[Vignette] Christmas Day

xiumin_12_2

Christmas Day

A colaboration from Honeybutter26 and D.O.ssy

Xiumin x Valary

Fluff, Romance, Marriage AU!

Vignette

PG-15

“Untuk Minseok, Natal bukan hanya terjadi sekali dalam setahun. Karena memiliki Valary artinya mendapatkan suka cita Natal setiap waktu.”

Kelopak matanya bergerak kecil, terketuk sinar mentari yang tersamar oleh kepingan salju yang mengintip di balik jendela kaca. Menempel, terembun. Dingin membelai permukaan kulit sehingga Minseok harus mengeratkan kembali beludru yang tadinya mencumbunya dengan hangat. Namun, beragam suara dari luar kamar mencegah Minseok untuk memejam mata. Tangannya terayun, menyentuh sebelah tempat tidurnya lantas Minseok mendapati kekosongan dan dingin mendekap telapak tangannya.

Dengan kesadaran yang masih terseret oleh arus mimpi, Minseok mencoba membangunkan diri. Duduk beberapa saat lantas menurunkan kakinya dari tempat tidur. Minseok mengumpat kala dinginnya lantai terasa hingga ke sum-sum tulang. Ia melupakan bahwa pagi ini adalah pagi musim dingin dengan suhu yang nyaris berada di minus sepuluh derajat Celcius.

Minseok berjalan keluar kamar, mencari asal muasal keributan. Ketika sampai di dapur, Minseok melihatnya sedang berkutat dengan tepung dan berbagai macam bahan yang Minseok ketahui untuk membuat kue. Ada remah tepung yang menggores di pipinya yang berbintik dan kemerahan oleh suhu dingin. Tangannya yang lentik bergerak gemulai menyusun bahan-bahan untuk dicampur dalam mangkuk adonan. Sementara biru netranya terfokus pada setiap kata yang tersusun dalam resep yang sedang ia coba.

Minseok masih belum bosan untuk memerhatikan. Matanya masih memaku pandang pada tubuh mungil dengan apron merah kotak-kotak khas natal. Namun Minsok terperanjat begitu dia berteriak. Tungkai Minsok bergerak secepat cahaya menuju kekasihnya.

“Kau baik?”

“Iya, ini bukan apa-apa.”

“Tanganmu memerah. Dasar bodoh, kenapa memegang loyang panas dari dalam oven?” Minseok terlihat khawatir. Itu terlihat jelas dari air mukanya. Dibawanya jemari dalam genggamannya menuju ke wastafel. Menyalakan air dan mebasuhnya agar tidak melepuh.

“Lain kali kau tidak boleh ceroboh seperti ini lagi, Val. Bagaimana jika tidak ada aku? Tanganmu mungkin akan terbakar,” papar Minseok. Seakan tak pernah menyentuh telinganya, Valary masih saja mematri pandang pada wajah suaminya alih-alih mengatakan dia tidak akan mengulangi kecerobohannya. Minseok pun tahu Valary tak akan mempan dinasehati. Beribu kali ia mengoceh hingga berbusa pun Valary masih saja mengulangi kecerobohannya.

Tak disangka ia mendapat satu kecup di bibir saat hendak menoleh ke wanitanya. Meski singkat, Minseok selalu saja merasa ringan dan lepas dari gravitasi. Valary selalu saja punya sihir yang membuat Minseok tak bisa berhenti untuk mengagumi.

“Selamat pagi dan selamat natal, suamiku.”

***

Siapa yang tak menanti malam natal seantusias Minseok dan Valary?Tentu, banyak orang yang menandai tanggal 24 Desember iniadalah salah satu malam istimewa.Lampu kerlap-kerlip, pohon natalbeserta aksesoris merah dan hijau, juga tumpukan kado.Tapi bukan itu yang utama. Sebab bagi keluarga kecil ini, natal adalahyang teristimewa. Tepat dua tahun yang lalu, mereka dipertemukan dalam sebuah cerita. Berlanjut pada tahun berikutnya, masih di tanggal yang sama, mereka merajut cinta. Bertahtakan logam mulia, janji suci itu terlantun membahana. Terngiang di telinga keduanya hingga menembus sukma. Maka jika diingat kembali, hari ini masihlah sama dengan hari itu, masih penuh euforia.

Jadi, adakah yang lebih membahagiakan dari malam natal? Valary rasa tidak ada.

Valary mematut diri sedemikian rupa, menyiapkan segala sesuatunya untuk sang terkasih di malam ini. Sedikit berbedadengan yang biasa orang lain lakukan di malam natal karena ini adalah―

Candle light dinner?” Mata Minseok membulat, baru selangkah ia menapakkan kaki di ruang makan mereka yang nyaman. Lilin dan kelopak mawar menghias dimana-mana, beserta wangi bunga yang menyeruak di tiap sudut. Tahun lalu, Minseok yang menyiapkan hal serupa. Tak didugahari ini sang istri menyiapkan sesuatu yang sama, kendati lebih sederhana.

Valary menyambut dengan senyuman seindah mentari pagi. Menyatukan jemari dan membawa Minseok ke kursi.

Oppa, ingat hari ini hari apa?” Pertanyaan pertama setelah ia mendudukkan diri di hadapan suaminya.

Minseok pura-pura berpikir keras. “Hmmm… Sehari sebelum natal?”

Valary mengerucutkan bibir kecewa diiringi tawa renyah Minseok. “Tentu saja aku ingat, sayang. Happy anniversary.”

Maka jawaban yang Minseok dapatkan adalah pipi merah merona Valary―salah satu yang paling Minseok suka. Sekarang Minseok tahu alasan sebenarnya Valary menyuruhnya keluar sore tadi, agar wanitanya bisa mempersiapkan setiap detailnya dengan sempurna tanpa sepengetahuan sang suami.

Rikuh dan malu-malu, Valary menuangkan kopi di cangkir Minseok sembari berucap, “Dua tahun yang lalu, di bawah Mistletoe―

Kembali, sudut bibir Minseok terangkat. “Kau menumpahkan kopimu di mantel mahalku.”

“Itu… Anu… Aku tidak sengaja.”

“Lalu kau memaksaku membuka mantel karena akan kau cuci. Akhirnya aku pulang kedinginan, sedangkan mantelnya tidak kau kembalikan sampai sekarang.”

“Itu… Karena, noda kopinya tidak hilang.” Valary menunduk, menyesal. “Maaf.” Ia mengeluarkan bungkusan besar kemudian menyerahkannya pada Minseok.

Lagi-lagi, Minseok dibuat senyum-senyum sendiri.

“Maaf, baru bisa menggantinya sekarang. Oppa jangan marah lagi, ya?”

Pertanyaannya, bagaimana Minseok bisa marah bila istri tercintanya mampu menghapusnya di saat bersamaan? Ada kalanya kecerobohan Valary amat menjengkelkan, membuat Minseok cemas bukan kepalang. Namun semua tertepis dengan sihir Valary yang mengesankan. Ya, benar. Terlepas dari itu semua Minseok berterimakasih akan kecerobohan Valary, karena jika wanitanya itu tidak menumpahkan kopinya, mungkin mereka tidak akan beradu pandang untuk pertama kalinya. Sungguh, memoar indah masa lalu itu terkunci rapi di hati Minseok.

Laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya, kemudian memakai mantel pemberian istrinya. “Terima kasih hadiahnya, sayang. Meskipun agak kebesaran.”

Wajah Valary berubah tegang. “Benarkah? Ah, biar aku ke tokonya lagi besok―”

Buru-buru Minseok genggam tangan Valary di atas meja. “Tak apa, Val. Aku suka semua pemberianmu.”

Dan Minseok selalu suka segalanya tentang Valary.Kini, sepasang manik si lelaki berada dalam satu garis lurus dengan sang kekasih hati. Mengamati penuh takjub setiap pahatan sempurna Tuhan Yang Mahakuasa pada wajah malaikat terkasihnya. Wanita tercantik se-alam semesta yang pernah Minseok temui sepanjang 24 tahun hidupnya di dunia. Membuat tak henti-hentinya Minseok bersyukursetiap hari.

“Kemarilah, Val.” Minseok membimbing istrinya untuk berdiri, lantas memeluknya hangat sedalam cintanya. Penuh kasih dan penuh sayang.

Valary terkejut ketika Minseok melepas tautan tubuhnya. Kalung emas putih tersemat di lehernya. “Hadiah natal untukmu, sayang.”

Selalu, Valary punya cara sendiri untuk berterimakasih. Ciuman manis dan mesra pun Minseok terima dari sang istri. Begitu hangat dan memabukkan, membuat Minseok benar-benar ketagihan. Ia rapatkan Valary dengan pelukan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan.Hingga tiba-tiba, bau sesuatu yang terbakar dari arah dapur muncul menyapa indera penciuman.

Oh My God, aku lupa!” Dengan tidak berperasaan Valary dorong tubuh Minseok untuk menjauh, lantas berlari terbirit-birit menuju dapur.

Okay, lupakan pernyataan Minseok sebelumya, karena kini ia merutuki kecerobohan Valary, merasa sakit hati didorong seperti itu ketika sedang berciuman. Dengan sedikit malas, ia berjalan mengikuti jejak wanitanya dan menemukan Valary di sana bersama kalkun gosong yang baru dikeluarkan dari oven.

Oppaaaa… Maaf.” Valary mengeluarkan cengiran khasnya, takut-takut Minseok akan marah, “padahal Oppa bilang ingin makan kalkun di malam natal.”

Minseok melipat tangan di depan dada, berpura terlihat kesal. “apa boleh buat. Karna kau sudah menggosongkan kalkunku, kau harus dihukum, Val.”

“Dihukum?” tanyanya cemas.

Minseok mengangguk. “Kau dihukum, untuk memberiku Minseok junior!” Ia menyeringai jahil, lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh Valary dan membawanya lari.

“KYAAA… OPPA TURUNKAN!”

Berbeda degan Valary, jika Minseok diberi pertanyaan yang sama mengenai: adakah yang lebih membahagiakan dari malam natal? Maka, jawabannya ada, yaitu Valary. Karena memilikinya berarti merasakan suka cita natal setiap waktu.

END

2 tanggapan untuk “[Vignette] Christmas Day”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s