DECISION [EPISODE 3] – by GECEE

req-grace-decision

 

GECEE proudly present

 

  E     I   S     O   N


 WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“After a while when I recognized you, everything was clearly changing. My world separates to before and after knowing you.”

–Every Moment of Yours (Sung Si-Kyung)

 

==HAPPY READING==

BYUN BAEKHEE mengetuk pintu kamar kakaknya pelan. Begitu ia mendengar suara kakaknya dari dalam, ia membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke ruangan bernuansa biru itu. Di tangannya terdapat selembar kertas.

“Baekhyun-ah!” sapa Baekhee pada Baekhyun yang sedang asyik dengan komputernya. Sepertinya kakak kembarnya itu tidak terlalu peduli dengan kedatangannya. Pandangan mata Baekhyun tidak lepas dari layar komputer. Baekhee sangat paham jika Baekhyun sedang bermain komputer, maka ia tidak akan mempedulikan keadaan apa pun di sekitarnya. Seperti sekarang ini. Baekhee pun akhirnya mengambil inisiatif untuk menghentikan keasyikan kakaknya itu. Ia berjalan ke arah stop kontak dan mencabut kabel yang menghubungkan komputer tersebut dengan arus listrik.

“Ya!” Baekhyun memutar arah duduknya dan menatap kesal pada Baekhee. “Neo michyeosso?! Aku belum sempat menyimpan data permainanku dan sekarang kau menghapusnya begitu saja. Have you lost your mind?”

Baekhee menggeleng. Raut wajahnya tetap tenang. “Ani,” ujarnya. “Aku punya sebuah berita baik untukmu.”

Kakak kembarnya hanya mendengus. Sepertinya Baekhyun terlihat tidak berminat akan berita yang ia bawa. Karena itu, Baekhee mencoba memancing perhatiannya. “Kau tidak tertarik? Informasi ini menyangkut tentang Jane Han.”

Seketika raut wajah kakak kembarnya itu berubah. Baekhyun segera berpindah tempat duduk di hadapan Baekhee. Matanya berbinar-binar. Raut wajahnya terlihat jelas bahagia. “Jaeinssi? Apa yang kau dapatkan?”

Baekhee menatap kertas yang ada dalam genggamannya. Ia tersenyum sendiri. Ia membayangkan kertas ini akan menjadi harta yang amat sangat berharga untuk kakak kembarnya. Tidak sia-sia usahanya selama ini mendekati Jane, menemaninya, dan menjadi sahabat dekat gadis itu.

Baekhee mengacungkan lembaran kertas putih itu persis di depan mata Baekhyun. Kakaknya segera merebut kertas itu dari tangannya, lalu membaca dengan seksama. Seulas senyum bahagia terukir di bibirnya.

“Ige…” Baekhyun menatap Baekhee dan kertas yang ada dalam genggamannya bergantian. Jelas terlihat bahwa ia senang sekali mendapatkan informasi yang tertulis dalam kertas itu. “Where do you get it?

I won’t tell you,” balas Baekhee sambil membuat gerakan mengunci mulutnya. “Darimana itu berasal tidaklah penting. Yang pasti, aku sudah melakukan apa yang kau minta, bukan? Kau meminta aku untuk membantumu mendekati Jane. Nah, dari hasil penelitianku, itu adalah beberapa hal yang Jane suka.”

Baekhee melanjutkan penjelasannya. “Jaein-ssi menyukai cokelat putih, bunga melati, kalung dengan mata bandul lumba-lumba, serta naik Ferris Wheel di taman hiburan. Jadi silahkan tentukan apa yang hendak kau hadiahkan untuknya.”

Baekhyun serta merta memeluk Baekhee erat, membuat gadis itu merasa terkejut dan tubuhnya menegang. “Thank you! Thank you very much, Baekhee-ya!

Baekhee tersenyum sejenak. Kakak kembarnya itu adalah orang yang ekspresif, yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya begitu saja. Ekspresinya sangat bisa ditebak. Bila ia gembira, ia tidak segan-segan memberi pelukan erat pada orang-orang. Seperti saat ini. Namun, semenjak mereka remaja, ibu mereka sering melarang mereka untuk melakukan kontak fisik dengan alasan berbeda jenis kelamin. Karena itu, Baekhee berusaha melepaskan diri dari pelukan Baekhyun.

“Ya! Aku minta bayaran. Aku tidak mau usahaku ini dihargai gratis begitu saja,” celetuk Baekhee.

Baekhyun menatap adiknya lekat-lekat. “Kau mau minta bayaran apa?”

Baekhee menerawang sejenak, memikirkan kira-kira permintaan apa yang bisa ia minta pada Baekhyun. Sesaat kemudian senyumnya mengembang. Ia sudah tahu apa yang ingin ia minta. “Kau ingat saat kita berlibur ke Indonesia tiga tahun lalu? Aku ingin sate kambing khas Indonesia yang kita makan di sana.”

***

Choi Seolri menatap lekat-lekat pintu abu-abu yang dengan nomor 2023 yang menjulang di hadapannya. Ia menghela napas dalam-dalam. Delapan bulan yang lalu ia bisa dengan leluasa keluar masuk melalui pintu ini. Ia tidak perlu merasa tertekan setiap kali masuk ke dalamnya. Setiap kali pintu abu ini terbuka, ia akan mendapat sambutan hangat – pelukan, raut wajah gembira, bahkan ciuman di kening ataupun di pipi. Tidak seperti sekarang, dimana menekan bel pintu saja rasanya seperti melakukan pekerjaan terberat bagi Seolri.

Seolri menghela napas sekali lagi. Ia sudah membulatkan tekad untuk kembali mengunjungi sang pemilik apartment. Ia mengulurkan tangannya ke arah bel pintu. Tanpa ia sadari tangannya sudah mulai gemetar. Setelah menekan bel pintu tersebut, detik-detik berikutnya seolah berjalan sangat lambat. Tanpa sadar Seolri menahan napasnya menunggu pintu abu tersebut terbuka.

Pintu abu itu terbuka dan terlihatlah sosok Park Chanyeol yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia hanya mengenakan kaus tanpa lengan berwarna putih serta celana pendek hitam. Ekspresi wajah lelaki itu tidak terlihat senang, seperti ekspresinya akhir-akhir ini setiap bertemu Seolri. Seolri menarik napas dalam-dalam, lalu memasang seulas senyum. “Annyeong..”

Chanyeol hanya menatapnya sekilas. “Oh, ternyata kau. Aku pikir siapa.” Dan setelah memberi jalan untuk Seolri masuk, lelaki itu berjalan ke arah dapur, meninggalkan Seolri begitu saja.

Seolri menatap sekelilingnya. Keadaan apartment itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia mengunjunginya. Lima bulan yang lalu. Hari dimana mereka mengakhiri hubungan mereka. Hari dimana Seolri memutuskan untuk memilih Minho dan mengakhiri hubungannya dengan Chanyeol. Keputusan terbodoh yang pernah Seolri lakukan. Hari dimana sofa cokelat yang sekarang ia duduki menjadi saksi bisu atas tangisan Seolri dan amarah Chanyeol. Seolri menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak ingin mengingat memori buruk itu lagi. Bukan itu alasannya untuk datang kemari.

Chanyeol datang dari dapur dengan dua cangkir berisi cokelat panas. Lelaki itu meletakkan salah satu cangkir di hadapan Seolri, kemudian duduk di salah satu sofa. “Kenapa kau tiba-tiba kemari?”

Seolri meraih cangkir cokelat panas tersebut, meniup-niup sejenak cokelat panas di dalamnya, dan menyisipnya sedikit. “Hmm… Kebetulan aku baru saja berbelanja di butik yang ada di dekat apartment-mu. Jadi aku berpikir untuk sekalian mampir kemari.”

Chanyeol hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Seolri mencoba mengisi keheningan yang menyelimuti mereka berdua. “Apartment-mu tidak banyak berubah, ya?”

Kembali lagi Chanyeol hanya mengangguk.

Jujur, Seolri sudah terbiasa menghadapi tindakan diam Chanyeol tersebut. Ini bukan pertama kalinya Chanyeol tidak mau berbicara dengannya. Semenjak mereka putus, Chanyeol selalu terlihat menghindarinya dan tidak ingin berurusan dengannya. Chanyeol tidak pernah bersikap ramah padanya. Seolri sudah maklum.

Ketika cokelat panas di dalam gelasnya telah habis, Seolri bermaksud untuk menaruh gelas tersebut di tempat cuci piring. Di dapur, pandangan Seolri tertumbuk pada tempat sampah yang ada di pojok dapur, di dekat tempat cuci piring. Pandangannya tertumbuk pada sampah karung beras yang terlihat sudah digunting serta potongan karton dan kertas warna yang berwarna merah muda.

“Chanyeol-ie!” serunya. “Apa yang kau lakukan dengan semua karton merah muda ini?”

Lelaki itu tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. “Amugeotdo aniya..

Entah mengapa Seolri tidak mempercayai kata-kata Chanyeol. Lelaki itu terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Seolri mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan oleh mantan kekasihnya itu dengan potongan karton dan kertas warna merah muda serta karung beras itu. Tiba-tiba memorinya terbang ke saat-saat ia mengikuti acara masa pengenalan lingkungan sekolah tahun lalu. Mungkinkah…

“Apa kau membantu salah seorang murid baru mengerjakan tugasnya?” tanya Seolri mencoba menyelidiki.

Gadis itu hampir berkesimpulan bahwa tebakannya benar ketika sekilas ia menangkap perubahan ekspresi di wajah Chanyeol. Lelaki itu terlihat sedikit terkejut. Hanya sesaat. Beberapa detik kemudian, Chanyeol kembali ke ekspresi datarnya.

“Tidak mungkin,” jawab lelaki itu.

Seolri mengangguk. Baiklah, bila Chanyeol berniat menyembunyikan sesuatu darinya, itu tidak terlalu masalah. Lagipula kalau memang benar lelaki itu membantu salah seorang peserta acara masa pengenalan lingkungan sekolah, itu tidak ada urusannya dengannya.

“Baiklah,” ujar Seolri. “Sepertinya aku harus pulang. Kalau aku terlalu lama, ibuku akan mencariku.”

Seolri diantar oleh Chanyeol sampai ke pintu. Di depan pintu, Seolri kembali menyunggingkan senyum manisnya. “Sampai jumpa. Saranghae.

Ketika pintu abu itu kembali tertutup di hadapannya, Seolri menyadari bahwa Chanyeol tidak menjawab perkataannya barusan.

***

Jane memandang kesal notebook biru di hadapannya ini. Entah apa yang salah dengan notebook-nya, tetapi komputer kecil itu tidak mau menyala. Sudah beberapa kali Jane memencet tombol daya dari notebook tersebut, tetapi layar hitam itu tetap tidak mau berganti. Bahkan sepertinya sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan dari notebook tersebut.

Notebook itu memang sudah Jane miliki sejak lama. Notebook tersebut merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke sembilan, dan yang selama ini selalu menemaninya dalam belajar dan mengerjakan tugas serta mencari informasi. Jane juga sering memasukkan permainan-permainan ke dalamnya, atau memasukkan berbagai macam video. Ia tidak peduli bahwa ini adalah komputer yang berkapasitas kecil. Memang akhir-akhir ini notebook-nya sudah menunjukkan gejala-gejala rusak, seperti mendadak mati, layarnya berkedip-kedip, cepat habis baterai, atau tiba-tiba notebook-nya diam tanpa bisa ia utak-atik. Namun selama ini masalah-masalah tersebut dapat ia atasi. Sepertinya hari ini merupakan puncak dari semua masalah-masalah tersebut.

Jane menghela napas. Ia pasrah. Ia masih memiliki tugas biologi membuat peta konsep dengan bantuan komputer yang harus ia kumpulkan besok. Memang tugas tersebut sudah diberikan dari seminggu yang lalu. Namun seperti biasa Jane selalu mengerjakan tepat sehari sebelum tugas tersebut dikumpulkan. Malang baginya, rupanya pada hari tersebut notebook kesayangannya itu rusak.

Sempat terpikir olehnya untuk menelepon tantenya untuk datang kemari dan membantunya memperbaiki notebooknya, atau setidaknya memberikan alternatif agar Jane tetap dapat mengerjakan tugas. Namun niat itu ia urungkan begitu melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia tidak yakin tantenya mau untuk mampir kemari dan membantunya. Jarak dari apartment-nya ke kediaman tantenya cukup jauh. Ia tidak tega untuk mengganggu tantenya sekarang.

Akhirnya Jane memutuskan untuk pergi ke lantai dasar, mencari salah satu teknisi apartment. Siapa tahu mereka mengerti cara menangani kasus notebook yang rusak.

Karena terlalu terburu-buru – entah karena panik atau ingin masalah ini cepat selesai, Jane tidak melihat ke arah mana ia berjalan. Alhasil, ia hampir menabrak seseorang, kalau saja orang itu tidak menghentikan langkahnya.

Jane mendongak untuk melihat sosok di hadapannya. Kembali lagi ia hampir memekik ketika menyadari bahwa di hadapannya terdapat Park Chanyeol yang sedang menatapnya dengan pandangan heran.

“Jaein-ah!” sapa lelaki itu. “Eodiga?”

Jane terlalu terkejut untuk menyadari bahwa lelaki itu memanggil namanya dengan bahasa yang lebih informal dari biasanya. Di pikirannya hanya terbayang notebooknya yang rusak dan hanya bisa menampilkan layar hitam serta tugas biologinya.

“Sunbae, aku butuh bantuan,” ujar Jane setengah memohon.

Kakak kelasnya itu memandangnya lekat-lekat. “Ada apa?”

“Komputerku rusak sementara aku mempunyai tugas membuat peta konsep yang harus aku kumpulkan besok. Aku baru ingat untuk mengerjakannya hari ini, tetapi ternyata komputerku rusak.”

Park Chanyeol mengangguk. “Oh, begitu.” Lelaki itu mengulum lollipop yang ada di tangannya. “Bagaimana kalau kau menggunakan komputerku saja?”

Jane kembali mendongak dan menatap lelaki itu. “Boleh?”

Kakak kelasnya menyunggingkan sebuah senyum. “Dangyeonhaji! Kau kerjakan saja di apartment-ku.”

***

Dari kejauhan, Chanyeol menatap gadis yang sedang berjalan sambil menunduk itu. Rambut panjangnya menutupi wajah gadis itu, membuatnya sekilas terlihat seperti hantu berambut panjang yang sering muncul di film horror. Chanyeol mengenali gadis itu. Han Jaein. Adik kelasnya, tetangga seberang apartment-nya.

Sepertinya gadis itu sedang terburu-buru, terlihat dari langkahnya yang lebih cepat dari biasa. Rambut panjang yang ia biarkan tergerai dan kepalanya yang tertunduk sepertinya membuat gadis itu tidak dapat melihat kemana arah langkahnya. Benar saja. Gadis itu pasti akan menabraknya bila Chanyeol tidak berhenti persis di depan gadis itu dan menghalangi arah jalannya.

Gadis itu mengangkat kepalanya, dan lagi-lagi Chanyeol melihat ekspresi kaget dan takut muncul di wajah gadis itu. Diam-diam Chanyeol mendecakkan lidah. Astaga, memangnya apa yang dipikirkan gadis itu? Apakah Chanyeol terlihat seperti penguntit atau semacamnya?

Chanyeol memutuskan untuk memanggil gadis itu dengan sebutan informal, sekedar untuk membuat Jaein merasa akrab di dekatnya. Namun sepertinya gadis itu tidak menyadari perubahan dari panggilannya. Gadis itu terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.

Gadis itu menatapnya sekilas. Pandangan matanya menyiratkan sebuah permintaan tolong yang sangat. “Sunbae,” kata gadis itu. “Aku butuh bantuan.”

“Ada apa?”

Gadis itu menjelaskan padanya bahwa komputernya rusak sementara ia mempunyai tugas biologi yang harus dikumpulkan esok. Park Chanyeol mengangguk-angguk maklum. Ia kenal guru biologi yang mengajar kelas sepuluh. Lee Taemin. Guru biologi yang galak, yang kerjanya hanya marah-marah, dan paling tidak suka bila ada murid yang tidak mengerjakan tugas.

“Bagaimana kalau kau menggunakan komputerku saja?”

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan pandangan tidak percaya. “Boleh?”

Chanyeol tersenyum. “Dangyeonhaji!. Kau kerjakan saja di apartment-ku.”

Beriringan mereka berdua berjalan menuju unit apartment Chanyeol. Setelah menekan password apartment-nya, Chanyeol mengajak Jaein yang terlihat seperti ragu-ragu untuk masuk.

Jaein menatapnya sekali lagi. “Benar tidak apa-apa?”

Sedikit perasaan miris menggores hati Chanyeol. Astaga, gadis itu masih merasa takut padanya. Gadis itu sepertinya masih belum membiasakan diri berhadapan dengannya. Chanyeol mencoba tersenyum, berharap senyumnya dapat memberikan rasa aman untuk gadis itu. “Tentu saja. Kau harus mengerjakan tugasmu, bukan?”

Gadis itu duduk di sofa cokelat apartment-nya. Chanyeol meninggalkan gadis itu sejenak untuk pergi ke kamarnya mengambil laptopnya.

“Ini,” Chanyeol meletakkan laptop hitam tersebut di meja di hadapan gadis itu. “Selamat mengerjakan tugas,” tambahnya dengan senyum manis. Lalu Chanyeol pergi ke dapur untuk membuat menu makan malam.

Chanyeol kembali ke ruang tamu apartment-nya dengan dua mangkuk berisi ddukbokki yang baru matang. Senyumnya mengembang melihat Jaein yang sedang serius dengan laptopnya. Gadis itu terlihat sedang mengetik sesuatu, lalu terlihat sedang berpikir, dan kemudian kembali mengetik. Chanyeol mulai merasa bahwa gadis itu menarik.

Tunggu. Menarik? Menarik? Chanyeol menggelengkan kepalanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Sepertinya ia sudah mulai gila.

Chanyeol berjalan ke arah gadis itu dan meletakkan salah satu mangkuk yang ia pegang di sebelah laptopnya. “Ini, makanlah. Kau pasti lapar.”

Gadis itu menoleh kepadanya. “Terima kasih, sunbae.”

Melihat gadis itu memakan ddukbokki buatannya dengan lahap, entah mengapa sebersit rasa lega dan senang merayap di hati Chanyeol. Gadis itu makan sambil sesekali mengetik di laptopnya.

“Sunbae,” panggil gadis itu.

Chanyeol menoleh. “Ada apa?”

“Terima kasih untuk makan malamnya. Benar-benar enak!” Gadis itu tertawa kecil sambil menepuk-nepuk perutnya. “Ah, aku kenyang sekali!.”

Chanyeol menyadari bahwa itu adalah pertama kalinya ia melihat gadis itu tertawa. Saat itu Chanyeol menyadari bahwa ia menyukai tawa gadis itu.

***

Chanyeol menutup buku sejarahnya dan menguap. Sepertinya sudah cukup ia belajar sejarah untuk ulangan esok hari. Matanya sudah mulai berat dan ia tidak yakin ia dapat melanjutkan belajarnya bahkan hanya untuk beberapa menit ke depan. Percuma saja, otaknya yang sudah lelah tidak dapat dipaksa lagi untuk mengingat semua materi pelajaran sejarah ini. Jadi menurutnya, lebih baik ia tidur sekarang dan besok bangun pagi-pagi untuk melanjutkan belajarnya.

Chanyeol membuka pintu kamarnya hendak pergi ke dapur untuk minum segelas air. Ibunya selalu mengajarkan untuk minum segelas air sebelum tidur agar pencernaan baik-baik saja. Tetapi langkahnya terhenti begitu melihat sesosok gadis yang sedang tertidur di ruang tamu. Kepala gadis itu tertelungkup di atas meja, dan sepertinya posisi tidur gadis itu tidak nyaman.

Untuk beberapa detik, Chanyeol merasa bingung bagaimana gadis bernama Yoon Jaein itu bisa berada di apartmentnya bahkan tidur di meja ruang tamunya. Namun kemudian otaknya kembali bekerja dan ia teringat bahwa gadis itu tadi meminjam laptopnya untuk mengerjakan tugas. Sekarang laptop tersebut masih berada di meja tamu dalam keadaan terbuka. Chanyeol berjalan menghampiri meja tamu. Tangannya dengan cepat bergerak untuk mematikan laptopnya. Setelah itu ia duduk di samping Jaein dan mengamati gadis itu.

Kedua mata gadis itu terpejam. Mulutnya sedikit terbuka, hanya sedikit. Punggungnya naik turun sesuai dengan irama napasnya. Begitu tenang, begitu damai. Chanyeol tersenyum. Gadis itu sepertinya lelah, dan ia tidak ingin mengganggu tidur gadis itu. Malam ini, ia akan membiarkan gadis itu tidur di apartmentnya.

Dengan pelan-pelan ia berdiri, lalu berjingkat melangkah ke kamarnya. Ia keluar membawa sebuah selimut. Kasihan sekali bila gadis itu kedinginan, pikirnya. Dengan gerakan selembut mungkin, ia menyampirkan selimut tersebut di punggung Jaein. Ia tidak ingin gadis itu sampai terbangun. Chanyeol menatap gadis itu sejenak, memastikan bahwa gadis itu memang tidak terbangun. Jaein hanya mengubah posisi tangannya, menggumam tidak jelas sejenak, lalu kembali tidur lagi. Chanyeol menghembuskan napas lega. Dengan berjingkat-jingkat ia kembali ke kamarnya.

“Sunbae-nim?”

Langkah Chanyeol terhenti. Ia berbalik dan menoleh ke arah gadis itu. Jaein masih berada dalam posisi tidurnya semula, tetapi kedua matanya telah terbuka dan sedang menatap Chanyeol lurus-lurus. Chanyeol berjalan mendekati gadis itu. “Ada apa? Kau terbangun?”

Gadis itu mengangkat kepalanya yang tertelungkup di atas meja, lalu melakukan sedikit peregangan dengan meregangkan tangannya ke atas dan ke samping. Kemudian ia menoleh dan tersenyum pada Chanyeol. “Aku tertidur, ya?”

“Ya,” Chanyeol mengangguk. “Tadinya aku akan membiarkanmu tidur sampai pagi. Rupanya kau terbangun.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menunduk. “Tidak. Aku tidak akan membuat sunbae repot dengan tidur di sini. Dengan meminjam laptop sunbae untuk mengerjakan tugas saja aku sudah cukup merepotkan sunbae.”

“Tidak,” ujar Chanyeol sambil menggelengkan kepala. “Sama sekali tidak.”

Gadis itu tersenyum. Ia kemudian berdiri, dan memberikan salam kepada Chanyeol dengan membungkukkan badan. “Apapun itu, terima kasih atas bantuan sunbae. Oh, dan juga makan malamnya. Terima kasih banyak.” Gadis itu kembali membungkukkan badannya. “Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan tanpa bantuan sunbae. Gamsahabnida.”

Sebersit perasaan gembira menjalar di hati Chanyeol begitu mendengar pujian gadis itu. Perasaan bangga kemudian menghampirinya. Seolah-olah hanya dengan membantu gadis itu, ia merasa seperti seorang pahlawan yang menang dari perang. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan tanpa bantuan sunbae. Kata-kata itu terus menerus terngiang di telinganya.

Gadis itu berbalik dan mulai berjalan ke arah pintu, meninggalkannya. Ketika gadis itu sampai di depan pintu, Chanyeol menahan tangannya, mencegahnya untuk melanjutkan langkah. Gadis itu menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Jaein-ah…”

Gadis itu tidak berkata apa-apa. Matanya masih menatap Chanyeol lurus-lurus.

Chanyeol menelan ludah, berusaha mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan dari dulu. Ia ingin gadis itu mengerti, bahwa tidak ada yang perlu ia takuti. Bahwa mereka bisa bersahabat, bahwa mereka bisa memiliki hubungan kakak-adik kelas serta hubungan tetangga yang baik.

“Di sekolah, mungkin kau boleh memanggilku sunbae, karena aku adalah kakak kelasmu.” Chanyeol menghela napasnya dan mencoba tersenyum. Ia ingin gadis itu memahami kata-katanya dengan baik.

“Tetapi di rumah…”

Jaein masih menatap matanya, seolah-olah meminta ia melanjutkan kata-katanya.

“Aku adalah oppa-mu.”

 

 

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 4

“Jaein-ah…”

“Aku menyukaimu.”

***

“Kami.. mulai hari ini… berpacaran.”

***

“Oh? Chukhahae! Lalu kapan kau akan merayakannya?”

***

“Sudah kutebak. Kau menyukainya.”

A/N
Ada yang nonton TEL kemarin? Hiks aku nggak nonton ._. *abaikan*
Thanks for reading, don’t forget to leave comment 😀

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

27 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 3] – by GECEE”

  1. Omg omgggg oppaaaa atjiehhhh wkwkwk
    Ini yang ngungkapin perasaan terus bilang pacaran baekhyun ya??’-‘ kann baekhyun itu cabe cabean gatau malu/bias sendiri di hina/kenyataan/ditabok author/

  2. ada salah typo apa emang nama chanyeol jadi jimin ya?*bingung* anyway, momen jane-chanyeol banyak banget ya? kapan momen jane -baekhyunnya, gecee? aku nunggu baekhyunnya….but nice so far. lanjut ya….

  3. aku juga ga nonton,sedih sekali. tp gpp,ini di post udh mood booster. gece part baeknya kurang,omong-omong. dan semoga yang pacaran sama jane si baek. jadi jangan disakitin yah. fighting and goodluck!!♡

  4. Chanyeol oppa :v >< karena bias ultimate gue Chanyeol, pen coba" panggil oppa, tapi ntah kenapa lidah gue rasanya aneh gitu, kek ada asem"nya gitu manggil chanyeol pakek oppa :v /gakgak becanda.. Penasaran sama episode selanjutnya, kira" siapa yang pacaran ama Jaein? Baekhyun kah? Atau chanyeol? 😮 next kak Gecee 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s