[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 1)

posterdraft

Tittle: DRAFT
Author: nakashinine
Length: Chapter
Genre: School life, Romance, Friendship
Rating: Teenager
Main cast: Oh Sehun (EXO) // Kim Kai (EXO) // Bae Irene (RV) // Kang Seulgi (RV)
Additional Cast: SM Artists.
Disclaimer: Fanfic ini murni terlahir dari otak author. Tapi #Konsep prolog terinspirasi dari beberapa novel romance Indonesia. #Beberapa plot juga terinspirasi dari potongan-potongan drama school korea yang mengudara pada tahun 2015.
JADI MOHON MAKLUM bila menemukan ke-familiar-an alur atau karakter. Posted in nakashi~
A/N: Salam kenal. I’m a new freelancer(gapenting)Mohon maaf atas segala kekurangan FF ini.. Enjoy^^

Go to: [Prolog]

 

 

-1-

“Baik. Diskusi hari ini cukup sampai di sini. Sehun, pastikan setiap kelompok sudah mengumpulkan laporannya dan simpan di mejaku.” Siswa bernama Sehun itu hanya menjawab singkat sambil mengangguk, “Baik, seonsaeng-nim.”

Setelah wanita paruh baya itu keluar meninggalkan kelas, Sehun segera berdiri di depan papan tulis lalu mengacungkan beberapa lembar kertas laporan milik kelompoknya. Tanpa memberi ekspresi atau pengulangan perintah Guru mereka, Sehun memberi isyarat pada penghuni kelasnya untuk segera mengumpulkan lembaran laporannya.

Alasan kenapa selalu Sehun yang melakukan ini adalah; satu, Sehun adalah ketua kelas. Dua, tak ada yang berani melawannya. Jadi semua kelompok segera merapikan laporan mereka masing-masing dan mengumpulkannya di tangan Sehun.

Bukan hal yang baru melihat Sehun keluar kelas pada jam istirahat dengan membawa setumpuk tugas teman-teman sekelasnya. Wajahnya yang datar membuatnya terlihat seperti tidak tulus melakukan hal ini. Padahal sungguh, tanpa di minta pun Sehun akan melakukannya dengan senang hati.

“Bukan aku pelakunya, Ssaem!”

Bruk!

“Ah..” Sehun mengeluh pelan ketika melihat kertas-kertas di tangannya jatuh berserakan. Seseorang dengan ceroboh menabrak bahu Sehun dan terjatuh bersama semua kertas yang dibawanya. Merepotkan saja, gerutunya.

“A-a.. Maafkan aku!” Gadis berambut kuda itu segera berdiri dan meminta maaf dengan bahasa informal. Insiden tabrakan itu cukup membuat guru yang mengejarnya sampai dengan tepat waktu. Alhasil, telinga gadis itu ditarik tanpa ampun menuju ruang guru.

“Beraninya kau!”

“AA-AAA.. Sakit, Ssaem, Sakit!”

Sehun yang sejak tadi berdiri hanya memandangi kejadian itu dengan tanpa ekspresi. Setelah itu tanpa memperdulikannya lagi, Sehun segera membereskan kertas-kertas yang berserakan di bawah kakinya. Beberapa siswi yang melihatnya segera membantu Sehun dengan senyum-senyum sok manis. Tapi Sehun masih sama, datar dan tak peduli. Sebelum ia berdiri, yang dikatakannya hanya, “Terima kasih.”

Omo, dia berterima kasih padaku!” Tapi gadis-gadis itu tetap begitu terpesona melihat ketidak ramahan Sehun.

“Ini, Ssaem.” Setelah meletakkan bawaannya di atas meja guru, Sehun melirik ke arah gadis yang menabraknya tadi sedang di omeli. Itu hal biasa. Dia memang pembuat onar, pikirnya.

Neee… Terima kasih, Sehun-ah.” Mendengar balasan dari gurunya, Sehun segera membungkuk dan keluar dari sana.

Bagaikan sebalok es di tengah padang pasir, dingin namun tak pernah meleleh. Begitu kira-kira bagaimana mengumpamakan bagaimana Sehun ketika di sekolah. Tatapannya dingin dan lurus. Langkah kakinya selalu santai dan tak pernah memberi respon apapun terhadap berbagai sapaan siswi ketika seorang Oh Sehun melintas di koridor, seolah-olah dia hanya hidup sendiri.

Lihatlah Sehun, dia sangat sempurna. Begitu orang banyak bilang. Padahal tidak seperti itu. Sehun cuma murid kelas 2 SMA yang menjalankan kehidupan sekolahnya semaksimal yang ia bisa. Tapi di mata semua siswa, hidup Sehun terlihat begitu mudah. Sejak tahun pertama menjadi siswa disana, ia sudah diberi predikat memiliki visual yang paling menawan. Otaknya tak diragukan lagi, dialah peraih peringkat pertama diantara ratusan penghuni sekolah. Sehun juga menjadi salah satu anggota club dance yang berbakat. Hatinya juga baik –kadang-kadang, sih. Dia tak akan membantu seseorang yang tidak meminta bantuan, begitulah persepsi miring yang orang-orang punya tentang jiwa sosialnya.

Reputasinya cukup mengagumkan. Banyak siswi melihatnya sebagai laki-laki idaman yang sempurna. Dari senior, teman satu angkatan, sampai junior, pasti ada saja yang menganguminya. Meski disisi lain, tidak sedikit juga yang membencinya. Entah karna iri pada visualnya, entah karna isi otaknya. Tapi bukan Sehun namanya kalau ia peduli mengenai itu.

“Sehun!” Seseorang datang merangkul pundaknya sambil tersenyum lebar. Dialah orang yang paling membuat hidup Sehun terlihat semakin sempurna –Kim Kai. Sahabatnya. Posisi kepopulerannya setara dengan Sehun karna tingkat ketampanan yang tak diragukan lagi. Kai menempati posisi pertama sebagai anggota club dance paling berbakat. Bedanya, Kai selalu mendapatkan nilai yang tidak memuaskan. Dia harus merasa cukup dengan peringkatnya di 30 besar. Itu masih lebih baik ketimbang tidak naik kelas.

Sehun mungkin memang terlihat begitu sempurna. Tapi dia punya kekurangan; ekspresi. Dia tidak punya ekspresi. Wajahnya selalu datar, bahkan guru paling komedian pun tidak bisa membuatnya tersenyum sedikit saja, apalagi tertawa. Sehun benar-benar sakit dalam emosi. Mungkin itu juga termasuk kedalam list sebagai alasan membenci Oh Sehun.

“Hai Kai! Jangan lupa sepulang sekolah datang ke aula olahraga, ya.” Sahut seorang teman sambil melambaikan tangan kearah Kai.

Lain halnya dengan Kai, sikapnya sangat ramah. Meskipun kadang terbilang terlalu ramah. Dia adalah tipe teman sekolah yang baik dan suka menolong tanpa diminta dan tak memandang bulu. Perilaku Kai mungkin sedikit berlebihan karna dia jagonya membuat banyak perempuan merasa kegeeran. Selama setahun ini, ia pernah punya pacar beberapa kali, tapi saat ini Kai tak punya. Seisi sekolah tau betul, siapa siswi yang sekarang ‘beruntung’ membuat lelaki itu tertarik.

Tak ada satupun siswa yang lebih populer ketimbang Sehun dan Kai. Tidak ada.

“Ck. Kenapa aku tidak pernah ketularan populer meskipun sering duduk bersama kalian?”

“Kau mungkin memang berbakat dalam dance, tapi wajahmu itu tak punya bakat, hyung.

“Apa kau bilang?!”

Seisi meja tertawa –kecuali Sehun. Meja yang diisi dengan anggota-anggota dari club dance itu tak jarang menarik perhatian para penghuni kantin. Tapi siang itu berbeda, ada satu hal lain yang lebih menarik perhatian ketimbang sekumpulan anak dance.

Omo! Seulgi-aah. Maafkan aku, aku tak sengaja mengotori bajumu.”

Hampir semua penghuni kantin menoleh ke arah sumber suara. Itu Yeri, bersama Seulgi dengan seragamnya yang benar-benar kotor dan basah.

xxxx

 

Hari ini Kang Seulgi benar-benar sedang tidak mood karna banyak hal. Sejak beberapa bulan yang lalu, kehidupan sekolahnya benar-benar berubah menjadi di luar ekspektasi. Tapi ia tak bisa menyerah begitu saja, Seulgi adalah siswi yang cukup terlihat tangguh dan punya mulut tajam, setidaknya begitulah yang orang-orang katakan. Yang terpenting baginya adalah menjadi siswa baik yang tidak neko-neko.

Tapi hal sial lagi-lagi ia terima untuk yang kesekian kalinya di hari ini, ketika ia berjalan membawa nampan makan siangnya, tiba-tiba teman satu angkatannya menabraknya. Seulgi tak sebodoh itu untuk percaya bahwa itu hanyalah ketidak sengajaan.

Omo! Seulgi-ah. Maafkan aku, aku tak sengaja mengotori bajumu.” Yeri –bersama gengnya– itu menutup mulutnya seolah-olah itu kecelakaan yang tak disengaja. Namun beberapa detik kemudian, dia menoleh menatap Seulgi lalu tersenyum puas. Mungkin Yeri lupa kalau Seulgi adalah lawan yang terlalu tangguh untuknya.

Seulgi sedikit membuka mulutnya saat memandangi seragamnya sendiri. Tapi kemudian ia menghela nafas dan membuang rasa paniknya. Mata Seulgi menatap gadis itu dengan tatapan dingin sambil tersenyum sinis. Ia lalu dengan cepat menarik Yeri ke dalam pelukannya.

Neee, Kim Yeri. Tidak apa-apa. Kau memang tidak sengaja, kan?!” Seulgi masih memasang wajah kecut dan menekankan kata ‘tidak sengaja’ sambil menularkan noda di bajunya. Lalu melepaskannya dengan kasar. Di waktu yang bersamaan, wajah Seulgi seketika berubah jadi sedingin es, “Terima kasih sudah menghabiskannya untukku. Kim-Ye-ri.” Gumamnya.

1:1. Seri.

Yeri dan teman-temannya menganga dan meringis kesal melihat perlawanan Seulgi yang membuat seragam Yeri kini sama kotornya seperti gadis itu. Lalu masih dengan wajah super kecut, Seulgi pergi dari sana. Tanpa memperdulikan apapun.

Sebagian penghuni kantin hampir menertawakan Yeri. Namun banyak siswi juga menuduh Seulgi yang sok dan sombong.

“Ho. Daebak.” Puji Kai sambil terkekeh pelan. Salah satu temannya ikut berkomentar, “Yaampun, itu cara yang terlalu jadul untuk menjahili orang.”

“Kang Seulgi pasti lebih pintar dari Kai.” Puji Sehun sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Akhh. Dia sesuatu sekali. Itulah kenapa aku menyukainya.” Gumam Kai disamping Sehun.

“Cih. Kau menyukai orang yang tidak mungkin menyukaimu.”

xxxx

 

Seulgi membuka jas seragamnya dan mencoba membersihkannya di wastafel toilet sebelum nodanya benar-benar mengering. Wajah Seulgi benar-benar kecut dan kesal saat ini. Ada apa dengan cewek-cewek iblis itu? Gerutunya dalam hati. Dirinya sama sekali tidak pernah mengganggu siapapun selama ini. Kehidupan SMA Seulgi yang menyenangkan hanya bertahan sekejap saja sampai sunbae sok keren itu mengganggu hidupnya. Laki-laki itu satu-satunya alasan kenapa Seulgi selalu menjadi bahan bulan-bulanan banyak siswi. Seulgi menatap dirinya di cermin sejenak. Kenapa pula Kai harus menyukainya? Dan kenapa juga semua orang harus mengetahuinya?

“Aish!” Seulgi membanting pelan jasnya di dalam wastafel. Kesal.

Ya!” Lagi. Tiba-tiba Yeri datang dan mendorong Seulgi dengan kasar.

“Apa?” Tanya Seulgi sinis.

“Beraninya kau mempermalukanku di depan Kai sunbae!” Teriaknya kesal.

“Jadi kau masih punya rasa malu?” Balasnya kecut.

Ya! Kau benar-benar tidak tau malu, ya!” Salah satu teman Yeri mendorong bahu Seulgi kasar.

Terus, kenapa?”

“Seulgi, dengar baik-baik. Bukankah sudah kukatakan berapa kali kalau kau sebaiknya keluar saja dari club dance, hah? Ku beritau, ya. Tak ada yang mengharapkanmu berada disana.” Kali ini Yeri kembali menyerang.

Seulgi benci ini. Kenapa harus dia yang mengalami kesialan ini. “We? Kenapa aku yang harus keluar? Kenapa kau tak minta Kai sunbae saja yang keluar, huh?”

Heol. Siapa kau, berani sekali ingin mengeluarkan dance machine sekolah kita?” Yeri menarik kerah baju Seulgi.

“Dan siapa kau seenaknya memintaku keluar dari club dance, hm?” Seulgi menepis tangan Yeri dengan kasar. Lalu maju mendekati wajahnya. “Kenapa tidak kau saja yang coba keluar dari tim cheers dan pindah ke club kami? Hn. Itupun kalau kau bisa.” Lanjutnya lalu menarik ujung sebelah bibirnya.

“Apa kau sudah gila!” Yeri kehilangan kesabaran. Setelah berteriak ia menarik rambut panjang Seulgi dan mendorongnya ke tembok.

Wo-wo-wooo. Kenapa kau ini?” Seseorang tiba-tiba keluar dari salah satu toilet dan menghampiri mereka.

Su-Sunbae?” Yeri yang terkejut segera melepaskan jenggutannya.

“Kenapa kau ini, hah? Membully orang hanya karna seorang Kai? Ck.” Gadis itu menopang lengannya di atas bahu Yeri yang langsung di tepis olehnya.

“A-Irene sunbae, kau tidak usah ikut campur. Ini tidak ada hubungannya denganmu.”

Ya! Berani sekali kau tidak sopan seperti itu pada sunbae-mu.” Bentak Irene seperti preman. “Kau tau, kan, bagaimana reputasiku di sekolah ini, HA?”

Yeri mendengus kesal. Setelah memberi tatapan sinis pada Seulgi, Yeri dan teman-temannya pergi meninggalkan mereka berdua.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Irene pada Seulgi setelah menggerutu tak jelas. Gadis itu hanya menggeleng sambil menghela nafas.

“Terima kasih, Sunbae-nim. Tapi lain kali tidak usah repot-repot melakukannya. Aku bisa mengatasinya sendiri.” Tanpa menunggu jawaban, Seulgi membungkuk dan segera meninggalkan Irene.

Irene hanya mengedikkan bahunya, ”Hm masih untung ada aku tadi. Ah terserah sajalah.” Irene tiba-tiba teringat sesuatu. “Astaga! Aku harus ke perpustakaan!” Irene menepuk jidatnya kemudian lari keluar untuk menjalani hukumannya di perpustakaan.

PRANK

Tapi Irene terjatuh tepat ketika ia keluar dari pintu toilet dan menabrak seseorang. Dia meringis sambil mengusap pantatnya. Saat ia melihat sebuah ponsel tergeletak di dekatnya dengan kondisi baterai terlepas, Irene segera berdiri dengan panik.

“Ah, Maafkan a–“ Irene menatap si pemilik dan merubah wajahnya menjadi sebal, “Aish! Ternyata kau lagi, Oh Sehun. Kenapa aku menabrakmu lagi, sih?” Protes Irene.

Laki-laki itu hanya membalas dengan ekspresi datar, “Bukankah harusnya aku yang marah?”

Errr. Iya, iya! Maafkan aku.” Irene mendengus lalu tanpa memperdulikan nasib ponsel Sehun, ia segera berlari menuju perpustakaan.

Sesempurna itukah hidupmu, Oh Sehun? Pertanyaan itu sering muncul di benaknya setiap ia berinteraksi dengan Sehun di ruang latihan club dance, dan barusan ia menanyakan itu lagi dalam benaknya.

xxxx

 

Sesempurna itukah hidupmu?

Entahlah. Tapi bila dibandingkan dengan kehidupannya, Sehun memang pantas dituduh punya kehidupan yang lebih sempurna, pikir Irene.

Kehidupan sekolahnya tak seberuntung Kai dan Sehun yang disukai banyak orang termasuk guru-guru. Reputasinya bisa dibilang lumayan buruk.

Irene punya peringkat yang ‘menakjubkan’. Dua semester tahun lalu, peringkat yang berhasil ditempatinya tepat di no. 7 –dari bawah. Ia hampir saja tidak naik kelas. Kelakuannya pun selalu membuat banyak orang geleng-geleng. Irene mungkin tidak pernah bolos, tapi dia selalu terlambat dan tertidur di kelas, jahil pada semua orang dan beberapa kali Irene juga terlibat dalam perkelahian. Cuma dalam pelajaran Bahasa Inggris saja ia mampu meraih nilai A. Namun nilai akademik saja tidak cukup untuk menaikkan sebuah peringkat. Sifat urakan dan kasarnya itulah yang membuat nilainya sedikit demi sedikit terus turun.

Tapi dia masih bisa berbangga diri dengan posisinya sebagai anggota perempuan paling berbakat di club dance, hampir menyaingi Kai dan Sehun. Disanalah satu-satunya tempat dimana Irene jarang sekali membuat masalah.

Dia mendengus kesal ketika membereskan semua buku perpustakaan yang berantakan, belum lagi setelahnya ia harus membersihkan jendela perpustakaan yang super luas itu.

“Buku-buku ini benar-benar memiliki bau yang aneh!”

xxxx

 

Sehun sampai di depan pintu apartemennya dan segera menekan tombol password. Ia menarik nafas berat sambil menyimpan tas dan sepatu di tempatnya dengan rapih. Dalam suasana apartemen yang tenang dan hening, Sehun masuk ke dalam kamar mandi, kemudian menyalakan keran di wastafel dan mencuci mukanya. Ia menatap dirinya di cermin. Apa hidupku terlihat begitu mudah? Pikirnya.

Mereka salah besar. Jika ada siswa paling sempurna di sekolah, orangnya adalah Kim Kai, bukan dirinya. Kenapa? Karna Kai mendapatkan lebih banyak cinta ketimbang dirinya. Dan anak sempurna itulah yang satu-satunya Sehun punya saat ini. Uang untuk membeli apartemen nyaman ini pun ia dapatkan dari Ayahnya Kai. Sehun yang merasa tidak enak hanya bersedia menerimanya sebagai pinjaman dan berjanji akan menggantinya suatu saat nanti. Itulah sebabnya ia selalu mengisi waktu di hari liburnya dengan bekerja dan mengisi waktu luangnya untuk belajar dengan baik. Agar di masa depan Sehun bisa memiliki kehidupan yang lebih mandiri dan bisa mengganti semua hutangnya pada Ayah Kai.

Tak terasa, jam di tangannya kini sudah menunjukkan pukul 7.25 PM. Perutnya yang lapar memaksanya untuk membuka kulkas, kosong. Akhirnya Sehun memutuskan pergi ke mini market untuk membeli sesuatu yang bisa mengenyangkan.

xxxx

 

Hidupku benar-benar sial. Aku benar-benar muak dengan pria tak berguna ini.

“Beraninya kau menguping dan mengadu pada ahjussi, hah! Apa kau mau mati?!” Bentak seorang laki-laki tinggi dengan kasar sembari mencengkram lengan gadis di hadapannya dengan kuat.

“Bunuh aku kalau kau berani!” –sial! gumamnya dalam hati. Apa yang baru saja dia katakan?

Irene meronta berusaha untuk melepaskan diri, tapi cengkraman lelaki yang 4 tahun lebih tua darinya itu sangatlah kuat dan membuat lengan Irene mulai mati rasa.

Dia dibawa jauh-jauh dari rumahnya sendiri dan diancam seperti ini di pojok gang kecil yang remang. Sial sekali melihat ini daerah yang cukup sepi meski ada satu minimarket yang tak jauh dari tempat Irene saat ini.

“Kau menantangku?!” Tangan laki-laki itu melayang dan siap mendarat di pipi Irene.

BUGK!

Seseorang tiba-tiba menendang kepala laki-laki itu, membuatnya tersungkur cukup jauh dari tempat Irene berdiri. Gadis itu terlalu terkejut untuk segera lari dari sana. Beruntung, seseorang yang menolongnya segera menarik tangannya dan membawanya kabur.

xxxx

 

[PREVIEW: CHAPTER 2]

Omo ternyata itu kau –“

>>

“Mereka seperti baru saja kepergok mesum.”

>>

Ya Kim Kai. Bukankah tidak sopan menceritakan hidup orang lain pada orang asing?”

>>

“Yang tadi. Aku tidak tau, jadi aku tak sengaja membuat Kai –“

“Aku tidak apa-apa. Lupakan saja.”

>>

“Apa sebenernya yang menarik dari dirinya?”

>>

“Apa-apaan dengan surat ini?”

“Benar-benar tak punya kerjaan.”

To be continue…..

 

Silahkan tinggalkan jejak muach~~

24 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 1)”

  1. Hallo , aku baru baca ff ini dan ff ini menarik minat baca ku hehe , aku suka banget dengan perkataan irene kalau bukan hidup sehun yang sempurna tapi sehun yang sempurna hehhe . Awalna karena terbawa cerita aku sampe mikir malah sehun sama seul gi tapi sampe ktmu irene dan dia nginep di tmpt sehun ehh barusadar kalau sehun sama irene ya hehe. Semangat ya untuk kisah kisah selanjutnya!! , thank you.

  2. Pertama kali baca. Tulisannya bagus, mudah dipahami tapi masih pake tatanan kata yang memikat wkwk. Dan gak nyangka, seorang Irene dibawa dalam fanfiction dengan image urakan? Can’t wait to see the next chapter! Aku suka cara nulis author, see ya!

  3. seru ceritanya….
    jadi gk sabar nunggu chapter selanjutnya, jgn lama” ya chingu update nya…
    sehun+irene dan kai+seulgi adlah 2 couple yg memiliki karakter unik….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s