[EXOFFI FREELANCE] Hey, You! Noona! (Full Version)

005J0q13gw1f151ipcr7gj30px0yv7b4.jpg

Hey, You! Noona! (Full Version)

Author : deergalaxy0620

Twitter : @DeerGalaxy0620

Genre : Romance, Songfic, Comedy ( little bit )

Cast : Park Chan Yeol

Kang No Hee ( OC )

Kim Jong In a.k.a Kai

Rating : PG-17 ( little bit )

Length : Oneshoot

Disclaimer : The story is mine. Chan Yeol and Kai is belong to SM and EXO and OC is

belong to us. And this is full version of FF Hey, You! Noona! Before I released

some cut for EXOFFI Event.

http://line.me/R/home/public/post?id=dco7964l&postId=1145605321405088024

50% from Cross Gene – Noona, You

50% from JJCC – Where You At

Noona, you, don’t play around

( Hey, kamu, noona, jangan bermain-main )

Yeah you

( Yeah kamu )

I’m a man too

( Aku seorang lelaki biasa juga )

Don’t even talk about other guys

( Jangan pernah berbicara tentang orang lain )

Because you’re my girl

( Karena kaulah wanitaku )

–  Cross Gene – Noona, You ­

Tiada hentinya Chan Yeol mengetuk jemari kekarnya, memandang ponselnya dengan

jemu. Tangan kirinya menopang dagunya, seolah-olah dia sedang menunggu seseorang. Benar-

benar sangat membosankan, bahkan harus menunggu. Pria bertubuh jangkung itu, melirik

sejenak seluruh ruang kerjanya. Sunyi dan sepi. Karyawan lain hanya sibuk bekerja untuk

diselesaikan secepatnya, kecuali Chan Yeol.

Merasa jenuh dengan termenungnya, akhirnya Chan Yeol meraih ponsel di dekatnya, lalu

mengetik nomor ponsel seseorang. Jemarinya sangat cepat. Bukan karena dia marah ataupun

kesal, melainkan dia tidak suka menunggu. Tangan Chan Yeol tergerak mendekatkan ponselnya

ke telinga lebarnya sembari memainkan jemari kirinya.

“Yeoboseyo,” seorang wanita, yang merupakan kekasih Chan Yeol, berucap dengan

lembut.

“Noona,” Chan Yeol segera menegakkan tubuh kekar dan besarnya itu sembari menghela

napas panjang, “dimana kamu sekarang?” tanyanya dengan intonasi khasnya, layaknya seorang

pria dewasa. Sayang sekali, kekasihnya itu tak berkutip.

“Noona,” Chan Yeol menyebutkan sapaan kekasihnya itu tak sabaran, “mengapa kamu tak

menjawab pertanyaanku?” tanyanya lagi sedikit bingung.

“Mianhae, aku sedang sibuk. Aku pamit dulu.” Tiba-tiba sang kekasih Chan Yeol itu

memutuskan teleponnya. Terdengar tergesa-gesa dan tak sabaran karena kesibukan

pekerjaannya. Ini membuat gigi putih dan sinar Chan Yeol bergemeretak. Menahan

kesabarannya karena kekasihnya itu memang selalu sibuk. Ingin sekali rasanya Chan Yeol

bertemu dengan kekasihnya itu, yang disapa akrab dengan panggilan Noona.

Sebelum Chan Yeol hendak bergegas untuk keluar dari gedung pekerjaannya, tiba-tiba

seorang manajernya menghampirinya. Beliau berkata bahwa tidak ada tugas yang dia berikan

kepada Chan Yeol. Ini menandakan bahwa pria bertubuh jangkung itu diperbolehkan untuk

pulang lebih awal. Rasa senang mulai muncul dalam diri Chan Yeol. Ini juga menandakan bahwa

dia dapat menemukan kekasihnya yang selalu sibuk itu.

“Terima kasih, hyungnim,” ucap Chan Yeol dengan membungkuk.

“Tidak perlu sungkan, Chan Yeol,” manajer bertubuh gemuk itu membalas ucapan Chan

Yeol, “kau adalah pria tipe pekerja keras. Aku merasa sangat mengagumi pekerjaanmu.”

Lanjutnya dengan menepuk punggung Chan Yeol kuat.

“Ini semua karena aku menyukai pekerjaanku agar aku mendapatkan gaji darimu,” Chan

Yeol menyengir kuda, menunjukkan kembali gigi putih kilaunya itu.

“Saya berharap kamu dapat melaksanakan tugas dengan baik kedepannya,” balas manajer

Chan Yeol dengan senyum ramah tamahnya. Bukan Chan Yeol namanya jika dia bukan pria

pekerja keras agar mendapatkan nafkah pribadinya.

“Terima kasih, manajer. Saya berjanji, saya akan melaksanakan tugas saya dengan baik,”

Chan Yeol berucap dengan menahan cengiran penuh canggung.

“Sekarang, kamu boleh pulang,” akhirnya, Chan Yeol dipersilakan untuk kembali ke

rumah untuk beristirahat. Ini menandakan bahwa masih ada waktu yang panjang untuk mencari

kekasihnya.

Setelah dipersilakan untuk pulang, Chan Yeol segera membuka pintu mobilnya. Kemudian

tangan kanan kekarnya itu menyalakan mesin mobil. Setelah itu, dia meninggalkan gedung

pekerjaannya sedikit terburu-buru. Melirik sekilas jam di pergelangan tangan kirinya. Hampir

menunjukkan jam empat sore. Chan Yeol harus bergegas untuk mencari keberadaan kekasihnya

itu. Pria bertubuh besar itu, merasa cukup terbebani dengan banyak pikiran, terutama berpikir

tentang kekasihnya itu. Sudah enam bulan mereka berkencan dan semuanya berjalan dengan

lancar. Namun, seiring waktu berlalu, kekasih Chan Yeol selalu sibuk dengan pekerjaannya

sebagai karyawan di perusahaan butik. Dia lebih sibuk daripada Chan Yeol.

Di tengah jalan, Chan Yeol terpikir kembali tentang kekasihnya itu. Betapa penyayangnya

wanita itu. Merawatnya dikala ia sedang sakit dan menghiburnya dikala ia sedang kalut dengan

pekerjaannya sebagai seorang karyawan di perusahaan besar. Kekasih Chan Yeol adalah wanita

yang membuat hati Chan Yeol menggebu-gebu. Dia selalu menghindari pria lain dan mengakui

bahwa dia memiliki kekasih, yang tak lain adalah Chan Yeol. Ini merupakan pengakuan yang

terlontar dari bibir ranum kekasih Chan Yeol.

Akan tetapi, bagaimana dengan sekarang? Wanita sibuk adalah hal yang tidak disukai

Chan Yeol. Meskipun tampak sibuk dengan pekerjaan, pria bersurai hitam itu beranggapan

bahwa kekasihnya itu telah melupakannya karena saking sibuknya dia. Tidak hanya melupakan

Chan Yeol, melainkan wanita itu selalu lupa tentang hari ulang tahun Chan Yeol, janji mereka,

mengobrol lewat akun sosial media dan lain-lain. Chan Yeol benar-benar tidak menyukai hal itu.

Itulah sebabnya pria itu selalu bersabar menghadapi kekasihnya yang serba sibuk.

“Hei, noona,” ucap Chan Yeol sembari mempercepat lajuan mobilnya, “aku hanyalah

seorang pria biasa. Kamu tampak lebih nyaman berada disisiku daripada orang lain. Bahkan, jika

kamu digoda pria lain, aku tetap berada disisiku. Jadi, jangan menganggapku hanyalah pria

pengecut.” Lanjutnya dengan meningkatkan sedikit lajuan mobilnya. Tak lupa Chan Yeol

menghidupkan GPS agar mengetahui keberadaan kekasihnya itu. Perasaannya semakin kalut

sekaligus dongkol.

Where are you right now

( Dimana kamu sekarang )

What are you thinking?

( Apa yang sedang kamu pikirkan? )

Why do you keep breaking my trust?

( Mengapa kamu telah merusak kepercayaanku? )

What are you doing right now?

( Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? )

You’re in the palm of my hands,

( Kamu berada di genggaman tanganku, )

but why do you keep lying

( tetapi mengapa kamu telah membohongiku )

Tonight

( malam ini )

Langit semakin gelap. Akhirnya, Chan Yeol memberhentikan mobilnya di sebuah kafe

minimalis. Pria bertubuh jangkung itu segera turun dari mobilnya dan menekan tombol untuk

mengunci mobil hitamnya secara otomatis. Dia melangkahkan kakinya memasuki kafe yang

menyediakan hanya minuman dingin. Inventaris di kafe sangat unik. Terdapat meja dan kursi

yang berbentuk heksagon, berlatar warna-warni di setiap ruang. Tak lupa terpampang sebuah

lukisan karya warga Seoul yang menakjubkan. Lampu kafe selalu menyala dengan menggantikan

warna pencahayaan lampu tersebut. Terlebih lagi, Chan Yeol adalah pengunjung setia kafe

karena pelayannya sangat baik dan ramah.

Kaki kekar Chan Yeol seketika terhenti saat sepasang mata menyorot kepada sepasang

kekasih yang tengah bermesraan. Mereka saling tertawa kecil, kemudian wanita itu

menyandarkan kepalanya ke pundak pria berwajah mesum itu. Chan Yeol dapat merasakan

kobaran api di hatinya. Dia berhasil menemukan kekasihnya itu. Namun, wanita itu tengah

bermesraan dengan seorang pria, yang usianya kira-kira dibawah Chan Yeol. Ekspresi pria

bergigi putih itu kian berubah menjadi marah sekaligus kecewa. Dia cemburu terhadap

kekasihnya itu, Kang No Hee.

Saat Chan Yeol memerhatikan No Hee, tiba-tiba seorang pria bertubuh kurus itu

melihatnya, begitu juga dengan No Hee. Mereka tersontak kaget hingga No Hee membungkam.

Memandang Chan Yeol yang tengah cemburu, dengan melangkahkan kakinya menghampiri No

Hee. Dengan segera, Chan Yeol meraih tangan No Hee, kemudian melangkah keluar

bersamanya. Akan tetapi, seorang pria, yang tengah bermesraan dengan No Hee, bangkit dari

kursinya dan berseru.

“Hei! Siapa kamu?! Berani-beraninya kamu mengambil seorang wanita tanpa izin dariku!”

tanya pria yang bernama Kim Jong In itu. Akan tetapi, Chan Yeol malah tak mengindahkan

perkataan Jong In sejak tadi dan hanya melangkah keluar dari kafe bersama No Hee. Chan Yeol

merasakan hatinya ditoreh pisau setelah No Hee berani dekat dengan Jong In. Bahkan pria itu

hampir menitikkan air matanya.

Setelah mereka keluar dari kafe, Chan Yeol segera membawa No Hee ke mobil pribadinya.

No Hee langsung masuk ke dalam mobil, lalu disusul dengan Chan Yeol yang hendak masuk ke

mobil bagian supir. Tanpa memikirkan perasaan No Hee, mobil Chan Yeol kini pergi

meninggalkan kafe. Dari kejauhan, No Hee melihat Jong In yang berlari menghampiri mobil

Chan Yeol. Akan tetapi, Chan Yeol mempercepat lajuan mobil hingga Jong In merasa

kewalahan. Sayup-sayup No Hee mendengar teriakan Jong In yang menggema. Wanita bersurai

hitam itu, ingin sekali menjelaskan segalanya kepada Chan Yeol, akan tetapi pria bertubuh

jangkung itu malah enggan mau karena No Hee mungkin saja pandai bermain drama.

Setelah mereka telah menjauh dari kafe dan Jong In, Chan Yeol segera menghentikan

mobilnya, kemudian keluar dari mobilnya, disusul dengan No Hee. Mereka telah sampai di suatu

tempat, dimana mereka mengunjungi tempat itu sebelumnya. Rumah kosong, tempat dimana

Chan Yeol meredakan perasaan kalutnya karena pekerjaannya yang tak terselesaikan. Tidak

hanya itu, rumah kosong itu dapat dijadikan sebagai tempat untuk berbagi curhat, meskipun

hanya Chan Yeol. Memang terdapat inventaris, akan tetapi tidak ada inventaris lainnya selain

meja, kursi, dan ranjang tidur.

Kini, hanya Chan Yeol dan No Hee yang berada di rumah kosong tersebut. Suasana

semakin sunyi sekaligus tegang, mengingat Chan Yeol dilanda rasa cemburu terhadap No Hee.

Bagaimana tidak, pada saat itu, Chan Yeol telah menjadi saksi mata untuk kekasihnya yang

tercinta itu? Pria itu tidak salah lihat.

“Mengapa kamu membohongiku?” tanya Chan Yeol cukup dingin. No Hee hanya bisa

membungkam dengan ekspresi cukup ketakutan.

“Mengapa kamu telah merusak kepercayaanku?!” kali ini, intonasi Chan Yeol meninggi.

Cukup membuat No Hee merasa ketakutan. Tubuhnya bergemetaran kuat, seolah-olah dia

menjadi wanita yang lemah dihadapan orang lain.

“Mengapa kamu malah tidak menjawab pertanyaanku?” dan lagi-lagi No Hee tak

merespon pertanyaan Chan Yeol dan menunduk.

“Apakah kamu ingin dibentak lagi olehku?!” kali ini Chan Yeol segera meraih bahu No

Hee, lalu mencengkeramnya kuat. Memaksa No Hee agar menatap wajah Chan Yeol dan

akhirnya berhasil.

“Jawab pertanyaanku baik-baik,” Chan Yeol kembali berujar cukup tegas, “apakah di

matamu, aku hanyalah seorang pria yang masih muda sehingga aku dengan mudah dibohongi

olehmu? Mengapa kamu tampak bahagia bersama pria lain, sementara aku tidak?” tanyanya lagi

dan lagi.

“Karena sebenarnya,” akhirnya No Hee menjawab, “sebenarnya kamu lebih mementingkan

pekerjaanmu daripada aku. Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu. Mengapa kamu malah

melupakanku?”

“Siapa yang lebih sibuk siapa? Kamu hanya dapat berkata bahwa kamu sibuk. Ingatkah

kamu saat kamu mengabaikan ulang tahunku? Kamu lupa bahwa waktu itu aku ulang tahun dan

hanya sibuk dengan pekerjaanmu. Apakah kamu pikir bahwa aku melupakanmu?”

No Hee kali ini membungkam saat Chan Yeol kembali menekankan intonasinya. “Saking

sibuknya pekerjaanmu,” pria itu menahan tawanya, “kamu telah lupa tentang waktu luang dan

juga diriku. Apakah aku adalah pria yang salah dimatamu? Atau apakah pria yang kamu dekati

itu, dia adalah pria yang paling tepat untukmu?” berkali-kali ia bertanya untuk meyakinkan

kekasihnya itu.

“Kamu benar!” No Hee akhirnya menekankan intonasinya yang awalnya lemah lembut itu,

“Jong In adalah pria yang paling tepat untukku dan aku hanya memanfaatkanmu untuk menjadi

kekasihku. Apakah kamu lupa bahwa sebenarnya aku tidak mencintaimu?!” Chan Yeol akhirnya

tertegun, rahangnya mengeras dan jantungnya terasa berhenti berdetak.

“Jong In terlihat lebih muda darimu, bahkan dia cukup tampan untuk menjadi kekasihku,”

“Noona,”

“Dan terlebihnya lagi, dia sangat pandai berbicara dengan orang lain. Dia juga tidak

menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai pelayan kafe. Sementara kamu sangat sibuk,

lebih sibuk hingga kamu melupakanku,”

“Kamu yang lebih sibuk!” Chan Yeol akhirnya membentak dengan emosi tertahan, “saat

aku meneleponmu, kamu hanya berkata bahwa kamu sedang sibuk. Kemudian kamu menutup

telepon dengan cepat. Akan tetapi, kenyataannya kamu malah berkencan dengan orang lain.

Bermesraan dan saling tertawa, seolah-olah mungkin kamu sedang menertawaiku. Pikirkan apa

yang telah aku lakukan terhadapmu! Aku sudah terlalu banyak melakukan apa saja agar kamu

bahagia. Tetapi kenyataannya, kamu malah memanfaatkanku dengan berkencan dengan orang

lain. Apakah kamu pikir, semua yang telah kulakukan sejak kita pertama kali berkencan, aku

masih salah dimatamu? Apakah kamu pikir, ada yang kurang dariku? Apakah

memperlakukanmu dengan baik saja tidak cukup?”

Chan Yeol sudah lelah untuk menjelaskan segalanya dengan panjang-lebar. Menahan air

mata yang mulai menitik, akan tetapi buliran air bening mengalir pelan. Memandang No Hee

yang kini menunduk. Ada sebuah penyesalan dari wanita bertubuh tinggi itu hingga dia tak

sanggup membalas tatapan Chan Yeol.

“Coba kamu tatap aku, noona,” No Hee segera menuruti perkataan Chan Yeol,

menengadahkan kepala tepat di depan Chan Yeol, “kamu ada dalam bahaya sekarang setelah

kamu memanfaatkanku dengan buruk. Kebohonganmu, mengujiku, dan merusak kepercayaanku.

Sekarang kamu tidak dapat lagi menguji semuanya. Aku akan membuatmu tampak seperti

kekasihmu.” ujarnya cukup memelankan intonasinya, kemudian muncul senyuman yang cukup

seringai.

“Chan… Chan Yeol-ah…” No Hee tak dapat berkata kembali saat wajah pria itu hampir

mendekat.

“Dan satu pesan dariku. Jangan pernah kamu bermain dengan pria lain, apalagi sampai

kamu berkencan dengan pria lain, terutama pria yang berwajah mesum itu.” Chan Yeol segera

mendaratkan bibirnya ke bibir ranum No Hee. Cukup menuntut hingga wanita itu menutup

matanya dan membalas ciuman tersebut. Membuat Chan Yeol tersenyum disela-sela ciuman.

Tangan kekarnya menarik tubuh langsing No Hee hingga memangkas jarak diantaranya.

Chan Yeol memperdalam ciumannya hingga ciuman tersebut berubah memanas. No Hee

ingin sekali melepaskan ciuman itu, tetapi tenaga Chan Yeol berkali-kali lipat lebih banyak dari

No Hee. Mereka saling menggerakkan kepalanya ke berlawanan arah untuk mendapatkan

pasokan oksigen. No Hee sedikit melenguh saat Chan Yeol menggigit bibir bawahnya agar lidah

mereka saling bertaut. Membuat wanita itu mencengkeram kuat lengan Chan Yeol. Ciuman

tersebut sungguh memabukkan.

Perlahan-lahan Chan Yeol segera mendorong tubuh No Hee ke ranjang putih berukuran

king size. Menindih tubuh kekasihnya itu dan memanaskan suasana rumah kosong itu. Tangan

Chan Yeol tergerak membuka kancing kemeja No Hee hingga menampakkan bra pink.

Kemudian pria itu menurunkan ciumannya ke leher jenjang No Hee dan meninggalkan tanda

disana, membuat wanita itu melenguh. Chan Yeol hampir menahan tawanya saat No Hee mulai

terbuai dengan ciuman tersebut. Menggigit dan menghisap leher putih No Hee, membuat wanita

itu tak hentinya mendesah.

Disela-sela mereka memanaskan suasana di rumah kosong, tiba-tiba ponsel Chan Yeol

berdering dan mengganggu aktivitas mereka. Chan Yeol segera menjauhkan bibirnya dari leher

No Hee, kemudian merogoh saku celananya. Pria itu malah mendecak kesal setelah ponselnya

tidak menemukan tanda pesan masuk maupun telepon. Hanya terdapat alarm yang berdering.

Mengganggu saja. Gerutu Chan Yeol dalam hati.

“Lebih baik kamu pulang saja,” ujar Chan Yeol sembari memasukkan kembali ponselnya,

memandang No Hee yang sedang mengancingkan kemejanya, “ini sudah semakin malam.

Perlukah aku mengantarkanmu?” tanyanya.

“Aku tidak keberatan diantar olehmu,” jawab No Hee mengangguk.

“Baiklah. Kalau begitu, mari kita keluar dari sini,” ajak Chan Yeol sembari melangkah

keluar dari rumah kosong itu dengan menarik tangan No Hee pelan dan tidak tergesa-gesa.

Di tengah jalan menuju rumah No Hee, Chan Yeol melirik sekilas kondisi No Hee yang

hampir berantakan karena ulahnya. Suasana menjadi hening karena tidak ada yang memulai

pembicaraan. No Hee hanya menikmati alunan lagu yang hampir membuatnya mabuk. Lagu

dengan diiringi piano dan saksofon yang membuatnya ikut terbawa. Chan Yeol tersenyum kecil

disela-sela ia menyetir mobil pribadinya. Bukan karena dia puas menciumi No Hee, melainkan

senang karena wanita itu kembali menjadi kekasihnya.

“Soal ciuman tadi,” akhirnya No Hee memulai pembicaraannya, “mengapa kamu

menciumku?” tanyanya dengan menoleh ke arah wajah tampan Chan Yeol.

“Itu karena aku menghukummu,” jawab Chan Yeol sembari memelankan sedikit mobilnya

karena jalanan semakin ramai, “atas apa yang telah kau perbuat sejak tadi.” Ujarnya hingga No

Hee merasa menyesal. Wanita itu memainkan jemarinya sendiri, bingung apa yang harus dia

katakan.

“Maafkan aku, Chan Yeol-ah,” No Hee menyesal hari ini, “aku seharusnya menjauhi Jong

In sejak tadi. Akan tetapi, dia selalu mendekatiku karena aku juga pelanggan setia kafe.

Sebenarnya…”

“Tak perlu menjelaskan lebih rinci lagi. Aku sudah membaca pikirannya,” Chan Yeol

menyela perkataan No Hee. “dia lebih mesum dariku. Jadi, kamu jangan lagi dekati pria itu.

Meskipun kamu tampak berkencan dengan pria itu, tetapi kamu lebih baik jika kamu berada di

sisiku.” Tambahnya hingga akhirnya mobilnya telah sampai di depan rumah No Hee.

“Turunlah. Soal tadi, jangan kamu bayangkan,” Chan Yeol menoleh ke wajah No Hee

dengan senyuman penuh artian, membuat suasana semakin canggung.

“Baiklah. Terima kasih atas tumpangan ini,” ucap No Hee sebelum wanita itu segera turun

dari mobil Chan Yeol. Akan tetapi, ada sesuatu yang terlupa dari Chan Yeol.

“Cha… chakamman!” serunya sembari ikut turun dari mobil, kemudian menghalangi jalan

No Hee untuk masuk ke pagar rumah. Ada sesuatu yang ingin Chan Yeol katakan kepada No

Hee.

“Aku juga minta maaf kepadamu karena aku membentakmu. Itu semua karena aku merasa

khawatir denganmu. Aku merasa khawatir jika kamu terjadi apa-apa. Jika kamu berkata dengan

jujur, mungkin aku dapat memaafkanmu.” Ucapnya dengan panjang-lebar, membuat senyuman

No Hee mengembang.

“Kau tak perlu meminta maaf padaku. Aku memang sudah terbiasa dibentak orang lain,

terutama dirimu. Mungkin aneh jika aku berpura-pura bersikap kuat terhadap orang lain, tetapi

aku tidak ingin dilemahkan orang lain,” balas No Hee sembari memegang pundak kekar Chan

Yeol yang masih terbalut dengan pakaian kerjanya – kemeja kotak-kotak merah dan celana

dasar. Perlahan-lahan No Hee memeluk Chan Yeol penuh kasih sayang. Sebuah pelukan yang

hangat dan membuatnya nyaman.

“Aku benar-benar mencintaimu, Chan Yeol-ah. Kamu memang terlihat muda karena usia,

tetapi kamu adalah pria yang pantas menjadi ayah di hari kelak,” No Hee berkata penuh

bersyukur. Perlahan Chan Yeol membalas pelukan No Hee dan membiarkan wanita itu

memeluknya agar membuatnya tenang dan nyaman. Sebuah pelukan yang menjadi tabu bagi

setiap pasangan.

“Jangan tinggalkan aku lagi, No Hee noona,” ucap Chan Yeol dengan mengeratkan

pelukan No Hee, kemudian memejamkan matanya untuk menghirup aroma yang melekat di

tubuh kekasihnya itu. Melindungi diri dari hembusan angin yang menusuk ke tubuh mereka.

Membiarkan Chan Yeol memeluk No Hee untuk memberikan kembali ketenangan dan

kebahagiaan.

Keesokan harinya, bel rumah Chan Yeol berdering. Mengganggu sarapan Chan Yeol yang

hanya disediakan sandwich dan susu cokelat kesukaannya. Sang pemilik rumah itu segera

melangkah meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ruang tamu. Chan Yeol segera

membukakan pintu rumahnya tanpa mengintip.

Saat Chan Yeol membuka pintu rumah, ada Jong In dihadapannya. Mereka saling

bertatapan hingga Chan Yeol melipatkan tangannya di dada. Namun, tiba-tiba No Hee berjalan

mendekati Jong In, berdiri di sampingnya, dan tersenyum. Senyuman itu bukan untuk Chan

Yeol, melainkan Jong In. Ini membuat Chan Yeol kembali dilanda rasa cemburu.

Yang lebih memalukannya lagi, Jong In segera merangkul No Hee, seolah-olah mereka

sedang akrab. Mata Chan Yeol kian memanas di pagi hari. Jong In telah mengganggu awal

harinya yang tenang dan tenteram. Lebih ironinya lagi, No Hee membalas rangkulan Jong In

agar terlihat lebih akrab.

“Aku dan No Hee memulai kencan hari ini,” Jong In mengeluarkan senyuman penuh

mengejek. Chan Yeol malah tak berkutip dengan tatapan sangat dingin.

“Aku sudah mengajak No Hee noona untuk berkencan dan akhirnya dia menerimaku. Ini

sudah pertama kalinya aku berkencan dengannya. Jadi, apakah kamu masih berpikir bahwa kamu

mencintainya?” Jong In membeberkan pernyataannya dihadapan Chan Yeol, sementara No Hee

hanya tersenyum lebar karena merasa nyaman di sisi Jong In.

“Apakah kamu mencoba untuk memanaskanku?”

“Tentu saja. Pria sepertimu, seharusnya kamu mengakhiri hubunganmu dengan kekasihku

ini,” Chan Yeol tentu tidak ingin kalah dari Jong In, tetapi semua perkataannya, yang terlontar

dari bibir Jong In, membuatnya kembali diruntuhkan kepercayaan.

“No Hee noona,” Chan Yeol akhirnya menyebut nama No Hee, “apakah kamu benar-benar

mencintai pria bernama Kim Jong In ini?” tanyanya dan kali ini perkataannya sangat serius

bukan main-main.

“Tentu saja,” jawab No Hee sembari mengeratkan rangkulang di lengan Jong In, “sudah

kubilang, aku lebih nyaman di sisinya daripada di sisimu.” Lanjutnya dengan senyuman penuh

ejek. Penuh sakit hati yang dirasakan Chan Yeol.

“Untuk hari ini, kamu harus merelakan kekasihmu ini berkencan denganku. Jangan pernah

kamu…”

“Untuk hari ini juga, jangan pernah kamu bermain-main dengan wanitaku!”

“Kamu harus pergi meninggalkannya sekarang!”

“Aku tidak akan pergi meninggalkannya! Aku tetap membuatnya merasa nyaman di sisiku,

bukan di sisimu yang penuh godaan setan itu!”

“Sudah cukup!”

Chan Yeol dan Jong In akhirnya berhenti adu mulut, memperebutkan hati No Hee yang

kian memanas itu.

“Chan Yeol-ah,” No Hee hendak menahan emosinya yang menggebu-gebu, “aku katakan

kepadamu sekali lagi. Aku merasa nyaman di sisi Jong In daripada dirimu. Aku berhasil

memanfaatkanmu untuk berkencan denganku. Jadi, jangan pernah mencoba-coba untuk

mengganggu hubungan kami!” bentaknya.

“No Hee noona!”

“Jangan pernah sebut namaku lagi! Aku sudah muak denganmu!”

Chan Yeol akhirnya merapatkan bibirnya kuat. Menahan emosinya yang mulai mendidih.

Ingin sekali rasanya pria itu menangis dihadapan mereka. Tetapi dia bukanlah pria yang lemah.

“Jong In-ah,” panggil No Hee, “maukah kamu memelukku?” tanyanya lagi.

“Tentu saja, honey,” Jong In segera menatap No Hee, kembali membuat Chan Yeol

cemburu. Sepasang kekasih baru itu, Jong In dan No Hee, tersenyum setelah cukup lama mereka

bertatapan. Chan Yeol memutarkan bola matanya, seolah-olah pria itu tak peduli. Namun, dalam

hatinya, dia kembali ditoreh luka karena No Hee menyakitinya.

Kejadian sejak tadi malam pun kembali terjadi dari Chan Yeol, yang harus merelakan No

Hee untuk berkencan bersama Jong In. Padahal Jong In tampak mesum dari Chan Yeol.

Sayangnya, semua kekuatan Chan Yeol, untuk menghentikan No Hee untuk mendekati Jong In,

gagal dan hanya menjadi batu. Berharap suatu keajaiban datang secara tiba-tiba, untuk

menghentikan No Hee berkencan dengan Jong In.

Setelah puas No Hee dan Jong In saling bertatapan, tiba-tiba sesuatu kembali terjadi dan

mengubah suasana memanasnya itu. Chan Yeol tertegun saat memandang No Hee yang mulai

berubah menjadi wanita yang pemberani. Sementara Jong In tersungkur ke lantai secara tiba-tiba

dan meringis kesakitan. Entah atas dasar apa No Hee melakukan itu kepada Jong In.

Singkat cerita. Saat No Hee dan Jong In saling bertatapan dalam waktu yang lama, tiba-

tiba kaki kiri No Hee, tepatnya di bagian kiri lutut wanita itu, menendang kuat bagian privasi

Jong In hingga tersungkur ke lantai. Mengubah suasana yang awalnya memanas menjadi tegang.

Chan Yeol malah tertegun, melihat sikap pemberani No Hee yang tak terlihat. Wajah No Hee

seketika berubah menjadi kesal dan jengkel. Kemudian wanita itu duduk bercengkung dihadapan

Jong In. Tangan putih No Hee mencengkeram kuat kaus hitam Jong In tanpa diberi ampun.

“Sekarang, kamu puas dengan aktingmu?! Justru kamu yang memanfaatkanku, kan?!”

omel No Hee saat Jong In memberi ampun kepadanya. Chan Yeol masih tak mengerti apa

maksud dari semuanya.

“Maafkan aku, noona,”

“Apakah dari semua aktingmu, akan berhasil agar aku dapat menjatuhkan kepercayaan

Chan Yeol?! Kamu benar-benar pria yang kurang ajar!” bentak No Hee sembari menampar pipi

Jong In hingga memerah.

“Maafkan aku, noona. Baiklah baiklah,” Jong In segera menangkal pukulan No Hee yang

hampir menyerang bagian wajahnya, “aku… aku tidak akan mendekatimu lagi. Aku berjanji tidak

akan mendekatimu lagi, mengingat kamu adalah pelanggan setia kami.” Ampun Jong In hingga

akhirnya No Hee melepaskan cengkeram itu. Wanita itu bangkit dan malah menginjak bagian

perut kekar Jong In dengan satu kaki.

“Kau tahu? Karena sikapmu yang tampak mesum dan playboy dihadapan wanita lain, aku

melaporkan ini kepada manajermu. Lihat saja nanti apa yang terjadi setelah kamu bermain-main

dengan wanita lain!”

“Jangan… jangan laporkan manajer…”

“Maafkan aku, Kim Jong In,” ucap No Hee dengan senyuman penuh mengejek, “aku sudah

terlanjur melaporkan ini kepada manajermu dengan membeberkan semua keluhan dan unek-

unekku atas perbuatanmu sebagai seorang pelayan kafe. Kamu benar-benar pria mesum!” wanita

itu tak hentinya menginjak Jong In agar pria itu meminta maaf kepadanya. Terlebih lagi,

meminta maaf dihadapan Chan Yeol.

“Ba… baiklah… aku minta maaf… aku minta maaf…”

“Meminta maaf tidak hanya ke aku saja, tetapi meminta maaflah kepada Chan Yeol!” No

Hee tiada hentinya mengoceh dan menggerutu kepada Jong In. Perlahan pria bertubuh kurus itu

melirik Chan Yeol, kemudian meminta maaf.

“Ma… maafkan aku… maafkan aku, Chan Yeol-ssi,” Chan Yeol hanya mengangguk pelan

dengan mengulum bibirnya sendiri. Padahal dia sendiri tidak mengerti jalan cerita itu.

“Bagus! Sekarang, kamu harus pergi dari sini! Jangan pernah lagi mengganggu wanita

lain!” perintah No Hee hingga akhirnya Jong In bangkit sembari meringis kesakitan.

“Tunggu apalagi?! Cepat pergi dari sini atau aku akan menuntut kepada manajermu untuk

menurunkan upahmu?!”

“Baiklah baiklah baiklah, jangan mengocehku seperti ini. Aku sudah meminta maaf kepada

kalian. Jadi, baiklah, aku akan pergi dari sini.” Jong In akhirnya pergi meninggalkan No Hee dan

Chan Yeol dengan tergesa-gesa. Menahan ringisan yang bukan main-main.

Setelah Jong In menghilang dari pandangan, Chan Yeol masih merasa bingung. Dia pikir

semuanya menjadi kenyataan karena Jong In tampak sangat dekat dengan No Hee hingga ada

keinginan untuk berkencan. Begitu juga dengan No Hee. Wanita itu sungguh labil dan aneh.

Wanita mana yang berani mendekati pria lain hanya ada keinginan untuk berkencan tanpa ada

hubungan khusus. Bagi Chan Yeol, No Hee bukanlah tipe wanita yang suka bermain-main

dengan pria lain. Jika No Hee memiliki kekasih, wanita itu lebih memilih kekasihnya daripada

pria lain.

Tetapi semuanya berubah saat No Hee malah menyerang Jong In dengan keberaniannya,

membuat Chan Yeol harus berpikir jalan ceritanya. No Hee malah menghukum Jong In karena

pria itu telah berani bermain-main terhadap wanita lain. Terlebih lagi, No Hee sangat membenci

seorang pria yang selalu bermain dengan wanita lain. Sebut saja playboy.

“Ta… tadi itu…”

“Aku menghukumnya,” No Hee menyela perkataan Chan Yeol untuk menjelaskan

semuanya, “kami memang sangat dekat. Sebenarnya, dia memang mengajakku untuk berkencan

sebelum kita memiliki hubungan khusus. Akan tetapi, aku dapat membaca pikiran Jong In. Jadi,

aku menolak ajakannya,” jelasnya, tetapi Chan Yeol masih tak mengerti.

“Jong In adalah tipe pria suka bermain-main dengan wanita lain, terutama perasaan. Aku

pernah melihat mantan kekasihnya itu mengunjungi kafe, tempat kita berkencan untuk pertama

kalinya. Wanita itu memarahi Jong In karena telah memainkan perasaannya. Jadi, itulah

alasannya mengapa aku tidak ingin mendekatinya,” jelas No Hee lagi.

“Lalu, yang sejak tadi malam itu, saat kamu dekat dengan Jong In?”

“Dia hanya mengujiku dan dia sedang memainkan naskah drama untuk mempermainkan

perasaanku,” jawab No Hee dengan melengkungkan sudut bibirnya, “mungkin kamu

menganggap bahwa aku sedang berselingkuh dengannya. Tetapi, dia hanya iseng mendekatiku

sembari memikirkan naskah berikutnya.” Lanjutnya, akan tetapi penjelasannya tidak

membuahkan hasil. Justru Chan Yeol kembali merasa bingung.

“Kau tak perlu bingung dengan penjelasanku. Aku memang wanita yang sibuk dengan

pekerjaanku hingga aku lupa denganmu. Maafkan aku, Chan Yeol-ah,” No Hee membungkuk

sebagai permintaan maaf kepada Chan Yeol. Dan akhirnya, pria bertubuh jangkung itu

tersenyum lebar, dengan menunjukkan gigi putihnya.

“Kau tak perlu meminta maaf kepadaku. Lagipula kamu sedang bekerja keras untuk

menghidupimu. Aku menyukaimu karena kamu adalah wanita pekerja keras tanpa mengeluh.”

No Hee menegakkan tubuhnya segera dan memandang bola mata Chan Yeol yang bersinar itu.

“Apakah kamu… benar-benar menyukai kerja kerasku?”

“Tentu saja. Aku juga selalu bekerja keras agar mendapatkan nafkah dan membahagiakan

orang tuaku,” balas Chan Yeol dan disambut dengan senyuman lebar No Hee.

“Jika bukan karenamu, mungkin aku akan lemah dihadapan orang lain,” ujar No Hee

kembali memeluk Chan Yeol penuh kehangatan.

“Jangan khawatir. Kamu selalu disisiku. Dan juga jangan pernah mendekati pria lain. Aku

akan cemburu kepadamu. Karena aku hanya seorang lelaki biasa.” Akhir perkataan dari Chan

Yeol sembari membalas pelukan hangat No Hee. Mungkin jika bukan No Hee, Chan Yeol tidak

akan menjadi pria pekerja keras. Mungkin jika bukan Chan Yeol, No Hee selalu dipermainkan

perasaan Jong In.

Untuk hari ini, hingga tuhan memisahkan mereka, Chan Yeol akan selalu menyayangi No

Hee, meskipun usia mereka terpaut dua tahun lebih tua. No Hee memang terlihat tua dari segi

usianya, tetapi wajahnya tampak lebih muda dari usianya. Itulah sebabnya Chan Yeol menyukai

No Hee. Selain karena kecantikannya, No Hee adalah wanita pantang menyerah. Chan Yeol akan

bersaksi kepada tuhan bahwa dia akan selalu menjaga hati No Hee sampai maut memisahkan

mereka.

END

Nama asli : Indah Fitria Hapsari

No.HP : 082183278120

ID Line : @ryeong12_id

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Hey, You! Noona! (Full Version)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s