[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 5)

PicsArt_1455596375134

Title : Confession

Author : pleuvoirbi

Main Cast : EXO’s Kai || OC’s Song Jaerin

Genre : friendship | romance | comedy(failed) | school life

Length : Chaptered

DC : It’s just a fiction. I own the plot and OC. Don’t plagiarism. It also posted on my wattpad @pleuvoirbi. Hope you like it…

Chapter V

Terlihat Kai dan Jaerin yang sedang berjalan berdampingan. Terdapat jarak di antara keduanya. Entah kenapa Jaerin ikut-ikutan menjadi canggung sejak ia menerima Kai tadi.

 

Kini keduanya sudah sampai di halte dekat sekolah. Menunggu bis dalam kecanggungan. Tak ada salah satu dari mereka yang mau memulai pembicaraan. Lima menit berlalu, bis yang ditunggu pun tiba.

 

“Ayo!” Kata Kai sambil menarik tangan Jaerin. Jaerin sedikt kaget dengan perlakuan Kai barusan, namun akhirnya pasrah mengikuti Kai dari belakang. Keduanya mengabil tempat duduk paling belakang. Kai seperti tak menyadari bahwa tangannya masih memegang tangan Jaerin.

 

“Ekhem…” Jaerin berdehem membuat Kai melihat ke arahnya. Jaerin menjatuhkan pandangannya pada tangan mereka yang masih bertautan. Bukannya melepaskan Kai malah mengeratkan genggaman tangan mereka.

 

“Kai…” Jaerin memelototi Kai. Tapi Kai justru memamerkan senyumnya.

 

Wae? Ini hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih ‘kan? Tak usah protes dan melotot seperti itu.”

 

-\\-\\-\\-

 

Kai tampak tak rela melepaskan genggaman tangannya pada Jaerin. Tapi kini mereka sudah ada tepat di depan rumah Jaerin. Membuat keduanya harus berpisah.

 

Kai melepaskan tangan Jaerin dengan berat hati. “Hati-hati di jalan Kai.” Ucap Jaerin hanya sebagai formalitas. Kai tersenyum lalu mengangguk seraya melambaikan tangannya. Nampak tulus apa yang semua hal yang dilakukan Kai saat ini. Begitulah yang terlihat di mata Jaerin saat ini.

 

Dengan kasar Jaerin menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya. Pikirannya saat ini melayang pada orang yang hari ini resmi menjadi pacarnya. Bukan karena Jaerin mulai menyukai Kai, bukan. Tapi kini Jaerin sedang digeluti rasa bersalah akan dirinya yang menipu Kai.

 

Ya itulah pikiran Jaerin terhadap dirinya saat ini. Dia sedang menipu Kai. “Caranya tersenyum, menggandeng tanganku, itu terasa sangat tulus.” Jaerin memerhatikan tangannya yang tadi digenggam oleh Kai. “Aku merasa jadi orang yang jahat sekarang.”

 

-\\-\\-\\-

 

Jaerin mengerjapkan matanya setelah mendengar deringan ponselnya yang cukup lama itu. dengan setengah sadar ia meraih benda kotak tipis itu lalu menggeser tombol hijau dan meletakannya di telinganya.

 

“Halo…” Jaerin berucap dengan suara khas orang baru bangun tidur.

 

“Kau baru bangun? Aigoo… cepat bangun karena aku tak ingin menunggumu. Aku sudah dalam perjalanan untuk menjemputmu.”

 

Jaerin tersentak setelah mendengar deretan kalimat panjang itu. “Kai? Apa kau bilang tadi? Dalam perjalanan kemana?”

 

“Ke rumahmu Song Jaerin…” Ucap Kai di seberang sana dengan penuh penekenan di setiap katanya.

 

“Ok.” Jaerin memutuskan sambungan itu sepihak. Lalu dengan gerakan ala Flash(?) dia pun bersiap.

 

“Astaga orang ini benar-benar tak terduga.” Gumam Jaerin di depan cermin sambil memakai dasinya.

 

Dari tangga Jaerin samar-samar mendengar suara pria yang berasal dari ruang makan. Mata Jaerin membulat sempurna setelah mendapati Kai yang sedang duduk berhadapan dengan ibunya sambil menikmati sepotong roti. Keduanya bahkan tampak akrab.

 

“Selamat pagi Jaerin” Sapa Kai, membuat ibu Jaerin yang membelaknginya berbalik.

 

Jaerin tak membalas sapaan Kai, dia malah mengambil posisi duduk di samping ibunya. Mengambil roti yang telah diolesi selai kacang lalu mengunyahnya perlahan.

 

“Kau bilang tak mau menunggu, tapi nyatanya kau selalu menungguku.” Ucap Jaerin di sela-sela makannya.

 

“Tak baik bicara sambil makan.” Sergah ibu Jaerin kepada anaknya.

 

-\\-\\-\\-

 

“Kenapa sikapmu dengan ibumu bertolak belakang? Dia sangat baik dan ramah. Tidak sepertimu yang kejam dan selalu melotot padaku.”

 

Kini keduanya tengah berjalan di lorong sekolah menuju kelas mereka yang bersebelahan.

 

Jaerin mengehentikan langkahnya mendengar itu. “Kalau begitu pacaran saja dengan ibuku, jika kau lebih menyukainya.” Entah kenapa kata-kata itu bisa keluar dari mulut Jaerin.

 

Kai ikut berhenti lalu berdiri menghadap Jaerin. “Aigoo… apa kau cemburu dengan ibumu sendiri?” Kai mencubit kedua pipi Jaerin gemas.

 

Ya! Lepaskan…!” Dengan susah payah Jaerin menyingkirkan tangan Kai dari pipinya. “Siapa juga yang cemburu. Jangan terlalu percaya diri Kai!” Jaerin kembali berjalan dengan cepat, meningglkan Kai di belakangnya.

 

Ya! Tunggu aku!” Kai berlari kecil mengejar Jaerin dan langsung merangkulnya begitu berada tapat di sampingnya.

 

Nampak dari kejauhan Jaerin yang berusaha lepas dari rangkulan Kai namun Kai dengan tidak meyerah kembali merangkulakan tangannya pada Jaerin.

 

-\\-\\-\\-

 

“Hanna-ya… aku tak bisa meneruskan ini. Kai, dia… aku merasa dia sangat tulus padaku.” Jaerin meletakan kepalanya di atas meja.

 

“Tidak mungkin. Kau pasti salah. Bertahanlah setidaknya seminggu ini. Ne?” Hanna mulai memohon.

 

Jaerin membuang napas kasar. ”Aku akan memastikannya sendiri.” Jaerin mengangkat kepalanya. “Jangan lupa kalau kau mulai mentartirku ttoboekki hari ini.”

 

“Aku tak akan lupa. Tenang saja.”

 

-\\-\\-\\-

 

“Tumben kau mau bertemu di sekolah.” Ucap Sehun tanpa melihat Jaerin yang duduk di sampingnya.

 

“Aku ingin menanyakan sesuatu.”

 

“Apa ini tentang Kai?”

 

Jaerin sontak mengambil posisi tegak dari duduknya. “Bgaimana kau tahu?”

 

“Aku tahu semuanya.” Ucap Sehun santai. “Jadi apa yang mau kau tanyakan?”

 

“Kau tak bisa menebak tentang itu juga?” Tanya Jaerin dengan nada menggoda.

 

“Kau kira aku cenayang? Cepat! Aku tak punya banyak waktu!”

 

“Aish… Sejak kapan kau sibuk. Baiklah, begini. Kau itu kan teman dekatnya. Menurutmu apa Kai tulus padaku?”

 

“Menurutku baru kali ini dia benar-benar merasakan jatuh cinta. Kau tahu sendiri bagaimana kelakuannya selama ini. Itu karena dia tak benar-benar menyukai mereka. Tapi waktu kau menerimanya dia bercerita padaku dengan sangat antusias. Dan dia bilang akan mempertahankanmu.”

 

Jelas Sehun panjang lebar. Membuat Jaerin menutup mulutnya tak percaya. “Habislah aku. Bagaimana ini Hun-a…”

 

“Bagaimana apanya? Bukannya itu bagus? Kau jangan khawatir jika dia akan menyakitimu. Aku sangat mengenalnya dan kali ini dia benar-benar tulus.”

 

“Bukan itu masalahnya…” Jaerin tertunduk.

 

“Jadi apa?” Tanya Sehun mulai tak sabaran.

 

“Aku sebenarnya… dengan Kai…”

 

TBC…

 

Haaai… readers tercintah… aku tertarik banget buat ngelanjutin cerita ini (apaan sih nih author buat sendiri, tertarik sendiri). Jadi tenang aja bagi yang selalu ngikutin ff ini, (author kepedean) aku bakalan tetap lanjut sampe end. Sekian cuap2 author. Ada yang mau memberikan komentarnya tentang chapter ini?

19 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 5)”

  1. Seru thor, tapi lebih seru lagi klo kai nya patah hati dulu, eh tapi patah hatinya jangan terlau parah juga sih cause kasian #plakkk abaikan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s