[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 2)

posterdraft.jpg

Tittle: DRAFT

Author: nakashinine

Length: Chapter

Genre: School life, Friendship,

Rating: Teenager

Main cast: Oh Sehun (EXO) // Kim Kai (EXO) // Bae Irene (RV) // Kang Seulgi (RV)

Additional Cast: SM Artists.

Disclaimer: Fanfic ini murni terlahir dari otak author. Tapi #Konsep prolog terinspirasi dari

beberapa novel romance Indonesia. #Beberapa plot juga terinspirasi dari potongan-potongan

drama school korea yang mengudara pada tahun 2015.

JADI MOHON MAKLUM bila menemukan ke-familiar-an alur atau karakter.

A/N: Salam kenal. I’m a new freelancer(gapenting). Maaf ya chapter 1 kemarin emang 90%

isinya pendeskripsian, tapi chap-chap selanjutnya gaakan gitu kok hihi. Enjoy^^

Go to: [Prolog] [Chapter 1]

BUGK!

Seseorang tiba-tiba menendang kepala laki-laki itu, membuatnya tersungkur cukup jauh dari

tempat Irene berdiri. Gadis itu terlalu terkejut untuk segera lari dari sana. Beruntung, seseorang

yang menolongnya segera menarik tangannya dan membawanya kabur.

“Cepat!”

Irene sedikit terkejut mendengar suara yang familiar itu. Ketika mereka berlari menuju jalan

yang lebih terang dan luas, barulah Irene sadar siapa yang telah menolongnya.

“Omo ternyata itu kau Kim Kai!” Teriak Irene sambil berlari.

“Oh Sehun!” Kai tak menghiraukan Irene ketika melihat Sehun keluar dari minimarket. Seperti

biasa, meski terkejut tapi ekspresinya tetap datar.

“Kalian sedang apa?”

“Nanti kujelaskan. Kalau ada seorang laki-laki mencari kita. Katakan kau tak melihatnya.”

Dengan nafas yang terengah-engah Kai segera menarik Irene masuk kedalam minimarket itu dan

bersembunyi di pojokan.

“Mereka seperti baru saja kepergok mesum.”

Baru saja selangkah Sehun menuruni tangga pendek minimarket, seorang pria tinggi dan

berambut gondrong dengan luka di bibir, ngos-ngosan bertanya pada Sehun, “Apa kau melihat

seorang laki-laki bersama perempuan berlari-lari kearah sini?”

“Apa yang perempuannya memakai seragam sekolah?”

“Benar! Kemana mereka lari?”

“Oh. Mereka baru saja kearah sana.” Sehun menunjuk lurus ke jalan besar di depannya, ia benar-

benar pintar sekali berbohong dengan ekspresinya itu. Tanpa berkata apa-apa pria itu

mempercepat larinya dan dengan bodohnya terus berlari sampai bayangannya tak terlihat lagi.

.

“Haaah. Untung saja ada kalian berdua, kalau tidak.. Habislah aku.”

Sehun, Irene dan Kai kini duduk di tangga depan pintu masuk minimarket. Sehun masih

memandangi Irene dan Kai yang menghela nafas panjang-panjang karna kelelahan.

“Apa yang sudah kalian lakukan? Orang tadi terlihat seperti orang gila.”

“Yap! Dia benar-benar orang sinting!” Jawab Irene histeris.

“Sebenarnya dia itu siapa, Irene?” Kai ikut bertanya pada Irene. Yang ditanya malah merebut

minuman kaleng yang baru saja Sehun buka dan meminumnya dengan brutal. Si pemilik tak bisa

berbuat apa-apa selain memandanginya –datar.

“Kau…” Kai mulai menatap Irene dari atas ke bawah. “Bukan… Wanita seperti ‘itu’, kan?“ Kai

melanjutkan pertanyaan yang disambut dengan jitakan keras di kepalanya.

“Ya! Enak saja kau kalau ngomong! Dia itu kakak tiriku. Sikapnya benar-benar menyebalkan!”

Kai dan Sehun tak menjawab, mereka memandangi Irene dengan tatapan penasaran.

“Ck!” Dengan sebal Irene berdiri sambil menggaet lengan Sehun dan Kai. “Ayo! Cepat bawa

aku ke suatu tempat sebelum si bangka itu menyadari tipuan Sehun.”

Sehun dan Kai melepaskan tangannya masing-masing dari gandengan Irene dan mulai berjalan

dengan santai menuju apartemen Sehun.

“Tadi aku baru saja akan ke apartemen Sehun. Tapi aku tak sengaja mendengar teriakanmu yang

sangat familiar itu. Sebenarnya apa yang terjadi?”

Irene menghela nafas. “Aku mengadu pada ayahku kalau dia sudah berbohong meminta dana

untuk bakti sosial yang ternyata ia gunakan untuk membuat pesta di tempat temannya. Aku tau

itu karna aku mendengarnya sendiri dia mengobrol di telepon. Dia itu tipe orang yang hanya

suka bersenang-senang dan menganggurkan kuliahnya. Haaah… aku tidak menyangka setelah

Ayah memarahinya, dia langsung menyeretku waktu dia bertemu denganku. Akh, aku sudah

muak tak ingin pulang kesana.”

“Jadi sekarang kau akan kemana?” Tanya Sehun.

“Menginap di apartemen Sehun saja.” Usul Kai asal. Lagi-lagi ia mendapatkan jitakan keras di

kepalanya, kali ini dari tangan Sehun.

“Sembarangan. Irene bisa menginap di rumah temannya. Dan kau yang akan mengantarnya,

Kai.” Itulah usulan Sehun.

Irene lalu diam, dia ingat gosip anak-anak sekolah tentang Sehun yang tinggal sendiri di sebuah

apartemen. Dia pikir itu hanya gosip, tapi tak disangka ternyata itu mungkin memang benar.

“We?” Tanya Sehun yang melihat Irene tiba-tiba hening.

“Kau tinggal sendirian, Sehun?” Sehun hanya mengangguk. “Bagaimana bisa anak SMA

sepertimu dibolehkan tinggal sendirian di apartemen?” Lanjut Irene lalu menatap Sehun dengan

mata membulat.

“Sederhana saja, pemilik apartemen itu adalah teman ayahnya Kai. Jadi aku diperlakukan

khusus.”

Irene menganga, “Daebak! Hidupmu benar-benar sempurna. Aku harap aku bisa hidup sendirian

seperti itu.” Gadis itu menggelengkan kepalanya takjub.

“Lalu bagaimana? Kau ingin ayahku membelikanmu apartemen juga, begitu?” Celetuk Kai.

Irene segera menoleh cepat dengan mata berbinar. “Hm! Kau peka sekali Kim Kai.”

“Itu mustahil.” Kai kemudian tertawa.

Irene memanyunkan bibirnya, “Lalu aku harus kemana? Pokoknya aku tak mau pulang. Dan aku

tak punya teman dekat untuk ditumpangi.” Dia kemudian menghentikan langkahnya sambil

merengek-rengek seperti anak kecil.

“Pfft. Kasihan sekali.” Cibir Kai.

Sehun memandangi gadis itu beberapa saat, kemudian menghembuskan nafas berat.

“Kau memang cewek yang bisa diajak berkelahi. Tapi kupikir, sepertinya kita tak mungkin

membiarkanmu sendirian keluyuran semalam ini.” Kata Sehun.

“Apa maksudnya itu?” Tanya Irene memastikan.

“Maksudnya, kau boleh menginap, bodoh!” Jawab Kai lalu melanjutkan langkahnya bersama

Sehun.

“Benarkaah?!” Irene merubah ekspresinya menjadi kegirangan lalu menyusul langkah Sehun dan

Kai.

“Jangan lupa. Kau harus membayar perbuatanmu hari ini karna sudah menabrakku 2 kali plus

membuat handphoneku jatuh. Menumpang di tempatku juga tidak gratis, oke?”

“Ck. Sehun tidak asik ah!” Protes Irene sambil menonjok pelan lengan Sehun.

xxxx

Sementara Sehun sibuk membuat coklat hangat untuk mereke bertiga. Kai dan Irene duduk

menunggu di sofa. Irene terus saja memutar pandangannya ke setiap sudut apartemen Sehun.

Satu ruangan yang cukup besar ini terdiri dari dapur dan ruang santai dengan berbagai perabotan

modern. Dan hanya ada dua pintu yang sudah ia pastikan salah satunya adalah kamar Sehun.

Tempat ini sangat rapih, bersih, dan wangi untuk seukuran tempat tinggal seorang laki-laki.

“Kau baru pertama kali ya, masuk ke rumah bagus begini?” Ledek Kai melihat sikap Irene.

“Tidak usah meledekku!” Sambar Irene ketus.

“Eh eh Kim Kai, aku penasaran, apakah dia benar-benar tidak bisa tersenyum dan

semacamnya?” Tanya Irene tiba-tiba, matanya menatap Kai dengan tatapan menyelidik. Kai

menopang kepalanya dengan tangan di atas bahu sofa lalu mengangguk santai.

“Heol. Apa memang terlahir seperti itu? Ckck.” Lanjut Irene sambil geleng-geleng.

“Aku mendengarnya.” Sahut Sehun santai.

“Tidak juga. Kalau kau ingin tau. Keluarga kami ini dulu bersahabat. Ayahku bilang aku dan

Sehun berteman saat kami sama-sama masih belajar berjalan.”

“Hm daebak.” Komentar Irene.

“Dulu Sehun anak yang ceria, sampai kami kelas 1 SMP, ketika dia tau orang tuanya kecelakaan

saat di pesawat.. Sehun kehilangan senyum dan ekspresi bahagianya. Sejak saat itu dia pindah ke

SMP-ku dan tinggal di rumahku sampai lulus.” Kai menceritakannya dengan nada biasa, tapi

tatapannya pada Irene membuat gadis itu merasa ngilu. Ternyata seperih itu alasan kenapa Sehun

tak bisa tersenyum sama sekali. Suasana hening seketika. Sehun juga sejak tadi mendengarkan,

namun dirinya dan Kai sudah biasa dengan cerita itu. Semacam keterbukaan yang wajar

–setidaknya diantara Sehun dan Kai saja. Tangannya kembali mengaduk isi gelas terakhir.

“Ya Kim Kai. Bukankah tidak sopan menceritakan hidup orang lain pada orang asing?” Sehun

akhirnya menyahut dengan nada yang santai, mencoba mencairkan kecanggungan yang

memenuhi ruangan.

“Kau anggap aku ini orang asing? Kita ini satu club, kau ingat?” Protes Irene sambil mengambil

gelas dari atas nampan yang baru diletakkan Sehun di atas meja.

“Kalau begitu semua teman club danceku harus mendengar cerita itu juga?” Balas Sehun.

Irene mengabaikan pertanyaan Sehun dan mulai menyeruput isi gelasnya perlahan. Dibalik

gelasnya, mata Irene mencuri-curi pandangan ke arah lelaki itu, memastikan reaksi Sehun setelah

dirinya sudah membuat Kai mengungkit kembali ingatan pedih itu. Irene jadi merasa bersalah.

Tapi percuma mencari tau. Ekspresi Sehun benar-benar tidak bisa dibaca.

9.10 PM

“Jaga baik-baik gadis orang, Sehun-aah.” Ucap Kai jahil. Sehun dan Irene saling melirik.

“Ya!” Irene menepuk kepala Kai dengan keras, kali ini dengan sebuah buku yang sedang Sehun

genggam. Kai merintih.

“Sehun tak mungkin segenit kau, Kim Kai!”

“Ne, nee… Aku bercanda. Ya sudah. Aku pergi, ya.” Kai melambaikan tangan lalu segera

meninggalkan gedung apartemen.

Sehun menutup pintu lalu berjalan santai ke arah kamarnya, tak menghiraukan keberadaan Irene

seolah-olah ia sedang sendirian seperti hari-hari biasanya.

“Sehun-ah.” Panggil Irene lalu menyusul langkah Sehun. Laki-laki itu hanya melirik dan

memberi tanda tanya lewat matanya.

“Aku minta maaf.”

“Untuk?”

“Yang tadi. Aku tidak tau, jadi aku tak sengaja membuat Kai –“

“Aku tidak apa-apa. Lupakan saja.” Belum selesai Irene menjelaskan, Sehun memotongnya lalu

masuk ke dalam kamar.

Irene menjatuhkan dirinya ke sofa. Meski Sehun bilang begitu, ia masih saja merasa tidak enak.

Tak lama kemudian, laki-laki itu kembali keluar membawa selimut dan bantal. Juga kaos dan

celana training miliknya. Ia menyimpannya di atas sofa. “Ini. Kau tak mungkin tidur dengan

seragam. Pakai dulu punyaku tapi cuci dulu sebelum kau kembalikan.” Irene hanya mengangguk

sambil keheranan. Laki-laki itu detail dan singkat sekali.

Lengan Irene tiba-tiba terasa sangat berat. Bekas cengkraman kakak tirinya terasa tak sesakit ini

tadi. Sehun sudah masuk dan menutup pintu kamarnya setelah mematikan semua lampu. Ia

mencoba mengangkat lengannya. “Akh.” Ngilu. Mungkin dengan tidur lebih cepat, akan

membuat lengannya lebih baik besok.

11.20 PM.

Irene mengangkat tubuhnya untuk bangun. Lengannya benar-benar ngilu, badannya terasa dingin

tapi juga berkeringat meski ruangannya ber-ac. Ia benar-benar tak bisa tidur kalau begini terus.

Irene mencoba memijit-mijit lengannya.

Sampai Sehun keluar dan menyalakan lampu, membuat Irene kaget, “Omo. Kau membuatku

kaget saja.”

“Kenapa kau masih belum tidur?” Tanya Sehun sambil menghampirinya.

“Kau sendiri?”

“Aku baru selesai mengerjakan tugas dan ingin mengambil minum.” Irene hanya mengangguk-

angguk tak acuh, konsentrasinya buyar karna merasa panas dingin dan sakit di lengannya tak

juga reda. Ia terus memijit-mijitnya tanpa menyadari Sehun yang tengah memperhatikan. Tiba-

tiba tangan Sehun meraba kening Irene yang terekspos tanpa poni. Gadis itu tersentak kaget.

“Kau pasti demam.” Kali ini Sehun menarik tangan Irene membuat gadis itu sedikit merintih.

Sehun menyingkapkan lengan kaos pendeknya, “Memar?”

Laki-laki itu beridiri lalu menghampiri dapur dengan santai. Ia menyiapkan sebaskom kecil air

hangat dengan handuk kecil, dan mengambil kompres es di kulkas. Setelah itu ia meletakkannya

di atas meja tanpa berkata apapun. Irene yang mulai pusing hanya kebingungan melihat sikap

Sehun yang begitu detail. Gerakannya santai sekali dan wajahnya seperti biasa –datar.

“Baringkan badanmu.”

“Hm?” Irene linglung. Sehun kemudian menepuk bantal memberi isyarat. Gadis itu pun menurut.

Masih dengan santai, Sehun memeras handuk hangat di dalam baskom lalu meletakkanya di atas

kening Irene. Setelah itu ia menarik lengan Irene lagi lalu meletakkan kompres esnya tepat di

atas memar. Irene meringis lagi tapi kemudian merasa sedikit lebih baik.

“Pegang ini.” Irene menurut lagi, ia memegang kompresan es di lengannya tanpa protes. Tapi ia

berteriak dalam hatinya,”Yaampun kenapa dia detail sekali?”

Sehun kembali ke dapur dan membuat sesuatu.

“Kau tidak mengantuk?” Irene menyahut pelan dari sofanya.

“Aku tidak akan bisa mengantuk mengingat ada orang sakit di apartemenku. Jika tidak segera

diurus, kau akan menyebarkan lebih banyak virus di tempat tinggalku. Demam dan memar tidak

akan langsung sembuh dengan hanya kau tidur selama 6 jam saja.” Jelas Sehun santai. Terdengar

suara dentingan antara sendok dan gelas di tengah keheningan mereka.

“Apa itu?” Tanya Irene saat melihat Sehun membawa sebuah cangkir ke atas meja.

“Jahe. Ini akan membuatmu lebih baik. Tapi sebelum itu aku harus melanjutkan ini.”

Sehun mengambil kembali handuk kecil dan mengulangi tahap tadi. Setelah itu ia menyingkiran

kompres es dan melipat lengan bajunya sampai atas. Dengan jempol, Sehun mulai meraba sekitar

luka memar lengan Irene, dan mulai memijat-mijat pelan di sekitarnya secara teratur.

Lima menit berlalu.

“Irene.” Panggil Sehun tiba-tiba.

“Hn?”

“Apa kau juga sama seperti anak-anak yang lain?”

“To the point saja. IQ-ku di bawah rata-rata, kau lupa?”

“Apakah kau benar-benar menganggap hidupku begitu sempurna?” Sehun menghentikan

aktivitasnya, lalu menatap Irene –datar.

“Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku penasaran saja. Setelah kau mengetahui kehidupanku dan aku yang yat –“

“Ssst.” Irene memotong perkataan Sehun sambil mengangkat tubuhnya untuk bangun. Ia tak mau

mendengar seseorang mengatakan hal yang seperti itu pada dirinya.

“Oke, jujur saja. Sejak pertama kenal kau, aku memang menganggap hidupmu sangat sempurna.

Itu karna kau selalu mendapat peringkat pertama tanpa halangan. Seolah-olah kau memang

terlahir untuk mendapatkannya. Setelah aku tau kalau kau punya luka yang lebih besar daripada

lukaku, aku tetap menganggapmu sama. Kenapa? Karna kau sanggup menghadapinya dan tidak

menjadi anak yang mengemis kasih sayang sepertiku. Jadi kupikir bukan hidupmu yang

sempurna. Tapi kau.”

Lawan bicara Irene terpaku mendengar jawaban itu. Jika Sehun menanyakan apakah Irene sama?

Jawabannya adalah; tidak. Kenapa? Karna dia adalah perempuan pertama yang mengetahui luka

terpahitnya. Sehun menghela nafas.

“Ini.” Irene tersenyum dan menerima segelas jahe dari tangan Sehun. Beberapa saat kemudian ia

merasakan tubuhnya lebih hangat dan lebih nyaman. Ngilu di lengannya masih terasa tapi

sekarang bisa bergerak lebih rileks.

Gadis itu menyengir lebar. “Kau baik sekali Sehun-ah. Terima kasih. Aku merasa lebih baik

sekarang.” Sehun mengangguk. Ia segera berdiri kemudian kembali ke kamarnya.

“Sehun,” Tepat ketika Sehun mematikan lampu, Irene memanggilnya. Laki-laki itu hanya

menoleh kebelakang. “Maafkan aku, ya. Karna sudah menabrakmu 2 kali, dan membuatmu repot

merawatku yang tiba-tiba demam begini.”

Sehun hanya mengangguk lalu masuk kedalam kamarnya. Irene memandangi pintu kamar

Sehun yang tertutup rapat. Dia tak mengerti apa yang terjadi, kenapa ia merasa senyaman ini

bahkan ketika sakit. Dalam apartemen Sehun yang remang, gadis itu diam-diam tersenyum.

xxxx

“Pagi, Seulgi.” Kai melambaikan tangannya pada Seulgi ketika ia berjalan masuk kepagar lalu

melewatinya bersama teman-teman sekelasnya. Setelah itu pergi begitu saja tanpa penasaran

dengan reaksi Seulgi. Yang disapa hanya menoleh tanpa membalas apapun. Seulgi merutuki

dirinya yang begitu refleks menoleh padahal ia sudah hafal sekali suara Kai yang selalu tiba-tiba

menyapanya. Akibatnya orang-orang yang sejak tadi memperhatikan Kai kini memandangi

dirinya dengan tajam. Oh ayolah, ini masih terlalu pagi untuk melawan semua tatapan itu.

Seulgi mempercepat langkah kakinya dan berusaha tak menghiraukan setiap tatapan sinis dari

orang-orang. Selama ini banyak yang selalu berbicara di sekitar pendengarannya, “Apa sih yang

dilihat seorang Kim Kai dari siswi seperti Seulgi?”

Dan Seulgi hanya bisa bersikap seolah-olah tak mendengar. Wajah dan tatapannya mungkin

sering terlihat tenang, tapi hatinya gelisah dan kesal. Apakah mereka sadar bahwa Seulgi sendiri

bahkan mempertanyakan pertanyaan yang sama di depan cermin setiap saat. Apa sebenernya

yang menarik dari dirinya? Seulgi sekolah bukan untuk menajadi cewek paling ngetrend dan

mendapat pacar sunbae terpopuler. Ia sudah merasa cukup dengan peringkatnya yang masuk 10

besar di semester kemarin. Seperti yang terlihat dari banyak perlawanan yang telah ia lakukan

selama ini, Seulgi adalah gadis pemberani dan tangguh –meski hanya kelihatannya saja.

Kai jadi begitu menyukai Seulgi hanya karna satu hal: penolakannya. Semua orang –khusunya

penggemar Kai, tau itu. Fakta tentang seorang Kim Kai yang menyukai siswi biasa bernama

Kang Seulgi, sampai-sampai gadis itu dituduh terlalu sok karna selalu memberikan penolakan

pada Kai. Semua itu fakta yang sudah beredar sejak beberapa bulan belakangan ini.

Seulgi-ssi. Sepertinya aku menyukaimu. Boleh aku meminta nomermu?

Ingatan semacam itu mana bisa pergi begitu saja dari memori Seulgi. Dia bertanya-tanya, apakah

Kai sunbae memang begitu jika sedang tertarik dengan seseorang? Caranya menyatakan

perasaan dan meminta nomor ponsel waktu itu benar-benar tidak lucu. Kejadian itu langsung

menyebar menjadi berita hangat hanya dalam waktu sehari saja. Dan sejak saat itu Seulgi tak

pernah mau memberi nomor ponselnya pada siapapun yang tidak dekat dengannya.

Kai cukup tau diri dengan tak terlalu memaksakan diri untuk mendekati Seulgi. Yang Kai

lakukan hanya menyapanya dengan ramah seperti biasa, dan bersikap biasa saat latihan dance,

maka dari itu Seulgi tak merasa punya masalah besar. Tapi ternyata, Kai yang sering kepergok

sedang menyapa dan memandangi Seulgi, membuat gadis itu tidak disukai banyak orang.

Sebelum bel, Seulgi mampir sebentar ke lokernya. Ia menarik nafas, bersiap untuk kembali

mendapat tumpukan surat ancaman yang di campur dengan sampah. Tapi diluar dugaannya,

ternyata lokernya kali ini bersih. Kosong tanpa sampah ataupun surat-surat ancaman. Tumben

sekali, pikirnya. Kepalanya mendekat dan –ah, pantas saja. Ia menemukan selembar surat dari

Kai sunbae berisi,”Tak ada yang melihatku menyapamu tadi, kan? Aku tidak harus

mengkhawatirkanmu, iya kan?” Seulgi berdecak. Apa-apaan dengan surat ini? Gerutunya.

Gadis itu meremas surat pemberian Kai dan melemparnya ke tempat sampah yang tak jauh dari

loker. Oh. Jadi sunbaenya lah yang sudah membersihkan lokernya.

“Benar-benar tak punya kerjaan.”

xxxx

[PREVIEW: CHAPTER 3]

“Aaah.. Aku selalu saja sulit mengontrol diri. Itu sungguh kebiasaan buruk.”

>>

“Sepertinya kau harus berbicara dengan Kai sunbaenim. Mungkin dia mau mengerti dan

berhenti.”

>>

“Kau juga membuat pandanganku sangat terganggu karna sudah mengganggunya. Jadi kenapa

bukan kau saja yang keluar? –“

>>

“Bukankah kau yang terlihat tidak tau diri?”

>>

“Apakah kau ingin aku keluar dari sekolah ini, oh?”

>>

“Aku benar-benar minta maaf.“

>>

“Kau tanya saja Seulgi.”

“Ah yang benar saja.”

>>

To be continue…

Jangan lupa tinggalkan jejak~~

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 2)”

  1. ehem sehun baiknya sama irene 😀
    dan tentang seulgi,,,,,,,,, gue, no comment dulu deh
    gue harap hbungan irene sama sehun lancar jaya 😛

  2. gila lo disuka sama kai kok nolak:”) lah gue, ditau napas aja kagak:”)

    BTW GA NYANGKA YG NYELAMETIN IRENE SI KAI wkwkwkwk. sehun sabar yee

  3. Ehh sorry nih kayanya krena aku lupa kasih komentar di chap1 terus aku balik kasih komentar ke chap1 setelah baca yang ke 2 jadi komentar yang chap 2 sorry ya, semangat untuk cerita cerita yang lainnya , thank you, sekali lagi sorry ya

  4. aku gak bisa cari draft yg ke 2 ini di wordpress jadinya di sini yah gpp.. aku tetep suka sama cerita km kok *lohgaknyambung_biarin (?) #gaje 😀 hehe..

  5. Ihh sehun mah ternyata perhatian juga yah walopun sikapnya kayak es balok berjalan.. irene nya juga lucu.. kekeke ceritanya makin seruu ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  6. waaaahhh…..makin penasaran nih dgn kisah sehun-irene dan kai-seulgi selanjutnya….
    kyk nya seulgi makin di bully aja nih ya?
    oh….dan aq suka bgt moment sehun-irene wktu di apartmn, itu bner” sweet bgt.
    sehun dingin diluar tp sbenarnya hngat dan penuh perhatian.

Tinggalkan Balasan ke nurulaini Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s