[EXOFFI FREELANCE] THE ARCHILLESS (Chapter 6)

End

THE ARCHILLESS (Chapter 6)

Author:

@Hanalorenqk

Length:

Series

Genre:

Fantasy, Romance, Friendship

Rating:

PG-15

Main cast:

PARK CHANYEOL

YOO HARA (OC)

KIM JONG IN

OH SEHUN

BYUN BAEKHYUN

LUHAN

KIM JONGDAE

Disclaimer:

Fanfiction ini terinspirasi dari beberapa cerita fantasy seperti Narnia, Harry Potter, dan Percy Jackson. Tapi ide sepenuhnya murni dari hati dan pikiran >.< Thanks buat yang uda baca dan comment J Khamsahamnida!!!

 

~THE ARCHILLESS

~CHAPTER 6

 

 

 

 

“Apa kau yakin ini jalan yang tepat?”

 

Hara tidak menjawab pertanyaan Jong-in. Dia hanya berjalan ke arah yang menurutnya tepat. Entah kenapa tiba-tiba Hara begitu percaya diri dengan pilihan-pilihan arah yang dibuatnya. Nalurinya seperti sedang memberitahunya jalan keluar labirin ini.

 

“Hara, kita tidak salah jalan kan?” tanya Jong-in lagi. Di punggungnya, ia sedang menggendong Chaera yang masih tak sadarkan diri.

 

“Aku mulai menemukan teka-teki labirin ini. Jadi, percayalah padaku…”

********

 

 

 

 

 

 

 

Chanyeol merasakan kepalanya begitu sakit. Dia juga merasa mulutnya seperti penuh dengan darah karena muntahannya barusan. Chanyeol tidak ingat, sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Yang jelas saat ini dia sedang mendapati dirinya sedang tidak berada di dalam labirin lagi. Ia sedang berada di sebuah hall istana batu yang sepi. Tak ada siapapun selain dirinya dan…

 

“Kau sudah sadar?”

 

Chanyeol langsung beranjak bangun saat mendapati seekor ular sedang berbicara padanya. Di saat itulah Chanyeol sadar, dirinya sedang diperhatikan oleh ular itu, dan juga seekor harimau di sampingnya. “Tubuhmu kuat juga, Zeus…”

 

Ular dan harimau itu pun berubah menjadi manusia. Chanyeol begitu kaget saat menemukan siapa sosok dua manusia itu. “Ka…kalian!!”

 

Mereka adalah Chansung dan Gikwang, titan yang telah membunuh orangtua Chanyeol. Ya, Chanyeol ingat betul dengan wajah pembunuh kedua orangtuanya. Meskipun Chanyeol hanya bertemu dalam samar-samar mimpi. “Akhirnya kami memiliki kesempatan untuk mengenalkanmu pada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu, Park Chanyeol…”

 

Chanyeol memegang kepalanya lagi, sementara tangan kirinya mengepal geram. Pembunuh orangtuanya sedang berada di hadapannya. Tapi Chanyeol begitu kesal karena dia seperti patung yang tidak bisa berbuat apa-apa.

 

“Park Chanyeeoool…”

 

Lagi-lagi Chanyeol mendengar suara itu. Suara seorang wanita yang sedang memanggilnya dengan manja. Chanyeol menutup telinganya karena sepertinya suara wanita itu perlahan menusuk telinganya, bahkan kepalanya. “Maukah kau memberitahuku di mana kotak Pandora itu? Mungkin setelah ini kita bisa berteman baik…” seru suara itu.

 

“Hentikan!!!” Chanyeol menutup telinganya. “Aku tidak tahu soal kotak Pandora itu! Kalian bertanya pada orang yang salah!”

 

“Kau pikir aku bodoh? Aku tidak akan bodoh lagi seperti saat aku dibodohi oleh ayahmu yang pengkhianat itu!!”

 

“Ka…kau!” Chanyeol mulai menyadari sesuatu. “Kau… Titania!”

 

“HAHAHAHA…Akhirnya kau mengenaliku anak tampan… Jadi bagaimana? Apa kau bisa diajak bernegosiasi untuk memberitahu di mana kotak kesayanganku itu?”

 

Chanyeol gemetaran. Dia benar-benar merasa bingung. Dia sama sekali tidak tahu di mana kotak Pandora itu berada. Tapi, di sini suasana membuat seakan-akan Chanyeol tahu dan sedang menyembunyikannya di suatu tempat. Di sisi lain Chanyeol tahu betul jika apa yang sedang dialaminya saat ini adalah sesuatu yang membahayakan jiwanya. Dia sedang berada di hadapan Titania, ratu para titan yang jelas kapan saja bisa membunuhnya.

Sesaat kemudian, awan hitam kembali mengelilingi Chanyeol. Awan itu pun berkumpul menjadi satu, membentuk sesosok tubuh wanita yang tidak terlihat jelas wajahnya. Tapi, Chanyeol seperti pernah melihat bentuk tubuh itu. “Aku hampir habis kesabaran anak muda. Cepat katakan di mana kotak Pandora itu berada!!!” bentak sosok wanita itu.

 

“A…aku benar-benar tidak tahu.”

 

Bbuuumm!!!

 

Chanyeol terlempar lagi dan membentur tembok. Kali ini Chanyeol yakin seribu persen jika tulang-tulang di tubuhnya telah hancur. Seluruh kekuatannya terkuras habis. Mulutnya terus mengeluarkan darah dan kepalanya tak bisa memikirkan apapun. Chanyeol hanya bisa mengingat dua sosok saat ini, orangtuanya. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya di dalam hati.

 

Sosok Titania mendekati Chanyeol lagi. Chanyeol hanya bisa mengandalkan tangannya untuk membawa tubuhnya segera menjauh dari Titania. Meskipun sebenarnya mau bagaimanapun Chanyeol melarikan diri, dia memang tidak akan pernah bisa selamat. Ia hanya mampu bergerak sejauh satu meter, dan setelah itu… tubuhnya berhenti bergerak. Inikah saatnya untuk dia menyerah? Ya, Chanyeol memang akan berpikir untuk pasrah dan menyerah, namun tiba-tiba, sesuatu yang bercahaya keluar dari lencana Chanyeol.

 

“Rupanya semudah ini membunuh keturunan Zeus selanjutnya?” seru Titania tampak bahagia. Ia mengangkat tangan kanannya, mengumpulkan tenaganya dan akan menyerang Chanyeol lagi. Titania pun melayangkan tangannya ke Chanyol dan di saat itulah Chanyeol menangkis serangan Titania dengan tangannya dan…

 

 

 

 

 

 

 

DHUUAARRR!!!

 

 

Langit di Barnsteen sepenuhnya menjadi gelap. Hujan perlahan turun. Para siswa berlarian memasuki kastil untuk berteduh. Namun tidak untuk para guru yang masih khawatir dengan ketiga murid yang belum juga keluar dari labirin.

 

“Aku akan mencari mereka…” Guru Kim mulai ingin bergerak. Namun…

 

“Itu merekaa!!!” seorang siswa berteriak dari arah kastil saat melihat Jong-in dan Hara sudah keluar dari pintu keluar.

 

“Jong-in-ah!!!” Guru Kim berteriak saat melihat anaknya bisa keluar hidup-hidup. Jong-in yang melihat ayahnya, segera memberikan Chaera kepada petugas kesehatan lalu berlari menghampiri ayahnya. “Appa!!”

 

Sementara itu Hara terkulai lemas. Master Yoo dan Guru Kwon segera menghampirinya, “Hara…” Master Yoo langsung memeluk gadis itu dan merasa begitu bersyukur dapat bertemu lagi dengan putrinya.

 

“Mas…Master…” gumam Hara.

 

“Aku senang kau kembali dengan selamat, Anakku…”

 

Hara terlihat memasang ekspresi bingung dengan pernyataan Master Yoo kepadanya, “Maafkan appa karena tidak memberitahumu sejak awal… tapi appa berjanji akan menjelaskan semuanya padamu…”

 

Entah apa yang harus dirasakan Hara saat ini, tapi yang jelas gadis itu terlihat sedikit lega dengan kenyataan bahwa dirinya adalah putri kandung dari Master Yoo. Tapi, kecemasan kembali terpancar dari wajahnya begitu ia mengingat seseorang, “Chanyeol…”

 

“Benar. Di mana anak itu?” tanya Guru Kwon.

 

“A… aku tidak tahu… sesuatu menyerang kami… suara seorang wanita…”

 

DHUAARRR!!!!

Sebuah petir raksasa tiba-tiba muncul dari tengah hujan yang semakin lebat. Master Yoo segera melindungi Hara dengan memeluknya. Sementara Guru Kwon hanya diam mematung melihat petir itu.

 

“Guru Kwon…” suara seseorang mengejutkan mereka. Mereka pun berbalik kearah pintu keluar labirin dan di sana, berdiri Park Chanyeol yang tersenyum ke arah mereka lalu jatuh tak sadarkan diri.

*********

 

 

 

 

 

 

 

“Jadi… Chaera seorang Hades?” Jongdae benar-benar tidak percaya saat melihat adiknya mengalami hal yang sama dengan yang dialami Kyungsoo. Saat ini kedua pemilik kekuatan Hades itu sedang berbaring di balai pengobatan utara.

 

“Sepertinya mereka seperti ini karena mereka bisa merasakan kematian Son Dongwoon…” gumam Baekhyun. Wajahnya begitu serius. “Aku jadi benar-benar mengkhawatirkan Chanyeol…”

 

Suasana di antara Jongdae dan Baekhyun pun hening. Keduanya terdiam sambil memandangi jendela yang ada di ruangan tersebut. Hujan masih turun dengan lebatnya. Tak ada satu pun orang berada di luar kastil di tengah hujan begini.

 

“YA! Byun Baekhyun! Chanyeol sudah ditemukan…” teriak seorang siswa kepada Baekhyun.

 

“Jinjayeo?” seru Jongdae dan Baekhyun hampir bersamaan. Mereka pun segera meninggalkan ruangan itu, dan bergegas menuju ke balai selatan, tempat Chanyeol dirawat.

 

 

Di saat-saat seperti ini, yang paling sibuk adalah Lay. Siswa pemilik kekuatan Apollo itu memang menjadi andalan Empire untuk masalah pengobatan. Sebenarnya semua orang yang memiliki lencana Apollo bisa mengobati. Lihat saja bagaimana siswa lainnya yang berlencana Apollo, membantu Lay merawat orang-orang yang sedang terluka karena pertandingan Empire. Tapi di antara mereka, tetaplah Lay yang terbaik. Tak heran jika dia dipercayakan sebagai kepala pengobatan Empire.

 

 

“Sehun-ah!!!”

 

Di tengah repotnya para murid Apollo melakukan tugas mereka, seorang gadis justru memecahkan ruangan dengan tangisannya. Im Jangmi, dia sedang menangis histeris di hadapan Oh Sehun yang terbaring tak sadarkan diri.

 

“Sehun-ah… jangan mati!” tangis Jangmi tidak juga berhenti. Tangannya menggenggam erat tangan Sehun, “Aku janji… aku janji tidak akan mengikutimu lagi! Aku juga tidak akan menganggumu lagi! Aku akan berhenti menyukaimu jadi aku mohon jangan mati!”

 

Jangmi menunduk dan meneruskan tangisannya. Ia membenamkan kepalanya ke dada Sehun, memeluk pemuda itu. Dia begitu khawatir saat mendengar Sehun menjadi salah satu peserta yang terluka saat para kuda terbang menjemput mereka. Jangmi langsung meninggalkan Baekhyun dan Jongdae dan berlari ke balai pengobatan timur, tempat Sehun dirawat. “Sehun-ah…”

 

Tiba-tiba Jangmi menegakkan kepalanya. Dia merasa kalau Sehun baru saja membalas genggaman tangannya barusan. “Se… Sehun?” Jangmi menghapus airmatanya dan menatap Sehun seksama. Perlahan kelopak mata Sehun bergerak. Lalu mulai terbuka. Sehun sadar.

“Sehun-ah? Kau tidak mati?” pertanyaan bodoh itu langsung dilontarkan oleh Jangmi. Sehun tersenyum dan menggeleng. Jangmi langsung memeluk Sehun dan tangisannya kembali terpecah. “Huaahh!!! Kau tidak tahu bagaimana aku begitu takut jika kau mati, Sehun-ah!!”

 

Sehun tertawa kecil melihat tingkah Jangmi yang begitu lucu. Tangan Sehun perlahan mulai bergerak dan membelai kepala gadis itu. Sehun bisa merasakan bagaimana jantungnya masih terasa begitu menusuk. Tapi entah kenapa, semakin lama, rasa sakit itu perlahan hilang. Mungkin berkat airmata Jangmi yang saat ini menangis di pelukannya.

*********

 

 

Sama seperti Jangmi yang mengkhawatirkan Sehun, Hara saat ini juga sangat mengkhawatirkan Chanyeol. Luka di tubuh Chanyeol begitu parah. Lay sendiri mengatakan bahwa beberapa tulang rusuk Chanyeol patah akibat benturan yang begitu keras. Sepertinya sangat ajaib pemuda itu bisa melangkah keluar dari labirin, bahkan memanggil Guru Kwon dengan jelas tadi.

 

“Chanyeol-ah… mianhae. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkanmu… padahal…” Hara mengingat kejadian di mana dia hampir mati di dalam danau namun Chanyeol menyelamatkannya. “A…aku… “ Hara menghentikan kata-katanya lagi karena airmatanya terus jatuh.

 

“Kau sebaiknya beristirahat juga, Hara-ssi.” tegur Lay. “Kau juga terluka cukup parah…”

 

Hara tidak menggubris saran dari Lay. Dia tetap memilih untuk berada di sisi Chanyeol. Ya. Dia akan berada di sisinya, sampai Chanyeol benar-benar sadar.

**********

 

 

 

 

 

Empire hari ini memang telah dilanda musibah besar. Siapa sangka pertandingan Empire Cup akan berakhir dengan permasalahan seperti ini, bahkan kematian salah satu murid. Seperti yang semua orang tahu, Empire Cup memang ajang menguji kemampuan serta nyali para murid Empire yang berbahaya. Tapi tak pernah sekalipun para guru menciptakan permainan yang membahayakan jiwa para muridnya. Dan ini adalah pertama kalinya seorang murid mati di pertandingan. Hal ini membuat semua guru dan juga Master Yoo mengadakan rapat mendadak untuk mengetahui siapa penyebab kekacauan ini.

 

“Son Dongwoon ditemukan di daerah lubang Aphrodite. Di mana saat itu Oh Sehun juga sedang berada di sana.” lapor Guru Lee. “Aku yakin Sehun mengetahui sesuatu. Kita harus menanyakan hal ini pada Sehun…”

 

Master Yoo menarik nafas panjang. “Lalu bagaimana dengan kasus Park Chanyeol yang tiba-tiba menghilang dari labirin?”

 

“Aku yakin ini ulah para titan, Master Yoo…” Guru Song mulai berbicara. “Bukankah seminggu yang lalu seorang titan berhasil memasuki Empire dan menyerang Park Chanyeol? Ini menunjukkan bahwa pintu pemisah antara bangsa percy dan titan perlahan-lahan sudah dibuka. Perang selanjutnya akan segera datang.”

 

“Dan Park Chanyeol pasti akan menjadi sasaran utama para titan itu. Karena hanya Park Chanyeol-lah keturunan Zeus satu-satunya yang mengetahui di mana letak kotak Pandora” tambah Guru Kim.

 

“Tapi Park Chanyeol mengaku dia tidak mengetahui di mana letak kotak Pandora itu…” sahut Guru Kwon.

 

“Dia pasti berbohong…” kali ini yang berbicara adalah Guru Victoria, guru yang mengajar ilmu pertahanan di Empire. “Tidak mungkin seseorang yang dipilih untuk memiliki lencana Zeus tidak tahu di mana kotak Pandora berada.”

 

“Benar juga…” gumam Guru Kim.

 

“Memang benar. Tapi itu bisa saja terjadi pada seseorang yang telah kehilangan orangtuanya di usianya yang baru berumur 3 tahun…“ Guru Yang mulai berbicara. “Park Chanyeol ditinggal oleh orangtuanya saat dia berusia 3 tahun. Dan saat itu dia tidak tinggal di Barnsteen. Dia besar di bumi dan menjalankan aktivitas sebagai manusia normal biasa. Dia tentu tidak akan pernah punya waktu untuk tahu di mana letak kotak Pandora itu…”

 

“Orangtuanya pasti pernah mendatanginya di alam mimpi kan?” debat Guru Victoria yang sedikit kesal dengan Guru Yang.

 

“Guru Victoria, Anda sepertinya menjadi seseorang yang paling banyak menuntut di sini. Apa Anda sangat berharap Park Chanyeol tahu di mana kotak Pandora itu? Anda berharap dia akan memberitahukannya pada kita kan?”

 

“Aku tidak seperti itu, Guru Yang…” Guru Victoria menatap sinis Guru Yang.

 

“Oh iyah. Sepertinya selama terjadi masalah di labirin tadi, aku tidak melihatmu Guru Victoria,” kata Guru Yang lagi.

 

“Benar. Anda pergi ke mana?” tanya guru-guru lain yang membuat Guru Victoria berubah panik. Sementara itu, Guru Yang tersenyum licik melihat Guru Victoria akhirnya terpojokkan.

****

 

 

 

 

 

 

Mata Yoo Hara mulai membengkak. Hampir tiga jam dia menangisi Chanyeol yang belum juga sadarkan diri. Di sisi lain seharusnya Hara berbahagia karena akhirnya dia menemukan orangtua kandungnya yang ternyata adalah Master Yoo sendiri. Tapi, entah kenapa rasa bahagia itu tidak sempurna jika dia harus melihat Chanyeol yang terbaring seperti saat ini. Hara seakan-akan merasa hatinya begitu sakit.

 

“Chanyeol-ah…” airmata Hara menetes lagi. “Kapan kau akan sadar?” Hara menggenggam tangan Chanyeol berharap kalau laki-laki itu akan segera membuka kelopak matanya.

 

“Hara-ya…” suara seseorang mengejutkan Hara, dia pun menyeka airmatanya dan berbalik. Di pintu, berdiri Kim Jong-in yang berjalan terpincang-pincang karena dia juga terluka, “Apa Park Chanyeol belum sadar?”

 

“Eung…” jawab Hara lemas. “Kau sendiri, baik-baik saja kan?”

 

“Na gwaencanha…” jawab laki-laki bertubuh tegap itu. “Aku ke sini… hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu. Kalau saja tadi aku tidak bertemu denganmu, mungkin aku tidak akan di sini sekarang. Gomawo, Hara-ya…”

 

“Kau tidak perlu mengucapkan terimakasih padaku. Anggap saja tadi aku hanya beruntung karena instingku tepat untuk menemukan jalan keluar labirin itu…” Hara memegang pundak Jong-in. “Sebaiknya kau beristirahat, bukankah besok kau harus mengikuti upacara kemenanganmu?”

 

“Kau juga akan mengikuti upacara itu, Hara-ya. Kau adalah pemenang perempuan Empire Cup tahun ini…”

 

Hara terdiam. Jong-in benar. Dia dan Jong-in adalah peserta pertama sekaligus yang terakhir keluar dari labirin tanpa bantuan kuda terbang. Merekalah pemenangnya. Tapi, entah kenapa Hara tidak bisa merasa senang saat menatap pemuda yang saat ini berbaring tidak berdaya di sampingnya. “Sepertinya aku tidak bisa senang, sekalipun aku menang…”

*****

 

 

 

 

 

 

“Empire Cup tahun ini, seperti yang telah kita ketahui, tidak berjalan dengan mulus seperti tahun-tahun sebelumnya. Seperti yang kita ketahui, salah satu saudara kita, Son Dongwoon, meninggal dunia karena menjadi korban seseorang yang tidak kita ketahui, dan yang telah mengacaukan pertandingan ini. Saya, selaku kepala sekolah dari Empire, turut merasakan dukacita dan merasa bersalah atas kecelakaan ini.”

 

Seluruh murid menunduk sedih. Apalagi kelompok murid Hephaestus, teman-teman Son Dongwoon. Tentu saja mereka sangat sedih karena kehilangan sahabat mereka. Son Dongwoon, adalah murid berlencana Hephaestus yang cukup popular di Empire. Dia adalah murid terbaik Hephaestus, sekaligus murid kesayangan Guru Kang. Sangat disayangkan karena bakatnya itu harus berakhir karena kematian.

“Namun, ada hal lain yang harus saya sampaikan kepada kalian semua…” Master Yoo menarik nafas panjang. “Pintu pemisah antara bangsa percy dan titan sudah mulai terbuka. Sedikit demi sedikit para titan bisa masuk ke Barnsteen dan menyerang kita kapan saja. Hal ini dibuktikan dengan penyerangan terhadap Park Chanyeol beberapa hari yang lalu, dan juga kematian Son Dongwoon yang setelah diperiksa, juga disebabkan oleh titan…”

 

Mendengar pernyataan Master Yoo, para murid mulai ribut. Mereka tidak menyangka kalau yang mengacaukan pertandingan Empire kemarin adalah para titan. “Maka dari itu, kita harus menyiapkan diri kita kapan saja karena kita tidak pernah tahu kapan mereka akan menyerang kita. Kami para guru berharap penuh atas keseriusan kalian dalam belajar, dan terutama untuk para Lexus… bersiaplah untuk membina para junior kalian…”

 

[ Balai pengobatan selatan… ]

 

Sementara itu di balai pengobatan selatan, Park Chanyeol yang masih terbaring lemah didatangi oleh sebuah sinar. Sinar itu berwarna ungu, dan melayang-layang ke atas tubuh Chanyeol lalu masuk ke dalam tubuhnya. Di saat itulah tiba-tiba tubuh Chanyeol tersentak. Jemari Chanyeol bergerak, dan dia pun sadarkan diri.

 

 

 

 

[ Kembali ke aula besar… ]

 

 

“Selain itu… hari ini kita akan menobatkan dua pemenang kita yang akan bergabung menjadi anggota Lexus berikutnya. Mari kita beri penghargaan kepada Kim Jong-in dan Hara!” tepuk tangan yang meriah menyusul pengumuman yang disampaikan oleh Master Yoo. Dari barisan terdepan, majulah Jong-in dan Hara, pemenang Empire Cup. Keduanya berdiri di depan altar Olympus lalu disemitkan lencana Lexus oleh Xiumin, sang ketua. Ya, memang seperti itulah tradisi di Empire. Siapapun yang memenangkan Empire Cup, otomatis akan bergabung menjadi anggota Lexus. Dan mulai saat ini, Hara dan Kim Jong-in resmi menjadi Lexus.

 

“Waahh… tak kusangka Hara akan menjadi Lexus secepat ini…” gumam Baekhyun yang tak berhenti bertepuk tangan untuk temannya itu. “Seandainya Chanyeol ada di sini. Dia pasti akan sangat bangga melihat gadis yang disukainya berdiri di sana.”

 

“Mwo?” Jangmi langsung menoleh. Sadar kalau dirinya keceplosan berbicara, Baekhyun langsung menutup mulutnya dengan panik. “Kau bilang Chanyeol menyukai Hara?”

 

Tak hanya Jangmi, Sehun yang duduk di sebelah Jangmi juga terkejut mendengar pernyataan Baekhyun. “Mereka sama sekali tidak cocok…” kata Jangmi.

 

“Aigoo… apa alasanmu mengatai mereka tidak cocok?”

 

“YA!! Kau lihat di depan sana… bukankah Hara terlihat sangat cocok dengan Jong-in? Mereka bahkan menjadi Lexus di saat yang bersamaan,”

 

“Ckckck… kau pikir kau dan Sehun cocok?”

 

“Tentu saja…” jawab Jangmi dengan penuh percaya. Ia meraih tangan Sehun dan mengenggamnya. Sehun yang melihat tingkah Jangmi hanya tersenyum dan itu membuat Baekhyun sedikit kesal. Dia benar-benar tidak menyangka jika Sehun ternyata memiliki perasaan yang sama dengan Jangmi selama ini.

 

Sementara itu, dari kejauhan sepasang mata terus memperhatikan Sehun dengan tatapan sinis. Tersorot amarah dan kebencian dari sepasang mata tersebut. Sehun melirikkan matanya sejenak. Ia sadar dengan mata yang jelas sedang memperhatikannya itu. Ia menghawatirkan sesuatu. Ia melirik ke tangannya yang bersatu dengan tangan Jangmi, lalu menatap wajah gadis itu. Wajah Jangmi tetap seperti biasa. Sangat cantik dan ceria. Sehun tahu jika Jangmi bahagia karena kenyataan tentang dirinya yang juga menyukai gadis itu telah terungkap. Namun, apakah keputusannya untuk bersama Jangmi tepat?

***********

 

 

 

 

 

Seusai upacara kemenangan, Hara langsung melangkahkan kakinya menuju balai pengobatan selatan. Dia tidak peduli dengan acara bersama dengan Lexus yang harus diikutinya. Ia tak peduli juga dengan Luhan yang mengajaknya makan siang bersama. Baginya, hal yang ingin dia lakukan saat ini adalah hanyalah melihat Chanyeol.

 

“Chanyeol-ah…” panggil Hara saat dia baru sampai di depan pintu. Namun, matanya terbelalak kaget saat menemukan tempat tidur Chanyeol kosong. Chanyeol menghilang.

********

 

 

 

 

 

 

 

“Guru Kwon…”

 

“Ya, Master Yoo?”

 

“Kurasa kau harus melihat ini…”

 

Guru Kwon yang tadi sedang membaca sebuah buku dari koleksi buku milik Master Yoo segera melangkahkan kakinya menghampiri Master Yoo. Tampaknya yang menjadi alasan Master Yoo memanggilnya adalah sebuah lencana emas seukuran telapak tangan orang dewasa yang memiliki tujuh buah permata bening di tengahnya. “Kau menyadari sesuatu?” tanya Master Yoo.

 

Guru Kwon mengeryitkan dahinya berusaha mencari apa yang dimaksudkan Master Yoo. Beberapa saat kemudian matanya pun melotot kaget saat menyadari apa yang dilihatnya dari lencana itu. Dari tujuh permata bening yang ada di lencana itu, ada satu permata yang warnanya telah berubah menjadi emas.

 

“Seorang Archilles telah dipilih…” kata Master Yoo sambil tersenyum lebar.

*********

 

 

 

 

 

“Chanyeol!! Park Chanyeol!!”

 

Lima belas menit sudah Hara berkeliling kastil untuk mencari sosok Chanyeol yang menghilang. Tak ada satupun siswa yang melihat keberadaan Chanyeol. Baekhyun dan Jongdae sendiri saat ini juga sedang dalam usaha yang sama, yaitu mencari gerangan siswa Zeus itu. Mengingat kondisi tubuh Chanyeol yang terluka parah, rasanya mustahil jika Chanyeol bisa bergerak dan pergi jauh dari balai pengobatan. Hara ingat betul tentang perkataan Lay yang mengatakan jika tulang-tulang Chanyeol banyak yang patah. Apa mungkin seseorang yang tulangnya patah bisa berkeliaran seperti yang dilakukan Chanyeol saat ini?

 

Hara menghentikan kakinya ke tepi danau Barnsteen. Kakinya sudah sangat letih untuk melangkah lagi. Apalagi sebenarnya kondisi tubuh Hara belum sepenuhnya membaik. Beberapa luka di tubuhnya masih terasa sakit dan wajah Hara juga masih pucat.

 

“Neo oddisseo Chanyeol-ah…” Hara mulai putus asa. Kejadian yang menimpa Chanyeol kemarin membuat Hara begitu khawatir jika dia tidak melihat Chanyeol saat ini. Dia benar-benar takut jika para titan akan menyerang Chanyeol lagi, bahkan menculiknya seperti yang terjadi di labirin kemarin. Perlahan, kristal-kristal bening mulai muncul di tepian mata bulat Hana. Dadanya terasa sesak, membuat kristal-kristal tersebut pun akhirnya turun menjadi butiran airmata membasahi pipinya. Di saat itulah tiba-tiba Hara merasa seseorang memegang tangannya. Hara menoleh ke sampingnya, matanya melongo tak percaya dengan sosok orang yang masih memegang tangannya itu.

 

“Kau mencariku?”

“Chan…Chanyeol?”

 

“Apa airmatamu jatuh karena kau sedang mengkhawatirkanku?” tanya pemuda yang memang benar Chanyeol itu sambil tersenyum.

 

Hara mengelap airmatanya. Ia memperhatikan Chanyeol dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. “Chanyeol-ah… kau… baik-baik saja?”

 

“Tentu! Kau tidak lihat kondisiku sekarang?”

 

Jawaban dari Chanyeol itu lantas membuat Hara langsung memeluk erat pemuda yang sangat dikhawatirkannya itu. Tangisan Hara yang sebenarnya sudah dia tahan sejak tadi terpecahkan. Hara tidak peduli jika dia harus membasahi baju yang Chanyeol kenakan akibat dari derasnya airmata yang keluar dari matanya. “Tolong jangan terluka lagi… Aku benar-benar tidak ingin melihatmu terluka… Rasanya… “ kata-kata Hara terputus karena tangisannya.

 

Chanyeol sebenarnya kaget karena Hara tiba-tiba memeluknya. Apalagi mengucapkan kata-kata yang begitu menyentuh hati Chanyeol. Tapi Chanyeol kemudian tersenyum. Ia menggerakkan tangannya, lalu membalas pelukan Hara. “Kau tenang saja, Hara-ya… Aku janji tidak akan membuatmu khawatir lagi…”

 

Tak ada suara Hara lagi. Yang terdengar hanya tangisannya yang meredam di pelukan Chanyeol. Ada kelegaan yang dirasakan Chanyeol saat ini. Kelegaan bahwa dia masih hidup, dan masih bisa melihat Hara lagi. Bahkan memeluknya. Meksipun sebenarnya Chanyeol sendiri masih bertanya-tanya tentang keajaiban yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia bisa selamat? Apa yang terjadi padanya?

Baiklah. Chanyeol akan menanyakannya nanti kepada Master Yoo ataupun Guru Kwon. Yang terpenting sekarang adalah dia bahagia karena bisa memeluk Hara. Ia membelai kepala gadis itu, dan hanya tertawa kecil karena tangisan Hara yang belum juga berhenti. Di tangan kanan Chanyeol yang sedang membelai kepala Hara, terpancar sinar berwarna ungu yang tadi memasuki tubuh Chanyeol. Sinar yang kemudian menghilang, dan memunculkan sebuah gambar di punggung tangannya. Sebuah gambar pedang.

 

 

 

“YAA!! Park Chanyeol!!”

 

Teriakan itu mengagetkan Hara dan Chanyeol sehingga mereka sama-sama langsung melepaskan pelukan mereka. Keduanya langsung salah tingkah saat didatangi oleh Baekhyun dan Jongdae dengan tubuh yang penuh dengan keringat.

 

“Bagus sekali kerjamu, Yoo Hara. Kau membiarkan kami berdua kewalahan mencari anak bodoh ini ke seluruh Empire, dan sekarang kau sudah menemukannya bahkan memeluknya…” omel Baekhyun dengan bawelnya sambil melipat kedua tangannya kesal.

 

“Untung saja di sini tidak ada peraturan dilarang berpacaran…” Jongdae menambahkan. “Kalau ada mungkin saja kalian sudah dipulangkan ke bumi.”

 

“Ka…kami tidak berpacaran!” bantah Hara dan Chanyeol kompak.

 

“Aigoo… jangan bilang yang tadi itu hanya pelukan persahabatan. Aku yang adalah sahabat Chanyeol saja tidak menangisinya sepanjang malam karena belum sadarkan diri…” ejek Baekhyun.

 

“YA! Byun Baekhyun!! Aku tidak menangisinya sepanjang malam…”

 

Chanyeol menoleh ke Hara sambil tersenyum. “Kenapa kau tiba-tiba tersenyum seperti itu?” tanya Hara kesal. “Aiisshh… aku mau mencari Jangmi dulu.”

 

“Heiii… dia mungkin tidak akan mempedulikanmu karena sekarang dia sudah punya Sehun!” teriak Jongdae saat Hara melangkah pergi.

 

“Apa kami mengganggumu?” Baekhyun langsung merangkul sahabatnya itu.

 

“Ya. Sangat menganggu. Dan sekarang aku marah…”

 

“Hahaha… mianhae, Chanyeol-ah! Aku terpaksa melakukannya karena kau harus berhati-hati sekarang…”

 

“Berhati-hati? Untuk?”

 

“Kau tidak boleh sembarangan memeluk Hara lagi, karena sekarang kau akan diawasi oleh ayahnya Hara kapanpun dan di manapun kau bersama gadis itu…” kata Jongdae.

 

“Ayahnya? Bukankah dia…” Chanyeol mulai bingung. “Tunggu. Aku rasa tadi kalian memanggil Hara dengan panggilan, Yoo Hara… MWOO? Jadi Hara adalah putri Master Yoo?”

 

Jongdae dan Baekhyun mengangguk kompak. “YAA!!! Se…sebenarnya tadi yang memeluk duluan itu dia dan…” seru Chanyeol panik namun ia tak meneruskan dalihnya karena sadar dengan Baekhyun yang tiba-tiba melotot ke arah tangannya.

 

“Apa itu yang di tanganmu?” pemuda bermata kecil itu langsung meraih tangan kanan Chanyeol. “Jongdae, lihat ini!”

 

“Daebakk!!! Ini adalah lambang Archilless!!!” Jongdae menganga tak percaya. “Chanyeol-ah… kau! Kau adalah Archilless!”

 

 

.

.

.

.

Malam harinya…

 

 

Chanyeol masih menatap lambang yang ada di tangannya itu dengan perasaan tidak percaya. Apalagi setelah dia mendengarkan penjelasan dari Master Yoo dan Guru Kwon barusan.

 

“Kau adalah Archilles pertama yang dipilih oleh takdir, Park Chanyeol. Kau adalah salah satu pahlawan Barnsteen di masa depan!” Master Yoo-lah yang paling bersemangat saat Baekhyun dan Jongdae melaporkan tentang lambang Archilles yang ada di tangan Chanyeol.

 

“Anda tidak perlu setakjub itu, Master. Bukankah tanpa tanda itu kita semua juga tahu kalau Chanyeol telah disiapkan untuk menjadi pahlawan selanjutnya?” Guru Kwon menambahkan.

 

 

Chanyeol memejamkan matanya. Dia sebenarnya sangat lelah hari ini. Tapi entah kenapa dia tidak bisa tidur dan beristirahat. Pikirannya masih berada dalam bayang-bayang kejadian yang membuatnya hampir mati kemarin.

 

“Apa katamu?” hampir semua guru mengeluarkan ekspresi yang sama seperti yang dikeluarkan Guru Kang saat ini. Semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan Chanyeol tepat saat dia sadar dari pingsannya. “Titania bangkit kembali?”

 

Chanyeol telah menceritakan kejadian yang menimpanya saat di labirin. Bagaimana dia terpisah dengan Hara, bagaimana dia dikelilingi oleh awan hitam dan bertemu dengan dua titan pembunuh kedua orangtuanya. Chanyeol kesal. Kenapa dia pergi sebelum membunuh dua titan itu, Gikwang dan Chansung. Seharusnya dia bisa menghabisi pembunuh orangtuanya itu, saat itu juga.

 

“Lalu apa yang dia lakukan padamu?” tanya Guru Kim. “Aku tak percaya kau masih bisa hidup, Park Chanyeol.”

 

“Entahlah. Aku merasa hampir mati saat dia menyerangku untuk yang kedua kalinya. Tapi, di saat aku mulai tidak sadarkan diri… tiba-tiba aku merasa seseorang mengangkatku dan memberiku sebuah kekuatan yang begitu kuat. Aku menyerang Titania tepat sebelum dia mengeluarkan serangan ketiganya padaku… dan…“

 

Sebenarnya kejadian itu tidak ingin Chanyeol ingat-ingat lagi. Baru kali ini dia merasakan sakit yang begitu luarbiasa di dalam dirinya. Rasa sakit seperti seluruh tulangnya patah. Rasa sakit seperti berada di ambang kematian. Chanyeol tidak ingin merasakan sakit seperti itu lagi. Ia membalikkan tubuhnya ke sebelah kiri, dan menatap foto kedua orangtuanya yang terpajang rapi di meja samping tempat tidurnya. “Appaa…eomma… apapun yang terjadi… kalian akan melindungiku kan?” gumam Chanyeol di dalam hatinya.

*******

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kau yakin kau tidak melihat Son Dongwoon di sana, Tuan Oh?”

 

“Yee…” Sehun menjawab pertanyaan dari Guru Kang dengan sedikit gemetar.

 

“Lalu, apa yang membuatmu tidak sadarkan diri saat itu?” tanya Guru Song. Sehun saat ini benar-benar merasa sedang diadili oleh semua guru yang ada di Empire. Dirinya yang dikabarkan pingsan di tempat yang sama dengan mayat Son Dongwoon mengakibatkan sebuah kecurigaan besar terhadap dirinya yang dianggap memiliki sangkut-paut dengan kematian pemuda itu.

 

“Apa ada orang lain yang bersamamu? Atau mungkin… sebelum kau tak sadarkan diri, kau melihat titan?” tanya Guru Yang.

 

Kali ini Sehun terdiam. Ingin sekali dia menjawab pertanyaan itu, “Ya. Aku memang melihat seorang titan. Dia Tao. Tapi itu wajar, aku sendiri seorang titan…” tapi Sehun tidak mungkin mengungkapkan jati dirinya di hadapan para guru. Itu cari mati namanya.

 

“Kenapa Anda diam, Tuan Oh? Sedang menyembunyikan sesuatu?” tanya Guru Yang lagi.

 

“A…animida…” jawab Sehun.

 

“Ya. Kami percaya padamu, Tuan Oh. Tapi kami akan terus mengawasi gerak-gerikmu. Kau boleh kembali ke kamarmu…” Master Yoo pun menutup persidangan Oh Sehun malam itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kau seharusnya tidak membunuhnya, Tao!” bentak Kris.

 

“Dia mendengar obrolanku dengan anak bodoh ini!” Tao membela dirinya sambil menunjuk Sehun. “Dia mengetahui identitas kita! Tidakkah kau berpikir ini akan membahayakan posisi kita, Hyung?”

 

Kris terdiam. “Semua gara-gara kau, Sehun!” bentak Tao lagi menunjuk Sehun. Kali ini Sehun mengangkat kepalanya dan menatap tajam Tao. Dia sepertinya mulai marah karena terus dipojokkan. “Kau jatuh cinta, dan jantungmu sakit!” Tao melanjutkan pembicaraannya.

 

“Mwo? Kau bilang Sehun jatuh cinta?” Kris berdiri dan mulai marah. “Apa itu benar, Oh Sehun?”

 

Sehun tak menjawab. Dia menunduk dan berusaha menenangkan hatinya. “JAWAB AKUU, OH SEHUNN!!” bentak Kris lagi.

 

“Itu benar…” jawab Sehun dengan nada lemah. Dan…

 

Buukkk!!!!

 

Sebuah tinjuan melayang ke pipi Sehun. Tao tersenyum puas melihat temannya itu akhirnya dihajar juga oleh Kris. Ya, memang pantas Sehun mendapatkan pukulan itu. Dia adalah rekan titan yang berani melakukan hal bodoh. Tentu saja dia harus diberi sedikit pelajaran. “Siapa gadis yang membuatmu jatuh cinta?”

 

Sehun bisa merasakan pipinya sudah mengeluarkan darah saat ini. Dia pasrah saja menerima pukulan dari Kris, padahal dia bisa saja membalas itu. Sehun bahkan ingin sekali mengeluarkan kekuatan gaea-nya untuk membela diri. Tapi naluri Sehun menahan Sehun untuk melakukan itu.

 

Sehun, Tao, dan Kris. Mereka memang bangsa titan. Tepatnya, bangsa keturunan campuran. Orangtua mereka adalah perpaduan dari titan yang menikah dengan percy pengkhianat, yaitu percy yang memuja Titania. Maka dari itu ketiga pemuda itu dapat menutupi identitas mereka dengan baik dan melakukan aktifitas sebagai percy. Padahal di balik itu semua, mereka sedang mengemban misi khusus untuk bangsa mereka, titan. Setiap titan memiliki kelemahan yang dapat membahayakan keselamatan diri mereka. Jika jantung mereka merasa sakit, maka kelemahan mereka sedang bereaksi terhadap diri mereka. Seperti Sehun, yang kelemahannya adalah pada pemilik kekuatan Aphrodite. Jika Sehun jatuh cinta, maka jantungnya akan sakit. Seperti yang telah terjadi padanya selama ini. Sehun tidak tahu kenapa kelemahannya adalah cinta. Dia tahu jika titan memang pada dasarnya tidak boleh bersatu dengan percy. Tapi, apa jatuh cinta pun tidak boleh?

 

“Aku benar-benar muak melihatmu, Sehun! Kau bahkan tidak bisa melakukan tugasmu dengan baik untuk menganggu Chanyeol di pertandingan kemarin!”

 

“Maafkan aku, Hyung…”

 

“Kau tunggu saja sampai Titania yang menghajarmu secara langsung…” bisik Tao yang membuat Sehun semakin tak berdaya.

*********

 

 

 

 

 

 

 

Sehun melangkah keluar dari gedung asrama dengan gontai. Hati dan pikirannya bercampur aduk sampai-sampai Sehun bingung harus berbuat apa saat ini. Untuk tidur pun Sehun tidak bisa rasanya. Jika di kembali ke kamar saat ini, dia harus bersiap menghadapi Luhan yang pasti akan melemparkan ratusan pertanyaan padanya. Akhirnya, Sehun memutuskan untuk duduk di tepi danau Empire dan memikirkan sesuatu.

 

 

[ Sepuluh tahun yang lalu… ]

 

“Eomma… kenapa ada muncul bintang hitam di kepalaku?” tanya Sehun sambil menunjukkan kepalanya.

 

“Itu wajar, Sehunnie. Appamu adalah seorang titan, jadi wajar jika kau memiliki lambang seorang titan juga.”

 

“Aku tidak ingin menjadi titan, Eomma. Teman-temanku mengatakan kalau titan itu jahat. Apa Eomma tidak berpikir seperti itu juga”

 

“Sehun-ah… kau tidak boleh berbicara seperti itu. Titan adalah sebuah kebanggaan besar yang harus kau syukuri. Karena suatu hari nanti, kita akan berkuasa lebih dari para percy. Kau mengerti?”

 

Sehun terpaksa menganggukkan kepalanya. Ya, meskipun sebenarnya hatinya merasakan hal lain. Dan sejak saat itulah, Sehun mulai menerima jati dirinya yang adalah seorang titan.

 

 

 

“Apa yang kau lakukan di sini?”

 

Suara seseorang memecahkan lamunan Sehun, “Jangmi?”

 

“Apa kau sedang memikirkan aku?” Jangmi langsung menghampiri Sehun dengan ceria.

 

“Haha. Kenapa kau begitu percaya diri?”

 

“Molla! Yang jelas aku selalu memikirkanmu, Oh Sehun…” perkataan Jangmi itu hanya bisa membuat Sehun melemparkan senyuman kecil dari bibir tipisnya. “Oh, apa alasan kau dipanggil oleh para guru? Kau melakukan sesuatu?”

 

“Ng… aniyo. Kurasa mereka hanya salah paham…”

 

“Aku dengar kau dituduh terlibat dengan kematian Dongwoon-sunbaenim. Benarkah itu?”

Sehun terdiam. “Ahh… itu pasti tidak benar kan?” Jangmi menjawab pertanyaannya sendiri. “Sehun pasti bukan orang yang jahat seperti itu. Apalagi sampai membunuh orang lain…”

 

Deg!

 

Sehun tertegun mendengar ucapan Jangmi barusan. “Jangmi-ya… aku sama sekali bukan orang baik. Aku adalah seorang titan!” gumam Sehun dalam hatinya. Ia sangat kesal kenapa telinganya harus mendengar pernyataan yang begitu menyiksa batinnya saat ini. “Kenapa kau begitu perhatian padaku, Jangmi-ya?” tanya Sehun.

 

“Kau benar-benar ingin tahu alasannya?”

 

Sehun tak menjawab. Jangmi melemparkan senyuman kepadanya dan mengalihkan pandangannya ke danau. “Itu karena kau begitu menyukaimu Oh Sehun. Aku benar-benar mencintaimu…”

 

Lagi dan lagi. Rasa sakit kembali dirasakan Sehun lagi. Sehun memegang dadanya, ke bagian jantungnya. Sungguh, Sehun ingin mengutuki dirinya sendiri. Kenapa sebuah pernyataan cinta yang seharusnya membuatnya bahagia justru harus menyakitinya seperti saat ini?

 

“Sehun-ah?” seru Jangmi yang menyadari jika telah terjadi sesuatu pada Sehun. “Ada apa denganmu? Neo gwaencanha?”

 

Pertanyaan dari Jangmi itu dijawab Sehun dengan memeluknya. Sehun meletakkan kepala Jangmi tepat ke bagian jantungnya yang sakit. Hal itu membuat Jangmi benar-benar kaget. Ini adalah kedua kalinya dia merasakan pelukan hangat seorang Sehun, pemuda yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari jauh. Pemuda yang sebenarnya berhati lembut, yang tertutupi dengan kesan dingin yang ada pada pandangan matanya.

 

“Kenapa degup jantungmu begitu cepat…” gumam Jangmi dengan polosnya dari dalam dekapan Sehun.

 

“Jin…ja?” gumam Sehun pelan.

 

“Apa ini karena kau juga menyukaiku?” Jangmi mendongakkan kepalanya menatap wajah Sehun dengan jarak dekat. Sehun tampaknya tidak bisa menjawab pertanyaan Jangmi yang satu ini. Tapi, dia memutuskan untuk tetap menjawabnya. Dan jawaban Sehun dia sampaikan dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Jangmi. Jangmi melotot kaget melihat wajah Sehun yang semakin mendekat ke arahnya. Ia tahu apa yang akan terjadi jika suasana menjadi seperti ini. Jangmi segera memejamkan matanya dan perlahan, dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Sehun menciumnya dengan lembut.

 

Dan di saat itulah, rasa sakit yang Sehun rasakan perlahan menghilang.

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] THE ARCHILLESS (Chapter 6)”

  1. Halooo maafkan aku yang terlambat memberi komen hihi. Ceritanya menarik hehe. Aku masih penasaran lencana apa yang dimiliki Hara. Lanjut trrus yaaa.
    Thankyouuu ^^

  2. makin seruu aja niihh
    akhirnya chanyeol jadi archilless pertama dan Hara udh jadi lexus kreenn … sumpah makin penasarann kerja bagus author ff nya sangat keren aku suka

    cahan-hara favorit couple kebetulan channie bias aku . smoga cepet nge publish next chapter nya

    Semangat ^^

  3. Next ! Next ! Next ! Next ! Next ! Hrus cepetan dipublis next chap nya . Aku gak sabaran baca kelanjutan nya . Itu si sehun so sweet banget , aku mau juga 😀

  4. Akhirnya chanyeol selamat bahkan terpilih sebagai archilless pertama. Aku jadi suka juga sama cuple sehun jangmi. So sweet. Tapi kenapa kelemahan sehun adalah jatuh cinta. Pasti couple ini bakal punya kisah yg rumit dan bikin nyesek.

  5. Kenapa bisa menghilang rasa sakit nya ?? Apa karna cinta sejati yaa *eeaaa
    atau mungkin karna Sehun itu gak mau jadi Titan sebener nya …
    Oh iya author kalo Archilless itu cuma Chanyeol doank ya ??
    Gak ada yg lain begitu ??

    ..
    Okeh sekian Fighting author and keep writing ^^

    1. Di lencana emas Archilless yang disimpan Master Yoo… permatanya ada tujuh, so…. Archilless nyaa juga ada tujuh 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s