[EXOFFI FREELANCE] DREAM (Chapter 2 – REAL?)

DREAM - CHAPTER 2 (REAL).jpg

DREAM – CHAPTER 2 ( REAL? )

Author: Azalea
Cast : Byun Baekhyun (EXO), Bae Suzy (Miss A)
Genre : Romance, Sadness.
Rating : +17
Length : Chapter
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Kalian juga bisa baca ff ku ini di wattpad. Nama id ku mongmongngi_b, dengan judul cerita DREAM. Jangan plagiat, ataupun me re-upload ff ini tanpa sepengetahuanku.

Cerita Sebelumnya : CHAPTER 1 ( DREAM )

 

~ Suzy Side ~

Aku sangat bingung apakah aku harus datang ke acara reuni sekolah atau tidak sama sekali?  Tapi kalau aku tidak datang, alasan apa yang harus aku ungkapkan pada teman-temanku nanti?

Aku tahu kalau semua teman-temanku mengetahui kebangkrutan perusahaan keluargaku karena appa telah tertipu oleh sebuah investasi palsu, dan mereka memakluminya bahkan sampai sekarang mereka masih tetap mau berteman denganku walaupun aku sudah bukan orang kaya lagi seperti dulu. Pertunanganku dengan Myungsoo pun dibatalkan hanya karena keluargaku yang jatuh bangkrut.

Entah kenapa acara reuni untuk tahun ini aku merasa berat untuk hadir di dalamnya. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak pada mereka yang selama ini telah membantuku karena tidak bisa datang ke acara ini. Dan pada akhirnya sekarang aku sedang berdiri di depan sebuah restoran Italia yang memang sangat terkenal di Seoul tempat di mana acara reuni ini diadakan.

Dengan berat hati aku membuka pintu masuk ke restoran dan langsung memasang wajah ceriaku agar semua teman-temanku tidak ada yang khawatir dengan keadaanku saat ini. Setelah pintu terbuka aku bisa melihat kumpulan orang-orang dengan stelan mewahnya sedang berkumpul di beberapa meja yang dikumpulkan menjadi satu membentuk sebuah perkumpulan.

Aku merasa menjadi kecil saat menyadari jika tampilanku saat ini sangat tidak cocok dengan acara yang sedang diadakan ini. Aku hanya memakai sebuah kemeja kotak-kotak dengan sebuah celana jeans kusam, sepatu sneaker merah dan sebuah tas slempang kain yang kusam juga. Rambut coklat panjangku aku ikat ekor kuda.

Untuk membeli sebuah stelan pakaian yang layak pakai saja aku harus berhemat selama sebulan penuh. Kuhembuskan napas dalam untuk menghampiri mereka. Dan saat aku sudah berada di dekat mereka, Jinri menyadari kedatanganku dan langsung mengumumkan kedatanganku pada teman-teman yang lain dan langsung membuat semua perhatian mereka teralihkan padaku yang baru saja datang.

“Suzy-ya…!!” panggilnya dengan ceria sambil melambaikan tangannya padaku dan hanya aku tanggapi dengan senyuman saja. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya saat aku sudah duduk di samping kirinya. Aku bisa melihat semua tatapan tertuju padaku, mungkin karena terlalu penasaran dengan keadaan seorang dewi sekolah saat ini.

“Aku baik-baik saja. Kalian lihat sendirikan?” jawabku sambil tersenyum ceria ke arah mereka guna menyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja setelah musibah itu datang menimpa keluargaku. Walaupun sebenarnya aku sangat tidak baik-baik saja tapi aku tidak mau membuat teman-temanku semakin mengasihaniku.

Selama beberapa saat perhatian semua orang terus tertuju padaku, tapi itu tidak berlangsung lama sampai mereka kembali pada urusan masing-masing. Dan aku hanya bisa menghela napas lega saat perhatian mereka kembali teralihkan.

“Kau bisa makan apapun yang kau inginkan di sini, aku akan mentraktirmu.” Bisik Jinri padaku mungkin karena dia menyadari kekhawatiranku akan harga makan di sini. Padahal sebenarnya aku sudah memperkirakan berapa harga makanan di sini yang harus aku bayar, dan untuk mengantisipasi itu aku sudah meminjam beberapa ratus ribu won pada Eunji. Tapi karena Jinri sahabatku dengan baik hati mau mentraktirku, aku akan menerima tawarannya saat ini.

“Gomawoyo.” Bisikku padanya. Kemudian kami saling tersenyum. Selama beberapa saat kami saling tukar cerita selama setahun ini kami tidak bertemu. Semua orang begitu larut akan percakapan masing-masing sampai suatu ketika semua keributan akan percakapan kami tiba-tiba tidak ada lagi suara percakapan terdengar.

Semua orang begitu hening, tidak ada yang berbicara sama sekali. Aku bingung dengan keadaan ini sampai aku mengikuti arah pandangan dari semua orang yang menuju pada satu orang yang baru saja datang dengan stelan kemeja putih yang sudah kusut karena tangannya dia gulung sampai ke sikunya.

Sebuah jas biru dongker yang sewarna dengan celana kain yang dia gunakan hanya ia sampirkan di lengannya. Rambut kecoklatannya dia angkat ke atas dengan sedikit kusut. Kaca mata kotaknya dia lepaskan, dan menampilkan mata lelahnya.

Aku sangat terpesona dengan tampilannya saat ini sampai-sampai mataku tidak berkedip sama sekali saat dia duduk tepat di depanku. Aku tidak mengenali sosok yang saat ini berada di depanku. Siapa dia sebenarnya? Seingatku tidak ada orang seperti sosoknya di kelas kami. Lantas siapa sebenarnya dia? Sebuah bisikkan terdengar di telingaku.

“Dia Baekhyun. Kau ingat?” bisik Jinri padaku dan menyadarkanku dari lamunanku pada sosok laki-laki itu. Aku begitu terkejut akan ucapan Jinri padaku yang langsung membuatku mengalihkan pandanganku pada sosok tersebut. Byun Baekhyun? Pandangku padanya, dan kebetulan sekali saat aku memandangnya, dia juga sedang memandangku.

Tatapan mata kami bertemu, dan aku bisa melihat warna mata hitam tegas itu. Ya, benar. Dia memang Baekhyun. Baekhyun yang merupakan siswa paling aneh sesekolah sekarang jadi Baekhyun yang paling mempesona.

Selama beberapa saat kami hanya saling tatap, sampai seseorang di samping kiri Baekhyun, Kim Minseok, menyapanya dan mengajak dia untuk berbicara. Aku terus memperhatikannya saat dia berbicara dengan orang lain.

Tiba-tiba aku kembali teringat akan perasaan yang terasa nyata dari mimpiku dulu saat SMA. Perasaan bahagia, sakit, sedih, dan kecewa dari mimpi itu yang aku rasakan kembali saat melihat wajahnya. Sesak. Rasanya sangat sesak saat ini hingga aku tidak sadar sudah meminum segelas bir hanya dalam sekali teguk.

Ternyata perasaan itu masih ada, padahal ini sudah lebih dari 10 tahun sejak aku bermimpi seperti itu, tapi tetap saja, semuanya tidak ada yang berubah. Kembali ku tegak gelas bir ku yang baru saja aku isi hingga hanya tersisa setengahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jinri khawatir padaku.

“Ya, aku baik-baik saja.” Jawabku padanya.

“Aku tahu kau sangat terpesona akan penampilannya saat ini, tapi tidak baik juga jika kau langsung meminum birmu sebegitu banyaknya di saat kau belum makan apa-apa.” Kata Jinri lagi.

“Aku harus ke toilet sebentar.” Kataku mengabaikan perkataan Jinri barusan. Saat aku berdiri dari tempat dudukku, aku bisa merasakan sebuah tatapan sedang memperhatikan setiap gerak-gerikku tapi aku berusaha untuk mengabaikannya dan langsung menuju tempat tujuanku saat ini.

Kenapa dia harus datang saat ini? Setelah 10 tahun tidak bertemu, sekarang berani-beraninya dia mengobrak-ngabrik perasaanku padanya. Selama 10 menit berada di toilet berusaha menenangkanku dari perasaan sesak ini, akhirnya aku memberanikan diri untuk kembali pada acara reuni sekolah tadi.

Tapi saat aku berjalan menuju ke tempat berkumpulnya teman-temanku, aku bisa melihat seorang gadis blasteran yang tidak aku kenal sedang duduk di samping Baekhyun, dan aku merasa Baekhyun tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran gadis tersebut.

Siapa sebenarnya gadis itu? Aku mencoba mengingat siapa tahu ada seorang siswi di kelas kami yang tidak aku kenal. Tapi seingatku tidak ada yang seperti dia di kelas kami. Dengan perasaan penasaran yang tinggi, aku menghampiri meja itu dan duduk di tempatku semula masih dengan memperhatikan kedua sejoli yang sedang bercengkrama sambil tersenyum itu dengan tatapan bingung.

“Dia Shannon. Junior Baekhyun di SUH. Dia cantik bukan?” kata Jinri seakan tahu apa isi pikiranku saat ini. Ku alihkan pandanganku pada Jinri karena bingung bagaimana dia bisa tahu siapa gadis itu.

“Baekhyun tadi memperkenalkannya pada kami.” jawab Jinri lagi seakan tahu pertanyaan apa yang akan aku ajukan padanya. Aku hanya diam, tidak tahu harus menanggapi apa akan perkataan Jinri tentang gadis yang begitu akrab dengan Baekhyun itu.

Entah kenapa saat melihat keakraban mereka membuat perasaanku sangat sesak. Cemburu. Kenapa aku begitu cemburu pada gadis itu, Shannon. Aku terus meminum bir sampai aku lupa sudah gelas keberapa yang aku minum karena aku masih saja belum merasa mabuk sama sekali.

Walaupun Jinri sudah melarangku untuk kembali minum tapi aku terus saja mengabaikannya. Hingga pengaruh alkohol mulai aku rasakan, seperti kepala pusing rasanya berputar-putar, pikiranku sudah tidak fokus, dan juga kesadaran mulai menghilang, barulah aku berhenti minum. Saat aku mencoba untuk terus membuka mata tapi aku tidak bisa melakukannya hingga pada akhirnya aku jatuh pingsan karena terlalu banyak minum bir.

Sebuah kilauan sinar matahari pagi aku rasakan menusuk wajahku yang mau tidak mau membuatku terusik dari tidurku. Walaupun mataku masih berat untuk terbuka, perlahan kesadaran mulai aku kumpulkan.

Sedikit bergeliat dari posisi tidurku, aku membalikkan badan ke arah lain, karena masih malas untuk membuka mata. Tapi saat aku menghadap berlawanan arah dengan posisi tidurku, aku bisa merasakan sebuah helaan udara hangat yang keluar dari napas seseorang.

Kaget karena aku merasakan seseorang tidur denganku, dengan segera aku membuka mata untuk melihat siapa orang tersebut. Dan seketika mataku membulat sempurna saat melihat siapa orang yang sedang tidur denganku.

Byun Baekhyun? Kenapa aku bisa tidur dengannya? Pikirku saat sedang menatap wajah damai tidurnya itu. Aku masih bingung dengan keadaan yang tiba-tiba ini, hingga aku tersadar akan sesuatu yang ganjil.

Aku bisa melihat pundak polos Baekhyun yang tidak tertutupi selimut. Oh tidak! Sesuatu yang tidak mengenakan tiba-tiba aku rasakan. Aku tidak memakai sehelai benangpun untuk menutupi tubuhku kecuali selimut putih yang sedang aku kenakan saat ini.

Perasaan takut tiba-tiba menghantuiku saat menyadari jika keadaan Baekhyun tidak jauh berbeda denganku saat ini. Apa benar aku sudah tidur dengannya? Aku mencoba mengingat kejadian semalam, tapi aku sama sekali tidak mengingat apapun selain aku yang jatuh pingsan di acara reuni sekolah.

Saat aku sedang mengamati wajah tidur dari Baekhyun, aku melihat dia sedikit menggeliat dan aku segera kembali menutup mataku, takut jika sewaktu-waktu Baekhyun akan membuka matanya dan keadaan kita malah menjadi canggung.

Dan benar saja, walaupun aku tidak membuka mata tapi aku bisa merasakan dia sedang mengamatiku yang sedang berpura-pura tidur di sampingnya. Tidak lama kemudian aku bisa merasakan sebuah benda kenyal sedang mencium lembut bibirku mungkin takut akan membangunkanku. Entah kenapa jantungku berdetak dengan kencangnya saat dia mencium bibirku.

Berciuman dengan Myungsoo saja tidak pernah membuatku sampai seperti ini. Tidak lama kemudian aku merasakan sebuah gerakan yang menandakan dia beranjak dari tempat tidur ini. Perlahan aku membuka sedikit mataku untuk melihat keadaan, tapi yang aku dapatkan malah sesuatu yang semakin mempertegas keadaanku dan Baekhyun saat ini.

Aku melihat tubuh polosnya dari belakang sedang berjalan menuju ke sebuah ruangan yang aku perkirakan adalah sebuah kamar mandi karena tidak lama kemudian aku mendengar suara gemericik air yang menandakan dia sedang mandi.

Jadi benar semalam itu aku sudah tidur dengan Baekhyun? Laki-laki yang sudah 10 tahun ini tidak aku ketahui keadaannya seperti apa, tapi langsung saja tidur dengannya. Bodoh. Ini pasti karena aku semalam terlalu banyak minum bir dan sekarang aku tidak mengingat sama sekali kejadian itu.

Saat suara pintu kamar mandi akan dibuka, aku kembali memejamkan mata pura-pura tidur kembali. Aku benar-benar tidak sanggup jika harus bertatap muka dengannya yang malah akan membuat kami canggung karena selama ini aku tidak pernah dekat dengannya.

Aku sedikit mengintip apa yang sedang dia lakukan saat ini. Walaupun tidak terlalu jelas tapi aku bisa melihat dia sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dan tidak lama kemudian dia kembali berjalan ke arah tempat tidur yang membuatku kembali menutup mata rapat.

Tempat tidur sedikit bergerak karena dia duduk di tepiannya tapi tidak lama. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat ini. Aroma maskulin tercium jelas dari tubuhnya yang berada dekat denganku, membuatku mabuk akan aromanya.

Sebuah kecupan kembali dia berikan pada dahiku yang mana malah membuat detak jantungku berdetak semakin kencangnya. Tidak lama kemudian aku mendengar sebuah suara pintu ditutup menandakan kalau dia sudah tidak ada di kamar ini. Segera aku membuka mata dan mengelus dada karena debaran jantungku yang menggila.

Saat aku menolehkan kepala ke atas nakas dekat tempat tidur, aku bisa melihat sebuah pesan dengan tulisan tangan rapihnya.

To Bae Suzy

Selamat pagi.

Maaf tidak membangunkanmu. Aku harus berangkat kerja karena hari ini aku ada operasi pagi.

Kau bisa memakai bajuku yang mana saja yang kau mau, karena baju yang kau pakai semalam kena muntahanmu.

Kalau kau lapar, kau bisa memasak apapun bahan makanan yang ada di kulkas.

Byun Baekhyun

Saat membaca pesannya entah kenapa membuatku tersenyum bahagia. Walaupun tidak ada kata-kata romantis yang dia tuliskan tapi aku bahagia membacanya. Saat aku melihat jam yang terdapat di atas nakas, mataku semakin membulat.

Jam 8 pagi? Oh, tidak. Aku terlambat kerja. Segera saja aku beranjak dari tempat tidur dengan menggulung selimut yang aku kenakan untuk menutupi tubuh polosku. Saat aku mulai melangkah, aku sedikit merasa ngilu pada tubuh bagian bawahku, mungkin ini dikarenakan pertama kalinya aku tidur dengan seorang pria.

Dengan perlahan-lahan aku kembali melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Tidak butuh waktu lama untukku mandi karena itu bukan kebiasaanku. Dengan memakai jubah mandi Baekhyun, aku berjalan menuju lemari pakaiannya, mencari sebuah kaos ataupun jaket yang bisa aku pakai.

Kemudian aku memilih salah satu kaos warna hitamnya dan sebuah hoodie warna kuning miliknya. Setelah memakai semua pakaiannya, segera saja aku keluar dari kamarnya. Aku sedikit melihat-lihat keadaan apartemen milik Baekhyun. Bentuknya minimalis, dengan didominasi warna hitam, putih dan coklat, seperti rumah laki-laki pada umumnya.

Penataan interiornya sangat rapih untuk ukuran tempat tinggal seorang laki-laki. Saat aku buka isi lemari esnya, semuanya terisi penuh dan rapih juga. Aku mengambil sebuah selai stroberi, roti sobek dan sebuah kotak susu yang ada di dalam lemari esnya.

Walaupun sedikit lancang tapi karena dia sudah mengijinkannya dan semalam aku belum makan apapun makanya aku ambil saja makanan yang ada. Setelah membereskan semua sisa-sisa makanan aku segera pergi untuk meninggalkan apartemen Baekhyun. Sebelum pergi aku tulis sebuah note di lemari esnya.

To Baekhyun

Terima kasih atas makanannya. Untuk pakaiannya, aku pinjam untuk sementara waktu, jika kita bertemu lagi, akan aku kembalikan padamu.

Aku pergi, maaf tidak pamitan padamu.

Bae Suzy

Saat aku sampai di tempat kerjaku di sebuah cafe di Seoul, Eunji menatapku bingung dan aku menatap dia bingung juga. Aku segera mengganti pakaianku dengan seragam kerjaku dan menghampiri Eunji yang berada di meja kasir.

“Waeyo?” tanyaku bingung karena dia terus memperhatikanku dari mulai masuk ke cafe sampai sekarang aku berada di sampingnya.

“Kau memakai pakaian siapa?” tanyanya padaku.

“Oh, itu punya temanku.” Jawabku acuh padanya.

“Kau tidur dengan seorang pria?” tanyanya kembali padaku yang langsung membuat mataku membulat sempurna. Bagaimana bisa dia mengetahuinya?

“Ya! Jaga ucapanmu.” Bisikku dengan gugup. “Aku hanya meminjamnya, dia salah satu teman sekolahku dulu karena semalam aku mabuk dan aku mengotori pakaianku dengan muntahanku sehingga dia meminjamkan pakaiannya padaku.” Jelasku padanya tapi tidak membenarkan jika aku sudah tidur dengan Baekhyun karena itu sangat memalukan dan aku sendiri tidak mengingat kejadian itu.

“Oh..” katanya mencoba percaya pada ucapanku. Kemudian kami kembali bekerja, aku dan Eunji sudah bekerja selama 5 tahun di sini sehingga membuat kami bersahabat dekat, apartemen saja kami menyewanya untuk berdua.

Sudah seminggu sejak kejadian itu, aku dan Baekhyun tidak saling berhubungan sama sekali. Mungkin dia menganggap bahwa kejadian malam itu hanya sebatas one night stand saja, karena sampai sekarang aku belum juga mengingat detail kejadian malam itu.

Hingga suatu sore kami bertemu kembali saat dia memasuki cafe dengan masih mengenakan stelan jas berwarna hitamnya. Rambut coklatnya dia angkat ke atas, dan sebuah kaca mata kotak menghiasi matanya yang tampak sayu karena capek.

Dia berjalan ke arahku sambil menampakkan senyumnya yang kembali membuat detak jantungku berdetak kencang saat melihatnya. Entah kenapa aku begitu gugup saat dia sudah berada di hadapanku dengan senyumannya itu.

“Hai.” Sapanya padaku saat kami berhadapan.

“Hai.” Balasku sedikit gugup.

“Aku tidak menyangka ternyata kau bekerja di sini.” Katanya lagi yang tidak aku jawab sama sekali. Eunji menyenggol tanganku membuatku menoleh padanya. Dari tatapan matanya aku bisa melihat dia bertanya siapa laki-laki tampan yang sedang berdiri di hadapanku.

“Ah, perkenalkan dia Eunji. Eunji, ini Baekhyun teman sekelasku dulu.” Kataku yang langsung membuat Eunji tersenyum lebar.

“Byun Baekhyun.” Kata Baekhyun untuk berkenalan dengan Eunji.

“Jung Eunji.” Jawab Eunji sambil menyambut uluran tangan Baekhyun dengan senang hati, yang membuatku merasakan perasaan cemburu yang tidak beralasan pada mereka.

Kemudian Baekhyun mengalihkan perhatiannya kembali padaku.

“Aku ingin membeli sebuah kue ulang tahun.” Katanya menyadarkanku dari lamunanku.

“Kue ulang tahun?” tanyaku bingung.

“Ya, hari ini ulang tahun ibuku.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Ah, iya. Kau pilih yang mana?” tanyaku lagi padanya.

“Hmm,,aku bingung. Bagaimana jika kau yang memilihkannya?” tawarnya padaku yang mana membuatku semakin gugup karena ucapannya.

“Hm…” aku sedikit berpikir sejenak saat melihat deretan kue, menimang-nimang kue mana yang cocok. “Bagaimana kalau yang ini?” tawarku padanya pada sebuah kue tart yang di pinggirnya dihiasi oleh coklat batang puting yang membentuk sebuah pagar dan di atasnya terdapat beberapa potongan buah segar.

“Aku suka. Baiklah, aku ambil yang itu.” Katanya tanpa pikir panjang.

“Kau mau membuat kartu ucapan di atasnya dengan coklat batang?” tanyaku.

“Boleh. Ah, tunggu sebentar.” Kulihat dia mengeluarkan handphonenya untuk menerima sebuah panggilan. Aku bisa mendengar dia sedikit marah-marah saat menerima panggilan tersebut karena dia tidak beranjak menjauh saat menerima panggilan tersebut.

“Tidak. Aku tidak mau, kau suruh saja dokter lain.” Katanya sedikit jengkel. “Kau pikir aku robot? Aku sudah melakukan operasi sebanyak 4 kali dari semalam dan sekarang kau menyuruhku untuk mengoperasi lagi? Bukankah masih ada Joonmyun?” kulihat dia menghela nafas dalam sambil memijat tengkuknya sambil mendengarkan penjelasan dari seberang telepon sana.

“Aku butuh istirahat dan hari ini ulang tahun ibuku.” Masih tolak Baekhyun pada orang di seberang sana dengan memejamkan matanya. “Baiklah, baiklah, aku akan kembali ke rumah sakit tengah malam nanti, kau puas?” katanya kesal sambil memutuskan secara sepihak panggilan telepon itu.

Saat dia menolehkan wajahnya kembali padaku, aku bisa melihat raut wajah lelahnya yang tercetak jelas.

“Berapa harganya?” katanya dengan suara yang sedikit dingin berbeda dengan saat dia pertama kali datang ke cafe ini. Mungkin moodnya hancur karena panggilan darurat tadi.

“80.000 won.” Jawabku sambil menyerahkan bungkusan kue padanya.

“Terima kasih.” Katanya padaku sambil menyerahkan beberapa lembar uang padaku. “Aku pergi.” Katanya sambil berlalu dari hadapanku. Dan entah kenapa aku sedikit kecewa dengan sikapnya saat dia pamitan pergi.

“Jangan cemberut seperti itu. Kau sangat jelek.” Bisik Eunji menyadarkanku.

“Aku sedang tidak cemberut. Aku sedang tersenyum, lihat!” kataku padanya sambil menampilkan senyum paksaku padanya. Dan aku bisa mendengar dia tertawa terbahak-bahak meledek sikapku. Melihat sikap Baekhyun seperti itu mood ku jadi ikutan hancur.

Beberapa hari kemudian, Baekhyun kembali datang ke cafe tapi dengan mood yang baik. Selama beberapa hari dia terus saja datang ke cafe, baik itu hanya memesan kopi ataupun makan malam. Kami menjadi dekat dengan sendirinya.

Bertukar nomor handphone, membuat kami bisa saling bertemu dan berkomunikasi kapanpun kami mau. Dan sampai sekarang aku masih belum mengingat kejadian di malam itu, karena aku tidak berani menanyakan hal yang sebenarnya pada Baekhyun.

Hari ini aku ada janji untuk makan malam dengannya, dan dia akan menjemputku di cafe tempat aku bekerja. Ku lihat sebuah audi r8 warna hitam sudah terparkir dengan manisnya di depan cafe yang menandakan kalau Baekhyun sudah sampai. Segera saja aku keluar menghampirinya yang sudah menungguku.

“Hai.” Sapaku saat aku memasuki mobilnya, membuatnya mengalihkan perhatian dari handphone yang sedang dia pegang.

“Hai.” Jawabnya sambil tersenyum manis padaku menyamarkan rasa lelah yang terlihat sekali dari matanya yang tertutupi kaca mata. “Kau mau makan di mana?” tanyanya saat dia sudah melajukan mobilnya.

“Ke manapun kau membawaku, aku akan setuju saja.” Jawabku sambil mengamati pemandangan di luar jendela sana.

“Baiklah.” Jawabnya. Kemudian kami berhenti di sebuah restoran korea, dan memesan seporsi samgyupsal. Kami makan sambil minum bersama. Saat keadaan mabuk mulai menyerangku, aku menjadi berani untuk bertanya pada Baekhyun tentang kejadian di malam itu.

“Aku ingin bertanya padamu.” Tanyaku sambil meneguk segelas kecil berisi bir sampai habis.

“Katakan saja.” Jawab Baekhyun yang juga sudah sedikit mabuk.

“Aku bertanya karena aku sungguh tidak ingat kejadian beberapa minggu lalu.”

“Beberapa minggu yang lalu?” tanya Baekhyun mencoba untuk mengingat sesuatu.

“Hm,, saat aku tidur denganmu. Aku hanya ingat saat aku jatuh pingsan di restoran itu dan saat aku membuka mata aku sudah ada di kamarmu.” Kataku sedikit mengantuk tapi aku berusaha untuk tetap sadar.

“Ah, yang itu. Kau sungguh tidak mengingatnya?” tanya Baekhyun padaku.

“Kalau aku mengingatnya aku tidak akan mengungkit kejadian memalukan itu di hadapanmu dan akan menganggap itu hanya sebatas one night stand saja.” Kataku sambil meneguk kembali gelas birku.

“Aku minta maaf atas kejadian itu. Sungguh aku tidak bermaksud meniduri wanita yang sedang mabuk, aku ingin mengantarmu pulang, tapi saat aku mencari dompetmu untuk melihat alamat tempat tinggalmu, kau tidak membawanya sama sekali yang pada akhirnya aku membawamu ke apartemenku.

Saat sampai di apartemen kau langsung muntah dan mengotori kemeja yang kau gunakan, membuatku terpaksa melepaskannya. Setelah aku menaruh pakaian kotormu di kamar mandi aku melihatmu sedang menangis dan berkata jangan tinggalkan dirimu seperti di mimpi. Aku tidak mengerti dengan ucapanmu waktu itu. Kau terus berbicara tentang bayi yang meninggal sambil menangis, karena kau terus menangis pada akhirnya aku memelukmu dan itu berhasil membuatmu untuk berhenti menangis.” Jelasnya, kemudian ku lihat dia meneguk kembali bir yang ada di hadapannya. Mataku sudah sedikit sayu karena mabuk tapi kesadaranku masih ada.

Sekarang aku sedikit ingat akan kejadian malam itu, berawal di mana saat Baekhyun akan pergi, tiba-tiba aku tersadar dari pingsanku dan memintanya untuk mengantarkan aku pulang. Dengan wajah bingung akhirnya Baekhyun mau mengantarkan aku pulang dalam keadaan mabuk.

Saat sampai di apartemen Baekhyun, aku memang muntah dan mengotori kemeja putihnya itu dan kemejaku juga. Dia kemudian membopongku masuk dan menidurkanku di tempat tidurnya. Saat dia kembali dari kamar mandi hanya dengan celana kainnya, tiba-tiba aku duduk dan menangis tersedu-sedu mengingat perasaan dari mimpi itu.

Aku menangis di pelukkannya, dan aku ingat jika aku yang menciumnya duluan. Ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman panas, dan pada akhirnya kami tidur bersama. Ya sekarang aku ingat bagaimana kejadiannya.

“Ah, sekarang aku ingat bagaimana kejadiannya.” Kataku sambil meminum kembali bir yang ada di hadapanku.

“Kau terus berbicara tentang mimpi. Sebenarnya apa yang kau mimpikan saat itu hingga membuatmu terus saja menangis?” tanyanya dengan mata sedikit terpejam.

“Hm..” aku tersenyum kecut saat mengingat mimpi konyol yang telah sukses membuat perasaanku kacau balau. “Mimpi itu sangat rumit. Walaupun itu hanya sebatas mimpi, tapi buatku itu terasa sangat nyata.” Aku meminum kembali bir untuk memperlancar ceritaku pada Baekhyun. Kulihat dia sedang memperhatikanku dalam.

“Aku bermimpi menikah denganmu dan memiliki anak darimu. Tapi saat aku akan melahirkan kau tidak ada di sisiku. Aku terus berteriak meminta tolong padamu, tapi kau sama sekali tidak ada di sampingku. Sampai pada suatu ketika aku tidak merasakan apa-apa dan mataku berat untuk terus membuka. Saat itu aku sakit, aku sangat sakit tapi kau tidak ada.” Aku berhenti sejenak untuk meminum kembali birku dan tanpa terasa sebutir air mata jatuh dari mataku.

“Perasaan itu sangat nyata, dan selama ini aku takut. Aku takut akan perasaan kehilangan itu. Bayiku, ayah dari bayiku, eomma, appa. Aku benar-benar sendirian. Saat aku melihat wajahmu, aku sungguh takut.” Kataku sambil menangis dengan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

“Ayo kita pergi.” Ajak Baekhyun sambil menarik salah satu tanganku membuatku terpaksa berdiri. Baekhyun terus menyeretku menuju ke sebuah hotel yang berada di seberang restoran yang kami kunjungi.

Dengan mata yang masih mengalirkan air mata, aku terus mengikutinya. Cengkraman tangannya pada pergelangan tanganku sangat kuat. Walaupun aku sudah banyak minum bir, tapi kesadaranku masih tetap terjaga.

Kulihat resepsionis menatap kami bingung saat Baekhyun memesan sebuah kamar padanya, tidak lama kemudian resepsionis itu memberikan sebuah kunci kamar hotel. Sebenarnya aku takut akan apa yang Baekhyun lakukan, tapi pikiran dan tubuhku bertindak tidak sejalan dengan semestinya.

Aku terus mengikutinya sampai di depan sebuah kamar bertuliskan 1550, dengan cekatan Baekhyun membuka pintu kamar tersebut dengan masih menggenggam tanganku. Setelah pintu tertutup Baekhyun langsung menciumku kasar.

Saat kami melepaskan tautan kami, dia menatapku dalam.

“Aku tidak akan membuatmu merasakan perasaan itu lagi. Aku janji. Saranghae.” Katanya dengan suara seraknya. Kemudian kami berciuman kembali, dan perlahan Baekhyun menuntunku menuju tempat tidur tanpa melepaskan tautan kami.

Dia merebahkanku dengan lembut di atas tempat tidur hotel ini. Kami kembali memadu kasih kami, walaupun dalam keadaan mabuk tapi aku masih bisa mengingatnya karena aku tidak sepenuhnya mabuk.

Saat sinar matahari pagi menyinari kamar hotel ini, membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Saat kesadaran mulai aku dapatkan, aku bisa merasakan sebuah tangan besar sedang memelukku dari belakang.

Aku merasakan sebuah benda asing sudah tersemat di jari manis kiriku. Dan saat aku melihatnya, membuatku tersenyum malu dan bahagia saat mengingat kejadian semalam. Sebuah cincin emas putih yang dihiasi beberapa butir berlian dan di tengahnya terdapat sebuah pita kecil tersemat dengan pasnya di tanganku.

Semalam Baekhyun melamarku, walaupun bukan sebuah lamaran yang romantis karena Baekhyun mengungkapkannya sesaat setelah kami bercinta tapi bagiku itu kenangan yang romantis. Aku terus tersenyum saat melihat cincin ini.

Ku rasakan sebuah gerakan sangat perlahan dari orang yang sedang memelukku, menandakan jika dia sudah mulai bangun dari tidurnya. Kurasakan sebuah kecupan lembut dia berikan pada pundakku yang polos.

“Selamat pagi.” Sapanya dengan suara seraknya yang mana membuatku menolehkan wajahku untuk menghadapnya yang ada di belakangku. Saat wajah kami saling bertatapan, ku kecup singkat bibirnya, membuat dia tersenyum bahagia padaku.

“Selamat pagi juga.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

“Kau menyukai cincin itu?” tanyanya padaku.

“Hm..” anggukku padanya.

“Sebenarnya aku sudah mempersiapkan cincin itu sejak 5 tahun yang lalu. Itu merupakan gaji pertamaku sebagai dokter, tapi karena aku tidak berani untuk mendatangimu makanya baru sekarang aku memberikannya padamu.” Jelasnya padaku.

Kemudian dia kembali mendekatkan wajahnya padaku, membuat kami kembali berciuman tapi tidak berlangsung lama saat kami mendengar panggilan telepon dari handphonenya Baekhyun. Dengan berat hati dia melepaskan tautan kami dan mencari keberadaan handphonenya.

Setelah menemukan keberadaan handphonenya, segera saja dia mengangkatnya dengan wajah yang di tekuk membuatku sedikit mencubit hidungnya karena gemas melihatnya seperti itu.

Waeyo?” tanya Baekhyun langsung to do point pada orang di seberang sana. “Bukankah masih ada Kyungsoo? Kenapa selalu harus aku? Aku akan kembali ke rumah sakit jam 10. Sudah ku bilang aku hanya akan kembali jam 10, kenapa kau terus memaksaku untuk berangkat jam 9? Baiklah aku akan ke sana jam 9.30, oke? Baiklah.” Kulihat dia sedikit membanting handphonenya dengan sedikit kesal.

“Kau ada jadwal operasi?” tanyaku padanya, membuat dia mengalihkan perhatiannya padaku.

“Hm..” jawabnya sambil membenamkan wajahnya pada leherku. “Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama denganmu, tapi aku punya kewajiban lain yang harus aku tunaikan saat ini.” Katanya masih berada di leherku.

“Aku mengerti. Lagi pula aku harus bekerja kalau tidak ingin dipecat.” Kataku menenangkan dia. Kemudian dia tersenyum lagi padaku, membuatku membalas senyumannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama buat kami siap-siap untuk pergi ke tempat kerja masing-masing. Baekhyun mengantarkanku terlebih dahulu ke cafe, kemudian dia berangkat kerja.

Saat aku memasuki cafe, tatapan bingung Eunji langsung aku dapatkan.

Waeyo?” tanyaku padanya.

“Kapan kalian akan menikah?” tanyanya padaku sambil mengikutiku ke ruang ganti karyawan. Mendengar perkataannya membuatku mau tidak mau membalikkan badan untuk menghadapnya. Ku lihat dia sedang terkikik geli melihat ekspresi kagetku padanya.

“Sepertinya aku akan segera menjadi imo. Aku tunggu kartu undangannya.” Candanya sambil berlalu meninggalkan aku sendirian di ruang ganti ini. Belum sempat aku memukulnya dia sudah pergi kabur duluan.

Tapi mengingat ucapannya tentang anak, sepertinya tidak akan lama lagi aku akan menjadi seorang ibu. Ku elus perut rataku membayangkan suatu hari nanti akan ada kehidupan lain yang akan hidup di sana.

Selang tiga bulan setelah itu, akhirnya kami menikah karena aku sedang mengandung dengan usia sekitar 4 bulan. Pesta pernikahan kami sangat sederhana. Kami hanya menyewa sebuah gereja kecil tapi memiliki arsitek yang klasik di pinggiran kota Seoul.

Gaun pengantin yang aku kenakan tidak kalah sederhananya. Hanya sebuah gaun pengantin biasa warna putih dengan panjang lengan tiga per empatnya. Ekor gaunku sangat panjang. Desain gaun pengantinku ini mirip dengan desain gaun pengantin milik Kate Middleton.

Rambut coklatku, aku gerai menutupi punggungku. Sebuah penutup kepala aku kenakan untuk menutupi wajahku. Walaupun perutku belum kelihatan besar, tapi aku tidak memakai korset perut karena takut bayiku akan tersiksa.

Appa menjemputku, karena acara akan segera di mulai. Dengan hati-hati aku melangkah menuju altar tempat di mana Baekhyun sudah menunggu di sana. Dia berdiri dengan stelan jas, kemeja, celana, dasi kupu-kupu warna putih, dan sebuah sepatu hitam. Rambut coklatnya dia tarik ke atas, saat ini dia tidak memakai kaca mata kotaknya.

Aku bisa melihat dia sedang tersenyum bahagia ke arahku. Perasaan gugup semakin aku rasakan saat pegangan tanganku appa berikan pada Baekhyun. Tidak lama kemudian kami mengucapkan sumpah dan janji setia seumur hidup kami di hadapan pendeta, dan semua orang yang kami undang ke acara pernikahan kami.

Kami bertukar cincin, kemudian Baekhyun membuka penutup kepalaku. Terdengar teriakan-teriakan yang meminta kami untuk berciuman. Dan tidak lama kemudian, kami berciuman untuk pertama kalinya di hadapan semua orang. Sorak-sorai bahagia semua orang terdengar memenuhi gereja ini. Saat Baekhyun menjauhkan wajahnya dariku, kembali dia terlihat sangat bahagia.

Setelah pesta pernikahan berakhir, Baekhyun membawaku ke apartemennya, karena untuk seterusnya aku hanya akan tinggal di apartemennya ini. Dia menggendongku menuju kamarnya yang sekarang ini akan menjadi kamar kami.

Sebuah taburan kelopak mawar merah memenuhi kamar pengantin kami. Aku begitu terharu, saat mengetahui dia mempersiapkan sebuah kejutan romantis untukku. Sekarang tidak ada lagi yang namanya Bae Suzy, melainkan Byun Suzy. Aku memeluknya, mengucapkan terima kasih atas kejutan yang dia berikan padaku.

Sekarang tidak ada lagi penghalang buatku untuk memadu kasih dengannya karena sekarang ini aku sudah menjadi isteri sahnya Baekhyun. Walaupun saat ini aku sedang mengandung tapi bukan menjadi penghalang buatku dan Baekhyun untuk kembali menyatukan cinta kami berdua.

Tidak terasa usia pernikahan kami sudah hampir 5 bulan, yang menandakan bahwa aku sebentar lagi akan melahirkan. Hari ini merupakan jadwal bulananku untuk mengecek kandunganku. Dengan senang hati Baekhyun mengantarku untuk memeriksakannya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat aku memeriksakan kandunganku sekaligus tempat bekerja Baekhyun, Baekhyun terus saja menceritakan cerita-cerita lucu yang membuat kami tertawa bersama.

Di saat Baekhyun mulai menjalankan kembali mobilnya setelah lampu lalu lintas kembali menjadi warna hijau di sebuah persimpangan jalan di kota Seoul, tiba-tiba dari arah kiri, sebuah truk menerobos lampu lalu lintas dan menghantam sisi kiri mobil kami.

Tabrakan antara truk dan mobil kami tidak bisa terelakkan. Mobil kami terseret hingga menabrak tiang lampu lalu lintas. Kepalaku terbentuk dashboard mobil membuat sebuah aliran darah keluar dari kepalaku. Kejadiannya terlalu cepat, hingga aku tidak begitu mengingat seperti apa kejadiannya.

Perlahan aku membuka mataku, dan pemandangan mengerikan langsung terlihat saat ini juga. Kepala Baekhyun mengeluarkan darah yang sangat banyak, kepalanya tertumpu pada stir mobil, dan sebagian badannya terjepit antara pintu mobil dan bagian depan truk.

Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Matanya terpejam rapat. Melihat semua itu membuat tubuhku bergetar hebat karenanya. Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhku. Air mata mulai membasahi wajahku saat menyadari dia tidak bergerak sama sekali.

Tenggorokanku tercekat tidak bisa memanggilnya sama sekali. Tiba-tiba ku rasakan sebuah gerakan yang sangat menyakitkan berasal dari perutku. Aku bisa merasakan sebuah aliran cairan yang aku tidak ketahui apa keluar dari kewanitaanku.

Rasa sakit yang tiada terkira mulai aku rasakan. Bayiku bergerak gelisah mencari jalan keluar sedangkan aku sendiri tidak bisa bergerak sama sekali karena terjepit badan mobil. Aku hanya bisa menangis menahan sakit sambil terus memandang Baekhyun yang tidak bergerak sama sekali.

Rasa sakit semakin aku rasakan dari perutku, dan aku hanya bisa menangis dalam diam. Jika saja aku dan Baekhyun tidak di pertemukan kembali, mungkin mimpi itu tidak akan menjadi kenyataan seperti ini. Tidak lama kemudian aku mendengar suara orang-orang berkumpul di sekitar mobil kami untuk memberikan pertolongan pada kami.

Suara sirine mobil ambulan mulai terdengar semakin mendekat, tapi aku masih tidak melihat Baekhyun bergerak sama sekali. Malah darah yang keluar dari kepalanya semakin banyak. Ingin rasanya aku berteriak histeris untuk memanggilnya, tapi apa daya suaraku benar-benar tercekat, hilang.

Gerakan di perutku semakin agresif, membuat tubuhku semakin sakit. Perlahan kesadaranku mulai hilang saat orang-orang mulai berusaha membuka pintu mobil untuk mengeluarkan kami. Mataku sangat berat hanya untuk terus memperhatikan wajah suamiku yang tertutupi darah. Tidak lama kemudian mataku terpejam sempurna walaupun aku masih bisa merasakan gerakan dari bayiku.

Kegelapan mulai menyelimutiku. Membuatku tidak merasakan apa-apa lagi. Selama beberapa saat aku aku hanya bisa merasakan kegelapan. Sampai suatu ketika aku membuka mataku, aku melihat dua orang sedang bermain kejar-kejaran di sebuah taman.

Salah satu dari dua orang itu aku mengenalnya. Dia Baekhyun, dengan memakai sebuah stelan pakaian putih sedang bermain dengan seorang gadis kecil berambut panjang memakai gaun putih selutut. Seakan menyadari ada yang sedang memperhatikan mereka berdua, mereka menolehkan wajahnya padaku sambil tersenyum bahagia.

Gadis kecil itu berlari ke arahku, kemudian memelukku sangat erat saat sudah berada di depanku yang sedang duduk di bawah sebuah pohon sakura.

“Eomma….” panggilnya padaku, dan aku memandang bingung pada Baekhyun yang juga berjalan ke arahku, tapi dia hanya tersenyum bahagia padaku.

“Aku merindukanmu eomma.” Kata gadis kecil itu sambil mengeratkan pelukkannya pada leherku. Mau tidak mau aku membalas pelukkannya dengan perasaan bingungku. Tapi itu tidak berlangsung lama sampai aku merasakan jika aku memang dekat dengannya. Aku memiliki ikatan batin dengannya. Apakah dia bayi yang selama ini aku kandung selama 9 bulan itu? Tapi bagaimana bisa sekarang dia sudah tumbuh besar?

Aku memelukknya sayang sampai saat Baekhyun menyudahi pelukkan kami dengan melepaskan kaitan tangannya padaku. Aku menatap Baekhyun bingung tapi masih saja dia menatapku sambil tersenyum. Sampai akhirnya pelukkan kami terlepas, dan aku merasakan sebuah perasaan hampa dan kosong di hatiku.

“Kajja. Eomma harus kembali.” katanya pada gadis kecil itu. Aku menatap Baekhyun semakin bingung. Baekhyun memberikan sebuah kecupan singkat pada bibirku sebelum dia berjalan menjauh sambil membawa gadis kecil itu yang terus menolehkan wajahnya padaku.

Tanpa terasa air mataku mengalir melihat dia dan gadis itu pergi meninggalkanku sendiri. Aku mencoba untuk berdiri dan berlari untuk mengejarnya tapi aku tidak pernah sampai padanya. Jarak antara kami semakin menjauh. Aku terus berlari mengerjarnya sambil menangis.

“Baekhyun-na…Byun Baekhyun….Byun Baekhyun…” teriakku memanggilnya tapi dia tidak menoleh sama sekali. Aku terus menangis memanggilnya hingga tiba-tiba aku terperosok ke dalam sebuah jurang yang sangat dalam.

Saat aku membuka mata, aku hanya bisa melihat seluruh ruangan yang aku tempati berwarna putih bukan sebuah taman luas lagi. Bau obat-obatan tercium jelas di hidungku walaupun sebuah selang terpasang sempurna  untuk membantu pernapasanku.

Aku bisa merasakan berbagai macam selang tertancap sempurna di tubuhku. Entah kenapa aku kembali menitikan air mataku. Tubuhku tidak bisa di gerakkan sama sekali. Lidahku kelu walaupun hanya untuk sekedar menangis.

Aku menyadari sesuatu, jika saat ini aku kembali sendirian. Mimpi itu nyata. Mereka telah pergi meninggalkanku. Aku sendirian. Aku benar-benar sendirian saat ini. Baekhyun. Bayiku. Mereka benar-benar telah pergi.

Aku kosong. Sungguh, aku kosong.

 

~ FIN ~

 

Aku bingung mau ngomong apa. Ff ini tadinya Cuma oneshot tapi karena desakan ide yg tidak bisa dibendung dan permintaan dari reader yg ingin ini tetap di lanjut, makanya aku lanjutkan. Semoga kalian suka.

Terima kasih sudah mau baca.

Kritik dan saran aku terima.

See You All :-*

 

Regards,

Azalea

46 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DREAM (Chapter 2 – REAL?)”

  1. wow… ini panjang bgt FFnya.. tp yg begini ini yg aq suka. hehehe… ceritanya gk membosankan pula.. keren dah..

  2. Anyeong authornim Azalea,,,Hiks hiks sedih bnget di chapter 2 ini ama ceritanya jujur sampai membuat air mata aku berjatuhan banar benar sedih pas diadegan kecelakaannya,,
    padahal hari ini Baekhyun Oppany lgi ultah #HappyBaekhyunDay. Fighting

  3. Anyeong authornim Azalea,,,Hiks hiks sedih bnget di chapter 2 ini ama ceritanya jujur sampai membuat air mata aku berjatuhan -BAPER- pas diadegan kecelakaannya,,
    padahal hari ini Baekhyun Oppany lgi ultah #HappyBaekhyunDay. Fighting

  4. 😭😭😭 ini apa apaan dah kenapa sedih banget sih 😭 gak suka aku tuh gak suka 😭

    gua nangis beneran ini bacanya selamat say lu berhasil ngobrak abrik perasaan gua 😭😖

    #lebaysangat… 😊

  5. OMG . Kok tragis bgt sih endingnya. Masa suzy harus d tinggal ama calon anaknya sama baekhyun sih. Rasanya gag rela kalo endingnya kayak gini. Moga ini cma mimpinya suzy lagi😢

  6. kak lea, apa-ini kok makin nyesek hiks… walau ada kesan alur kecepatan tapi kusuka. Mimpi jadi kenyataan duh ah sedih banget suzy tetep alone huhuhu 😥

    oh ya kak follow aku dong di wattpad (elsasandra) kupasti follback kok, bru buat wattpad ehehhe._. sama kalo sempet mampir ya ke blogku http://www.hyekim16world.wordpress.com
    /promosi/dibuang/

    oke kak ini nice fic ya keep writing ^^

  7. hore horeeeeeeee,,akhirnya dirilis series 2 nya,,, hemmm. trimakasih ,authornim Azalea yg cantik!!
    **akhh ya moga readers yg lain pd suka,,
    ini ga kalah keren dan seru dr ff Lea yg lain!
    seriuss sebenernya pas baca dream tu aku terkejut ditiap chapternya,,coz kadang di luar perkiraanku,,soo ini sangat keren bagiku! jjang!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s