[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 8)

PicsArt_02-20-09.05.26

Title                 : Confession

Author             : rainrainbow

Main Cast        : EXO’s Kai || OC’s Song Jaerin

Genre              : friendship | school life | romance

Length             : Chapter

Disclaimer       : It also posted on my wattpad : @rain2bow

“Aaw…” Kai meringis setelah Sehun memukul kepalanya dengan botol air mineral. Bukannya marah Kai jusrtu mengabaikannya dan kembali berkecamuk pada pikirannya sendiri. Sehun memasang ekspresi khawatir setelah melihat tingkah laku temannya itu.

 

Sehun tak menyerah, dia kembali memukul Kai dengan botol air mineral itu. Lagi Kai meringis, ada sedikit kemajuan kini Kai memberikan death-glare-nya pada Sehun. Namun setelah itu Kai kembali sibuk dengan pikiran nya sendiri.

 

Sehun benar-benar tak mengerti kali ini. Sudah dua hari sejak Kai diputuskan Jaerin namun dia masih terlihat tidak baik-baik saja. Sekarang Sehun mengakui Jaerin yang berhasil membuat Kai menjadi sekacau ini.

 

“Aku sudah berusaha megabaikannya. Tapi dia terus memenuhi isi kepalaku dan di saat yang bersamaan aku akan teringat bagaimana dia mengatakan hal itu.” Kai akhirnya buka suara dengan nada yang terdengar putus asa.

 

Heol… Jaerin memang benar-benar hebat.” Sehun membalas ucapan Kai tanpa melihatnya.

 

Terdengar Kai membuang napas kasar dan semakin memerosotkan tubuhnya yang bersandar di dinding pinggir lapangan. Seketika ia kembali teringat tempat ini adalah tempat dimana dia menemukan ketertarikannya kembali pada Jaerin, tempat dimana mereka menghabiskan waktu bersama, tempat dimana Kai mulai menyadari perasaannya pada Jaerin.

 

Kai sendiri tak habis pikir kenapa seorang Song Jaerin dapat membuatnya hampir lumpuh seperti ini. Kai mulai menyadari sesuatu saat wajah Jaerin memenuhi pikirannya. Tawa lepasnya, senyum menawannya, bahkan wajah marahnya, semua terasa apa adanya. Tak dibuat-buat. Memang itulah sosok Song Jaerin yang selalu menjadi dirinya sendiri.

 

Aaw…” Pukulan botol air mineral kembali mendarat dengan sempurna di kepala Kai. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Oh Sehun. “Yaa! Berhenti memukulku!” Kai terus mengusap bagian kepala yang terkena pukulan tadi.

 

“Berhenti melamun. Dan aku akan berhenti memukulmu.” Sehun berucap santai sambil menunjukan cengirannya.

 

“Kalau benar-benar menyukainya. Maka buktikan!” Lagi Sehun berucap tanpa melihat lawan bicaranya.

 

“Maksudnya?” Kai mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tak mengerti maksud temannya saat ini.

 

“Aish… ini lah masalahmu. Memiliki banyak mantan, tidak bisa menjamin apa kau benar-benar berpengalaman apa tidak.”

 

“Tak bisakah kau langsung mengatakan inti nya? Aku sudah cukup pusing memikirkan hal ini. Aku tak ingin bertambah pusing dengan memikirkan apa maksud dari perkataanmu.”

 

“Lakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa kau benar-benar menyukai nya. Buat dia mempercaimu, buat dia jatuh cinta padamu. Jelas?” Kai mengangguk pelan. Setidaknya dia tahu arah pembiacaraan Sehun, walau masih bingung dengan kata-kata ‘melakukan sesuatu’ yang keluar dari temannya ini.

 

Setelah mengatakan itu Sehun bangkit dari duduknya membuat Kai mendongak keheranan. “Kau mau pulang?” Tanya Kai masih dengan posisi duduk, tanpa berniat bangkit.

 

“Ya. Tentu saja. Besok ujian matematika aku harus belajar. Kau selalu berhasil membuatku iri. Kau bahkan tak perlu belajar. Tapi…” Sehun menggantung kalimatnya, seraya tersenyum miring.

 

“Tapi apa?” Tanya Kai menuntut.

 

“Sepertinya peringkatmu akan turun semester ini. Hahaha…” Sehun terbahak sementara Kai hanya mendengus kesal.

 

***

 

Berulang kali Hanna menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa gadis yang beberapa menit lalu ini menangis tersedu-sedu, namun kini ia dengan penuh nafsu menghabiskan semua makanan yang tersaji di hadapannya.

 

Jaerin yang merasa diperhatikan oleh orang yang duduk di depannya pun menghentikan aktifitasnya sejenak, lalu mendongakan kepalanya ke arah Hanna. “Wae?” Jaerin bertanya dengan nada super datarnya. Matanya bahkan masih terlihat sembab.

 

Ani… aku hanya iri denganmu yang bisa dengan mudah melupakan kesedihan mu.” Jaerin hanya mengangguk sekali dan kembali melanjutkan makannya.

 

“Jaerin-a…”

 

“Hmmm” Jaerin hanya bergumam untuk menjawab karena mulutnya yang penuh itu.

 

“Apa kau menangis karena Kai?”

 

“Uhuk… uhuk…” Jaerin sontak tersedak mendengar pertanyaan dari Hanna. Dengan sigap Jaerin mengambil gelas berisi air yang ada sisi kanan nya.

 

“Benarkan! Pasti Karena dia. Kenapa? Kau mulai menyukainya kan!” Hanna hampir berteriak. Membuat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka sekilas.

 

“Kau ini bicara apa. Tentu saja tidak. Kau lupa siapa aku? Aku tak mungkin jatuh pada orang seperti dia.” Jaerin mengibaskan tangannya, menyangkal.

 

Hanna menjauhkan wajahnya tak percaya. “Terserah kau mau beranggapan seperti apa. Yang jelas aku tak menaruh perasaan apapun padanya.”

 

“Jadi kenapa kau menangis seperti tadi?” Hanna kembali mencondongkan tubuhnya ke tengah meja. Jaerin terdiam, mulutnya pun ikut berhenti mengunyah.

 

“Lihat kau tak bisa menjawabnya. Apa lagi kalau bukan karena dia.”

 

“Tidak. Aku hanya belum bisa menceritakannya pada mu sekarang.” Hanna akhirnya menyerah.

 

Yaa… apa kau tak akan menghabiskannya?” Jaerin melihat Hanna yang enggan untuk menyentuh makannnya.

 

Mwoga?”

 

“Itu…” Jaerin menunjuk piring Hanna.

 

“Kenapa kau mau?” Jaerin mengagguk antusias. Hanna langsung mendekatkan piringnya pada dirinya.

 

“Tidak. Aku akan menghabiskan semua.” Hanna tertatawa melihat ekspresi Jaerin yang kecewa.

 

***

 

Setiap murid di kelas Jaerin nampak tegang. Menunggu lembar soal matematika yang akan dibagiakan. Tak terkecuali Jaerin. Belakangan ini pikirannya tak bisa fokus.

 

Lembar ujian pun tersaji di depan mata masing-masing murid. Sebagian ada yang terlihat berbinar melihat lembar soal itu, sebagian lagi ada yang mendengus kesal atau hanya pasarah.

 

Wajah Jaerin menegang melihat soal-soal dari mulai logaritma hingga limit trigonometri yang mendominasi. Jaerin mengurut keningnya melihat semua itu. Jaerin tak ingin peringkatnya turun semester ini hanya karena memikirkan hal yang tak penitng menurutnya. Lagi pula dia sudah mengulang kembali pelajarannya semalaman.

 

Waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal matematika selalu terasa kurang. Suara bel terdengar menandakan berakhirnya ujian pertama untuk hari ini. Jaerin melihat tak percaya pada lembar jawabannya. Bagaimana tidak, dia berhasil menyelesaikan ujiannya tepat waktu.

 

“Waktu habis. Semua lembar jawaban harus sudah terkumpul dalam 5,4,3…” Sontak semua murid berhamburan mengumpulkan lemabr jawaban mereka ke meja guru.

 

***

 

Jam istirahat, Jaerin, Hanna dan Jini makan di meja yang sama. Awalnya mereka hanya sibuk dengan makanan dan buku yang sesekali mereka lihat. Sampai Jini membuka pembicaraan.

 

Yah! Aku sudah mendengar semuanya.” Ucap Jini antusias sambil melihat Jaerin dengan mata yang berbinar.

 

“Dengar apa?” Jaerin bertanya dengan masih menghisap sumpitnya.

 

Jal haesseo!” (Good job) Balas Jini sambil memukul bahu Jaerin pelan, membuat Jaerin memasang wajah bingung, karena semakin tak mengerti dengan maksud Jini.

 

Melihat itu Jini mendengus kesal. “Aish… ini soal Kai.” Hanna membantu Jini menjelaskan.

 

Jaerin terdiam, memikirikan bahwa tindakan nya saat itu memang benar. Lagi pula memang itu lah tujuan awal nya. Jaerin akan segera melupakan perasaan aneh yang selama dua hari ini menjerat nya.

 

‘Bukan berarti aku suka. Aku hanya merasa bersalah saja pada nya. Biarkan saja. Dia memang pantas mendapatkan itu.’ Jaerin bergumam sambil menganggukan kepala nya.

 

Yaa! Hanya itu respon mu?” Jini menganggap anggukan kepala dari Jaerin adalah respon dari pujian yang diberikan nya kepada Jini.

 

Gomawo…” Ucap Jaerin sambil tersenyum lebar pada akhir nya. “Ah… iya, satu lagi, selamat atas terpilih nya kalian sebagai ketua dan wakil ketua OSIS.”

 

Yaa! Kemana saja kau selama ini? Mereka sudah terpilih sejak seminggu yang lalu, dan kau baru mengucapkan itu hari ini?” Sembur Hanna, yang dibenarkan oleh Jini.

 

“Aku? Aku sibuk membalaskan dendam kalian.” Jaerin membela diri seraya menunjukan cengirannya.

 

***

 

“LINE”

 

“Siapa yang mengganggu di saat aku sudah serius belajar seperti ini.” Rutuk Jaerin sambil mengambil kasar ponselnya.

 

Jaerin memasang wajah malas setelah melihat siapa sang pengirim pesan. Kai.

 

Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu. Temui aku di taman dekat rumahmu 30 menit lagi.

 

“Heh… mwoya…? Tidak, aku sudah bisa mengendalikan perasaan ku. Aku tak mau berurusan lagi dengan orang ini.”

 

***

 

Tangan nya ia masukan ke saku jaket nya, kaki nya bergetar menahan dinginnya angin musim gugur di malam ini. Dia masih ingat betapa ia sangat mempertimbangkan apa yang harus dikatakannya pada gadis itu saat mereka bertemu nanti.

 

Namun gadis yang ditunggu nya itu tak menunjukan tanda-tanda akan hadir sama sekali. Bahkan pesan line yang dikirimnya hanya sekedar dibaca, namun hal itu lah yang membuatnya menaruh harapan gadis itu akan datang. Setidak nya gadis itu tahu kalau dirinya sedang menunggunya.

 

Dilihatnya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendeknya tepat menunjuk angka 9 dan jarum panjangnya ada di antara angka 11 dan 12. Tak terasa dua jam ia habiskan untuk duduk dan menunggu yang tak pasti.

 

Beberapa menit kemudian ekor mata nya menangkap seseorang yang berdiri di samping nya, tepatnya seorang gadis dengan rambut dikuncir satu menggunakan hoodie putih.

 

Neo… baboya?” Ucap gadis itu datar, setelah berdiri di depannya. “Kenapa tidak pulang saja setelah dua jam menunggu seperti ini. Kau mau mati kedinginan?”

 

Orang itu hanya menampakan wajah datar setelah mendapat semburan dari gadis yang sedari tadi ditunggunya.

 

“Aku tak ingin lagi berurusan dengan mu. Sekarang pulang lah.” Gadis itu berbalik dan melangkahkan kaki nya.

 

“Beri aku kesempatan, Jaerin-a…”

 

To Be Continued…

 

Still, I’ll be waiting for your response. Thank you…

 

 

 

 

 

 

25 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 8)”

  1. Woaa kai udah diputusin masih minta kesempatan lagi? Daebak seorang kai bisa gitu.. kekeke ceritanya makin seru juga greget sendiri sama jaerin.. nyangkal perasaannya muluk.. kekeke ^^

  2. Kai gak bisa move on nih.
    Jaerinnya jadi orang yg gak berperasaan jatohnya. Tapi keren mah. Ya. . Jaerin ssi uri oppa appeujimayo. Araseo!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s