[0] Full Stop | truwita

 

req.fullstop.jpg

Full Stop
by truwita

[EXO] Park Chanyeol, Oh Sehun, and [OC] Kim Jira
Genres Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length Chapter | Rating PG-13
.

Hanya jalani apa yang ada, lalu bahagialah.

selamat membaca 😉

Chanyeol POV

Dilihat dari sudut manapun, ia selalu nampak cantik. Senyumnya selalu lebar dan terlihat begitu cerah. Tak hanya cantik, ia juga seorang yang pintar, cerdas dan ramah terhadap setiap orang. Tak sulit untuk menyukai gadis sepertinya, dan tanpa sadar akupun jatuh, sejatuh-jatuhnya dalam pesona Kim Jira.

Sudah 8 bulan berlalu sejak hari-hari menyenangkan itu dimulai. Aku masih saja merasa gugup dan selalu bertingkah konyol di dekatnya. Meski beberapa ada yang aku syukuri karena sebagian alasan Jira tertawa adalah sikapku. Hariku menjadi lebih menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari sebelum-sebelumnya. Aku benar-benar bersyukur karena Tuhan begitu baik mengirimkan Jira dalam hidupku. Dia adalah hal terindah yang pernah kumiliki. Aku bersumpah, aku akan mencintainya sedalam dan sebesar yang aku bisa.

“Yak!” Baekhyun menyikutku dan menunjuk Jira dengan dagunya. Mengisyaratkan bahwa ini adalah moment yang tepat untuk menghampiri gadisku. Catat, ya! Gadisku! Haha.

Ragu-ragu kulangkahkan kaki. Sebuah buket kecil tergenggam di balik tubuhku. ah, haruskah kuhampiri sekarang? Jira masih tampak sibuk dengan orang-orang yang menyalaminya memberi selamat. Kedua tangannya juga sudah penuh dengan buket bunga dan hadiah-hadiah. Belum lagi yang tergeletak di dekat kakinya. Melihat apa yang diterimanya dari orang-orang sekitar, aku merasa bangga juga… sedikit cemburu. Bukan cemburu dalam hal buruk, hanya saja aku merasa keberadaanku tak begitu berarti. Haish… Apa yang kupikirkan? Kemana perginya kepercayaan diri seorang Park Chanyeol yang begitu besar? Ck.

“Ehm.”

“Oh, kau datang?” Jira melihatku sekilas, lalu kembali tersenyum dan mengucapkan kata ‘terima kasih’ pada orang-orang yang tak kunjung berhenti datang dan menyapa.

“Hey, Kim Jira. Mau sampai kapan kau mengacuhkanku? Pacaran saja dengan orang-orang itu!” aku tidak bermaksud merajuk pada awalnya. Aku hanya ingin menggoda. Tapi… Ah yasudahlah. Bahkan aku yakin dari ekspresi dan nada bicaraku itu sudah lebih dari sekedar merajuk!

“Oi.. oi… oi… kau kenapa? Sudah bosan menungguku? Bilang saja kau ingin punya pacar baru.”

“YAK! Kim Jira, hati-hati dengan perkataanmu!”

“Memangnya kenapa? Kau yang menyuruhku—”

“Oke, oke. Aku hanya bercanda. Lupakan! dan ini.”

Untuk kesekian kali, aku tak bermaksud untuk memberikannya dengan cara seperti itu. Aku sudah menyusun kata-kata manis sebagai ucapan selamat yang romantis. Tapi apa? Dengan tidak kerennya aku malah melempar buket itu. Membuat beberapa kelopak bunganya terlepas. Well, kau telah merusak semuanya, Park Chanyeol.

Dari ekor mataku, Baekhyun menepuk jidatnya dan menggumamkan kata idiot yang sudah pasti dilayangkan untukku. Aku sudah tidak peduli lagi.

Aigoo… kamsahamnida, Park Chanyeol-ssi.” Jira tersenyum dan membungkuk. Serupa dengan apa yang dilakukannya beberapa saat yang lalu pada setiap orang yang menghampirinya.

“Hanya itu? apa bedanya dengan orang-orang tadi?”

Jira menghela napas. “Lalu? Apa?”

Seperti sebuah lampu hijau yang baru saja menyala, tanpa basa-basi aku menarik lengan Jira dan membawanya pergi.

“Yah, tunggu sebentar Yeol. Buket bunga dan hadiah-hadiahku tertinggal.”

“Biar saja, Baekhyun akan mengurusnya untukmu.”

“Baekhyun?”

“Hm. Sekarang, diam dan ikutlah denganku.”

 

***

Normal POV

Sehun sudah menunggu hampir tiga jam di dalam ruangan OSIS. Ia hanya duduk dan sesekali berdiri lalu berjalan mondar-mandir di sekitar meja yang bertuliskan ‘Wakil Ketua’. Di atas meja tersebut tergeletak sebuah rangkaian bunga warna-warni yang sangat cantik. Sehun tak bisa berhenti menengok jam tangan yang meingkar di pergelangannya setiap tiga menit sekali.

“Ya Tuhan, aku pasti sudah gila! Apa yang kulakukan?!” Sehun mengacak tatanan rambutnya yang sudah ia sisir sedemikian rupa. Ia berkemas, membereskan kertas-kertas yang berceceran di meja kerjanya dan memasukkan barang-barang pribadi ke dalam tas. Untuk terakhir kali sebelum ia meninggalkan ruagan, Sehun menatap jam tangan dan buket bunga yang masih tergelektak di tempatnya secara bergantian. “Terserah!”

BLAM. Pintupun ditutup secara kasar.

Sepanjang koridor menuju parkiran sekolah, Sehun tak henti-hentinya mengumpat. Bicara seorang diri dengan kata-kata tajam yang selalu menjadi ciri khasnya setiap kali membuka suara. “Bagaimana bisa dia mengabaikan tugasnya sebagai wakil? Tak tahukah ini benar-benar merepotkan? Apa mengambil penghargaan memerlukan waktu seharian? Eish!”

Sehun baru saja keluar dari area sekolah saat sepasang mata elangnya menangkap seseorang yang sejak tadi ditunggu-tunggu. Hatinya mencelos saat sosok itu berjalan beriringan dengan seorang lelaki yang sudah tak lagi asing bagi Sehun maupun seluruh penjuru sekolah. Jemari keduanya saling bertaut. Ditambah lagi senyum cerah hadir di wajah keduanya.

Memang bukan sebuah pemandangan baru bagi Sehun. Ia sudah sering melihat bahkan mendengar kabar tentang keduanya sebagai sepasang kekasih paling serasi abad ini. Namun tetap saja rasanya selalu sama, menjengkelkan dan… sedikit terasa sesak. Oh sial. bukan, bukan sedikit. Sehun merasa sangat sesak!

***

“Serius? Tak ingin kuantar ke ruang OSIS? Jam segini sekolah pasti sudah sangat sepi. Kau tak takut?”

“Eish. Aku tak penakut seperti selingkuhanmu.”

“Selingkuhan? Apa? Aku?”

Ye. Selingkuhanmu, Byun Baek. Haha.”

“Ya! Kaupikir aku sudah gila? Untuk apa aku selingkuh dengan cabe satu itu sedangkan aku sudah punya seorang putri cantik jelita di sisiku?”

“Berhenti mengatakan hal menggelikan!”

Chenyeol tertawa melihat reaksi kekasihnya. Selalu saja seperti itu setiap kali ia mengutarakan kata-kata manis. Dari tempatnya, Chanyeol menatap punggung sempit milik Jira yang berjalan menjauh. Rambut kecokelatannnya berayun tertiup angin. Setiap kali melihat sosok si gadis, Chanyeol tak pernah bisa berhenti menggumamkan kata syukur. Betapa ia sangat berterima kasih pada Tuhan atas kebahagiaan yang telah di dapatnya. Terlebih karena kehadiran Jira yang sedikit bayak berpengaruh terhadap kehidupannya.

Beberapa waktu berselang, Jira kembali dengan lembaran kertas di tangan kiri juga sebuah buket bunga yang terlihat manis di tangan kanannya. Tanpa sadar Chanyeol mendengus dan menggumam, ‘lagi?’.

“Begitu populernya pacarku.”

“Apa?”

“Tidak. ayo pulang, biar kuantar.” Chanyeol melingkarkan tangannya di bahu Jira. Keduanya berjalan beriringan. Sesekali tertawa karena guyonan yang Chanyeol layangkan. Keduanya nampak begitu bahagia ketika bersama. Seolah masalah tak pernah ada dan tak pernah menanti di depan mereka. Karena memang hidup harusnya seperti itu. Hanya janani apa yang ada, lalu bahagialah.

***

Chanyeol POV

“Jira-ya,” kugenggam tangannya, menahan langkah Jira yang hendak berjalan memasuki komplek perumahan. Rasa khawatir juga penasaran muncul, ragu-ragu kuutarakan apa yang ada di kepala. “Kuantar sampai depan rumah, Oke? Ini sudah mulai gelap.”

Ia tersenyum, melepaskan genggamanku lalu menggeleng pelan. “Aigoo… apa kau sedang mengkhawatirkanku?”

“Jira-ya.” Dia tahu betul maksudku, tapi dia malah menggodaku seperti itu.

“Aku akan baik-baik saja. Akan kutelepon kalau sudah sampai. Pulanglah, sebelum benar-benar gelap.”

“Kau yakin?”

“Hm.”

Tak ada yang bisa kulakukan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak pernah bisa kubantah. Kedua mata itu menatapku penuh keyakinan. Aku tahu dia akan baik-baik saja. Mengingat ini bukanlah kali pertama. Tapi, tetap saja aku merasa buruk menjadi seorang kekasih karena tak bisa memastikan keselamatannya sampai ia tiba di pintu rumah. Tentu saja itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Aku hanya belum bisa meyakinkannya.

Entahlah. Mungkin dia hanya belum siap mempertemukanku dengan kedua orang tuanya atau memang ada hal lain. Yang harus kulakukan hanya bersabar. Ya, seperti itu.

Aish! Mau dipikir bagaimanapun, ini tetap menjengkelkan! Bagaimana bisa aku berpacaran selama 8 bulan, sedangkan aku sama sekali belum tahu dimana ia tinggal. Oke, tidak separah itu, memang. Aku hanya tak tahu yang mana rumahnya, tapi aku tahu lingkungan tempat ia tinggal.

“Yah, Park Chanyeol! Aku tahu aku memang cantik. Tapi berhenti menatapku, pulanglah!”

“Eish. Lihat dirimu! Kau memang harus cantik untuk bersanding dengan pria tampan sepertiku. Kalau tidak, kau pasti sudah lama tersingkirkan oleh gadis-gadis yang mengantri untuk berpacaran denganku.”

“Apa?”

“Ya! Park Chanyeol! Kaupikir—”

“Aku pulang dulu, oke? Selamat malam, saranghae.” Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung memacu sepeda motorku. Ah rasanya terlalu memalukan mengatakannya. Wajahku pasti memerah. Ah, kenapa bisa terjadi? Seorang Park Chanyeol malu karena mengatakan kata cinta pada kekasihnya sendiri! Adakah yang lebih konyol dari ini?

***

Normal POV

Sehun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya hari ini begitu melelahkan. Walaupun hari-hari sebelumnya juga selalu terasa melelahkan. Akan tetapi hari ini jauh lebih melelahkan.

Setelah melalui hari yang sibuk sebagai ketua OSIS di sekolah, ia telah membuang waktu istirahatnya dengan menunggu seseorang yang benar-benar tidak seharusnya ia tunggu. Tidak lagi setelah banyak hal terjadi. Tapi kenapa hati Sehun tak pernah mau memahaminya? Padahal ia sudah tahu apa yang akan ia dapatkan jika bersikukuh dengan perasaannya. Dan lagi, ayahnya baru saja menelepon meminta Sehun untuk meluangkan waktu akhir pekan ini untuk pulang. Mereka akan mengadakan pertemuan dua keluarga. Ah, rasanya Sehun ingin mati saja daripada harus datang ke pertemuan itu.

Lelaki itu menatap langit-langit kamar. “Kenapa? Kenapa harus aku?”

“Kenapa harus aku yang dihadapkan dengan situasi seperti ini?”

“AAAARRRRGGGHH! Aku bisa jadi gila jika terus memikirkannya!” Sehun menenggelamkan wajahnya di bantal. Kedua tangannya terkepal dan sesekali memukul-mukul kepalanya.

Drrrt… drrrt…

Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.

Kim Jira

Terima kasih bunganya,
mereka benar-benar cantik.

Sehun berdecih. Dengan cekeatan jemarinya bergerak mengetik pesan balasan.

Oh Sehun

Bunga apanya?
Persiapkan persentasi untuk besok.
Aku tidak menerima kesalahan sedikitpun.
Dan jangan terlambat!

tanpa sadar sebuah senyum kecil hadir, seakan rasa lelah yang sebelumnya mendera enyah begitu saja.

Kim Jira

Yes, Sir!

Sehun baru saja akan membalas dan mengatakan selamat malam, namun ia urungkan. Sebagai gantinya, Sehun menatap sebuah bingkai foto yang mana terdapat potret dirinya dan seorang gadis. Selama beberapa saat, ia hanya menatap. Lalu menghela napas. “Jalja… Kim Jira”.

Prolog end.

Disclamer: cerita ini hanya fiksi, hasil imajinasi gak jelas dari penulis.
adapun nama artis dan visualisasi yang digunakan bukan milik saya,
melainkan milik Tuhan dan diri mereka sendiri.
Jika ada kesamaan dalam bentuk apapun,
itu murni ketidak sengajaan.
dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari postingan ini.

a/n: agak ngerasa aneh, berhubung aku bukan orang yang suka nulis fic chap.
belum lagi genre yang aku pake kali ini bakal bener-bener lebay. haha
mungkin efek depresi kepanjangan.
aku harep bakal ada yang ngedukung cerita ini dengan sepenuh hati. Hehe
banyak cinta buat kalian yang udah bersedia baca, juga buat uri dongsaeng, jelsaa yang udah mau bantuin bikin covernya
-tata<3

29 tanggapan untuk “[0] Full Stop | truwita”

  1. mungkin ak sdah kelwat telat buat baca ini, but karna ak udah tobat jdi sider jdi ak ttp komen yaaa…
    keren ni kayaknya..
    ak lanjutin dah bacanya

  2. akhirnya kaknja bikin chap! YESS XD
    kukira mau dyo, ternyata chan-hun yak…
    semangat kak buat nulisnya, aku dukung penuh!
    ❤ ❤ ❤
    .
    ohya, hai kak :3

    1. ahehe, iya huft /elap ketek
      sebenernya aku punya 2 fic chap selain ini. tapi belum selesai-selesai juga. haha
      semoga yag ini lancar (amiin)
      aku kan lagi ngambek sama dio. XD
      oke sip. maacih :*

  3. halloo kak Tata,,dh lama tak jumpa disini,,, akhirnya ada jg fiksi kak Tata,,,, ko gantung ,,masi ada lanjutanya kah???
    ***Kak Tata,,bolehkah aku kasih ide crita,,akhir akhir ne aku sering nyanyiin lagunya’Dewa’ yg liriknya,”””ingin kubunuh pacarmu saat kau peluk mesra dirimu,,didepan kedua mataku,, terbakar jadinya cantik!aku cemburu….nanaaa!!
    tau donk kak!!!????
    *kayanya lum ada fiksi disini yg nyeritain dr sisi seseorang yg jd org k 2/selingkuhan!!!
    ya semacam Sepia gtu!!!
    hehee ini hanya saran lho Kak,,,,boleh d trima boleh g!!!
    trimakasih*SMangat**

    1. ahehe, kemaren-kemaren aku sibuk magang, jadi sempet ngilang dari peradaban. 😀
      yaps. ini ceritanya mau kubikin chapter, dan baru prolognya aja.
      oke sip, jadi tentang orang ke-3 yaa? hihi
      sarannya kutampung dulu, kalo udah nemu alur yang bagus nanti kubikin, insyaAllah.
      kembali kasih ❤

Tinggalkan Balasan ke nida Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s