendy seolah berkata bahwa ia ingin sendiri. Wendy pun menyerah dan membiarkan gadis itu pergi.

“Seulgi! Seulgi-aah!” Tak berapa lama kemudian Kai berlari menyusul langkah cepat Seulgi. Semua orang di sekitar koridor memandangi mereka heran.

Ya! Tunggu.” Pekik Kai sambil menarik tangan Seulgi. Gadis itu berbalik dan dengan cepat menepis genggaman Kai.

Sekali lagi, Kai berhasil menangkap tangan Seulgi dan menariknya untuk mengikutinya ke sesuatu tempat. Kai tak peduli lagi meski kini semua mata mengarah pada mereka berdua, ia tak peduli lagi jika semua ini akan membuat Seulgi semakin terganggu.

Saat sampai di atap sekolah, ia segera menarik tangannya dari genggaman Kai dengan kasar.

“Maafkan aku.” Kai sadar betul ini semua adalah kesalahannya. Tak ada sedikitpun kesalahan yang datang dari Seulgi, pikirnya

Seulgi menghela nafas berat, berusaha mengatur nafasnya karna sudah menahan amarah. Ia ingat kata-kata Wendy tadi, sebaiknya kau harus berbicara pada Kai Sunbaenim, siapa tau dia mau mengerti dan berhenti.

Sunbae..” Panggil Seulgi pelan, matanya menatap Kai lekat. “Aku mohon, berhentilah mengejarku. Kau benar-benar… sudah merusak kehidupan sekolahku.” Lanjutnya tajam. Itu lebih dari cukup untuk berhasil menusuk hati Kai.

Hening beberapa saat.

Kali ini Kai yang menghembuskan nafas dengan berat. “Benarkah?” Dia benar-benar merasa bersalah. “Sepertinya aku benar-benar harus berhenti menyukaimu, ya?” Kai tersenyum kecut.

Seharusnya Seulgi bisa bertahan lebih lama lagi. Seharusnya ia bisa menghadapinya lebih baik lagi. Tapi semua kekesalannya yang selama ini ia tahan seakan-akan membeludak dalam dadanya. Sesuatu entah apa telah mendesak dan memaksanya untuk mengakhiri semua ini dengan cara lain selain melawan semua gangguan. Seulgi harus mengambil kembali kesenangannya yang telah orang-orang renggut dari kehidupan sekolahnya. Meski hanya sedikit saja.

“Apakah kau ingin aku keluar dari sekolah ini? Apa kau tau sesulit apa orang tuaku memasukkanku ke sekolah ini? Aku sama sekali tak pernah menganggu siapapun, sunbae. Berusaha masuk ke kehidupanmu pun tidak. Tapi kenapa selalu aku yang di ganggu seperti ini?”

“Aku benar-benar minta maaf. Aku sadar ini semua salahku. Tapi, Seulgi –“

“Aku hanya ingin sekolah dengan tenang, sunbae. Tak lebih.”

Ini pertama kalinya Kai merasakan hal yang seperti ini. Entah dari mana asal kemampuannya, tapi dia mampu membaca mata Seulgi yang penuh letih. Ia tak pernah menyangka orang-orang di sekolah itu akan berbuat banyak hal bodoh yang membuat Seulgi begitu merasa terganggu. Dia pikir Seulgi benar-benar perempuan tangguh yang bisa mengatasi semuanya dengan baik. Tapi ternyata ia salah, selama ini gadis yang disukainya itu hanya berusaha bertahan. Padahal sebenarnya ia sangat membenci posisinya.

Geurae..” Gumam Kai. Ia menghembuskan nafasnya pelan. “Seulgi. Aku minta maaf sudah membuat kehidupan sekolahmu menjadi begitu buruk. Membuat semua orang menganggumu. Aku menyesal sudah membuatmu jadi begitu terganggu dengan keberadaanku,” Ia menarik nafas lagi untuk yang kesekian kalinya, “Aku… Akan berusaha membuat semuanya jadi normal kembali.” Tanpa menunggu respon Seulgi, Kai berbalik dan berjalan meninggalkannya.

Seulgi merasakan kakinya tiba-tiba lemas mendengar permintaan maaf Kai. Ternyata percakapan sederhana itu mampu membuat Kai mengakui semuanya. Semenyesal itukah sunbaenya? “Apa perasaannya memang seserius itu?” Gumamnya tanpa sadar.

xxxx

 

Kai rasa inilah akhirnya. Seulgi adalah perempuan pertama yang membuatnya seperti ini. Mengingat bahwa Seulgi bukanlah perempuan biasa seperti yang lainnya, membuat Kai sadar penuh bahwa perasaannya tak bisa semudah itu di musnahkan.

“Huun!” Setelah seluruh isi kelas Sehun bubar, Kai menyerobot masuk kedalam kelas dan duduk di kursi depan bangku Sehun. Kai memasang wajah memelas di depan sahabatnya lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja Sehun.

We?” Tanyanya. Tak biasanya melihat Kai selemas ini.

“Aku kira tak akan jadi seperti ini, Sehun-aah.” Rengek Kai. Sehun menghela nafas. Ia menebak pasti ini ada hubungannya dengan Seulgi.

“Sudah kukatakan cinta itu merepotkan. Kau tidak pernah mau dengar, sih.”

“Ah kau tidak tau rasanya, sih. Aku benar-benar menyukai Seulgi.”

“Sudahlah. Aku yakin Seulgi tak akan ada di kelas dance hari ini, ayo cepat kita latihan saja. Itu pasti akan membuatmu lebih baik.” Jawab Sehun sambil menarik tubuh Kai.

Benar apa kata Sehun. Selama latihan di ruang club dance, Seulgi tak disana. Namun kehadiran Krystal saja sudah cukup membuat Kai merasa canggung. Wajah gadis itu murung dan terus menghindar dari Kai.

Diam-diam Kai sempat bertanya pada Wendy apakah Seulgi baik-baik saja. Wendy hanya menjawab Seulgi akan baik-baik saja. Suasana ruang latihan siang itu tak seperti biasanya. Kai dan Krystal lebih banyak diam bahkan tak berbicara sama sekali. Apalagi Irene yang selalu cerewet juga sedang tak di sana. Sehun sendiri tak peduli apa yang sedang terjadi pada mereka.

xxxx

 

Ketika Sehun dan Kai masuk ke apartemen, mereka menemukan Irene sedang asik menonton TV sambil memakan cemilan Sehun yang di ambil dari kulkas.

“Dia memakan cemilan kita.” Sahut Kai.

“Cemilanku.” Sehun mengkoreksi.

“Oh kalian sudah pulang.” Sambut Irene cuek, matanya masih fokus kedepan TV dan mengunyah cemilan.

Sehun mencoba tak peduli dengan terus berjalan masuk ke kamarnya. Ia mengganti baju dan bergabung dengan Kai dan Irene yang mulai mengobrol. Tapi setelah melihat Kai yang malah curhat pada Irene, ia memilih mengambil buku dan mulai membacanya. Telinganya samar-samar mendengar beberapa isi percakapan.

“Aku pikir Seulgi tidak salah. Kalau aku jadi dia, aku juga tak mungkin tertarik pada playboy sepertimu. Itu pasti sangat mengganggu.” Ejek Irene gemas lalu tertawa singkat.

“Sejak kapan aku jadi playboy? Ya, Sehun! Aku bukan playboy, iya kan?!” Seru Kai membela diri.

“Kau tanya saja Seulgi.” Jawab Sehun datar tanpa menoleh sedikitpun.

“Ah yang benar saja.” Keluh Kai sembari menelentangkan tubuhnya ke punggung sofa dan menatap langit-langit apartemen Sehun. Irene pun melakukan hal yang sama.

“Ckck kenapa dia senang sekali dengan orang-orang serius seperti Sehun dan Seulgi. Hmm.” Gumam Irene meledek.

“Diam kau.”

xxxx

 

[PREVIEW: CHAPTER 4]

“Beraninya kau mengancamku dengan cara seperti ini dasar gila!”

>>

“Pasti Kai. Akan aku bunuh kalian berdua besok.”

>>

“Ha. Ha. Ha. Itu lucu sekali, Irene.”

>>

“Selamat pagi Kang Seulgi, semoga hari ini kau beruntung. Kau pasti bisa menghadapinya lagi.”

>>

“Kai tadi yang mengatakanya sendiri ketika ada yang bertanya!”

“Astaga ini berita hebat.”

>>

“Dia benar-benar tau bagaimana cara membunuhmu.”

>>

Omo-omo-omo. Sombong sekali kau! Memangnya seberapa berani, sih, mereka menggangguku?”

>>

“Mata Irene… Bagus.”

>>

“Silahkan, Sajang-nim. Seperti yang sudah kukatakan barusan, Irene harus mengetahuinya langsung darimu.”

>>

“Bukankah aneh melihatnya bisa bertahan di sekolah ini bahkan tetap naik kelas meski peringkatnya ada di bawah?”

>>

“Kau terlalu banyak membuat masalah untuk melakukan pembelaan, Bae-I-rene.”

>>

“ –Bisakah kalian fokus latihan saja dan mengoceh di luar jam latihan?”

>>

“Memangnya kita berteman?”

>>

To be continue…

 

Chapter ini agak nyantai kriuk gimana gitu ya. Hahaha silahkan tinggalkan jejak nya n don’t be siders muah!

23 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 3)”

  1. Oh, gue gak suka sikap kai disini entah kenapa… dan soal irene,,, kayaknya udah deket nih sama kai, pakek curcol segala hihi ;D

  2. Kai seulgi couple hehe. Mingkn seulgi bakalaan rindu kali ya di ganggu kai hehe.. Bagus bngt suka suka , semangat ya menulis cerita kreative lainnya, thank you!!

  3. Caaaaaaaa! Bae Irene jjang! Aku pengen tau dirimu siapa Irene-ssi. Fanfiction ini membuatku tergugah dengan Kai-Seulgi couple wkwk. Aku menunggu kedatangan next chapternya authornim. Hwaitingg!

  4. Kasihan seulgi ditindas tapi bukan dia penyebabnya.. ciee sehun mah namanya peka bukan detail irene.. kekeke ceritanya makin seruu lucu juga.. kekeke ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s