[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Chapter 7)

cover

The One Person Is You

 

Tittle                           : The One Person Is You (Chapter 7)

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)
  • Kang Rae Mi (OC)

 

Other Cast                :

  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yura (Chanyeol sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

Chapter 1     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2015/12/11/exoffi-freelance-chanyeol-the-person-is-you-chapter-1/

Chapter 2     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2015/12/16/exoffi-freelance-chanyeol-sehun-kai-the-one-person-is-you-chapter-2/

Chapter 3     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2015/12/29/exoffi-freelance-chanyeol-the-one-person-is-you-chapter-3/

Chapter 4     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2016/01/07/exoffi-freelance-sehun-kai-the-one-person-is-you-chapter-4/

Chapter 5     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2016/01/26/exoffi-freelance-chanyeol-the-one-person-is-you-chapter-5/

Chapter 6     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2016/02/09/exoffi-freelance-chanyeol-the-one-person-is-you-chapter-6/

 

~Happy Reading~

 

 

*Author POV*

 

“Bagaimana kalau kita bekerja sama?”

 

Hyojin menatap penuh tanya pada Yongguk, mencoba mencerna apa maksud perkataan pria itu. Tapi entah karena sedang ada banyak masalah atau apa Hyojin tak bisa berfikir jernih seperti biasa.

 

“Apa maksudmu?”

 

Senyuman terulas di wajah Yongguk, dia berjalan lebih dekat. “Kau bilang, kau adalah pewaris grup Jaeguk kan?”

 

Hyojin mengangguk pelan sebagai jawaban. Matanya sedikit membulat saat dengan tiba-tiba Yongguk menepuk pundaknya.

 

“Apa kau sudah membaca berita minggu ini?”

 

Kali ini Hyojin menggeleng, dia tidak tahu berita apa yang Yongguk maksud. Apa sebegitu pentingnya sampai dia hendak membahas berita itu dengan mendatanginya?. Hyojin mulai bisa berspekulasi, dia pikir berita yang Yongguk maksud pasti bersangkutan dengan dirinya.

 

Yongguk memberi sebuah kode untuk Himchan, setelah pria itu menggerakan sedikit kepalanya, Himchan langsung maju sambil membawa selembar kertas kemudian diserahkan pada Hyojin. Yongguk mundur beberapa langkah dan melepas tautan tangannya dari pundak Hyojin ketika gadis itu mulai membaca. Pria itu dapat menyeringai puas begitu mendapati reaksi Hyojin yang nampak terkejut. Rupanya kertas tersebut merupakan salinan dari artikel bisnis yang membahas mengenai perjodohan grup Jaeguk dan perusahaan ayahnya Chanyeol.

 

“Baiklah, cucu presdir Jaeguk adalah aku. Lantas, apa mau kalian?” Hyojin kembali bicara dengan tenang dan dingin.

 

“Seperti yang aku bilang tadi, bagaimana kalau kita bekerja sama?”

 

“Kerja sama apa maksudmu?”

 

Yongguk memasukan kedua tangan kedalam saku jas-nya kemudian berjalan mengitari Hyojin, “Aku tahu kalau kau merahasiakan jati dirimu dari orang-orang kampus. Termasuk perjodohanmu dengan Chanyeol.”

 

“Lantas?, kau hendak menggunakannya sebagai senjata ancaman begitu?”

 

Pertanyaan Hyojin membuat Yongguk menghentikan langkahnya. Ia kembali menyeringai kemudian menghadap lawan bicaranya.

 

“Jangan memotong dulu, nona. Aku bukan orang yang suka mengancam, kita hanya akan membuat kesepakatan untuk kelancaran usaha masing-masing.”

 

Hyojin agaknya geram dengan cara bicara Yongguk yang bertele-tele, dia tidak mau kalau harus lebih lama lagi mengobrol dengan pria pembuat masalah itu. Apalagi tatapan tajam dari Himchan dan Jun Hong membuatnya sesak, ia benci ditatap seperti itu.

 

“Langsung saja Bang Yongguk!, jangan membuang waktu dengan kalimat tak berguna!”

 

“Wooo, rupanya nona Lee sedang sibuk ya?. Baik, akan aku persingkat saja. Kita buat kesepakatan, kau bisa tetap melaksanakan perjodohanmu dengan Chanyeol sampai ke jenjang pernikahan, dan aku… bisa mendapatkan Rae Mi sekaligus persetujuan dari grup Jaeguk untuk berbisnis dengan perusahaan kakekku.”

 

Kini giliran Hyojin yang menyeringai, “Kenapa aku harus mau melakukannya?”

 

“Yah, kurasa kau membutuhkanku. Karena jika kau tidak mau, aku bisa menggunakan ancaman. Seperti, membuat Kim Jong In menghilang misalnya.”

 

Ancaman yang tepat untuk Hyojin. Karena dia mulai terpancing dengan kalimat terakhir Yongguk. Selain orang tuanya yang hilang, teman-temannya juga penting, dan Hyojin tak ingin kehilangan lagi.

 

“Pria brengsek!” umpat Hyojin sambil tersenyum miring, “Baik. Akan kuturuti kemauanmu. Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

 

Yongguk kembali berjalan mendekati Hyojin, sambil tersenyum puas dia bicara, “Apapun perintahmu, putri. Termasuk menghancurkan hubungan Chanyeol dengan Rae Mi, juga… menjadi mata-mata untukmu.”

 

***

 

“Kira-kira, apa yang Hyojin bicarakan dengan tiga pria tadi?. Kudengar mereka adalah pembuat onar di kampus?”

 

Saat berjalan menuju kelas masing-masing, Yong Hwa bertanya pada Sehun dan Rae Mi tentang apa yang mengganjal di pikirannya sejak kepergian Hyojin tadi. Sehun tidak menjawab dan memilih diam, jadi Yong Hwa menunggu jawaban dari Rae Mi.

 

“A-aku juga tidak tahu.” Kata Rae Mi gelagapan, dia tidak ingin menceritakan kejadian buruk yang Hyojin alami pada Yong Hwa. Karena sebagian besar sebab Hyojin selalu berurusan dengan Yongguk adalah karena dia. Begitulah menurut Rae Mi.

 

“Jadi, apa urusan Hyojin dengan mereka?. Sepertinya ada masalah penting?” lagi-lagi pria itu bertanya, membuat Rae Mi bingung harus bagaimana menjawabnya. Dia bukan tipe gadis yang mudah berbohong, karena jika sudah memulai kebohongan, dia akan teringat ibunya sehingga sulit baginya untuk bicara yang tidak sesuai dengan fakta.

 

“E-entahlah, me-mereka sudah begitu sudah cukup lama.”

 

“Apa?!, jadi Hyojin punya kesalahan besar sampai pembuat onar itu kesal padanya?”

 

Langkah Sehun yang terhenti membuat Rae Mi dan Yong Hwa ikut berhenti dan memandangnya bingung. Pria itu menoleh dan menatap Yong Hwa intens.

 

“Apa kau begitu penasaran, sunbae?. Kenapa?, kau tertarik pada Hyojin?”

 

Yong Hwa agak terkejut dengan pertanyaan Sehun, “Ma-mana mungkin aku tertarik padanya!. Kami hanya sebatas senior-junior, lagipula… siapa yang suka pada gadis tomboy seperti dia?!. Tidak mungkin.”

 

Sehun bersedekap dan menatap Yong Hwa lebih tajam dari yang sebelumnya.

 

“Aku tahu, Hyojin tidak seperti gadis kebanyakan yang akan memakai make up setiap berpergian, atau gadis yang bersikap manis. Tapi kau tidak perlu memperjelas, apalagi kata-katamu tadi terdengar menyakitkan.”

 

Mata Yong Hwa bergerak kesana kemari, seperti sedang gugup dan takut. Bahkan Rae Mi saja gemetar melihat tatapan tajam Sehun, karena biasanya pria itu terlihat ramah bahkan kekanakan. Sekarang dia lebih terlihat seperti iblis bagi Rae Mi.

 

“Ka-kalau begitu… aku minta maaf.”

 

Sehun menegakkan tubuhnya dan berbalik, “Minta maaf sendiri pada orangnya.”

 

“Yak!, ada apa ini?”

 

Ketiga orang itu menoleh dengan terkejut saat mendengar suara Hyojin. Gadis itu datang sambil berlari kecil, “Sepertinya serius sekali?, kalian sedang membicarakanku ya?”

 

Yong Hwa menatap cemas pada Sehun, apakah pria itu akan memberitahukan pada Hyojin tentang ucapannya barusan. Begitu Sehun memegang bahu Hyojin, pria itu menahan nafas menunggu apa yang akan Sehun katakan.

 

Sebuah cubitan kecil Hyojin dapat dari Sehun, “Jangan terlalu percaya diri nona Lee!” ujarnya sambil tersenyum sekilas.

 

“Arggh!, sakit Sehun-ah!” rengek Hyojin sambil berusaha melepas cubitan Sehun, “Hari ini aku muak mendengar panggilan nona Lee, pusing aku jika kau ikut mengatakannya!” ucap Hyojin saat cubitan Sehun berhasil dia lepas.

 

“Eoh!, Rae Mi!, sunbae!, apa yang kalian lakukan?. Bukankah kelas kalian sudah di mulai sejak sepuluh menit yang lalu?”

 

“Kalau begitu kami permisi dulu.” Kata Rae Mi.

 

Hyojin terkekeh, “Tak perlu se-formal itu Rae Mi-ah!. Kalau begitu aku dan Sehun juga pergi dulu, bye!” dia menarik tangan Sehun dan segera menghilang dari hadapan Rae Mi dan Yong Hwa.

 

***

 

Yong Hwa melempar gulungan kertas kepada Rae Mi hingga gadis itu menoleh. Dia bicara sepelan mungkin karena dosen masih mengajar di depan.

 

“Syukurlah tadi Sehun tidak mengatakannya pada Hyojin.” Kata Yong Hwa.

 

Rae Mi mengangguk, “Memang kenapa kalau Hyojin tau?”

 

Yong Hwa langsung menggaruk kepala yang tidak gatal. “Bukan apa-apa, yang aku katakan tadi memang bisa menyakiti perasaan Hyojin.”

 

Kembali Rae Mi mengangguk, dia paham betul bagaimana reaksi gadis pada umumnya kalau mendengar kalimat seperti yang Yong Hwa katakan tadi. Tapi untuk Hyojin?, Rae Mi malah berfikir kalau gadis seperti Hyojin tak akan terpengaruh hanya dengan sebuah kalimat yang spontan muncul. Walau belum lama saling mengenal, Rae Mi sudah bisa mengerti bagaimana sikap teman barunya itu.

 

“Yong Hwa-ssi!”

 

“Ya?”

 

Rae Mi tersenyum tulus, “Terima kasih, kau sudah memperhatikan perasaan Hyojin.”

 

“Eo?… eoh…” kini Yong Hwa yang mengangguk namun dengan canggung karena melihat senyuman Rae Mi untuk pertama kalinya. “Kau pasti… dekat dengan Hyojin ya?” tanya pria itu sambil balas tersenyum.

 

“Ya!, Hyojin adalah gadis yang baik. Aku senang sekali berteman dengannya.” Ujar Rae Mi dengan menggebu-gebu. Tak ada kebohongan atau melebih-lebihkan, Rae Mi benar-benar tulus senang berteman dengan Hyojin. Sejak pertemuan awal mereka melawan tiga berandal kampus hingga sekarang Rae Mi masih mengagumi sosok gadis tangguh itu.

 

***

 

Setelah kelas selesai, Hyojin dan Sehun pergi ke taman belakang untuk membahas sesuatu yang penting. Dalam perjalanan mereka menyempatkan diri untuk bicara, namun berhati-hati agar tidak ada yang curiga dan tahu apa yang tengah mereka bicarakan.

 

“Jadi, itu rencana Yongguk?” tanya Sehun ketika mereka melewati koridor.

 

Hyojin mengangguk sambil berhati-hati menuruni tangga, “Dia tahu lebih cepat karena mulutku yang bodoh. Untung dia hanya mengajak kerjasama, tapi aku yakin ada hal lain yang dia inginkan.”

 

“Lalu, apa kau akan menerimanya?, kau tidak mungkin setuju untuk menghancurkan hubungan Rae Mi dengan Chanyeol kan?”

 

Langkah Hyojin berhenti tiba-tiba, Sehun berbalik untuk mencari tahu apa yang di lakukan sahabatnya itu. Mata Hyojin memandang lurus kedepan, membuat Sehun ikut melihat apa yang menjadi obyek pandangan Hyojin.

 

Chanyeol dan Rae Mi. Dari yang Sehun lihat dua orang itu tengah mengobrol dengan begitu akrab. Sesekali Chanyeol mengusap kepala Rae Mi membuat pipi gadis di depannya bersemu merah. Kini Sehun ganti menatap Hyojin, sama seperti tadi dua mata bulatnya masih terfokus pada hal yang sama. Chanyeol juga Rae Mi.

 

“Apa kau cemburu?”

 

Pertanyaan Sehun membuat Hyojin tersedak, ia menggeleng kemudian menarik Sehun agar melanjutkan langkah mereka.

 

“Aku tidak ada waktu untuk jatuh cinta, hal yang terpenting sekarang adalah menemukan orangtuaku.” Kata Hyojin penuh dengan keyakinan.

 

Tapi entah kenapa Sehun bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari sahabatnya itu, namun dia tidak bisa yakin sepenuhnya dengan berbagai spekulasi yang muncul.

 

***

 

“Eoh!, kau rupanya. Sungguh mengejutkan kau bisa datang kemari tanpa ku paksa.”

 

Presdir Lee tersenyum sinis menyambut kedatangan cucunya, Hyojin berjalan angkuh menuju kursi yang tak jauh dari meja kerja pria tua itu lantas duduk diatasnya. Tangannya bersedekap dan wajahnya tenang, sulit untuk ditebak apa maunya.

 

“Bisa kau percepat pernikahanku dengan Park Chanyeol?” ujar Hyojin langsung pada intinya.

 

“Kenapa buru-buru?, kau sudah sangat menyukainya ya?”

 

“Jangan banyak bicara!, hanya katakan kapan aku bisa melakukan upacara pernikahan?”

 

Presdir Lee masih tersenyum sinis, ciri khasnya. Ia berbalik memunggungi gadis itu, “Aku tidak bisa, tapi aku mampu untuk mempercepat pertunangan kalian. Kau tahu, semua hal membutuhkan proses.” Katanya lugas.

 

Hyojin berdecak sebal, tangannya terkepal hingga mencengkram ujung sofa dengan kuat. “Lakukan apapun yang kau bisa. Aku ingin segera bertemu orang tuaku. Se-ce-pat-nya!” ia lantas berdiri, hendak keluar dari ruangan mewah Presdir Lee yang merupakan neraka bagi Hyojin.

 

“Tidak ada hal lain yang kau inginkan?, hanya mempercepat pertunangan?”

 

“Memang kenapa?”

 

Kini Presdir Lee menghadap Hyojin, tatapannya seolah menyimpan banyak rahasia yang ingin gadis itu kuak segera. Setidaknya satu dari rahasia pria tua tersebut berguna untuk mempertemukannya dengan keluarga kecil Hyojin.

 

“Bagaimana dengan Bang yongguk?, kau tidak ingin memberinya keuntungan sebagai upah atas kerjanya sebagai mata-mata untukmu?”

 

Hyojin sempat terkejut, tapi kemudian memutar bola matanya malas. Ia sudah bisa menebak bagaimana Presdir Lee tahu mengenai Bang yongguk, tak lain karena ia sudah menyewa orang untuk mencari tahu apa saja yang sudah Hyojin alami di kampus. Hal seperti ini bukan hal baru baginya.

 

“Bisakah kau… tidak mencampuri urusan orang lain?”

 

“Memangnya kenapa?, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan cucu kesayanganku?”

 

Tangan Hyojin kembali terkepal kuat, “Cucu?” katanya, “Siapa cucumu? Aku?, katakan itu pada kuburan kakek kesayanganku!”

 

Dan setelah itu Hyojin benar-benar keluar dari ruangan besar tersebut.

 

***

 

“Kakek!, dia bilang aku cucu kesayangannya!”

 

Gadis itu menangis, tangannya memegang foto dirinya dua belas tahun yang lalu serta dua orang dewasa yang tengah menggandengnya. Air mata Hyojin tidak bisa berhenti mengalir, dadanya sesak karena ia hanya bisa menangis dalam diam.

 

“Nenek!, seharusnya dia yang mati bukan, kenapa malah orang baik seperti kalian?. Dia bahkan tidak pernah menanyakan kabarku, bagaimana dia bilang kalau aku cucu kesayangannya?”

 

Tangannya terulur, ia mengelus gundukan tanah di depannya. Hyojin menaruh sebatang bunga lily di salah satu makam, lalu menaruh bunga lainnya di makam sampingnya. Hyojin mengusap air mata, ia berusaha untuk tersenyum lalu berjongkok diantara dua makam itu.

 

“Haruskah aku sendiri yang memusnahkannya?”

 

***

 

“Hyojin-ah!” panggil Sehun saat melihat Hyojin melewatinya begitu saja, karena tak kunjung berhenti ia menarik lengan gadis itu sampai berhenti dan berbalik menghadapnya.

 

“Kenapa kau mengabaikanku?!”

 

Hyojin melepas earphone dari telinganya, “Apa?” dia bertanya polos.

 

Sehun mendengus kesal, frustasi dengan sikap Hyojin yang agaknya berubah akhir-akhir ini. Ia bahkan sudah tidak mendapati gadis tersebut marah. Biasanya seorang Lee Hyojin akan marah pada hal-hal kecil sekalipun. Namun sekarang dia berubah menjadi lebih tenang dan itu justru membuat Sehun tak nyaman.

 

“Kubilang kenapa?, ada masalah?” Hyojin bertanya lagi, Sehun menatapnya bingung.

 

“Justru kau yang punya masalah!”

 

Hyojin menunjuk dirinya sendiri, “Aku?” dia bertanya lagi.

 

“Hyojin-ah!, kau kenapa?, apa kakek itu menyakitimu lagi?”

 

Gadis itu menggeleng, “Tidak, semuanya berjalan lancar.” Katanya, ia lantas kembali memakai earphone, “Aku pergi dulu ya!” dan tanpa jawaban dari Sehun, Hyojin pergi. Tepat setelah kepergiannya muncul Rae Mi bersama Yonghwa di belakang Sehun.

 

“Ada apa Sehun?” tanya Rae Mi. Sehun menghela nafas berat, ia enggan bercerita tapi sepertinya Rae Mi bisa membantu masalah Hyojin.

 

“Rae Mi-ah!”

 

“Ya?”

 

Namun ia sadar kalau ada orang lain bersama mereka, Jung Yonghwa. Dia tidak ingin pria itu ikut campur dengan urusannya apalagi setelah perkataannya tempo lalu.

 

“Tidak jadi.” Akhirnya hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Sehun. Ia segera pergi sebelum Rae Mi maupun Yonghwa bertanya lebih lanjut.

 

***

 

Langkah panjang Chanyeol nampak terburu-buru, sambil meminta maaf pada setiap orang yang dia tabrak Chanyeol tetap melanjutkan berlari. Tujuannya adalah taman belakang kampus, dia sudah berjanji pada Rae Mi untuk bertemu saat jam pelajarannya berakhir. Tapi karena dia sedikit bermasalah dengan dosen tadi, maka Chanyeol harus rela datang terlambat. Karena itulah ia bergegas agar cepat sampai dan tidak membuat Rae Mi marah.

 

“Hosh… hosh… Rae Mi-ah!, maaf aku terlambat!”

 

Setelah mengatur nafas Chanyeol menghampiri Rae Mi yang sudah duduk di bangku taman favorit mereka.

 

“Tak apa.” Kata Rae Mi seraya tersenyum manis, “Bukan masalah, aku juga baru datang. Oh iya, tadi aku membeli minuman, kau minumlah dulu.” Ia menyodorkan segelas minuman segar. Chanyeol langsung menyambar minuman tersebut dan menegaknya sampai habis.

 

“Aku haus sekali, terima kasih!”

 

“Sama-sama. Kenapa kau memintaku kemari?”

 

Nafas Chanyeol yang tadinya sudah teratur kini kembali kacau saat Rae Mi menanyakan hal tersebut. Tapi bagaimana juga ia sudah menyiapkan jawabannya, bagi Chanyeol ini adalah saat yang tepat untuk mengatakannya pada Rae Mi sebelum terlambat.

 

“Itu… pernahkah jantungmu berdegub lebih cepat saat berdekatan dengan seorang pria?”

 

Rae Mi sedikit bingung dengan pertanyaan Chanyeol, namun ia berusaha untuk memikirkan jawabannya.

 

“Entahlah, aku tidak yakin-”

 

Chanyeol menghentikan kata selanjutnya yang akan Rae Mi ucapkan dengan memegang tangan lembut gadis itu. “Jika seperti ini… apa jantungmu berdegub kencang?”

 

Mata Rae Mi membelalak, tubuhnya kaku akan sentuhan Chanyeol, dia tidak tahu harus bagaimana. Sementara Chanyeol menatap Rae Mi penuh keseriusan.

 

“Aku merasakan hal ini, dan aku tidak yakin itu apa. Tapi sekarang…” Chanyeol menarik tangan Rae Mi dan meletakkan pada dadanya, membiarkan Rae Mi merasakan detak yang begitu cepat tersebut. “Aku tahu kalau aku sedang jatuh cinta.”

 

“Y-ya?” setelah lama diam, hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Dia terlalu terkejut dan gugup dengan semua tingkah Chanyeol.

 

“Jadilah kekasihku, aku ingin Kang Rae Mi selalu ada disisi ku. Aku mencintaimu.”

 

***

 

“Hyojin-ah!”

 

Gadis itu menoleh, rupanya Yonghwa. Kakak kelasnya itu berlari kecil untuk menghampirinya. Hyojin bingung menatap pria itu, tidak biasanya.

 

“Ada apa sunbae?”

 

“Hosh… hosh… aku ingin bertanya sesuatu padamu!” Yonghwa terduduk di lantai karena lelah, ia juga butuh untuk mengatur nafas.

 

Hyojin membiarkan Yonghwa melakukannya biarpun banyak orang lewat yang memperhatikan. Dia sendiri ikut duduk bersandar pada dinding, tepat di sebelah seniornya tersebut. Beberapa saat mereka terdiam, sampai Yonghwa memegang tangan kanan Hyojin dan meletakkan di dada sebelah kirinya.

 

“Apa jantungmu pernah berdegub secepat ini?” tanya Yonghwa dengan mimik serius.

 

Walau agak bingung tapi Hyojin masih bisa menjawabnya, “Ya, saat aku berlari atau seperti saat dikejar anjing minggu lalu.” Jawabnya santai.

 

Yonghwa terkejut karena jawaban yang dia dapat tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan. “Ma-maksudku… berdegub kencang saat kau sedang bersama pria, apa pernah?”

 

Hyojin terdiam dan berfikir, “Eung… entahlah. Kurasa pernah, saat ada pria gila yang mengejarku dengan brutal selama sebulan.” Maksud Hyojin adalah para penagih hutang dan anak buah kakeknya itu.

 

Yonghwa kembali bingung dan kesal karena apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan rencana. Hyojin menatap seniornya itu tak kalah bingung. Karena risih dengan tautan tangan mereka, Hyojin segera melepas tangannya.

 

“Memang kenapa sunbae?. Kau bertingkah aneh hari ini.”

 

Yonghwa mendengus dan tersenyum miring. Segera dia berdiri, membersihkan debu yang menempel di celana. Dia bersedekap dan menatap kearah Hyojin yang masih duduk di lantai dan memperhatikannya.

 

“Ternyata kau dan Rae Mi sangat berbeda, pantaslah Chanyeol lebih memilih gadis manis itu daripada manusia aneh sepertimu.”

 

Tatapan Hyojin berubah seiring kepergian Yonghwa. Yang ia pikirkan sekarang adalah kebencian dan kemarahan pada pria yang pernah mengisi hatinya itu. Tapi dia puas karena berhasil mengelabuhi Yonghwa, kebohongannya selalu berhasil bahkan pada seorang playboy semacam Jung Yonghwa.

 

“Sepertinya dia harus belajar lebih dariku.” Hyojin memandang tangan kanannya, kemudian tersenyum miring. “Tanganku sudah kotor, setelah ini aku harus membersihkannya.”

 

Ia berbalik, beranjak pergi dari koridor itu namun ada satu hal yang baru saja terlintas di pikirannya.

 

“Apa maksud Yonghwa dengan Chanyeol lebih memilih Rae Mi daripada aku?” Hyojin berfikir keras untuk mendapat jawabannya, sampai ia memikirkan situasi yang cukup membahayakannya jika Yonghwa sampai tahu.

 

“Apa Yonghwa juga sudah tahu kalau aku dan Chanyeol akan bertunangan?”

 

 

~TBC~

 

 

 

Yo!, sebelumnya saya minta maaf kepada readers sekalian karena kirim ff lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali. Mohon maaf dikarenakan author sibuk dengan segala kegiatan kelas 12 yang memuakkan tapi harus dikerjakan -_-

Kali ini ga bisa banyak cincong, nih

RCL Juseyoooooooooo~

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Chapter 7)”

  1. Kak kurang moment chan-hyo nyaaaa, kenapa banyak banget moment chan-mi?
    Jongin kemana di part ini?? Aduh aku penasaran kenapa yonghwa bilang kaya gitu ke hyojin. Ga pantes banget kata2nya

  2. Kyaaaa ><" penasaran bgt thor!! Aduuhh chanyeolnya sm hyojin aja yaa thor.. Jgn sama raemi. Raeminya sm yg lain aja deh! Jgn lama2 yaa lanjutnya.. Aku udh penasaran bgt!

  3. Njirr kek nya si Rae Mi bnyak yg nyukain dehh ya:v kasian sama Hyojin nya keknya gk ada yg berpihak ke dia selain Sehun. Wkwkwwkw
    Keren kak FFnya: )

  4. Lah? Terus gimana nasib Hyojin? ‘-‘
    Btw, kok younghwa tau kalo chanyeol ama rae mi?
    Apa jangan-jangan ntu orang ngintip? :’v

    Di tunggu updatetan selanjutnya thor ^^

  5. hadeuh…. nggak enak banget di posisi hyojin, chanyeol kan udah mau tunangan tuh ama hyojin tapi kok dia klopnya ama raemi.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s