Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 13]

tfam

Cerita keduanya semakin menuju akhir. Apa yang akan terjadi pada mereka berdua atau apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekitar mereka akan segera terungkap.

“Cinta yang menyakitkan bukanlah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Melainkan cinta yang saling bersambut namun tidak bisa bersatu”

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

                “Oy, Iseul! Oy, kau dimana sih?” Chanyeol mencari-cari Iseul sambil terus memanggil namanya. “Dasar. Kenapa sih dia suka menghilang tiba-tiba? Katanya hari ini dia setuju ke Hongdae?” gerutu Chanyeol.

Tapi setelah mencari berkeliling sambil berteriak kesana-kemari, Chanyeol memilih untuk mencari dalam diam. Ia merasa dengan membuka mulutnya, tenaganya akan lebih terkuras. Tapi Iseul tidak ditemukan di sudut taman manapun. Kembali, dengan terpaksa, Chanyeol berjalan ke luar taman. Berharap agar Iseul tidak pergi terlalu jauh.

Untungnya apa yang ia harapkan terjadi. Ia menemukan Iseul tidak jauh dari taman. Tapi yang membuat Chanyeol keheranan adalah, Iseul tidak sendiri. Ia nampak tengah berbincang dengan seorang pria. Dan pria tersebut kelihatan seperti manusia biasa. Namun sebelum Chanyeol menyela pembicaraan mereka, pria itu menoleh pada Chanyeol dan nampak berpamitan pada Iseul karena setelahnya ia langsung pergi.

Mengetahui ini, Chanyeol bergegas menghampiri Iseul. “Siapa dia? Dia manusia ya? Aku mendapat firasat dia pergi karena melihatku tadi. Apa yang kalian bicarakan? Penting ya? Dan lagi, kenapa sih kau suka menghilang tiba-tiba begitu? Siapa yang mengusulkan untuk pergi ke Hongdae dan siapa yang menghilang begitu saja sesaat setelah memaksaku untuk buru-buru?”

Iseul menghela nafas mendengar bombardir pertanyaan itu. “Bisa tidak kau bertanya satu-satu dan pelan-pelan?”

“Tidak.”

“Tsk! Dasar!”

“Jadi, mana jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku?”

“Kau ini. Baiklah, akan kujawab. Kau benar, dia tidak berasal dari jenis kita. Dia tidak pergi karena melihatmu, dia pergi karena urusannya denganku sudah selesai. Apa yang kami bicarakan itu tidak penting. Daaaaaaannn! Meski aku menghilang begitu saja, aku tidak lupa akan janjiku itu. Kau tidak usah khawatir.”

Jawaban runtut dari Iseul membuat Chanyeol terperangah.

“Kenapa kau bengong begitu? Ayo! Jadi ke Hongdae tidak?”

Semangat dan kesadaran Chanyeol kembali. “Tentu saja jadi! Kajja!”

“Tapi gendong aku.”

Ucapan Iseul membuat Chanyeol membeku di tempat.

“Apa?” desis Chanyeol dengan tampang bodohnya.

“Gendong aku,” ulang Iseul.

Andwe! Jeolttae andwe! Kau pikir aku ini apa hah?” Chanyeol menolak dengan gusar.

“Lho? Katanya kau mau jadi kakiku? Katanya kapanpun itu kau bersedia jadi kakiku? Apa yang kudengar tempo hari itu cuma khayalan saja ya? Tapi tidak mungkin soalnya terasa nyata sekali. Ya, kenapa kau memandangiku seperti itu? Ingat, pria itu pantang menarik kata-katanya lho.”

Di tempatnya, Chanyeol menggerutu tidak jelas. Lagi-lagi dia termakan ucapannya sendiri. Hatinya menjadi semakin dongkol saat melihat senyum penuh kemenangan terukir di bibir Iseul.

Sepertinya Chanyeol tidak punya pilihan. Dia langsung berjongkok dan menepuk-nepuk punggungnya. “Nih, naiklah.”

“Eh? Kau serius?”

“Iya! Cerewet kau ah! Mau naik atau tidak sih?”

“Tentu saja!” Iseul segera naik di punggung Chanyeol.

“Ya ampun, kau berat juga ya,” keluh Chanyeol begitu ia berdiri.

Iseul terkikik. “’Kan kau sudah kuperingatkan.”

“Dan aku menyesal tidak mengindahkannya.”

“Hahahaha.” Iseul tertawa keras.

“Ampun, beratnya.”

“Hei, hentikan keluhanmu. Kakiku itu tidak pernah protes.”

“Haish! Bisa tidak kau itu diam dan mensyukuri hal ini?”

“Hahahaha, tidak bisa. Habisnya aku senang sekali.”

 


 

 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied. Storyline © Nuevelavhasta

Chapter 13 ― So Long Goodbye

 


 

 

“Oh, di sini kau rupanya.” Chanyeol tiba-tiba muncul di samping Iseul.

Dirinya kini sudah bersama Iseul di kamar tempat Iseul dirawat. Sebuah sofa kosong di sana menjadi tempat duduk keduanya.

Sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Chanyeol, Iseul hanya menoleh sekilas dan bergumam pelan. Gumaman yang teramat pelan hingga tidak bisa ditangkap oleh telinga Chanyeol. Tapi pemuda jangkung itu tidak mau ambil pusing menerka-nerka gumaman apa tadi.

Keduanya tidak berbicara. Saling membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Chanyeol melirik ke arah Iseul yang begitu fokus melihat tubuhnya yang terbaring.

“Akhir-akhir ini kau sering berkunjung kemari ya?” Chanyeol mengomentari kebiasaan baru Iseul. “Padahal dulu kau lebih suka berada di luar. Melakukan apapun termasuk berlari. Tapi sekarang kau lebih suka duduk manis di sini. Kenapa? Kau lelah?”

“Apa tidak boleh aku mengunjungi diriku sendiri?” balas Iseul tanpa nada sinis. “Aku ‘kan juga rindu dengan keluargaku. Dan apa yang aku perbuat, itu terserah aku ‘kan?”

“Ya, ya, ya,” sahut Chanyeol cepat. Dirinya sedang tidak ingin memulai debat kusir dengan Iseul. Dan tumben Iseul menjadi… sensitif? Apa dia sedang PMS? Eh, tapi apa arwah bisa PMS? Chanyeol buru-buru menghapus pikiran konyolnya itu.

Keduanya kembali terdiam. Namun tidak lama kemudian, pintu kamar Iseul dibuka. Seorang pemuda mengenakan jas dokter terlihat masuk. Ia kemudian menarik salah satu kursi di sana dan duduk tepat di samping ranjang Iseul. Melipat kedua tangannya juga duduk menyilangkan kaki. Matanya tidak mau lepas dari sosok Iseul yang terbaring koma di ranjangnya. Rasa-rasanya mata itu mencermati Iseul seraya pikirannya berjalan.

“Dia lagi, dia lagi,” gumam Chanyeol. “Siapa dia? Doktermu? Sering sekali dia berkunjung kemari. Tapi kenapa ia tidak melakukan apa-apa? Yang dilakukannya setiap masuk ke kamarmu adalah duduk di samping tubuhmu dan mengamatimu. Dokter macam apa dia? Dia bukan tipe dokter mesum ‘kan?”

“Dia kakakku,” jawab Iseul dingin.

Kata-kata yang meluncur keluar dari mulut Iseul barusan membuat Chanyeol terhenyak. ‘Tubuh’nya refleks mundur ke belakang dan wajahnya mulai menampakkan raut bersalah dan pucat.

“E-eh? A-apa? Ka-kakakmu?”

“Iya. Dia kakakku. Dia mahasiswa kedokteran yang sedang magang di sini.”

“O-oh. Maaf. Aku tidak tahu, sungguh.” Baru kali ini Chanyeol mengetahui jika Iseul juga mempunyai kakak sama seperti dirinya. Hanya saja Iseul memiliki kakak laki-laki sementara dirinya memiliki kakak perempuan. “Jadi… dia kakakmu satu-satunya atau kau mempunyai kakak lain?” Chanyeol buru-buru mengalihkan topik pembicaraan sebelum suasananya menjadi amat canggung.

Mata Iseul kini tertuju pada Chisoo, kakaknya. “Dia Chisoo, kakakku satu-satunya. Dulunya dia atlet Taekwondo. Kecintaanku pada olahraga tertular olehnya. Juga keputusanku untuk menjadi atlet juga tidak lepas dari sosoknya. Dia itu atlet yang hebat, sudah menjuarai berbagai turnamen sejak masih kecil. Awalnya kupikir ia pasti akan menjadi atlet kelas dunia. Yah, itu wajar. Dia sangat ahli dan mencintai bidangnya. Tapi saat mengetahuiku jika aku menderita kanker, tiba-tiba ia memutuskan untuk menjadi dokter. Ia berkata jika ia ingin menyembuhkanku agar aku bisa berlari lagi, juga agar ia bisa menolong orang lain. Demi aku, dia buang tujuan semulanya.

“Awalnya aku menolak keputusannya. Aku tidak bisa membiarkan diriku menjadi penyebab gagalnya kakakku dalam meraih tujuannya. Tapi ia berkata padaku bahwa yang ia inginkan untuk saat ini dan seterusnya adalah menjadi dokter. Pada akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itu sudah menjadi keputusan mutlaknya. Aku hanya merasa senang melihat kakakku sangat menikmati proses dimana ia berusaha meraih tujuan barunya.”

Chanyeol diam tidak menanggapi. Dirinya terlalu tersihir oleh senyum Iseul saat ini. Senyum yang akhir-akhir ini jarang dinampakkan oleh pemiliknya.

“Dia pasti sangat menyanyangimu.”

Iseul tersenyum. “Tentu saja.”

“Sungguh berbeda sekali dengan noona-ku,” sungut Chanyeol. “Dia sering bersikap kejam dan sewenang-wenang padaku. Dia itu monster. Memang dia cantik. Tapi itu hanya tipuan. Monster berparas ayu, sama seperti serigala berbulu domba.”

Iseul tertawa. “Tapi dari apa yang kulihat, kurasa kau salah.”

“Eh?”

“Aku rasa… kakakmu juga menyanyangimu. Dengan caranya sendiri. Jika tidak, mana mungkin ia mau bermalam di kamarmu, menungguimu seperti itu? Aku bisa lihat jika kantung matanya semakin parah.”

Chanyeol tertawa kecil. “Kau benar juga.”

Ucapan Chanyeol barusan mengakhiri percakapan mereka.

Hari ini Chanyeol tidak secerewet biasanya dan Iseul juga tidak sering menggoda Chanyeol serta menyulut keributan. Meski begitu, pikiran keduanya berkecamuk. Chanyeol dengan debut band-nya yang harus tertunda dan kapan ia akan bangun. Sementara Iseul berpikir tentang keluarga dan teman-temannya. Terlebih lagi ia belum bisa melepaskan pandangannya dari sosok kakaknya yang amat ia rindukan.

Keheningan yang melingkupi ruangan itu pecah karena bunyi ponsel Chisoo. Chisoo menggumamkan sesuatu seperti ‘ya’ dan ‘baik’ beberapa kali sebelum menukas dengan ‘aku akan segera ke sana’ dan pergi meninggalkan kamar adiknya. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, Chisoo menyempatkan diri untuk mengecup kening adiknya dan kelihatan membisikkan sesuatu. Baik Iseul atau Chanyeol tidak tahu apa yang dibisikkan Chisoo. Namun di dalam hati keduanya yakin, pasti Chisoo membisikkan sesuatu seperti ‘aku pergi dulu’ atau ‘lekaslah sadar’ atau semacamnya.

Namun tidak berselang lama sejak Chisoo pergi―hanya selisih beberapa menit, kembali terdengar suara pintu yang dibuka. Kali ini sosok pemuda yang berbeda yang masuk. Pemuda itu bertubuh tinggi―meski masih kalah tinggi dari Chanyeol, sebaya dengan mereka, masih mengenakan seragam sekolah dengan tas tersampir di pundak, serta sebuket bunga tulip yarrow yang ia bawa di tangan kanannya.

Pemuda itu berjalan dengan tenang. Ada titik-titik keringat yang masih tertinggal di wajah dan lehernya yang entah itu keringat atau air, serta rambutnya yang terlihat basah menandakan jika ia baru saja menjalani latihan fisik yang menguras tenaga. Dengan tenang, pemuda itu menaruh barang bawaannya di salah satu kursi.

Kemudian ia mengambil bunga tulip yarrow yang sudah agak layu dari vas kaca di meja dekat tempat tidur lalu membuangnya ke tempat sampah. Dibuangnya air di dalam vas tersebut di kamar mandi dan ia ganti dengan yang baru. Baru setelahnya ia menata bunga yang ia bawa ke dalam vas kaca tersebut. Selesai, pemuda itu kemudian duduk tepat di samping ranjang Iseul.

Pemuda itu tidak mengatakan sepatah kata apapun. Namun sorot matanya menyiratkan suatu perasaan sendu bercampur harapan.

“Heee… aku juga pernah melihat laki-laki itu beberapa kali di sini. Siapa dia? Kekasihmu ya?” tebak Chanyeol. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang tersendat di tenggorokannya ketika ia mengucapkan kata ‘kekasihmu ya?’.

Iseul tersenyum tipis. “Aku harap begitu.”

“Eh? Aku harap?” entah Chanyeol harus merasa lega karena lelaki itu bukan kekasih Iseul atau simpati karena melihat senyum getir di wajah Iseul.

“Dia sunbae-ku di sekolah dan dalam dunia atletik. Namanya Choi Minho…”

Yah, Chanyeol rasa tidak perlu Iseul menyebut nama lelaki itu. Toh bukan hal penting baginya. Tapi nama itu juga terasa familiar. Baru beberapa saat setelahnya Chanyeol menyadari jika Choi Minho yang Iseul maksud tadi adalah Choi Minho yang atlet lari itu. Atlet berbakat Korea yang sudah mengukir namanya di kancah internasional.

“Saat memasuki tahun ajaran baru tahun keduaku di SMA, ia menyatakan perasaannya padaku,” lanjut Iseul tanpa diminta. “Tapi aku menolaknya.”

Wae? Kau tidak menyukainya?” Chanyeol berusaha nampak biasa saja meski hatinya melompat kegirangan.

Iseul menggeleng. “Tidak. Justru karena aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya aku menolaknya, tepat saat sebelum aku melakukan operasi terakhir.”

Chanyeol merasa hatinya baru saja dihempaskan dengan keras ketika tahu bahwa Iseul menyukai Minho. Tapi sudut kecil hatinya juga masih bersorak karena keduanya tidak berpacaran. “Kenapa? Karena kau sakit?” tanya Chanyeol dengan tenang.

“Hahaha, tepat sekali,” Iseul tertawa hambar. “Karena aku tidak mau membebani dirinya dengan diriku, dan penyakit ini.”

“Apa dia sudah mengetahui soal penyakitmu?”

“Dia baru mengetahuinya setelah aku koma.”

“Hmm. Bukankah itu sangat egois?” celetuk Chanyeol.

“Egois?”

“Iya, egois.” Chanyeol membenahi posisi duduknya. “Mungkin kau merasa bahwa ini adalah yang terbaik. Ya memang, ini yang terbaik. Tapi hanya dari sudut pandangmu saja. Apa kau tidak pernah berpikir menggunakan sudut pandang sunbae-mu itu? Apa kau tidak sadar bahwa penolakanmu itu melukainya?”

“Tentu aku sadar. Dan aku siap dengan konsekuensinya.”

“Wah, selain egois kau juga kejam ya?” Chanyeol langsung mendapat lirikan dari Iseul. “Kau sudah tahu jika itu melukainya tapi kau tetap melakukannya.”

“Sudah kubilang ‘kan aku tidak mau melukainya lebih dalam lagi. Bagaimana jika saat itu aku menerimanya dengan kondisiku yang… seperti ini? Aku hanya akan menjadi beban baginya dan aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin Minho sunbae bebas, menjalani hari-harinya tanpa khawatir, terus berlari demi meraih impiannya.”

“Tapi akhirnya keyakinanmu itu tetap melukainya. Dan mungkin berbalik padamu juga. Penolakanmu justru semakin melukainya. Terlebih kau menyembunyikan kondisimu darinya selama ini padahal dia juga ingin kau mempercayainya. Kau ingin ia bebas, menjalani hari tanpa rasa khawatir, dan berfokus dalam karir serta sekolahnya? Begitu? Tapi itu semua tidak terjadi. Setelah ia kau tolak dan mengetahui kondisimu, ia tidak bisa merasa bebas, tidak bisa menjalani harinya tanpa rasa khawatir. Justru sebaliknya, ia merasa terikat denganmu. Ia menjalani hari-harinya dengan rasa khawatir akan dirimu.”

Iseul terpaku di tempatnya. Sisi Chanyeol yang mendadak berubah serius sungguh menyita perhatiannya.

“Kalau kau takut menjadi beban baginya, kau tidak usah khawatir,” sambung Chanyeol.

“Kau terdengar begitu yakin.”

“Tentu.”

“Bagaimana bisa?”

“Dari sorot matanya.”

Tatapan Iseul mengikuti arah tatapan Chanyeol. Yaitu ke arah Minho yang tengah menatap intens dirinya yang terbaring koma.

“Sorot mata sunbae-mu itu… penuh cinta dan begitu tulus. Itu adalah tatapan dari seseorang yang amat mencintai. Orang awam saja akan tahu itu. Aku yakin meski sunbae-mu itu mengetahui kondisimu lebih awal, ia tidak akan melepasmu. Sebaliknya, ia akan terus ada di sisimu.” Chanyeol merasa dirinya baru saja kalah.

Iseul tersenyum mendengarnya. “Begitukah?”

“Jadi… saat kau kembali tersadar nanti… apa kau menyatakan cintamu padanya lalu berpacaran dengannya?” tanya Chanyeol, berusaha mengendalikan gugupnya. Hatinya berdebar kencang tanpa alasan yang jelas.

Iseul kelihatan berpikir sejenak. “Entahlah,” katanya setelah jeda beberapa detik. Hati Chanyeol mencelos lega. “Aku tidak tahu. Aku sudah melukainya cukup dalam.”

“Lalu bagaimana jika ia kembali memintamu menjadi kekasihnya?” Chanyeol merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa ia bertanya seperti itu? Kenapa ia harus bertanya mengenai hal yang kebenarannya sebisa mungkin ia hindari?

Kembali Iseul nampak berpikir. Nama Choi Minho memang sudah terpatri di hatinya. Namun belakangan ini nama Park Chanyeol mulai membentuk ukiran baru di hatinya.

“Hmm… bagaimana ya? Aku tidak tahu.”

Jawaban Iseul sama sekali tidak membuat Chanyeol merasa lega.

“Lho? Kau mau kemana?” tanya Iseul pada Chanyeol yang tiba-tiba berdiri.

“Aku mau pergi keluar.”

Eodi?”

Molla.”

Wae?”

“Tiba-tiba saja aku merasa keberadaanku di ruangan ini makin menipis.”

Iseul tertawa. “Kau ini bicara apa sih?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Sudah dulu ya, aku pergi.” Chanyeol menukas.

 

***

 

Hari yang cerah sangat disayangkan jika hanya berdiam di ruangan. Karena alasan itu Chanyeol mengajak―lebih tepatnya memaksa―Iseul untuk keluar berjalan-jalan. Ketika ditanya akan pergi kemana, Chanyeol menjawab tidak tahu. Dan itu berujung pada cibiran Iseul yang menyinggung soal ‘kepayahan Chanyeol yang lain’. Namun Chanyeol berhasil membuat Iseul diam.

“Hei, kau juga kelihatan mengerikan jika terus-terusan mengurung diri di kamarmu. Tidak seperti dirimu yang biasanya,” begitulah Chanyeol berhasil membungkam Iseul.

Dan berakhirlah mereka berjalan-jalan tanpa tujuan. Ketika mendapati tempat atau hal yang menarik perhatian mereka, mereka akan berhenti sebentar.

Dalam hati Iseul merasa senang karena sudah menuruti ajakan Chanyeol. Chanyeol benar, hari yang cerah yang begitu sayang untuk dilewatkan dengan berdiam diri di dalam ruangan. Kini keduanya berada di sebuah café dimana sebuah live performance tengah berlangsung.

“Kenapa mereka tidak memainkan lagu Coldplay?” bibir Iseul mengerucut kecewa.

“Ya itu terserah mereka ‘kan?”

“Ya tapi ‘kan aku ingin mendengarkan lagu Coldplay!”

“Kau bisa mendengarkan lewat ponsel atau internet ‘kan?”

“Tapi sensasinya ‘kan berbeda! Musik live dan rekaman itu sensasinya berbeda! Kau harusnya tahu itu. Katamu kau musisi.” Iseul tidak mau kalah.

“Kenapa sih kau begitu mengagung-agungkan Coldplay? Band-ku ‘kan juga tidak kalah bagusnya dari Coldplay!” giliran Chanyeol yang tidak mau kalah.

“Hey, kaliber Coldplay dan band-mu itu berbeda jauh. Coldplay sudah dua dekade malang-melintang di dunia hiburan, mendapat banyak penghargaan, berkolaborasi dengan artis kelas dunia, albumnya terjual jutaan kopi, dan musik-musiknya dinikmati dan dicintai oleh orang dari berbagai belahan dunia. Sementara band-mu? Debut saja belum.” Chanyeol terbungkam oleh perkataan Iseul.

“Memang bagaimana lagu Coldplay itu? Salah satunya saja.”

Wae? Kau mau memainkannya ya?” Iseul bertanya antusias.

“Tsk! Nyanyikan saja!”

“Aku tidak begitu ahli dalam bernyanyi, jadi aku akan menggumamkannya saja. Ini salah satu lagu Coldplay yang terkenal dan juga merupakan salah satu favoritku.” Iseul mulai menggumamkan lagu yang ia maksud.

Dalam sekejap saja Chanyeol sudah bisa mengenali lagu itu.

“The Scientist?”

Iseul menjentikkan jarinya. “Benar!”

“Kalau hanya lagu itu, itu masalah kecil untukku.”

Iseul belum sempat berkata apa-apa lagi, tapi Chanyeol sudah melesat pergi. Sedetik kemudian Chanyeol sudah berhasil merasuki tubuh si pianis yang baru saja selesai tampil. Lalu dentingan nada piano yang tidak asing bagi Iseul terdengar memenuhi ruangan.

Chanyeol tengah memainkan The Scientist dari Coldplay. Hanya saja tanpa nyanyian. Namun permainan piano Chanyeol itu sudah mampu menghipnotis Iseul. Memancing Iseul untuk mendekati Chanyeol di dalam tubuh pianis itu dan berakhir di sampingnya. Bahkan Chanyeol juga sempat menyelipkan sedikit aransemen pada permainan pianonya.

“Tidak buruk,” komentar Iseul setelah permainan piano Chanyeol berakhir.

Chanyeol keluar dari tubuh pianis itu. Meninggalkan sang pianis yang kebingungan. “Tidak buruk katamu?” protesnya. “Harusnya aku mendapat pujian yang lebih baik daripada itu. Aku ini jenius musik. Dan asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak hafal lagu Coldplay tadi. Aku ini dianugerahi kemampuan dimana sekali aku mendengarkan sebuah lagu, aku bisa langsung memainkannya dengan piano atau gitar. Lihat? Aku berhak mendapat pujian yang lebih baik!”

Iseul mendesah. Salah satu sifat menyebalkan Chanyeol keluar. “Oke, oke. Kuralat.” Iseul berdehem sebelum memuji, “Wah! Permainan piano yang luar biasa, Park Chanyeol-ssi.”

“Hei! Pujian macam apa itu? Begitu datar dan sama sekali tidak terlihat tulus. Lakukan dengan lebih berniat, dong!” erang Chanyeol.

“Tidak mau,” balas Iseul cuek.

Mwo?! Ya! Cha Iseul!” jeritan Chanyeol tidak digubris Iseul yang berlalu pergi.

 

***

 

Di taman kota Chanyeol kembali berjalan-jalan sendirian. Beberapa hari belakangan ini Iseul suka muncul dan menghilang sesuka hati. Chanyeol memang khawatir, tapi saat Iseul mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, Chanyeol tidak ambil pusing dengan seringnya Iseul absen dari sampingnya. Meski sejujurnya Chanyeol tidak begitu menyukai absennya Iseul.

“Oy, Chanyeol,” panggil sebuah suara.

Chanyeol menoleh ke belakang. Membuat dirinya bisa melihat Iseul yang berlari-lari kecil kegirangan ke arahnya. “Ada apa?”

Aniya. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu.” Iseul sudah berdiri mensejajari Chanyeol.

Keduanya lalu berjalan bersisian.

Mwoya?”

“Besok tolong datang ke stadion kota ya?” pinta Iseul.

“Hah? Untuk apa?”

“Sudah, datang saja. Ya? Ya? Ya?”

“Kalau aku tidak tahu untuk apa aku tidak mau datang.” Keukeuh Chanyeol.

Gerutuan dan desahan keras keluar dari mulut Iseul. “Baiklah kalau begitu. Akan kuberitahu. Kau besok harus datang ke stadion kota untuk melihat aksi pemecahan rekor lari seratus meter oleh atlet berbakat Korea, Cha Iseul!”

“Hah?” Chanyeol cengo.

Ya! Apa-apaan dengan reaksimu itu?” Iseul memukuli Chanyeol.

Chanyeol otomatis berusaha menghindari pukulan Iseul. Suatu usaha yang sia-sia sebenarnya. “Hei Iseul! Hentikan! Hentikan! Oke, oke, aku akan datang! Aku akan datang! Aku akan datang!” seruan Chanyeol mengeras.

Pukulan Iseul berhenti. Tergantikan oleh senyum lebar tanda perubahan drastis dari sosok Iseul. “Joah! Kutunggu dirimu besok di stadion kota jam sepuluh pagi! Dah! Aku harus berlatih untuk pemecahan rekor itu!” Iseul melambaikan tangan dan pergi.

“Aku masih belum paham,” gumam Chanyeol.

 

***

 

Sesuai janjinya kemarin, pagi ini tepat pukul sepuluh Chanyeol sudah tiba di stadion kota.

Stadion kota begitu sepi ketika Chanyeol tiba. Hanya ada satu orang yang ia kenali―yaitu Iseul―yang sudah berdiri dan melakukan pemanasan di track lari nomor tiga. Chanyeol berjalan mendekat hingga berada di tepi luar track lari. Atensinya ke Iseul terdistraksi oleh sesosok pria yang berdiri tidak jauh darinya.

Pria itu terlihat tidak asing bagi Chanyeol. Ia yakin pernah melihat pria itu di suatu tempat. Tapi di mana? Chanyeol masih berpikir sembari mencuri-curi pandang ke pria itu. Ah! Aku tahu! Seru Chanyeol di dalam hati. Pria itu adalah pria yang sempat berbincang dengan Iseul beberapa hari yang lalu!

“Oh, kau dipanggilnya juga?” pertanyaan dari pria itu membuyarkan lamunan Chanyeol. Dan ketika Chanyeol tersadar dari lamunannya, pria itu sudah berdiri di sampingnya.

Pria itu bukan arwah seperti Chanyeol. Ia terlihat seperti manusia biasa pada umumnya. Kenapa ‘terlihat’? Itu karena Chanyeol merasakan aura yang berbeda dari pria itu.

“Y-ya. Iseul sendiri yang memintaku,” jawab Chanyeol.

“Hho, begitu…”

“Bagaimana denganmu? Iseul juga memintamu datang?”

“Hmmm, begitulah. Satu saksi saja tidak cukup ‘kan?”

“Yah, kau benar,” lirih Chanyeol.

“Hei, Iseul! Apa kau sudah siap?” seru si pria pada Iseul.

Di track lari Iseul memberi isyarat ‘oke’ menggunakan tangannya dan mulai bersiap-siap.

“Ini,” pria itu memberikan sebuah stopwatch pada Chanyeol, “begitu pistol kutembakkan, segera hitung waktunya. Iseul akan melakukan lari seratus meter, finish-nya di garis putih di sana itu,” kata si pria yang lebih terdengar seperti perintah.

Eo, araseoyo.”

“Iseul! Aku mulai hitung mundurnya!” seru si pria. “Tiga, dua, satu!” DOR! Bunyi tembakan terdengar sepersekian detik setelah kata ‘satu’ diserukan.

Bersamaan dengan bunyi tembakan, Iseul sudah berlari kencang. Perhatian Chanyeolpun tersita seutuhnya pada Iseul. Baru kali ini ia melihat Iseul berlari dengan begitu bebas di track sungguhan. Rasanya sepasang sayap telah tumbuh di punggung Iseul. Baru kali ini Chanyeol mengalami sensasi aneh dan menegangkan ketika melihat seseorang berlari. Apa karena orang itu adalah Iseul?

Finish!” seru Iseul. Bebarengan dengan berhentinya stopwatch yang berada di tangan Chanyeol. Iseul masih berlari pelan sebelum benar-benar berhenti, mengatur nafasnya, dan kembali berlari kecil ke arah Chanyeol dan pria tadi berdiri. “Berapa waktuku?” tanya Iseul antusias.

Chanyeol melihat stopwatch di tangannya. “Sepuluh koma empat puluh detik,” baca Chanyeol.

Mulut Iseul melongo, matanya terbuka lebar. Baru saja Chanyeol akan bertanya apa ia baik-baik saja ketika tiba-tiba Iseul berseru dengan kerasnya dan melompat. “Aku berhasil! Aku berhasil!” Iseul bersorak dan melompat-lompat kegirangan. “Akhirnya aku berhasil mengalahkan rekor terlama yang belum terpecahkan milik almarhum Florence Griffin-Joyner di tahun 1988 dengan selisih waktu 0,09 detik! Akhirnya aku berhasil Chanyeol! Latihanku selama ini tidak sia-sia!”

Tidak semua ucapan Iseul bisa Chanyeol tangkap. Yang Chanyeol tahu, Iseul sudah mengalahkan rekor dunia yang belum lama terpecahkan.

Jadi selama ini dia sering menghilang karena berlatih?

“Nah, impianmu sudah tercapai ‘kan? Sekarang ayo, waktumu semakin menipis,” kata si pria.

“Yah, apa boleh buat ya?” Iseul tersenyum getir. “Dah, Chanyeol!”

Waktumu… semakin menipis? “Apa maksudnya waktumu semakin menipis?” Chanyeol menyuarakan hal yang mengganjal pikirannya. Ada yang tidak beres.

“Artinya waktu Iseul sudah hampir habis,” sahutan dari si pria tidak digubris.

“Hehehe, dia benar. Waktuku sudah hampir habis. Mulai sekarang kau pasti akan sering merasa kesepian,” sambung Iseul dengan senyuman lebar.

“Jadi… kau akan bangun?” perasaan Chanyeol sudah campur-aduk di titik ini. Apakah ia harus senang karena itu artinya Iseul mempunyai kesempatan untuk sembuh dan berlari lagi? Atau apakah ia harus merasa tidak suka karena itu artinya Iseul mempunyai kemungkinan untuk kembali bersama Minho?

Jika dia bisa menentukan, Chanyeol ingin menjadi egois. Dia ingin Iseul untuk terus ada di dekatnya dan tidak kembali ke pelukan Minho.

“Ehehehe,” Iseul meringis. “Chanyeol, kau akan jadi satu-satunya orang yang tahu bahwa rekor dunia itu telah dipecahkan oleh atlet lari dari Korea, yaitu aku. Maafkan aku ya, jika selama ini aku sering membuatmu kesal. Terima kasih juga atas waktu yang telah kita habiskan bersama. Aku sungguh-sungguh menikmatinya―”

Apa-apaan ini?

“―Ah, aku juga minta maaf karena sudah menyinggungmu. Jika aku punya waktu lebih, aku… aku janji akan lebih mengenalmu. Aku janji. Tapi sayangnya… aku harus benar-benar pergi. Kali ini aku kalah dengan penyakitku.” Senyum getir mengakhiri ucapan Iseul. Matanya kelihatan berkaca-kaca.

A-ANDWE!” Chanyeol berteriak dengan histeris. “Kau pasti bercanda! Kau hanya pergi untuk sementara ‘kan? Ini semua hanya leluconmu ‘kan?! Kau akan bangun dan mengalahkan kanker itu ‘kan?!”

Tanpa suara, air mata Iseul sudah meleleh membasahi pipinya. Gadis itu menggeleng pelan. “Ini bukan lelucon, Chanyeol. Aku sudah benar-benar kalah.”

“Tapi pasti ada yang bisa kita lakukan bukan?” lirih Chanyeol.

Iseul kembali menggeleng pelan.

“Tidak ada.” Si pria angkat suara. “Tidak ada yang bisa dilakukan. Apa kau tidak tahu? Hidup dan matinya seseorang itu adalah takdir yang tidak dapat diubah.”

Chanyeol bisa merasakan dirinya tenggelam dalam jurang keputusasaan. Iseul akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Chanyeol sendiri tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.

Tangan Iseul kemudian bergerak mengusap air matanya. “Ja, uljima Chanyeol-ah. Aku tidak mau pergi dengan melihat wajah sedihmu yang jelek itu.” Iseul berusaha untuk tertawa.

Iseul memang menyuruhnya untuk tidak menangis. Tapi Chanyeol tidak bisa. Air matanya sudah mengalir begitu saja tanpa seijinnya. Serta tubuhnya tiba-tiba bergerak memeluk Iseul erat. Tangis keduanya justru semakin pecah.

“Dasar egois. Kenapa kau selalu menyimpan semua bebanmu seorang diri? Dasar egois. Siapa yang menyuruhku untuk tidak menangis tapi dirinya sendiri malah menangis?” kata Chanyeol di sela-sela tangisnya.

Tawa Iseul pecah mendengarnya. Tawa yang terdengar sumbang karena diiringi tangisan.

“Kau juga bandel, tidak mematuhi perintahku,” balas Iseul.

“Untuk apa aku mematuhinya?” Chanyeol tidak mau kalah. “Kau tahu, Iseul? Mungkin di dunia paralel kau tidak akan pergi. Mungkin cerita kita sama, hanya saja akhirnya tidak seperti ini. Mungkin di dunia paralel itu aku yang musisi bertemu denganmu, orang yang tidak menyukai band-ku, yang berada di kursi roda karena penyakit kanker yang menggerogoti. Akan ada begitu banyak perdebatan sengit di antara kita, tapi dengan itulah kita menjadi semakin dekat. Tapi aku akan tetap menjadi kakimu di dunia paralel itu.”

Eo, mungkin saja Chanyeol. Atau nantinya kita bisa bertemu lagi saat kita bereinkarnasi. Jika saat itu tiba, aku janji akan bisa mengenalimu. Mungkin cerita kita berbeda. Atau mungkin sama tetapi memiliki akhir yang berbeda seperti katamu tadi. Saat kita bertemu dengan kondisi dimana aku masih memakai kursi roda, apa kau masih mau menjadi kaki untukku?”

“Tentu saja,” bisik Chanyeol lembut.

Pelukan mereka berdua akhirnya terlepas.

“Nah, tunjukkan senyum bodohmu seperti itu,” kata Iseul. “Ja, kalau begitu jaga dirimu baik-baik. Oh ya, maaf karena aku belum sempat melihat band-mu debut padahal aku sangat ingin. Mungkin di dunia paralel atau di kehidupan selanjutnya, aku bisa melihat band-mu tampil di panggung megah. Tapi saat ini kau tidak boleh menyerah. Buatlah musik yang tulus dari hatimu. Gerakkan hati orang-orang dengan musikmu.”

“Ya, tentu saja,” balas Chanyeol dengan suara serak.

“Kalau begitu… Sampai jumpa… dan selamat tinggal, Chanyeol.”

Chanyeol membalas senyuman Iseul dengan senyum pahit. “Ya, sampai jumpa. Dan… selamat tinggal, Iseul,” ujarnya serak.

Setelahnya Iseul memeluk Chanyeol terlebih dahulu. Sebuah pelukan singkat sebelum Iseul mengikuti langkah si pria.

 

***

 

Tiga hari sudah berlalu sejak kematian Iseul.

Sejak tiga hari yang lalu pula Chanyeol merasa tidak begitu bersemangat menjalani hari-harinya. Sebagian besar dirinya masih tidak percaya jika Iseul sudah pergi untuk selama-lamanya.

“Oh, di sini kau rupanya.” Sebuah suara mengusik ketenangan Chanyeol yang tengah duduk di salah satu kursi taman.

Chanyeol mendongakkan kepalanya yang tengah tertunduk dan mendapati sosok pria yang sama yang menjadi saksi bersamanya di pemecahan rekor Iseul. Sebutan pria sepertinya kurang tepat. Karena dia adalah malaikat maut.

“Ada apa?” tanya Chanyeol malas.

“Aku ada keperluan denganmu.”

“Apa itu?”

Si malaikat maut tidak menjawab. Ia hanya tersenyum penuh misteri.

 

― Lanjut? ―

 

A/N        :

Aloha, amigos! Akhirnya, setelah sebulan lebih penpik ini macet, penpik ini kembali dilanjutkan. Kayaknya makin sepi aja ni penpik? Gegara ngaretnya Len kalo apdet. Well, that’s okay. Sankyu very hamnida buat kalian yang masih setia sama penpik ini. Baik readers yang menampakkan diri, silent readers, maupun buat kalian yang baru menampakkan diri /bow/. Tanpa kalian, apalah daya Len. Siapalah Len ini kalo nggak ada kalian yang baca?

Well, belakangan ini Len emang sibuk. Ditambah kondisi hati dan mental yang lagi dalam kondisi nggak bagus. Ini semua gegara semua anime yang Len tonton ini menyebabkan hati tercabik-cabik bahkan sampe meninggalkan bekas lubang besar. Heran juga… dari beberapa judul anime yang Len tonton kok mayoritasnya punya cerita yang ngejleb-ngejleb di hati? -_-

Yosh, gimana chapter kali ini? Kok Len ngerasa chap ini ada yang kurang ya? :3 Buat si malaikat maut, terserah kalian mau bayangin sosok dia kayak gimana. Tapi Len sendiri bayangin si malaikat maut ini sebagai Jung Il-woo. Ituloh, malaikat maut yang ada di drama 49 Days. /Efek dari dramanya/

At the end, Iseul meninggal. Ini berarti ceritanya makin mendekati ending. Len yakin bakal ada yang protes sama keputusan Len yang ‘matiin’ Iseul. Len menerima itu semua dengan lapang dada. Lagian emang jalan ceritanya begini.

Juga, Len harap kalian bisa bertahan dengan apdet karetnya Len. Bertahanlah, tinggal… dua chap lagi kok (kalo perhitungan Len nggak meleset) XD

Yasudahlah. Len udah kehabisan kata, kokoro ini juga masih lelah. Sorede, see you next chapter!

26 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 13]”

  1. Dr jdl chap ini, dah tau sih 이슬 bkl prg u/ slama2ny 😢 Prtm shinigami tu muncul di eps lalu2 tu ga ambil pusing dy siapa, sneng2 aja ama scene2ny d’foo & 찬슬. Btw, awal bc chap ni tu tetiba kpikiran, 찬슬 sbg spirit yg lg ngawang2 gt outfit’ny ky gmn Len? Pakean pasien/pakean trakhr mrk sblm comma? Kan mrk sring ngdate tu, apa pakean’ny ga ganti2? Brasa nonton k-drama bgt ini 😁
    Trus scene pas pmakaman 이슬 piye, klrg’ny, tmn2 sklh’ny, especially 은지 & 민호?
    Jgn2 d’foo dbut di last chap ni ya Len? Sdih amat, perjuangan dr eps 1, pnuh intrik, drama, pnolakan2 etc..

  2. INI SERIUS ISEUL MENINGGAL? MATI? DEAD? KOIT? SERIUS? DEMI APA? AKU BARU SENENG2 BACA MOMEN CHANSEUL DAN TETIBA ISEUL MATI? MATI? MATI? DIA BENERAN MATI? SERIUS? Omaygat kapan selesenya aku tanya begini terus.
    MAU NANGIS AH ANJIR LEN OMAYGAT AKU GABISA KOMEN OTOKEH CHANYEOL OTOKEH HUWEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
    Awalnya aku masih senyam senyum pas tau kalok chan kek cemburu sama minho (CIYE ISEUL YANG DIJENGUK CIYE/apaansih) tapi tetiba curiga karna iseul nyuruh chan ke stadion. Wah tanda2 nih. Mana habis itu iseul berhasil ngalahin rekor dunia :’) terus malah malah malah HUWEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE sumpah deh aku awalnya sempet mikir ini gak bakalan terjadi di chap ini, sampe aku ngecek berkali kali dan ngebatin ‘ini chap 13 kan?’ tapi rupanya takdir memanglah takdir. Iseul beneran meninggal. Omaygat len gak bakal tau berapa sering aku bilang ‘omaygat!’ ‘serius ini?’ ‘ah masa sih?’ ‘anjir mati beneran!’ pas baca ini
    Aku.beneran.gak.nyangka.
    Tapi… aku suka banget ide len yang bikin iseul meninggal bukan di chap terakhir. Semakin negasin walau iseul mati yang ditinggal tetep bisa ngelanjutin hidup. Jadi cerita mereka gak gantung aja sampe iseul mati. Mereka masih ada dan butuh juga buat diceritain (ini ngomong apa sumpah muter muter, biarin lah)
    Sumpah.aku.gak.nyangka.aku.syok.
    Bagus banget len, aku suka banget, mau nangis rasanya/lah?

  3. Yahh.. Iseul meninggal.. Eh tapi kan kalo iseul meninggal, iseul bakal jadi arwah, ko ga bisa ketemu sih sama chanyeol? Waduh, si malaikat maut mau apa ya ama chanyeol? Jadi takut nih

  4. apaa apaaaan inii??? apdet kapan? 21 februari? mangap leen baru baca sekarang eheheheheheh 😀 . seneng sih leen apdet tapi ceritanyaaa iseul matii aaaah… gamau … jadi sedih huaaaa… ToT. si ceye entar ma siapa?? ohya ma aaku.. dduh jadi penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya heeeemmmm… jaaan ngaret ah len. dah len komennya. by! ditunggu chap 14.

    1. XD Yeee suka-suka Len atuh mah XD
      -_- Ma kamu? Kasian ceye…
      Ehhh lu siapa nyuruh-nyuruh ane biar ngga ngaret? XD

  5. author Iseul beneran meninggal? 😦
    epep yg nggak terduga banget ini, terus gimana nasib cenyol? nqdib mereka berdua? aaaa idup lahi aja iseul nya 😦 😦
    ditunggu next nya 😉

    1. Iya, beneran.
      Nasib chanyeol still unknown. Nasib Iseul ama Chanyeol ya udah gitu aja. Sebenernya saling suka tapi kudu berpisah sebelum rasa itu terucap #tsahhh

  6. leeeennn.. :'(.. kenapaa. kenapa kau matikan iseul.. ya ampunn..
    isel nanti bakal reinkarnasi lagi kan.. iye kann…trus chanyeol kapan bangunnya??
    ya ampun… ya udah lah.. aku tunggu next chapternya ya..
    semangat

    1. Kenapa? Ya jelas karena ane author ni epep lah /flip poni/ XD
      Nggak deh kayaknya. Iseul mati ya mati aja XD
      Kapan? Kapan-kapan XD

  7. OMG O.o
    iseul udah bye ??
    ANDWEEEE T_T
    masa gituh sih .. Bohong kali .. Atau mungkin nanti ada keajaiban terus iseul gak jadi bye .. Kan kan kan ???
    Huwaaaa kasian kan chanyeol nya >.<

    aduuhh kepala ku pusing mikirin ending nya gimana 😦
    sudahlah semoga happy ending yaa author 🙂
    keep writing and FIGHTING ^^
    jangan lama" update nya yaa *hehee ngarep*

  8. Iseul mati… ya sangat menyedihkan apalagi Chanyeol menyukai Iseul hanya saja ia tak menyadarinya selalu menyangkal perasaannya itu.. jangan aku gak sanggup melihat Iseul mati. Bagaimana dengan ambisinya.. 😱😱.. aku gak kuat .. ya tapi semoga saja Chanyeol bahagia di endingnya. Atau si pria itu ada rencana lain dan meminta bantuan Chanyeol semoga saja benar.

  9. Yaampun setelah lu tega bkn Gw lumutan dan pas lanjutin ini epep lu matiin Iseul??? Msh Gk terima Gw len /elah oh ya itu malaikat ada keperluan ape ma Chanyeol Gw berharap lu Gk matiin Chanyeol /plak/ huhuhu epep ini bkl berakhir kah? Klo happy ending itu bgus. Klo sad ending w mesti siapin berlembar tisu dan artinya lu bkn gw boros /apaini. Okeh Gk bnyk koar lgi lh. Ntr elu stres liat komenan Gw 😂😂oke byeeeee d tunggu next chapnyaaaa

    1. Iya, ‘kan Len orangnya tegaan XD
      Oh, jadi kamu bilang kalo endingnya sad ni epep nggak bagus gitu? GITU? XD

  10. omigottt……
    malaikat mautnya ganteng keren gitu dong berarti..woahhh
    akhir ceritany happy ending kan???jngn.. sad yahh..entar hatiqu gk kuat.. elahh lebay..
    okee thor semangat terus..jan lama” updateny ..klo bsa besok langsung update lg
    hahahha maksa

    1. Kerenan juga aku B-) /ditimpuk cobek/
      Hahahaha, kalo kamu nyuruh jgn lama entar aku lama yg apdet XD
      Btw, jgn panggil ane ‘thor’ :3 Panggil Len aja 🙂

  11. Ahh…akhirnya update juga….kak, jgn kelamaan lagi dong kalo bisa…
    Tapi, chapter ini beneran iseul mati. Nanti jadinya happu ending apa sad ending? Happy ya kak….kapan chanyeol bangunnya? Kapan mereka ketemu lagi? Masa iya, gk ada moment mrk lagi…
    Di tunggu ya kak, updatenya…

  12. halo Len… em.. aku adalah termasuk yg baru menampakan diri disini.. mian.. hehehe
    jadi ini sudah mendekati ending ya??
    dan Iseul meninggal..
    ahh.. tidak terima, tapi cara iseul meninggal dan pergi dr Chanyeol terasa begitu alami, baca fic mu brasa kyak sedang nontn drama…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s