[EXOFFI FREELANCE] Skyreach (Chapter 2)

skyreach.jpg

Skyreach (Chapter 2 – The Loss of a Pencil)

 

Cast                 :

  • Kim Eunbi (OC)
  • Oh Sehun
  • Byun Baekhyun
  • Jang Nana
  • Han Seulbi

Genre              : Mystery, Romance

Author             : Aichan

Length             : Chapter

Rating             : T

Disclaimer       : FF ini murni hasil karya imajinasiku. Semua yang ada di FF ini hanya fiksi belaka. Jangan lupa kritik dan sarannya. Don’t be plagiat. Happy Reading.. ^^

PART 2

EUNBI POV

Hari ini cukup menyebalkan bagiku. Ya, benar-benar menyebalkan. Ini semua akibat ulah Im Sonsaengnim yang membuat ulangan matematika dadakan dipelajaran pertama pagi ini. Ini tidak seperti bisanya, bagaimana bisa Im sonsaengnim membuat ulangan seperti itu. Yang benar saja, bagiku ulangan dadakan itu seperti sebuah penderitaan yang menyesakkan. Tidak dadakan saja dengan aku mempersiapkannya, nilai ulangan matematikaku tidak ada kemajuan. Bagaimana dengan ulangan dadakan seperti barusan? Aah, aku sudah membayangkan bagaimana hasilnya. Pasti buruk, benar-benar buruk.

Aku menghela nafas panjang. Memikirkan ini terus menerus bukanlah hal yang baik untukku. Setidaknya untuk saat ini, aku harus lebih menikmati waktu istirahat singkatku ini dengan baik. Tapi, entah kenapa, ini benar-benar menggangguku.

“Eunbi-ah, berhentilah terlihat murung,” ucap salah seorang temanku sambil memberikan sekotak susu vanilla ke hadapanku. Aku mencoba tersenyum kecil sambil meraih susu kotak itu dan mulai membuka ujungnya. Ia buru-buru duduk di sampingku dan memperlihatkan senyuman manisnya. “Ulangan Matematika itu jangan kau terlalu pikirkan.”

Aku meminum habis susu kotak itu sekali teguk. Bekas-bekas susu yang ada diujung bibirku, ku hapus asal dengan jemari kananku. Untuk kedua kalinya, lagi-lagi aku menghembuskan nafas panjang. “Kau bicara seperti itu karena ku tau, nilai matematikamu pasti bagus dengan atau tanpa belajar,” ucapku yang kemudian melempar bekas kotak susuku itu ke tempat sampah yang ada dihadapanku. Aku tersenyum kecil begitu lemparanku tepat sasaran. “Berbeda denganku, Nana.”

Nana mengubah senyumnya, ia tersenyum kecut. “Itu hanya matematika. Nilaiku hanya baik di matematika. Tidak dengan mata pelajaran yang lain. Sama sepertimu, kau bagus dalam hal olahraga dan seni tapi buruk dalam hal matematika. Aku juga demikian. Jadi jangan terlalu dipirkan. Oke,” ucapnya sambil memamerkan ibu jarinya ke atas. Apa yang diucapkan Nana ada benarnya juga, akupun tersenyum kecil merespon ucapannya itu. “Aah, aku membawa bekal makan siang. Kau mau mencobanya?”

Aku melihat kotak makanan berisi mozarella dan club sandwich yang sudah tertata rapih dipangkuan temanku itu. Senyuman manisnya masih terlihat jelas diwajahnya begitu ia membuka bekalnya itu. Aku juga ikut tersenyum melihat makanan yang dibawanya itu, telihat sangat menggoda. “Kali ini siapa yang membuatnya. Kau atau ibumu?” tanyaku antusias. Aku sebenarnya lebih berharap jika bekal ini dibuat oleh Nana sendiri dibandingkan dengan ibunya. Meskipun ibu Nana adalah seorang juru masak terkenal yang bahkan wajahnya sering muncul di acara kuliner minggu pagi, tapi entah kenapa, aku lebih menyukai masakan temanku itu.

Nana tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia melihatku dengan sebelah alisnya yang dinaikkan. Sesaat kemudian ia mengambil satu bagian club sandwichnya dan disondorkan ke arahku. “Kau coba saja terlebih dahulu. Setelah itu, kau coba tebak. Ini masakanku atau ibuku,” ucapnya tak kalah antusias.

Tanpa banyak berpikir, aku mengambil sandwich itu dan mulai menggigit ujungnya. “Aah, ini masakan ibumu,” ucapku dengan nada kecewa yang tidak bisa kusembunyikan.

Nana tertawa kecil mendengar jawabanku. “Lihat kan, dugaanku benar. Lidahmu benar-benar sangat peka, Eunbi,” ucapnya sambil meredakan tawanya. “Kau benar, ini buatan ibuku. Aku tidak punya banyak waktu untuk memasak pagi ini, dan ibuku, dengan senang hati membuatkanku bekal makan siang untukku di tengah kesibukannya, meskipun hanya sekedar sandwich. Tapi, ini rasanya enak kan? Lalu kenapa ada nada kecewa dari ucapanmu barusan?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Nana. Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya. Pandanganku kini lurus ke depan, melihat antrian murid yang ingin mengambil makan siangnya di kantin sambil memakan sandwich yang ada ditanganku. Waktu sudah berlalu lima menit saat aku datang ke kantin ini, dan antrian itu tidak menunjukkan tanda-tanda berakhirnya. Masih terlihat ramai. Itu wajar saja, jam-jam seperti ini memang saat terpadat di kantin.

“Hey, apa kalian sudah dengar berita tentang anak baru itu?”

“Ya, aku sudah mendengarnya. Kabarnya ia berasal dari Jerman yaa. Keren sekali.”

“Aku juga dengar kalau anak baru itu juga tampan dan pintar. Aahh, hebat sekali bukan.”

Tanpa sadar aku menoleh memperhatikan segerombalan yeoja yang sedang mengobrol membahas sesuatu yang sudah tidak asing lagi ditelingaku. Ya, aku hampir selalu mendengar tema dari obrolan itu yang sedang hangat dibicarakan dikalangan yeoja belakangan ini. Entah itu di kamar mandi, taman bahkan di kantin seperti ini. Membosankan..

Nana sepertinya juga mendengar obrolan dari sekumpulan yeoja itu, ya tentu saja, mereka duduk tak jauh dari tempat kami. Ia kemudian tersenyum kecil. “Waah, teman masa kecilmu itu sepertinya mulai terkenal,” ucapnya sambil menggodaku. Aku tidak terlalu menggubrisnya. “Sayang sekali ia tidak sekelas dengan kita. Wajar sih, jika dia pintar seperti ceritamu itu, sudah pasti dia masuk kelas 2A seperti sekarang ini. Lalu semuanya,”

“Heboh membicarakan dia,” ucapku memotong perkataan Nana seakan tau kata-kata apa yang tepat untuk melengkapi kalimatnya barusan. “Aku bingung, sebenarnya apa sih hebatnya dia sampai banyak yeoja yang membicarakannya. Aneh sekali.”

Sebenarnya aku hanya asal bicara tadi, aku tau persis apa yang menyebabkan temanku itu, Oh Sehun begitu terkenal dikalangan yeoja saat ini. Semenjak ia pindah sekolah yang juga merupakan sekolahku saat ini, banyak yeoja yang mulai mendekatinya. Oleh karena itu, bahkan dari awal ia masuk sekolah, aku tidak pernah berbicara dengannya disekolah ataupun hanya bertegur sapa. Kami hanya berangkat bersama dari rumah dan setelah sampai di sekolah kami sudah seperti dua orang yang saling tidak mengenal satu sama lain. Itu semua karena Sehun selalu saja menjadi pusat perhatian dan aku merasa aneh, jika tatapan-tatapan banyak yeoja juga mulai ikut memandangiku kalau aku sedang bersamanya. Lagipula Sehun lebih memilih menghabiskan waktunya diperpustakaan ataupun membaca buku dikelas, yang menurutku itu bukanlah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi.

Nana tersenyum geli. “Kau kan temannya. Bukankah kau yang seharusnya lebih mengetahui seberapa hebatnya dia sampai dibicarakan oleh banyak yeoja. Benar kan?” ucapnya sambil menutup kotak bekalnya yang tanpa terasa isinya sudah habis oleh kami berdua.

Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan Nana, memikirkan jawaban yang tepat untuk itu. Beberapa saat kemudian aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pelan. “Aku hanya tau, jika dia adalah namja yang tidak populer di Jerman. Tapi, kenapa sekarang ia bisa berubah menjadi populer seperti ini. Membingungkan,” ucapku dengan sedikit penekanan diujung kalimatku barusan. “Yang benar saja.”

***

‘Apa yang terjadi?’

Pikiran itu muncul begitu melihat pemandangan yang ada dihadapanku saat ini. Kelasku, lebih tepatnya kelas 2C, begitu ramai dikelilingi murid dari kelas lain. Aku dan Nana saling berpandangan melihat kondisi ini, nampaknya ia juga bingung sama sepertiku. Tanpa banyak bicara, kami menyelinap memasuki kelas dengan susah payah. Kedua pintu kelas hampir seluruhnya tertutupi oleh gerombolan-gerombolan orang yang tampak serius mengamati peristiwa yang terjadi dikelasku.

“Kau mengaku saja, jangan membuat masalah ini semakin rumit,” teriakan itu begitu jelas terdengar ditelingaku. Meskipun itu bukan mengarah padaku, tapi aku mendengarnya dengan jelas. Aku mengenal pemilik suara itu, dia Seulbi, Han Seulbi, salah seorang teman sekelasku. “Kembalikan pensilku!”

Aku melihatnya teriak pada seorang namja yang juga aku kenal. Dia Byun Baekhyun, teman sekelasku yang duduk tepat dibelakangku. Aku heran, sebenarnya ada masalah apa? Kenapa Seulbi memarahi Baekhyun? Tapi sepertinya, Baekhyun tidak begitu memperdulikannya. Ia hanya diam dan terus memainkan ponselnya, meskipun aku menyadarinya, memainkan ponsel hanya sekedar untuk mengalihkan pandangannya dari Seulbi. Aku melihat jelas dari matanya.

“Jongwoo, apa yang terjadi?” ucap Nana yang berjalan pelan menghampiri Jongwoo yang ada dihadapan kami, aku pun mengikutinya dari belakang. Wajah serius Jongwoo memudar begitu mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh memandang Nana dan aku secara bergantian. “Kenapa Seulbi berteriak pada Baekhyun? Ada apa?”

Jongwoo tidak segera menjawab, ia membenarkan posisi kacamatanya terlebih dahulu. “Seulbi mengamuk hebat begitu tau pensilnya telah hilang,” ucapnya sambil berbisik. “Aku tidak tau alasannya, tapi ia menuduh Baekhyun yang mengambilnya.”

Aku mengerutkan kening tak habis pikir mendengar penjelasan singkat temanku barusan. “Hanya karena sebuah pensil Seulbi jadi seperti ini. Yang benar saja!” ucapku sambil menggelengkan kepalaku pelan. “Kekanak-kanakan.”

Jongwoo berdeham pelan. “Masalahnya itu bukan hanya sekedar pensil biasa, Eunbi. Aku tidak tau detailnya, yang jelas, pensil itu  kudengar harganya bisa mencapai € 10000,” ucapnya yang seakan tak menduga apa yang dilontarkannya itu adalah sebuah fakta. “Seulbi terus-terusan meneriaki harga pensilnya itu sambil memaki Baekhyun.”

Aku dan Nana saling berpandangan tak percaya. “Apakah ada pensil dengan harga semahal itu?” ucapku sambil menyipitkan kedua mataku. “Jika semahal itu kenapa Seulbi membawanya ke sekolah bukannya menyimpannya di tempat yang aman. Seperti di bank misalnya.”

Nana menyikut lenganku pelan. “Bank itu tempat penyimpanan uang, bukan tempat untuk menyimpan pensil seperti yang kau pikirkan,” ucapnya yang ku sadari, ia memandang Baekhyun dengan tatapan khawatir. “Tapi kenapa Baekhyun?”

Aku juga ikut mengamati Baekhyun, kondisinya benar-benar memang menghawatirkan. Meskipun diluar ia nampak tidak peduli, ku pikir dalam hatinya ia juga memikirkan hal ini. Dimaki oleh Seulbi bukanlah hal yang baik. Seulbi dikenal sebagai gadis berlidah tajam yang cukup angkuh. Bahkan makian yang ia lontarkan pada Baekhyun sejauh yang aku dengar, benar-benar jahat. Aku sempat berpikir, berapa lama lagi Baekhyun bisa tahan dengan kondisinya sekarang ini. Dia bukanlah orang dengan tipe kesabaran yang tinggi.

Kulihat Baekhyun menghembuskan nafas panjang. Rambutnya ia acak-acak frustasi. Ia juga menggelengkan kepalanya sambil menggaruk sebelah telinganya yang kupikir sudah gatal mendengar ocehan Seulbi. “Sudah cukup tuduhanmu itu, Seulbi?” ucapnya sambil memasukan ponselnya itu ke dalam saku celananya. “Tuduhan tanpa bukti, bukankah itu hal yang tidak masuk akal.”

Seulbi mendesah kesal. “Bukti katamu? Huh!” ucapnya tak sabaran. “Tidak perlu bukti untuk mengetahui kaulah yang mengambil pensilku itu. Benar saja, apa aku perlu menjelaskannya. Satu-satunya orang yang patut dicurigai dari insiden ini hanyalah kau.”

Baekhyun berdiri dari posisinya. Ia memandang Seulbi dengan tatapan tak percaya. “Kenapa hanya aku satu-satunya orang yang patut dicurigai? Kenapa?” ucapnya sambil melipat kedua tangannya didada. Belum sempat Seulbi menjawab, Baekhyun sudah mendahuluinya. “Aah, apa karena sikapku selama ini. Kau pikir, preman sekolah sepertiku ini lebih pantas dicurigai dibandingkan dengan, ya, mungkin teman sebangkumu yang justrul lebih mengetahui lebih dalam tentang pensil mahalmu itu. Perlu kau ketahui, mekipun aku ini orang yang senang berkelahi, aku tidak akan pernah mencuri barang apapun meskipun itu hanya sebutir permen coklat milik orang lain. Aku tidak serendah itu.”

Hyora yang sadar dirinya dikaitkan dengan insiden ini langsung angkat bicara. “Aku tidak mungkin mengambil pensil Seulbi. Tidak mungkin,” ucapnya tegas. “Lagipula saat jam pelajaran matematika tadi, saat ulangan berlangsung. Aku tau, kau daritadi memperhatikan Seulbi bukan? Aah, ani, aku tidak begitu yakin, sebenarnya yang kau perhatikan itu Seulbi atau pensil yang ia gunakan. Aku pikir kau yang lebih mengerti tentang hal ini.”

Baekhyun membuang nafas pendeknya cukup keras. “Ucapanmu itu tidak bisa dipertanggung jawabkan, Hyora. Apa hanya karena aku memandangi Seulbi lantas kau menuduhku mengambil pensilnya? Yang benar saja, itu tidak masuk akal,” ucapnya kesal yang setelah itu ia langsung pergi dari kelas menembus paksa kerumunan orang yang menurutku lebih banyak dari sebelumnya.

Aku memandang kepergian Baekhyun dengan tatapan nanar Semua orang saling berbisik sepeninggalan Baekhyun. Hampir semua orang berpendapat kalau memang Baekhyunlah yang mengambil pensil itu. Pendapat mereka seakan terpaku pada sikap Baekhyun yang dikenal sebagai preman sekolah yang paling ditakuti. Sebenarnya, tidak semua orang takut pada Baekhyun, lihat saja, Seulbi saja berani memaki Baekhyun dengan kerasnya. Lalu hampir semua orang memandangi Baekhyun dengan tatapan curiga tanpa takut sedikitpun. Ya, mungkin semenjak peristiwa setengah tahun yang lalu, ku pikir, tidak banyak lagi yang takut dengan Baekhyun.

“Apa kau pikir Baekhyun yang mencurinya?” ucapku pada Nana. Aku tau, Nana lebih mengerti akan sikap Baekhyun karena ia sudah lama mengenal Baekhyun dibandingkan denganku atau yang lainnya. Ia satu sekolah dengan Baekhyun sejak SMP. Jadi kupikir, pendapatnya lebih bisa ku percaya.

Nana menggelengkan kepalanya pelan mendengar pertanyaanku barusan. “Meskipun penampilannya seperti itu. Baekhyun bukanlah seorang pencuri.”

***

AUTHOR POV

Sehun menghembuskan nafas panjang begitu ia berbaring diranjang kamarnya. Pandangannya sekarang terfokus pada langit-langit kamarnya. Ia nampak begitu lelah, menghabiskan satu hari sekolah di korea benar-benar menguras tenaganya. Bayangkan saja, ia berada di sekolah hampir tiga belas jam sehari. Ia memulai sekolahnya jam delapan pagi dan baru selesai jam sembilan malam. Itu juga ia langsung pulang ke rumah tanpa harus mengikuti bimbel sekolah seperti kebanyakan teman di kelasnya. Ia tidak bisa membayangkan dirinya akan pulang tengah malam seperti teman-temannya. Pasti sangat melelahkan.

Di Jerman, Sehun hanya sekolah dengan kelas yang dimulai dari jam delapan dan diakhiri paling tidak pukul satu siang, bahkan terkadang untuk hari-hari tertentu kelasnya bisa berakhir lebih awal, yaitu sekitar pukul sebelas. Berbeda sekali dengan di korea saat ini. Meskipun Sehun sudah mengetahui tentang hal ini. Tapi tetap saja, mengalami hal ini secara langsung ternyata melelahkan. Ia harus belajar beradaptasi dengan kehidupannya yang baru. Tidak, lebih tepatnya lagi, beradaptasi dengan kehidupan lamanya.

Angin musim gugur tiba-tiba menusuk tulang betis Sehun. Ia mengertakkan giginya perlahan menahan dingin yang mulai menjalar disekujur tubuhnya. Sehun lagi-lagi menghela nafas panjang begitu menyadari jendela yang juga merupakan pintu kamarnya itu terbuka sedikit. Ia pasti lupa untuk menutupnya tadi pagi.

Dengan gerakan acuh tak acuh, Sehun berdiri dari posisinya dan mencoba untuk menutup pintunya itu. Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti begitu melihat pemandangan yang sudah lama tak dilihatnya. Kakinya tanpa sadar melangkah keluar untuk melihat lebih jelas pemandangan itu. Tanpa sadar, senyuman tergores diwajahnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan tangannya yang ia gesekkan berulang-ulang.

“Dingin sekali diluar. Apa yang sedang ia lakukan?” ucap Sehun sambil membuang nafas di lengannya yang masih ia gesek-gesekkan. Ia memperhatikan dengan teliti apa yang ada dihadapannya saat ini. Meskipun jarak mereka tidak benar-benar dekat, Sehun bisa melihat dengan jelas apa yang menjadi perhatiannya itu.

Seorang yeoja duduk termenung memandang langit yang gelap sambil merapatkan selimut yang sedikit terbuka yang seharusnya hampir menutupi seluruh tubuh mungilnnya itu. Ia duduk bersandar dan sesekali menghisap kopi hitamnya itu yang ia siapkan di meja kecil disampingnya. Tatapannya kosong, terlihat seperti seseorang yang memiliki banyak masalah.

Lagi-lagi Sehun tersenyum begitu melihat yeoja itu tidak sengaja menumpahkan kopinya itu ke badannya ketika ia hendak meminumnya. Gerakan dan ekspresi yang dibuat yeoja itu lucu sekali, Sehun bahkan tanpa sadar tertawa kecil melihat tingkahnya. Yeoja itu berdiri dari posisinya dan membuang selimutnya asal ke lantai yang menjadi sasaran pertama tumpahnya kopi miliknya itu. Ia melihat selimutnya dengan pandangan prihatin begitu tau noda kopi hampir melumuri seluruh bagian selimutnya. Nampaknya itu merupakan selimut kesayangannya, ia nampak tidak rela.

“Kau harus berhati-hati lain kali,” ucap Sehun tanpa sadar merespon gerakan yang dilakukan yeoja itu. Suara Sehun memang tidak terlalu keras, namun dengan kondisi malam yang cukup sunyi memungkinkan untuk yeoja itu mendengar perkataan Sehun barusan. Ia menoleh ke arah Sehun, dan mulai berjalan mendekat. Tidak, memang bukan benar-benar mendekat. Hanya pada jarak yang memungkinkan mereka pada tempat terdekat sejauh mereka bisa menjangkaunya saat ini. Ia menatap Sehun dengan tatapan harapnya. Sehun sempat memiringkan kepalanya melihat tatapannya itu. “Ada apa Eunbi? Kenapa menatapku seperti itu?”

Eunbi tersenyum kecil mendengar pertanyaan temannya itu. “Aku baru saja mendapatkan soal-soal yang sangat rumit. Benar-benar sulit. Aku benar-benar pusing untuk memikirkan jawabannya. Tapi setelah melihatmu, ku pikir, aku sudah menemukan jawabannya,” ucapnya antusias. “Tidak, tidak, sebenarnya aku belum pasti menemukan jawabannya. Tapi yang jelas, aku sudah menemukan jalan untuk mendapatkan jawaban itu.”

Sehun mengerutkan keningnya begitu mendengar pekataan Eunbi. Ia nampak bingung. “Aku tidak begitu mengerti apa yang kau ucapkan. Tapi, baguslah jika kau sudah menemukan titik terang jawaban yang sedang kau cari itu,” ucapnya sambil menganggukkan kepalanya pelan. “Kalau boleh mengetahuinya, apa jalan yang sudah kau temukan untuk mendapatkan jawabanmu itu?”

Lagi-lagi Eunbi tersenyum. “Tentu saja jalan itu kau, Sehun. Kau yang akan membantuku untuk menemukan jawabanku itu, Oh Sehun,” ucap Eunbi penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. “Setelah kupikir kembali, juga mengingat caramu menemukan sepatu Baekho beberapa hari yang lalu, aku jadi semakin yakin. Kau satu-satunya yang bisa membantuku untuk menemukan jawabanku itu. Benarkan?”

***

-TBC-

Kyaa..^^ Terimakasih untuk kalian yang sudah menyempatkan membaca FF ku ini. Oh, ya menurut kalian siapa ya yang mengambil pensil mahal Seulbi. Benarkah Baekhyun? Atau ada orang lain? Kkeekee.. Jawabannya ada di chapter selanjutnya. Hahaa.. Oke, jangan lupa kritik dan sarannya tentang ff ini di Chapter 2nya yaa.. See you..

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Skyreach (Chapter 2)”

  1. Oh oh oh trxata bner ni crt brasa lg nntn conan deh.. bc ini langsg igt film conan . Hihi
    Ah seulbi main tduh” aja.. g ada bukti jg

  2. aq rasa pencurinya bukan baekhyun deh….
    aq udh lama nungguin ff ini…
    jangan lama” ya kax update nya, dan jg knp klau dsekolah mreka sperti tidak saling kenal?
    oh iya tlong dikasih sdikit adegan romance antara sehun dan eunbi dong kax.
    mskasih….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s