Regret (Chapter 3)

regret

REGRET – Chapter 3

 .

 .

D.O.ssy present

Luhan, Kim Ji Hye (OC) | Romance, Angst | PG-17

Poster credit: Jo Liyeol

Backgroud Song: Bring Me the Night by Sam Tsui

.

Beside the story, I own nothing.

.

Supaya readers gak bingung, kalimat yang dicetak miring berarti flashbackya. 

.

Previous: Chapter 1 | Chapter 2

.

.

“Aku menyesal jadian denganmu.”

.

–**–

Tak terhitung sudah berapa kali Luhan tertangkap basah tengah melamun di dalam kelas. Sungguh pemandangan yang langka melihat mahasiswa ‘teladan’ macam Luhan bahkan tidak memerhatikan sama sekali mata kuliah kesukaan yang dibawakan Lim seonsaeng.

 

Ada banyak hal terjadi kemarin yang tak hentinya berputar di benak sang pemuda. Namun satu-satunya yang merongrongi pikirannya hingga detik ini adalah suara gadis itu tadi malam. Yang menenangkannya. Yang membuainya. Yang membuatnya tertidur setelah menangis hebat, seperti anak kecil yang dinyanyikan nina bobo oleh ibu.

 

Suara Kim Ji Hye.

 

Luhan sadari bahwasanya itu hanyalah mimpi, karena seingatnya, ia langsung mematikan ponselnya sebelum Ji Hye sempat berucap lagi semalam. Namun entah mengapa, kesemuanya terasa amat nyata. Alto lembut si gadis yang menyambangi indera pendengarnya, sentuhan lembut si gadis yang memanjakan kulit wajahnya, juga dekapan si gadis yang menghangatkan raga dan hatinya. Seberapa keras pun Luhan berharap itu sungguhan terjadi, namun realitas menamparnya telak-telak. Mereka tak lagi bersama, mereka tak lagi berhubungan, mereka telah berakhir. Jadi Luhan berkesimpulan kalau kejadian semalam cuma halusinasi semata.

 

“Wajahmu berantakan sekali, Lu.” Vokal berat Kai beserta tepukkan di pundak menginterupsi lamunan panjang Luhan. “Baru putus lagi, ya? Tumben galau.”

 

Luhan mendelik, tak berniat menanggapi. Ia lebih memilih untuk memerhatikan satu persatu mahasiswa yang mulai meninggalkan kelas di jam istirahat ini, ketimbang membuka mulut untuk meladeni ucapan Kai yang sama sekali tidak menarik untuk dibahas. Atau sepertinya menghitung partikel debu jauh lebih mengasyikkan daripada merespon si pria cokelat di sampingnya.

 

“Aku melihatmu dengan Ji Hye kemarin. Kau kejam sekali.”

 

Atau sebaiknya Luhan juga segera keluar dari sini sebelum ia benar-benar mengamuk dan menampar Kai beserta seluruh sifat kepo-nya. Maka ia segera beranjak. Namun sial, si brengsek itu malah menghalangi jalan Luhan dengan merentangkan kaki panjangnya ke depan.

 

“Sampai kapan kau akan berbuat kejam pada gadis, Lu? Ji Hye sangat mencintaimu. Ia gadis yang baik, tidak seperti gadis yang―”

 

“Berhenti membicarakan Ji Hye, aku muak! Kalau kau mau, ambil saja dia! Aku tidak peduli!” bentak Luhan, kemudian berlalu meninggalkan ruangan, melewati Kai yang berdiri tercengang.

 

Saat itu Luhan tidak tahu bahwa lawan bicara yang baru saja ia sentak tadi, mengumpat kasar di belakangnya, amarahnya jauh lebih tinggi dibandingkan Luhan sendiri. Kai bukan orang yang suka membuat keributan omong-omong, oleh karenanya ia hanya diam sembari mengepalkan tangan kuat-kuat menatap kepergian Luhan, menahan segala emosi bergemuruh dalam dadanya.

.

*

.

Measuring days in the spaces between our goodbyes
Learning to wait through the endless parade
Of our same old see-you-next-time’s
But when I close my eyes the miles melt away
Like you’re here in my arms at the end of the day

 

 

Luhan pikir ia mulai gila. Tiap kali ia mencoba memejamkan mata di malam hari, lirik lagu yang dinyanyikan Ji Hye tempo hari terngiang di kepalanya, berdengung di telinganya, hingga terakhir menusuk tepat di ulu hatinya. Sakit sekali rasanya, hingga lelaki itu ingin menangis saja.

 

Luhan sendiri tak paham apa penyebab sebenarnya kegelisahannya. Sunyi yang memeluk dirinya beberapa jam terakhir, kini seolah hendak mencekiknya. Dan yang lebih buruk, sepi yang menjadi sahabat bertahun-tahun lamanya itu justru menciptakan sesak tak berkesudahan yang menghimpit dadanya―ia ingin segera ke luar dari sana.

 

Sekali lagi, Luhan mencoba untuk segera tidur, berharap sesuatu yang mengganjal hatinya meluruh bersama mimpi. Tapi yang terjadi justru membuat kondisi laki-laki itu lebih buruk ketika mendapati kerisauannya yang tak kunjung mereda. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa rasanya sangat sakit? Di sana, di dada Luhan, seperti ada luka robekan yang tak jelas muasalnya, membawa perih yang menjalari tiap inchi kulitnya. Hingga Luhan pun tak sadari bahwa ia telah menyentuh tombol call di ponselnya.

 

“H-halo … L-Luhan, ada apa?”

 

Ponsel putih dalam genggaman sang pemuda bergetar seirama kedua tangannya. Ia tak mengucapkan apapun, hanya memejamkan mata. Suara Ji Hye di seberang telepon seakan jadi penawar rasa.

 

“Luhan-ah?”

 

Hanya vokal gadis biasa, namun kini Luhan tersenyum serupa orang yang kehilangan kewarasan. Ia tertawa, dan ia menangis bersamaan. Airmata meluncur deras dari pelupuknya. Isakan lolos dari mulutnya, menggema dalam satu ruang senyap. Tapi rasa sesak di hatinya berangsur membaik. Dan tak butuh waktu lama, suara itu berhasil membawa Luhan ke alam bawah sadarnya.

 

So bring me the night, send out the stars
‘Cause when I’m dreaming we don’t seem so far
Darken the sky and light up the moon
So that somehow you’ll be here with me soon

.

–**–

.

“Sial! Sial! Sial!”

 

Luhan mendengus kasar, lantas menendang selimutnya. Hari ini sudah yang ketiga kalinya ia terlambat ke kampus. Mulutnya tak lelah mengeluarkan serangkaian kata kotor bagai rentetan peluru. Namun percuma saja, mengingat jam menunjukkan pukul 11:30 saat ini artinya kelas yang dimulai pukul 9:00 pasti telah usai. Biasanya Ji Hye membangunkannya tiap pagi, tapi sekarang―

 

Arrggghhh! Luhan mengutuk dirinya sendiri mengingat kejadian semalam. Pria yang masih mengenakan kaos singlet tidur itu kalang kabut. Ia uring-uringan. Bagaimana bisa ia melakukan hal bodoh itu? Menelepon Ji Hye sambil menangis serupa anak kecil yang merengek minta dibelikan laptop. Oh, ke mana perginya harkat dan martabatnya sebagai lelaki yang paling dikagumi se-antero universitas terelit di Korea Selatan? Ia yang mencampakkan Ji Hye, ia yang meninggalkan Ji Hye, ia yang menyia-nyiakan Ji Hye, tapi ia juga yang kini galau selepas berpisah dengan Ji Hye. Sangat konyol. Luhan harap gadis itu tidak menceritakannya pada siapapun.

 

Tapi. Tapi. Tapi.

 

Di samping itu, Luhan pun tak dapat menampik jika dirinya memang sudah sangat ketergantungan akan presensi Ji Hye di hidupnya. Ji Hye yang membangunkannya lewat telepon tiap hari, Ji Hye yang meninggalkan sarapan pagi di meja makan, Ji Hye yang membawakan snack malam, semuanya. Meski sering laki-laki itu abaikan, tapi toh pada akhirnya Luhan mau-tak-mau menerimanya. Dan kini situasi jadi lebih parah, tidur pun harus dikeloni!

 

Kelas selanjutnya dimulai satu jam lagi. Tapi Luhan pikir, ada baiknya ia membolos hari ini. Daripada bertemu Kai lalu tertimpa sial, lebih menyenangkan berjalan-jalan dan mencari udara segar―maksudnya mencari gadis cantik untuk diajak kencan buta. Namun akhirnya rencana itu Luhan urungkan lantaran ia ketakutan melihat pantulan dirinya sendiri yang amat mengerikan pada cermin besar di kamar. Matanya sembap dan wajahnya bengkak, mirip kuda nil. Memangnya separah apa ia menangis semalam?

.

*

.

Bila pagi-pagi ia menyesal setengah mati, maka di malam hari beda lagi. Luhan tak ubahnya serupa remaja labil yang menunggu surat cintanya dibalas. Sudah dua jam ia berkelesah layaknya lintah yang terkena garam. Gelisah bukan main. Umpama orang yang kecanduan akan narkotika, ia butuh suara Ji Hye sekarang juga.

 

Luhan sungguh berharap ia lekas terlelap, supaya mimpi itu bisa datang lagi. Ia berharap suara Ji Hye ia dengar lagi, walau setidaknya hanya sedikit. Seperti kemarin malam, kala Ji Hye kembali hadir ke dalam bunga tidurnya, menyanyikan lagu yang sama, dengan suara yang sama, dengan dekapan yang sama, dan ciuman di kening. Yang Luhan tak dapat pungkiri kejadian itu membawa kehangatan tersendiri, kendati hanya mimpi.

 

Ia bergelung dalam selimutnya, alih-alih melakukan ritual ‘hitung domba’ supaya kantuk cepat-cepat menyerangnya, namun justru bayang-bayang buruk menghampiri.

 

“Hubungan dua tahun itu hanya pura-pura, Hye. Kau adalah bahan taruhan.”

 

“Jadi kau, enyah-lah dariku sebelum aku betul-betul mengusirmu!”

 

“Yang perlu kau lakukan hanya menyingkir dari hidupku, Hye.”

 

Oh Tuhan. Sekejam itukah dirinya? Luhan bersumpah ia melakukan itu demi kebaikan Ji Hye. Meski di saat yang sama, lelaki itu rasakan kekosongan dan hampa yang nyata.

 

Luhan tak paham. Ia pikir semua akan kembali normal, semua akan baik-baik saja. Akan tetapi kenyataan tak berjalan demikian.

 

“Hye, maafkan aku. Aku merindukanmu.”

 

Haruskah Luhan memohon maaf sekarang? Kemudian meminta agar Ji Hye kembali padanya? Tentu, ia bisa melakukannya dengan mudah, namun … pantaskah ia dapatkan kembali cinta murni itu, sementara dirinya hanyalah pria brengsek yang bahkan tak mengenal kasih sayang? Bukankah orang baik ditakdirkan untuk orang baik pula? Sedangkan Luhan tidaklah masuk kriteria.

 

Padahal selama ini Ji Hye-lah yang senantiasa memberikan kehangatan. Tapi apa balasan Luhan? Apa yang telah ia lakukan untuk gadis itu? Tidak ada! Selain perlakuan menyebalkan.

 

“Lu, sudah istirahat? Aku membuatkan makan siang kesukaanmu. Ayo makan bersamaku, aku sedang dalam perjalanan menuju gedung fakultas seni.”

“Tidak perlu. Aku sudah makan. Jangan ke mari, aku sedang bersama teman-teman. Sudah, ya.”

.

“Kudengar minggu depan ada pertunjukkan orkestra di daerah Gangnam. Aku ingin ke sana. Bagaimana kalau kau menemaniku?”

“Tidak bisa. Aku sibuk.”

.

“Luhan, kau di mana? Aku sudah menunggu di Seoul Grand Park. Bukannya kau sudah janji mau mengajakku ke sini?”

“Ah, maaf aku lupa.”

.

“Kau tidak memakai syal yang kurajutkan untukmu? Hari ini dingin sekali, nanti kau masuk angin.”

“Aku lupa menaruhnya di mana.”

 

Secepat angin, Luhan bergegas menyambar jaket dan kunci mobilnya. Ia harus menemui Ji Hye sekarang. Harus!

 

“Luhan-ah, aku mencintaimu.”

 

“Katakan padaku, apa kekuranganku? Akan kuperbaiki semuanya untukmu. Aku berjanji akan menjadi gadis yang baik, Lu. Kalau kau menginginkan apapun dariku, ambil-lah semuanya. Tapi tolong, jangan menghilang dari hadapanku.”

 

Kenapa ini? Semakin Luhan mengingatnya, semakin sakit hatinya dibuatnya. Ia merengkuh dadanya, merasakan debaran kencang di dalam sana. Perasaan apa yang sejak tadi mencabik-cabik jantungnya  seperti ini? Perasaan bersalah kah? Luhan benar-benar kalut.

 

Pemuda itu tancap gasnya dalam-dalam, tak sabar menemui satu-satunya yang bisa memberinya jawaban pasti. Kim Ji Hye. Walau sempat terpikir di benaknya, apa saja yang harus ia katakan pada sang gadis, namun setidaknya ia harus temukan dulu jawabannya.

 

Luhan parkir mobilnya asal-asalan di depan jalanan kecil menuju rumah Ji Hye, seraya terburu-buru mengayunkan tungkainya lebar-lebar.

 

DEG

 

Belum sampai ia di depan rumah Ji Hye, langkah Luhan terhenti. Ia dapat mendengar jantungnya yang berdentam kian kencang, memompa darahnya cepat hingga ke ubun-ubun. Untuk sekejap, ia memohon agar penglihatannya salah. Namun seiring ia mendekat, wajah gadis itu tampak kian jelas terpampang penuh kenyataan di depan mata kepalanya sendiri, pun seseorang yang bersamanya.

 

Di sana, ia melihat Ji Hye yang tengah berciuman dengan … Kai.

.

.

To be Continued

.

Terimakasih banyak buat yang mau menyempatkan waktunya baca fanfic absurdness ini. Please kasih aku dukungan ya dengan komentar-komentar kalian 🙂

Salam, D.O.ssy

[http://chocolate46.wordpress.com]

 

 

 

 

15 tanggapan untuk “Regret (Chapter 3)”

  1. awal2nya bsa ktawa ama luhan yg uring2an, tpi pas udh bc di tngah2 nangis lg, tpi yg pling bkin nyesek plus pngen nyakar lntai tuh wktu tau hye ciuman ma kai, beuuh bkin yesekk pgen nyakar lantai. Gue gk tau musti sng lu dpt karma pa sdih lhat lu yg trsksa.
    Ngemeng2 kok pken pndk ya ffnya, ato prsaan ku aja.. Oke di tggu chap 3nya. See you again.

  2. OMGGG banyak banget yang bikin aku penasaran
    kai??? Ngapain dia bukanya dia yang nyuruh luhan pacaran sama jihye trus kai ngapain dia kaya gitu!!?
    Asli aku penasaran banget… next next ya thor…
    keep writing!!

  3. wadeeuhhj,,baper ne,,ikut sakit ni,,liat Luhan gtu,,sampe tidur harus dikeloni,,ciahhh Lu,,Lu kaya anak kecil aj!!!! ,,
    bahh ko jihye mw c d cium ma Kai,,?????
    duhhh gmn nasib cintamu Lu,,,
    ***-ikut galau ma Luhan,,yg liat jihye kiss kiss ma Kai,,klo aku galau,,g bisa lihat Baekhyun cs,!! huhuhhuuu,,,cm mantengin dr Hp,!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s