[1] Full Stop | truwita

req.fullstop

Full Stop
by truwita

[EXO] Park Chanyeol, Oh Sehun, and [OC] Kim Jira
Genres Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length Chapter | Rating PG-13
Preview [0] Full Stop
.
Hidup memang terlihat tak adil.
tapi sesungguhnya, Tuhan telah merangkainya sedemikian rupa
demi kebahagiaanmu.
.
Happy reading…

Jira POV

Seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan. Karena hari ini aku mendapat penghargaan dari salah satu organisasi dunia mengenai karya tulisku. Tapi, sepertinya tidak. ketika kakiku melangkah memasuki pekarangan rumah, sebuah mobil mewah terparkir disana. Mobil yang sudah tak lagi asing siapa pemiliknya.

Kulirik arloji yang melingkar di tangan. Jarum pendeknya sudah menunjukkan angka 10. Hruskah kumasuk sekarang? atau menunggu hingga pemilik mobil itu pulang? Tubuhku sudah sangat lelah. Ingin segera dimanjakan dengan air hangat. Lagi pula suhu udara malam ini sedikit ekstrim.

Akhirnya kuputuskan untuk masuk saja. Toh aku hanya perlu bersikap tenang seperti biasa lalu masuk ke kamar dengan segera.

“Oh kau sudah pulang? Kemana saja? Kenapa terlambat? Paman Hyunjo sudah menunggu sejak tadi.”

Ibu menyambutku dengan kalimat tanya dan kerutan di keningnya.

“Ada sedikit urusan tadi.”

“Tetap saja seharusnya kau bilang dulu, Jira-ya. Tidak baik membiarkan orang tua menunggu dengan cemas.”

Aku menoleh pada Jina yang sedari tadi duduk di samping ibu. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. Memberi isyarat untuk tak menanggapi ocehan ibu dan segera pergi ke kamar. Aku tersenyum lalu menunduk sekilas. “Maaf, hal seperti ini tak akan terulang di kemudian hari.”

“Sang Mi-ya, jangan terlalu keras. Dia pasti lelah. Aku tak apa-apa menunggu. Lagi pula karenanya aku bisa bicara banyak dengan Jina sewaktu menunggu tadi.”

Dari tempatnya Jira membentuk tanda ‘ok’ dengan dua jari. Sedangkan ibu hanya menghela napas karena membelaan paman.

“Kalau begitu saya permisi sebentar.”

Bibi Yoon segera menghampiriku dan menanyakan apakah aku ingin makan malam atau tidak yang kutolak dengan halus. Sebelum bibi Yoon benar-benar menghilang di balik pintu dapur, aku memanggilnya. Tiba-tiba aku teringat dengan beberapa bingkisan dan buket bunga yang sebelumnya Baekhyun bawa dan titipkan di pos keamanan. “Bi, tolong beritahu paman Shin untuk mengambil barang-barangku di pos keamanan.”

***

Aku baru saja selesai membersihkan tubuh saat Jina menerobos masuk tanpa mengetuk pintu kamar lebih dulu.

“Berapa kali kuharus mengingatkan, ketuk dulu sebelum masuk, Jina.”

Jina malah tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya. “Woah, kau dapat banyak hadiah!” tanpa memerdulikan kata-kataku, Jina malah menyerbu tumpukan hadiah di atas tempat tidur. “Pasti menyenangkan punya banyak teman. Dan… woah… kau juga dapat bunga!”

“Hey, Jira-ya. Berapa banyak teman yang kau punya? Pasti banyak sekali. Setiap kali kau menang kejuaraan atau apapun itu kau pasti mendapat banyak hadiah dan bunga. Apa aku juga akan mendapat banyak teman sepertimu kalau aku bersekolah di tempat biasa?”

Jina bertanya dengan wajah cerianya. Tapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya itu selalu sarat dengan kesedihan. Membuatku merasa bersalah. Meski aku tak melakukan kesalahan apapun untuknya.

“Tak banyak. Hanya beberapa. Jangan mengatakan hal-hal yang tak perlu, Jina.”

“Eish. Aku ‘kan hanya berandai-andai saja.”

“Ohya, Paman Hyunjo bilang dia sudah menghubungi beberapa kenalannya di luar negeri. Mungkin tak lama lagi aku akan segera mendapat donor. Ah, aku tidak sabar ingin segera sembuh.”

Aku hanya diam. Memertahankan ekpresi datarku. Melihat sikap dan kepribadiannya yang selalu ceria, aku selalu penasaran. Tidakah Jina takut? Waktu yang berputar dan hari yang berganti tak ubahnya seperti bom yang bisa meledak dan melayangkan nyawanya. Meski Jina sudah cukup bertahan dengan baik hingga saat ini. Dia pasti sangat tersiksa. Hidup dalam batasan-batasan yang ditentukan bukanlah hal yang mudah. Apa lagi Jina telah melakukannya seumur hidup.

“Kau harus segera bersiap-siap. Karena setelah aku sembuh nanti, aku akan mendapatkan teman yang lebih banyak darimu, dan tentunya pacar yang jauh lebih tampan!”

“Ya, ya. Terserah. Jangan lupa minum obatmu.”

“Kau benar-benar menjengkelkan Jira! Pantas saja kau belum laku-laku!”

“Yak!”

Jina tertawa. Dia selalu saja menggodaku seperti itu. Aku tak bisa mengatakan tentang Chanyeol, sekalipun aku ingin. Ibu melarangku mengatakan apapun tentang kehidupanku di luar rumah. Karena itu bisa saja membuat Jina iri dan akhirnya melakukan hal yang nekat. Seperti yang dilakukannya saat kami masih kecil dulu.

Kami adalah saudari kembar identik. Kami memiliki wajah yang nyaris serupa. Namun tidak dengan keadaan fisik kami. Sejak kecil Jina memiliki riwayat penyakit gagal jantung. Oleh karena itu Jina selalu beraktivitas di dalam rumah. Karena jika kelelahan sedikit saja, bisa berakibat fatal terhadap kesehatannya. Jina selalu iri padaku karena aku bisa keluar masuk rumah dengan bebas. Beraktivitas dan makan apapun sesuai keinginan. Bersekolah dan bertemu banyak orang.

Akan tetapi, tanpa dia tahu, aku jauh lebih iri padanya. Karena keterbatasan fisik yang Jina miliki, membuat ibu sangat protektif dan perhatian padanya. Sampai pada hal-hal terkecil sekalipun. Tak jarang aku selalu diabaikan dan mengalah dengan alasan ‘untuk kebaikan dan kebahagiaan Jina’. Apa hanya orang penyakitan saja yang boleh bahagia? Terkadang aku muak. Meski seharusnya aku bersyukur bukan malah berpikiran dengki seperti itu.

Aku mencoba mentolelir semua yang terjadi. Namun, kesabaranku sudah sampai pada batasnya. Semua kedengkian dan rasa muak itu memuncak setahun lalu. Saat ibu bilang, ia akan menikah dengan seorang dokter yang telah merawat Jina sejak kecil. dengan begitu Jina akan terus terawasi setiap saatnya. Ya, dokter itu adalah paman Hyunjo. Tapi bukan itu masalah terbesarnya.

“Jina! Jira!”

“Ya, bu!”

“Jira, kajja! Kajja!

***

Paman Hyunjo membelikan masing-masing dari kami sebuah gaun cantik lengkap dengan asesoris dan sepatu hak tinggi yang senada. Ibu dan Jina menerimanya dengan suka cita. Mungkin disini hanya aku yang tak terlihat antusias. Hal itupun disadari oleh paman Hyunjo dengan cepat.

“Kenapa Jira? Kau tidak suka dengan gaunmu? Apa perlu paman belikan lagi yang lain?”

Jina menyikut lenganku. Aku tersenyum dan menggeleng. “Tidak paman. Terima kasih banyak. Aku suka. Mereka benar-benar cantik. Aku hanya lelah dan mengantuk.”

“Ohya, kau pasti ingin segera beristirahat. Sebentar,” Paman menyodorkan sebuah paper bag lainnya padaku. “Bisakah kau membantuku memberikannya pada Sehun? Aku khawatir dia tak memiliki pakaian formal yang layak untuk acara akhir pekan nanti. Setiap kali kuhubungi dia selalu bilang sedang sibuk. Jadi aku mohon bantuanmu.”

***

Setelah perbincangan yang cukup membosankan itu berakhir, Paman Hyunjo akhirnya pamit untuk pulang. Entah sudah berapa kali aku menguap, kedua kelopak mataku sudah berdemo-ria ingin segera tertutup.

“Bu, haruskah kita pergi ke salon?” Jina bertanya dengan semangat sepeninggalan paman Hyunjo yang diamini oleh ibu. Mereka tenggelam dengan pembicaraan seputar salon, kecantikan, fashion, dan lain sebagainya, Aku benar-benar lelah, ingin segera berlayar ke pulai mimpi.

“Kim Jira,” Ibu memanggil tepat sebelum aku menginjakkan kaki di anak tangga pertama. “Kau harus ikut hadir, jangan permalukan ibu, oke?”

Kuhela napas singkat dan mengangguk setuju agar urusan dengan wanita itu segera usai.

“Ibu, sepertinya Jira mendapat prestasi lagi hari ini, dia banyak sekali menerima hadiah dan bunga yang cantik-cantik. Ah, kapan aku bisa seperti Jira, ibu?” Aku belum memalingkah wajah saat Jina berkata begitu dengan pelan pada ibu. Dalam hati kecilku, aku selalu berharap sebuah pujian akan ibuku layangkan, namun aku masih saja naif. Ibu melirikku sekilas dan tersenyum tipis sebelum menanggapi ocehan Jina.

“Ohya? Baguslah.” Ibu menoleh, “Selamat yaa Jira.” Ucapnya , lalu menarik lengan Jina untuk duduk di sofa. “Bagaimana jika kita membahas salon mana yang akan kita kunjungi untuk acara akhir pekan saja?”

Bodohnya aku yang banyak berharap. Aku tahu akan seperti itu responnya. Seolah segala yang berkaitan denganku hanyalah angin lalu yang tak perlu dihiraukan. Bukan hal yang aneh, memang. Aku terbiasa diperlakukan begitu sejak kecil. tapi… tetap saja rasanya menyakitkan.

***

Normal POV

Jira meletakan dua paper bag pemberian paman Hyunjo di dekat pintu kamar. Menghela napas saat melihat hadiah-hadiah itu berceceran di atas tempat tidurnya. Padahal Jira ingin sekali segera tidur. Mau tidak mau Jira membereskan hadiah-hadiah itu lebih dulu. memasukkan beberpa ke dalam lemari dan laci meja belajarnya.

Setelah selesai, dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ekor mata gadis itu tak sengaja menangkap buket bunga yang tadi ia termukan di atas meja kerjanya di ruang OSIS. Sesuatu terbesit di kepalanya. Siapa yang meletakan bunga tersebut? Mengingat tak sembarang orang yang bisa masuk ke ruangan itu. tentu hanya anggota dan orang-orang tertentu.

Jira menyampingkan tubuhnya. Menatap buket bunga itu dengan lebih seksama. Lalu meraih ponsel yang diletakan di atas nakas. Ia membuka daftar kontak, melihat satu-persatu sebelum berhenti pada satu nama, Oh Sehun.

Setelah berpikir beberapa saat dan meyakinkan diri sendiri, akhirnya sebuah pesan diketik dan kirimnya. Tak perlu menunggu lama untuk mendapat balasan. Ada sensasi berbeda saat membaca balasan dari pesannya. Tanpa sadar Jira tersenyum lalu menggeleng kemudian. menepuk-nepuk kedua pipinya sebelum kembali mengetik ulang balasan.

“Apa yang kupikirkan barusan?” gumamnya. “Aku pasti sangat kelelahan hari ini.”

Jira menepuk kening dan membanting pelan ponselnya. “Persentasi sialan. Aku hampir lupa.”

***

Jira terbangun dengan rasa sakit di lehernya. Semalam ia tertidur di meja belajar. Ponselnya berdering. Itu Chanyeol, tanpa harus melihat siapa yang meneleponnya pagi-pagi seperti ini Jira sudah tahu.

“Ya, Yeol?”

“Kau sudah bangun? Ah benar-benar tidak asyik. Aku ingin membangunkanmu tadinya.” Chanyeol merajuk. Jira tertawa membayangkan wajah Chanyeol saat ini.

“Kau telah berusaha, berhenti menggunakan nada seperti itu!”

“Baiklah, baiklah… Tunggu lima menit lagi aku akan sampai di depan komplek rumahmu.”

“Yeol!” buru-buru Jira berseru sebelum lelaki itu menutup teleponnya.

“Ya? Kau masih merindukan suaraku? Kkeke~”

“Bukan. Cih. Kau tak perlu menjemputku hari ini.”

“Kenapa? Kau punya pacar baru yang menjemputmu lebih dulu?”

“Berhenti mengada-mengada! Aku akan ke Busan hari ini. Ada pelatihan kepemimpinan yang harus aku hadiri dengan beberapa anggota OSIS lainnya.”

“Haruskah aku ikut?”

“Park Chanyeol.”

“Berapa lama?”

“3 hari 2 malam.”

Suara helaan napas terdengar. “Jadi kita akan berpisah lagi?”

“Aku akan menghubungimu lagi nanti, oke?”

Jira menutup teleponnya. Lalu sibuk membereskan bahan persentasi dan memasukkannya ke dalam tas dengan beberapa keperluan lainnya. Ponselnya kembali berdering. Tanpa melihat siapa, Jira mengangkat telepon dan mengapit benda tipis itu di antara kepala dan bahunya. sedangkan kedua tangannya sibuk memasukkan barang-barang.

“Apa lagi, Yeol? aku sudah bilang akan menghu—”

“Ini aku, Jira.” Gerakan tangannya terhenti. “Kau tidak mengenali suaraku lagi?”

Jira mengerjap. Lalu menggunakan tangan kirinya untuk menahan ponsel di telinga. “Oh, tentu. Ada apa, Sehun?”

“Cepatlah turun, aku sudah di depan rumahmu.”

“Apa?!”

Telepon terputus. Jira melongok ke jendela. Sebuah mobil terparkir di depan gerbang rumahnya.

“Eish. Kenapa tidak masuk saja sih?”

***

Setelah meleguk segelas susu dan mengambil selembar roti, Jira berpamitan pada ibunya. Dan bilang bahwa ia tidak akan pulang selama beberapa hari ke depan. Bukannya bertanya perihal alasan, ibunya malah menegaskan agar Jira tetap datang di acara akhir pekan nanti. Tak peduli sepenting apa urusannya itu. Membuat Jira jengkel dan memutar bola mata secara refleks. Tanpa memerdulikan ocehan ibunya dan Jina, Jira melengos pergi.

Gadis itu menghirup napas dalam sebelum menghampiri mobil yang terparkir beberapa meter di depannya. Mentalnya akan benar-benar dipertaruhkan selama beberapa hari kedepan. Dalam hati, Jira tak henti-hentinya bertanya. Kenapa takdir selalu kejam padanya?

Jira mengetuk pintu kaca mobil pengemudi. “Bukannya kita menggunakan kereta?”

“Memangnya kita punya banyak waktu untuk berjalan ke stasiun?”

Jira berdecak. ia harus lebih sabar lagi untuk menghadapi orang itu. tak ingin berdebat, Jira masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.

“Kau bisa meletakan barangmu di belakang.”

Tanpa bicara, Jira melemparkan tas ranselnya ke kursi penumpang yang ada di belakang. Gerakannya terhenti saat menyentuh paper bag yang dititipkan paman Hyunjo semalam. “Ohya, semalam dokter Oh menitipkan ini untukmu. Katanya kau tak punya waktu untuk bertemu dengannya. Jadi dia meminta bantuanku.”

Sehun tak menjawab. Hanya menatap lurus ke depan. Tak ingin memperburuk suasana, Jira meletakan paper bag itu bersisian dengan tasnya.

***

Sudah lebih dari 10 menit Chanyeol menunggu di depan komplek perumahan Jira. Tapi si gadis tak juga dilihatnya. Chanyeol pikir, Jira sudah berangkat ke stasiun lebih dulu sebelum ia sampai di sini. Harusnya Chanyeol menemui gadis itu di stasiun saja.

Chanyeol mengenakan helm. Dan naik ke motornya, memutar kunci dan menyalakan mesinnya. Ketika hendak menancap gas dan menarik kupling, ekor matanya melihat siluent gadis yang duduk dalam mobil.

Chanyeol duduk tegap di atas motornya. Berpikir apa yang baru saja dilihatnya itu memang Jira atau bukan. “Aku pasti salah lihat.” Putus Chanyeol walau dalam hatinya ia masih memikirkan kemungkinan itu.

Ponselnya bergetar, itu dari Baekhyun. “Ya?”

“Kau di mana? Kau sudah mengerjakan PR fisikamu?”

“Fisika? Pr? Oh sial!”

***

Dua hari kemudian…

Pelatihan itu selesai lebih cepat dari yang di jadwalkan. Mereka mempunyai sisa satu hari penuh sebelum kembali ke rumah. Anggota lain memutuskan untuk pergi berwisata ke pantai. Mau tak mau baik Jira maupun Sehun juga ikut pergi.

Sesampainya di pantai, mereka langsung menyerbu air layaknya semut yang menyerbu makanan manis. Jira tersenyum dan ikut bergabung bermain air. Sedangkan Sehun memilih duduk sendiri di atas batu karang sambil memaikan ponsel. Mengambil beberapa gambar pemandangan, dan satu potret Jira yang tengah tertawa lepas.

Meski tersenyum sambil menatap layar ponselnya, sorot mata itu sama sekali tak memancarkan kebahagiaan yang seharusnya. Seolah ada luka yang tak lagi bisa disembuhkan.

Tak ingin terlarut, Sehun bangkit dari duduknya. Nyaris terjatuh, karena terkejut dengan kehadiran Jira di hadapannya. “Mengagetkan!”

“Maaf. Aku kemari karena kau terlihat murung. Kenapa tak coba bergabung?”

“Kenapa kau tak berhenti bersikap biasa padaku?” pertanyaan baik-baik Jira dibalas dengan ketus oleh Sehun. Bahkan Sehun menatapnya tajam dan mendengus setelah memerhatikan tubuh Jira dari ujung kaki hingga ujung kepala yang basah dan mulai menggigil kedinginan.

Sehun mencengkram lengan jira dan menyeretnya pergi ke tempat dimana tak ada seorang pun disana. “Apa yang kau lakukan?!”

Sehun melepas kemejanya. “Pakai! Kau bisa terkena flu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kenapa? Kau tak mau mendengar perkataanku lagi?”

“Sehun, bukan begitu. Kau ini kenapa sih?”

“Kau yang kenapa?!”

Jira mengerjap. Terkejut degan respon Sehun yang menurutnya agak berlebihan.

Sehun menyudutkan Jira ke dinding. Selama beberapa saat, keduanya hanya diam saling menatap. Ada banyak hal yang tak dapat dijelaskan dari sepasang netra milik Sehun. Ini terlalu rumit untuk dijabarkan. Bukannya tak paham, Jira hanya ingin meninggalkan semua yang ia anggap masa lalu di belakang.

“Sehun—”

“Kenapa kau bisa sesantai ini? Kenapa kau bersikap seolah semua baik-baik saja? Kenapa?”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Apa semua selalu semudah dan sesederhana itu untukmu?”

“Aku benar-benar bodoh mencintaimu sedalam ini. Kau pasti sudah bahagia dengan Chanyeol sekarang. Ini tak adil, Kim Jira. Ini benar-benar tak adil untukku.”

Sehun pergi, meninggalkan Jira yang kini terduduk di tempatnya. Setetes likuid jatuh dari pelupuk mata. Sehun salah mengira semua ini mudah dan sederhana untuknya. Jira hanya mencoba berdiri sendiri dan bertahan sejauh ini. ia hanya menghindari masalah yang bisa memperlebar lukanya dan luka Sehun.

Sepintas, memang terlihat tak adil untuk lelaki itu. Tapi Jira pikir ini adalah jalan yang terbaik untuk mereka. Dirinya dan Sehun harus melanjutkan hidup apapun yang terjadi. Seharusnya Sehun paham dan mencoba menerima. Bukan diam di tempat dan meratapi nasib seperti yang dilakukannya saat ini.

End of part1

Part selanjutnya bakal aku usahain upadate seminggu sekali.
adakah yang nunggu? /pede
buat yang masih bingung bisa ditanyakan.
(kecuali pertanyaan yang bikin spoiler gakan kujawab, hehe)
tentang hubungan Sehun-Jira, sudah terjawab kan yaa?
alurnya kecepetan atau malah terlalu lambat sih?
eum.. maaf kalo membosankan. Aku bakal lebih berusaha lagi bikin sebuah cerita.
maapkan seorang amatir ini. hihi
makasih buat yang udah baca apalagi yang komen dan ngasih masukan tentang cerita ini.
many loves for you all, tata ❤

45 tanggapan untuk “[1] Full Stop | truwita”

  1. Main cast nya bukan sehun ya min ?yaaaaaaa sedih lah sehun jadi lelaki yg menanggung beban super duper berat lagi. Semoga di ending kamu bahagia ya hunnie

  2. Aaaaa… Akhirnya bisa baca chapter 1 *telat *kemana aja?
    Gara2 UN jd ga memungkinkan baca2 ff lagi, padahal udh lama baca prolognya, baru bisa update skrg..
    Tapi.. Ga mengecewakan!
    Keren++
    Mulai ada bayangan hub sehun-jira, mulai kasihan ama hub chanyeol-jira. Hehe
    Keep writing thor~

    1. Wow, selamat yang sudah menuntaskan UN, hihi
      Makasih jg karena masih inget ff gak banget ini :””
      Semoga hasil UN nya nanti memuaskan yaa! Semangat juga buat kamu yg mau naik ke jenjang selanjutnya! 😉

  3. Hanya beberapa fanfic aja yang berhasil ngebawa aku ke jalan cerita si penulis. Tapi kamu bagus bgt bawain ceritanya, bahasanya lugas dan rapih, walau typo dikit ya hehe
    Tapi, aku bisa jadiin fic ini pembelajaran buat aku menulis yang lebih baik lagi
    Oiya jadi soal fic nya aku nunggu kelanjutannya yaa
    btw, salken 😉 99 line
    Entah kenapa gak bs mihak sehun atau chan karena… Mereka sama” ganteng hahaha 😉 XD #abaikan komentator gaje ini author-nim 😉
    Next! Kekeke

    1. Aw. Aku terhura banget baca komenmu :”” /lebay
      Makasih banyak, aku jg masih banyak belajar :)) kalo typo itu penyakit lama. Haha
      Aku tipe orang yg males baca ulang. Maap, *bow
      Iya, semoga aku bisa nulis lanjutannya dgn lancar juga. Aamiin.
      Haha. Iya emang. Mereka fantastis. Aku gak bisa gimana2. Meski sering drama jg anak exo. /sudahi sebelum baper/
      Panggil aja tata, salken juga… Rahay, 96L disini. /lalu nangis dipojokan/gak

  4. duhhh sehun,, kasian,,,sini aku peluk,,,, lum bisa move on ya!tp kak wita,,aku ko lbh greget ma Sehun-Jira ya,,kayanya lbh dapet fell nya! dan hubungan cinta dlm ikatan kluarga karna terhalang status orangtua tu,,bakal lbh menarik d kupas,,,coz,,kita bakal pengen tau sejauh mana mereka bisa bertahan menjaga perasaan cinta itu,,,bolehlah jira dng chanyeol or sehun jg nantinya pny pengganti jira,,tp pada akhirnya,,hati dan perasaan mereka tak bisa berganti,,,,!!!dan berharap suatu hari nanti kisah kasih jira-sehun bisa bersatu,,dan untuk mencapai itu pasti proses dan konfliknya bisa d kembangkan lbh komplex,,!!
    ottelah kak tata,,ini hanya masukan aj c,,,hehee full stop milik kak Tata,,soo suka suka kak Tata mw dibawa kmn jg,,,,pasti ngikutin kok!!!
    piSS,,,,
    next!

  5. Wuahhh..
    Daebakk! Aku suka banget fanfict ini kak. Jira kasihan banget ga dipeduliin sama ibunya. Jadi dulu Sehun sama Jira itu pacaran dan akhirnya mereka pisah karena ayahnya Sehun nikah sama ibunya Jira?
    Kerenn.. oiya, kakak punya id line gak? Boleh minta? Pengen chat’an sama author favoite😍😘

    1. Hihi iya kurang lebih begitu. Mainstream sih emang, hehe. Bukan genre favoritku jg, jadi maap bgt kalo membosankan dan aneh. Aku lg nyoba gaya baru XD
      Aw. Terhura bgt akuh. Hihi
      Aku masih amatir, dan jgn difavoritkan dulu 😀
      Id line: truwita

  6. Ahhh jdi mreka dulu nya pcrn,dn mreka pisah krna ayah sehun nikah sma ibu jira,,ya takdir emng kdng gk adil,,truss hub chanyeol sma jira apa?pacaran?

Tinggalkan Balasan ke truwita Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s