[EXOFFI FREELANCE] VAMPIRE PROSECUTOR (CHAPTER 3)

Vampire Prosecutor Poster.jpg

VAMPIRE PROSECUTOR

CHAPTER 3

Author : Cantika_Kim

Length : Chaptered

Genre : Action, crime, thriller, mystery

Main Cast :

1. EXO Kai as Kim Jong In

2. Nam Yura (OC)

3. EXO Sehun as Oh Sehun

4. SHINEE Taemin as Lee Taemin

Supported Cast :

1. EXO Suho as Kim Joonmyeon

2. EXO Lay as Zhang Yixing

Disclaimer : FF ini murni buatanku, seiring bertambahnya chapter akan semakin

berkembang kasus-kasus yang sedang mereka tangani.

Sinopsis : Nam Yura, seorang jaksa muda yang tidak percaya dengan adanya vampir

diharuskan menghadapi sejumlah kasus-kasus mengerikan yang berkaitan dengan vampir.

Yura sangat menaruh kepercayaan terhadap Kim Jongin, partnernya. Bahkan kepercayaan itu

lama kelamaan berubah menjadi rasa cinta. Namun apa yang akan terjadi bila Yura tahu

bahwa Kim Jongin adalah vampir, makhluk yang tak pernah dipercayainya ?

-Author’s POV-

“Tolong saya, tuan. Tolong saya”, seorang wanita paruh baya terlihat berlutut di depan

Jongin. Sementara Jongin ? Ia hanya menatap wanita tersebut sambil sesekali menghela

napas.

“Maaf nyonya. Bukannya saya tidak mau, tapi kasus tersebut sudah ditutup sejak 2 tahun lalu

dan itu murni kasus bunuh diri”

“TIDAKKK!!! ANAKKU TIDAK BUNUH DIRI!! DIA DIBUNUHH!!”, wanita itu

berteriak histeris, beberapa orang disekitarnya memegangi wanita tersebut agar tidak

menyerang Jongin.

“Ada apa ini ?”, kedatangan Yura membuat semua orang terdiam.

“Begini, Yura–“,

“Ibu ini ingin agar kasus kematian anaknya dibuka kembali”, Jongin memotong perkataan

Junmyeon.

“Kapan kasus itu ditutup ?”

“2 tahun yang lalu, Ra. Dan pengadilan menegaskan kalau itu kasus bunuh diri”, ucap

Junmyeon.

Yura terlihat berpikir, ia kemudian mengajak ahjumma tadi untuk berbicara dengannya,

“ahjummeoni, ikutlah denganku sebentar.”

Mata Jongin mengikuti arah perginya Yura dan ahjumma itu. Entah kenapa ia takut Yura

akan kenapa-kenapa mengingat ahjumma tadi yang hampir menyerangnya.

“Sudahlah, Kai. Dia akan baik-baik saja”, ucapan Sehun membuat Jongin mengeraskan

rahangnya.

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi”, Jongin menatap Sehun sebentar lalu berlalu ke

ruangannya.

Sementara itu, Sehun hanya geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka temannya itu masih

menyimpan dendam pada Lee Taemin, “Kapan ini akan berakhir”, gumam Sehun.

Taman depan kantor kejaksaan

“Tolonglah saya, nona”, ahjumma tersebut menggenggam tangan Yura erat.

“Kenapa ? Apa alasan kuat saya harus membuka kembali kasus tersebut, ahjummeoni ?”,

wanita tersebut menghela napas berat. Ia mengelap air matanya kasar lalu menatap Yura.

“Chanmi-ku bukanlah orang yang akan melakukan bunuh diri. Jelas sekali bahwa ia dibunuh

vampir” ucap ahjumma itu.

“A–apa ? Va–mpir ?”, Yura membelalakkan matanya. “Apa maksud ahjummeoni ?”

“Detektif yang menangani kasusnya selalu mengatakan bahwa Chanmi sengaja menusukkan

garpu ke lehernya. Itu tidak mungkin, kan ? Aku sangat-sangat yakin itu perbuatan vampir”,

ahjumma tadi menatap lirih ke arah Yura.

“Kumohon, bantu saya”, tanpa berpikir panjang Yura mengangguk. Bagaimanapun juga

dengan membuka kembali kasus ini, maka dia juga dapat menguak misteri kematian orang

tuanya.

“Baiklah, ahjummeoni. Saya akan naik banding kasus ini ke pengadilan tinggi. Saya sangat

berharap kita dapat membangun kerja sama yang baik”, ucap Yura sambil tersenyum.

“Terima kasih, nona. Terima kasih..”, ahjumma tadi kemudian memanggil taksi dan

berpamitan pulang pada Yura.

‘Vampir ? Tidak mungkin’ batin Yura. Ia pun kembali menjejakkan kakinya ke dalam

gedung kejaksaan dan segera menuju ke ruangan Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Kau menyetujuinya ?”, Jongin melipat kedua tangannya di depan dada.

Yura mengangguk. “Ya. Memangnya apa salahnya ?”

“Tapi kasus itu sudah ditutup, Yura! Lagipula sudah jelas detektif mengatakan kalau itu

murni tindakan bunuh diri”, Jongin berdiri dari kursinya, kemudian berjalan ke depan meja

dan sedikit bersender di meja.

Jongin benar. Kasusnya memang sudah di tutup 2 tahun lalu dan untuk naik banding atas satu

kasus itu bukan perkara mudah.

Flashback

“Terima kasih, nona. Terima kasih..”, ahjumma tadi kemudian memanggil taksi dan

berpamitan pulang pada Yura.

“Ahh.. ahjummeoni..”, ahjumma tersebut berbalik menatap Yura.

“Siapa detektif yang menangani kasus puteri anda saat itu ?”

Ahjumma tersebut terlihat berpikir keras. “Kalau aku tidak salah.. Nam Jonghyun”

Yura terdiam. “Nam Jonghyun ?”, gumam Yura.

Ahjumma tersebut yang hanya melihat Yura diam akhirnya memutuskan untuk pamit pulang.

Flashback off

.

.

.

.

.

.

.

“Hmm.. Kau mau membantuku, kan ?”, tanya Yura.

“Tidak”

“Ayolah…”

“Tidak”

“Aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan”

“Benarkah ?”, Jongin mengerutkan alisnya.

“Iya”

Senyuman miring Jongin membuat Yura mengutuki dirinya sendiri. Ugh, ia hanya bisa

berharap Jongin tidak minta yang aneh-aneh. ‘Mati saja kau Yura’ batin Yura.

“Ahh.. molla. Aku tidak tahu. Nanti saja ya aku mintanya”, perkataan Jongin membuat Yura

menghela napas lega.

Jongin kemudian menelpon rekannya mengenai kasus Chanmi, sementara Yura duduk di sofa

ruangan sambil memutar-mutar handphonenya.

“Nam Jonghyun”, Yura bergumam pelan, “Mungkinkah itu kau, oppa ?” Akhirnya Yura

memutuskan untuk menelpon kakaknya.

“Yeoboseyo”

“Oppa”

“Hmm.. Yura-ya, bagaimana kabarmu ?”

“Aku baik, oppa”

“Baguslah”

“Oppa”

“Ne ?”

“Apa kau ingat kasus Lee Chanmi, gadis remaja yang bunuh diri dengan menancapkan garpu

di lehernya ?”, Yura berusaha bertanya dengan sangat lembut.

“Ahh.. apa yang kau bicarakan ? Aku tidak mengerti”

“Oppa, kita harus bertemu. BESOK”, Yura sengaja menekankan kata besok, karena jika

tidak, kakaknya itu akan mencari-cari alasan agar tidak bertemu dengannya.

“Baiklah, oppa akan pulang ke korea malam ini”

“See you”, Yura memutuskan sambungan telponnya.

“Siapa ?”, Jongin sedikit khawatir melihat perubahan ekspresi Yura.

“Ahh.. itu, oppaku”, Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya.

.

.

.

.

“Jong”, panggil Yura pelan.

Kata-kata ahjumma tadi masih terngiang di benak Yura, terutama soal vampir. Vampir itu tak

pernah ada kan?

“Is vampire exist ?”

Hening.

“Ada apa ? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu ?”, Jongin melangkahkan kakinya dan duduk

di samping Yura.

“Aa..ahh tidak..aa..pa”, jawab Yura sedikit tergagap karena Jongin duduk terlalu dekat

dengannya.

“Jong, kau maauu..aa..paa ?”, Yura memundurkan tubuhnya ketika tangan Jongin menyentuh

dahinya.

“Kau sakit ya ?”, Yura tersenyum geli mendengar perkataan rekannya itu.

“Hey, tanganmu dingin sekali. Aku rasa kaulah yang sakit”, Yura menggenggam tangan

Jongin dengan kedua tangannya dan meniup-niup tangan Jongin.

“Bagaimana ? Sudah lebih hangat, kan ?”, Yura tersenyum ke arah Jongin dan entah kenapa

itu membuat Jongin salah tingkah. Jongin langsung menarik tangannya dari Yura.

Bodoh. Seharusnya Yura tidak melakukan itu. Karena itu sama saja dengan memancing

Jongin.

“Ehh, maaf aku tidak bermaksud—hmpphh”, Jongin tiba-tiba melumat bibir ranum Yura

dengan cepat dan terkesan memaksa. Jongin tahu mungkin ia sudah gila, dan ia tahu mungkin

setelah ini Yura akan benci padanya, tapi ia sudah tidak bisa menahan rasa tertariknya pada

Yura.

Sejak awal Yura datang, Jongin bisa merasakan aura berbeda dari gadis itu. Setiap manusia

yang ada di dunia ini memiliki aura berbeda-beda yang terpancarkan melalui bau darah

mereka. Dan bau darah Yura sangat harum menurut Jongin.

Jongin melepas pagutannya pada bibir Yura. “What do you think ?”

Ya ampun. Yura sangat yakin saat ini wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus. Ia hanya

bisa tertunduk, tak berani memandang wajah Jongin.

“There’s no way vampire exist”, jawab Yura terengah-engah.

“I’m not talking about vampire, but i’m asking if you know what I wanted”, Jongin

menyingkirkan anak-anak rambut di dahi Yura dan itu lagi-lagi sukses membuat Yura

tersipu.

“Be mine”, Jongin mengatakannya tepat di telinga Yura, membuat gadis itu sedikit bergidik

geli.

“What ?”, Bodoh. Yura jelas-jelas tahu maksud Jongin barusan. Tapi entah kenapa ia ingin

memastikan permintaan Jongin.

“Be mine. I want you to be mine”

“Tapi–hmmphh”,Jongin kembali mempertemukan bibir mereka dan kali ini Jongin

memagutnya dengan sangat lembut. Dan tanpa Yura sadari, ia mulai menikmati permainan

bibir Jongin.

Seseorang, tolong katakan pada Yura kebenarannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hal yang dapat Yura lihat kini adalah wajah Jongin yang begitu dekat dengannya. Ia dan

Jongin resmi berpacaran 30 menit yang lalu.

Kalian tahu ? Sebenarnya Yura sudah mengagumi Jongin sejak lama. Tepatnya saat Jongin

mengisi mata kuliah hukum saat ia masih menjadi mahasiswi. Yura tidak bisa mengalihkan

tatapan matanya dari Jongin saat itu, ia merasa seperti Jongin adalah mutiara berharga yang

sangat berkilau. Dan..

“Akhh.. appo”, Yura memegang dahinya yang sakit akibat disentil(?) Jongin.

“Yakk!! Kau–”

“Siapa suruh melamun”, sergah Jongin cepat sebelum terkena semburan kemarahan Yura.

Yura mempoutkan bibirnya kesal.

“Omo!! Kau ini lucu sekali”, Jongin mencubit gemas pipi Yura.

“YAKKK KALIAN!!!”, Jongin dan Yura menoleh ke sumber suara. Yixing, Junmyeon dan

Sehun berdiri berjejer di depan pintu dengan tangan dilipat di dada.

“Jadi begini kelakuan kalian ?”, ucap Yixing gemas.

“Sejak kapan kalian pacaran ?”, Sehun bertanya datar, matanya menyiratkan sedikit

kemarahan.

“Sudahlah, mereka mau pacaran atau apa terserah mereka”, sergah Junmyeon.

“Kalian bertiga, kemarilah”, Jongin menepuk-nepuk sofa kosong di sebelahnya.

Berbeda dengan Junmyeon dan Yixing yang langsung duduk, Sehun malah memilih pergi

dari ruangan Jongin.

“Ada apa dengan anak itu ?”, gumam Yixing.

“Hey, Yura, apa kita akan membuka kasus itu lagi ?”, tanya Junmyeon.

“Setelah aku baca datanya, aku rasa kasus itu tidak masuk akal”, Yixing menyenderkan

kepalanya di bahu Junmyeon.

“Mana mungkin ada orang yang bunuh diri dengan menancapkan garpu di lehernya ? Kenapa

tidak sekalian dia tebas saja kepalanya ?”, tambah Yixing.

“Yakk!! Kau ini menyeramkan sekali”, ucap Junmyeon.

“Ibunya yakin sekali kalau itu perbuatan vampir”, Yura berucap pelan.

Yixing dan Junmyeon serempak menatap Jongin. Sementara itu Jongin mentap lurus ke

depan, tangannya terkepal erat.

“Yura-yaa, vampir itu tidak ada, kau tahu ?”, Yixing tertawa terbahak-bahak dan dihadiahi

pukulan dari Junmyeon.

“Yakk!! Tidak ada yang lucu”, kata Junmyeon.

“Masalahnya, detektif yang menangani kasus ini adalah..”, Yura menghela napas, “kakakku.”

“WHAT???”, Yixing dan Junmyeon berteriak serempak.

Jongin berdiri dan keluar dari ruangannya tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu

membuat Yura berdecak sebal ke arah dua rekannya ini.

“Kalian sih berisik”, ucap Yura.

.

.

.

.

.

.

.

Another place

“Heyy, Kim Kai!! Lama tidak bertemu, sobat”, Taemin memegang bahu Jongin gemas dan

dengan cepat di tepis oleh Jongin.

“Siapa yang melakukannya ?”, tanya Jongin datar.

“Yakk!! Kenapa senang sekali marah, huh ? Kau ini baru datang kan, bagaimana jika

kusediakan minuman dulu ? Kau pasti haus”, ucap Taemin panjang lebar.

“Apa kau yang melakukannya ?”, pertanyaan Jongin membuat Taemin mengerutkan alisnya.

“Sebenarnya kau berbicara apa?”, tanya Taemin.

“Lee Chanmi”

“Chanmi ??? Hmm… Aku tidak tahu”, ucap Taemin enteng.

“Ini pasti ulah pengikutmu”

“Tenang saja, nanti akan kutanyakan pada mereka. Apa sih yang tidak akan kuberikan pada

sahabatku ini ?”, sungguh Jongin sudah muak dengan semua omong kosong ini. Ia pun mulai

melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Taemin.

“Hey, Kai!”, Jongin berbalik.

“Nam Yura, dia sangat cantik”, kata Yura sambil menunjukkan smirk nya.

“Sialan kau”, dengan kekuatan teleportasinya, Jongin sudah berada di depan Taemin dan

menghujami laki-laki itu dengan pukulan.

“Dengar, Lee Taemin!! Jika kau berani menyentuh satu helai pun rambutnya, kau akan habis

ditanganku”, ucap Jongin pelan lalu menghempaskan tubuh Taemin ke dinding.

Taemin bangkit dari duduknya tepat setelah Jongin pergi. Kini, ia yakin Yura sangat berharga

bagi Jongin.

“Benarkah, Kai ? Kau akan melukaiku kalau aku menyentuhnya ? Coba kita lihat nanti”,

gumam Taemin sambil menyeka darah segar yang masih mengalir di sudut bibirnya.

TBC

I’m back woohooo😆😆 Maaf ya disini ga ada adegan-adegan yang serem, soalnya mood aku

lagi baik bangett, entah kenapa suasah bikin yang serem-serem wkwkwk..

Buat Jongin-Yura shipper,, tuh aku kasih adegannya. Tapi maaf ya kalo kurang feel nya,

soalnya aku punya banyak imajinasi di pikiranku tapi masukin ke ceritanya agak susah yaa..

maklum masih new author.

Sekedar ngasih bocoran, di chap berikutnya Yura udah mulai curiga sama Jongin. Jadi

tungguin chapter depan yaa!!

RCL yaa guyss😊

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] VAMPIRE PROSECUTOR (CHAPTER 3)”

  1. Wahh daebakk.. Keren banget nih thor ffnya!! ><". Banyakin lg yaa part jongin-yura nyaa.. Terus rohui nya juga dibahas yaa thor..

    Soalnya klw hanya seputar jongin yura aja, agak membosankan. Maaf yaa tp ini hanya saran. Hwaiting thor!! \:D/

    1. hmm.. menurut aku sih engga.. mungkin karena aku nulisnya terlalu ringkas jadinya terkesan kecepatan yaa.. next chap nya lebih aku rinci deh biar gak terkesan cepat

  2. wowwww ga sabarrrr chapp depannnnnn nyaa yahhh,,, wow cepet jgaaaaa jadian mrkaa,,,,, hahhaahhaha ini kasus pembunuhan vampirrr,,,

    Aku yakinnn si taemin bakalannn ngadu domba nihhh,,,. Dia bakalan buat jongin yuraa,,berante, hebattt,,, sehingga membuattttyuraa sulitttt percaya ama jonginnnn.,,,

    Wowo ortunyaaa yuraaa dibunuh sama vampir jga kah?????

    1. Ahahaha kok aku ketawa sendiri yaa baca komen kamuu wkwkwk enthusiastic banget dehh👍👍
      Tungguin chapter depan yaaa.. disitu semua rasa penasaran kamu bakal terjawab😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s