[EXOFFI FREELANCE] FOS (Chapter 1)

FOS Poster

FOS #Bagian 1: Api Pencuri

Title: FOS // Staring: EXO’s Kai, Ory’s OC // Genre: Romance-fantasy // Rate: PG17 // Duration: Chapter // written by: khaqqiadrei

Amazing poster ❤ by BubbleHan

Disclaimer: Saya hanya memiliki plot, serta karakter ori. Cast milik Tuhan, dan pihak agensi.

__©2016.fos.khaqqiadrei__

Dalam bahasa Indonesia, fos berarti cahaya, dan healer penyembuh.

Bangsa fos menyembah matahari, yang dalam bahasa Yunani, disebut Ilios.

#Bagian 1: Api Pencuri

Ada dua klan yang kata kakek tidak boleh saling berinteraksi, pun sekadar menanyakan kabar. Klan healer dengan fos—golonganku—tidak akan pernah bisa bersatu. Mereka tidak dibolehkan oleh adat, entah itu berteman, apalagi bersuami-istri. Kami tidak akan pernah bisa bertemu, atau apa pun itu.

Sambil terus mengaduk kopi di dalam cangkir, aku memandang matahari yang cahayanya semakin meredup. Ini energi untuk kami—darah klan fos. Kami membutuhkan cahaya matahari pagi dan sore. Atau tidak, kami bisa sakit. Kakek juga pernah bilang padaku, kalau selama dua hari tidak terkena cahaya matahari, maka para fos akan mati.

Saat kusadari kopiku semakin dingin, kusegerakan meminumnya. Di ujung penglihatanku, bisa kulihat jika Tara berjalan sambil menggenggam tiga buket bunga. Dia begitu lagi, mengotori halaman rumah dengan kelopak bunga yang dibuang sembarangan. Jelas aku tidak suka, karena nantinya aku yang akan membersihkannya.

“Ory, aku pulang!” Tara membuka pintu rumah, kemudian kaki mungilnya berjingkat, memanjat kursi. Diletakkannya tiga buket bunga tadi ke dalam wadah yang tercantel di dinding.

“Bawa bunga lagi? Dari kebun kakek?” Aku maju ingin menjitak kepalanya, namun sayangnya, tubuh Tara gesit menyingkir.

“Kenapa? Kau tidak suka? Aku tidak membawa sebanyak kemarin.”

“Dibanding delapan buket, ini memang tidak seberapa. Tapi kelopak bunga-bunga itu tetap saja mengotori teras!” Bisa kurasakan mataku mulai memanas, itu pertanda, ada sebersit cahaya muncul di mataku.

Tara seketika diam, pandangannya menjadi patuh. Ia tidak berkutik dan hanya jempol kakinya yang bergerak. Aku duduk untuk meredakan emosi, lalu kugenggam bahu adikku. “Jangan lagi begitu. Aku lelah, Tara. Sekarang belajar, kerjakan tugasmu.”

Tara pergi dengan kepala menunduk, dan kutebak kalau ia marah padaku.

Aku melangkah mengambil cangkir kopi di jendela, lalu meletakkannya di meja dapur. Tara menutup pintu kamarnya; ia benar-benar marah.

-=-

Setelah merapikan rambut, aku mengambil pakaian ibu dari lemari. Hari pertama mengajar, memakai pakaian ibu bisa membuatku lebih tenang. Kain lembut dengan sedikit manik-manik di lingkar pinggangnya, dan didominasi warna putih. Aku ingat, ini pakaian yang pernah ia kenakan waktu menghadiri pernikahan kakek dengan istrinya yang ke sebelas. Istri terakhirnya.

Membicarakan pernikahan kakek, aku tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan kesepuluh istrinya yang lain. Tidak ada yang pernah memberitahuku, dan saat kutanya padanya, kakek tak pernah menjawab. Dengan kekuatan dari golongan kami, kakek dapat mudah membuatku patuh padanya. Kekuatan fos dewasa berbeda dengan fos kecil, jadi aku tidak bisa menghindari pandangan kakek saat itu.

Cukup cantik saat aku memandang pantulan bayanganku di cermin. Dengan dress selutut berlengan panjang, dan surai tergerai sebahu, aku berpikir kalau aku mirip ibu di fotonya. Ketakutan lupa wajah ibu sering menghampiri, syukur jika wajahku masih sedikit membantu untuk mengingatnya.

-=-

Sekolah tempatku mengajar tidak begitu jauh, hanya dua kali melewati sungai dan berjalan beberapa ribu meter setelahnya. Tara juga sekolah di situ, tapi ia tidak pernah mau berangkat bersama. Entah sebab apa, ia selalu bersikeras menolak saat kuajak berangkat bersama ke sekolah. Bahkan hanya satu orang yang mengenali bahwa Tara adalah adik seayah denganku.

Aku mengambil ranting dari tanah, kemudian menyingkirkan tumbuhan berduri yang menghalangi setengah jalanku. Membawanya ke bahu jalan, lalu aku kembali melangkah. Namun, sesuatu yang aneh membuatku berhenti, menyuruhku untuk meniliknya sebentar. Aku mundur untuk kembali lagi ke tempat tadi, memerhatikan terowongan—yang sungguh, aku baru melihatnya jika terowongan itu ada. Aku tiba-tiba teringat tentang nasihat kakek. Klan fos dan healer telah dipisahkan sejak dulu oleh nenek moyang, tidak ada yang bisa sampai ke sana. Tapi, kata kakek, ada satu jalan yang tidak pernah diketahui oleh kami. Ada satu, dan kakek sendiri juga tidak tahu di mana. Dulu, terjadi ledakan gunung api yang menyebabkan pemisahan dua dunia tadi mengalami kegagalan. Dan lepas itu, para tetua di desa kami mati dalam bencana tersebut.

Kuambil ranting untuk kemudian kumasukkan ke dalam terowongan bercahaya tadi. Diameter terowongannya tidak besar, cukuplah untuk dilewati manusia, dengan berjalan membungkuk. Tiba-tiba ranting tadi sudah tidak bisa kulihat di mana keberadaannya, cahaya dari terowongannya pun meredup. Ada rasa takut yang tiba-tiba bertandang, tapi rasa keingintahuanku membuatku menyingkirkan ketakutan tadi. Untuk mengetahui segala jawaban pertanyaanku, tentu tidak lain, aku harus masuk ke dalam terowongan ini.

Tubuhku tiba-tiba tertarik saat langkahku baru satu. Tubuhku dibalik, dan kusadari kalau terowongan ini adalah dimensi penghubung. Tidak memiliki ruang, tidak ada dinding. Proses respirasi tidak bisa berjalan di sini, dan kurasakan dadaku semakin sakit. Mual dan pusing saat aku berputar-putar di dalamnya, dan itu sangat cepat.

“Aww!”

Saat aku telah keluar dari terowongan menyebalkan itu, aku jatuh dan kepalaku mengenai kerikil-kerikil. Ini sungguh sial, pendaratan yang benar-benar tidak bagus. Perutku mual lebih hebat dari tadi, dan pusingnya ditambah dengan terbentur kerikil-kerikil.

Tapi rasa sakitku hilang, begitu kulihat apa yang ada di depanku. Aku baru menyadari kalau berdiri di atas tebing, dengan air terjun di bawahnya. Ini sungguh indah, mengingat aku hanya melihat kebun kakek dan sungai-sungai setiap hari.

Tumbuhan-tumbuhan di sampingku jarang kutemui, hanya dua diantara yang lainnya. Tapi naluriku bilang, tumbuhan ini tidak berbahaya, dan yang pasti tidak berduri seperti yang kutemui tadi.

Pemikiran soal keindahan alam di tempat ini, terpotong saat aku khawatir ini di mana, tempat apa, atau, tempat siapa. Kepalaku menoleh, dan kudapati terowongan tadi tidak ada, terganti batu besar penuh lumut. Aku mulai khawatir, bisa pulang atau tidak. Aku tidak tahu ini tempat apa, dan otakku tiba-tiba memberi rambu, kalau ini tempat bangsa healer.

Ya, aku benar-benar ingat bagaimana kakek menjelaskan, banyak tumbuhan-tumbuhan aneh di daerah daratan healer. Dan terowongan tadi adalah dimensi penghubung antara dunia fos dan healer, yang muncul karena belum selesainya pekerjaan nenek moyang.

Sorot jingga dari ilios membuatku terkejut. Kukibaskan ujung rokku karena dihinggapi daun-daun kering. Kemudian aku bangkit, dan menyegerakan pergi dari tempat ini—mencari jalan keluar untuk kembali ke desa para fos.

Setelah cukup lama berjalan dari atas tebing, kutemukan keramaian saat aku tiba di lembah. Aku berpikir mungkin itu kota, atau pasar. Sebenarnya aku tidak perlu khawatir jika di sini, karena setahuku, klan fos dan healer tidak memiliki perbedaan yang berarti—tapi, tunggu. Kecuali, telinga mereka. Iya, di sini, aku mengetahui sesuatu yang belum pernah kudengar dari siapapun—termasuk kakek. Yaitu, telinga para healer berujung runcing.

Sedikit gelagapan, kurapikan rambut maroon-ku hingga menutupi telinga; tidak akan kubiarkan mereka mengetahui asalku. Aku melangkah pelan, seolah tidak ada apa-apa. Dan terus menusuri, melipirkan tubuhku di tengah-tengah orang-orang melakukan barter. Aku sekarang tahu, kalau ini pasti pasar di gerbong utama. Maksud gerbong di sini adalah tebing tadi, alias tempat paling ujung dalam klan healer. Akhir-akhir ini, kegiatan membantu kakek di kebunnya sedikit menambah pengetahuanku tentang adat dan leluhur kami. Setidaknya begitu, karena memang fos maupun healer memiliki nenek moyang yang sama.

Seseorang seperti berteriak padaku, dan gelagapan aku meraba-raba telingaku. Menggenggamnya sedemikian erat, agar tidak ada yang tahu siapa aku. Semua orang seperti memandangiku, mata mereka menuduhku layaknya seorang pencuri. Kemudian, seorang anak kecil menghampiriku, ia menyerahkan dua keranjang berisi kentang. Aku ingin menolaknya, tapi mimik wajah lelaki kecil itu membuatku iba. Kuraih dan dua keranjang tadi berpindah tangan kepadaku, lalu kulihat mulutnya bergerak; mungkin berucap terima kasih.

Teriakan tadi semakin jelas terdengar, dan suara riuh melingkupinya. Aku diam di tempatku, lalu, entah sejak kapan, lelaki kecil tadi tidak ada di depanku. Aku mulai kebingungan, dan suara teriakan pencuri samar-samar kudengar, lalu tubuhku dikepung oleh beberapa orang. Mereka melempari dengan tomat, dan menarik tanganku dengan paksa.

Suaraku tenggelam begitu berteriak, kerongkonganku bergetar mengatakan aku tidak tahu apa-apa. Semuanya sungguh aneh. Aku sudah tidak ingat lagi apakah mereka memerhatikan telingaku, yang pasti, suasana ini sangat menjebakku.

Untuk kemudian, aku merutuki anak kecil tadi. Melihat api di atas kayu-kayu menjadikan tumpuan berdiriku lemah.

“Hukum dia!”

“Ayo! Bakar pencuri biadab itu!”

“Antarkan dia ke neraka!”

Ketakutan kembali membuatku tidak bisa berkutik. Seorang bertubuh besar—keluar dari kerumunan—melemparkan seikat kayu bakar lagi. Api menjilat-jilat di udara, menampiaskan wajahku di dalamnya. Aku mulai membayangkan tubuhku menghitam begitu di lempar, lalu abuku akan diinjak-injak oleh mereka. Ya, Ilios, bantulah aku.

“Aku tidak bersalah! Aku bukan pencuri! Aku bukan pencuri!”

Teriakanku tidak dipedulikan oleh mereka. Semua yang ada di sekelilingku melotot, mata mereka tertampias bayangan api. Membuat urat merah di dalamnya semakin jelas, dan di dalamnya, wajah ketakutanku benar-benar buruk. Salah seorang dari mereka menenteng seutas tambang, melangkah mendekatiku, dengan tawa puas. Aku meronta ingin kabur, tapi dua orang perempuan; tua dan muda, memegangi tanganku dengan erat. Mereka tertawa tepat di telingaku, memekakkan, dan rasanya gendang telingaku ingin pecah. Lalu, si wanita tua dan muda tadi pergi, meninggalkanku. Aku sempat bahagia, mengira mereka sudah mengampuniku. Tapi, seorang pria—yang lain—mendekatiku. Aku tidak tahu darimana ia, tapi pastilah bagian dari kerumunan ini. Ia menggenggam tanganku erat, lebih erat dari dua wanita tadi. Kemudian menarikku paksa menuju tempat pembakaran.

Api panas mulai membakar kulitku, menembus pori-pori. Air mataku jatuh, aku tidak bisa apa-apa. Di saat seperti ini, bayangan Tara menghampiriku, ayah, dan kakek. Juga beberapa istrinya. Kesalahan-kesalahan seperti merusak tanaman kakek, memarahi dan menampar pipi Tara, atau menyobek baju ayah, bergonta-ganti di kepalaku.

Tidak kusadari, kakiku sudah menghitam karena menginjak arang kayu. Sekarang tubuhku benar-benar mati rasa, semua yang ada di pikiranku hanya satu: Kematian.

Pria tadi masih menggamit lenganku, persis di hadapan pembakaran. Kobaran apinya membuat napasku sesak, dan kepalaku menjadi pusing. Lalu, tidak lama pria di sampingku seperti menarikku kembali ke kerumunan, saat dua orang di hadapanku, sedang berselisih. Setahuku yang satu adalah pimpinan mereka, dan lainnya seorang wanita tua, yang memegangiku tadi.

Selagi dua orang di hadapanku sedang berselisih pendapat, pria di sampingku menarikku keluar dari kerumunan. Dirapatkan topi jubahnya, kemudian membawaku melangkah bersamanya. Aku tidak merasakan apa-apa, kecuali perasaan dingin di sekujur tubuhku. Lalu pria tadi mengajakku berlari. Aku ingin bertanya siapa padanya, tapi mulutku tidak bisa. Semua tiba-tiba terasa gelap, dan begitu mataku berkedip, aku sudah tidak lagi bertumpu di tempat yang sama.

Aku tidak percaya, jika baru saja melakukan teleportasi. Napasku masih belum teratur, sambil kupandangi pria di depanku, aku terduduk di kursi. Kuperhatikan ia dengan jubah yang menutupi betis, berjalan, lalu suara beratnya memanggil. “Gamma!”

Aku tertegun dengan seseorang yang datang dari balik kamar.

“Siapa yang menyuruhmu mencuri lagi?!” Ia mengambil cangkir dari meja, lalu melemparkannya kepada pria kecil tadi—yang kuketahui bernama Gamma.

Cangkir tadi tepat jatuh di tangan Gamma, berhasil ia tangkap. Aku bahkan belum pernah melihat yang seperti itu—biarpun di pekan olahraga—dan itu benar-benar keren. “Kenapa? Apa aku salah?” Gamma kembali masuk ke kamarnya. Mimik wajah bocah itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

Pria di hadapanku berbalik, membuat jubahnya berkibas. “Maafkan perbuatan dia. Bocah itu sama sekali tidak santun.”

Aku menegakkan punggungku, sedikit menghiraukan rasa mual dan pusingku. “Aku hampir mati tadi.”

“Ah, iya. Sekali lagi, minta maaf. Janji dia tidak akan melakukannya.”

Bodoh. Perasaan dongkol tetap saja aku rasakan, dan dengan minta maaf saja, tentu tidak bisa membayar ketakutanku di tepian kobaran api. Lagipula, seharusnya bocah itu yang berjanji, bukan kakaknya.

“Aku hampir mati, sungguh. Tapi lupakan saja, dia masih anak-anak,” kataku, “seharusnya mendapat didikan yang baik.” Sengaja sedikit kusindir dia di akhir kata.

“Aku tidak bisa menjaga Gamma selama dua puluh empat jam.”

Aku tertegun, merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan; yang tidak bisa ia katakan. “Tapi, terima kasih sudah menolongku.”

“Bukan apa-apa.” Lengannya berayun, lalu, ia mengibaskan jubahnya lagi; berdiri. “Aku akan membuatkanmu minum.”

“Tidak usah, sungguh.” Aku segera bangkit, tidak mungkin berlama-lama di sini. “Aku harus pulang,” kataku lagi.

Pria itu berbalik, lalu menahan tanganku. “Jangan. Kau harus minum dulu.”

Aku khawatir, apakah ia melihat telingaku atau tidak. Buru-buru kulepaskan pegangannya, “Tidak papa, tidak usah.”

“Kau perlu perawatan. Kau bisa saja masih kaget, dan tubuhmu perlu ramuan agar cepat dingin.”

Untuk ke dua kalinya, aku diam. Memikirkan bagaimana ia bisa tahu kalau rasa panas tadi masih terasa bagiku. Aku kurang tahu, apakah memang begitu, atau bagaimana. Tapi kuperhatikan, memang orang-orang di tempat upacara tadi baik-baik saja; wajah mereka masih menunjukkan tawa.

Aku duduk lagi, “Baiklah, terima kasih.”

 

TO BE CONTINUE…

 

terima kasih udah baca~^^ ini fiction pertama yang saya kirim ke sini, dan keliatannya masih sangat membutuhkan bumbu, juga sedikit taburan rempah-rempah’-’

 

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] FOS (Chapter 1)”

  1. Sempat ikut deg-degan pas mau dibakar itu loh-_- Sempat juga sudah berimajinasi gimana kalau dia kebakar. Bat, ternyata ada yang nolongin hohoho u,u Ditunggu next chapternya, drei!^^

  2. iya betul,,jng lupa kasih cabe biar pedes,,jg air kaldu biar gurih pasti makin makkyuss ne ff,,
    jng jng pria itu jongin ya?!!!
    next!

  3. Hmzzzzz udh ckup berkesan kok. Crtnya mang msh blm jelas. Penggambaran asal usul y msih abu2 mkin krna bru chap 1 tp selebihny okeh. Teus apa lg yh. Alur y gk monoton wlpun sdkit mainstream tp qq sih punya feeling gk spt kbanyakan *berharap
    Hehhehehe kya benci jd cinta…. Ato cinta terhalang perbedaan wkwkwkwk
    Seriussss klo d trusin kerennn

  4. Itu bocah ngeselin, hampir bikin org mati. Aku suka ideny, tp emg d chapter 1 ini blm terungkap semua jd msh sedikit blur arah sm tujuan cerita ini. Ditunggu kelanjutanny yaaa, semangat nulisnyaa!!^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s