[EXOFFI FREELANCE] The Archilless (Chapter 11)

 

c.jpg

THE ARCHILESSS (Chapter 11)

 

Author:

@Hanalorenqk

Length:

Series

Genre:

Fantasy, Romance, Friendship

Rating:

PG-15

Main cast:

PARK CHANYEOL

YOO HARA (OC)

KIM JONG IN

OH SEHUN

BYUN BAEKHYUN

LUHAN

KIM JONGDAE

Additional Cast:

IM JANGMI (OC)

OTHERS EXO’S MEMBER

Disclaimer:

Fanfiction ini terinspirasi dari beberapa cerita fantasy seperti Narnia, Harry Potter, dan Percy Jackson. Tapi ide sepenuhnya murni dari hati dan pikiran >.< Thanks buat yang uda baca dan comment J Khamsahamnida!!!

~THE ARCHILLESS

~CHAPTER 11


BUUMMM!!!!

 

Sehun berusaha mengeluarkan segala kekuatannya untuk menghalangi para titan yang sedang mengejarnya dan Hara di belakang. Para titan yang dipimpin oleh Kris dan Tao itu bergerak sangat cepat. Tak peduli jika yang dikejar mereka saat ini adalah Oh Sehun, putra dari Ratu mereka, Titania.

 

“Apa kau tidak bisa memanfaatkan kekuatanmu di saat-saat seperti ini?” tanya Sehun di tengah diri mereka yang sedang berlari sekuat tenaga untuk menghindari para titan.

 

“Entahlah…” jawab Hara setengah ngos-ngosan. “Bagaimana jika kau membuat jurang saja agar mereka tidak bisa lagi mengejar kita.”

 

“Ide bagus…”

 

BUUMM!!!

 

Untuk pertama kalinya Hara merasakan gempa bumi yang begitu hebat terjadi di depan matanya. Tepat di saat Oh Sehun menggertak sekuat tenaga, tiba-tiba tanah berguncang seperti mematuhi perintah Sehun. Alhasil terciptalah sebuah jurang antara para titan dengan Sehun dan Hara. Terlihat wajah Tao yang begitu kesal saat mereka tidak bisa lagi mengejar kedua incarannya itu.

 

Buk!

 

Hara menjatuhkan dirinya di bawah sebuah pohon karena kelelahan. Dia seperti baru saja mengikuti pertandingan marathon yang jauh nya berkilo-kilo meter. “Aku tak menyangka kekuatanmu begitu dashyat, Oh Sehun…” kata Hara.

 

“Yoo Hara… “

 

“Eoh?”

 

“Apa kau berani kembali ke Barnsteen sendirian?”

 

“Mwoya? Kau tidak mau ikut bersamaku ke Barnsteen?”

 

“I…itu tidak mungkin…” Sehun menggumam pelan.

 

“Lalu apa kau akan kembali ke sana?“

 

“Bagaimanapun juga aku tetaplah seorang titan… aku tetap akan berada di posisi sebagai musuh kalian!”

 

“Sehun…”

 

“Khaa… Bukankah kau harus memberitahu mereka letak kotak Pandora itu dengan segera? Kau tidak boleh membuang-buang waktu. Titania pasti sedang mencari berbagai macam cara untuk memecahkan teka-teki itu, dan kau tahu… dia memiliki banyak tangan yang kepintarannya sama dengan yang kau miliki. Cepat atau lambat, dia akan menjawab teka-teki itu…”

 

“Oh Sehun…”

 

Tiba-tiba sebuah sinar menyala terang dari langit. Dari jauh, terlihat dua ekor kuda terbang sedang terbang mendekati mereka.

 

“Hara-yaa!!” teriak seseorang dari kuda terbang itu.

 

“Luhan-oppa!”

 

Dua ekor Kuda Terbang itu pun perlahan turun memasuki hutan Demos. Hutan yang memisahkan antara Barnsteen dan kastil Titan. Dulu, akses hutan Demos  tertutup sehingga para titan tidak bisa memasuki Barnsteen begitu juga sebaliknya. Namun, seiring dengan semakin mendekatnya bulan purnama tahun ke dua puluh, akses itu kembali terbuka.

 

“Hara!!” seru Luhan saat dirinya benar-benar melihat Hara di hadapannya. Gadis itu pun segera berlari menghampiri Luhan dan Baekhyun.

 

“Oh Sehun…” gumam Baekhyun.

 

“Jangan mendekat!” bentak Luhan mengarahkan tangannya ke arah Sehun. Luhan pasti mengira kalau Sehun akan menyakiti mereka. Malah yang ada di dalam pikirannya, Sehunlah yang menangkap Hara tadi di museum. “Aku bisa membunuhmu sekarang juga jika kau mendekat, Oh Sehun!”

 

Sehun tak menanggapi ancaman Luhan. Ia hanya bisa memandangi teman sekamarnya itu dengan melas. Ya, ini juga membuatnya sedih. Orang yang selama ini tidur satu kamar dengannya, yang selalu menganggapnya sebagai seorang adik, saat ini sedang mengancam ingin membunuhnya. Semua hanya karena dia adalah seorang titan. Sehun pun memutuskan untuk meneruskan niatnya kembali ke istana titan. Ia  berbalik dan melangkah pergi dari mereka, namun…

 

“Oh Sehun!” panggil Baekhyun yang membuat Sehun berhenti melangkah.

 

“Baekhyun, apa yang kau lakukan?” tanya Luhan kaget.

 

“Oppa, Sehun tidak sejahat yang kau kira… dia yang membebaskanku dari tangan Titania!”

 

“Mwo?”

 

 

Baekhyun melangkah mendekati Sehun. “Apa kau tidak mau ikut bersama kami?”

 

“Aku tidak bisa…” jawab Sehun lemas.

 

“Waeyo? Jangmi sedang menunggumu kembali sekarang… kau tidak mau pergi menemuinya?”

 

Sehun terdiam. “A…aku…”

 

BUUMM!!!

 

Keempat orang itu tiba-tiba terpental jatuh saat tanah yang mereka pijaki bergetar kuat. Dua ekor kuda terbang yang mereka tumpangi pun meringkik keras dan tidak lagi menginjakkan kaki mereka di tanah.

 

“Cepat kalian pergi! Mereka datang…” teriak Sehun.

 

“Baekhyunn!! Kita harus pergi!!” teriak Luhan yang sudah berada di atas kuda terbang bersama dengan Hara.

 

“Se…Sehun?” panggil Baekhyun dengan bimbang. Bagaimana pun dia harus membawa Sehun. Dia harus menepati janjinya pada Jangmi.

 

“Cepat pergi!”

 

Perlahan kaki Baekhyun mulai bergerak menuju kuda terbangnya. Namun pandangan matanya tetap mengarah ke Sehun, dia benar-benar berharap Sehun mau pergi bersamanya. “Berjanjilah kau tidak akan mengecewakan Jangmi, Oh Sehun!” teriak Baekhyun sambil menaiki Kuda Terbang. “Kalau kau sampai mengecewakannya… aku akan membuatmu terbakar dengan kekuatan sinarku!” Baekhyun, Luhan dan Hara pun akhirnya segera pergi meninggalkan Sehun di tempat itu. Sehun menatap kepergian mereka dengan matanya yang perlahan mulai memperlihatkan kristal-kristal air yang akan segera membasahi pipinya. Kemudian, pemuda itu berbalik dan mengepalkan tangannya lalu bersiap menghadapi saudara-saudaranya.

**********

 

 

 

 

 

 

 

“Aku tidak bisa melakukan itu…”

 

Jawaban dari Do Kyungsoo benar-benar membuat Chanyeol kesal. Ingin sekali Chanyeol melemparkan sedikit kekuatannya kepada anak misterius itu.

 

Tibanya Chanyeol yang hanya bersama dengan Jongdae dan Jong-in memang menghebohkan Empire. Pasalnya mereka pulang lebih cepat dari dugaan semua orang. Chanyeol sendiri merasa sedikit takut saat harus bertemu dengan Master Yoo tanpa Hara di sampingnya. Dia hanya bisa menyampaikan permintaan maafnya berkali-kali karena tidak bisa melindungi Hara dengan baik. Tapi, untunglah Master Yoo mengerti dan berharap Luhan serta Baekhyun bisa menyelamatkan putrinya.

 

“Kau bisa melakukannya! Kau punya kekuatan Hades, kau bisa menghubungi semua arwah orang yang sudah mati kan?” tanya Chanyeol lagi.

 

“Itu tidak semudah yang kau kira, Park Chanyeol. Jika Janus, malaikat penjaga pintu gerbang kematian mengizinkan kau bertemu dengan arwah ayahmu, itu bisa saja mudah. Tapi jika dia tidak mengizinkannya, maka kau akan berada dalam bahaya…”

 

“Aku tidak peduli bahaya apa yang akan aku hadapi… aku hanya ingin bertemu dengan ayahku.”

 

Sementara itu, Luhan, Baekhyun dan Hara baru saja tiba di kastil Empire. Mereka segera mempercepat langkah kaki mereka menuju kamar Do Kyungsoo, tempat Chanyeol dan yang lainnya berkumpul.

 

“Appaa…” panggil Hara saat melihat sosok ayahnya di lorong kastil. Gadis itu segera berlari menghampiri Master Yoo dan memeluknya.

 

“Apa kau baik-baik saja? Eoh? Mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk kan?”

 

“Aniyoo, Appaa…”

 

 

Baekhyun berhenti melangkah saat melihat Im Jangmi datang menghampirinya dengan wajahnya yang penuh harapan. Baekhyun tahu, Jangmi pasti sangat berharap dirinya berhasil membawa Sehun kembali ke tengah-tengah mereka.

 

“Sehun odisseo?” itulah pertanyaan yang langsung diajukan oleh Jangmi.

 

“Mianhae, Jangmi-ah… aku rasa dia benar-benar tidak bisa bergabung dengan kita.” jawab Baekhyun. Perlahan Jangmi mulai menitikkan airmata. Baekhyun tak tahan melihat wajah sedih Jangmi. “Uljima…” kata Baekhyun lalu memeluk Jangmi dan membiarkan teman semasa kecilnya itu menangis di pelukannya. “Sudah cukup kau melepas kepergianku kemarin dengan menangis, dan sekarang kau menyambutku dengan tangisan lagi?”

 

“Sehun… anak itu benar-benar tidak akan kembali?” tanya Jangmi lagi bersama tangisannya yang semakin terpecah. “Apa dia akan mengkhianati kita…”

**********

 

 

 

 

 

 

Saat Hara dan Luhan sudah sampai di kamar Do Kyungsoo, Chanyeol telah berbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Sementara Kyungsoo sedang mengarahkan tangannya ke sekujur tubuh Chanyeol seakan-akan sedang mengeluarkan kekuatannya untuk membantu Chanyeol. “Do Kyungsoo! Berhenti!” bentak Hara. “Apa kau bisa membangunkannya kembali?”

 

Kyungsoo menggeleng. “Dia sudah berada di depan gerbang dunia arwah sekarang.”

 

 

Sementara itu, Chanyeol tengah terbangun di alam lain. Alam yang begitu gelap, alam yang dikelilingi oleh awan-awan hitam. Semua yang ada di sekeliling Chanyeol adalah kosong. Chanyeol menyadari bahwa dirinya sekarang sedang berada di alam bawah. Di depannya, ada sebuah pintu gerbang besar yang dijaga oleh seorang raksasa. Dia pasti Janus. Di penjaga gerbang dunia arwah.

 

“Sedang apa kau di sini anak muda?” tanya raksasa itu saat melihat Chanyeol.

 

Chanyeol sedikit bergetar. Dia tahu kalau raksasa itu sedang tidak berbicara dengan bahasa yang sama dengannya, tapi entah kenapa Chanyeol bisa mengerti bahasa itu. “Apa kau Janus?” tanya Chanyeol.

 

Raksasa itu tak menjawab. “Apa yang kau inginkan?”

 

“Izinkan aku bertemu dengan ayahku, Park Jungsoo…”

 

“Park Jungsoo? Aa… aku ingat. Dia adalah percy yang dibunuh oleh titan bernama Chansung bukan?”

 

“Ya. Apakah kau bisa mempertemukan aku dengannya?”

 

Janus terdiam. Dia mengetuk-ngetuk jarinya ke permukaan tanah dan itu membuat Chanyeol sedikit tidak bisa berdiri dengan seimbang karena tanah yang terus bergetar. “Kau bisa bertemu dengannya…”

 

“Jeongmalyeo?” seru Chanyeol bersemangat.

 

“Tapi kau harus mati terlebih dahulu…”

 

“Mwo?”

 

“Ya… kau harus menyerahkan nyawamu terlebih dahulu kepadaku. Maka kau bisa bertemu dengan ayahmu. Tidak. Kau tidak hanya bertemu dengannya. Tapi kau bisa hidup bersamanya di dalam. Tidakkah kau menginginkan itu?” tanya Janus.

 

“I…itu tidak mungkin… a…aku…”

 

“Kalau kau tidak mau, kau juga tidak bisa pergi anak muda. Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi begitu saja… kau tahu, Janus sangat senang bermain-main dengan orang yang masih hidup. Ya, biasanya aku akan bertemu dengan orang-orang yang mengalami mati suri atau sedang sekarat. Aku akan bermain bersama mereka, jika mereka menang melawanku maka mereka bisa hidup. Tapi jika mereka kalah, mereka akan menjadi milikku dan masuk ke dalam…”

 

Chanyeol menelan salivanya. Tak percaya dengan apa yang dihadapinya sekarang. Ternyata inilah bahaya yang dimaksudkan Do Kyungsoo, dia bisa saja kehilangan nyawanya. “Per…permainan seperti apa yang kau maksudkan?”

 

Janus tersenyum licik. Dia mengangkat tangannya dan tiba-tiba dari tanah muncul dua buah kotak besar. Chanyeol mundur menjauh dari kotak yang entah berisikan apa itu. “Di antara dua kotak ini, ada satu kotak yang bisa mempertemukanmu dengan ayahmu, dan juga ada yang bisa langsung membuatmu mati saat ini juga. Silakan memilih satu di antara mereka…”

 

Deg!

 

Dan permainan itu benar-benar membuat Chanyeol ingin segera bangun dari alam yang ia harap hanyalah sebuah alam mimpi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUUMM!!!

 

Sehun terlempar tepat ke sudut kastil dan itu berhasil membuatnya cukup terluka parah. Mulutnya dipenuhi dengan darah, sementara dia bisa merasakan beberapa tulang rusuknya patah. Seumur hidup Sehun belum pernah merasakan sesakit saat ini. Sehun tak pernah menyangka jika yang mencelakai saat ini adalah Titania, ibunya sendiri.

 

“Apa kau mengkhianati ibumu sendiri?” bentak Titania dengan matanya yang melotot tajam. Tangan kanannya juga masih mengaktifkan kekuatan yang membuat Sehun terlempar tadi. “Berani-beraninya kau melakukan ini pada bangsamu sendiri!”

 

Sehun hanya diam dan tergeletak tak berdaya. Dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk bangun, bahkan menggerakkan tubuhnya pun tak lagi bisa. Dia hanya bisa melihat bagaimana amarah ibunya, Titania, serta senyum kebahagiaan dari dua rekannya, Tao dan Kris. Ya. Sehun tahu betul kalau kedua titan itu sangat membenci dirinya. Mereka selalu saja tersenyum di saat-saat seperti ini, saat melihat Sehun tak berdaya.

 

“Aku tidak akan mengampunimu, Oh Sehun!! Aku sudah cukup menunjukkan kasih sayangku sebagai ibumu… sekarang, rasakan ini…” Titania mengangkat tangannya dan bersiap menyerang Sehun lagi. Namun…

 

“Jangan, Yang Mulia…” seorang wanita tiba-tiba masuk ke dalam kastil dan merentangkan tangannya tepat di hadapan Sehun. Wanita itu menangis saat melihat Sehun yang tergeletak tak berdaya, dan dengan seluruh keberaniannya dia menghalangi Titania.

 

“Eo…eomma…” panggil Sehun dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya. Sehun kenal betul dengan sosok wanita itu. Wanita yang telah melahirkannya, yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Sekalipun Sehun bukanlah darah daging dari wanita tersebut, tapi Sehun lahir dari darah yang mengalir di tubuh wanita itu.

 

“Sehun-ah…” panggil wanita itu menangis di hadapan Sehun.

 

“Apa yang kau lakukan di sini, Oh Sena! Biarkan aku memberi pelajaran terhadap putraku sendiri!”

 

“Aku mohon padamu… jangan bunuh Sehun, Yang Mulia. Jangan bunuh dia…” mohon wanita bernama Oh Sena itu sambil terus menangis.

 

“Kau benar-benar membuat amarahku semakin meledak!” bentak Titania.

 

BUUMM!!

 

Titania mengarahkan kekuatannya ke Oh Sena. Wanita paruh baya itu pun kehilangan nyawanya.

 

“EOMMAA!!!” teriak Sehun. Kali ini, dengan seluruh sisa kekuatan Sehun, dia berusaha bangkit menghampiri Oh Sena yang sudah tanpa nyawa. “Eommaa…” tangis Sehun terpecah saat melihat tubuh wanita yang telah membesarkannya tak memberi respon apa-apa.

 

“Kau sungguh membuatku muak, Oh Sehun. Siapa sebenarnya ibumu? Aku atau dia….” tanya Titania.

 

Sehun mengalihkan pandangannya ke Titania. “Aku tidak pernah memiliki ibu sepertimu, Titania!” seru Sehun sambil memandang sinis Titania. Tangannya mengepal geram. Sehun benar-benar merasa saat ini emosinya memuncak. Dan di saat itulah perlahan terjadi sesuatu pada tubuh Sehun. Tubuhnya mengeluarkan sinar yang mengelilingi dirinya. Sehun tak merasakan rasa sakit lagi pada tubuhnya, justru dia merasa ada sebuah kekuatan yang baru muncul pada tubuhnya. Di punggung tangan kanan Sehun, muncul sebuah lambang dengan gambar tulisan Yunani Kuno, yang artinya Gaea. Lambang yang menunjukkan bahwa Sehun adalah Archilles ketujuh.

 

BUUMM!!!

 

Sebuah ledakan terjadi pada Sehun, dan pada akhirnya dia lenyap dari hadapan Titania. Semua mata titan yang melihat kejadian aneh itu melotot tak percaya. Tentu saja mereka tahu apa yang barusan terjadi pada Sehun. Sehun memiliki lambang Archilless, lambang pahlawan. Semua titan hampir tidak percaya dengan kebenaran itu. Bagaimana bisa seorang titan menjadi pahlawan?

 

Di sisi lain terlihat jika Titania semakin kesal, “Kalian berdua… cepat cari keberadaan Oh Sehun sekarang juga!” bentak Titania.

 

“Algetuseumnida…” Tao dan Kris pun membawa pasukan mereka dan segera pergi meninggalkan kastil titan.

 

 

“Yang Mulia… “

 

Titania menarik nafas panjang. Salah satu pengikutnya, yang terkenal sebagai titan paling pintar datang dan tentunya membawa sebuah kabar yang berhasil membuat emosi Titania meredam, digantikan oleh sebuah senyuman kemenangan.

**********

 

 

 

 

 

 

 

Chanyeol merasa dirinya saat ini benar-benar berada di ambang kematian. Satu dari dua, hanya ada kesempatan sebanyak 50:50 di hadapan Chanyeol saat ini. Bagaimana jika dia memilih kotak yang salah? Bagaimana jika dia mati saat ini juga, bahkan sebelum berperang melawan Titania. Bukankah dia orang yang ditakdirkan untuk melawan Titania? Bagaimana dengan Hara? Oh, Chanyeol benar-benar tidak ingin meninggalkan gadis itu bersama Luhan di Empire.

Chanyeol bahkan saat ini sangat merindukan bibinya, dan juga Hong Minah, sepupunya yang menyebalkan. Namun seberapa menyebalkannya Minah, Chanyeol tetap merindukannya saat ini. Chanyeol juga rasanya ingin meminta satu kali kesempatan kepada Janus. Berikan pada waktu satu jam saja untuk mengucapkan perpisahan kepada semua orang yang ada di alam atas sana. Apa dia bisa melakukan itu?

 

“Apa kau sudah bisa memilih anak muda? Waktumu tidak banyak…” pesan Janus santai. Dia benar-benar tidak peduli bagaimana tegangnya Chanyeol saat ini.

 

Chanyeol menutup matanya. Dan perlahan, Chanyeol menjernihkan segala pikirannya dari apa yang bisa membuatnya semakin tegang.

 

“Di antara kedua tanganku, ada sebuah batu yang tersembunyi. Jika kau berhasil menebak di mana batu itu berada… aku akan memberikanmu hadiah.” kata Chanyeol sambil menunjukkan kedua tangannya yang tergenggam ke hadapan Hara.

 

“Ahh… ini mudah.” jawab Hara. “Aku memilih yang ini…”

 

“Omo! Kau bahkan belum sempat berpikir…”

 

“Untuk hal seperti ini apa yang perlu dipikirkan? Kau hanya tinggal memilih mana yang paling pertama kau pikirkan. Dan ini… tangan kirimu yang pertama kali aku pikirkan!”

 

Hara kemudian membuka tangan kiri Chanyeol, dan benar, ada sebuah batu di tangan kiri Chanyeol tersebut. “Oyeee! Aku berhasil!” teriak Hara kegirangan. Dan itu hanya membuat Chanyeol tersenyum.

 

“Chukae… Hara-ya… kau bisa mendapatkan hadiahmu sekarang…”

 

Tiba-tiba sebuah kecupan melayang ke pipi Hara. Ternyata hadiah yang dimaksudkan Chanyeol adalah sebuah ciuman ke pipi Hara.

 

“YAA!!! PARK CHANYEOL!! KAU CARI MATI?” bentak Hara yang segera beranjak bangun untuk mengejar Chanyeol yang segera kabur tepat saat ia mengecup pipi Hara.

 

 

Chanyeol menelan salivanya sekali lagi. “Pilih apa yang paling pertama muncul ke dalam pikiranmu…” bisiknya dalam hati, tepat seperti yang pernah dikatakan Hara kepadanya. Perlahan, Chanyeol mendekati kotak yang berada di sebelah kanannya. Dengan penuh keyakinan, Chanyeol pun masuk ke dalam kotak tersebut.

 

 

 

 

Putih.

 

Ya.

 

Tiba-tiba semuanya serba putih saat ini. Chanyeol seperti berada di sebuah kotak kosong yang putih bersih tanpa ada benda apapun di dalamnya. Apa Chanyeol sudah benar-benar memasuki alam kematian? Mungkin. Chanyeol ingat betul dengan beberapa film yang pernah ia tonton. Orang yang mati memang akan bertemu dengan suasana serba putih seperti ini. Apa dirinya salah memilih kotak? Apa yang ia pilih adalah kematian dirinya sendiri. Dan mungkin sebuah sinar terang yang beberapa saat muncul di hadapannya bisa menjawab pertanyaan Chanyeol.

 

“Chanyeol-ah…” panggil seseorang dari dalam sinar itu. Mata Chanyeol terbelalak tak percaya. Chanyeol mengenal betul suara tersebut. Suara yang paling berkesan di dalam kehidupannya. Suara yang paling pertama ia dengar, bahkan saat dirinya pertama kali lahir ke dalam dunia.

 

“Appaa…”

 

Ya. Itu adalah suara Park Jungsoo, ayah Chanyeol. Chanyeol ternyata berhasil memilih kotak yang benar. “Ada apa kau ingin menemuiku, Nak?”

 

“A…appa…” panggil Chanyeol sekali lagi. Perlahan, air mata Chanyeol mulai menetes. Apalagi saat sinar terang tersebut meredup dan muncul sosok ayahnya, tepat berdiri di hadapannya.

 

“Kau benar-benar sudah tumbuh setampan ini, Chanyeol-ah…”

 

“Appaa…” Chanyeol melangkah menghampiri ayahnya dan memegang tangan ayahnya yang terulur.

 

“Uljima…” kata Park Jungsoo dengan lembut. Ia lalu mengulurkan tangannya menghapus airmata di pipi Chanyeol. “Seorang pahlawan tidak mudah menangis sepertimu… “

 

Chanyeol tersenyum. “Aku senang bertemu denganmu, Appa…”

 

“Appa juga senang bertemu denganmu, Chanyeol-ah. Appa benar-benar bangga padamu. Kau sudah melangkah sejauh ini…”

 

“Me…mereka mencari kotak itu. Apa ayah tahu di mana letak kotak Pandora itu?”

 

“Kau tidak tahu di mana letak kotak Pandora itu?” tanya Park Jungsoo.

 

“Appa tidak pernah memberitahukannya padaku. Bagaimana aku bisa tahu?”

 

“Bukankah gadis yang berani menciummu itu sudah tahu di mana kotak Pandora itu berada?”

 

“Mwo?” gumam Chanyeol. Pipinya tiba-tiba memerah mendengar ayahnya membahas Hara seperti itu.

 

“Tidak perlu malu di depan ayahmu sendiri, Chanyeol-ah…”

 

Darimana Park Jungsoo tahu? Apa selama ini ayahnya selalu memperhatikan gerak-gerik Chanyeol? Itulah yang ada di dalam pikiran Chanyeol saat ini. “Chanyeol-ah… sebenarnya mencari letak kotak Pandora itu sangat mudah. Dia bahkan selalu berada di dekatmu…”

 

“Mak…maksud Appa?”

 

Park Jungsoo menunjuk ke hati Chanyeol. “Dia tepat berada di sini…”

 

“Eoh?”

**********

 

 

 

 

“Aa…otteokke!” seru Hara begitu panik. Dia tak berhenti bolak-balik di sekitar kamar Kyungsoo. Membuat pusing Luhan serta semua orang yang ada di sana. “Ini sudah hampir dua jam dan Chanyeol belum juga bangun.”

 

“YAA! Do Kyungsoo! Kau tidak sedang mengirimnya ke alam baka sana kan?” tanya Baekhyun.

 

“Apa kau ingin aku melakukannya?” tanya Kyungsoo tenang.

 

“YA! YA!” Baekhyun memperendah nada bicaranya. Bisa berbahaya jika dia sampai membuat Kyungsoo marah.

**********

 

 

 

 

 

 

 

“Berhati-hatilah, Chanyeol… Lakukan yang terbaik… Ingatlah kalau Appa dan Eomma selalu mendampingimu. Kami mungkin tak terlihat di matamu, tapi kami selalu berada di sana…” Park Jungsoo menunjuk ke hati Chanyeol lagi.

 

“Khamsahamnida, Appa…” jawab Chanyeol pelan.

 

“Jangan sering-sering menemui Appa seperti ini. Itu akan membuat Janus senang. Aa… satu lagi, salam untuk gadis itu…” Park Jungsoo mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Chanyeol. Dia kemudian berbalik dan kembali ke sinar yang merupakan tempat dari mana dia muncul tadi. Ia melambaikan tangannya ke Chanyeol, dan perlahan sinar itu menghilang. Begitu pula dengan bayangan di pikiran Chanyeol. Semua menghitam.

 

 

 

 

 

 

 

Chanyeol segera membuka matanya dan menemukan dirinya sudah berada di atas tempat tidur Do Kyungsoo. Di sampingnya, Kyungsoo sedang menatapnya dengan tatapan misterius milik anak itu, sedangkan teman-temannya juga sedang mengelilinginya.

 

“Park Chanyeol!!!” sebuah pelukan menyambut bangunnya Chanyeol.

 

“Hara-yaa…” panggil Chanyeol membalas pelukan Hara. “Neo gwaencana? Apa mereka melukaimu?”

 

Hara menggeleng. Gadis itu saat ini benar-benar lega, Park Chanyeol berhasil kembali dari alam bawah. “Yaa babo-yaa! Kenapa kau tidak sedikit lebih bersabar untuk menungguku? Aku tahu di mana letak kotak Pandora. Itu mudah… kotak itu terletak di dirimu sendiri, Chanyeol-ah!”

 

“Yoo Hara, sebenarnya darimana kau tahu tentang kotak Pandora itu?” tanya Jongdae.

 

“Itu mudah… aku yakin kalian pasti mengira petarung yang ada di lukisan itu adalah Park Jungsoo kan? Itu salah. Dia adalah Chanyeol…” jelas Hara.

 

“Mwo?”

 

“Tertulis jelas di sudut lukisan itu, sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa itu adalah Chanyeol. Ya, di sana tertulis ‘bulan purnama kedua puluh’. Kalian tidak akan pernah bisa membacanya karena kalian adalah penderita diseleksia. Tapi, untuk seorang Athena, mereka tidak mengalami diseleksia.”

 

“Hara-yaa, maksudmu lukisan itu adalah sebuah ramalan tentang Park Chanyeol yang akan bertarung melawan Titania di bulan purnama kedua puluh?” tanya Luhan.

 

“Eung… kau betul, Oppa…”

 

Sementara itu, sebuah sinar dari langit tiba-tiba turun ke tepi danau Empire. Seorang pria tergeletak tak sadarkan diri dan beberapa murid Empire yang menyadari keberadaannya segera berteriak panik. Saat mereka menghampiri pria itu, satu nama yang keluar dari mulut mereka. Oh Sehun.

*********

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Di mana Oh Sehun?” tanya Chanyeol memecahkan keheningan yang terjadi di balai pengobatan selatan. Tidak sedikit murid yang berkumpul di sana. Beberapa dari mereka adalah yang membawa Sehun ke tempat ini. Sebenarnya mereka sedikit ragu dengan keberadaan Sehun di Empire. Identitas Sehun sebagai titan sudah terungkap dan mungkin saja itu sangat membuat khawatir semua orang.

Sehun yang sudah sadar sejak beberapa saat yang lalu hanya bisa tersenyum datar saat Chanyeol, serta yang lainnya akhirnya datang. Namun senyuman Sehun berubah saat dia melihat sosok Im Jangmi berada di antara mereka. Sosok yang sangat ia rindukan, kini berada di hadapannya.

 

“Beri sambutan yang hangat untuk rekan terakhir kalian… Oh Sehun, Archilles ketujuh…” kata Master Yoo dengan raut bahagia di wajahnya.

 

“Mwoo?” seru beberapa orang saat mendengar perkataan Master Yoo.

 

Guru Kwon pun menunjukkan lambang Archilles di tangan kanan Sehun dan itu cukup membuat semua orang yang berada di sana percaya dengan perkataan Master Yoo. Ya. Sekalipun hal itu masih sulit mereka terima. Bagaimana bisa seorang titan terpilih menjadi seorang Archilles?”Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana takdir bekerja. Seperti yang kalian saksikan saat ini… takdir telah memilih Oh Sehun, sebagai Archilles pertama yang berasal dari bangsa titan. Dan Oh Sehun … apa kau ingin melanjutkan takdirmu sebagai Archilles atau menolaknya?”

 

Sehun terdiam. Pandangan matanya tetap berada di Jangmi. Namun, kemudian dia memandangi keenam Archilles yang berada di hadapannya. “Aku harap takdir tidak salah memilih…” dan jawaban dari Sehun berhasil membuat keenam Archilles tersenyum bahagia. Padea akhirnya, anggota dari Archilless pun tergenapi. Tujuh orang Archilles yang siap bertarung melawan Titania sudah lengkap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Jika kotak Pandora berada di dalam diri Chanyeol, itu berdiri kita tidak boleh membiarkan Titania merebutnya dari Chanyeol…” kata Hara membuka rapat dadakan mereka malam itu.

 

“Bagaimana kita bisa tahu kapan dan bagaimana kotak itu direbut dari Chanyeol?” tanya Jong-in.

 

“Aku rasa jika nyawaku terancam, di saat itulah kotak Pandora bisa terebut.”

 

“Baiklah. Sekarang jika kita sudah tahu di mana letak kotak Pandora, kita punya satu lagi pertanyaan yang tidak bisa kita jawab… Di mana kita bisa membunuh raga kedua Titania?” tanya Jongdae.

 

“Kita bisa menjawabnya, Jongdae ya. Ada seseorang dari kita yang bisa menjawab pertanyaan tersebut…” kata Hara sambil tersenyum. Ia kemudian melirik Oh Sehun yang sejak tadi hanya diam di tengah pembicaraan mereka. “Tidakkah kalian memberi hormat pada putra Titania?”

 

“MWOO?” teriak Baekhyun dan Jongdae bersamaan.

 

“Kau bilang Sehun adalah putra Titania?” tanya Baekhyun lagi. Saking kagetnya bola mata pemuda cerewet itu hampir keluar dari cangkangnya.

 

Sehun tersenyum. “Apa itu terlalu mengejutkan?”

 

“Daebakk…” kata Baekhyun lagi. “Seorang putra Titania? Terpilih menjadi Archilles? Daebakk! Kau benar-benar bisa masuk ke dalam sejarah hal-hal luarbiasa Barnsteen, Oh Sehun… aku iri padamu… dan maaf sebelumnya karena aku telah kasar padamu…”

 

Sehun tersenyum kecil pada Baekhyun.

 

“Jadi, apa kau benar-benar tahu di mana raga kedua ibumu berada?” tanya Luhan serius.

 

“Eung…” angguk Sehun. “Dan itu ada di bumi…”

 

“Baiklah….” kata Hara lalu beranjak ke tengah rapat. “Mari kita mulai menyusun rencana, yedeul-aa…”

 

 

 

 

 

 

 

 

Malam ini menjadi malam yang ditunggu-tunggu oleh bangsa Barnsteen maupun titan. Bulan purnama bersinar terang. Dan ini adalah tahun ke dua puluh setelah perang terakhir terjadi. Itu artinya, perang antara bangsa percy dan titan akan segera dimulai. Para titan kini sedang berada di dalam perjalanan mereka memasuki hutan Demos, satu-satunya akses agar mereka bisa masuk ke Barnsteen.

 

Guru Kim, percy yang paling berpengalaman dalam urusan perang, memimpin pasukannya untuk menjaga tepat di depan hutan Demos. Di sampingnya, berdiri juga Guru Song, petarung wanita yang pernah bertarung bersamanya di perang dua puluh tahun yang lalu.

 

“Aku bisa merasakan tanda-tanda mereka sudah dekat…” gumam Guru Kim.

 

“Kau siap, Guru Kim?” tanya Guru Song.

 

“Tentu saja… kita tidak boleh kalah dengan para anak muda itu…”

 

 

 

 

Sementara itu dari puncak kastil Empire, telah siap tiga ekor kuda terbang untuk membawa terbang tiga Archilles yang akan membunuh raga kedua Titania. Mereka adalah Kim Jongdae, Byun Baekhyun, dan tentunya Oh Sehun, satu-satunya orang yang tahu di mana letak raga kedua Titania.

 

“Para titan mungkin saja akan menyusul kalian ke bumi… jadi berhati-hatilah.” pesan Luhan. “Terutama kau, Oh Sehun…”

 

“Arasseo. Aku bisa merasakan seberapa besar dendam ibuku padaku.”

 

“Sehun-ah…” panggil Jangmi. Gadis itu pun segera memeluk Sehun dan kembali menangis.

 

“Aigoo… kenapa kau begitu cengeng sih, Jangmi?” tanya Baekhyun.

 

“Jaga dirimu baik-baik… kau tahu kalau kau selalu membuatku khawatir?” tanya Jangmi.

 

“Dan aku tidak akan mengulanginya lagi setelah ini…” Sehun membelai kepala Jangmi lalu perlahan mempertemukan bibir mereka. Melihat adegan tersebut, Jongdae dan yang lainnya hanya bisa memalingkan wajah mereka. Ya. Di saat-saat seperti ini, pura-pura tidak berada di sana adalah hal yang paling tepat.

 

“Im Jangmi… jangan membuang-buang waktu kami. Kalian bisa melakukannya nanti, setelah kita menang.” tegur Baekhyun yang membuat pasangan kekasih itu melepaskan ciuman mereka dan tertawa. Dan, tanpa menunggu berlama-lama lagi… ketiga Archilles itu pun segera berangkat menuju bumi.

*******

 

 

 

 

 

 

 

 

“Malam ini juga… perang antara bangsa percy dan titan akan segera terealisasikan. Perang yang selama ini hanya kalian dengar dan pelajari dalam sejarah saja, akan segera terwujudkan. Kami, para guru Empire, percaya sepenuhnya terhadap kalian. Kalian adalah para murid Empire, kalian adalah pahlawan-pahlawan Empire. Jadi, persiapkan diri kalian… hadapi rasa takut kalian dan mari kita semua melindungi Barnsteen serta dunia!”

 

“HUUUUHH!!” sorak-sorai para murid Empire terdengar. Mereka semua telah siap dengan senjata mereka masing-masing. Dan sesaat setelah mendengar pesan dari Master Yoo, mereka semua bubar dan menuju ke tempat masing-masing. Strategi perang kali ini, dirancang langsung oleh Athena andalan Empire, Yoo Hara.

 

“Jangan pernah menjauh dariku apapun situasinya…” pesan Chanyeol.

 

“Arasseo. Aku tidak mungkin jauh darimu karena aku akan melindungimu…”

 

“Mwo? Bukan aku yang akan melindungimu?” tanya Chanyeol lagi.

 

“Aniyo. Aku punya Luhan-oppa yang akan melindungiku…” ejek Hara yang berhasil membuat Chanyeol kesal.

 

“Berhenti menyebutkan nama pemuda itu atau aku akan membunuhnya terlebih dahulu sebelum aku membunuh titan…” ancam Chanyeol dengan wajah seriusnya. Tapi itu malah membuat Hara tertawa.

 

“Aku mendengarnya…” sahut Luhan dari jauh.

 

[ Hutan Demos ]

 

“Kris, pergi dari rombongan dan ikuti Oh Sehun. Aku tahu kalau dia benar-benar akan menjadi pengkhianat sejati. Dia sedang menuju ke tempat di mana raga keduaku berada…”

 

“Algeutseumnida…” jawab Kris. Dia kemudian memacu kuda yang ditungganginya lalu terbang ke udara menuju bumi.

 

“Kalian berdua…” kata Titania kepada Chansung dan Tao. “Bunuh siapapun yang ingin kalian bunuh, tapi serahkan Zeus itu padaku. Dia akan mati di tanganku malam ini juga…”

 

Dan, pertarungan malam ini pun dimulai.

 

TO BE CONTINUED

 

 

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The Archilless (Chapter 11)”

  1. kyaaaaa senangnya,,berasa bnget petualanganya,,n keteganganya,,jg kecemburuanku pd jangmi,,huhuhuu dia diciym sehunnnnn,,, tp aku mw baekhyun aj denk,,wkwkwww

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s