[2] Full Stop | truwita

req.fullstop

Full Stop
by truwita

[EXO] Park Chanyeol, Oh Sehun, and [OC] Kim Jira
Genres Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length Chapter | Rating PG-13
Preview [1] Full Stop
.
Cinta itu memang menakutkan,
tapi manusia tak bisa hidup tanpa cinta.
.

Mereka sedang berada di dalam kereta. Beberapa anggota tertidur lelap, kelelahan setelah seharian bermain di pantai. Jira tak bisa tidur, meski ia sangat lelah. Terlalu banyak hal yang membebani pikiran. Ponselnya berdering. Saat sebuah nama muncul di layar, Jira tersenyum. Sesuatu seperti baru saja menghapus segala kekhawatirannya.

“Ya, Yeol?”

“Aku merindukanmu. Aku hampir gila menunggu kabarmu.”

Seperti yang diharapkan dari seorang Park Chanyeol. Dia tak pernah ragu mengeluarkan semua yang ada di kepalanya. Sekalipun itu hal yang konyol dan memalukan.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa Jira katakan untuk saat ini. Ada banyak hal yang tersembunyi dari satu kata itu. Jira tak berharap Chanyeol memahaminya. Jira berharap, semuanya akan tetap seperti ini; Hubungannya dan Chanyeol.

“Aku tidak mau memafkanmu.”

Sesuatu seperti menohok tepat di hati. Meski Jira tahu, Chanyeol mungkin sedang bergurau. Tapi rasanya benar-benar menakutkan kala mendengar hal itu terucap dari mulutnya.

“Jira? Kim Jira? Kau masih di sana ‘kan?”

“Hah? Oh ya. Tentu.” Gadis itu gelagapan menjawab. Membuat Chanyeol mengerutkan keningnya di sebrang sana.

“Kau baik-baik saja?”

“Jangan berkata seperti itu lagi, jangan. Jangan pernah. Bahkan hanya sebuah gurauan sekalipun.”

“Eh?”

“Berjanjilah, Park Chanyeol!” suara Jira bergetar dan naik satu oktaf dari sebelumnya. membuat chanyeol terkejut dan khawatir sekaligus.

“Iya, oke. Tenanglah.” Chanyeol bicara selembut mungkin. “Aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu, kau tahu pasti. Baiklah, aku tak akan mengulanginya.”

“Dengar, Kim Jira.” Chanyeol berdeham , sebelum kembali bicara. Kali ini dengan nada yang serius. “Seandainya, suatu hari nanti kau memiliki sebuah kesalahan padaku, sebanyak dan sebesar apapun, aku tak akan peduli. Aku pasti memaafkanmu secara cuma-cuma. Kau tahu kenapa? Karena aku mencintaimu dengan kadar yang sangaaaaat besar. Sampai kau tak lagi mampu mengukur atau menghitungnya.”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ini sudah satu jam semenjak pembicaraannya dengan Jira di telepon. Akhir-akhir ini, gadisnya memang sering bersikap aneh. Awalnya Chanyeol pikir Jira hanya kelelahan karena banyaknya tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Namun hari ini terasa aneh. Seolah ada sesuatu yang besar yang gadis itu sembunyikan darinya. Sesuatu yang tak boleh ia ketahui.

Delapan bulan ini memang bukan waktu yang cukup lama bagi dirinya untuk mengenal Jira lebih dalam. Sejak kali pertama melihat gadis itu berdiri di atas podium, memberikan pidato singkat sebagai perwakilan siswa baru saat upacara penerimaan, Chanyeol selalu merasa ada sesuatu yang tak terlihat dan tak diketahui oleh siapapun selain gadis itu dan Tuhan. Kedua mata yang berbinar itu seperti menahan literan air mata yang berusaha menyeruak ke permukaan. Lengkungan bibirnya yang indah seolah tengah berusaha samarkan luka. Dan gelak tawanya terdengar seperti teriakan putus asa. Entah itu hanya perasaan Chanyeol saja yang terlalu peka, atau bagaimana. Yang jelas sampai saat ini, Chanyeol tak bisa menemukan jawabannya.

Gadis itu memang kekasihnya. Mereka selalu bersama di setiap ada kesempatan. Bersenda gurau, bahkan bermesraan di depan khalayak umum. Mereka berbicara banyak hal. Tapi Chanyeol tetap merasa ada sesuatu yang kurang dari hubungan mereka. Sejatinya, Jira masih terasa asing untuk seorang gadis yang tangannya selalu ia genggam.

Chanyeol bangkit dan segera mengganti celana pendeknya dengan jeans. Meraih jaket dan kunci motornya. Sebelum melangkahkan kaki keluar kamar, Chanyeol sempatkan diri untuk mematut penampilannya di depan cermin. “Yeah, kau selalu tampan!”

Chanyeol bukan tipe laki-laki yang memilih untuk berdiam diri, bergelung dengan perasaan tak jelas yang mendera setiap jengkal hatinya. Tentu saja Chanyeol tak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam asumsi sendiri yang berujung pada prasangka buruk. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk bergegas menemui gadisnya sekarang juga. Ia harus memastikan dan melihat keadaan Jira dengan mata kepalanya sendiri.

Chanyeol sudah duduk di atas motor, ia juga sudah mengenakan helm dan jaketnya. Sesaat ia ragu dan kembali berpikir. Apakah sikapnya ini berlebihan atau tidak. Ia juga khawatir akan membuat Jira risih dengan kelakuannya. Tapi… terserah. Chanyeol hanya ingin memastikan, dan berjanji dalam hati bahwa ia tak akan bertanya atau melakukan hal-hal bodoh nantinya.

“Park Chanyeol! Jam berapa ini? kau mau kemana?” itu suara ibunya. Chanyeol menoleh, dan membuka kaca helm.

“Tiba-tiba aku lapar, Bu. Aku ingin mencari sesuatu untuk mengganjal perut. Jangan menungguku pulang. Aku mungkin akan menginap di rumah Baekhyun.” Selepas nama Baekhyun disebut, Chanyeol memacu motornya. Menulikan telinga terhadap teriakan sang ibu di belakang.

***

Hari sudah semakin larut, sudah hampir tengah malam. Chanyeol sudah tiba di stasiun 10 menit yang lalu. Jika tidak terjadi keterlambatan, kereta dari Busan akan segera tiba 5 menit lagi. Degup jantung Chanyeol berpacu semakin cepat setiap saatnya. Berulang kali ia menarik dan menghembuskan napas dalam, guna menenangkan kegugupan yang melanda. Ini aneh, tak seharusnya ia merasa gugup. Chanyeol benci berada dalam situasi seperti ini. Benar-benar bukan gayanya.

5 menit berlalu sangat cepat. Suara kereta yang mendekat terdengar samar, semakin lama semakin jelas hingga akhirnya berhenti kemudian. Puluhan orang keluar dari setiap pintu gerbong yang ada. Untuk kesekian, Chanyeol menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.

Sepasang matanya bergerak, mencari eksistensi gadis yang memenuhi seluruh isi kepalanya. Butuh beberapa saat untuk menemukan Jira di kerumunan orang yang berlalu-lalang. Chanyeol tersenyum, saat akhirnya ia menemukan sosok itu. Jira tampak letih dan berjalan gontai. Ia hanya mengenakan kemeja tipis yang dipadu celana jeans. Chanyeol mengerutkan kening, memajukan bibirnya beberapa mili, lalu berdecak sambil melepas jaketnya. “Apa dia pikir ia seorang supergirl? Berkeliaran tanpa pakaian hangat di cuaca seperti ini.”

Dengan senyuman ceria miliknya, Chanyeol mendekat. Pikirannya sudah melayang kemana-kemana. Mengira-ngira reaksi yang akan diberikan Jira ketika mendapati dirinya muncul tiba-tiba. Akan tetapi, senyum cerah sirna begitu saja.

Sehun yang entah sejak kapan berjalan di belakang Jira menyampirkan jaket miliknya di bahu si gadis. Tanpa menoleh, tanpa mengatakan apapun. Lelaki itu hanya menyampirkan Jaket miliknya dan berjalan mendahului Jira kemudian.

Entah apa yang terjadi diantara keduaya. Chanyeol tak tahu menahu. Namun, dari tempatnya berdiri Chanyeol melihat Jira berhenti melangkah dan hanya berdiri di tempat. Sorot mata gadis itu menyendu, bahkan terlihat berkaca-kaca.

Terlalu fokus dengan sosok Jira, tanpa Chanyeol sadari Sehun tengah mendekat ke arahnya. Keduanya berpapasan sesaat kemudian, tatapan mereka bertemu. Baik Sehun maupun Chanyeol hanya saling melewati begitu saja. Tak ada sapaan khas teman lelaki ketika bertemu. Pada dasarnya, mereka memang tidak pernah akrab sama sekali. Hanya tahu nama masing-masing. Sehun adalah murid yang pandai, tampan dan seorang ketua OSIS. Lelaki itu selalu digadang-gadang sebagai rival gadisnya. Sedangkan Chanyeol adalah salah satu anggota band sekolah yang populer di kalangan gadis-gadis.

***

Jira duduk seorang diri di halte. Tatapannya lurus ke depan tanpa fokus. Chanyeol bediri beberapa meter di sampingnya. Dua kaleng minuman hangat sudah berada di genggaman. Ada sesuatu yang entah apa membuat Chanyeol sedikit merasa marah. Bukan pada siapa-siapa, melainkan pada dirinya sendiri.

Dengan sebuah tarikan otot di setiap sudut bibirnya, Chanyeol mendekat pelan-pelan. Dari belakang, lelaki itu menempelkan dua kaleng minuman hangat di pipi Jira. Membuat si empunya mengerjap dan reflek menoleh. Alih-alih membelalak karena terkejut, kedua mata Jira malah menyipit lalu mendesah lega.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”

“Kenapa kau tidak terkejut?” kening Chanyeol berkerut, ia benar-benar benci sikap Jira yang tak terduga. Membuatnya selalu menjadi yang tolol di sini.

“Sinyalmu terlalu kuat, jadi aku tahu kau datang.” Cengiran bodoh itu berasal dari wajah yang sebelumnya terlihat letih. Agak aneh, tapi Chanyeol menyukai ekspresi itu.

“Oh bagaimana ini?” Chanyeol menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Berakting panik.

“Ada apa?” merasa panik juga, Jira bangkit dari duduknya. Memeriksa tubuh dan wajah Chanyeol. “Kau baik-baik saja?”

“Tidak!” lelaki itu menjawab cepat dan lantang. “Oh aku harus bagaimana? Aku benar-benar malu dan tersipu sekarang! Kim Jira sedang menggombal!” Ujarnya dengan nada dan ekspresi wajah dibuat-buat.

“Eish!”

Mereka tertawa bersama. Momen yang selalu menjadi favorit keduanya. Hal yang membuat Jira selalu ingin berada di sisi Chanyeol. Bersama lelaki itu, tak peduli seberat dan serumit apapun masalahnya, ia akan tetap tersenyum. Meski disebabkan oleh hal-hal sepele seperti tadi. Walau tak begitu yakin, mungkin itu yang Jira artikan sebagai cinta untuk Chanyeol.

***

Jira sudah tampak rapi. Siap untuk pergi. Sebuah T-shirt oversize yang dipadukan celana jeans selutut, dan sneaker putih kesukaannya sudah tersemat di tubuh. Sesaat Jira mematut pantulan dirinya di cermin. Menyentuh helaian rambut yang diikat cepol secara asal. Ia mulai bertanya-tanya. Haruskah ia menggerai rambutnya? Chanyeol selalu meminta begitu. Tapi ia selalu menolak dengan alasan tak nyaman.

Yeah, Jira benci merasakan helaian rambutnya yang menempel di leher karena keringat. Ew.

Tapi, untuk hari ini mungkin tak apa. Sesekali ia harus menuruti keinginan pacarnya. Toh Chanyeol sering kali mengeluh karena tengkuknya yang selalu terekspos sempurna. Jadi Jira melepaskan ikatan rambutnya.

“Jira!” ibu membuka pintu kamar tanpa permisi. Air mukanya terlihat begitu panik. “Kau… mau kemana?”

“Aku ada janji dengan teman.”

“Bisakah kau membatalkannya?”

“Apa?”

“Jina. Ia tak ada di manapun. Aku sudah mencarinya keliling komplek, nihil.”

“Mungkin dia—”

“Bantu ibu mencarinya, Oke? dia tak tahu menahu soal dunia di luar rumah. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? ini sudah sore, aku tak bisa berpikir jernih.” Ibu bicara sambil beranjak pergi. Tanpa menunggu persetujuan lebih dahulu.

Jira menghela napas, bimbang. Ia sudah berjanji pada Chanyeol untuk kencan hari ini. Sebagai ganti minggu lalu dan minggu yang akan datang. “Bagaimana ini? Chanyeol pasti akan sangat kecewa.”

Jira tak punya pilihan lain selain membantu ibunya mencari Jina. Mau tak mau ia harus memberitahu Chanyeol, membatalkan kencan mereka dan menemuinya kemudian sebagai permintaan maaf setelah Jina kembali nanti. Mengingat seringnya intensitas kencan yang Jira batalkan secara sepihak, ia tak yakin Chanyeol akan memaafkannya dengan mudah. Lelaki itu sudah membatalkan jadwal latihan bandnya hanya untuk berkencan sore ini.

“Ah, molla!”

***

Chanyeol sudah sampai di taman sejak 10 menit yang lalu. Tempat mereka berjanji untuk bertemu. Ia benar-benar tak sabar menantikan hari di mana ia bisa berkencan dengan Jira. Chanyeol pikir dia sudah gila. Ah, apa yang harus ia lakukan? Dia benar-benar menyukai gadis bermarga Kim itu. Hari ini ia membatalkan jadwal latihannya. Besok-besok, mungkin Chanyeol bisa nekat keluar dari band hanya untuk berkencan. Seruis, untuk Jira, Chanyeol berani mengorbankan apapun. Cinta itu memang menakutkan, tapi manusia tak bisa hidup tanpa cinta.

Chanyeol sedang duduk di pinggir lapangan basket. Memerhatikan beberapa pemuda yang menghabiskan hari dengan bermain-main bersama si bulat oranye. Melihat pemandangan itu, Chanyeol teringat kisah cinta pertamanya saat sekolah menengah pertama dulu. Memalukan dan menggelikan di saat yang sama. “Bagaimana kabar Jaehee, ya?”

Lamunannya buyar, ketika dering ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk. Itu dari Kim Jira. Chanyeol begitu antusias dan tak dapat menyembunyikan ekspresi bodohnya saat membaca susunan kata yang tampil di layar. Lelaki itu tak tahu harus bereaksi seperti apa. Kecewa, tentu saja. Tapi sepertinya ia sudah biasa. Ini bukan kali pertama gadis itu membatalkan kencan secara sepihak. Toh Chanyeolpun tak bisa berbuat apa-apa selain mencoba mengerti.

Chanyeol menghela napas berat dan bangkit dari posisi duduk. Ekspresi wajahnya meredup. Ia memikirkan berbagai cara untuk menghabiskan sisa hari ini. ia tak mungkin mengumpulkan personil band untuk latihan. Bisa-bisa ia jadi bulan-bulanan kawannya. Ia juga tak bisa pulang ke rumah. Ibunya akan bertanya banyak hal. Chanyeol tidak dalam mood yang bagus untuk meladeni keingintahuan wanita yang ia sebut ibu.

Akhirnya, Chanyeol memutuskan untuk bergabung dengan para pemuda yang tengah bermain basket. Bukan sebuah ide yang buruk. Lagi pula sudah cukup lama sejak Chanyeol ingin main basket lagi. tubuhnya mungkin akan sedikit kaku. Namun kemampuannya tak akan menghilang begitu saja hanya karena berhenti bermain selama setahun. Bagaimanapun, posisi Chanyeol dalam teamnya dulu cukup penting. Dia seorang center.

Bukan hal yang sulit beradaptasi dengan lingkungan. Setidaknya itulah salah satu kelebihan yang Chanyeol miliki. Ia sangat baik dalam berbaur. Tak peduli kapan dan di mana. Chanyeol selalu mendapat tempat, dan mampu menempatkan diri.

Chanyeol bermain dengan ceria. Ia benar-benar larut dalam permainan. Ia juga lupa tentang kencannya yang batal. Lelaki itu tersenyum, tertawa, bahkan sesekali tebar pesona pada gadis-gadis yang menyaksikan pertandingannya.

Tak terasa, hari sudah mulai gelap. Para pemuda pemain basket jalanan itu memutuskan untuk berhenti bemain, dan berjanji pada Chanyeol jika ada kesempatan di lain hari mereka harus bermain bersama lagi.

Selepas semua orang pergi, Chanyeol berdiri sendiri di tengah lapangan. Kemeja yang awalnya ia setrika dengan sangat apik, kini sudah kusut di beberapa tempat, dan basah oleh keringat. Tapi tak sedikitpun melunturkan ketampanan alami yang ia miliki. Malahan, dengan keadaan berkeringat seperti itu, Chanyeol terlihat sangat seksi.

Seseorang bertepuk tangan dengan tempo lamban. Berjalan mendekat ke tempat Chanyeol dari belakang. Lelaki itu berbalik, dan betapa terkejutnya ia mendapati seorang gadis tak terduga berdiri di hadapannya. Terlebih, gadisyang beberapa waktu lalu membuatnya kecewa tampil dengan gaya yang sangat berbeda dari biasanya.

“Wah, kau tampak sangat keren saat bermain tadi!”

“Kim Jira… apa yang—oh!” Chanyeol tak menemukan kata yang tepat jadi dia memutuskan untuk melupakan apa yang hendak ia katakan sebelumnya, dan memilih untuk memuji penampilan Jira yang menurutnya sangat luar biasa.

Gadis itu mengenakan mini dress tanpa lengan berwarna pastel di atas lutut. Jangan lupakan sepasang sepatu berhak tujuh senti yang tersemat cantik di kakinya. Chanyeol benar-benar dibuat mengaga. Rambut ikal kecokelatan itu kini berubah warna jadi kemerahan, dengan potongan poni yang menutup kening.

“Wow, kau benar-benar cantik!”

Si gadis tampak tersenyum malu-malu. “Terima kasih.”

“Maaf aku sempat kecewa tadi. Aku pikir kau benar-benar membatalkan kencan kita. Tapi tenyata…” Chanyeol tersenyum lebar. Sampai-sampai orang berpikir bibirnya nyaris robek saking lebarnya. “Aku tak tahu kau akan melakukan make over sampai sebegitunya untuk kencan hari ini.”

“Aku seperti melihat orang lain saja. Haha.”

Tanpa memperdulikan ekspresi lawan bicaranya yang terlihat bingung, Chanyeol merangsek maju dan memeluk tanpa permisi. Sontak saja yang dipeluk terkejut dan spontan melepaskan diri. Mendorong tubuh Chanyeol sekuat yang ia bisa.

“Apa yang kau lakukan?!” sepasang bola mata itu nyaris keluar dari tempatnya. Reaksi yang cukup berlebihan menurut Chanyeol. “Memangnya apa yang kulakukan? Aku memelukmu. Ada yang salah?” rupaya lelaki itu masih tidak mengerti situasi.

“Ada yang salah katamu? Tentu saja! Jangan sembarangan memeluk orang!”

“Kau aneh.” Chanyeol menyipitkan mata. “Kau pasti ingin bermain-main dulu, kan? Baiklah!” Chanyeol menunjukan smirknya. Mendekatkan wajah, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Lelaki itu memejamkan mata, dan mengikis jarak yang tinggal beberapa senti itu secara perlahan.

Jantung Chanyeol berpacu liar. Begitu juga dengan fantasi yang tercipta di kepalanya. Hampir, tinggal beberapa mili sebelum ia berhasil merealisasikan fantasi liarnya. Tentang bagaimana sensasi yang kelak terasa saat bibir ranum itu bersentuhan dengan miliknya, sebuah suara mengintrupsi, “Kim Jina!” tegas dan lantang.

End of part 2

Happy Sunday, guys!
adakah yang masih menanti kelanjutan cerita ini? (ngarep)
sesuai janji, aku bakal usahain buat update seminggu sekali.
maap kalo alurnya gini-gini aja dan membosankan. Hehe *bow
semoga kalian gak kecewa sama part ini yaa!
kritik dan saran, jangan lupa!
see you next chap ;))

41 tanggapan untuk “[2] Full Stop | truwita”

  1. chanyeol benar2 konyol.. ak gaya pacaran cy di fanfic!! pasti seru punya pcr kya cy /alaah/
    tapi ttp tim sehun ak!!!ak penggemar cwo dingin nan misterius dan sukanya bertindak dibelakan ohh sweet sekali!!!
    lanjut

  2. Itu yg manggil pasti Jira kan min atau bisa jadi Sehun? Hshahahha
    Mungkinkah dimasa lalu kisah jira dan sehun sangat rumit sehingga mereka memilih berpisah ? Tapi aku benar benar ga rela mereka dipisahkan min

  3. Chanyeol bener2 lelaki idaman banget yaampun wkwkwk itu pasti si jina bukan jira!! Yah chanyeol malu deh kok aku baper ya jd sebel sm si jina kasian si jira soalnya. Tp disatu sisi sebel jg pas jira deket sm sehun kasian chanyeol

  4. Aaaa… Tidaaaakkkk…….
    Itu… Itu….
    Itu siapa yg teriak? *eh
    Hehe..
    Chapter 2~ keren~
    Entah udh berapa kali senyum2 sendiri gara2 baca ini ff.
    Keep writing thor~

  5. Haaai kaa.. aku pembaca baru ff. Aku udh jatuh cinta sma critanya. Bkin penasaran bgt.. aku suka alurnya. Berasa masuk kdlam alur critanya. Love you kaak.. aku fans baru mu hahaha 😝
    Tolong sgera klanjutannya yaaaa.. sngat ditunggu sekali 😆

    1. Hai sayang ^^
      Makasih sudah mampir, baca dan komen😄
      Semoga kerasan yaa!
      Tiap chap-nya aku usahain posting tiap minggu pagi, selamat menanti! Haha

  6. next thor…sapa tuh yang teriak ap jangan” cewe itu bukan jira…kaya nya tadi kan jira pake kemeja jens and sneakers…aku penasaran

  7. Wih siapa tuh yang manggil jina. Kalo jira yang manggil bisa jadi kasus nih ㅋㅋ. Penasaran deh sumpah. Aku masih belum bisa nebak konflik aslinya gimana, konflik cinta kah atau konflik keluarga atau malah duaduanya. Semangat kaaa keep writing! 😊

  8. ooohhh astagaaaa chan salah org, jadi ini ceritanya jira pernah berhubungan sm sehun di masa lalu trs mrk hrs pisah krn ibu bpk mrk bakal nikah? *maybe heheheh trs jira pcrn sm chan gitu kan? yg bikin bingung apa jira jg cinta sm chan sebesar chan ke dy aaahhh makin penasaran. trs itu yg manggil jina siapa yaakk ibunya apa jira aaahhhh seruuu seruuu keren 👍👍👍

    1. Iya kurang lebih begituu… hehe di prolog udah aku ceritain sekilas XD
      Hoho. Yes! (Nari tor-ror dulu karena berhasil bikin penasaran. Haha) *digiling
      Makasih yaa udah baca dan komen :))

  9. Wait… Itu yg sama Chan si Jina? Jangan” Jina naksir Yeol ya?
    Anyway ff nya aku tunggu ya lanjutannya:) fighting^^

  10. Yeay, udah dilanjutttt!!!
    Seru banget kak. Tapi kadang sedih juga sih jadi Jira.
    Btw, nanti akhirnya yang sama Jira siapa ya? Chanyeol atau Sehun?
    Gimana kalo nanti Chanyeol suka sama Jina?
    Tapi gapapa deh, asal Jiranya balik sama Sehun. Wkwk.. (maunya nih)
    Ciaelah, Chanyeol ketahuan tuh pas mau cium Jina. Lagian emang dia gak sadar perubahan pacarnya?!

    1. Jira menggambarkan bahwa manusia itu gak ada yg sempurna :”’ yakan? Dia cantik, pinter, baik, temennya banyak, keluarga berada, pacarnya ganteng pula. Haha

      Aku jg belum tau Jira sama siapa akhirnya. XD
      Gimana yaa? Menurutmu gimana?
      Jiranya mau gak balik sama sehun? Haha
      Chanyeol agak lemot, harap maklum wkwk

  11. waww waww waww,,chanyeol,,,main peluk aj,,!! saking senangnya!! ya jelas kim jina g mw,,rang g kenal,,duhhh kayanya bakal ada cinta segi empat nih!!! susah ya klo selera nya sama,, apa mw berbagi cinta!!!!!!! bakal dilema ni!!!
    next next next Ka TAta

  12. nexttt …. nahloh ini si jina ngapain kabur gitu? kayanya rumit juga sih 2 org kembar 2 org cwo ganteng ah sudahlah pusing-_- ,aku tunggu yah kelanjuttanya ^^

    1. Sebenernya, bukan kabur sih. Haha
      Sumpah, lebih rumit laporan akhir praktikum, atau laporan kuliah lapangan antah berantah 😦
      Seengaknya Yeol sama Sehun gantengnya konstan :”” /abaikan
      Terima kasih banyaaaak 😙

  13. Halo.. Kak aku mau tanya kaka author dibalik sampul ya? Kalo iya heheaku juga author br disana. 😉
    Oiya. Jadi yang ketemu sm chan itu si jina bukan jira kan? Wah parah deh.. Kasian bgt si jira yaa aku gak tega heuheuheu
    Tapii.. Sehun juga gmn ya kelnjtannya? Wadoh ditunggu next chapter nya kak
    Thx
    Keep write .. Figthing^^

    1. Iyaa aku baru 2 hari gabung di sana. Hihi
      Wah iya kah? Kalo gitu kita satu family. XD
      Yups! Dia Jina.
      Makasih udah baca dan komen yaa sayang😙
      Keep read juga.♡♡♡

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s