[EXOFFI FREELANCE] Someone Like You (Chapter 4)

1454045374381

Title : Someone Like “You”

Author : pleuvoirbi

Main Cast : EXO’s Park Chanyeol || OC’s Nayla

Genre : Romance Comedy

Length : Chapter

Disclaimer : It also posted on my wattpad @pleuvoirbi

Summary : Ketika kau bertemu dengan idolamu tapi kau justru tak mengenalinya.

Chapter 4

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Tunggu apa aku tertidur? kulihat jam yang ada di layar ponselku yang sudah menunjukan pukul 11.27am.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan ini. Tak ada orang selain aku. Apa kejadian itu hanya mimpi? Aku membuang napasku kasar. Tentu saja itu benar mimpi. Apa aku begitu terobsesi padanya hingga aku bisa memimpikan kejadian itu? Itu bahkan terasa sangat nyata.

 

Taksi, taman sungai Han, bahkan dia memintaku  untuk menghabiskan waktu liburan dengannya, apa semua itu hanya mimpi?  Deringan telepon yang ada di atas nakas menyadarkanku. Dengan segera aku mengangkatnya.

 

“Halo…?”

 

“Selamat siang nona. Tuan Park Chanyeol berpesan pada saya agar anda menemuinya di restoran hotel sekarang.”

 

“Sekarang?”

 

“Ya, nona.”

 

“Tunggu dulu, kau bilang siapa tadi?”

 

“Tuan Park Chanyeol nona.”

 

“Aa… baiklah kalau begitu.”

 

Aku mencubit pipiku, bahkan aku menamparnya juga. Ini sakit, sungguh. Apa itu berarti ini semua nyata? Aku langsung bangkit dari tempat tidurku untuk segera menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

 

Aku jadi mengingat kejadian yang ‘ku anggap mimpi sedari tadi. Saat dia terbangun dan begitu terkejut dengan keberadaanku, saat aku menyentuh pipinya dengan ujung telunjukku. Itu nyata. Ya, kau benar Nayla kau tidak sedang bermimpi. Ya Tuhan kebaikan apa yang sudah aku lakukan sehingga Kau mempertemukan aku dengan seorang Park Chanyeol?

 

***

 

Aku berjalan menuju restoran yang dimaksud Chanyeol. Begitu aku sampai aku melihat seorang pria dengan menggunakan celana selutut dan kaus putih sedang duduk di kursi yang menghadap ke pantai. Apa itu dia?

 

Kuperhatikan sekeliling. Tak ada orang disini selain kami berdua. Apa karena ini bukan musim liburan? Aku melangkah mendekati pria yang selama ini ‘ku kagumi itu. Aku merasakan seperti ada yang menggelitik perutku sehingga aku tak bisa berhenti tersenyum.

 

Aku semakin dekat dengannya. Hingga aku sampai tepat di sampingnya. Dia menoleh menyadari kehadiranku. Sungguh aku tak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini. Aku merasakan tubuhku serasa membeku saat dia melihat ke dalam mataku.

 

Dia menepuk dua kali kursi yang ada di sampingnya. Mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahnya. Saat itu tubuhku seolah sadar dan mengikuti perintahnya. Aku pun duduk tepat di sampingnya.

 

Aku menahan mataku untuk tidak terus melihanya. Aku takut dia jadi merasa tidak nyaman dan akhirnya menyuruhku untuk menjauhinya. Jadi aku memutuskan untuk melihat pantai dengan pasir putih itu yang jelas-jelas tidak lebih menarik dari wajah pria yang ada di sampingku saat ini.

 

“Nayla-ssi…” Sontak aku menoleh melihatnya yang masih memandang lurus kedepan.

 

“Ya?” Jawabku dengan nada yang kuusahakan selembut mungkin.

 

“Kau tahu, baru kali iniaku bisa dengan cepat merasa nyaman bersama orang lain.” Syukurlah dia masih tak mengalihkan pandangannya dari pantai itu. Kalau tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada jantungku.

 

“Apa itu berarti aku spesial?” Tanyaku percaya diri.

 

Dia tersenyum miring, apa dia mengejekku? “Awalnya begitu. Tapi sejak tadi pagi tidak.” Matilah aku dia mengalihkan pandangannya dan melihatku saat ini.

 

“Tolong jangan melihatku saat kau sedang berbicara. Lakukanlah seperti tadi bicara tanpa melihatku.” Pintaku dengan wajah tertunduk.

 

Aku mendengarnya tertawa renyah setelah aku mengatakan permintaan aneh itu. “Kenapa? Kau jadi berdebar kalau aku melakukan itu? Kalau begitu aku akan berbicara dengan terus melihatmu.”

 

“Astaga orang ini…” Gumamku lalu menegakan kembali kepalaku. “Siapa yang bilang seperti itu? aku tak merasakan apa pun. Jagan terlalu percaya diri!” Sergahku.

 

“Apa kau hanya berlibur sendiri?” Tanyaku tanpa melihat ke arahnya.

 

“Begitulah. Kau sendiri, berapa lama kau akan berlibur di sini?”

 

“Sepuluh hari lagi. Aku masih ada waktu sepuluh hari lagi untuk berlibur di sini.” Itu terdengar sangat lama ‘kan? Tapi aku rasa itu belum cukup untuk mengahpus semua kenangan buruk yang menimpaku saat ini.

 

“Apa yang akan kau lakukan selama sepuluh hari itu?”

 

“Aku akan membuat kenangan indah disini, untuk menutupi kenangan buruk itu.”

 

“Kau tak penasaran kenapa aku bisa berlibur seorang diri di sini?” Aku menoleh ke arahnya. Seketika aku teringat pembicaraan kami di taman sungai Han waktu itu. Dia bilang tak semua orang bisa menangis, keadaan memaksanya untuk tetap terlihat baik-baik saja. Apa dia sedang mengalami masalah yang cukup berat?

 

“Aku ingin bertanya. Tapi aku takut melanggar privasimu. Tapi semua masalah akan menjadi lebih ringan jika kau membaginya dengan seseorang ‘kan?”

 

Dia tersenyum. Dan astaga… senyumnya sangat menawan. Bukan senyuman miring, atau senyum mengejek. Dia benar-beanr tersenyum. Tuhan ‘ku mohon jagalah jantungku agar tetap berada di tempatnya.

 

“Kau bilang kau ingin membuat kenangan indah.” Katanya dengan tetap tersenyum. Aku mengangguk perlahan.

 

“Apa aku bisa masuk ke dalam kenangan indah yang akan kau buat itu?” ‘Ku rasa mataku membulat sekarang. Dia bilang apa? Aku seperti mengalami dejavu. Aku ingat sebelum aku tertidur dia mengatakan hal seperti ini juga. Apa dia serius?

 

“Mereka membriku waktu istirahat sebentar, karena keadaanku yang sedang tidak stabil.” Lanjutnya lagi membuatku memahami apa maksudnya sekarang.

 

“Kita dalam keadaan yang sama. Sedang terpuruk, mungkin bisa dibilang begitu. Tapi apa kau tak salah memintaku untuk menemanimu? Maksudku apa itu tidak akan melanggar privasimu?”

 

“Tidak, selama kau bisa tetap bersikap seperti peratama kita bertemu. Tak mengenaliku.” Tuturnya tanpa melepaskan kontak mata denganku. Sungguh tatapannya seolah mengunciku untuk tak berpaling darinya.

 

“Tapi kenapa harus aku?” Sebenarnya aku masih tak menyangka bisa setenang ini menghadapi seorang Park Chanyeol. Bayangkan saja Park Chanyeol yang nama nya selalu dielu-elukan itu sekarang sedang berbicara empat mata denganku.

 

“Karena aku terlanjur nyaman denganmu.” Sungguh lima kata yang baru saja keluar dari bibir penuhnya itu membuatku terkesima. Aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu.

 

“Lagi pula memang tak ada orang lain yang bisa menemaniku saat ini.”

 

Aku membuang mukaku ke arah pantai mendengarnya. Baru saja dia membuatku merasa terbang, tapi kini dia menjatuhkanku. Apa aku terlalu berlebihan?

 

“Jadi dari mana kita mulai liburan kita?” Tanyanya dengan semangat ‘45(?)

 

Sebenarnya saat ini aku sedang lapar. Bolehkah aku mengisi pertuku dulu?

 

“First, I have to fill my stomach” Kataku yang kuakhiri dengan cengiran khasku. Dia tersenyum mendengar itu. Tak bisa kupungkiri orang ini memiliki senyum yang sangat menawan.

 

“Ok, if you say so”

 

-\\-

 

Aku merentangkan tangan sebelah kananku keluar dari pembatas mobil ini. sambil menikmati angin yang menerpa dari berbagai sisi, karena atap mobil yang dibuka. Ingin lebih menikmati, aku pun menutup mataku.

 

Sungguh aku sangat menyukai ini saat angin lembut menerpa wajahku, seolah semua masalahku ikut terbang terbawa olehnya.

 

Yaa! Stop closing your eyes! Look! It’s so beautiful here!” Huh.. aku baru menutup mataku selama beberapa detik, kenapa orang di sebelah ku ini menjadi sewot begini. Dengan kesal aku pun membuka mataku.

 

Benar apa katanya jalanan ini sangat indah. Terdapat jajaran pohon sakura yang masih bermekaran. Warna merah muda dan kuning mendominasi. Sungguh sayang jika kau melewatinya dengan menutup matamu.

 

Aku semakin mencondongkan kepalaku keluar jendela. Ingin menikmati pemandangan tanpa terhalang apapun.

 

“STOP!” Teriakku setelah topi pandora yang sedari tadi menepel di kepalaku terbang begitu saja. Suara decitan ban mobil ini pun terdengar setelah Chanyeol menginjak dalam rem nya.

 

“What happen?” Tanyanya dengan wajah super panik.

 

“My hat.” Aku memegangi kepalaku yang kini tak bertopi lagi, lalu menunjuk ke arah belakang tepatnya jalanan dimana topiku mulai terbang ke sana-ke maritak tentu arah tertiup angin.

 

“Aku tak yakin bisa mengambilnya. Lihat? Sekarang dia sudah terbang entah kemana.” Ucapnya berusaha memberiku pengertian. Tapi akau tak akan membiarkan topi itu hilang begitu saja. Itu adalah hadian ulang tahun dari Ryan.

 

“Mundur sekarang!” Titahku, yang langsung dijawabnya dengan gelengan kepala. Ok kalau dia tidak mau, aku akan mengambilnya sendiri. Aku pun membuka pintu mobil, aku akan keluar namun ada tangan besar yang menahan tangan kiriku.

 

“Where are you going?” Aku menghempaskan tangannya dan keluar dari mobil. “Mengambil topiku.”

 

Aku mulai berjalan di jalanan yang lengang ini, namun baru beberapa langkah jalan ku sudah dihalangi oleh sebuah mobil putih. Tampak di kursi kemudi seorang pria dengan wajah yang datar menaikan dagu nya, mengisyaratkanku untuk naik.

 

Sungguh untuk sesaat aku lupa sedang bersama siapa sekarang ini. Bagaimana mungkin aku melakukan hal tadi pada seorang Park Cahnyeol? Mungkin aku akan dihajar habis-habisan oleh fans nya setelah mengetahui apa yang sudah kulakukan padanya barusan.

 

Aku menundukan kepalaku yang tiba-tiba menjadi berat seraya menuju mobil itu dan menaikinya.

 

“Kau masih ingin mengabil topi itu?” Tanya nya setelah aku memasang sitbelt. Aku hanya mengangguk lemah. Sudah menjadi prinsipku menjaga barang pemberian orang lain dengan sebaik mungkin.

 

Aku mendengarnya menghembuskan napas berat. Aku meluaskan pandanganku namun topi itu tak lagi tampak di jalanan ini. pasti dia telah terbang sampai ke jajaran pohon sakura itu.

 

“Baiklah, tapi sepertinya kita harus mencarinya sekarang. Karena topi itu sudah tak nampak lagi.” Aku berbinar mendengarnya. Tak kusangka dia akan membantuku mencarinya.

 

To Be Continued

 

Hiii… gimana chapter ini? makin gaje ya? aku juga ngerasa gitu sih. Aku cuma mau ngulur waktu buat masuk ke cerita intinya. Buat chapter2 selanjutnya mungkin bakalan udah masuk ke inti cerita. Tapi aku gak janji bakalan bagus. Kan bagus menurut author belum tentu bagus menurut readers kan? Sekian. Ada yang mau dikomentari dari chapter ini?

 

 

 

 

 

14 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Someone Like You (Chapter 4)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s