Regret (Chapter 2 )

Regret

 

REGRET – Chapter 2

.

D.O.ssy present

Cast Luhan, Kim Ji Hye (OC) | Genre Romance, Angst | Length Chaptered | Rating PG-17

Poster credit Jo Liyeol

.

http://chocolate46.wordpress.com/

.

WARNING: Ini PG-17 yah, untuk 17 tahun ke atas, karena fanfic ini mengandung harsh words dan bad scene yang sangat menjurus. Jadi, yang umurnya masih di bawah, aku udah peringatkan! Bhaaaakkk :v

.

Previous: Chapter 1

.

.

“Aku menyesal jadian denganmu.”

.

Ada yang bilang, Luhan adalah manusia anti-galau. Tentu saja, bagaimana bisa galau jika ‘mati satu tumbuh seribu?’ Baginya, mendapatkan kekasih baru semudah mengedipkan sebelah mata.

Tapi … apa yang sesungguhnya dimiliki seorang gadis tomboy, miskin dan polos bernama Kim Ji Hye? Apa yang ia lakukan pada Luhan hingga laki-laki berusia dua puluh tahun ini mabuk-mabukkan di bar? Meskipun nakal, Luhan tidak pernah minum-minum sebelumnya. Selain anti-galau, ia juga anti-alkohol, bahkan di saat sedang dilanda stress sekalipun. Tapi sekarang?

Gadis yang duduk di samping sang pemuda tak henti-hentinya mengkhawatirkan. Sejak pertemuan mereka beberapa jam yang lalu, Luhan bahkan sudah seperti orang gila. Tak mau diajak ngobrol dan malah pergi ke klub malam untuk menikmati schorschbock yang kadar alkoholnya sangat tinggi.

“Hei gadis bodoh, kenapa kau sepolos itu? Aku ini pria bajingan, kau tahu!” racaunya tak jelas.

“Lu, sebaiknya kita pulang.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku bertanya padamu gadis dungu!”

Clara semakin cemas. “Aku panggilkan taxi.”

Begitulah, Luhan tak ingat apa-apa yang terjadi semalam saat ia membuka matanya di pagi hari dan mendapati dirinya berada di bawah balutan selimut di apartemennya yang nyaman. Ia mengeluh dalam hati merasakan kepalanya yang berdenyut hebat bagai dihujami ribuan batu, mungkin masih pengaruh alkohol tadi malam? Atau, kejadian sesudahnya? Entahlah, Luhan tak mau ambil pusing, sebab satu-satunya yang membekas di pikiran lelaki itu adalah suara Ji Hye yang menagis dan memanggil-manggil namanya di balik pintu, yang Luhan sendiri masih bingung itu nyata atau hanya mimpi buruknya.

Kuriositas Luhan pun terjawab sepersekian sekon selanjutnya ketika ia mengecek ponselnya yang dibombardir oleh ratusan notifikasi. Hampir kesemuanya dari Ji Hye. Pria bersurai hitam itu tertawa kecut, ini nyata. Semua yang terjadi kemarin adalah sungguhan, mengenai ia dan Ji Hye, berikut ia dan Clara.

Luhan sentuh tombol delete untuk menghapus semua pesan di dalam inbox-nya, setelah membaca salah satu yang terselip dari sekian banyak pesan Ji Hye, yang berbunyi:

Malam ini menyenangkan sekali, Lu. Besok aku datang lagi. Clara.

Mahasiswa jurusan seni itu melempar ponselnya ke atas nakas. Ia kembali membaringkan kepalanya yang masih diserang pening, lantas merapatkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, hendak melanjutkan tidurnya. Namun kemudian ia tersadar.

Oh sial, ia terlambat.

.

***

.

Meskipun Luhan adalah tipikal lelaki yang suka berhura, bermain wanita, hang-out dan segala macamnya, akan tetapi Luhan termasuk mahasiswa rajin. Bukan dalam artian ‘rajin’ sesungguhnya. Tapi karena dia pintar dan tidak pernah membolos, kendati tidak suka membuka buku pelajaran. Tak seperti mahasiswa lainnya yang harus belajar penuh hari dan kursus kesana-kemari, Luhan terlahir dengan bakat alami. Karena menurut Luhan, seni adalah jiwanya. Maka, ketika ia datang terlambat ke kampus, terlebih saat mata kuliah Solfegio tengah berlangsung, sungguh ini untuk yang pertama kalinya bagi Luhan.

Pemuda itu berjalan terburu-buru melewati koridor fakultas seni. Ia lalu tersentak menemukan Ji Hye duduk di kursi panjang depan pintu kelas. Apa yang gadisnya, ehemm maksudnya mantan-gadisnya itu lakukan di situ?

Ji Hye sontak berdiri melihat si lelaki datang. Mengeluarkan ekspresi cemas yang sebenarnya selalu Luhan rindukan, namun selalu urung ia ungkapkan. Wajahnya pucat layaknya orang sakit. Dalam keadaan normal, mungkin Luhan akan sedikit mengkhawatirkannya. Tetapi sekarang situasinya berbeda, mereka tidak lagi bersama!

“Lu―“

Dengan tak berperasaannya, Luhan ambil langkah seribu melewati si gadis tanpa mengucapkan satu patah kata pun, bagai seseorang yang menyapanya tadi hanyalah angin yang tak penting adanya. Oh, hati Luhan telah mati rupanya.

Choi seonsaeng-nim si ‘pembunuh mahasiswa’ sudah berada di kelas sejak satu setengah jam yang lalu. Untunglah ia tetap diizinkan masuk lantaran sang dosen telah cukup mengenal Luhan beserta segala bakat dan prestasinya―yang membuat rating Luhan sangat baik di depan mata para dosen jurusan seni.

Malangnya, bangku yang tersisa hanya satu, dan itu persis berada di samping bangku seorang manusia yang―demi seluruh makhluk di bumi―tak ingin Luhan dekati lagi. Ugghh …. Jika ia merunut seluruh kesialan yang menimpa dirinya, maka satu-satunya yang patut dipersalahkan adalah si brengsek Kai!

“Pssttt …. Lu, kau tadi lihat gadis itu di depan?” tanya Kai setengah berbisik, sedikit menggeser kursi mendekat pada Luhan.

“Hmm ….” Luhan jawab seadanya tanpa mengalihkan pandangan dari Choi seonsaeng yang berbicara di depan kelas. Terlalu malas menatap Kai dan batang hidungnya yang tidak kelihatan.

“Lalu ia bilang apa?”

“Tidak ada.”

“Oh ya? Padahal Ji Hye sudah ada di sana sejak jam pertama. Sepertinya mencarimu.”

“Bukan aku. Mungkin salah orang.”

Kai memicingkan mata, mendekatkan wajahnya pada Luhan, berusaha mengintrogasi ‘sahabatnya’ itu. “Jangan-jangan kalian masih berhubungan?”

Luhan mendesis menahan emosi mendengar pertanyaan Kai. Kalau saja ia tidak sabar-sabar amat, ingin sekali rasanya ia tusuk mata Kai memakai pensil gambarnya yang runcing. “Tck, kalau kau hanya berbicara omong kosong, sebaiknya kau diam.”

Kai mengendikkan bahu sambil mengeluarkan seringai iseng, membuat Luhan berfantasi, seandainya ia bisa menghilangkan mulut Kai, dunia ini pasti akan indah rasanya.

Omong-omong, selama ini Luhan memang menutupi hubungannya dengan Ji Hye pada teman-teman―lantaran malu dan gengsinya yang terlalu tinggi―dengan mengatakan bahwa ia sudah putus tiga bulan setelah jadian. Makanya Luhan kesal bukan main ketika mendapati Ji Hye menunggunya di luar.

.

*

.

“Hei, Lu. Gadis itu masih di sana! Tengoklah sebentar, mungkin ia memang ingin bertemu denganmu,” Kai guncangkan tubuh Luhan yang kala itu sedang asyik tidur di bangkunya pada jam istirahat.

“Berisik!” Itulah jawaban yang Kai terima. Asal tahu saja, Luhan benar-benar lelah. Tubuhnya, hatinya, semuanya.

“Luhan-ah!”

DEG

Luhan terperanjat hebat, sama halnya dengan Kai. Apa ia salah dengar? Itu suara gadisnya! Segera, pemuda itu angkat kepalanya menghadap sang pemilik vokal yang barusan memanggilnya. Dan memang benar, itu suara Ji Hye. Alto yang terlalu familiar di telinga Luhan untuk disangkalnya.

Belum selesai keterkejutan Luhan akan penampakkan Ji Hye yang tiba-tiba muncul di depan bangkunya, gadis Kim itu manarik tangan si pria dan membawanya keluar kelas.

“Hey apa-apaan ini?” Luhan tepis tangan Ji Hye sedikit kasar sesampainya mereka di lorong yang cukup sepi.

“Kau tidak menjawab teleponku, Lu. Aku khawatir kau pasti bangun kesiangan dan belum sempat sarapan. Lalu tadi pagi, aku ke apartemenmu tapi ada seorang gadis yang mengusirku.”

Luhan berdecak sebal. Gadis ini tolol atau memang pendengarannya terganggu? Apakah yang diucapkannya kemarin pada Ji Hye kurang jelas? Bukankah itu sudah sebuah penegasan jika mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi sekarang? Ataukah kalimat yang diutarakan Luhan terlalu sukar untuk dicerna otaknya?

“Jadi aku―”

“Kau tidak dengar apa yang aku ucapkan kemarin?” potong Luhan setengah membentak. “Ini telah berakhir, Hye. Kita sudah pu―”

“Aku tidak dengar!” sentak Ji Hye, tanpa diduga, seolah mematahkan lidah Luhan. “Aku tidak dengar, dan tidak ingin mendengarnya! Jadi jangan katakan apapun lagi. Kumohon!” Gadis Kim itu menutup telinganya dengan tangan sembari menggeleng keras. Bibirnya bergetar hebat, air mukanya berubah, dan matanya berkaca-kaca. Sebuah pemandangan yang biasanya Luhan sukai ketika memutuskan hubungan dengan mantannya terdahulu. Tapi, tidak untuk hari ini.

“Aku mencintaimu, Luhan-ah.”

Oh tidak! Jangan kalimat ini lagi.

Luhan kepalkan tangannya kuat-kuat lantas membuang pandangannya ke arah lain. Mencoba menyembunyikan kelemahannya, bahwa Luhan sangat tidak suka melihat airmata sang gadis. Ji Hye membuat lelaki itu gemas, kesal, juga menyesal di saat yang bersamaan. Senaif itukah gadisnya?

Luhan cengkram kedua pergelangan tangan Ji Hye, kemudian menariknya agar tidak menutupi kedua telinga. “Dengar, Hye. Kita sudah putus kemarin dan semuanya telah usai. Jadi jangan pernah menghubungiku atau mendatangiku lagi! Paham?”

Dapat Luhan saksikan dengan jelas iris kecokelatan si gadis yang mulai menumpahkan bulir bening. Satu hal yang laki-laki itu pernah berjanji untuk tidak ia lihat lagi. Namun apa mau dikata, Luhan benar-benar terpaksa.

“T-Tapi kenapa, Lu? Semudah itukah kau memutuskan hubungan yang sudah kita jalani selama dua tahun ini?” Suaranya yang parau seakan menusuk selaput gendang telinga Luhan. Perihnya hingga menjalari pembuluh darah Luhan sampai ke hati, membuat ia meragu apa hatinya masih akan berfungsi setelah ini.

“Hubungan dua tahun itu hanya pura-pura, Hye. Kau adalah bahan taruhan. Kala itu, aku hanya ingin membuktikan pada Kai bahwasanya aku bisa mendapatkan gadis manapun yang kuinginkan. Kini, aku telah memiliki gadis lain yang lebih menarik dan menyenangkan. Jadi kau, enyah-lah dariku sebelum aku betul-betul mengusirmu!” Kalimat-kalimat kejam itu Luhan tuturkan dalam satu kali tarikan napas. Rasanya, pahit sekali lidahnya saat meluncurkan tiap silabelnya.

“Katakan padaku, apa kekuranganku? Akan kuperbaiki semuanya untukmu. Aku berjanji akan menjadi gadis yang baik, Lu. Kalau kau menginginkan apapun dariku, ambil-lah semuanya. Tapi tolong, jangan menghilang dari hadapanku.”

“Tidak ada, Hye. Yang perlu kau lakukan hanya menyingkir dari hidupku.”

Sudah pernah ditegaskan bahwa Luhan tidak ingin melihat airmata si gadis, bukan? Oleh karena itu, ucapan Ji Hye selanjutnya terpaksa ia abaikan. Tanpa menunggu pergerakkan jarum detik Luhan tinggalkan gadis itu sendirian, menangis dalam kepedihan. Karena si pemuda tidak tahu kalimat kejam apa lagi yang harus ia katakan. Sembari dalam hati Luhan lantunkan semua penyesalan tak berujung ini dengan sebuah penuturan: “Ini demi kebaikanmu, Hye. Aku memang pria brengsek.”

Luhan lirik sekilas dengan ekor matanya, sebelum ia berlari. Kai ada di sana, menyaksikan semuanya.

.

***

.

“Ada apa, Lu?” pertanyaan Clara membuyarkan lamunan panjang Luhan. Tak biasanya sang lelaki tenggelam dalam pemikiran selagi ia bermain dengan seorang gadis, seperti sekarang ini.

Luhan menarik dirinya dari cumbuan Clara, kemudian duduk di sudut tempat tidur, memegangi kepalanya yang terasa bagai dihantam oleh gada.

“Kau sakit?” tanya gadis yang menurut Luhan sexy itu sembari memeluk tubuh si pria dari arah belakang.

Luhan menggeleng. “Pulanglah, La ….”

Clara cemberut. “Tapi, kita belum melakukan apa-apa malam ini.”

“Aku tidak ingin melakukannya lagi.”

Clara lepaskan tautan tubuhnya dengan Luhan, lalu mendelik kesal. “Tidak asyik.”

“Ini memang tidak akan pernah mengasyikkan lagi, La. Pergilah dan jangan pernah kembali.”

“APA?”

“Kita putus! Aku bosan denganmu. Lagipula aku sudah punya―”

PLAKKKK

“KAU PRIA BRENGSEK!” teriak Clara selepas ia tampar pipi Luhan sekuat tenaga. Laki-laki itu tak menjawab, justru tersenyum miring memandangi wajah si gadis yang berubah merah padam. Rungu Luhan bisa menangkap bunyi napas Clara yang menderu menahan amarah.

“KEPARAT! BAJINGAN! KAU MEMPERMAINKANKU, HAH!” Clara mengamuk, memukul dada Luhan dengan brutal sambil mengeluarkan umpatan-umpatan kasar. Luhan sudah sangat terbiasa dengan ini. Ia dorong gadis itu hingga tersungkur ke lantai, lantas menjambak dan menarik rambutnya agar wajah Clara tepat menghadap tatapan dinginnya.

“Kubilang pergi dari sini gadis manis. Atau aku betul-betul akan melukaimu.” Vokal yang Luhan keluarkan teramat santai, namun cukup mengintimidasi. Senjata ampuh yang biasa ia gunakan untuk menghadapi gadis yang mengamuk macam Clara. Dan benar saja, tanpa berbasa-basi, Clara langsung angkat kaki setelah membenahi pakaian dan rambutnya yang berantakan―mungkin ia ketakutan. Pintu kamar di apartemen Luhan dibantingnya kasar.

Tinggal-lah Luhan sendirian, menangis sesenggukan seperti orang bodoh. Ini bukan perkara Clara, melainkan dirinya sendiri. Betapa brengseknya dirinya. Betapa kejamnya pribadinya. Betapa hampanya hidupnya.

Bertahun-tahun ia telah menjalani hal serupa. Tapi sekarang ini, untuk pertama kalinya, hati Luhan merasakan denyut nyeri kala melakukannya lagi. Seolah apa yang dirasakan gadis-gadis yang telah dipermainkan olehnya itu pun, turut ia rasakan.

Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Dengan tangan gemetaran, susah payah Luhan raih benda persegi empat pipihnya di atas nakas. Mengontak siapa pun yang sekiranya bisa menenangkannya. Dan satu nama yang seumur-umur tidak pernah Luhan gubris panggilannya, justru ia harapkan sekarang ….

“L-Luhan?” Seseorang dari seberang menjawab, ia terdengar sangat terkejut. “A-ada apa? Kenapa menghubungiku? Bukankah kita―”

“Nyanyikan satu lagu untukku―” potong Luhan, kepayahan mengatur suaranya yang bergetar. “―Kim Ji Hye ….”

.

To be Continued

.

.

Buat yang udah baca, mohon tinggalin jejaknya ya, biar aku tahu kalo misal ada kesalahan di fanfic ini. Jadi bisa langsung aku perbaiki.

Terima kasih semua 🙂

Salam, D.O.ssy

 

28 tanggapan untuk “Regret (Chapter 2 )”

  1. huh entahlah satu sisi aku kesel ama luhan,tapi di sisi lain*ceelah bahasanya*kasian juga sih.aku harap dia bisa berubah… next.

  2. Rasain lo Lu, makanya jangan jahat, oya author, bikin si Luhan menderita dulu jangan langsung dimaafin aje *mianhae* biar greget ceritanya wkwkwkwk

  3. jjur di chap ke 2 nih aer mata udh gk bsa gue then lagi mluncur gtu aja, aku yg klewat cengeng atou ff ne yg bner2 ngehanyutin, mungkin kdua2nya. Good ff, daebak bgettt, gk tu klo yg chap 3nya aku ngis atou tmbh nagis lgi. Keep strong.. Thankyou

  4. jjur di chap ke 2 nih aer mata udh gk bsa gue then lagi mluncur gtu aja, aku yg klewat cengeng atou ff ne yg bner2 ngehanyutin, mungkin kdua2nya. Good ff, daebak bgettt, gk tu klo yg chap 3nya aku ngis atou tmbh nagis lgi. Keep strong..

  5. Tuh kan akhirnya gak bisa juga kan kalo gak ada jihye.. makanya luhan tobat lah sudah.. kembali aja sama jihye gadis yg bener2.. ceritanya makin seruu ditunggu next chapnya kekeke ^^

  6. Huh Luhan .. ternyata gengsi doang. Padahal ia masih sangat mencintai Ji Hye tapi malah mengatakan hal yang membuat Ji Hye sakit mendengarnya. Benar-benar deh pas lagi gitu malah nyariin dan suruh menghiburnya.. huh sebal sama kepribadian luhan.

    1. ihikkk… jangan sebel sama Luhannnn… dia baik kok, aslinya. sutradaranya aja yang nyuruh dia akting gituuu /dikemplang/
      makasih yaa udah review 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s