DECISION [EPISODE 4] – by GECEE

req-grace-decision

 

GECEE proudly present

 

  E     I   S     O   N


 WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2] | [EP 3]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“From the start, I want to look at you closely. I want to know you.”

–Reminds Me of You (Byul & Shorry)

==HAPPY READING==

 

“KEMANA kau akan membawaku?”

Akhirnya Jane bisa menyuarakan pertanyaan yang ia pendam dari tadi. Salah, lebih tepatnya pertanyaan yang ingin ia tanyakan dari kemarin. Kemarin, lelaki yang duduk di depannya ini menanyakan apakah hari ini ia punya acara. Ketika Jane berkata tidak, lelaki itu menampilkan ekspresi wajah gembira dan memintanya untuk menemaninya berjalan-jalan malam hari ini. Jadi, disinilah ia sekarang. Di kursi belakang motor Byun Baekhyun dan membiarkan lelaki itu membawanya sesuka hatinya. Jane hanya bisa berdoa agar Baekhyun tidak membawanya ke tempat yang aneh-aneh.

Baekhyun tidak menjawab pertanyaannya, entah memang karena lelaki itu tidak mendengar pertanyaan Jane tadi karena kepalanya tertutup oleh helm, atau karena Baekhyun ingin hal ini menjadi sebuah rahasia. Jane mendengus. Baiklah, kalau laki-laki itu tidak mau menjawabnya. Jane mempererat genggamannya pada jaket hitam yang Baekhyun kenakan, sambil berusaha menahan sejenak rasa penasarannya untuk beberapa waktu ke depan.

Motor Baekhyun berhenti di tempat parkir sebuah taman hiburan. Lelaki itu turun, melepas helm-nya, lalu melepas helm Jane. Jane menatap sekelilingnya, tidak menyangka bahwa malam ini lelaki itu akan membawanya ke tempat ini. Kemudian pandangan matanya tertumbuk pada sebuah wahana permainan yang terlihat paling menjulang dibandingkan wahana yang lainnya. Ferris wheel.

“Kenapa?” Baekhyun mengikuti arah pandangnya. Dan seolah mengerti apa yang ia pikirkan, lelaki itu melanjutkan perkataannya. “Kau mau naik Ferris wheel?”

Jane menoleh dan menatap Baekhyun dengan mata yang berbinar. “Boleh?”

Lelaki itu tersenyum. “Tentu saja. Untuk itulah aku mengajakmu kemari.”

Jane memekik kegirangan. Ia tidak ingat kapan terakhir kalinya ia menaiki Ferris wheel. Dan seperti sebuah jawaban dari doanya, lelaki ini mengajaknya naik Ferris wheel. Berdua. Hanya berdua.

Baekhyun menggamit tangannya. “Ayo, sebelum tempat ini menjadi tambah ramai.” Bersama, mereka melangkah memasuki gerbang taman hiburan tersebut.

Baekhyun menawarkan dirinya untuk mengantri membeli tiket di loket. Setelah menunggu beberapa lama menunggu antrian, akhirnya mereka berdua duduk di salah satu kursi Ferris wheel yang kosong. Pintu ditutup, dan Ferris wheel mulai beroperasi kembali, membawa mereka naik, makin lama makin tinggi.

Jane memejamkan matanya, Ia selalu merasakan perasaan ini setiap duduk di kursi Ferris wheel. Perasaan naik, perasaan terbang, perasaan melayang, ketika akhirnya ia merasa lebih tinggi dari yang lain. Ketika akhirnya kakinya tidak menapak di tanah, perasaan bebas, dan segala macam perasaan berkecamuk di hatinya. Ia tersenyum. Ia membiarkan tubuhnya menikmat momen seperti ini.

Jane membuka matanya ketika ia merasakan tangan kanannya digenggam. Di hadapannya terdapat Baekhyun dengan sebuah kotak beludru hitam di tangannya. Mata lelaki itu menatap matanya lurus-lurus.

“Han Jaein…”

Jane menelan ludah. Ada apa ini?

“Aku… menyukaimu.”

***

Baekhyun memperhatikan tingkah gadis di hadapannya ini. Gadis itu memejamkan matanya dan tersenyum. Ia tidak tahu pasti apa yang gadis itu pikirkan. Apakah perasaan senang karena bisa menaiki Ferris wheel ini atau karena bisa menghabiskan waktu dengannya. Baekhyun berharap alasannya adalah yang kedua.

Sepertinya gadis itu terlihat senang. Ekspresi gembira jelas-jelas terlihat dari raut wajah gadis itu. Baekhyun merasa bahwa keputusannya ini merupakan keputusan yang tepat. Ini adalah momen yang tepat untuk menyelesaikan apa yang ia mulai sampai sejauh ini.

Ketika Baekhee memberinya daftar apa yang Jane sukai minggu lalu, Baekhyun langsung merancang apa yang akan ia lakukan untuk Jane. Hal pertama yang pasti akan ia lakukan adalah membawa gadis itu ke taman hiburan untuk menaiki Ferris wheel. Selain itu ia tidak punya ide lagi. Untungnya, adik kembarnya itu selalu siap menjadi tempatnya berkonsultasi. Baekhee selalu punya solusi jika Baekhyun mengalami kesulitan.

Baekhyun mengeluarkan kotak beludru hitam yang telah ia siapkan dari jaket hitamnya. Ia melirik gadis itu. Jane masih memejamkan matanya dan masih tersenyum. Tanpa Baekhyun sadari, debar jantungnya bertambah cepat dan bertambah keras, sampai-sampai ia takut gadis itu dapat mendengarnya. Baekhyun menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Tarik… keluarkan… tarik… keluarkan. Tekadnya sudah bulat. Ia harus menuntaskan apa yang sudah ia mulai.

Baekhyun meraih tangan kanan Jane dan menggenggamnya erat. Gadis itu membuka mata dan menatapnya. Baekhyun memberanikan diri balas menatap mata gadis itu lurus-lurus. Ia ingin gadis itu mengerti apa yang ia katakan, apa yang ia rasakan. Ia ingin gadis itu mengerti bahwa selama ini ia telah menyimpan perasaan khusus untuk gadis itu. Bahwa selama ini isi pikirannya hanyalah gadis itu. Bahwa selama ini Jane telah menjadi objek perhatiannya, bahwa ia tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu, tidak bisa berhenti merindukan gadis itu. Bahwa selama ini, ia menyukai gadis itu.

“Han Jaein…”

Keringat dingin mulai mengalir membasahi bagian belakang bajunya. Tangannya mulai gemetar. Jantungnya berdebar tambah keras dan tambah cepat. Baekhyun merutuki dirinya sendiri. Sial. Kenapa ia bisa merasa begitu gugup seperti ini?

Gadis di hadapannya terlihat terkejut. Baekhyun merasakan tangan kanan gadis itu yang berada dalam genggamannya mulai gemetar. Jane menatap matanya sungguh-sungguh seolah memintanya untuk melanjutkan kata-kata. Baekhyun kembali menarik napas dalam-dalam.

“Aku… menyukaimu.”

Gadis itu membelalakkan matanya. Ia jelas-jelas terlihat terkejut. Baekhyun mencoba tersenyum, mencoba mencairkan suasana, mengabaikan jantungnya yang saat ini seperti mau keluar dari dadanya. Ia tidak ingin membuat gadis itu ketakutan. Di luar dugaannya, Jane tersenyum kepadanya. Dan kali ini tatapan matanya memancarkan ketulusan.

Baekhyun meletakkan kotak beludru hitam itu di telapak tangan Jane. Gadis itu memberikan tatapan bertanya sejenak pada Baekhyun, yang ia jawab dengan sebuah senyuman. Kemudian gadis itu membuka kotak beludru hitam tersebut dan mengeluarkan benda yang terdapat di dalamnya. Sebuah kalung dengan mata bandul lumba-lumba.

“Tidak banyak yang bisa kuberikan padamu.” Baekhyun membuka percakapan. “Aku belum bisa memberikan kalung perak asli seperti yang dikenakan oleh orang-orang terkenal itu. Kalung itu bukanlah kalung yang mahal. Kotak beludru ini juga merupakan pemberian ibuku. Katanya, beliau sudah tidak menggunakannya lagi.” Baekhyun menghela napas. “Tapi mungkin ini bisa mewakili apa yang kurasakan terhadapmu selama ini.” Baekhyun menyunggingkan sebuah senyum. “Aku menyukaimu.”

Gadis itu balas tersenyum. Butuh beberapa waktu sejenak sampai akhirnya Baekhyun mendengar suara gadis itu. “Pakaikan.”

Dengan hati-hati Baekhyun mengalungkan kalung tersebut di sekeliling leher gadis itu dan mengaitkan kait kalung tersebut di belakang lehernya. Setelah itu, keheningan melingkupi mereka berdua. Senyum menghiasi bibir Baekhyun dan Jane.

Baekhyun mengulurkan tangannya dan meraih tengkuk Jane. Ketika ia memeluk gadis itu, seribu satu perasaan bermain di hatinya dan membuat dadanya serasa mau meledak. Dan ia berharap gadis itu juga merasakan perasaan yang sama.

***

Jane mengamati mata bandul lumba-lumba dari kalung yang sekarang sudah melingkar manis di lehernya. Ia tersenyum. Ia benar-benar tidak menyangka malam ini akan berakhir seperti ini. Byun Baekhyun menyatakan perasaan padanya. Jane tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat itu. Antara kaget, senang, tidak menyangka, dan berbagai macam perasaan lainnya bergejolak di hatinya, dan sebuah senyuman itu merangkum semua perasaannya.

Memang bila diperhatikan akhir-akhir ini sikap Baekhyun sedikit berbeda dari biasanya. Terkadang Baekhyun sering berkunjung ke kelasnya, tidak jelas apakah ia ingin mengunjungi adik kembarnya atau mengunjungi dirinya. Bila lelaki itu mempunyai makanan, ia tidak segan-segan membaginya pada Jane. Baekhyun sering menawarinya bantuan untuk mengerjakan tugas ataupun mengajaknya belajar bersama. Begitu pula dengan Byun Baekhee. Sahabatnya itu beberapa kali membawakannya cokelat putih kesukaannya dan menambahkan pesan ‘dari Baekhyun. Baekhee sering mengajaknya ke kantin sekolah atau memintanya menemaninya ke kelas Baekhyun sekedar untuk membuat Jane terlibat percakapan dengan lelaki itu, dan kemudian Baekhee akan meninggalkannya. Jane mendecakkan lidah. Ia membayangkan betapa besar andil Baekhee untuk Baekhyun sampai hari ini.

Bunyi lift berdentang sekali dan kemudian pintu lift terbuka. Karena terlalu asyik dengan mata bandul lumba-lumba dari kalungnya, Jane tidak memperhatikan ke arah mana ia berjalan. Benar saja, kepalanya membentur dada seseorang.

“Jaein-ah!”

Jane mendongakkan kepala dan mendapati Park Chanyeol sedang menatapnya. Rasa bersalah segera menghampirinya. Ia merutuki dirinya sendiri karena terlalu sibuk dengan kalung itu dan tidak memperhatikan jalan. “Joesonghabnida, sun“ Kata-katanya terpotong begitu ia teringat kata-kata Chanyeol di apartment-nya waktu itu.

Tetapi di rumah… Aku adalah oppa-mu.

“Oppa. Aku tidak melihat jalan..” Jane melanjutkan kata-katanya.

Lelaki di hadapannya ini tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mengacak-acak poninya. “Kau dari mana?”

“Dari taman hiburan. Naik Ferris wheel bersama teman.”

“Ferris wheel? Malam-malam begini?”

Jane menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. “Tentu saja! Menyenangkan sekali menaiki Ferris wheel di malam hari itu, ditemani oleh dinginnya udara malam.”

Pandangan mata lelaki itu tertuju pada mata bandul lumba-lumba yang dari tadi ia pegang. “Itu kalungmu?” tanya lelaki itu.

Jane menatap kalung itu. Senyumnya mengembang. “Ya. Temanku memberikannya padaku.”

“Oh ya? Siapa?”

“Byun Baekhyun. Oppa ingat? Anak yang membawa telepon genggam saat acara masa pengenalan lingkungan sekolah waktu itu. Anak yang telepon genggamnya oppa sita.” Jane tersenyum. “Dia juga yang mengajakku ke taman hiburan hari ini.”

Jane merasakan perubahan dalam suara lelaki itu saat bertanya, “Dalam rangka apa?”

“Kami… Mulai hari ini… Berpacaran..” jawab Jane sungguh-sungguh.

Dan wajah lelaki di hadapannya itu memucat seketika.

***

“Kami… Mulai hari ini… Berpacaran..”

Chanyeol tidak tahu persis apa yang ia rasakan ketika Jane mengatakan kalimat tersebut. Sedih? Kesal? Marah? Kecewa? Chanyeol tidak bisa mendeskripsikannya. Yang jelas rasanya ia ingin cepat-cepat masuk ke apartment-nya dan meminum bir kalengan yang ada di kulkas dapurnya. Ia ingin melupakan apa yang baru saja gadis itu katakan di hadapannya. Perutnya mual dan kakinya mulai goyah. Chanyeol menyandarkan punggung pada dinding di belakangnya sebelum kakinya benar-benar tidak mampu menahan berat badannya.

Malangnya, sepertinya gadis itu tidak mengerti apa yang ia rasakan. Di saat ia rasanya tidak ingin mendengar fakta bahwa sekarang Jane Han telah berpacaran dengan bocah tengil yang membawa telepon genggam pada masa orientasi bernama Byun Baekhyun itu, gadis itu malah dengan semangat menceritakan apa yang terjadi malam itu antara mereka berdua. Chanyeol tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Yang ia tangkap hanyalah Ferris wheel, kalung bermata bandul lumba-lumba, dan sebuah pelukan erat. Selebihnya, Chanyeol tidak mendengarnya karena ia berusaha keras antara menahan dirinya untuk tidak menutup mulut gadis itu dan menenangkan perasaannya yang bergejolak. Ketika ia kembali tenang – setidaknya merasa lebih tenang, gadis itu telah selesai bercerita dan sedang menatapnya dengan kedua mata yang berbinar dan sebuah senyum yang merekah.

“Oh ya,” Chanyeol memaksakan seulas senyum untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. “Lalu kapan kau akan merayakannya?”

Gadis itu terlihat bingung sejenak. “Merayakannya? Oh.. Hmm.. Entahlah. Mungkin aku akan mulai dengan mentraktir oppa makan bersama. Bagaimana kalau kita makan bersama di rumahku lagi?” Gadis itu mengetukkan jari telunjuknya ke dagu tanda berpikir. “Apa yang harus aku masak ya? Ddukboki? Oppa mau makan apa? Atau kita makan di restoran yang ada di bawah saja?”

Jane terlihat bersemangat, berlawanan dengan Chanyeol yang terlihat begitu lesu dengan sebuah senyum yang dipaksakan di bibirnya. Perasaan miris terbersit di hati Chanyeol. Gadis itu mengundangnya merayakan sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia rayakan.

“Nanti saja kau pikirkan di rumah. Sudah malam, lebih baik kau pulang dulu. Istirahat,” ujar Chanyeol yang sebenarnya tidak ingin mendengar Jane membahas hal ini lagi.

Jane mengerucutkan bibirnya. “Geundae oppa, aku belum mengantuk.”

Chanyeol tersenyum. “Itu karena kau terlalu gembira, jadi otakmu memberi sinyal bahwa kau belum mengantuk. Padahal sebenarnya tubuhmu sudah lelah dan minta istirahat.”

Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Baiklah, oppa. Aku pulang dulu. Nanti aku akan memberitahu oppa kapan aku dan Baekhyun akan merayakannya, ya.” Gadis itu tersenyum. “Selamat malam.”

Chanyeol mengulurkan tangannya dan kembali mengacak-acak poni gadis itu. “Selamat malam. ”

Gadis itu berlari menyusuri koridor yang akan membawanya ke unit apartment-nya. Chanyeol menghela napas. Ia tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Ia tidak dapat mendeskripsikan perasaannya sekarang. Ia juga tidak mengerti mengapa ada perasaan tidak terima begitu mendengar bahwa tetangganya itu telah berpacaran. Yang Chanyeol tahu, perasaan itu hanya datang begitu saja.

Chanyeol mengulurkan tangannya hendak menekan tombol lift, namun ia mengurungkan niatnya. Niatnya untuk berbelanja ke supermarket di lantai dasar gedung apartment-nya itu hilang sudah. Ia sudah tidak mempunyai semangat untuk berbelanja lagi. Chanyeol menghela napas. Dengan langkah pelan, ia berbalik, meninggalkan lift dan kembali ke apartment-nya.

Tangan kanannya merogoh-rogoh telepon genggaman yang ia simpan di kantung celananya. Setelah menekan beberapa tombol, ia menempelkan telepon genggam itu ke telinganya, menunggu sampai panggilan itu terhubung.

“Ya! Sehun-ah! Neo jigeum eodiso? Bisakah kau ke apartment-ku sekarang?”

***

Oh Sehun menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat yang lebih tua dua tahun darinya ini. Dalam setengah jam ini Park Chanyeol telah menegak empat dari tujuh kaleng bir yang ia bawa, dan sepertinya ia mulai kehilangan kesadarannya. Chanyeol menyanyikan lagu yang entah apa judulnya dengan nada yang berantakan namun dengan suara yang keras – bahkan setengah berteriak. Sedikit perasaan bersalah mendatangi Sehun karena menuruti permintaan sahabatnya ini untuk membelikannya berkaleng-kaleng bir.

Ketika Chanyeol hendak membuka kaleng kelima, dengan sigap Sehun menarik bir tersebut dari tangannya. Chanyeol memang sejenak menolak untuk melepasnya, tetapi setelah beberapa erangan dan gumaman tidak jelas, akhirnya Sehun berhasil merebutnya dari tangan Chanyeol.

“Ya! Hyung!” Sehun menyesap sedikit bir dari kaleng yang sudah terbuka itu. “Ada apa sebenarnya denganmu?”

Orang yang ditanya tidak menjawab apa-apa, hanya mengerang dan berceloteh tidak jelas. Sehun kembali menggelengkan kepalanya serta mendecakkan lidah. Sebagai orang yang sudah mengenal Chanyeol sangat lama, Sehun mengerti arti dari semua tingkah laku Chanyeol malam ini. Sepertinya sahabatnya itu kembali mengalami masalah dengan sesuatu yang bernama cinta.

Ingatan Sehun membawanya ke memori lima bulan yang lalu, ketika akhirnya hubungan sahabatnya ini dengan perempuan bernama Choi Seolri kandas di tengah jalan. Hampir mirip dengan malam ini. Chanyeol menghubunginya dan memintanya datang ke apartment-nya dengan membawa beberapa kaleng bir. Sesampainya ia di sana, Chanyeol bercerita bahwa ia dan Seolri bertengkar dan akhirnya hubungan mereka putus begitu saja. Selesai bercerita, Chanyeol mulai menegak bir di kaleng pertama, dan kedua, dan ketiga, dan akhirnya lelaki itu kehilangan akal sehatnya. Sehun mendengus. Sahabatnya itu adalah orang yang tidak tahan dengan bir tetapi sepertinya ia tidak peduli.

Chanyeol mengumamkan kata-kata yang tidak jelas artinya. Sehun mendekatkan telinganya, mencoba untuk mendengarkan dengan baik. Bagaimana pun ia tidak bisa terus menerus mengabaikan apa yang sahabatnya itu katakan hanya gara-gara ia sedang mabuk, bukan? Bisa saja dalam keadaan seperti ini Chanyeol memintanya untuk melakukan sesuatu yang sangat penting yang tidak dapat ia abaikan begitu saja.

“Apa katamu?” ujar Sehun. “Coba katakan lebih keras.”

Chanyeol mengerang sejenak. Lalu kembali menyanyikan lagu yang nadanya berantakan, lalu terdiam. Sehun kembali menggelengkan kepalanya. Sahabatnya ini benar-benar menyusahkan sekali.

“Han Jaein.” Kali ini terdengar gumaman yang lebih jelas dari bibir Chanyeol.

Sehun mendekatkan kepalanya kembali. “Nugu?”

Sahabatnya itu mengerang sekali lagi sebelum akhirnya bergumam, “Han Jaein.”

Sehun mendengus. Sudah bisa ia tebak. Nama perempuan. Pastilah nama perempuan ini adalah nama perempuan yang telah menyakiti hati sahabatnya saat ini, yang membuat sahabatnya ini sampai kehilangan akal sehatnya. Ia menyesap birnya lagi. Beberapa saat kemudian keningnya berkerut. Ia seperti teringat sesuatu. Nama tersebut tidak asing di telinganya.

Sehun memejamkan matanya, sementara otaknya ia paksa untuk mengingat-ingat kembali siapakah Han Jaein itu, karena menurutnya, nama itu terdengar familiar. Han Jaein…. Han Jaein…

Di benaknya muncul gambar seorang gadis dengan rambut dikuncir dua mengenakan pita biru yang sedang berdiri di panggung ruang pelaksanaan acara masa pengenalan lingkungan sekolah. Kepala gadis itu tertunduk, dan terlihat jelas kakinya gemetar. Gadis itu jelas-jelas ketakutan. Semua mata di ruangan itu tertuju kepadanya, dan bayang-bayang Chanyeol yang sedang membentak gadis itu ikut muncul di benak Sehun.

Sehun berpikir keras. Ada apa dengan Han Jaein? Apa yang gadis itu lakukan sampai-sampai Chanyeol kehilangan akal sehat seperti ini? Sehun menoleh ke arah Chanyeol yang sedang tertidur sambil bersandar di sofa. “Ya!” Sehun mengguncang bahu sahabatnya itu. “Apa hubungannya Han Jaein denganmu?”

Chanyeol hanya bisa mengerang, lalu kembali menyandarkan kepalanya di lengan sofa. Sehun menyesap birnya, sementara otaknya ia ajak berpikir lebih keras untuk memikirkan semua kemungkinan yang terjadi antara gadis itu dan sahabatnya yang sudah mabuk ini. Setelah beberapa saat berpikir hingga kepalanya mulai sakit, Sehun sepertinya mendapat titik terang. Ia mendengus, tetapi tak urung seulas senyum terukir di bibirnya.

“Sudah kutebak.” Ia menyesap birnya. “Kau menyukainya.”

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 5

“Ada apa? Apa yang membuatmu susah? Kau bisa menceritakannya padaku.”

***

“Sudahlah, jangan menangis. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat.”

***

“Astaga! Apa yang terjadi denganmu? Kau baik-baik saja?”

***

“Tetaplah disini. Jangan meninggalkanku.”

A/N
Jujur… aku bingung harus komentar apa..
Ini ceritanya menurut kalian makin absurd nggak sih?
Maafkan untuk typo dan semacamnya 🙂
Don’t forget to RCL! 😀

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

 

41 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 4] – by GECEE”

  1. Sayaa sampe bingung mau comment apa’-‘ antara kasian sedih ngakak lucu tercampur gara ulah main cast😂😂 chan nya kasiannn lagian gak ngode– jaein jugaa gak peka bngt– baekhyun jugaa menang banyak sekali ngasih jurus langsung dapet– yaudah mendinh chanyeol sama aku/? Tapi bias ku si byun bacon’-‘ gpp lahh’-‘ yang penting masih satu jenis/Astagfirullah/

  2. ah, akhirnya, si baek nembak jane jg kekeke…. *tebar komfeti* tapi2… apa jane nya jg suka sama si abek?kok ya langsung diterima gitu? tapi nggak pa2 lah, aku suka. takutnya ntar kalo tiba2 chanyeol jg nembak jane, trus si jane nya lama2 suka sama si chanyeol, bisa2 kacau kan? aku nggak mau baekhyunnya sedih* aish, maunya baekhyun doang, kagak kasian ama chanyeol?* kekeke… lanjut lagi……

    1. tuh ambil tuh chan buat kamu aja.. kasian dia sedih gara2 jaein….

      aku ga lempar kamu kok wkwkwkw aku lempar kamu ke pelukan chanyeol ajaaa..

    1. aaaaaaa kamu juga polos? hihihi XD
      aku jugaaaa… aku sampe gatau kalau jungkook (BTS) suka sama aku juga.. aku terlalu fokus mencintai d.o seorang… /abaikan/
      itu jaein tidak peka kali ya hwhwhwhw udah ditaksir sama cogan gitu padahal…
      anyway thanks sudah baca dan komen 😀

  3. Terlihat semakin seru hehe. Walaupun sebenernya gak begitu bisa diterima karna selama 4 episode ini gak dikasitau gimana sebenernya kedeketan seorang Baekhyun sama Jaein hehe. Tapi aku suka, aku suka perhatiannya Chanyeol dan jadi ngiri, kapan bisa punya tetangga kaya doi:’) wkwkw. Semangat nulisnya! Kutunggu ya kelanjutannya!

    1. mungkin baekhyun sudah mencintai jaein tapi secara diam2..
      dia baru berani mengutarakannya sekarang… yah namanya juga baekhyun (apa coba?)
      kayaknya tetanggaan sama manusia semacam chanyeol seru ya… ganteng, baik, perhatian, kurang perfect apa coba? 😀
      heheeheh okeee.. terima kasih juga sudah baca dan komen 😀

    1. iya kasian dia soalnya jaeinnya sama baekhyun….
      park chan aku juga turut sedih hwhwwhwh
      hihihi thanks sudah baca dan meninggalkan jejak 😀

    1. oh ya kah? hihih.. thanks loh utk pujiannya…
      yaaa terima kasih juga utk semangatnya 😀
      padahal aku pikir chap ini rada absurd hwhwhwhw thanks sudah baca dan meninggalkan jejak 😀

    1. iyaaa… padahal udah lumayan jelas kan park chan jg suka sama dia??
      i feel bad towards chanyeol hwhwhwhww
      thanks sudah baca dan komen 😀

  4. akhirya,gecee master-nim mengabulkan reqku 🙆🙌 /mansae/ yoohoo. makin gimana yah,rada aneh,karena jane tiba2 suka sama baek padahal dr awal ga ada apa2,tp gpp. ini bagus. keep writing yah!!♡

    1. muahahhaha untuk kamu penggemar baekhyun (UB mu baekhyun bukan? :D) i made this chapter especially for you :*
      mgkn jane semacam nggak tega nolak baekhyun.. lagipula siapa sih yang mau nolak kalo ditembak cowo semanis baek? XD
      thanks sudah jd reader setiaku anyway 😀

    1. iyaaa… dia depresi bgt kayaknya pas tau jaein udah pacaran sama baek…. jaeinnya jg pake acara ga peka segala hwhwhwhw…
      thanks sudah jadi reader setiaku hihihi.. 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s