[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 6)

PicsArt_1455596375134

Title                 : Confession

Author             : pleuvoirbi

Main Cast        : EXO’s Kai || OC’s Song Jaerin

Genre              : friendship | romance | comedy(failed) | school life

Length                         : Chaptered

Discalimer       : It’s just a fiction. I own the plot and OC. Also posted on wattpad @pleuvoirbi

 

Chapter 6

“Aku sebenarnya dengan Kai… kami…” Jaerin terbata, ragu apa dia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.

 

Sehun tak berkata apa pun, dia hanya menatap Jaerin intens, menunggu apa yang selanjutnya akan dikatakan Jaerin. Tatapan intens dari Sehun membuat Jaerin tak berani menatapnya balik dan akhirnya Jaerin hanya bisa tertunduk.

 

“Katakan padaku yang sebenarnya, sebelum aku menebaknya sendiri.” Sehun berucap dengan nada rendah, tanpa menuntut sama sekali.

 

“Aku hanya ingin membalaskan dendam Hanna dan semua orang yang pernah dicampakan Kai.” Terang Jaerin dalam satu tarikan napas. Membuat Sehun sedikit membuka mulutnya.

 

“Aku tahu aku salah, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur berjanji pada Hanna.”

 

“Tinggalkan dia secepatnya.” Seru Sehun seraya bangkit dari duduknya. “Dia benar-benar menyukakimu, kalau kau memang tahu itu salah, cepat tinggalkan dia sebelum perasaannya semakin dalam.” Setelah mengatakan itu Sehun pun melangkahkan kakinya meningglkan Jaerin.

 

***

 

“Song Jaerin!” Panggil Kim saem yang sedang menerangkan di depan kelas. Yang dipanggil tak menyadari hal itu. Jaerin hanya menatap kosong ke depan. “Song Jaerin-ssi!” Lagi Kim saem memanggilnya, masih tak ada respon sampai Hanna menyenggol tangan Jaerin.

 

N… Ne… Saem?” Jawab Jaerin terbata, sedari tadi Jaerin tak memerhatikan apa yang diterangkan oleh Kim saem,otaknya sibuk memikirkan hubungannya dengan Kai.

 

“Kali ini kau kumaafkan. Tapi kalau sampai kau melamun lagi, aku akan menyuruhmu keluar. Mengerti?”

 

“Ne… saem…”Jaerin menjawab pasrah.

 

***

 

Jam pelajaran sudah usai. Semua murid keluar kelas dengan semangat. Namun tidak dengan Jaerin. sementara dia berjalan, dengan tiba-tiba sebuah tangan besar merangkulnya dari belakang. Membuatnya dengan refleks melepaskan tangan itu. “Yaa!” Tadinya Jaerin ingin menyembur orang yang dengan tidak sopan merangkulnya itu, namun terhenti setelah mengetahui siapa pemilik tangan itu.

 

Kai tersenyum begitu Jaerin melihatnya, lalu tanpa seijin Jaerin merangkulnya lagi. Lagi Jaerin melepaskan diri dari rangkulan itu, namun kali ini dengan hati-hati. “Aku merasa tak nyaman jika kau melakukan itu.”

 

“Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau seperti ini saja?” Kai meraih tangan Jaerin menggenggamnya erat.

 

Jaerin pasrah membiarkan Kai menggenggam tanganya, tanpa ia membalas genggaman tangan itu. Sungguh kini Jaerin benar-benar digeluti rasa bersalah. Kata-kata Sehun yang menyuruhnya untuk segerara meninggalkan Kai terus terngiang di kepalanya.

 

Jaerin mengehentikan langkahnya membuat orang di sampingnya ikut melakukan hal yang sama. Jaerin menatap sendu Kai. Yang ditatap hanya memasang wajah bingung, tak mengerti akan arti tatapan itu.

 

“Kai…”

 

“Hmmm…” Kai merasakan sesuatu yang salah dengan keadaan ini. Ia pun semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Jaerin. Jaerin tentu merasakan itu.

 

“Tidak ada. Ayo pulang.” Ucap Jaerin pada akhirnya.

 

Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.

 

“Apa kau ada waktu besok?” Tanya Kai di tengah mereka menunggu bis.

 

“Memangnya kenapa?”

 

“Ada, tidak?”

 

“Sepertinya ada. Kau ingin aku menemanimu ke suatu tempat?”

 

“Ya. besok jam tiga sore, aku akan menjemputmu.”

 

***

 

Bagaimana ini, Hanna-ya…” Jaerin sibuk mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya. Dengan gelisah dia terus melihat jam dindingnya yang menunjukan pukul setengah tiga.

 

“Baiklah, biar kupikirkan sebentar. Kau bilang dia benar-benar tulus, dan kau sudah memastikannya dengan bertanya pada Sehun, teman baiknya.”

 

Jaerin hanya menganggukan kepalanya, membenarkan. “Baiklah setelah pertemuan ini, putuskan dia.”

 

“Dia sudah jatuh padamu. Dan cukup dalam, ‘ku rasa ini saat yang tepat.” Dengan lancar Hanna mengucapkan kalimat-kalimat itu. Membuat Jaerin tak mampu berkata-kata lagi. Tentu saja Hanna dengan mudah mengatakannya, karena yang melakukannya adalah Jaerin bukan Hanna.

 

“Semua akan kembali seperti semula, setelah aku melakukannya. Atau mungkin lebih baik. Benarkan Hanna?” Kali ini Hanna yang mengangguk.

 

Fighting, chingu-ya!” Hanna mengepalkan tangannya, memberi semangat pada Jaerin.

 

***

 

“Kenapa kau tak bilang ingin mengajakku berkencan? Lihat! Aku jadi salah kostum begini.” Jaerin memasang wajah kesalnya tanpa melihat orang yang sedang diajaknya bicara.

 

Kai mengacak rambut Jaerin lembut. “Aigoo, tak apa, kau tetap terlihat cantik dengan memakai apapun.”

 

“Jangan merayuku!” Entah sejak kapan Jaerin mulai merasa nyaman berada di dekat orang ini. Jaerin sendiri pun tak menyadari hal itu.

 

“Aku ingin naik itu!” Seru Kai sambil menunjuk sepasang muda-mudi yang menaiki sepeda pasangan.

 

Jaerin mengangguk setuju.

 

Kini keduanya meniki sepeda pasangan dengan raut wajah yang gembira. Kai terus melihat ke belakang dimana Jaerin mengemudi. Entah apa yang ingin dipastikan Kai, padahal Jaerin tetap berada di sana.

 

Setengah hari itu mereka habiskan bersama. Mulai dari menaiki sepeda, memakan eskrim bersama, sepanjang waktu mereka habiskan dengan tertawa lepas. Hal ini sempat membuat Jaerin melupakan niat awalnya. Memutuskan Kai hari ini juga.

 

‘Apa aku bisa melakukannya? Harus.Aku tak ingin lagi berlama-lama berada dalam masalah ini.’

 

“Kai…” Kai menghentikan langkahnya dan menghadap Jaerin.

 

Jaerin menutup matanya selama satu detik, lalu menarik napas dalam. “Cukup sampai di sini. Kita putus.” Tutur Jaerin dalam satu tarikan napas.

 

Mendengar itu Kai mengeratkan tangannya yang sedari tadi menggandeng tangan Jaerin. Dengan perlahan Jaerin melepaskan tangannya dari kukungan tangan Kai. “Jaerin-a… apa yang salah? Kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?”

 

Tindakan mu sudah benar Jaerin.’

 

“Semua salah sejak awal, Kai. Kau tak mengerti? Aku yang selama ini membencimu dengan mudah menerimamu? Kau kira aku sudah terpikat dengan pesonamu? Aku tak sungguh-sungguh dengan hubungan ini.”

 

Kai tertunduk tak dapat lagi ia berkata-kata setelah mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir tipis Jaerin.

 

“Sekarang, kau tahu bagaimana rasanya sakit?” Jaerin pun berlalu melangkahakan kakinya, namun belum satu langkah ia berjalan, Kai menahan lengannya.

 

“Entah kenapa aku merasa kau tidak sungguh-sungguh mengatakan semua itu.” Lalu Kai melepaskan Jaerin dan lebih dulu berjalan meninggalkan Jaerin.

 

Jaerin hanya bisa menatap punggung Kai yang semakin tak terlihat. Jaerin meringis seperti ada yang tertahan dalam dadanya, begitu menyesakan.

 

To Be Continued…

 

Nothing to say anymore. Still wait for your response.

27 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 6)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s