[Chaptered] Heart Attack (4th Chap) | by L.Kyo

3. heart-attack

Title: Heart Attack | Author: L.Kyo♪ [ @ireneagatha ] | Artwoker: Keyunge Art | Cast: Jung Hyerim (APink), Byun Baekhyun (EXO), Do Kyungsoo (EXO) | Genre: Drama, Romance, Comedy | Rating: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

Prev: [1st Chap] [2nd Chap] [3rd Chap]

.

H A P P Y R E A D I N G
.
.

“Dalam jangka waktu 2 bulan, siapa yang paling cepat mendapatkan cinta dari mereka. Jung Yura dan kau Do Kyungsoo, mereka adalah pemenangnya”. Hyerim menelan salivanya samar. Mencoba mencerna perjanjian kekanakan yang dibuat Baekhyun. “Ya! Mana bisa seperti itu… Kau kan..” Jari telunjuk Baekhyun bergerak kekiri kekanan.

“Tidak ada penolakan”. Hyerim membuang nafasnya kesal, berusaha untuk tak mengeluarkan emosnya. “Dan apa ganjarannya jika salah satu diantara kita kalah?” Kedua tangan Hyerim tersampir didepan dadanya, raut gelisah tampak diwajahnya. Sejujurnya ia tidak yakin dengan perjanjian itu. Sungguh. Ia sendiri pun tidak pernah berbicara banyak dengan Kyungsoo.

 

Untuk pertama kalinya ia bisa berbicara lebih dari 5 menit saat pertemuan mereka di balkon atas gedung ini. Hyerim mengigit bibir bawahnya. Tapi disisi lain ia tidak ingin kalah dari Baekhyun.

 

“Deal?” Baekhyun menyodorkan tangan kanannya, menunggu sambutan tangan Hyerim. Hyerim mengulurkan tangannya ragu, tapi Baekhyun sudah menarik tangannya untuk menjabatnya. “Deal! 2 bulan. Kau harus ingat itu? Aku pergi!” Baekhyun pergi bersamaan dengan senyum kemenangannya. Tentu saja ia tenang, pasalnya Baekhyun sudah mulai melakukan kiat-kiat pendekatan dengan Yura.

 

Ingat akan hal itu, Hyerim berteriak. “Y.. Ya! Jangan senang dulu. Ingat! Kau bisa jalan sejauh itu karenaku. KARENAKU!!” Nyatanya Baekhyun tak menghiraukan, hanya lambaian tangannya tampak saat ia berjalan memunggunginya, seakan tak peduli apa Hyerim katakan. Tanduk amarah seraya muncul di puncak kepala Hyerim. “Lihat saja! Aku tidak akan mudah kalah Byun Baekhyun. Kau dan aku? Kau sama sekali bukan levelku!”

 

 

***

 

 

PIP! PIP! PIP!

 

Erangan malas Hyerim di pagi hari saat jam wekernya berbunyi justru membuat Hyerim kesal setengah mati. Cahaya matahari sudah masuk melalui jendela kamarnya. Kamar yang terisi 2 kasur yang tidak lain kasur bagian kanan sudah tertata rapi. Siapa lagi jika pemilik itu adalah milik Jung Yura. Kasur sebelah kiri yang masih berantak, guling yang berada dikakinya, selimut yang masih menutupi seluruh tubuhnya, boneka yang sudah berserakan di lantai.

 

Dan itu sangat mudah ditebak. Siapa lagi jika bukan milik Hyerim. Hyerim kembali mengerang lebih keras, menyambar jam weker lalu mematikannya. Suasana kembali hening. Tampak sunggingan tipis di bibir Hyerim, lalu ia kembali menarik selimut hingga kepala. Melindungi tubuhnya dari cahaya matahari.

 

“HYERIM-AH! BANGUN! INI SUDAH JAM BERAPA?” Suara teriakan dari lantai dasar membuat Hyerim mengeryitkan dahinya, merasa terganggu dengan teriakan Ibunya yang sudah menghancurkan pagi indahnya. “HYERIM-AH! KAU DENGAR TIDAK?” Hyerim melempar selimut dengan kakinya lalu terduduk. “IBU! JANGAN GANGGU AKU! AKU TIDAK ADA KULIAH PAGI!” Buk! Dan untuk kesekian kalinya Hyerim kembali berkutat dalam selimut, mengabaikan teriakan Ibunya yang berulang kali memanggilnya.

 

Suara pintu kamarnya terbuka dan konsentrasi tidur Hyerim kembali terganggu. Ia justru semakin menempelkan bantalnya menutupi telinga. Berharap ia tidak akan mendengarkan omelan sang Ibu. “Bangun! Ibu akan marah jika kau masih didalam kamar!” Sibakan selimut dari Yura membuat Hyerim semakin memeluk tubuhnya lucu. Sungguh, ia tidak ingin bangun sepagi ini. “Ini sudah jam 6. Kau tidak sarapan?”

 

“Yura Eonnie! Berhentilah mengangguku!” Akhirnya Hyerim terduduk, menatap sang Kakak dengan penuh kesal. “Ya! Berubahlah sedikit. Kau sudah berumur 21 tahun, bukan anak sekolah menengah lagi”. Yura melipat tangannya, menatap adiknya dengan senyum sayang. “Aku tahu. Aku tidak sama seperti Tuan Putri. Aku akan turun, puas?” Ia melempar asal selimutnya lalu meninggalkan Yura yang masih berdiri disana.

 

 

***

 

 

“Pagi!” Ucapan singkat Hyerim membuat sang Ibu yang masih berada di pantry membalikkan tubuhnya. Dengan 2 gelas susu hangat berada dikedua tangannya, ia berjalan mendekati meja dan meletakkan ditengah. Lalu ia menghampiri anak bungsunya yang bersiap memulai sarapannya. Kemudian Nyonya Jung memukul pantat Hyerim pelan. “Ibu! Apa yang Ibu lakukan? Aku sudah turun dan bersiap sarapan!”

 

“Kau! Bocah tengik ini. memang Ibu menyuruhmu sarapan. Tapi lihatlah, meja ini masih tidak ada orang. Kau ingin makan sendirian?” Omelan sang Ibu membuat Hyerim kembali meletakkan roti tawarnya. Ibunya kembali sibuk merapikan meja dan duduk. Sembari menunggu Yura yang masih dilantai 2, Nyonya Jung menatap puncak kepala hingga mata kaki putrinya. “Hyerim-ah! Kau tidak cuci muka dulu. Tidak menyisir rambutmu?” Sembari mengatakan itu, Yura sudah tiba dan bergabung bersama mereka.

 

“Memang kenapa? Aku tidak ada kuliah pagi. Aku tidak perlu melakukan itu”. Hyerim segera mengambil roti tawarnya karena memang keluarganya sudah berkumpul. Hanya helaan nafas sang Ibu dan gelengan pasrah jika ia berusaha mengingatkan anak bungsunya. “Terserah kau saja. Oh ya, bagaimana kuliah kalian? Apakah berjalan lancar?” Yura yang duduk tak jauh dari Ibunya mengangguk. “Menyenangkan Bu. Tahun ini Hyerim dan aku masuk dalam 10 perfect student. Bukankah itu hal menggembirakan?” Yura menoleh, menunggu tanggapan Hyerim yang masih mengunyah rotinya.

 

“Menyenangkan? Tidak juga! Apalah dayaku yang hanya anak ingusan, tapi bagi Yura eonnie, itu sudah tidak diragukan. Ia sangat populer dikalangan pria”. Lirikan murka Yura sama sekali tidak dihiraukan Hyerim, ia tetap asyik memakan roti selai coklatnya. “Benarkah? Ibu sangat bangga pada kalian. Baiklah, ayo kita sarapan!” Nyonya Jung mendekatkan beberapa buah didepan kedua putrinya lalu ia kembali menyiapkan sarapannya sendiri.

 

Dilubuk hati Nyonya Jung, ia memang sangat berharap kedua putrinya akan menjadi seorang penyanyi. Sama seperti dirinya. Ia sangat bangga karena Yura sudah menunjukkan prestasi luar biasanya saat berumur 6 tahun. Sedangkan Hyerim masih baru-baru ini anak bungsunya sedikit menampakkan minat dalam bernyanyi. Impian awal Hyerim adalah, ia ingin menjadi chef terkenal. Ia sangat menyukai memasak dan mencoba berbagai makanan baru. Kata Ibunya, Hyerim sangat mirip dengan mendiang Ayahnya.

 

Ayahnya adalah seorang koki terkenal di Restoran yang cukup besar. Restoran mereka sangat ramai, tidak membiarkan satu menit pun kosong pelanggan. Sebelum Hyerim datang kedunia dan Ayahnya masih hidup. Penghasilan mereka sangat tinggi dan merupakan kalangan atas didaerah itu. Tapi setelah kecelakaan beberapa tahun yang lalu, kehidupan mereka berubah drastis. Bisnis yang dikelola mereka hancur dan bangkrut. Ibunya pernah mencoba melanjutkannya, tapi selera pelanggan saat itu berbeda dan tidak menyukai masakan Ibunya.

 

Untuk membayar persalinan Hyerim kala itu pun Nyonya Jung harus berhutang kesana sini. Bagaimana sulitnya Nyonya Jung menjadi orang tua tunggal. Tapi jika berusaha pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal. Entah keberuntungan apa, yang jelas saat ini Ibunya bekerja sebagai penyanyi sekaligus menjadi wakil owner di salah satu restoran bertema retro 70-an, dimana Ibunya menyanyikan lagu-lagu populer dimasa mudanya. Bayarannya cukup banyak, sehingga ia bisa menyekolahkan kedua putrinya hingga ke perguruan tinggi terbesar di Korea.

 

TING! TONG!
Suara bel pintu dipagi hari membuat keluarga kecil disana mendongak bersamaan. “Pasti itu loker koran. Bukankah kita harus membayar uang langganan bulan ini? Aku akan menemuinya”. Yura akan beranjak dari kursinya namun Hyerim menahannya. Jari telunjukknya bergoyang bermaksud mengatakan bahwa ia akan menemuinya. “Kau? Hyerim-ah, lihatlah penampilanmu dan kau…” Omelan sang Ibu terhenti saat Hyerim mencium pipi Ibunya singkat lalu mengambil lembaran uang tak jauh dari hadapannya.

 

“Anak itu”. Gelengan Nyonya Jung disambut tawa geli Yura. Seorang anak bungsu yang benar-benar membuat suasana pagi mereka cerah, siapa lagi jika bukan Jung Hyerim. Hyerim berlari kecil lalu memakai sandal rumahnya asal. Ia membuka pintu dan siap menyambut anak laki-laki peloker koran yang sudah Hyerim anggap seperti adiknya. “Jihon-ah, noona akan memberikanmu uang…” Namun visualnya berkata lain. Kedipan panik diantara sepasang bola mata sesosok 2 manusia yang saling berhadapan itu membuat jantung Hyerim seakan copot.

 

Pria itu, sosok yang paling ia benci didunia seakan menelanjangi tubuhnya dari atas hingga mata kakinya. Kemudian pria itu tertawa, bukan tertawa ramah dan lucu melainkan tawaan mengejek. Siapa lagi jika bukan Byun Baekhyun. “Ya! Jadi begini sosok pagi hari ketika seekor badak bangun? Menakutkan!” Hyerim mundur 2 langkah, lalu jari telunjuknya mengarah kehadapan Baekhyun. “K.. Kau? Ke.. Kenapa kau didepan rumahku? K..Kau ingin mati?” Hyerim melepas sandalnya dan bersiap melemparkan benda itu tepat diwajah Baekhyun.

 

“Hyerim-ah, ada apa? Siapa itu!?” Hyerim mengerjap, menjatuhkan sandalnya lalu memakainya kembali. Ia membalikkan tubuhnya. “I.. Itu hanya saja…” Namun sosok Kakaknya sudah terlebih dulu tampak dihadapan mereka. Tentu saja Yura ikut terkejut karena di pagi ini sudah ada tamu berkunjung. “Hyerim-ah, itu temanmu? Kenapa kau tidak membiarkan dia masuk?” Hyerim menoleh, menatap Baekhyun dengan bergidik ngeri. Pasalnya ia bisa melihat telinga Baekhyun memerah, seakan menahan malu dan cemas.

 

“Selamat pagi noona, aku Byun Baekhyun. Teman baik Jung Hyerim. Aku bermaksud berangkat kuliah bersamanya pagi ini”. Baekhyun membungkuk hormat lalu memeluk bahu Hyerim erat, seakan berpura-pura bahwa mereka adalah teman dekat. “Ahh benarkah? Kalau begitu, ayo ikut sarapan bersama kami! Hyerim-ah, bawa temanmu masuk!” Yura masuk, meninggalkan dua musuh sejoli ini menatap risih.

 

“Teman baik? Lebih baik aku akan memilih terjun setelah ini!” Hyerim berlalu, meninggalkan Baekhyun yang masih mematung didepan pintu. Namun tak ayal Baekhyun segera menarik lengan Hyerim, membuat gadis itu menaikkan alisnya. “Ayolah Jung, kau tak boleh membiarkan temanmu ini kelaparan? Temani aku makan. Oke?” Baekhyun kembali memeluk bahu Hyerim erat. Hanya dengusan kasar keluar dari mulut Hyerim. “Terserah kau!”

 

Mereka berjalan bersama, menuju meja makan yang sudah tersiap sejak beberapa menit lalu. Baekhyun dan Hyerim duduk berdampingan. Ibunya menatap Hyerim prihatin dan berusaha memberi kode pada anak bungsunya untuk mencuci muka atau menyisir rambutnya, namun kode sang Ibu sia-sia. Nyatanya Hyerim tak peduli dan kekeh mengambil beberapa helai roti dan pengoles selai. Sadar karena anak bungsunya sama sekali tak menghiraukan, Nyonya Jung beranjak mengambil roti dan meletakkan diatas piring milik Baekhyun.

 

“Anak tampan, namamu siapa? Sepertinya Hyerim jarang sekali membawa temannya kesini. Kau satu angkatan dengannya?” Nyonya Jung tersenyum ramah, membuat sang terdakwa Baekhyun menatap canggung, tak sangka jika ia berbicara dengan Ibu Yura atau Ibu si badak Hyerim. Lirikan malas dari Hyerim begitu kentara, membuat Baekhyun semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya. “Namaku Byun Baekhyun. Benar Bibi. Kami adalah teman dekat saat pertama kali masuk. Hyerim adalah gadis yang ramah, aku sangat nyaman berada didekatnya. Itu benarkan Hyerim-ah?”

 

Baekhyun menoleh, menunggu reaksi Hyerim yang justru sama sekali tak menghiraukannya. “Aku sering melihat kalian mengobrol dikampus”. Akhirnya Yura angkat bicara, seakan setuju dengan pernyataan ‘teman baik’ yang dilontarkan Byun Baekhyun. “Mengobrol dalam hal yang tidak penting. Itu benar”. Akhirnya Hyerim membuka suara, tanpa menatap sang Kakak ataupun Baekhyun yang sedang mencomot rotinya.

 

“Ahh, aku harus segera berangkat. Aku ada kelas pagi ini. Ibu, aku berangkat!” Yura meneguk susu hangatnya lalu menyambar tasnya, meninggalkan kesan tergesa-gesa. Baekhyun ikut beranjak kemudian meneguk susunya juga, memakai tas nya terburu-buru lalu menatap Nyonya Jung. “Maaf Bibi. Aku lupa jika Hyerim tidak ada kelas pagi ini. Kebetulan aku juga akan terlambat. Sebaiknya aku harus pergi sekarang. Terimakasih atas sarapan yang enak ini Bibi. Aku tidak akan bosan-bosan untuk mampir kembali”. Baekhyun memberi salam sopan dan disambut ramah oleh Nyonya Jung.

 

Kemudian ia menatap Hyerim, seakan bersiap menerkam mukanya. Sekilas Hyerim meneguk susunya kasar, meninggalkan bekas susu dipinggiran bibirnya. “Hyerim-ah, aku berangkat. Sampai bertemu siang nanti! Bye”. Sebelum hilang dari pandangan Hyerim, tak lupa Baekhyun sengaja menjulurkan lidahnya. Mengisyaratkan bahwa ia sudah memulai aksi untuk memenangkan taruhan mereka.

 

Sungguh, Hyerim ingin melempar gelas susu kosongnya mengenai wajah Baekhyun. Sungguh. Ia sebal dengan tiap lekuk ejekan dari Baekhyun. Rasanya bagaikan malapetaka jatuh dari hidupnya. Ia mendengus kasar lalu beranjak. Membuat Nyonya Jung yang sibuk membereskan piring-piring menatap putrinya penuh tanya. “Ibu, aku lupa jika ada kelas 1 jam lagi. Aku ingin mandi!” Hyerim beranjak dan berlari kecil menuju lantai atas. “Hmm? Bukankah dia bilang ada kelas siang dan temannya bilang Hyerim tidak ada kelas pagi? Tck, dia mencoba berbohong padaku? Ya! Hyerim-ah!”

 

Namun teriakan Nyonya Jung percuma, putrinya sudah menghilang. Sejujurnya benar, Hyerim bohong akan hal itu. Ia tidak ingin terlambat kali ini. Bukan terlambat karena jam kuliah, tapi ia tidak ingin Baekhyun merasa puas dan menang akan taruhan ini. Ia sama sekali tak memulai aksinya. Ia akan memulai nanti, ia benar-benar akan melakukannya. Bertemu dengan Kyungsoo dan melancarkan aksinya. Atau ia ingin jika Baekhyun melihat aksinya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Baekhyun. Hyerim bukan seorang yang mudah putus asa. Ia akan membuktikannya dan benar-benar akan melakukannya. “Kau lihat saja Byun. Kau lihat saja!”

 

 

***

 

 

Deretan buku cukup tebal diatas meja tak membuat Baekhyun menghilangkan fokus pada wanitanya. Mungkin ini adalah kesempatan emas, karena untuk pertama kalinya ia dapat berbicara banyak dengan sang pujaan, Shin Yura. Ia mengambil kesempatan meminta bimbingan gadis itu, bukan menambah wawasan ilmu. Lebih tepat menambah tentang wawasan seluk beluk dibalik sisi anggun Yura.

 

Telunjuk Yura pada sederet kalimat didalam buku tak diperhatikan Baekhyun dengan benar. Mata lebarnya masih enggan menatap lain, tak rela jika ia mengabaikan mata hazel indah itu sedetik pun. Baekhyun tak tahu jika ada yang memperhatikan mereka dibalik rak buku. Dan gadis bernama Jung itu mendengus saat sudah tiba di Perpustakan.

 

Yeah, pemandangan kampungan menurut Hyerim. Ada rasa dimana jantungnya berdegup cepat dan sesak dalam waktu bersamaan. Rasanya emosi memuncak tiba-tiba. Intinya ia malas begitu sudah melangkahkan kakinya masuk. Ia terdiam, cukup lama. Masih membawa beberapa buku untuk mengerjakan tugas. Dan tak ada hasrat untuk mengerjakannya.

 

Hyerim melaju, memperhatikan keduanya yang sedang asyik membahas sebuah buku. Mungkin tidak ‘itu’, lebih tepatnya membahas diri mereka. Oh ayolah, Hyerim hanya tidak ingin kalah dengan Baekhyun. Bukan karena hal bodoh lainnya. “Yura Eonnie!” Hyerim menarik lengan Yura untuk menjauh dari Baekhyun. Dan ya, pria itu kebingungan karena sosok astral bernama Hyerim telah menghancurkan semuanya.

 

“Ya! Ada apa? Aku sedang bicara dengan temanmu!” Protes Yura. Hyerim berdehem, seakan berpikir untuk mengagalkan aksi makhluk primata itu. “Sudah makan siang? Temani aku makan! Hmm?” Baiklah, kata ‘hmm’ seakan terdengar aegyo membuat Yura bergidik ngeri dan menggelengkan kepalanya. “Aku sudah makan siang dengan Baekhyun tadi. Baiklah, aku akan menemanimu!” Sebelum Yura berbalik mengatakan pada Baekhyun, pria itu justru menyambar lengan Hyerim dan menariknya sedikit kasar keluar dari Perpustakan. “Ya! Lepaskan aku!” Percuma, kekuatan Hyerim tak sebanding dengan tangan Baekhyun.

 

“Noona, ada yang ingin aku bicarakan dengan Hyerim. Tunggu disini!” Kata Baekhyun dengan senyum termanisnya sambil berlalu. Hyerim mengaduh, memutar pergelangan tangannya supaya Baekhyun melepas tangannya. Ataupun jika perlu apakah ia harus mengigit tangannya? Sebelum rencana itu terlaksana, Baekhyun telah menghempaskan lengannya kasar dan memandangnya heran.

 

“Kenapa kau memandangiku seperti itu? Kau berani padaku! Kemarilah jika kau mau beradu jotoh denganku!” Hyerim mengepalkan tangannya, siap jika saja Baekhyun melawannya. Namun pria itu berdecis, menampakkan senyum muaknya yang teramat. “Apa kau iri karena aku aku sudah sejauh ini Jung? Ayolah, kau bukan anak 5 tahun melakukan hal sepicik ini. Kau tak perlu menghancurkan rencanaku lagi. Apa kau yakin aku akan menang? Terimakasih! Aku akan mengucapkannya lebih awal”.

 

Demi ikan paus yang terdampar di Galaxy ia ingin muntah diatas rambutnya. “Tck, apa kau takut? Itu sebagian dari rencanaku selain dekat dengan Kyungsoo, hyun-ssi. Asal kau tahu saja. Jung Yura, Kakakku nan cantik jelita itu tak akan menerimamu. Percayalah padaku. Kau harus menerima kekalahan sebelum aku mengucapkan keprihatinanku. Apa aku perlu mengucapkan sekarang?” Hyerim menantang. Seakan tak takut dengan rencananya. Ia yakin bahwa ia bisa menaklukan Kyungsoo setelah ini.

 

Baekhyun melangkah, mendekati Hyerim selangkah demi selangkah. Alhasil gadis itu mundur, menatap aura Baekhyun yang tak sedang dalam mood bercanda. “Jung Hyerim! Selamat siang!” Demi cupid yang sudah bernaung di pundak Hyerim, demi pangeran sang penyelamat hidupnya, badan Hyerim kaku sesaat. Oh ayolah, suara itu membuat bulu kuduknya merinding. Suara yang terdengar seksi sudah menghipnotisnya, mengabaikan Baekhyun yang memandangnya murka.

 

Senyuman nan indah itu telah membuat Hyerim seakan ingin menendang Baekhyun jauh-jauh. “Kyungsoo-ssi, tunggu aku! Ada yang ingin aku bicarakan!” Sadar Hyerim berteriak dengen seseorang, Baekhyun menuju ke sosok yang menjadi pusat perhatian Hyerim. Yeah, dia adalah Kyungsoo. “Minggir kau pecundang!” Hyerim mendorong membuat Baekhyun serasa menendang dengan cara tak manusiawi. “Mau kemana kau?” Teriakan tak terima Byun Baekhyun sungguh tak dihiraukan Hyerim. Hanya lidah yang terjulur yang ia dapatkan. “KITA BELUM SELESAI BICARA. BERHENTI KAU JUNG!”

 

 

***

 

 

Sudah beberapa hari ini mereka jarang mengobrol, mungkin karena kelas yang mereka ambil berbeda. Hyerim sendiri tak ingin mengambil kelas pagi walaupun kelas itu terdapat sang Do Kyungsoo. Kemalasannya tak akan bisa terpengaruhi hanya seonggok cinta. Dan hari ini. Ya, hari ini. Sudah disebut mujizat jika ia mengobrol kembali dengan Kyungsoo. Ditempat biasa, ditempat dimana mereka selalu berbicara banyak.

 

Siang menjelang sore, lapar yang sedari tadi dirasakan Hyerim hilang. Menikmati lekuk wajah Kyungsoo pun sudah membuat lupa dengan kebutuhan nutrisinya. Lucu memang, ia tidak sedang menggombal dalam diri sendiri. Jatuh cinta itu unik memang. Cuaca siang hari panas, tapi karena udara segar membuatnya menghindari itu semua. Ditambah seorang pangeran yang sudah membuatnya tak henti tersenyum. Pria itu sedang bersender, kedua lengannya sebagai pengganjal kepala untuk menikmati langitnya biru di musim panas. Demi alien-alien yang memasuki Bumi, rasanya ia ingin ke menghentikan waktu sebentar saja.

 

Sekedar menikmati senyuman itu lebih lama, menyentuh bibir itu. Astaga, membayangkan saja sudah membuat Hyerim geli. “Kau sepertinya sangat dekat dengan Baekhyun. Kalian teman semasa sekolah?” Percakapan dimulai. Tapi awal yang menyebalkan menurut Hyerim. Heol, teman semasa sekolah. Ia bersumpah akan keluar jika ada Byun Baekhyun.

 

“Kami tidak dekat. Aku baru mengenalnya beberapa bulan yang lalu”. Tegas Hyerim. “Benarkah? Tapi aku melihat kalian sering bersama-sama. Ternyata bukan? Aku mengerti”. Oh come on boy, senyuman pemilik bermarga Do itu benar-benar memabukkan dan candu. “Hyerim-ah, kau ingin membantuku?” Kyungsoo menoleh, menatap wajah Hyerim yang sudah bagai tomat pecah.

 

Gugup, gugup, gugup. Ini memalukan. “A.. Apa?” Lihat saja tangan Hyerim, ia tidak berhenti memilin kaosnya sedari tadi. Seakan kepalanya meledak karena sudah memerah dan lidahnya kelu tiap Kyungsoo memandangnya seperti itu. “Y.. Ya! Jung Hyerim. Ada apa denganmu? Kau sakit?” Sebelum punggung Kyungsoo mempertemukan ke dahi Hyerim, gadis itu sudah beranjak.

 

Dan apa yang ia lakukan? Hyerim mulai menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya seraya panas jika ia terus duduk dibangku itu. Jatuh cinta memang unik dan menyeramkan. Tawa kikuk Hyerim semakin kencang, ia mencoba menetralkan suasana yang terkesan memalukan itu. “Hahaha. Ahh, itu?” Dan gadis itu kembali duduk. Dan lagi-lagi kakinya kembali bergerak seirama. “Apa yang harus aku bantu?” Ini kesempatan emas, kesempatan Jung Hyerim. Batin Hyerim mulai meronta-ronta memberikan secercah harapan yang terbuka lebar.

 

Kata beberapa orang, bahasa tubuh yang sangat jelas dan tak berbohong adalah mata. Mungkin tanpa melihat mata pun semua orang akan tahu bahasa tubuh Hyerim yang seakan seperti ulat bulu sedang jatuh cinta. Tapi bukan Jung Hyerim jika ia bukan salah satu dari kata beberapa orang itu. Ia bukan sosok yang mengerti akan bahasa dalam mata. Walaupun ia merasakan sensasi aneh saat Kyungsoo menatapnya. Sungguh, ini sangat berbeda. Tapi ia tak tahu apa itu.

 

“Besok, Ayah dan Ibuku datang dari Swiss. Aku sudah membeli beberapa makanan untuk aku hidangkan kepada mereka. Kau bisa membantuku membuat kimchi dan makanan lainnya”. Minta Kyungsoo. Dan tak ayal Hyerim hanya berkedip, seakan permintaan Kyungsoo benar-benar tak terlintas dipikirannya. “Aku butuh bantuanmu. Bibi sedang libur bekerja, tidak ada yang membantuku. Tak apa jika kau keberatan”. Dan bagaimana ekspresi Hyerim saat ini?

 

Mulutnya ingin menganga karena seakan sistem panca indera seolah tak bekerja, sesuatu reflek yang membuatnya mati rasa sepersekian detik. Cukup usaha untuk menetralkan semuanya. Hyerim tersenyum, menggaruk tengkuk lehernya yang memang tak gatal. Ini adalah kesempatan emas Jung Hyerim. Kata dalam hati kecil Hyerim seolah berteriak. “Baiklah, aku akan membantumu”. That’s right! Langkah dimulai hari ini.

 

Kyungsoo menyerahkan ponselnya dan Hyerim menerimanya. Tentu saja gadis itu kebingungan. “Berikan nomer ponselmu! Aku akan menjemput ke rumahmu”. Pinta Kyungsoo. Seolah suara terompet teriang-ngiang membuat Hyerim ingin berteriak saat ini juga. Kali ini, ia punya nomer ponsel dari Do Kyungsoo. Seperti reward dalam sebuah permainan lotre. Hyerim mengangguk, menyembunyikan rasa kebahagiannya. Ia bisa kapanpun menghubungi Kyungsoo, sangat bisa. Kesempatan itu semakin terbuka lebar. “Ini! Aku tulis dengan nama Hyerim”. Kata Hyerim sambil mengembalikan ponsel Kyungsoo.

 

Kyungsoo menerimanya dan memasukkan ponsel dalam sakunya. “Baiklah, aku akan menghubungimu nanti. Ahh~ Kita lanjutkan mengobrol nanti, aku ada jam kuliah. Bye!” Pria itu melambaikan tangan, kemudian hilang saat menuruni tangga. Beku, Hyerim hanya duduk membeku. Sedetik kemudian, senyumnya tersungging kemudian menjadi semakin lebar. “KYAAAA!!!” Baiklah, Hyerim sudah tak tahan untuk menyembunyikan kebahagiannya. Ia bisa saja melakukan hal-hal gila seperti menari bebek, melompat, berteriak dan berguling-guling ia akan lakukan jika ditempat ini. Dan ya, jatuh cinta memang unik dan terkadang menyeramkan.

TO BE CONTINUE …

 

Yuhu. Seperti biasa hari Jumat FF Heart Attack *goyang-gebor-mujair

bagaimana? Baek — hyerim? dio — hyerim? yura — baek? atau L.Kyo — baek x dio? eh?

Ah sumpah yak, aku lagi terserang Writer Block beneran. Alasan kenapa aku posting tiap semingu sekali tiap jumat biar kalian ga awalnya cepet ni FF lanjut terus tetiba eh ini mana FF H.A hilang alias belum aku lanjutin karena Webe?

Kalian sangka L.Lyo PHP atau apa. Tapi aku usahain, ceritanya chap 5 nya lagi setengah jadi. Awal maret keknya aku sudah sibuk sekali. Aku gatau bisa buat FF dengan mood baik atau enggak. Tapi aku juga pengen banget namatin ini FF. Ini FF ada jaman 2 tahun, gak kulanjut juga. Tapi aku niatin END in kok. Beneran! SUER! Hihihihihihihi~

 

Ahh udahlah, daripada kalian galau mikir EXOLUTION INA! MEnding berkahayal aja bareng Oppa Oppa fana, kalian harus belajar yang bener, ingat kata KAI. Temui mereka saaat kalian sukses. bangga kan kalau pergi ke konser pake duit sendiri? Beneran L.Kyo ga baper, karena emang real life yang ga memungkinkan. Lah kok curhat begini. UDah ah~ Kebanyakan kek drabble. Sekian. sampai bertemu di chap 5 minggu depan. Lav yuuh!

 

by. L.Kyo

 

40 tanggapan untuk “[Chaptered] Heart Attack (4th Chap) | by L.Kyo”

  1. Yang aku pikirkan adalah siapa yang memulai pendekatan lebih dulu. Jung hyerim atau malah Do kyungsoo?
    Ayolah Baek. Jangan ganggu hyerim.
    Ups. Hyerim jangan ganggu baekhyun. Kalo gak. Kalian bakal saling jatuh cinta. Hahaha.
    Makasih kak, buat ff seru nya.

  2. ih aku nggak ngeh kalo part 4 udah di lanjut, aku tadi udah sempet ke part 5 cuma asa aneh sih laya yg part sebelumnya belum baca gitu ternyata bener 😀
    semangat nulis!

  3. Waah ceritanya seru bgt nih😍😍
    Padahal niat awalnya pengen searching buat ngerjain tugas tp gegara nemu ni ff jadi kelupaan dah😁😁
    Next chaptnya d tunggu ya. Semangat trs buat nulisnya!!

  4. Omonaa~!! Ff fav, akhirnya update jugaaaaa!^^
    Semoga virus webe yg sedang melanda author cepet pergi ya thor hahahaha
    Vita-baek? Vita-Kyungsoo? Itu lucu thor hahahah:D
    BaekRim makin lucu thor astagaaaaaaaa:3 tp kyungsoo-Hyerim juga bagus wkwkwkwk
    Intinya keep writing deh thor!! Ditunggu buat minggu2 selanjutnyaaa hehehe^^

  5. duhhh,,momentnya hyerim-kyungsoo,,sweet bnget,,,,,!!!klo hyerim-baekhyun,,kaya tom-jerry! lucuuu,,,!!!!yg mana aj deh ,,tp lucu jg,,klo kyungsoo- hyerim,baekhyun-yura,pada jadian trus tiap x ketemu atw kumpul d rmh hyerim,,suka saling ngejek/musuhan,,jadi lbh serru!! jadi bagi hyerim ,baekhyun adalah sahabat yg rese,,sedangkan kyungsoo buat hyerim adalah cinta dan sayang,!
    pokoknya d tunggu lanjutanya!!!
    smangat authornim Lkyo!
    tg 27,,galau d rumah,,nitip salam aj sama yg bisa liat aksi panggung Bias!

    1. wakakakakka. ide bagus reisya. ku lagi mikir biar gimana hub cinta persegi ini ruwet tapi lucuk.. wkakakakak..

      sip! ditunggu yak!! next week..
      tgl 27? aku nnton di pc aja. kebetulan ada videp full konser exo the planet #1 seoul yang blm kutonton hingga skrg. jadi 11 12 lah nnton konser. cuma beda lokasi.*L.Kyo seterong, *L.Kyo mencoba menghibur diri

  6. Whuhaaa…
    Daebak.. Aku setuju baek-hyerim. Mereka ituuuu… Whuhaa… NextChap banyakin BaekRim nya kakak.. “puppyeyes
    Sedih rasanya ketemu tulisan To Be Continue. “Hiks hiks
    Yehet aku firstcommen..
    Lanjut kakak! harus di tamatin pokoknya! “PleasePuppyEyes
    Ngomongin EXOLUXION INA rasanya nysek juga nda bisa liat “hikshiks
    Udahah kepanjangan nanti di omelin
    Lanjut ya kak ditunggu selalue

    1. Eh aku kira aku firstcommen padahal engga.. Haha kurang fokus akunya.. gegara kesenengan nextchap nongol. Mian mian kakak. Jeongmal mianhae. Nextchap aku firstcom lah.. 🙂

    2. hahahha. oke deh..
      hikseu, ak juga ga nnton. tapi dont woory, oppa2 pasti akan apel lagi. nabung yg banyak, ga sampe minta ortu itu baru keren.. iya gak>?

      hahahha~ kapan2 aku tunggu first komen dari km hyunmi-chan/??? awas kalo enggak!! ^^

    1. wkakakakaka~ iya kode. ajak ngedate sebenernya, pake alasan mainstream kek gitu.. wkakaka.. iyaaaakk,,,, ihh! jangan panggil authornim. panggil L.Kyo ajahh lebih kiuut

  7. Waaaa tambah serruu nextt thorr gak sabar gimana nanti hyerim sama kyungsoo :’v Kira-kira baekhyun tau gak ya? waaa cepetan ya thorr

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s