DECISION [EPISODE 2] – by GECEE

req-grace-decision

 

GECEE proudly present

 

  E     I   S     O   N


 WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“Maybe it is true, maybe I’m in love with you.”
-Maybe (Sunye)

 

==HAPPY READING==

“APA yang sedang kau pikirkan?”

Byun Baekhee berjalan ke arah tempat tidur kakak kembarnya lalu duduk di situ. Sebenarnya Baekhee juga memiliki kamar pribadi yang bernuansa ungu muda, berbeda dengan kamar Baekhyun yang bernuansa biru. Letaknya persis di sebelah kamar Baekhyun. Kalau mau dibandingkan, kamar Baekhee jauh lebih rapi dibandingkan dengan kamar kakak kembarnya. Namun hubungan kakak-adik mereka terlalu dekat untuk sekedar dipisahkan oleh sebuah tembok pembatas. Buktinya seringkali Baekhee berkunjung ke kamar Baekhyun, atau sebaliknya, untuk sekedar bercerita. Seperti sekarang ini.

Kakak kembarnya itu memutar kursi belajar yang ia duduki sehingga sekarang mereka duduk berhadap-hadapan. Baekhyun menghela nafas. “Tidak ada.”

Baekhee tersenyum. Bukan sekali dua kali Baekhyun menyembunyikan semua pikiran dan perasaannya dengan sebuah senyuman. Namun sepertinya kakaknya itu lupa bahwa insting adik kembarnya membuat Baekhee selalu bisa menebak isi pikiran Baekhyun. Dan biasanya tebakannya hampir selalu benar.

You’re in love, aren’t you?” tanya Baekhee mencoba memancing.

Kakaknya mengangkat kepalanya dan menatap dirinya. Wajahnya terlihat terkejut. “How… How did you know?”

Baekhee tertawa. Seperti dugaannya, tebakannya kali ini benar. “Kau lupa bahwa aku adalah adikmu? Adik kembarmu? Tentu saja aku tahu. Ekspresi wajahmu sekarang sama persis dengan ekspresi ketika kau jatuh cinta dengan Clara Smith waktu itu. Ingat? Ingat saat kita kelas delapan?”

Baekhyun menundukkan kepala dan tersenyum kecil, lalu bergumam. “Dia manis.”

“Siapa? Jaein-ssi?”

“Ya. Aku jatuh cinta padanya saat pertama kali melihatnya. Entah mengapa, saat itu ia terlihat berbeda bila dibandingkan dengan anak perempuan lain yang ada di sekitar situ. Ia seperti lebih… bersinar.”

Baekhee tersenyum geli mendengar penjelasan kakaknya. Sudah belakangan ini, lebih tepatnya semenjak masa pengenalan lingkungan sekolah beberapa waktu yang lalu, Baekhyun sering melamun. Sebagai adik kembar yang sudah mengenal Baekhyun sangat baik, Baekhee mengerti bahwa itu artinya kakaknya sedang jatuh cinta.

Tiba-tiba Baekhee merasa kedua lengannya dicengkeram erat oleh kakaknya. “Ya!” ujar Baekhee

“Baekhee-ya! You’ve got to help me! Kau sekelas dengannya bukan?”

Baekhee mengangguk walaupun ia sebenarnya bingung. Tetapi beberapa detik kemudian, senyumnya kembali mengembang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Yes, you’re right! Bantu aku untuk lebih dekat dengannya. Bantu aku agar aku bisa mengenalnya lebih dalam, menjadi sahabatnya, dan kalau perlu lebih dari sekedar sahabat. Kau mau membantuku?”

Baekhee tersenyum. Mau tidak mau ia harus membantu kakak kembarnya ini. Baekhyun adalah tipe orang yang bisa berubah menjadi gila hanya gara-gara urusan cinta. Baekhee pernah melihat keadaan tersebut dan itu bukanlah sebuah pemandangan yang enak dilihat. Maka dari itu, Baekhee memutuskan untuk membantu Baekhyun kali ini.

***

Jane memandang daftar belanjaannya sekali lagi. Tadi pagi ketika ia membuka kulkas apartment-nya, ia hanya menemukan sekotak susu, potongan roti, dan satu toples selai cokelat. Beruntung ia masih memiliki sedikit sereal di lemari dapurnya, sehingga ia masih bisa membuat sarapan. Namun ia tidak punya bahan makanan untuk makan siang, makan malam, dan menu makan hari selanjutnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk pergi berbelanja di supermarket yang ada di lantai dasar gedung apartment-nya.

Ia mendorong kereta belanjanya perlahan menuju lorong dua. Menurut karyawan supermarket yang ia tanya, tempat bumbu masakan instan ada di lorong dua. Jane ingin memasak kari untuk menu makan siang dan makan malamnya. Ia tidak bisa meracik bumbu, karena itu ia memutuskan untuk membeli bumbu siap pakai.

Di lorong dua, Jane mendongakkan kepalanya ke arah rak bumbu makanan siap saji di hadapannya. Matanya meneliti satu per satu setiap kotak yang ada di situ, mencoba mencari bumbu kari. Tak lama kemudian, matanya menemukan kotak bumbu kari tersebut. Namun, masalah berikutnya kembali datang. Kotak bumbu kari itu terletak di tempat yang agak tinggi. Jane tidak yakin ia bisa mencapainya.

Tangannya berusaha menggapai-gapai kotak bumbu kari tersebut. Kakinya berjinjit, bahkan sesekali melompat, namun tetap kotak bumbu tersebut tidak dapat ia raih. Ketika ia bermaksud untuk memanggil salah seorang karyawan supermarket untuk menolongnya, sebuah tangan telah meraih kotak bumbu kari tersebut dan memberikan kepadanya.

Jane berbalik, lalu jantungnya serasa berhenti berdetak begitu menyadari Park Chanyeol telah ada di sisi kanannya. Sepertinya kakak kelasnya ini selalu membuatnya terkejut. “Sunbae,” gumamnya.

Park Chanyeol meletakkan bumbu kari yang ia pegang di kereta belanja Jane. “Sedang belanja?”

Jane mengangguk. “Ne, sunbae. Kulkasku kosong, jadi aku memutuskan untuk membeli beberapa persediaan makanan.”

Lelaki itu mengambil kembali kotak bumbu kari Jane, lalu melihat-lihatnya. “Kari?”

“Ne, sunbae,” ujar Jane. “Aku ingin membuat kari untuk menu makan siang dan makan malamku hari ini.”

“Oh, begitu.” Chanyeol mengangguk.

Jane melirik ke keranjang belanja yang ada dalam genggaman Chanyeol. Dua kantong keripik kentang berukuran besar dan lima kaleng minuman bersoda. Serta satu kaleng bir. Ia menatap kakak kelasnya itu. “Sunbae membeli sebanyak ini untuk dihabiskan sendiri?”

Chanyeol melirik ke arah keranjang belanjanya. “Oh, besok aku ada kerja kelompok bersama teman-temanku. Ini untuk cemilan kami besok.” Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak bumbu kari siap pakai yang sama dengan yang Jane beli. “Melihatmu membeli bumbu kari membuatku juga ingin makan kari.”

Jane menunduk, namun diam-diam ia tersenyum.

“Setelah ini kau mau kemana?” tanya Chanyeol.

Jane berpikir sejenak. “Hmm.. pulang.”

Hening sejenak. Jane sibuk memainkan kaleng soda yang ada di dalam kereta belanjanya. Sampai akhirnya suara Chanyeol memecah keheningan. “Aku mau makan di rumahmu.”

***

Entah bisa dikatakan takdir atau bukan, Chanyeol kembali dipertemukan dengan gadis bernama Han Jaein itu. Gadis itu terlihat sedang bersusah payah mengambil sebuah kotak bumbu makanan siap pakai. Tangan mungil gadis itu berusaha menggapai kotak yang letaknya lebih tinggi dari kepalanya. Gadis itu berjinjit, bahkan sesekali melompat, tetapi kotak tersebut tetap tidak dapat diraihnya. Chanyeol tersenyum geli. Ia memutuskan untuk membantu gadis itu.

Gadis itu terlihat terkejut begitu melihatnya. Kepala gadis itu serta-merta tertunduk, tidak mau menatapnya. Chanyeol menautkan alis. Astaga, sebegitu menakutkankah ia sampai-sampai gadis itu terlihat segan berurusan dengannya? Apakah gadis itu masih berpikir bahwa ia adalah Park Chanyeol panitia bidang evaluasi masa pengenalan lingkungan sekolah yang menyeramkan itu? Baru kali ini Chanyeol menyesali sandiwaranya yang keterlaluan itu.

Chanyeol mencoba membuka percakapan. Ia tidak ingin gadis itu terus menerus mempunyai kesan yang buruk terhadapnya. “Sedang belanja?”

Gadis itu mengangguk, tetapi masih belum mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol. “Ya, sunbae. Kulkasku kosong, jadi aku memutuskan untuk membeli beberapa persediaan makanan.”

Chanyeol menatap gadis ini. Jaein masih memanggilnya dengan sebutan sunbae. Berarti gadis itu masih menganggapnya sekedar kakak senior. Yang mungkin menakutkan, tambahnya dalam hati.

Gadis itu bertanya tentang barang belanjaan yang ada di keranjangnya, dan Chanyeol pun menjelaskan bahwa itu untuk kerja kelompoknya besok. Besok ia akan menyelesaikan tugas kelompok sejarahnya di apartment-nya, bersama Oh Sehun, Kim Jongin, Jung Krystal, dan Park Sooyoung. Chanyeol melirik kotak bumbu kari di kereta belanja gadis itu, dan entah mengapa ia juga merasa ingin makan kari, jadi ia sedikit berjinjit dan mengambil kotak bumbu kari yang sama.

“Setelah ini kau mau kemana?”

Gadis itu terdiam sejenak. “Hmm.. pulang.”

Chanyeol mengangguk. Sebenarnya, siang ini ia tidak ingin makan sendirian. Entah mengapa akhir-akhir ini selera makannya menguap begitu saja jika ia makan sendirian. Ia bermaksud mengajak gadis di hadapannya ini makan bersama, tetapi bagaimana caranya? Dan apakah gadis itu mau? Apakah gadis itu masih merasa ketakutan berada di dekatnya?

“Jaein-ssi,” gumamnya. “Aku mau makan di rumahmu.”

Perhatian gadis itu seketika teralih dari kaleng soda yang ia pegang dan serta merta gadis itu menatapnya lekat-lekat. “Ne?”

“Aku sedang tidak ingin makan sendirian siang ini. Bolehkah aku makan di rumahmu?”

Jaein menunduk, kemudian mengangguk. Sebersit rasa lega menjalar di hati Chanyeol.

Setelah membayar belanjaan mereka masing-masing, keduanya berjalan ke lift yang membawa mereka ke lantai 20 di mana apartment mereka berada. Chanyeol bersikeras untuk membantu Jaein membawa barang belanjaan gadis itu, dan setelah beberapa menit perdebatan, gadis itu mengalah.

Jaein menekan password apartment-nya lalu mempersilahkan Chanyeol masuk. “Silahkan masuk, sunbae. Maaf kalau apartmentku sedikit berantakan.”

Chanyeol mengikuti gadis itu ke dapur, lalu meletakkan barang belanjaan mereka berdua di sana. Sementara Jaein sibuk dengan panci, air, dan bumbu kari, Chanyeol memutuskan untuk melihat-lihat isi apartment tersebut.

“Apartmentmu cukup rapi. Aku salut melihatmu yang masih sempat mengurus rumah di tengah tugas sekolah yang banyak seperti itu,” komentar Chanyeol.

Tidak ada jawaban.

Chanyeol terdiam. Menurutnya, Jaein adalah gadis yang pendiam. Amat sangat pendiam. Gadis itu terlihat seperti bisu di dekatnya. Bila berada di dekatnya, gadis itu terlihat seperti takut, ragu-ragu, dan tertekan. Gadis itu terlihat seperti menghindarinya. Apa benar gadis itu masih merasa takut bila berada di dekatnya? Apakah benar Jaein masih menganggapnya sunbae yang penuh dengan senioritas?

Sebuah suara terdengar dari dapur. “Sunbae, kari telah siap.”

Chanyeol masuk ke dapur dan duduk di kursi tinggi yang ada di situ. Jaein menaruh semangkuk kari yang masih mengepul di hadapannya. “Silahkan dimakan, sunbae,” ujar gadis itu pelan dengan kepala tertunduk.

Gadis itu berbalik, mungkin hendak mengambil jatah makan siangnya. Chanyeol menghela nafas. Ia harus menghilangkan kesan buruk dirinya di hati gadis itu. Bagaimanapun ia tidak ingin gadis itu selalu merasa tertekan bila bertemu dengannya.

“Apa kau takut padaku?” tanya Chanyeol.

***

“Apa kau takut padaku?”

Langkah Jane terhenti mendengar perkataan Park Chanyeol tersebut. Otaknya berputar cepat memikirkan kata-kata itu. Apa kau takut padaku? Apakah kau takut pada Park Chanyeol?

Sejujurnya, Jane ingin menjawab ya. Walaupun masa pengenalan lingkungan sekolah sudah berakhir beberapa waktu yang lalu, ingatan Jane tentang kejadian ramen pedas itu tetap tidak bisa ia lupakan. Ia tidak marah pada Chanyeol karena merasa dipermalukan, tetapi ia takut. Tidak peduli bahwa itu hanyalah sandiwara seorang Park Chanyeol sebagai panitia, tetap saja rasa trauma itu membekas di hati Jane, membuatnya selalu takut bila berhadapan dengan Chanyeol. Dan fakta bahwa mereka bertetangga membuatnya merasa semakin tertekan.

Ia mendengar Park Chanyeol berdeham di belakangnya. “Ya, maksudku, mungkin kau masih terbayang suasana masa pengenalan lingkungan sekolah itu, dan kau masih menganggapku sebagai salah satu panitia yang pemarah. Kalau benar, kuberitahukan padamu. Itu hanyalah sebuah sandiwara. Bukankah kami seluruh panitia sudah mengucapkan selamat pada kalian semua ketika acara berakhir?”

Jane tercenung. Benar, seluruh panitia sudah menyalami mereka dan menyunggingkan senyum lebar mereka ketika hari terakhir acara masa pengenalan lingkungan sekolah. Semua, termasuk Park Chanyeol yang selama acara hanya bisa marah-marah. Tetapi entah mengapa sampai sekarang Jane masih merasa takut padanya, Jane belum bisa merasa aman di dekatnya.

Jane membalikkan badan dan mencoba tersenyum. “Tentu saja tidak, sunbae. Mana mungkin aku masih takut pada sunbae. Semua orang juga tahu bahwa itu hanyalah sandiwara. Tenang saja, aku tidak marah ataupun takut pada sunbae.”

Bohong, jerit hati kecilnya. Kau masih takut padanya.

Park Chanyeol menatapnya dengan alis terangkat, tetapi laki-laki itu tidak berkata apa-apa. Ketika kari di mangkuknya sudah habis, lelaki itu pamit hendak pulang. Jane mengantarnya sampai depan pintu.

Langkah lelaki itu mendadak berhenti, membuat Jane juga menghentikan langkahnya. Ji-Min memutar badannya memandang Jane.

“Jaein-ssi,” ujar lelaki itu. “Gomawo.”

Lelaki itu menyunggingkan sebuah senyum. Senyum itu bukan senyum sinis seperti yang ia lihat saat masa pengenalan lingkungan sekolah. Senyum itu memancarkan sebuah ketulusan.

Dan mau tidak mau, Jane pun ikut tersenyum.

 

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 3

“Apa yang kau lakukan dengan semua karton ini? Kau membantu seorang anak baru mengerjakan tugasnya?”

“Tidak mungkin.”

***

“Ya! Eodiga?”

“Mungkin.. aku butuh bantuan..”

***

“Maafkan kalau aku merepotkanmu.”

“Sama sekali tidak.”

***

“Di sekolah, kau boleh memanggilku sunbae. Tetapi di rumah, aku adalah oppa-mu.”

A/N
Sorry for the late update….. Lagi minggu-minggu ulangan jadi.. ya begitulah..
And I’ve decided. Karena ini adalah project pertamaku di sini, jadi aku memutuskan ff ini nggak ada chapter yang bakal di protect hehehe 😀 Bersukacitalah kalian /apa ini/
Tapi tetap RCL is a must ya! See you in next episodes 😀

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

38 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 2] – by GECEE”

  1. Cerita bagus author..
    Hanya satu yang kurang dan buat bingung..
    Kok ada nama JIMIN?? Itu kenapa ya thor ?? -_-
    Di episode 1 juga gitu.. Bukann jane tapi author tulisnya ALICIA ??
    Mohon dijawab ya thor.. Aku bingung nih wkwkwk.. Trims thor

  2. wahhh daebakk.. aku reader baru,ff ini ff kedua yang aku baca.. dan ternyataa.. keren banget ! semangat ya thor.. btw,kok tiba² namanya Chanyeol jadi Jimin ? wkkw😂😂

  3. wah wah…rupanya si chanyeol mulai pdkt nih, trus gimana baekhyunnya? dia jadi saingan ama chanyeol, tbh, aku sukanya jane sama baekhyun kekeke…. maksa ya 🙂

  4. Kyaaaa~ Annyeonghaseyo, aku pembaca baru Secca imnida! Pas baca teasernya kupikir, Han Jaein pacaran sama Chan ketika dia jatuh cinta sama Baek wkwk, Tapi kayanya engga, Aku suka jalan ceritanya. walaupun masih ada beberapa nama yang kayanya kelewat dan gak sempet diganti. Tapi ya manusia gak lepas dari typo, apalagi cerita ini abis di edit ulang hehe. Semangat nulisnya dan sampai jumpa di kolom komentar episode selanjutnya!

    1. haiiiii.. selamat datang di project ku yang entah apa ini 😀
      iya… maafkan ya untuk typo yang membuat kalian semua tidak nyaman hwhwhwhw.. tapi semoga tetep betah ya bacanya 😀
      oke.. selamat mengikuti 😀 salam kenal juga 🙂

  5. Kak gece, jujur aku bingung mau komen apa.-. Tp aku pengen punya adik kembar kyk baekhee *salahfokus* dia kyk adik idaman bgt >< si baek tp serem y kl lg jatuh cinta, bs smp gila.-. Trus chanyeol, hadoh, plis, pengen punya sunbae kyk dia 😍😍😍😍 demi apa pun, apalagi dinotice sm senpai beeuh mantap. Jd pengen dposisi jaein :") ditunggu kelanjutannya ya kak gece, semangat nulisnyaaa!!^^

    1. wakakakakak…. sptnya baekhee ade yang baik ya XD iya baekhyun klo udah suka sama cewe udah gila tuh wkwkwkwkwk
      yessss i want to be noticed by senpai too XD *poke dyo*
      oke2… thanks udah baca dan komen ya 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s