Dating After Marriage [Chapter 3] – Coex Aquarium

psd pack 15 (kpop)

Dating After Marriage [Chapter 3] – Coex Aquarium

A chaptered story by nokaav3896 ׀ Starring [EXO’s] Sehun and [Red Velvet’s] Irene ׀ It’s a marriage life and every one can read because it’s labeled as General ׀ OCs and plot are mine. Members belong to you! 

Previous Chapters

Chapter 1 – Hongdae  ׀ Chapter 2 – Namsan Tower

©nokaav3896 – 2016

“Waktu liburmu udah habis ya?”

“Ada klien dari Jepang hari ini, aku harus datang sama Kak Rion. Tapi liburku masih lama, Rene. Kenapa?”

“Aku harus mencari kesibukan lain sementara kamu pergi kerja,” ujar Irene sembari memotong sausage rolls-nya menjadi dua. Matanya terfokus pada makanan, belum pernah sedetikpun sejak duduk di meja makan dia menatap Sehun –membuat lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya merasa awkward.

“Aku sudah menelepon Suzy untuk menemanimu hari ini saja,” Sehun menjawab lirih, melirik Irene dari sudut matanya sementara kedua tangan masih sibuk mengikat dasi. Selama ini dia adalah seorang pro dalam urusan dasi, tapi entah mengapa setelah satu minggu absen dari kantor, tangannya terasa kaku –dan Irene menyadarinya.

“Butuh bantuan?”

“Eh?” Sehun mendongak, melihat Irene sudah beranjak dari kursinya dan berjalan mendekat, “tentu saja kalau boleh.”

Irene tersenyum, dan sungguh ini adalah pertama kalinya Sehun menghela napas lega pasca kejadian di Namsan Tower kemarin.

“Jangan menangis lagi,” Sehun menggumam pelan, namun masih cukup keras untuk bisa di dengar Irene yang kini tengah mengikat dasinya, “aku tahu ini aneh, tapi hatiku rasanya sakit melihatmu menangis seperti kemarin.”

“Kenapa aneh? Aku pasanganmu sekarang, kamu memang harus sakit setiap kali melihatku menangis.”

“Aku tahu,” Sehun tersenyum, menarik perempuan berkulit pucat itu ke dalam pelukannya, meletakkan dagu lancipnya di puncak kepala Irene, “maafkan aku.”

“Jam delapan, Sehun. Kamu bisa terlambat.” Irene melepaskan pelukan Sehun dan sekali lagi membenahi letak dasi suaminya. Dia mendongak, menatap Sehun tepat ke dalam irisnya sembari tersenyum, “Semangat.”

“Terima kasih.”

.

.

“Suzy-ya!

Hello, sister!” Suzy merangsek masuk ke dalam apartemen Irene. Tangannya kanannya menenteng tas plastik berisi entah apa sementara tangan lainnya menenteng dua gelas kopi dalam satu wadah. Dia tersenyum sampai menyadari mata sang kakak yang menurutnya terlihat mengerikan dan bertanya dengan nada menyelidik, “Tell me what’s wrong?

“Apa?” Irene menutup pintu apartemen sebelum mendahului Suzy ke ruang tengah, “Apa ada yang salah?”

Your beautiful eyes are gone.” Suzy meletakkan tas plastik dan kopinya di atas meja makan sebelum menghampiri Irene dan menatapnya dari dekat. “You cried.

“Well, I am.

“Sehun menyakitimu?”

“Dia suamiku, Suzy-ya. Panggil dia ‘kakak’ like you call me and Bae Soobin.” Irene tersenyum sembari menggeledah tas plastik yang dibawa Suzy. Isinya beberapa kotak susu dan juga mi instan. “Kenapa membelikanku mi instan?”

“Kamu bukan perempuan yang pandai memasak, Kak.” Suzy tertawa. “Kak Sehun makan apa selama menikah denganmu? Dan tolong jangan abaikan pertanyaanku, Kak Sehun menyakitimu?”

“Dimana tempat kursus memasak yang bagus? Sehun makan sandwich di pagi pertama, makan nasi goreng keju di pagi kedua dan sausage rolls pagi ini. Kami belum pernah makan siang dan makan malam di rumah, omong-omong. Kami menikah hari Minggu, ke Hongdae hari Senin, ke Namsan hari Selasa, dan ini hari Rabu. Terakhir, Oh Sehun tidak menyakitiku.”

“Kenapa dia mengajakmu jalan setiap hari?”

“Sebuah percobaan,” Irene menjawab sembari menyodorkan satu toples kukis cokelat yang kini sudah tinggal separuh kepada adiknya, “aku dan Sehun ‘kan dijodohkan, aku belum sepenuhnya move on dari yang dulu, jadi aku sedang mencoba mencintainya.”

“Dengan jalan-jalan?”

“Sebenarnya, itu bisa disebut kencan.”

Suzy mengangguk, memasukkan sedotan ke salah satu kotak susu strawberry dan menyorongkannya kepada Irene sembali mengedikkan kepalanya. “Kenapa dia pergi bekerja hari ini? Kupikir kalian harus bulan madu.”

Ya, kenapa membicarakan bulan madu sih. Aku sudah bilang kami sedang berada dalam masa percobaan, Suzy­-ya.

“Kalian sudah menikah dan aku ingin keponakan yang lucu.”

“Oh,” Irene menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Suzy tak percaya, “kamu benar-benar sudah dewasa.”

“Aku seumuran Oh Sehun, omong-omong.”

.

.

Thanks, Sehun-ah. Aku nggak tahu kamu mau meninggalkan istrimu yang cantik untuk datang rapat hari ini,” Oh Rion berbisik pelan kepada Sehun yang tengah sibuk dengan tablet-nya dan membaca materi. Laki-laki yang dua tahun lebih tua itu tersenyum nakal, paham sang adik akan terus mengabaikannya lantaran janji double date kemarin gagal.

“Pacarmu sudah okay?”

“Salah paham,” Rion menjawab santai, “dia pikir aku mau menikahinya bulan depan sementara dia masih terikat kontrak untuk tidak menikah sampai pendidikannya selesai.”

“Mau kuliah sampai S4 ya pacarmu itu?”

“Menurutku S6.”

Sehun tertawa pelan, menutup tablet-nya sebelum melirik sang Kakak, “Nggak lucu.”

“Aku bukan sedang melucu,” Rion menepuk pundak Sehun dengan lembut, senyum nakalnya masih terpatri dengan indah di bibirnya. “Omong-omong, sudah selesai dengan materinya?”

“Proyek pengadaan komputer untuk sekolah sudah biasa. Pengadaan handphone untuk siswa memang hal yang baru menurutku.”

“Direktur yayasan Empire School ini sebenarnya orang Korea Selatan. Dia dipindahkan untuk menjadi direktur yayasan di Jepang sekitar satu tahun yang lalu, setelah menikah dengan perempuan Jepang.”

Okay. Jadi presentasi hari ini dalam bahasa Korea atau Jepang?”

“Korea.”

Hening.

Masih sepuluh menit sampai direktur Empire School yang disebut-sebut Oh Rion datang. Staff yang lain masih sibuk mendalami materi sementara Sehun dan Rion hanya duduk berdampingan dalam diam –setidaknya sampai sang adik ingat punya istri di rumah yang harus diberi kabar.

“Memberi kabar istri tercinta?”

“Irene di rumah dengan Suzy. Aku baru saja membuatnya menangis semalam. Keadaan akan semakin buruk kalau komunikasi yang terjalin berkurang.”

“Baru empat hari menikah dan kamu sudah membuat perempuan cantik itu menangis?” Oh Rion mencondongkan tubuhnya, menatap Sehun tajam, “aku nggak pernah mengajarimu menjadi lelaki seperti itu.”

“Aku nggak melakukan apapun yang bisa dibilang jahat. Dia gagal menikah sebelum denganku. Calon suaminya menghamili perempuan lain dan aku membahas laki-laki itu kemarin. Aku baru sadar perempuan memang terlalu sensitif.”

Oh Rion terkekeh, memundurkan kembali tubuhnya dan bersandar pada kursi ruang rapat. “Kamu cemburu?”

“Tentu saja,” Sehun mencibir pelan, “dia istriku sekarang. Siapapun masa lalunya.”

“Oh, terlalu manis. Aku nggak kuat.”

“Diamlah.”

Sehun melesakkan kembali handphone-nya ke dalam saku setelah pesan singkat yang berisi ‘aku mulai rapat sebentar lagi, jaga diri baik-baik’ terkirim kepada Irene.

.

.

Berguling di atas tempat tidur sembari berceloteh tentang masa kecil mereka adalah satu-satunya hal yang dilakukan Irene dan Suzy selama satu jam belakangan. Suzy punya kekasih baru, namanya Byun Baekhyun. Laki-laki yang manis dan lucu, kedengarannya. Tanpa malu-malu, perempuan dua puluh dua tahun itu menceritakan pengalaman tentang ciuman pertamanya dengan Baekhyun.

“–di Classical, sebuah kafe bergaya klasik di Gangnam. Dia menciumku disana.”

“Aku sedang membayangkan wajahnya. Seperti apa kira-kira Byun Baekhyun itu. Namanya imut.”

“Orangnya juga,” ujar Suzy sembari terkekeh pelan, dia menutup wajah dengan bantal berbentuk persegi sebelum menurunkannya lagi dan beringsut ke dalam jangkauan Irene, “Sehun sudah menciummu ‘kan selain di altar pernikahan?”

“Di Namsan, kemarin.”

“Menikmatinya?”

“Suzy-ya.

“Hanya memastikan. Oh Sehun terlihat sangat tampan dan bibirnya juga bagus. Aku menduga dia adalah seorang pencium yang handal.”

Oh, tolong hentikan. Aku kepanasan.” Irene mengipas wajahnya dengan telapak tangan sembari tertawa. “Kurasa yang di Namsan kemarin bukan ciuman. Kecupan lebih tepat.”

“Kecupan nggak berlangsung lebih dari dua detik.”

Irene tertawa lagi, Suzy benar-benar seorang adik yang mengasyikkan. Selain cantik dan punya suara merdu, Suzy adalah partner in crime dan teman curhat yang baik.

“Kak, aku harus pulang jam dua nanti. Baekhyun yang akan menjemputku. Kira-kira Kak Sehun sudah selesai?”

“Pulanglah,” jawab Irene sembari tersenyum, “aku juga nggak masalah disini sendiri. Aku nggak tahu kenapa dia menghubungimu tadi pagi.”

“Kak Sehun nggak ingin istrinya kesepian. Dia laki-laki yang baik, dari caranya menghubungiku pagi ini, aku tahu dia suami yang baik untukmu. Soal kejadian semalam, menurutku Kak Sehun cemburu. Bagaimanapun, Kak Irene istrinya sekarang.”

.

.

“Aku pulang.”

Irene menengok ke kanan dan melihat Sehun melangkah masuk ruang tengah sembari melepas dasi yang melingkari lehernya. Ekspresinya buruk, wajahnya kelihatan lebih gelap. Irene menduga mood-nya sedang buruk.

“Kamu sudah makan?”

Yeah.

“Mau mandi?”

“Nanti saja,” Sehun mendudukkan diri di sofa, tepat di samping kiri Irene. Sedetik kemudian kepalanya sudah bersandar di bahu Irene. “Kamu baik-baik saja hari ini?”

“Hmm. Aku mengobrol dengan Suzy, dia pulang jam dua, aku tidur siang, baru saja bangun dan mandi.” Irene menjawab pelan, tangan kanannya otomatis mengusap puncak kepala Sehun dengan lembut. “Pekerjaanmu…okay?”

Okay.

Hening.

Sehun memejamkan matanya, menikmati bersandar di bahu Irene, dimanjakan dengan sentuhan lembut istrinya di surai pirangnya. Sementara Irene sendiri kembali mengalihkan perhatian pada layar televisi yang tengah menampilkan iklan Coex Aquarium di Korea Selatan yang berisi berbagai macam spesies laut.

“Kamu mau liburan lagi?” Sehun bertanya, masih memejamkan matanya. “Coex Aquarium bagus. Mau kesana?”

“Kapan?”

“Besok?” Sehun membuka mata, menarik kepalanya dari bahu Irene untuk menatap perempuan itu.

“Ya.”

Deal. Kamu istirahat ya, sekarang.”

Irene mengangguk sembari tersenyum. Tangannya meraih remote control untuk mematikan layar televisi. Dia sudah beranjak hendak menuju kamar saat tangan Sehun menarik lengannya –membuat Irene kembali terduduk.

“Ap–“

“Sebentar,”

Detik berikutnya, Irene bisa merasakan tangan Sehun di belakang kepalanya dan menariknya mendekat untuk mencium bibirnya. Kalau Suzy bilang kecupan berlangsung tak lebih dari dua detik, maka Irene bisa menyimpulkan yang satu ini benar-benar sebuah ciuman. Lebih dari dua detik, dan Sehun benar-benar berbeda.

Sehun melepaskan ciumannya entah berapa menit kemudian, napasnya terengah, matanya masih terpejam dan Irene benar-benar heran dia merasa harus mengakui ketampanan Oh Sehun dalam keadaan seperti ini. Dengan keringat mengaliri dahinya, lengan terangkat menutupi matanya, bersandar pada sofa dengan lemas dan –belum mandi. Uh, padahal Irene menyukai kebersihan dan lelaki yang wangi. Tapi Sehun–

Sorry.” Lelaki itu menggumam pelan. Lengannya sudah diturunkan, kini matanya menatap Irene yang tengah menatap balik dengan ekspresi tak terdefinisikan.

For what?”

Sehun menghela napas, “taste your beautiful lips without permission.”

Irene tersenyum sebelum mencondongkan tubuhnya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat. “It’s all yours, anyway.”

.

.

Terbangun di pagi hari dalam pelukan Oh Sehun agaknya sudah menjadi hal yang biasa bagi Irene sekarang. Menemukan ukiran wajah tampan lelaki itu kala membuka mata juga merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Irene pernah mengakui dalam hati, memiliki Oh Sehun termasuk satu dari sekian hal menyenangkan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Jackpot. Irene yakin, diluar sana, banyak sekali perempuan yang menginginkan putra bungsu keluarga Oh ini menjadi pendamping hidup. Irene heran, Sehun tampan. Tapi kenapa pemuda itu justru membutuhkan bantuan orangtuanya untuk mendapatkan pendamping hidup? Dia bisa memilih perempuan manapun yang dia suka. Okay, Sehun memang suka bekerja. Tak ada waktu untuk mencari pacar, katanya. Tapi dia nggak harus benar-benar mencari, omong-omong. Irene sudah melihat, bahkan sekretaris pribadinya di kantor cukup cantik.

Udah bangun?”

Irene mendongak dan melihat Sehun tengah menatapnya sembari tersenyum. “Beberapa menit yang lalu.”

“Aku masih nyaman dengan posisi ini, jangan bangun dulu,” ujar Sehun dengan suara serak khas bangun tidur.

“Silahkan, selamat menikmati kenyamanan.”

Sehun terkekeh, menarik Irene semakin dekat dan mencium puncak kepala perempuan itu dengan lembut. “Jadi ke Coex Aquarium?”

Why not?

Nothing.” Sehun tersenyum miring, kemudian kembali memejamkan matanya. “Hari masih panjang, aku masih ngantuk. Ayo tidur lagi.”

.

.

Sekitar pukul sebelas siang, Sehun lebih dulu bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, menyelinap keluar sebentar untuk membeli sesuatu dan kembali tepat saat Irene keluar dari kamar tidur tiga puluh menit kemudian.

“Wah, aku sempat mengira kamu berangkat kerja lagi, Sehun-ah,” ujar perempuan itu sembari tersenyum. Sedetik kemudian, senyumnya berubah menjadi ledakan tawa lantaran melihat apa yang dibawa pulang suaminya.

“Kenapa ketawa?”

“Permen kapas,” Irene mengulurkan tangannya dan berjalan mendekat, “berikan padaku.”

“Ah, surprise-ku gagal.” Sehun memberikan dua tongkat permen kapas kepada Irene sebelum mengacak rambutnya frustasi. “Itu untuk minta maaf soal atmosfer canggung kita kemarin. Dimakan ya?”

“Semuanya?” Irene membelalak. “Aku bisa gendut nantinya!”

“Aku seribu persen yakin kamu akan tetap cantik meski berat badanmu seratus kilogram.”

Ah, hentikan.”

Sehun tertawa, menarik Irene untuk duduk di tepi meja dekat jendela. Perempuan itu mulai menikmati permen kapasnya sementara Sehun menikmati waktu memandang wajah Irene selagi bisa. Perempuan itu cantik, imut, dan manis di waktu yang bersamaan. Uh! Bagaimana mungkin ada lelaki yang tega meninggalkannya untuk perempuan lain?

“Kamu udah mandi?”

“Hm-m.” Sehun mengangguk, mengambil sejumput permen kapas dan kemudian memakannya. Dia nyengir sedikit kala permen manis itu meleleh di lidahnya. “Kamu baru bangun ‘kan?”

“Iya.”

“Kalau permen kapasnya udah habis, cepat mandi. Coex tutup jam delapan malam.”

Irene mendongak untuk melihat jam yang terpasang di dinding di belakang kepala Sehun sebelum mengerutkan dahi, “tapi ini masih jam setengah dua belas.”

“Pokoknya cepat mandi.”

O…kay?”

Sehun tersenyum dan berlalu dari ruang tengah menuju kamar tidur setelah mengusap puncak kepala Irene penuh sayang.

.

.

“Mahal ya?”

Irene menyipitkan matanya menatap Sehun yang baru saja melesakkan dompet ke dalam saku celana.

“Dua puluh dua ribu won satu orang. Nggak mahal untukku.” Sehun nyengir, menjulurkan lidahnya satu detik kemudian yang langsung mendapat hadiah pukulan pelan di lengannya. Irene memalingkan wajahnya, menarik lelaki jangkung itu masuk menuju rainbow lounge yang menurut perempuan itu cukup gelap.

Wah, gelap.” Irene merapat. Sedikit takut lantaran Coex Aquarium hari ini sedikit lengang. Jumlah pengunjung yang berada di rainbow lounge saat itu bisa dihitung dengan jari. “Kenapa lengang ya?”

“Bukan hari libur,” Sehun menjawab santai. Matanya menikmati pemandangan di sekitarnya. Sehun tak begitu takut gelap seperti sang istri yang kini makin merapat saja. Cengengesan, lelaki itu jelas bahagia di tempel terus oleh istrinya. Modus.

Sembari berjalan, mereka mengobrol. Sesekali berhenti untuk memandangi berbagai biota laut yang dipamerkan di dalamnya. Irene menyukai wilayah fish in wonderland yang langsung mendapat ejekan “dasar anak TK” dari Sehun. Berdebat kecil yang diwarnai beragam pukulan dan toyoran di kepala, keduanya banyak tertawa.

Berbeda dengan Irene, Sehun lebih menyukai wilayah ocean kingdom yang dihuni oleh makhluk laut garang –atau kata Irene ‘menyeramkan’– daripada wilayah dengan dekorasi imut seperti yang disukai istrinya. Selama berada di ocean kingdom, Irene hanya berlindung di balik tubuh Sehun dan cepat-cepat menyeret lelaki itu melangkah pergi.

Setelah melewati maring mammals village dan deep blue aquare, mereka sampai pada deep blue sea tunnel –sebuah terowongan– yang memang didambakan Sehun sejak kakinya menginjak parkiran Coex Aquarium. Berbagai adegan dalam drama yang pernah dilihatnya berkelebat di kepala, membuatnya tak henti mengulas senyum nakal di sudut bibirnya.

“Aku pernah ke tempat seperti ini, di Indonesia, waktu liburan.”

“Pernah ke Indonesia?”

“Jakarta dan Bali. Terowongan air seperti ini ada di Jakarta. Seaworld namanya.”

“Oh,” Sehun mengangguk dan berhenti untuk melihat sekumpulan ikan yang baru saja melewati kepalanya. Lengang, memang. Dia merasa bisa berlama-lama di tempat itu. “Kamu nonton drama ‘kan, Nona?”

“Kalau sedang bosan,” Irene menjawab asal. Posisinya membelakangi Sehun, tersenyum kala melihat seekor ikan berada di kaca paling dekat dengannya. “Kenapa?”

“Banyak adegan romantis yang diambil disini –di deep blue sea tunnel.

“Hm-m,” Irene mengangguk, membalikkan tubuhnya dan menemukan wajah Sehun yang tengah tersenyum padanya. “Kenapa? Mau mencoba?”

“Boleh?”

“Kenapa nggak boleh?” Irene balik bertanya, dan sedetik kemudian tangannya sudah melingkar di leher jenjang Sehun. Perempuan itu memejamkan mata, berjingkat sedikit agar bibirnya dengan mudah menggapai bibir Sehun dan menciumnya dengan lembut.

.

.

Ciuman ala drama yang diinisiasi oleh Irene mendapat interupsi kala handphone Sehun berbunyi. Sehun melepaskan ciumannya dan menatap Irene dengan sedikit menyesal. Perempuan itu hanya tersenyum maklum dan memberi kode pada Sehun untuk mengangkat teleponnya yang diikuti dengan kegiatan merogoh saku celana untuk mengambil handphone oleh Sehun. Lelaki itu mengerutkan dahi kala membaca nama yang terpampang di layar. Irene tak menyadari sampai sebuah sapaan ramah meluncur dari bibir yang baru saja diciumnya.

“–ya, Kim Junmyeon-ssi. Ini aku Oh Sehun.”

tbc.

Hello~ sorry for late update but, still, I hope you guys will enjoy it.

The conflict…I hope you guys masih ingat siapa Kim Junmyeon. Siapa? Siapa cobaa sebutin di kolom komentar :p

Next chapter we’ll see this couple at Yeouido Park. Would you like to wait a lil bit longer, please? Thankyou! :3

And for better information about Coex Aquarium, you may check www.coexaqua.com 😀

Warm regards,

n o k a a v

 

36 tanggapan untuk “Dating After Marriage [Chapter 3] – Coex Aquarium”

  1. Ih,,ini fluff bgt.. Sampe aku senyum senyum sendiri bacanya.. Couple ini juga jujur bgt ya? Tapi aku suka,,manis bgt,. Apalagi waktu makan cotton candy kayak di foto ceci itu…
    Wah wah ada apa dgn suho itu? Jangan2 sehun udah kenal ya sama dia?/iyalah pasti kenal,orang mereka aja satu kamar di dorm :D/

  2. Aku setuju sama rion ini terlalu manis…
    Aku bisa bayangin pas mereka makan permen kapas… kayak yang di foto ceci…
    Di part ini Sehun banyak modus… 🙂

  3. haduh, mereka makin manis aja-,- jangan keseringan ngikutin drama woy hahah
    Oh my, penasaran banget reaksi mereka ber3 klo udh ketemu..
    NEXT QUICKLY!!^^

  4. Oh, terlalu manis. Aku nggak kuat 😆
    Suka dehhh ama kakak authornya😚 kakaknya nggak alay. Kebanyakan ff kan bahasanya dicampur campur korea gitu, tapi kamu nggak kak 😁 tunggu selanjutnya kak. Semangat~ !!

  5. ya ampun itu si junmyeon ngapain nelpon sih? -,- udah sosweet jugaaa -,- junmyeon itu yang asalnya mau nikah sama Irene kan? tapi gajadi karena ngehamilin cewe lain?

    jadi makin suka hunrene ya walaupun masih suka juga minorene sama borene wkwkwk ><

    semangat ya author nulis ff nyaa 😀

    1. urusan bisnis kayaknya itu mas junmyeon nelpon :p hahaha yeppp kamu benarrrr :3
      thanks yaa sudah mampir dan thanks juga semangatnya semoga masih menunggu chapter selanjutnyaaa :3

  6. Makin ngegregetin:3

    Ya ampun itu si Junmyeon kan
    mantannya Irene-,- gimana coba kelanjutannya, ga kebayang Irene-nya bakal bereaksi kaya apa ngedenger itu
    “Would you like to wait a lil bit longer, please?”
    Me : “OF COURSE, YES!><"
    Karena, aku baru nyadar ini jeda rilisnya memang ngga sebentar, tapi aku sangat sangat mengapresiasinya sebagai pembaca 😀 bahkan ngga kerasa kok tau2nya udah rilis lagi XD

  7. Itu tuu yg cowok ngehamilin anak orang :v, sehun ahh pabbo irenne bakal marah dah nihh. cie cie irenne udh berani cium-cium bibi sehun Next kak cepetan ya maniss ceritanya aku suka !!! FIGHTING

  8. Hallo kak,aku readers baru 😀
    Ini ff sweet bgt sumpah :3
    Dulu nggak suka banget sama Sehun-irene :3
    Tapi setelah baca ini jadi ngeship mereka 😀
    Ditunggu next chap ya kak~

  9. Keren.. Tiap hari aku buka nih blog tapi baru kemarin ngpost ff nya. Tapi gppa thor aku setia menunggu kok 😀 salam kenal buat penulisnya yaa, hebat banget bikin alur ceritanya, ngalir terus kayak air *alay.
    okelah, chapt. 4 dst jangan lama-lama ya. Penasaran kelnjutannya ><
    Kalo boleh tau authornya dari daerah mana dan umur berapa? Hihi, kepo :p

    1. aaaa terharu :p makasih yaa udah dibacaaa dan ditunggu aja buat chapter selanjutnyaa semoga masih tetep setia :p aku dari magelang, jawa tengah. sekarang 19 tahun 😀 salam kenal yaa 😀

  10. Suka banget sama gaya bahasanya ringan juga gak terlalu gaul, romance nya dapet banget dan jujur bikin senyum-senyum /senyum-senyum bareng baekhyun
    Kalau bisa lanjutannya cepet-cepet ada ya, gak sa bs a nunggu.
    Hwaiting! ^^

  11. aku tau aku selalu aja over reaction kalo nemu ff ini. Manis seperti biasanya duh. Waktu suzy ngomongin ketampanan dan bibir sehun aku ikut kepanasan!! *kipas kipas muka* wkwkk di tunggu next chapnya 😀

    1. aku juga kepanasan kok waktu nulisnya -soalnya di kosan nggak punya kipas angin- hahaha 😀 makasih yaa udah baca dan selamat menunggu chapter selanjutnyaa! :3

  12. AAAAA baru bacaaaa keren bangeeettt!!! Maaf baru comment, i just realized the email notification dan baru banget baca chapter 1 nya kira kiraaa 30 menit yang laluu. Kim junmyeon mantan tunangan ireneee yang ngehamilin cewe lainn?!?!?! Kereenn suka aja jalan ceritanya terus sehun irene nya lucu karakternyaaa di tunggu ya next chapternyaaa ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s