[EXOFFI FREELANCE] Someday in Paris

Poster Someday in Paris

Tittle/judul fanfic : Someday in Paris

Author : aeri

Length : One Shot

Genre : Romance, Fluff, Sweet

Rating : PG-18

Main cast :       a) Park Chanyeol                     b) Kim Hejin (OC)

Disclaimer : Cerita ini adalah fiktif belaka dan murni dari pemikiran author kalau ada kesamaan karakter atau jalan cerita merupakan hal yang tidak sengaja. Cerita ini adalah tambahan adegan dari fanfict “Spaces Between Our Fingers – Chaptered” yang udah tamat. Kalau kemarin versi chapternya banyak yang suka, semoga oneshotnya ini juga makin banyak yang suka ya… Happy reading J

 

 

 

 

 

 

“Chanyeol-a… Chanyeol-a…. kamu belum bangun?” Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

“Chanyeol-a, ini sudah pagi. Ir-eona. Chanyeol-a, ir-eona.” Masih tidak ada jawaban juga dari dalam kamar. Hejin mengetuk pintu kamar makin keras.

“Chanyeol-a, aku masuk ya?” Hejin membuka pintu kamar pelan-pelan.

 

Terlihat Chanyeol masih menutup mata di atas tempat tidur Hejin. Hejin mendekati pelan-pelan, takut mengagetkan Chanyeol yang sepertinya masih pulas. Hejin menggerak-gerakan badan Chanyeol sambil setengah berbisik.

 

“Chanyeol-a, ir-eona, ini sudah pagi. Chany…”

“Sireo, panggil aku Channie dulu, baru aku bangun.” Chanyeol mengucapkan sambil masih menutup matanya penuh.

“Ya!!! Kau sudah bangun??? Ya!! Dasar kau!!!” Hejin memukul-mukul Chanyeol yang otomatis membuka matanya.

“Aku hanya ingin kamu bangunkan, tidak ada yang salah kan?”

“Hasssss, ppalli! Sarapannya udah siap.” Hejin yang kesal meninggalkan kamar dengan cemberut.

“Hejin-a, panggil aku Channie dulu.”

“Sireo!” Hejin berlalu sambil menutup pintu.

“Hejin-a?”

“Ppalli!”

“Gwiyowo.” Chanyeol melihat punggung Hejin sambil tersenyum, menurutnya tingkah Hejin sangat manis.

 

 

Selesai mandi Chanyeol menuju meja makan untuk sarapan. Hejin sudah menunggu di meja makan.

 

“Mwoya?” Hejin melotot ke arah Chanyeol yang sudah duduk manis di kursi makan.

“Mwo?” Chanyeol binggung dengan pertanyaan Hejin. Setelah melototi Chanyeol, Hejin berlalu ke belakang mengambil handuk.

“Kau tidak pernah menggunakan handuk ya?” Omel Hejin sambil mengusap rambut Chanyeol masih basah. Chanyeol menunduk sambil tersenyum sangat lebar. Dia tau rencananya akan berhasil.

“Jamkkanman….” Hejin tiba-tiba mendongakan wajah Chanyeol sehingga bertatapan langsung dengan matanya. Chanyeol yang sedang tersenyum lebar belum sempat menyembunyikan dan ketahuan akal busuknya.

“Kamu sengaja???” Hejin makin melotot ketika melihat sisa senyum Chanyeol.

“Mwo? Sengaja apa?” Chanyeol masih pura-pura tidak tahu dengan maksud Hejin.

“Keringkan sendiri.” Hejin menaruh handuk di muka Chanyeol sambil berlalu duduk bersiap untuk sarapan.

“Mian, ketahuan ya?” Chanyeol tersenyum masam.

 

Selesai makan mereka memutuskan untuk berjalan-jalan. Pont des Arts pilihan mereka, love lock yang terkenal di Paris.

 

“Ini.” Chanyeol menyodorkan gembok ke Hejin.

“Mwoya?”

“Ini. Tulis nama kita di sini.”

“Mwoya ige?”

“Hassss… udah tulis aja, Channie, Jinnie.”

“Ih… apaan sih!” Hejin geli dengan tingkah Chanyeol.

“Sudah… tulis aja!”

“Chanyeol-a, kita bukan remaja lagi. Sireo!”

“Kita waktu remaja dulu kan gak bisa kayak gini, jadi sekarang tulis.” Chanyeol memegang tangan Hejin dari belakang, memaksanya menulis nama mereka berdua. Setelah memaksa menulis nama mereka, Chanyeol tiba-tiba mencium pipi Hejin.

“Mwoya?” Hejin heran dengan tingkah Chanyeol.

“Mwo?”

“Kenapa tiba-tiba kamu jadi suka public display of affection gini?”

“Mumpung di sini, di Seoul nanti sudah tidak bisa seperti ini.” Chanyeol tersenyum malu-malu.

“Saranghae.” Hejin membisikan lembut sambil tersenyum.

“Nado.” Mereka berpelukan sangat erat.

 

 

Setelah berjalan-jalan cukup lama di sekitar Pont des Arts tiba-tiba hujan deras mengguyur. Hejin dan Chanyeol terpaksa berteduh di pinggiran toko, namun karena hujan berangin mereka tetap basah juga. Hujan yang tak kunjung reda memaksa mereka untuk berlari menuju halte. Setelah menunggu cukup lama akhirnya bis yang menuju apartemen Hejin datang. Di dalam bis yang ber-AC ini Hejin mulai kedinginan karena bajunya juga sedang basah.

 

“Gwenchanna?”

“Oh.”

 

Chanyeol memperhatikan lekat-lekat wajah Hejin. Turun dari bus wajah Hejin mulai pucat dan badannya terlihat sangat lemas. Chanyeol memeluk Hejin sambil menuntunnya masuk ke apartemen.

 

“Gwenchanna?”

 

Belum sempat menjawab, Hejin sudah hampir tergeletak di lantai. Untungnya Chanyeol masih sempat menahannya. Chanyeol membawa Hejin masuk ke kamarnya. Saat memegang dahi Hejin, Chanyeol sangat terkejut dengan suhu badan Hejin yang sangat panas. Hejin mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk berganti baju. Belum sempat mengancingkan seluruh kancing piyamanya Hejin sudah tergeletak lemah di lantai kamarnya. Chanyeol yang juga sedang berganti pakaian di kamar mandi, mendengar suara Hejin terjatuh langsung berlari keluar. Chanyeol menggendong Hejin dan menaruhnya di atas tempat tidur kemudian membantu mengancingkan piyama Hejin. Chanyeol mengambil baskom dan handuk kecil untuk mengompres Hejin. Semalaman Chanyeol terjaga, untuk terus mengganti kompresan Hejin sampai suhu badan Hejin turun. Menjelang pagi hari, baru Chanyeol tidur.

 

Saat matahari sudah tinggi, Hejin terbangun, merasa sudah lebih baik dari semalam. Suhu badannya suhu normal. Hejin bangun melihat Chanyeol tertidur di kursi sampingnya sambil memegang tangannya. Hejin membelai lembut rambut Chanyeol yang beberapa saat kemudian membuat Chanyeol terbangun.

 

“Oh, kau sudah bangun?” Chanyeol otomatis langsung memegang dahi Hejin untuk mengecek suhu badan Hejin.

“Gwaenchanha.” Hejin tersenyum, berusaha mengurangi kekhawatiran Chanyeol sambil merapikan rambut Chanyeol.

“Aku buatkan bubur ya?”

“Gomawo.” Tanpa menjawab Hejin, Chanyeol tersenyum dan mencium kening Hejin cukup lama, sambil mengacak-acak lembut rambut Hejin, kemudian berlalu ke dapur.

 

Beberapa saat kemudian setelah Hejin membersihkan diri, dia menyusul Chanyeol ke dapur.

“Jamkkanman… sebentar lagi buburnya sudah siap. Kamu duduk aja di meja makan.”

“Gomawo.” Hejin setengah berbisik sambil tersenyum sangat lebar melihat punggung Chanyeol yang sedang mengaduk-aduk bubur di atas kompor. Chanyeol tidak mendengar ucapan Hejin.

“Mwo? Kenapa kamu masih berdiri di sini.” Hejin tidak menjawab hanya tersenyum.

“Wae? Udah duduk di sana saja. Kamu belum sembuh total. Hasssss…” Chanyeol menuntun Hejin supaya dia duduk di meja makan dan tidak menunggu di dapur.

 

“Chanyeol-a.” Chanyeol menoleh ke arah Hejin, kemudian Hejin melingkarkan tangannya di atas kepalanya dan membentuk hati, sambil berbisik “saranghae”. Chanyeol hanya membalasnya dengan senyum yang sangat lebar kemudian lanjut mengaduk bubur.

 

“Makan yang banyak.”

“Ne.”

“Kalau kayak gini aku jadi mikir-mikir lagi buat balik ke Korea.”

“Wae?”

“Ya kalau kamu sakit seperti ini, terus kamu sendiri, bagaimana?”

“Gwaenchanha, aku juga baru pertama kali ini sakit selama aku di sini. Gomawo. Untung ya sakitnya waktu ada kamu di sini.”

 

 

“Hari ini kamu mau jalan ke mana?”

“Jalan ke mana? Kamu masih belum sehat seratus persen jadi di rumah saja.”

“Gwaenchanha. Kita jalan-jalan di sekitar sini aja kalau kamu khawatir. Ada museum di seberang jalan sa…”

“Andwe. Kita di rumah saja. Masih ada besok.”

“Ar-aso.”

 

 

 

 

 

Sepanjang hari mereka menghabiskan waktu membicarakan banyak hal.

Someday in Paris

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Someday in Paris”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s