[EXOFFI FREELANCE] Some Body (chapter 5)

some body

Title: Some Body (chapter 5)

Author: Jung21EunSoo

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), Jung Hoseok (BTS), Kim Namjoo (Apink).

Cast:

 Xi Luhan, Byun Baekhyun, Park CHanyeol, Kim Jongin/Kai (EXO)

 Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)

 Oh Hyemi, Kim Nara, Lee Miju (Oc)

Genre: School life, Friendship, Romance(?), Sad.

Rating: PG-13

Length: chaptered

Disclaimer: Semua pemain bukan milik saya. Cerita ini murni berasal dari pikiran saya, jadi

kalau ada kesalahan saya mohon maaf dan kalau ada kesamaan hal tersebut terjadi atas

ketidaksengajaan.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca… 

I’ll be the one to hold your hand

Look at me and smile

Enforce fixed head

I’ll be there for you

When things get tough, you can lean on me

Let us share the dream

Recommended Song: For You – Lovelyz, Star Star Star – Girls Generation, No Better Than

Stranger – Babysoul Lovelyz ft Wheesung, Butterfly – BTS.

*~*~*~*~*~*~*

Flashback

Seoul 2012

What should I do? I do not know what I should do. I can not do anything. (Star Star

Star – Girls Generation)

Sinar matahari pagi masuk dari celah-celah jendela kamar seorang namja yang tengah

memakai seragamnya dengan rusuh. Dia tidak akan memakainya seperti itu jika sebentar lagi ia

tidak terlambat. Lalu namja itupun keluar dari kamarnya yang berantakan dan penampilan yang

bisa dibilang bukan anak sekolahan yang baik. Kancing seragam yang tidak dikancing dengan

benar, untung saja dia mengenakan baju kaos putih polos didalamnya, dan tas sekolah yang

hanya ditenteng di bahu kanannya.

Dia berjalan dengan santai menuju tangga rumahnya untuk turun kebawah, namun

langkahnya itu terhenti ketika melihat sebuah pintu kamar yang terbuka dan terdengar suara

seseorang yang sedang memanggil nama seseorang dengan cemas dari dalam sana. “Hayoung-

ah! Bangunlah!”

Namja itu mengenal suara itu, itu suara appanya. Ada apa ini? Padahal ini masih pagi,

kenapa ayahnya malah cemas seperti itu? Karena penasaran dia pun membuka lebih lebar pintu

kamar tersebut, menampilkan sebuah kamar yang bernuansa hitam dan kuning dengan hiasan

bunga-bunga disekitarnya, semuanya tersusun dengan rapi. Terlihat sekali bahwa kamar ini

adalah kamar seorang yeoja. Di sebuah kasur empuk berwarna hitam putih itu, terdapat seorang

yeoja yang masih tidur dengan piyama berwarna kuning. Di samping yeoja itu berdiri seorang

lelaki paruh baya yang masih berusaha membangunkan yeoja itu dengan cemas, sambil terus

memanggil yeoja itu dengan harapan yeoja itu segera bangun dari tidurnya dan berangkat ke

sekolah. “Oh Hayoung! Bangunlah!”

“Ada apa appa?” Tanya namja itu heran sambil bersandar di pintu kamar itu tanpa ada

niat untuk memasukinya.

“Sehun-ah, kenapa kau masih disitu? Kenapa belum berangkat?” Tanya lelaki paruh baya

itu yang notabenenya adalah appa namja itu – Sehun. Sehun berdecak kesal, bukannya menjawab

pertanyaannya, appanya itu malah menanyakan hal yang lain.

“Aku menunggumu.”

“Berangkatlah dengan eomma terlebih dahulu. Aku harus membawa Hayoung ke rumah

sakit.” Kata appa Sehun sambil beranjak menggendong yeoja yang masih tertidur itu – Hayoung

dan membawanya keluar dari kamar yeoja itu.

“Memangnya ada apa dengan Hayoung?” Tanya Sehun sambil terus mengikuti langkah

appanya yang menggendong Hayoung ke lantai bawah rumah itu.

“Aku tidak tahu. Tapi dia tidak mau bangun sejak tadi.” Jawab appa Sehun cemas.

Sementara eomma Sehun yang sudah siap di bawah memandang heran appa Sehun yang

menggendong Hayoung dengan rusuh. Appa Sehun mengambil kunci mobilnya yang sudah

tersedia di meja ruang tamu mereka dan beranjak keluar rumah mereka. “Yeobo, tolong antarkan

Sehun ke sekolahnya. Aku harus membawa Hayoung ke rumah sakit terlebih dahulu.” Pesan

appa Sehun sebelum meninggalkan eomma Sehun yang masih memandang punggungnya dengan

penuh Tanya.

“A-arasseo. Kajja Sehun-ah!” ajak eomma Sehun sambil mengambil kunci mobilnya dan

keluar dari rumah untuk mengambil mobilnya, diikuti oleh Sehun yang cuek dengan apa yang

terjadi di pagi hari yang rusuh itu.

.

.

Di sebuah ruangan bernuansa putih yang beraroma obat-obatan, terdapat seorang yeoja

yang terbaring di sebuah kasur putih yang berada di sudat ruangan itu dengan suntikan infuse di

tangannya. Dan seorang wanita paruh baya yang duduk disebuah kursi yang sudah tersedia

disamping kasur yeoja itu tengah menatap penuh khawatir yeoja yang masih terbaring itu, wanita

paruh baya itu menggenggam erat salah satu telapak tangan yeoja itu dengan harapa yeoja segera

bangun dari tidurnya. “Jebal, bangunlah. Berapa lama lagi kau akan tidur?”

Mungkin saat ini dewi fortuna sedang berpihak kepadanya karena tak lama kemudian ada

sebuah gerakan kecil di kelopak mata dan tangan yeoja itu, membuat wanita paruh baya itu

tersadar dari lamunannya. Sesuai dengan harapannya, lama kelamaan yeoja itu mengerjapka

matanya yang menandakan bahwa ia sudah bangun dari tidurnya.

“Hayoung-ah kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa merasa baikan?” Tanya

wanita paruh baya itu bertubi-tubi dengan senyuman lega di wajahnya kepada yeoja yang sudah

bangun dari tidurnya itu – Hayoung.

“Eomma, aku dimana?” bukannya menjawab, Hayoung malah bertanya balik kepada

wanita paruh baya itu yang notabenenya adalah eommanya.

“Kau ada di rumah sakit.”

“Bagaimana aku bisa berada disini? Apa yang terjadi padaku?” Tanya Hayoung heran

sambil menatap eommanya meminta jawaban.

“Bagaimana kau mendapatkan obat tidur itu?” bukannya menjawab, eommanya malah

bertanya kepada Hayoung yang membuat nyali Hayoung menyurut seketika. Hayoung masih

diam sambil memainkan selimutnya masih enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Sementara

eommanya masih menatap Hayoung meminta jawaban, seakan akan ia ingin memakan Hayoung

hidup-hidup.

“A-ah i-tu… a-aku sa-lah me-ngambil o-obat. Ne, obat.” Jawab Hayoung gugup sambil

menundukkan pandangannya dan masih memainkan selimutnya.

“Hmm?” Tanya eomma Hayoung curiga, ia masih tidak yakin dengan jawaban Hayoung

membuat Hayoung merasa semakin menyusut.

“W-waktu itu aku sedang pusing. Jadi aku pergi ke uks untuk mengambil obat tapi

ternyata aku salah mengambil obat.” Ujar Hayoung walau ada sedikit kebohongan disana sambil

mati-matian berusaha menghilangkan kegugupannya.

“Bukankah di uks akan ada perawat uks yang membantumu?” Tanya eomma Hayoung

agak heran. Dia sudah membayar mahal-mahal untuk sekolah itu, masa untuk satu orang perawat

di uks saja tidak bisa?

“Waktu itu uks sedang kosong. Jadinya aku ambil sendiri obatnya.” Jawab Hayoung

berusaha meyakinkan eommanya.

Memang tadi saat disekolah ia merasakan pusing berat dikepalanya sehingga kurang

focus saat belajar, jadi Hayoung pun pergi ke uks untuk mengambil obat sakit kepala. Dan

kebetulan saat itu uks sedang kosong, mungkin perawat uks sedang makan di kantin. Dengan

terpaksa, Hayoung mengambil sebuah kursi dan diletakkannya di depan sebuah lemari untuk

mengambil kotak p3k yang kebetulan letaknya dua kali lebih tinggi dari tubuhnya.

Setelah ia mendapatkan p3k tersebut, dia pun meletakkannya di sebuah meja dan

membuka tutup kotak berwarna putih itu. Hayoung pun berusaha mencari sebuah obat

penghilang sakit kepala, sampai akhirnya ia menemukan obat tersebut. Tanpa bu-bi-bu lagi, dia

pun mengambil obat tersebut berniat untuk meminumnya, namun masih ada satu hal yang

menarik perhatiannya. Dia melihat salah satu pack obat yang bertuliskan ‘Ramelteon’ dengan

tulisan yang lebih kecil tepat berada di bawahnya ‘Obat tidur’. Hayoung berfikir sejenak,

beberapa detik kemudian ia mengambil dan memasukkan obat tersebut ke dalam saku rok

seragamnya secara diam-diam setelah melihat-lihat keadaan uks yang masih sepi dan hening

karena hanya Hayoung seorang yang berada di dalamnya.

Hayoung menghela nafas tipis, ia kembali mengambil obat penghilang sakit kepala yang

tadi sempat diletakkannya di suatu tempat. Ia menggenggam obat tersebut sambil menutup p3k

dengan baik. Hayoung mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air mineral yang

berguna untuk membantunya menelan obat kapsul penghilang sakit kepala tersebut.

Dan malamnya, karena lagi-lagi ia mendapatkan mimpi buruk yang membuatnya

kesulitan untuk tertidur, akhirnya Hayoung meminum obat tidur tersebut tanpa memerdulikan

sepenggal kata yang bertuliskan ‘Harus dengan resep dokter’ yang tertera di bungkus obat tidur

tersebut.

“Arasseo, arasseo. Aku menyerah. Aku percaya padamu.” Ujar eomma Hayoung,

membuat Hayoung tersenyum mendengarnya dan berharap wanita paruh baya ini bisa

menemaninya seharian dirumah sakit yang membosankan ini. Namun senyuman dan harapan

tersebut harus perlahan memudar seiring dengan menggemanya deringan telepon dari tas kulit

bermerek yang sedari tadi ditenteng oleh eommanya Hayoung. Ia tahu apa yang akan terjadi.

“Tunggu dulu ya.” Pesan eomma Hayong sambil beranjak mengangkat telepon tersebut,

membuat Hayoung kembali ke wajah datar nan dinginnya itu. “Ne, aku akan segera kesana.”

Ujar eomma Hayoung terakhir kalinya sebelum memutus percakapan penting dari handphonenya

itu.

“Hayoung-ah, eomma mianhee. Tapi eomma harus kembali ke kantor untuk

menyelesaikan pekerjaan eomma.” Kata eomma Hayoung dengan nada menyesal. Dugaan

Hayoung benar, eommanya tidak bisa menemaninya di rumah sakit yang membosankan ini.

“Tapi tidak apa-apa kok. Aku akan kembali setelah pekerjaan ini selesai.”

Huh? Selesai? Kapan ia akan selesai dengan pekerjaannya yang super sibuk itu? Apakah

ia akan selesai setelah Hayoung pergi dari tempat itu? Kapan dia ada waktu untuk Hayoung?

Berbagai pertanyaan menyindir eommanya berkelebat dipikiran Hayoung, menghasutnya untuk

menjadi seorang anak yang tidak berbakti. Walaupun sebenarnya, eomma dan appanya juga

bersalah dalam hal ini.

“Aku sudah membawakanmu barang-barang yang mungkin kau butuhkan, di tas yang ada

di meja itu.” Ujar eomma Sehun sambil menunjuk sebuah meja yang berada di depan kasur

tempat Hayoung tengah duduk saat ini yang berisi berbagai macam benda. Biasalah… orang

kaya…

“Disana ada baju, buku, buah-buahan, dan lain-lain. Jadi, jaga dirimu baik-baik ne.

eomma akan segera kembali.” Kata eomma Hayoung sambil mengecup singkat kening Hayoung

dan berlalu dari ruangan tersebut.

“Ne, hati-hati dijalan.” Pesan Hayoung samba melambaikan tangannya pelan yang

mungkin dianggap angin lalu oleh eommannya karena eommanya sudah menghilang dari

ruangan putih tersebut, meninggalkan Hayoung sendirian di ruangan yang dingin, kelam dan

membosankan baginya tanpa seorang teman.

Hayoung menghela nafas berat, lalu mengarahkan pandangannya keluar jendela

ruangannya yang menampilkan pemandangan diluar rumah sakit yang penuh dengan orang yang

serba sibuk ini. Ternyata rumah sakit ini dekat dengan sungai han. Terlintas sebuah ide dipikiran

Hayoung.

Beberapa detik kemudian, Hayoung telah mencabut suntikan infuse yang menempel

ditangannya yang sedari benar-benar ingin ia musnahkan. Hayoung turun dari kasur dan

mengambil salah satu tas kertas yang berada di meja serba guna yang tadi ditunjuk oleh

eommanya, lalu berlalu ke kamar mandi yang terletak disalah satu sudut diruangan tersebut.

.

.

Disinilah Hayoung sekarang, ia berdiri di depan hamparan sungai biru yang luas dan

membentang sampai ke ujung sambil menikmati semilir angin sejuk dari arah sungai tersebut

yang menerbangkan anak rambutnya tanpa ada niat untuk memperbaikinya sedikit pun berharap

angin tersebut dapat membawa semua beban yang ada dipikirannya menghilang, yang mampu

membuatnya merasa tenang juga damai dan sejenak melupakan bahwa tidak seharusnya ia

berada disini. Memang seharusnya Hayoung tidak berada disini, seharusnya Hayoung duduk

diam sendirian dirumah sakit.

Duduk diam? Sendirian? Rumah sakit?

Disana sangat tidak menyenangkan dan membosankan. Makanya Hayoung kemari,

setidaknya tempat ini lebih baik dan lebih mengerti dirinya yang membutuhkan ketenangan.

Bukan bau obat-obatan kimia dan orang-orang yang sama menyedihkannya seperti dirinya.

Walaupun setidaknya mereka lebih baik, karena dijenguk oleh seseorang, tidak seperti dirinya

yang kesepian. Ia tidak membutuhkan itu. Hayoung memandang sendu kea rah sungai han yang

tenang ini, memang pandangannya mengarah kepada sungai tersebut namun tidak dengan

pikirannya. Mungkin saat ini pikirannya tengah melayang ke seorang namja pendek bermata

bulat yang memiliki bibir yang berbentuk hati.

“Kyungsoo oppa, bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Hayoung entah kepada siapa.

Karena saat ini ia sedang sendirian, tidak ada siapapun yang berada disisinya. Walaupun ada

banyak orang yang berlalu lalang disekitarnya karena ini adalah tempat untuk umum.

“Aku? Aku tidak baik-baik saja.” Hayoung tersenyum getir, memikirkan dirinya yang

seperti orang gila karena berbicara sendirian.

“Apa kau bertemu dengan Hyemi oenni?”

“Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia semakin cantik?”

“Dia pasti semakin cantik karena dia adalah oenniku. Oenniku harus cantik.” Kata

Hayoung sambil berusaha menahan butiran krystal yang ingin mengalir dari matanya. Hayoung

menundukkan kepalanya sejenak untuk mengumpulkan kekuatan, lalu mendongakkannya

kembali setelah merasa lebih baik.

“Bagaimana disana? Menyenangkankah?”

“Pasti sangat menyenangkan.”

“Bolehkah aku berada disana juga? bersama kalian?”

“Bisakah aku bersama kalian?”

Tanpa Hayoung sadari, matanya mulai mulai mengalirkan cairan krystal bening dipipi

chubby-nya. Ia mulai menangis. Lama kelamaan tangisannya pecah, membasahi pipi mumlus

nan chubby-nya itu. Menangisi dirinya yang kesepian yang merindukan seseorang. Bila dulu

akan ada Kyungsoo oppanya yang akan menghapus tangisan itu dan memeluk Hayoung, tapi

tidak. Sekarang Kyungsoo oppanya sudah berada ditempat yang lebih baik, meninggalkan

dirinya kesepian di dunia yang luas ini.

“Oppa… hiks… aku merindukanmu… hiks… aku mau bersama oppa…”

Flashback end

***

Seoul 2015

TENG… TONG… TENG… TONG…

Bunyi bel istirahat telah berbunyi dengan nyaring sehingga menggema keseluruh sisi

sekolah, membuat para seonsaengnim yang sedang mengajar pun mengakhiri pelajaran mereka

dan keluar dari kelas yang hampir semua muridnya tertidur karena pelajaran yang membosankan.

Para murid yang tadinya belajar walaupun tidak sedikit yang tertidur kini sudah ada yang

merenggangkan otot-ototnya yang kaku, bersorak gembira dan ribut-ribut ingin segera memakan

makanan enak yang disediakan oleh kantin sekolah, dan lain sebagainya. Termasuk Sehun dan

kawan-kawannya, yang kini tengah heboh-hebohnya akan ke kantin, melupakan pelajaran

sejarah Lee Seonsaengnim yang membosankan tadi.

Walaupun Sehun tidak ikut mengheboh dan meribut karena itu memang bukanlah style-

nya, yang meribut hanya teman-temannya terutama Taehyung dan Jimin, mereka selalu punya

banyak cerita, dan sebenarnya Sehun sedang berada dalam mood yang tidak baik hari ini sejak

pagi tadi. Sejak adiknya – Oh Hayoung masuk ke gedung besar dengan warna putih bersih yang

mendominasi gedung tersebut dan masih belum ada kabar untuknya tentang yeoja itu. Itu artinya

adiknya masih belum sadar dari tidurnya. Tiap beberapa menit sekali Sehun terus memeriksa

benda persegi panjang yang tipi situ yang selalu berada ditangannya, siap siaga kalau ada kabar

tentang Hayoung.

Sampai dikantin sekolah pun, Sehun masih mengunci pandangannya kepada benda pesegi

panjang canggih itu sambil memakan makanannya. Dia benar-benar tidak focus memakan

makanannya, terbukti dari Taehyung yang diam-diam mencuri daging dari piring Sehun namun

tidak digubris sama sekali olehnya. Sampai akhirnya, dia baru menyadari bahwa ada yang

kurang dari makanannya. Dan benar saja, ketika ia kembali ke dunia nyata dan melihat bahwa

dagingnya sudah tinggal tiga empat butir padahal sedari tadi ia rasa ia hanya memakan nasi.

“Siapa yang memakan dagingku?” Tanya Sehun sambil melirik teman-temannya yang

masih asyik sendiri memakan makanan masing-masing, sampai pada seorang namja yang sedang

memakan makanannya seolah tidak terjadi apa-apa. “Yak! Kim Taehyung! Pasti kau yang

memakan dagingkukan?” Tanya Sehun murka sambil menunjuk Taehyung yang tengah

cengingiran tanpa dosa yang duduk diseberangnya.

“Hehehe, kukira kau sudah tidak mau lagi hyung.”

“Mwo?”

“Hehe, mianhee hyung. Kau juga tahu kalau aku sangat menyukai daging.”

“Kemari kau. Kembalikan dagingku.”

“Mungkin setelah aku embali dari toilet saja ya hyung, tidak enak kalau disini.”

“Mworagu?”

“Yak! Yak! Sehun-ah geumanhee. Kau bisa mengambil dagingku. Lagipula kenapa kau

terus melamun sejak tadi? Apa ada masalah lagi?” Tanya Luhan bertubi-tubi yang hanya dijawab

oleh helaan nafas berat oleh Sehun, mungkin masih berat baginya untuk memberikan alasannya

kepada sepupunya ini.

“Sehun Sunbae!” panggil seseorang yang berada tidak jauh dari mejanya Sehun dan

teman-teman, membuat Sehun mengalihkan pandangannya kea rah orang itu yang kini sudah

berada di dekat mejanya dan teman-temannya duduk. “Hosh… hosh… hosh…” orang itu

menumpukan tangannya pada lututnya dan menundukkan kepalanya sambil ngos-ngosan karena

habis berlari.

“Nuguseyo? Ada apa kau memanggilku?” Tanya Sehun membuat orang yang tadi

memanggilnya itu kini mendongakkan kepalanya dan teman-temannya kini juga memandang kea

rah orang itu.

“Annyeong haseyo, sunbae. Joneun Kim Namjoo imnida, saya teman barunya Hayoung.”

Kata Namjoo memperkenalkan diri Namjoo setelah akhirnya bisa mengatur nafasnya lagi.

“Kau bukan orang yang membully-nya kan?” Tanya Luhan curiga, membuat Namjoo

jengkel begitu mendengar pertanyaan tersebut.

“Anigoteun! Aku benar-benar temannya Hayoung. Bahkan akulah yang menyuruhnya

untuk berbaikan dengan Sehun sunbae dan memberi Sehun sunbae kesempatan. Saya hanya

ingin bertanya tentang Hayoung.” Jawab Namjoo emosian sambil memberikan deathglare-nya

kepada sunbaenya itu.

“Hehe, mian.” Ujar Luhan sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah karena telah

menuduh Namjoo sembarangan.

“Hayoungie? Memangnya ada apa dengannya?” Tanya J-hope penasaran begitu

mendengar nama ‘Hayoung’ disebutkan, sementara Sehun hanya berusaha menghilangkan

kegugupannya karena ia tahu hyung yang lebih tua dua bulan darinya itu akan marah kepadanya.

“Ah itu, Seonsaengnim bilang kalau Hayoung masuk ke rumah sakit jadi tidak bisa dating

ke sekolah.” Jelas Namjoo, membuat J-hope memberikan tatapan tajamnya kepada Sehun

seakan-akan bertanya ‘apa yang sudah kau lakukan hah?’ dan ingin memakan Sehun saat itu

juga.

“Memangnya Hayoung sakit apa sampai masuk kerumah sakit?” Tanya Chanyeol ikut

menimbrung.

“Aku juga tidak tahu, makanya aku ingin bertanya hal tersebut kepada Sehun sunbae.”

Kata Namjoo membuat semua teman-teman Sehun dengan penasaran melirik kea rah Sehun yang

sedang memakan makanannya untuk menghilangkan kegugupannya.

“M-mwo?” Tanya Sehun sambil dengana susah payah menelan salivanya berusaha

berpura-pura seolah-olah tidak ada yang terjadi disana, padahal nyatanya kini Namjoo tengah

memberikan deathglare kepada Sehun (benar-benar bukan hobae yang sopan) karena sikap

Sehun yang cuek.

“Hyung, Ada apa dengan Hayoung?” Tanya Jungkook.

“Kenapa dia bisa masuk ke rumah sakit?” Tambah Jimin.

“Aku menyerah.” Gumam Sehun sambil menghentikan makannya dan mendongak kea

rah teman-temannya, mempersiapkan diri untuk menceritakan sesuatu tentang Hayoung. “Nado

mollasso. Tadi pagi, Hayoung tidak bisa dibangunkan walau dengan apapun caranya. Aku telah

mencoba segala cara, tapi tetap saja tidak bisa. Makanya kami membawa Hayoung kerumah

sakit, dan sampai saat ini aku belum mendengar kabar dari rumah sakit. Tapi aku berfikir kalau

dia meminum obat tidur, karena aku menemukan sebuah botol aneh dikamarnya.” Jelas Sehun

panjang lebar.

“Mworagu? Obat tidur? Lagi?” gumam J-hope kesal sambil menghela nafas miris.

“Mwo? Lagi?” Tanya Sehun terkejut, begitu juga dengan Chanyeol.

“Kau tidak tahu?” Tanya J-hope sinis. “Hayoung meminum obat tidur karena sering

bermimpi buruk sejak ditinggalkan olah Hyemi noona dan Kyungsoo hyung. Memang awalnya

aku tidak tahu, tapi sepandai-pandainya ia menyembunyikan hal tersebut pada akhirnya aku tahu

juga bahwa ia sering meminum obat itu. Aku sudah menyuruhnya berhenti untuk meminum

OBAT KEPARAT ITU karena tidak baik untuk kesehatannya. Tapi sekarang, kau membuatnya

semakin parah, BRENGSEK!” sambung J-hope dengan penuh emosi dan api-api yang membara

disekelilingnya sambil menarik dan meremas dasi Sehun dengan kesal seperti mengajak Sehun

untuk berkelahi, membuat yang lain terkejut begitu juga dengan Sehun yang tersentak, dia sangat

terkejut begitu mendengar penjelasan J-hope dan mungkin pasrah dengan apa yang akan

dilakukan hyungnya itu. Dan membuat beberapa haksaeng yang berada dikantin melirik ke arah

mereka berharap aka nada sebuah perkelehian yang seru sebagai hiburan mereka.

“Apa yang kalian lihat hah? Urusi saja diri kalian!” seru Kai membubarkan haksaeng-

haksaeng yang tadinya mulai mengerumuni mereka.

“Yak! Yak! Yak! Geumanhee! Ini kantin, tempat umum. Jangan berkelahi disini!” tegur

Baekhyun sambil berusaha melepaskan genggaman J-hope pada dasi Sehun.

“Berarti boleh bertengkar ditempat lain dong?” Tanya Kai yang membuat Luhan dan

yang lain terdiam dan melirik heran ke arahnya. Bagaimana mungkin disaat-saat seperti ini, dia

berpikir seperti itu? Pantas saja nilainya tidak pernah diatas 6, dia benar-benar bodoh.

“Bukan begitu maksudnya bodoh. Kalian tidak boleh bertengkar, apapun yang terjadi.

Bukankah kita semua berteman? Selesaikan hal ini dengan kepala dingin.” Jelas Luhan memberi

nasihat kepada dongsaeng-dongsaengnya.

“Woah… uri Luhannie hyung…. Benar-benar keren!” goda Taehyung.

“Tentu saja, hyung tertua kita.” Tambah Jimin.

“Aku merasa terharu.” Sambung Jungkook, membulatkan matanya terkejut namun masih

belum sebanding dengan mata bulatnya Kyungsoo.

“Sudahlah J-hope-ah, tenanglah dulu dan lepaskan cengkramanmu dari dasi Sehun. Dia

juga kasihan. Ayo kita selesaikan ini dengan kepala dingin.” Kata Baekhyun memberi nasihat

kepada J-hope yang masih membara dan menatap tajam kea rah Sehun, sementara Sehun juga

balik menatap tajam kea rah J-hope seakan-akan tidak terima kalau hanya dia yang disalahkan.

Lalu beberapa detik kemudian, dengan berat hati J-hope mulai mengendurkan cengkramannya

dan melepaskan tangannya dari dasi Sehun, membuat Sehun yang sedari tadi merasa tercekik

akhirnya bisa bernafas lega.

“Kenapa hanya aku yang disalahkan?” Tanya Sehun tajam.

“Karena kau oppanya. Harusnya kau bisa menjaga Hayoung dengan baik karena kaulah

orang yang paling dia sayangi dan kaulah orang yang paling dekat dengannya.” Jawab J-hope

tidak kalah tajam dan berhasil menusuk Sehun yang kini sudah bungkam.

“Namjoo-ya!!” panggil seseorang membuat Sehun dan yang lain mengarahkan

pandangan ke sumber suara, dan membuat Namjoo membulatkan mulutnya terkejut dengan

orang tersebut. “Namjoo-ah, aku mencarimu kemana-mana, rupanya kau sudah berada disini.

Ayo kita makan! Sebentar lagi jam istirahatnya berakhir.” Ujar orang itu sambil memeluk

Namjoo dengan hangat.

“Oenni! Kau mengejutkanku!” rengek Namjoo kesal sambil melepaskan pelukan Nara

yang notabenenya adalah eonninya yang tersayang.

“Oh, annyeong haseyo.” Sapa seorang yeoja yang notabenenya adalah teman Nara yang

bersama Nara sedari tadi – Miju kepada Sehun dan yang lain yang berada dimeja itu, membuat

perhatian Nara teralihkan ke meja yang berisi namja-namja tampan dan terkejut melihat seorang

namja kulkas yang duduk disana namun tidak terlalu diperlihatkannya.

“Ne, annyeong…” balas yang lain serempak melupakan aura panas yang membara yang

tadi terjadi disini.

“Namjoo-ya, apa urusanmu dengan mereka? Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Miju

heran.

“Kami? Kami hanya membicarakan tentang Hayoung.” Jawab Baekhyun dengan tenang.

“Hayoungie? Ada apa dengan Hayoung?” Tanya Nara penasaran begitu mendengar nama

‘Hayoung’.

“Dia masuk ke rumah sakit.” Jawab Chanyeol setelah sedari tadi terdiam dan melamun.

“Bagaimana dia masuk rumah sakit?” Tanya Nara lagi. Oh tuhan… dia benar-benar

penasaran dengan apa yang terjadi dengan Hayoung, yeoja yang sudah Nara anggap sebagai adik

sendiri seperti Namjoo.

“Sehun bilang Hayoung meminum obat tidur.” Jawab Kai dengan santai tanpa

memperdulikan Sehun yang memberikan deathglare kepadanya.

“Yak! Itu hanya perkiraanku saja.” Sanggah Sehun tidak terima.

“Bahkan yang bukan siapa-siapanya saja peduli, tapi oppanya sendiri tidak terlalu

perduli. Oppa macam apa kau ini?” gumam J-hope sinis menyindir Sehun, tepat menusuk Sehun.

“Yak! Jung Hoseok! Tenangkan dirimu dulu! Aku tahu kau sedang marah, tapi jangan

seperti ini.” Nasihat Luhan berusaha menenangkan api yang sedang membara dalam tubuh J-

hope. J-hope hanya mengambil nafas perlahan-lahan dan membuangnya perlahan-lahan juga,

berusaha menenangkan diri seperti yang disuruh oleh Luhan.

“Kalau begitu kami pinjam dulu Namjoo-nya. Kami pergi dulu.” Ujar Miju pamit dari

tempat itu dengan menggandeng lengan Namjoo dan Nara. “Ayo kita pergi, aura disini sedang

tidak baik.” Gumam Miju kepada Namjoo dan Nara yang berada disampingnya.

“Sepulang sekolah nanti kita jenguk Hayoung ya.” Usul Nara yang langsung disetujui

oleh Namjoo dengan antusiasnya. “Eung! Komawo oenni.” Balas Namjoo.

“Ayo kita makan! Aku lapar.” Ajak Namjoo dengan manja.

“Kajja! Kajja!”

***

Flashback

Seoul 2012

Listen to me, listen to the story that is not so important from me. (It is easy) If you

listen to me, it is enough for me. (Do not make excuses) To me, you always heartless. (No

Better Than Stranger – Babysoul Lovelyz ft Wheesung)

Disebuah kamar yang bernuansa biru itu, tampak seorang namja yang tengah mematut

dirinya didepan sebuah kaca yang tingginya melebihi dirinya yang pendek dan masih kecil

dengan senyuman yang mengembang. “Aku benar-benar tampan.” Pujinya kepada diri sendiri

dengan tingkat kepercayaannya yang tinggi. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena

namanya dipanggil oleh seseorang. “Yak! Jung Hoseok! Apa yang sedang kau lakukan hah?!”

Teriak seorang namja tinggi yang tengah menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar tersebut

yang sudah terbuka lebar sambil menyilangkan tangannya dan memandang namja itu –

Hoseok/J-hope dengan heran.

“Hyung… kau tidak perlu berteriak seperti itu, aku masih punya telinga yang lengkap.

Lihatlah ini ada dua.” Ujar J-hope dengan kesal sambil menyampirkan rambutnya dan

memamerkan telinganya.

“Apa yang sedang kau lakukan dengan cermin itu hah? Selama apapun kau berada di

depannya, kau tidak akan menjadi cantik.” Ledek namja tinggi itu yang notabenenya adalah

kakak laki-lakinya J-hope, Jung Jiseok.

“Aku memang tidak akan menjadi cantik. Aku kan tampan tidak seperti kau yang tidak

tahu fashion saat ini, style-mu itu benar-benar sudah ketinggalan jaman. Kembalilah ke mas

Joseon, mungkin kau akan menjadi model disana.” Balas J-hope dengan percaya diri, membuat

Jiseok jengkel seketika.

“Haishh, anak ini. Sudahlah! Lupakan saja! Mina sedang demam, jadi eomma

menyuruhmu untuk membelikan obat demam untuk Mina. Aku pergi dulu.” Kata Jiseok dengan

kesal dan beranjak menarik punggungnya dari pintu kamar J-hope dan segera pergi dari sana,

meninggalkan J-hope yang masih menatapnya tidak percaya. Kenapa harus J-hope yang

melakukannya? Bukankah Jiseok sendiri bisa membelikan obat itu untuk Mina yang

notabenenya adalah adik perempuan J-hope?

“Yak! Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja?” Tanya J-hope dengan kesal sambil

membuntuti hyungnya yang sudah keluar dari kamarnya.

“Aku masih mempunyai banyak tugas. Sudahlah! Lakukan saja! Ini uangnya.” Jawab

Jiseok sambil menyerahkan beberapa lembar uang dari saku celananya kepada J-hope. Entah J-

hope sedang konslet atau tidak, dia menerimanya begitu saja seperti melupakan aksi protesnya

tadi. “Hati-hati ya, adikku.”

“Yak! Hyung!”

.

.

Dan disinilah J-hope sekarang, berakhir dengan berbagai cibiran yang keluar dari bibir

kecilnya sambil terus berjalan di jalan trotoar yang disediakan untuk pejalan kaki menuju tempat

yang mereka tuju. “Dasar hyung yang malas, bagaimana mungkin dengan seenaknya ia

menyuruhku untuk membeli obat sementara aku yakin sekarang ini dia tengah asyik bermain

dengan computer jadulnya itu.” Cibir J-hope panjang lebar dengan logat Gwangju-nya yang

kental sambil terus meniti jalan trotoar tersebut yang akan membawanya menuju apotik untuk

membeli obat demam adiknya.

Akhirnya J-hope memberhantikan langkahnya setelah sampai didepan sebuah toko

dengan pintu yang berkaca sehingga menampakkan ruangan yang penuh dengan obat-obatan

yang berjejer rapi disana, ya dia sudah sampai di depan apotik. J-hope pun mendorong pintu

tersebut dengan sekuat tenaga karena factor tubuhnya yang masih kecil.

Suhu yang agak dingin bercampur dengan bau obat-obatan kimia yang asing menggelitik

hidung mancung J-hope begitu ia memasuki toko apotik tersebut. Dia melihat ada seorang yeoja

yang sepertinya seumuran dengannya terlihat dari tinggi tubuh mereka yang hampir sama sedang

membelakanginya karena yeoja itu tengah menghadap ke meja kasir apotik ini, sepertinya yeoja

itu juga mau membeli obat. Tentu saja, apa lagi yang bisa dibeli dari toko ini selain obat-obatan

kimia atau herbal? Ayo kita lewatkan saja. J-hope melangkahkan kakinya ke arah meja kasir

apotik, atau lebih tepatnya ke samping yeoja itu dengan niat ingin mengantri untuk membeli obat

setelah yeoja itu selesai.

“Ahjussi, tolong obat tidurnya.” Ujar yeoja itu kepada ahjussi yang menjaga kasir apotik

tersebut, membuat ahjussi tersebut dan J-hope sama-sama mengerutkan kening mereka bingung

dengan permintaan yeoja ini.

“Aigoo… kau masih kecil nak. Kenapa harus membeli obat tidur hah?” tegur ahjussi

tersebut sambil beranjak membuka lemari tempat obat-obatannya berjejer rapid an mengambil

salah satu pack obat diantaranya. Memang hal tersebut juga menjadi pertanyaan dibenak J-hope,

bagaimana mungkin seorang anak kecil membeli obat tidur? Namun masih ada satu hal lagi yang

mengganjal dalam benak J-hope.

“Ah i-i-tu, eo-nni-ku yang menyuruhku untuk membelinya.” Jawab yeoja kecil itu

dengan agak gugup sambil memain-mainkan ujung bajunya.

“Memangnya ada apa dengan eonnimu? Kenapa dia menyuruhmu untuk membelikannya

obat tidur? Kenapa tidak dia sendiri saja yang membelinya? Itukan privasinya dia.” Tanya J-hope

sambil mengalihkan pandangannya ke yeoja ini, namun sayangnya J-hope masih belum tahu

siapa yeoja ini karena yeoja ini menundukkan pandangannya.

“D-dia sering bermimpi buruk. Lagipula kenapa kau…” kalimat yeoja itu tergantung

seiring dengan dirinya yang mengalihkan pandangannya kea rah J-hope untuk menjawab

pertanyaan J-hope dan terkejut dengan apa yang berada dihadapannya begitu juga dengan J-

hope. “Ikut campur dengan urusanku…?” gumam yeoja dengan sangat pelan.

“Hayoung-ah…” gumam J-hope ketika melihat baru melihat wajah yeoja itu yang

ternyata adalah Hayoung yang notabenenya adalah sahabatnya. Pantas saja rasanya sedari tadi

suaranya sangat familiar. Batin J-hope sambil memiringkan kepalanya heran.

.

.

“Ini untukmu!” ujar J-hope sambil mengulurkan salah satu tangannya yang

menggenggam sebuah eskrim cokelat kehadapan Hayoung, yang langsung diterima oleh

Hayoung karena Hayoung sangat menyukai eskrim cokelat. Sementara J-hope juga beranjak

untuk memakan eskrim cokelat yang berada digenggaman tangannya yang sebelah lagi.

“Kenapa kau memberikanku ini?” Tanya Hayoung sambil memakan eskrim cokelatnya.

“Dasar bocah, seharusnya kau berterima kasih kepadaku. Ah iya, kenapa kau membeli

obat tidur? Bukankah kau tidak mempunyai kakak perempuan? Bukankah kau hanya mempunyai

kakak laki-laki?” Tanya J-hope berturut-turut, membuat Hayoung mendesah berat.

“Apa sekarang kau sedang menyogokku? Aku kembalikan eskrimnya!” ujar Hayoung

kesal sambil menyodorkan eskrim cokelat yang tadi baru sedikit ia makan kehadapan J-hope,

sehingga eskrim tersebut mengenai hidung mancung J-hope dan meninggalkan cream cokelat

disana, membuat J-hope merasa jengkel dengan apa yang dituduh oleh Hayoung kepadanya dan

perbuatan Hayoung. Tawa Hayoung meledak begitu melihat wajah, ani lebih tepatnya hidung J-

hope yang kini ternodai oleh cream cokelat. “HAHAHA!!”

“Yak! Jangan tertawa! Awas saja kau!” seru J-hope sambil mencolek eskrim cokelatnya

dan meletakkannya di hidung mancung Hayoung.

“Yak! Itu tidak adil!” protes Hayoung.

“Kau yang memulainya! Jadi apa yang tidak adil hah?!” balas J-hope, membuat Hayoung

hanya berdecak kesal. Sementara kini, J-hopelah yang sedang tertawa puas melihat Hayoung

yang merajuk.

“Kau menyebalkan! Haishh, aku tidak mempunyai sapu tangan.” Keluh Hayoung. J-hope

yang merasa kasihan pun mengambil sapu tangan yang kebetulan berada disaku celananya dan

memberikannya kepada Hayoung, membiarkan Hayoung yang terlebih dahulu menggunakannya.

“Ladies first.”

“Cih!” hayoung pun menerima sapu tangan kotak-kotak tersebut dan membawanya ke

hidung mancungnya untuk mengusap dan membersihkan noda cream cokelat pada hidungnya.

Setelah selesai, Hayoung pun mengembalikan sapu tangan tersebut kepada J-hope. “Komawo,

oppa.”

“Sudahlah, jangan marah lagi. Eskrim ini benar-benar untukmu. Makanlah dengan baik,

ini bisa membantumu menghilangkan rasa stressmu.” Kata J-hope bijak sambil membersihkan

hidungnya dari noda cream cokelat dengan sapu tangan kotak-kotaknya. “Kapan kau akan

menjawab pertanyaanku?”

“Pertanyaan? Yang mana?” Tanya Hayoung balik dengan heran sambil kembali focus

memakan eskrim cokelatnya.

“Obat tidur. Kakak perempuan. Kakak laki-laki. Itu ada 3 pertanyaan.” Ujar J-hope

menjabarkan kata kunci untuk setiap pertanyaannya sambil menunjukkan jari kelingking, jari

manis dan jari tengahnya yang terangkat sementara jari jempol menahan jari telunjuk supaya

tidak kemana-mana dan mengacaukan hitungan J-hope. Sementara Hayoung hanya ber-oh ria

dan mencoba untuk memikirkan jawabannya sebentar.

“O-bat ti-dur itu. Eum… aku meminumnya beberapa pekan terakhir ini.” Jawab Hayoung

agak ragu karena ia takut J-hope akan marah kepadanya sambil terus berusaha memakan

eskrimnya dan segera menghabiskannya dengan santai seolah tidak ada apa-apa dari jawaban

yang ia berikan kepada J-hope.

“Lalu? Kenapa kau meminumnya?” Tanya J-hope sambil menghabiskan eskrim cokelat

miliknya juga.

“Apakah aku harus menceritakannya?” Tanya Hayoung balik.

“Ceritakan saja. Bukankah kita berteman? Tidak baik menyimpan penderitaan sendirian.”

Kalimat terakhir J-hope membuat Hayoung tertegun untuk sementara waktu. Entah

kenapa Hayoung merasa perkataan J-hope itu benar-benar diperuntukkan untuknya walaupun J-

hope masih belum terlalu mengetahui semua tentang dirinya. Bagaimana dia bisa mengeluarkan

kata-kata seperti itu? Bahkan Hayoung tidak pernah memikirkan hal tersebut dan terus

memendamnya sendirian ketika tidak ada Hyemi eonninya dan Kyungsoo oppanya.

“Arasseo. Itu semua karena mimpi buruk.”

“Mwo? Mimpi buruk? Bagaimana bisa?”

Awalnya Hayoung bingung bagaimana cara dia menceritakan hal ini kepada J-hope.

Harus dimulai darimana ceritanya?

“Eum… sebenarnya aku benar-benar mempunyai kakak perempuan. Dan aku juga

mempunyai kakak laki-laki…”

“Kyungsoo hyung kan?” Tanya J-hope dengan riang memastikan namun memotong

jawaban Hayoung dan membuat Hayoung berdecak kesal karena J-hope tidak memperhatikannya

dengan benar.

“Kau ingin mendengarkan jawabanku atau tidak?” Tanya Hayoung tajam, membuat J-

hope salah tingkah karena sudah sok tahu.

“Ah, mian. Mian. Silahkan lanjutkan.”

“Jadi…”

Hayoung menceritakan semuanya secara lengkap dimulai dari cerita tentang dirinya yang

kehilangan Oh Hyemi sampai pada akhirnya ia bertemu dengan J-hope yang berhubungan

dengan mimpi- mimpi buruk itu tanpa mengucapkan atau memasukkan nama ‘Oh Sehun’ di

dalam ceritanya. Hayoung hanya menggunakan kata ‘namja itu’, dengan penjelasan bahwa

‘namja itu’ adalah oppa kandungnya, sebagai ganti dari kata ‘Oh Sehun’. Entah kenapa Hayoung

menganggap kata ‘Oh Sehun’ adalah kata yang harus disensor layaknya sesuatu yang tidak baik

bagi dirinya dan menghapusnya dari kamusnya sendiri.

Setidaknya kali ini Hayoung sedikit lebih bisa mengendalikan emosinya daripada yang

kemarin-kemarin yang apabila mendengar nama ‘Oh Hyemi’ atau ‘Do Kyungsoo’, ia akan

langsung termenung, apalagi bila mengucapkan kedua nama tersebut akan membuat tangisannya

pecah, namun kali ini Hayoung lebih sedikit menitikkan air matanya dan terus tegar dihadapan J-

hope karena ia sudah berjanji untuk menjadi dongsaeng yang kuat. Dan ada sedikit kelegaan

dihati Hayoung ketika ia sudah menyelesaikan ceritanya kepada J-hope, seperti serpihan kaca

yang dulu terus menusuk-nusuk dirinya dan membuat hatinya berlubang kini serpihan kaca

tersebut sudah menghilang dan kini yang harus dilakukannya adalah menambal hatinya dengan

kenangan yang indah dan menyenangkan lagi.

“Mianhee, pasti semua ini sangat berat bagimu kan?” Tanya J-hope memastikan dan ikut

berduka cita setelah mendengar cerita Hayoung yang membuatnya ingin menangis.

“Sangat. Aku merasa tersiksa sendirian.”

“Aku tahu itu sangat berat. Tapi kau tidak boleh meminum obat tidur itu lagi. Kau harus

membuang obat tidur itu. Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Arachi?” suruh J-hope membuat

Hayoung membulatkan mata sempurna karena terkejut.

“Hah?! Bagaimana caranya? Bagaimana kalau aku mimpi buruk lagi?”

“Eum…” gumam J-hope sambil meletakkan telunjuknya didagunya dan berfikir, tentang

apa yang harus ia lakukan untuk membantu Hayoung. Dan akhirnya terlintas sebuah ide

dipikiran J-hope. “kau bermimpi buruk karena hari-harimu membosankan kan?” Tanya J-hope

memastikan.

“Eum… mungkin, iya.”

Seketika J-hope menjentikkan jarinya membuat Hayoung terkejut dengan apa yang

dilakukan oleh J-hope. “Kalau begitu, ayo kita ubah itu.”

“Apa?”

“Ayo kita buat hari-harimu menjadi lebih menyenangkan, supaya kau tidak bermimpi

buruk lagi.” Ujar J-hope riang dan membuat Hayoung menarik kedua sudut bibirnya bahagia

begitu juga dengan J-hope.

“Eung! Kajja!!”

Flashback end

***

Seoul 2015

Masih lengkap dengan seragam sekolah kuning dan tas hitamnya yang ia sandang

dipundak kanannya Sehun berjalan sendirian dilorong rumah sakit yang lumayan sepi. Namun

Sehun merasa ada yang menjanggal di sekitarnya, ia merasa diikuti oleh seseorang atau beberapa

orang. Sehun terus merasa was-was dengan sekitarnya berharap itu hanyalah imajinasinya

sampai ia mendengar suara bisik-bisik dibelakangnya. Ia menyengir heran, ia tahu siapa yang

mengikutinya. Ani, itu bukan pembunuh bayaran ataupun hantu siang bolong seperti yang Sehun

bayangkan sedari tadi.

“Hyung, aku tahu kau mengikutiku. Jadi keluarlah dari tempat persembunyianmu.” Ujar

Sehun ketika ia membalikkan tubuhnya dan bola matanya dapat menangkap sekeompok namja

dengan seragam yang sama dengannya yang notabenenya adalah teman-temannya sendiri.

“Haishh Sehun hyung. Kau mengejutkan kami!” rengek Jungkook sambil mengelus-elus

dadanya.

“Hehe mian Sehun-ah.” Cengir Luhan sambil menggaruk tengkuknya.

“Kalian bisa bilang kepadaku bila ingin ikut menjenguk Hayoung. Tidak perlu

menguntitku seperti itu, ara.” Kata Sehun meceramahi teman-temannya lalu kembali

membalikkan tubuhnya dan berjalan di sepanjang lorong tersebut mencari tujuannya datang

kerumah sakit.

“Yak! Sehun-ah tunggu kami!”

Dan disilah mereka akhirnya berdiri diruangan bernomor 203 tempat Hayoung dirawat.

Kenapa mereka tidak duduk saja? Maunya sih begitu, tapi sayangnya sofa yang tersedia

diruangan itu tidak cukup untuk mereka bersembilan termasuk Sehun. Eomma Sehun sudah

mengambil alih duduk dikursi di samping kasurnya Hayoung ketika mereka sudah memasuki

ruangan tersebut.

“Oh! Sehun-ah! Kau juga membawa teman-temanmu?” Tanya eomma Sehun terkejut

begitu melihat Sehun dan teman-temannya masuk beramai-ramai keruangan tersebut.

“Iya.”

“Annyeong haseyo ahjumma.” Sapa yang lain sambil membungkukkan kepala mereka

dengan serempak.

“Eoh ne, annyeong. Silahkan duduk.” Ujar eomma Sehun mempersilahkan, sementara

Sehun dan teman-temannya hanya melongo. Bagaimana mereka akan duduk? Akhirnya mereka

memilih untuk duduk cersama-sama di tikar yang tersedia diruangan tersebut. “Aigoo, ahjumma

minta maaf karena kursinya tidak cukup untuk kalian semua.” Lanjut eomma Sehun ketika

melihat hal malang tersebut.

“Aniyeo ahjumma, ini bukan salah ahjumma. Tapi kamilah yang terlalu banyak orang-

orangnya, geutjo?” ujar Baekhyun bijak yang disambut anggukan setuju oleh yang lain,

sementara eomma Sehun yang mendengar hal tersebut hanya terkekeh.

Namun tidak lama kemudian terdengar bunyi handphone yang berdering yang berasala

dari tas kulit eomma Sehun, membuat eomma Sehun dengan rusuh memeriksa tasnya lalu

mengangkat panggilan tersebut setelah menemukan handphonenya. Eomma Sehun berdiri dari

duduknya dan bergerak menjauh dari Sehun untuk berbicara dengan yang menelponnya. Lalu

detik berikutnya, setelah selesai mengangkat teleponnya Eomma Sehun mengambil tas kulitnya

yang terletak di maja nakas disamping kasur Hayoung.

“Kalian bisa menjaga Hayoung sebentarkan?” Tanya eomma Sehun sambil berjalan kea

rah pintu ruangan tersebut.

“Ne. eomma mau kemana?” Tanya Sehun balik setelah menjawab pertanyaan eommanya.

“Eomma harus pergi sebentar. Ada panggilan pekerjaan. Eomma pergi dulu ne. tolong

jaga Hayoung baik-baik.” Pesan eomma Sehun sebelum menghilang di balik pintu yang akhirnya

tertutup sendiri. Sementara Sehun hanya memutar bola matanya jengah dengan jawaban

eommanya, membuat dirinya muak. Kerja, kerja, dan kerja. Bahkan disaat anaknya masuk

kerumah sakit dan koma sekalipun mereka tetap bekerja. Apa mereka tidak tahu bahwa harta

mereka sudah melimpah ruah dibank? Kenapa merek buta bekerja sih?

Tidak lama kemudian terdengar lagi bunyi handphone yang bordering menandakan ada

yang menelpon, namun bukan dari sebuah tas kulit melainkan dari salah satu saku celana. J-hope

yang merasa sakunya bergetar pun mengambil handphonenya dari sana dan melihat ada nomor

asing yang menelponnya.

“Nugunde?” Tanya Taehyung sambil melirik handphonenya J-hope.

“Molla.” Jawab J-hope sambil mengangkat telepon tersebut. “Halo?”

“J-hope sunbae! Akhirnya kau mengangkatnya.” Jawab seseorang dari seberang sana.

“Nuguseyo?” Tanya J-hope sambil menyengir heran begitu mendengar jawaban dari

seberang sana. Itu suara seorang yeoja. Siapa yeoja lain yang ia kenal selain Hayoung dan

eommanya? Yeoja ini juga memanggilnya dengan embel-embel sunbae, berarti yeoja ini adalah

hobaenya disekolahnya. Tapi siapa? Darimana yeoja ini mendapatkan nomornya?

“Ah iya, aku lupa. Annyeong haseyo sunbae. Ini aku, Kim Namjoo.”

“Oh… Kim Namjoo. Teman barunya Hayoungkan?” Tanya J-hope memastikan.

“Ah ne. Dimana—”

“Bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku?” Tanya J-hope memotong kalimat Namjoo

dan membuat Namjoo diam-diam mencibir diseberang sana karena J-hope memotong

kalimatnya.

“Tentu saja dari Hayoung! Sekarang, dimana rumah sakit tempat Hayoung dirawat?”

Tanya Namjoo dengan kesal.

“Dirumah sakit ****. Ruangan 203. Kau juga ingin menjenguk?”

“Tentu saja! Hayoung kan temanku. Komawo sunbae! Aku tutup dulu. Sampai jumpa.”

Tuut… tuut… tuut…

Sambungan telepon diputuskan oleh Namjoo yang berada di seberang sana. “Siapa itu?”

Tanya Chanyeol begitu J-hope menjauhkan handphonenya dari telinganya.

“Kim Namjoo. Dia juga ingin menjenguk Hayoung.” Jawab J-hope yang disambut oleh

yang lain dengan ber-oh ria.

“Kita mau ngapain aja disini?” Tanya Kai karena merasa mulai bosan.

“Yang jelas kalian tidak boleh rebut disini.” Jawab Sehun dingin.

“Wae?” Tanya Jimin.

“Karena ini rumah sakit. Kau tidak boleh rebut bila berada disini. Hayoung juga sedang

sakit.” Jelas Luhan, sementara Jimin hanya ber-oh ria.

Akhirnya mereka menghabiskan waktu disana dengan saling bercanda dan terkadang

tertawa namun tidak terlalu terbahak-bahak. Karena apa bila itu terjadi, Sehun akan mengusir

mereka dari ruangan tersebut.

Tok! Tok! Tok!

Bunyi pintu yang diketuk menggema ke seluruh ruangan Hayoung, membuat J-hope dan

yang lain menghentikan candaan mereka. Dan membuat mereka bertanya-tanya siapakah yang

mengetuk pintu. Akhirnya rasa penasaran mereka terbayar begitu pintu tersebut terbuka dan

menampilkan Namjoo dengan sekantung buah-buahan di tangannya bersama dengan Nara dan

Miju, namun masih ada satu orang lagi disana yang membuat Sehun menjadi badmood seketika.

Siapa lagi kalau bukan Choi Kyungjae yang notabenenya adalah pacarnya Nara yang kini berdiri

disamping Nara dengan cool-nya.

“Annyeong haseyo.” Sapa Namjoo sambil memasuki ruangan tersebut diikuti oleh Nara,

Miju dan Kyungjae.

“Ne, annyeong.” Balas yang lain namun tidak dengan Sehun yang hanya diam saja dan

menatap tajam kea rah Kyungjae. Sementara Kyungjae hanya menyegir sinis begitu mengetahui

hal tersebut dan mulai merangkul Nara, membuat Sehun semakin memanas. Nara hanya

tersenyum manis kepada Kyungjae ketika Kyungjae merangkulnya, tanpa mengtahui seseorang

yang mungkin membutuhkan es saat ini.

“Namjoo-ssi, kau membawa buah-buahan?” Tanya Chanyeol ketika melihat Namjoo

yang menenteng sekantung buah-buahan dari minimarket.

“Bukankah Hayoung tidak akan bisa memakannya karena dia sedang koma?” sambung

Kai yang langsung disambut jitakan dikepalanya dari Luhan. “Hyung! Kenapa kau menjitakku?

Sakit tahu?” protes Kai sambil memegang kepalanya.

“Kau tidak sopan. Itu lebih baik, daripada aku menendang bokongmu.” Jawab Luhan

yang disambut tawaan oleh yang lain.

“Yak! Kubilang tidak boleh rebut kan?” ujar Sehun menghentikan taw aria orang-orang

ini.

“Dasar pengganggu kesenangan orang lain saja.” Gerutu Baekhyun dengan sangat pelan

agar Sehun tidak bisa mendengarnya.

“Kupikir bila menjenguk seseorang harus membawa sesuatu.” Ujar Nara membuat J-hope

sadar akan sesuatu.

“Aigoo… aku benar-benar oppa yang buruk.” Gumam J-hope, membuat Sehun beralih

menatap tajam ke arahnya karena mengira kalimat itu diperuntukkan untuknya atau sindiran

untuknya.

“Memangnya kenapa hyung?” Tanya Jungkook heran dengan gumaman J-hope yang

tiba-tiba.

“Aku bahkan tidak membawa apapun ketika menjenguk Hayoung.” Jawab J-hope.

“Ah iya, kita kesini hanya dengan tangan kosong.” Sambung Luhan sambil menepuk

jidatnya.

“Gwenchana, kita mempersembahkan nyanyian untuk Hayoung.” Usul Jimin.

“Oh… ternyata kau pintar juga ya.” Goda Taehyung.

Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan kea rah pintu ruangan Hayoung ingin keluar

dari tempat yang mulai pengap tersebut karena terlalu banyak orang didalamnya, dan membuat

yang lain heran dengan tindakan Sehun yang tiba-tiba namun tidak dengan Kyungjae yang saat

ini hanya tersenyum penuh kemenangan didalam hatinya.

“Ada apa dengannya?” Tanya Miju sambil menunjuk pintu ruangan Hayoung atau lebih

tepatnya kea rah Sehun menghilang dari pandangan mereka.

“Molla.”

J-hope yang merasa kasihan pun beranjak berdiri dari duduknya. “Aku akan

menyusulnya.” Ujar J-hope sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk menyusul Sehun.

Di tempat lain, Sehun sudah duduk disebuah kursi taman dan menikmati angin yang

menerpa tubuhnya juga menghirup segarnya angin dengan perlahan, berusaha untuk

menenangkan dirinya yang sedang tidak karuan ini. Tidak jauh darinya, J-hope berjalan ke

arahnya dengan dua buah gelas berisi minuman segar yang berada di kedua tangannya.

“Ini, minumlah!” ujar J-hope sambil menyerahkan salah satu minuman segar yang

dibawanya kepada Sehun. Sebenarnya Sehun heran kenapa J-hope memberinya minuman ini,

namun pada akhirnya ia menerimanya juga walaupun masih dengan perasaan heran kepada J-

hope.

“Kenapa kau memberikanku ini?” Tanya Sehun sambil menyeruput minuman segar

tersebut melalui pipet panjang yang sudah tersedia disana.

“Cham… kau sama saja seperti adikmu.” Gumam J-hope begitu mendengar pertanyaan

Sehun yang sama persis dengan pertanyaan yang biasa Hayoung lontarkan kepadanya.

“Hayoung?”

“Eung! Kalian menanyakan hal yang sama bila aku memberi kalian sesuatu.”

“Benarkah? Mengherankan.” Ujar Sehun sambil menyengir heran. “Kau tidak marah

padaku lagikan?”

“Heum? Marah? Sepertinya tidak terlalu.”

“Wae?”

J-hope mengambil nafas sejenak sebelum menjawab, “Karena… aku tidak bisa marah

terlalu lama dengan sahabatku. Dan ini juga bukan sepenuhnya salahmu.”

“Komawo.”

“Ah iya, kenapa kau keluar dari kamar Hayoung dan meninggalkan kami semua disana?”

Tanya J-hope sambil memiringkan kepalanya heran.

“Aku… aku hanya ingin merasakan udara segar saja.” Jawab Sehun walaupun agak ragu

tanpa menatap J-hope.

“Benarkah? Kupikir kau sedang cemburu.”

“Mwo? Aku? Cemburu? Tidak mungkin! Memangnya apa yang aku cemburukan hah?”

Tanya Sehun berusaha menyangkal pikiran J-hope kepada dirinya, walaupun hal itu benar

adanya.

“Heii… jangan bohong. Tadi aku melihat Kyungjae merangkul Nara. Kau pasti sedang

cemburu kan? Iyakan?” goda J-hope, membuat Sehun semakin salah tingkah. J-hope yang

melihat Sehun yang menyengir kea rah lain hanya terkekeh pelan melihat sahabatnya yang baru

jatuh cinta.

“Yak! Geumanhee!”

***

Di kamar rawat Hayoung, terlihat Hayoung yang masih tidur dengan damai dikasur

putihnya diselimuti dengan selimut coklat muda yang tebal membuatnya tidak terlalu

kedinginan, seperti nasib seorang namja yang tidur dengan posisi duduk disamping kasurnya

dengan kepala yang ditumpu oleh tangan kanan namja itu yang panjang disebelah Hayoung.

Keduanya terlihat damai tanpa ada gangguan, tidak seperti biasanya yang selalu dingin tanpa

ekspresi.

Kriiett…

Tidak lama kemudian terdengar pintu ruangan Hayoung yang dibuka oleh seseorang yang

menggema keseluruh ruangan sepi yang hanya diterangi oleh lampu oranye itu, menampilkan

seorang wanita paruh baya dengan pakaian casualnya masuk keruangan tersebut dan melihat

kedua anaknya tengah tidur dengan tenang, membuatnya diam-diam menarik kedua sudut

bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis diwajah letihnya. Dia masuk kedalam ruangan

tersebut lalu berjalan kea rah dua manusia yang tengah tertidur pulas tersebut dan berdiri

disamping si namja.

Awalnya ia merasa ragu untuk membangunkan namja itu namun pada akhirnya ia

mengelus lembut punggung namja itu dan memanggil nama namja itu. “Sehun-ah! Sehun-ah!

Bangunlah!” panggil wanita paruh baya tersebut berniat membangunkan namja itu – Sehun

dengan cara yang lebih lembut karena jujur ia masih merasa tidak tega untuk membangunkan

Sehun yang tertidur pulas namun ia mengkhawatirkan posisi tidur Sehun yang jelas-jelas salah

dan tidak baik bagi kesehatan Sehun.

Sehun menggeliat pelan dari posisi tidurnya, tanda ia merasa terganggu dengan

pergerakan yang ia rasakan dipunggungnya dan suara lembut yang memanggil namanya.

Akhirnya Sehun pun memberdirikan kepalanya dengan rambut yang agak berantakan dan bola

matanya dapat menangkap sesosok wanita paruh baya yang sangat tidak asing baginya, ia

mengerjapkan matanya pelan dan memfokuskan pandangannya. “Eomma, apa yang kau lakukan

disini?” Tanya Sehun masih setengah sadar.

“Pulanglah! Aku yang akan menjaga Hayoung malam ini.” Ujar wanita paruh baya

tersebut yang notabenenya adalah eommanya Sehun dan Hayoung.

“…” akhirnya Sehun sudah sadar sepenuhnya namun ia hanya diam tanpa bergerak

sesenti pun dari posisi duduknya. Masalahnya adalah ia bingung bagaimana ia akan pulang ke

rumahnya di saat malam semakin larut ini. Bus? Bus mungkin saja sudah berhenti beroperasi

saat ini. Apakah ia harus berjalan kaki?

“Han ahjussi masih ada dibawah. Kau bisa menyuruhnya untuk mengantarkanmu pulang

kerumah.” Ujar eommanya seakan-akan tahu apa yang tengah Sehun bingungkan.

“Arasseo. Aku pergi dulu, eomma.” Ucap Sehun sambil beranjak berdiri dari duduknya

dan berjalan kea rah pintu ruangan rawat Hayoung untuk keluar dari ruangan tersebut.

“Hati-hati ya.” Pesan eomma kepada Sehun yang mulai menghilang dibalik pintu yang

mulai tertutup dengan otomatis.

***

Sehun’s Dream

Is it true? Is it true? You… you… too beautiful to scare me. Untrue… untrue… you…

you… you… (Butterfly – BTS)

Di sebuah tempat yang gelap penuh dengan tembok-tembok yang menjulang tinggi,

hanya sebuah lampu temaramlah yang menerangi tempat yang penuh dengan aura gelap

tersebut. Disalah satu sudut tempat tersebut, berdiri seorang namja dengan setelan putihnya

sedang menyapu pandangannya ke sekeliling tempat gelap tersebut. Bingung? Itulah yang

sedang dirasakannya sekarang.

“Aku ada dimana?” Tanya namja tersebut bingung dengan sebuah tempat yang cukup

gelap tempat dia berada. Namja itu terus berjalan tanpa mengetahui arah yang dituju karena

dia sangat tidak mengenal tempat tersebut serta dia ingin secepatnya mencari jalan keluar dari

tempat mengerikan ini dan menemui yeoja yang sangat disayanginya, yeoja yang sangat ingin

dia temui.

Tak lama kemudian dia berhenti karena sebuah cermin besar yang buram menutupi

jalannya yang menampilkan dirinya dengan setelan putih yang sedang kebingungan. Jalan

buntu. Begitu juga dengan pikirannya, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Namja itu

hanya menatap sendu cermin yang menghalangi jalannya tersebut, dan tangannya mulai terulur

ke cermin tersebut berharap cermin itu tidak nyata atau dia bisa menghancurkan cermin

tersebut agar dia bisa secepatnya pergi dari tempat tersebut.

sehun dream.png

Namun sebelum menyentuh cermin besar tersebut, pergerakan tangannya berhenti

seiring dengan telinganya yang menangkap sebuah suara lembut yang memanggil namanya.

“Sehun-ah…”

ohhyemi.jpg

Dengan cepat, namja itu – Sehun pun membalikkan tubuhnya kea rah sumber suara yang

berada dibelakangnya. Sehun dapat melihat seorang yeoja dengan dress tanpa lengan bercorak

simple dengan rambut panjang yang tergerai berdiri tidak jauh darinya. “Noona…” gumam

Sehun terkejut dengan apa yang ada dipenglihatannya. Sehun mengusap-usap matanya

berharap dia bukanlah sebuah halusinasi tapi nyata. “Hyemi noona…” gumam Sehun lagi

sambil berlari kea rah yeoja yang dirindukannya itu – Hyemi.

Setelah berada di hadapan Hyemi, Sehun pun berhenti berlari tanpa menghilangkan

senyuman bahagia yang tercetak diwajahnya. Disaat Sehun ingin memeluk Hyemi, sayangnya

Hyemi melangkah mundur membuat Sehun tidak jadi memeluk Hyemi dan memandang Hyemi

heran.

“Kenapa kau melakukannya?” Tanya Hyemi sambil menatap sedih kea rah Sehun yang

semakin bingung karena tidak tahu kemana arah pembicaraan Hyemi.

“Noona, ada apa?”

“Kenapa kau mengingkari janji kita?”

“Mwo?”

“Kau bilang kau akan menjaganya dengan baik.” Kali ini Sehun tahu kemana arah

pembicaraan noonanya.

“…”

“Kau tahu kalau Hayoung-lah yang paling lemah diantara kita semua. Tapi kenapa kau

malah mengacuhkannya begitu saja?” Tanya Hyemi dengan mata yang mulai memerah

membuat lidah Sehun kelu seketika karena merasa bersalah.

“…”

“Bukankah kau sudah berjanji? Tapi kenapa?”

“…”

“Kenapa kau diam? Kenapa kau hanya diam saja hah?” Tanya Hyemi bertubi-tubi

dengan emosi. Setitik dua titik liquid bening mulai jatuh dari mata indah Hyemi. Sementara

Sehun hanya terdiam dan menundukkan kepalanya pasrah, membiarkan noonanya menyalahkan

dirinya yang bodoh.

“Mianhee…”

“Aku tahu kau juga sedih, tapi kau tidak boleh seperti itu.” Ujar Hyemi lembut dengan

sesenggukan karena air matanya mulai mengalir dipipinya.

“Mianhee noona…”

“Lihatlah apa yang telah kau lakukan padanya.” Kata Hyemi sambil mengarahkan

telunjuknya kepada salah satu tembok tinggi yang gelap yang berada tidak jauh dari mereka.

Sehun pun mengarahkan pandangannya kepada tembok yang ditunjuk oleh Hyemi. Lalu Hyemi

pun menurunkan kembali tangannya setelah tembok tersebut mulai menampilkan sesuatu.

Tembok tersebut menampilkan seorang yeoja yang tengah menangis tersedu-sedu di tepi

sungai Han. Lalu berubah menjadi seorang yeoja yang sedang dikerubungi oleh beberapa orang

haksaeng, para haksaeng tersebut memandang yeoja tersebut dengan pandangan sinis lalu detik

berikutnya mereka mulai menendang yeoja tersebut dengan tenang tanpa merasa bersalah. Lalu

tampilan di tembok tersebut berubah lagi menjadi seorang yeoja yang sama tengah memeluk

kakinya dan menyembunyika wajahnya dilututnya dengan punggung yang gemataran, yeoja itu

menangis sendirian ditemani oleh hujan yang membasahinya di sebuah taman yang sudah sepi.

Dan terakhir, masih dengan seorang yeoja yang sama yang tengah berbaring lemah disebuah

kasur putih dengan suntikan infuse ditangan yeoja tersebut. Lalu setelahnya tampilan pada

tembok tersebut memudar dan menghilang dari pandangan Sehun dan Hyemi, menyisakan

dinding gelap yang menjulang tinggi.

Hati Sehun serasa seperti diiris oleh pisau yang berkarat begitu melihat rentetan

peristiwa yang ditampilkan oleh tembok yang menjulang tinggi tersebut. Sakit, terasa amat sakit

dihati Sehun begitu melihat yeoja yang sebenarnya ia sayangi mendapatkan rentetan peristiwa

yang menyedihkan itu. Setetes dua tetes liquid bening jatuh ke lantai pualam yang juga gelap,

air mata tersebut jatuh dari mata Sehun membasahi pipi tirusnya.

“Pabboya! Sekarang apa yang akan kau lakukan?” Tanya Hyemi, sementara Sehun

masih bungkam dengan tatapan mata yang kosong tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan

noonanya.

“Kali ini kau harus berjanji akan mengembalikannya seprti semula.” Kata Hyemi tegas,

membuat Sehun mendongakkan kepalanya terkejut dengan apa yang disuruh oleh noonanya.

“T-tapi noona–“

“JANJI?!” seru Hyemi dengan nada tingginya membuat Sehun hanya bisa pasrah dan

mengikuti apa yang disuruh oleh noonanya.

“Ne, janji.”

Lalu detik berikutnya, tanpa Sehun sadari kepala Hyemi mulai dialiri oleh darah segar.

Darah segar itu terus mengalir sampai bagian bawah tubuh Hyemi, membuat Hyemi seperti

bermandikan oleh darah, didetik berikutnya Hyemi sudah menghilang dari hadapan Sehun bagai

kaca yang retak dan akhirnya pecah namun tidak menyisakan satu serpihan pun.

Sehun memang tidak menyadarinya karena ia sedang menundukkan pandangannya dan

melamun memikirkan apa yang harus ia lakukan agar Hayoung kembali hangat seperti dulu

disaat mereka masih bertiga. Namun beberapa detik kemudian ia baru sadar bahwa ada yang

lain dengan tempat gelap itu, Sehun pun mendongakkan kepalanya. Dan benar saja, tidak ada

siapapun disana kecuali dirinya yang sedang kebingungan dengan sebuah pertanyaan

dipikirannya, ‘kemana noonanya pergi’. Padahal tadi mereka sedang bersama dan berhadapan.

Sehun pun mulai berlari tanpa tahu arah mengelilingi tempat yang masih gelap tersebut.

Dia sedang mencari kemana noonanya pergi tanpa mengetahui bahwa Hyemi sudah kembali

ketempat asalnya sedari tadi.

“Noona!” panggil Sehun dengan lantang, masih mencari Hyemi.

“Noona!”

“Noona!”

“Kau dimana?!”

Tess!

Setetes liquid bening lagi-lagi jatuh dari mata tajam Sehun. Ia mungkin sudah tahu

dimana noonanya berada sekarang, namun dengan susah payah ia berusaha menyangkal hal

tersebut dan terus mencari noonanya yang sudah tidak berada disampingnya. Sampai akhirnya,

Sehun terduduk lemas dengan punggung yang menempel pada tembok tinggi yang sedari tadi

menemaninya berlari karena kelelahan dan pasrah dengan kenyataan yang ada. Sehun

memegangi kepalanya yang berdenyut keras karena mungkin terlalu banyak pikiran. Namun

bukannya kunjung berhenti, denyutan dikepalanya semakin menjadi membuatnya terus berusaha

menahan rasa sakit itu.

“AKHH!!!” teriak Sehun berusaha menahan rasa sakit dikepalanya dan dihatinya.

“NOONA!”

sehun dream 2.png

###

“Noona!!” seru Sehun. Namun begitu ia membuka matanya, Sehun dapat melihat

pemandangan atap biru seperti atap kamarnya bukan seperti diruangan yang gelap tadi. Sehun

beranjak bangun dari posisi tidurnya, namun bukannya tembok-tembok yang menjulang tinggi

yang berada dihadapannya tapi sebuah ruangan dengan nuansa biru putih persis seperti

kamarnya. Ia memang sudah pulang kerumahnya sejak beberapa jam yang lalu dengan Han

ahjussi yang notabenenya adalah sopir pribadi keluarganya.

Sehun menghela nafas lega. “Ini hanya mimpi buruk.” Gumam Sehun sambil beralih

untuk memegangi kepalanya yang masih pusing. Namun entah kenapa ketika Sehun memegangi

kepalanya, Sehun merasakan basah di tangannya. “Basah?” gumam Sehun heran, lalu diliriknya

bantal yang tadi ia gunakan untuk tidur dan disentuhnyalah benda itu. “Basah juga?”

Apakah sedari tadi ia terus berkeringat dingin?

Dan jawabannya adalah…

Ya…

Jika biasanya Hayounglah yang merasakan hal tersebut. Entah kenapa, kini Sehun juga

merasakannya. Ikatan kakak beradik yang sebenarnya saling menyayangi, namun entah kenapa

mereka tidak peka terhadap hal tersebut.

Sehun menghela nafas berat, lalu dia menyampirkan selimutnya dan menurunkan kakinya

ke lantai. Sehun mulai beranjak dari tempat tidurnya menuju sebuah pintu yang berada

dikamarnya. Sehun membuka pintu berlapiskan cat putih tersebut dan menampilakan suasana

ruangan yang sepi dan gelap karena ini sudah tengah malam dan eommanya sedang menjaga

Hayoung dirumah sakit.

Hayoung?

Sehun terus berjalan kea rah tangga untuk kebawah dan mengambil minuman yang dapat

menyegarkan tenggorokannya yang kering. Namun langkah kaki panjang itu terhenti ketika ia

berada didekat sebuah pintu kamar berwarna kuning dengan hiasan bunga-bunga. Sehun melirik

pintu kamar tersebut dan memusatkan pandangannya kepada sebuah ukiran indah yang

bertuliskan ‘Oh Hayoung’. Tangan Sehun beranjak untuk memegang tulisan tersebut berharap

bisa melepas rindu dan memeluk orang itu sekarang juga.

“Aku merindukanmu, Hayoungie…”

Huft…

Sehun memhela nafas berat seakan-akan ia merasa ada beban berat ditubuhnya.

“Apa yang harus kulakukan?”

Sementara di tempat lain, disebuah ruangan yang gelap yang hanya diterangi oleh cahaya

bulan yang merambat lewat gorden bercorak dan lampu berwarna orange yang berada di sebuah

meja nakas yang berada di samping sebuah kasur putih berukuran sedang, tampak seorang yeoja

tertidur lemah di kasur tersebut dengan suntikan infuse di tangan kirinya dan sebuah masker

bening yang menutupi hidung dan bibir pucatnya. Terkadang terlihat uap air yang muncul

dimasker tersebut, ya, masker tersebut berguna untuk membantunya bernafas.

Bermimpilah yang indah, Hayoung-ah…

TBC…

Chapter yang satu ini akhirnya selesai juga setelah melewati beberapa perubahan dan

banyaknya pemikiran di otakku. Aku benar-benar merasa bersyukur…

Aku sedang berusaha untuk chapter selanjutnya, jadi harap ditunggu kelanjutannya. Aku

sangat mengharapkan dukungan dari kalian semua untuk menyelesaikan ff ini.

Kamsahamnida!!!

Fighting!!!

Meet Choi Kyungjae

choi kyungjae.gif

Hayoung and Sehun’s parents

hayoung n sehun parents.jpg

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Some Body (chapter 5)”

  1. Kok pwnya choi kyungjae kya lee seung yeol infinite y,wktu di HSLO and pwnya oh hyemi kya suzy miss A,,,,,,,,,,,,?
    ,tlng bri pnjelasan

    1. gimana ya jelasinnya?
      sebenarnya mereka berdua itu benar-benar oc. jadi, terserah pada kalian untuk mengimajinasikan bagaimana diri mereka itu.
      Sunggyeol dan Suzy itu hanya imajinasi saya, supaya cerita yang saya buat lebih mudah bagi saya untuk mengimajinasikannya.
      semoga anda puas dengan jawaban dan cerita yang saya berikan.
      kamsahamnida!

    1. yang waktu itu adalah masa lalunya Hayoung, tolong diperhatikan tahunnya.
      dan yang sekarang dia memang koma.

  2. Sedihnya.. hayoung jadinya koma.. sehun tau rasa kan dimarahin hyemi.. tapi kasihan juga sih sehun sampe dimarahin gitu.. ceritanya makin seruu juga sedih.. ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  3. lanjut kax….
    moga sehun dan hayoung cpet baikan ya?
    aq sedih klau lihat mereka berdua yg saling menyakiti pdhl sbenernya mereka kan saling mnyayangi…

    1. ne, saya sedang dalam perjalanan untuk membuatnya. harap ditunggu kelanjutannya. dan semoga kalian semua akan menyukainya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s