One and Only – Slice #13 — IRISH`s Story

irish-one-and-only-fixed

One and Only

With EXO’s Byun Baekhyun and Red Velvet’s Yeri Kim

Supported by EXO, TWICE, and NCT Members

A fantasy, sci-fi, romance, and life story rated by PG-16 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2015 IRISH Art&Story All Rights Reserved


“Mencintaimu? Ya aku mencintaimu. Walaupun kita berbeda.”


Previous Chapter

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11 || Chapter 12 || [NOW] Chapter 13

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

“Baekhyun…”

Aku membuka mataku saat kudengar gumaman lirih didekatku. Kami belum sampai di Barcelona, electric-map ku mengaksesnya.

“Baekhyun… Tidak…”

Aku menoleh, kudapati Yeri tengah menyernyit, tanda vitalnya berubah tidak stabil, ia bermimpi buruk, seperti yang sering terjadi padanya. Dan sekarang, entah mengapa melihat kegelisahannya semakin membuatku merasa tidak nyaman.

“Yeri-ah…” aku bergerak menggenggam jemarinya, walaupun tindakan itu terasa sangat salah sekarang bagiku. Seolah… aku tak seharusnya bersentuhan dengannya karena saat aku menyentuhnya aku tahu tanda vitalnya akan berubah semakin tidak stabil.

Dan kedaaan itu mengingatkanku tentang fakta yang baru saja kuketahui dan terdengar begitu tidak masuk akal bagiku. Tidak. Memang tidak masuk akal, tak hanya bagiku. Tapi bagi semua orang yang mungkin mengetahuinya.

“Jangan pergi…” Yeri kembali bergumam, apa ia tengah bermimpi aku meninggalkannya? Kuingat beberapa hari lalu ia juga bermimpi seperti ini.

“Tidak Yeri… Aku tidak akan meninggalkanmu…” bisikku pelan, berharap oa bisa mendengar nya walaupun—

“Terima kasih…” aku terhenti saat Yeri bergumam, lagi. Apa ucapanku benar-benar didengarnya? Padahal sepasang matanya terpejam, dan tanda vitalnya yang berangsur tenang memberiku tanda bahwa ia tengah tertidur, bukannya terjaga.

Genggaman Yeri mengerat, ibu jarinya mengusap sisi jari telunjukku, sementara ia sekarang bergerak pelan, memiringkan badannya, seolah tahu aku berada disisinya, ia kini tidur menghadapku.

Wajahnya sekarang tepat berada di hadapanku, dan perasaan kosong aneh menguasai sistemku saat aku melihatnya tersenyum, sementara jemarinya menggenggamku makin erat.

Apa ini termasuk perasaan aneh yang hanya kurasakan pada Yeri? Pada gadis ini? Ketidak stabilan bagiku yang membuat Suho malah mengatakan bahwa yang kualami adalah perubahan perasaanku menjadi lebih manusia?

“Baek…” aku menatap Yeri lagi, terkejut saat sepasang mata gelapnya bertumbukan dengan milikku, dan kini ia memandangku dengan pandangan curiga khas miliknya.

“Ya?” ucapku pelan.

“Kenapa… Aku masih hidup?” tanyanya lirih.

Aku mengeratkan genggamanku pada jemarinya, kali ini sama sekali tidak merasa terganggu karena perubahan tanda vitalnya meski aku masih merasa ini salah. Aku sudah mulai memahaminya, aku mulai memahami gadis ini.

“Aku tidak ingin kau mati,” ucapku makin membuat tanda vitalnya tidak stabil, oh ayolah, aku sangat khawatir karenanya, karena perubahan tanda vitalnya yang entah mengapa selalu membuatku merasa ia tidak baik-baik saja.

“Kenapa?” ucapnya dengan nada curiga yang sama.

Mana mungkin aku mengatakan padanya bahwa aku baru saja sadar tentang perasaan manusia yang sekarang terjadi padaku? Ia mungkin akan menjauhiku dan berucap keras memperingatiku bahwa aku seorang robot.

Aku tersenyum, tanganku bergerak mengusap rambutnya, membuat tanda vitalnya semakin tidak stabil, dan aku sendiri semakin khawatir pada keadaannya. Haruskah aku melepaskan kontak ini padanya? Agar aku bisa melihat tanda vitalnya berubah stabil?

Terlebih dari keinginanku untuk melepaskan kontakku dengan Yeri, satu pertanyaan kini muncul di pikiranku tanpa bisa kucegah, tanpa bisa kuperingati. Apa ia benar-benar merasakan perasaan semacam itu padaku? Pada seorang Humanoid?

“Karena aku akan melindungimu.” jawabku akhirnya setelah terdiam cukup lama, terdiam terlalu lama mungkin akan membangkitkan kecurigaan Yeri, dan aku tidak ingin… aku tidak ingin ia menaruh kecurigaan padaku.

Ia menyernyit. Aku tahu ia tidak pernah menerima jawabanku yang satu ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak yakin untuk mengatakan semuanya pada Yeri. Tidak sekarang, tidak disaat keadaan masih sangat kacau.

Yeri tersenyum, tapi matanya mulai berkilap, ia ingin menangis.

“Tapi aku ingin mati. Aku tidak ingin—”

“Aku tidak akan membunuh manusia Yeri. Tidak akan, sampai kapan pun. Walaupun Humanoid lain berpikir manusia tidak pantas hidup, aku tidak akan berpikir seperti itu. Selama kau ada bersamaku, aku tak akan sedikit pun memikirkan hal buruk tentang manusia.”

Walaupun mereka berusaha membunuhku, meskipun aku sendiri masih tidak mengerti tentang keadaan yang terjadi pada kami… setidaknya, aku tak akan berpikir sedikit pun untuk melukai mereka.

Jika yang Suho katakan benar, bahwa aku dan Yeri saling mencintai. Aku tahu aku tak akan pantas untuk melukai bangsa Yeri. Aku harus melindungi Yeri, yang berarti aku harus melindungi bangsanya juga.

Yeri benar-benar menangis. Dan isakan tangisnya memenuhi pendengaranku.

“Yeri… Berhenti menangis…”

Ia menatapku, dan senyuman kecil muncul diwajahnya walaupun air mata masih membasahi wajahnya.

“Aku tidak menangis, aku terharu.” sanggahnya dengan suara gemetar.

“Kau menangis,” ucapku berkeras.

“Tidak,”

“Ya.”

“Tidak Baekhyun,” ia menyanggah tak ingin kalah.

“Kau menangis Yeri.” aku berucap membantahnya, ia menangis. Ia menangis, itulah yang aku tahu. Aku tak memahami arti kata ‘terharu’ dan penggambarannya seperti yang dikatakan Yeri.

Di mataku, ia menangis. Dan mendengar bantahanku, Yeri merengut, membuatku tertawa pelan melihat ekspresinya. “Jangan pernah berpikir untuk mati lagi. Aku sangat tidak suka pemikiranmu tentang itu.”

“Maaf…” lirihnya.

“Aku juga minta maaf,”

“Untuk apa?” Yeri menatapku dengan alis berkerut.

“Karena aku sempat kecewa padamu. Saat melihatmu terluka… Saat melihatmu mati untuk kedua kalinya, kau tahu apa yang aku rasakan?” tanyaku membuat kening Yeri semakin berkerut.

“Apa?” tanyanya.

“Aku sedih.”

Yeri tersenyum, senyum penuh arti yang kembali tidak kupahami.

“Kau bisa merasa sedih?” tanyanya menyadarkanku bahwa ia tersenyum sebagai tanda bahwa ia merasa lega? Atau merasa senang? Karena aku akhirnya mengakui ketidak stabilan manusiawi yang sedari awal tidak kuterima.

“Sekarang? Ya. Aku mengakuinya. Aku bisa merasa sedih.”

Jemari Yeri yang lain bergerak menyentuh wajahku, walaupun ia tampak begitu lelah dan tidak sehat, tapi aku merasakan sengatan aneh saat jemarinya menyentuh lapisan nano epidermi-ku.

“Saat kau bilang kau takut melihatku terluka… Apa itu sungguhan?” tanyanya sementara tangannya masih ada diwajahku, bicara padaku tapi matanya tak beralih meneliti wajahku. Apa ia sedang memastikan jika aku yang sekarang bicara padanya? Bukan orang lain?

“Ya, kau kira aku berbohong?” ucapku membuatnya menggeleng pelan.

“Bagaimana denganmu? Saat kau bilang kau tidak butuh perlindunganku, apa itu benar?” tanyaku membuatnya menyernyit. “Memangnya apa yang bisa aku lakukan jika kau tidak ada disini dan melindungiku, Baekhyun-ah?”

Ah…

Apa ini perasaan senang?

Ketika aku mendengar ucapannya seluruh sistemku seolah lumpuh sesaat. Seperti ada yang meledak-ledak dalam sistemku. Apa aku… merasa senang mendengar ucapannya?

“Jadi kau berbohong?” ucapku berusaha mengabaikan ledakan aneh dalam sistemku ini, meski rasanya… berbeda, dan candu. Aku menyukai perasaan seperti ini. Entah mengapa. Seolah aku tak lagi menjadi makhluk lumpuh tak berperasaan yang tidak memahami Yeri.

Aku senang karena bisa merasakan emosi yang mungkin pernah dirasakan Yeri saat ia bersama denganku, karenaku.

Yeri mengangguk pelan, tapi kemudian ia kembali menyernyit.

“Apa ini benar-benar kau Baekhyun?” tanyanya. Nah, sekarang aku sadar ia sedari tadi tak mengalihkan perhatiannya dari wajahku karena ia tak yakin jika aku lah yang sekarang bicara padanya.

“Tentu saja, kau pikir ada Humanoid lain sepertiku?”

Ia kembali tersenyum.

“Kurasa ada yang salah denganku…” gumamnya.

“Apa? Apa yang salah?” aku terkejut mendengar ucapannya. Apa ia merasakan keanehanku sekarang? Atau ia merasa sesuatu yang aneh pada tubuhnya?

“Semuanya terlihat begitu indah dan sempurna dalam pandanganku… Atau aku masih berada diambang kematian…” Ia mulai bergumam, tapi tangannya masih tidak beranjak dari wajahku.

“Yeri, jangan bicara—” ucapanku terhenti saat Yeri meletakkan jari telunjuknya dibibirku. “Sshh, jangan berisik Baekhyun-ah…” ucapnya pelan.

Aku ingin bicara lagi, tapi Yeri tampak menatap sekitarnya, ia selalu lambat dalam berorientasi tentang dimana ia berada, dan mempertanyakan apa yang sekarang terjadi.

Ia lebih sering berfokus pada keadaan yang terpapar padanya sekarang.

“Kurasa aku bermimpi… Bagaimana mungkin kita ada didalam terowongan?” ucapnya membuatku menatapnya, ia berpikir tempat ini terowongan?

“Baekhyun, dimana kita? Apa yang terjadi?”

Lihat? Ia bicara dengan nada panik yang kukenali. Ia baru menyadari keberadaannya. Sungguh. Gadis ini…

Aku menyentuh jemarinya yang ada dibibirku, membuatnya tersadar sedari tadi ia membuatku tak bisa bicara, tidak, aku enggan, tidak, aku… ah, aku tak bisa menggambarkannya. Jemari Yeri seolah membiusku untuk membisu sesaat.

“Kita ada ditruk Sana, dan kita akan ke Barcelona, jadi, beristirahatlah,” ucapku menjawabnya.

“Siapa Sana?” tanyanya.

“Outsider sepertimu, dia bersama dengan Humanoid yang sama denganku, namanya Suho. Mereka akan banyak membantu kita.”

Aku mengusap lembut pipi Yeri, entah mengapa tangan ini, ugh, sungguh, aku tak bermaksud, baiklah, aku hanya ingin melakukannya, mengusap pipi Yeri untuk sekedar menenangkannya. Bukan bermaksud lain, sungguh.

“Istirahatlah…” kataku pelan.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan menjagamu.”

Ia menyernyit curiga.

“Jangan tinggalkan aku…” ucapnya pelan.

“Bahwa ia membutuhkanmu bukan hanya karena kau akan melindunginya, tapi karena ia tak ingin jauh darimu…”

Tanpa bisa kukontrol ucapan Suho terulang dalam benakku.

“Baekhyun?” Yeri berucap.

“Aku tak akan meninggalkanmu.”

“Kau berjanji?” ia menatapku, menunggu, sekarang melihat sepasang matanya mengingatkanku bahwa ia pasti pernah terluka karena Wendy.

Aku sadar. Aku ingat.

Saat aku bersama Wendy tanda vitalnya sungguh kacau. Dan ekspresinya tak pernah menunjukkan ekspresi senang.

Apa ia merasa terluka karena melihatku bersama Wendy? Benarkah?

Mengapa perasaan manusia benar-benar tak bisa kumengerti?

“Apa aku perlu berjanji seperti itu sementara aku tak pernah sekali pun meninggalkanmu?”

Yeri tersenyum, dan memejamkan matanya. Ia akan tidur.

“Terima kasih Baekhyun…”

“Sama-sama Yeri…”

Dan terima kasih juga. Karena dengan cara yang tak kumengerti, gadis ini membuatku bisa merasakan semua perasaan berbeda yang tak pernah bisa kuterima sejak awal.

Semua ketidak stabilan ini…

Tanpa sadar aku memperhatikan jemari kurus Yeri saat ia masih menggenggam tanganku erat. Walaupun tanda vitalnya sudah melambat, pertanda bahwa ia sudah tertidur, tapi jemarinya masih menggenggam milikku.

Entah mengapa, bahkan tanpa perlu aku berjanji, aku memang akan melindunginya. Apa keadaan ini memang sejak awal sudah menjadi hal yang wajib pada sistemku? Karena Yeri adalah ingatan pertama yang kulihat saat aku terbangun sebagai seorang Humanoid?

Seperti Suho yang sudah bersama Sana selama lebih dari dua tahun…

Aku ingin sekali yakin jika aku bisa bersama Yeri dalam waktu lebih lama lagi.

Dalam ketidak stabilan ini, aku tahu, aku dan Yeri akan menemukan jawaban.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Yeri kembali terbangun saat mobil berhenti. Tanda vitalnya berubah drastis. Ia pasti terkejut, dan merasa panik.

Hey… Tenanglah Yeri-ah…” aku segera menggenggam jemarinya saat ia akan terlonjak kaget. Tangan Yeri yang lain berusaha menemukanku sementara tatapannya berkeliaran ke sekeliling mobil.

Sana dan Suho sudah terbangun sejak beberapa jam lalu. Tak jauh berbeda dari Suho, Sana memberikan respon yang sama saat melihatku berada disisi Yeri.

Lover.

Sana menyebut kami.

Aku yakin aku pernah mendengar seseorang mengucapkan hal yang sama juga, entah siapa, aku cukup yakin ingatanku tak berbohong, seperti yang terjadi pada manusia.

Sana memang tak berani mengucapkannya saat Yeri sudah siuman. Aku sudah memberitahunya bahwa Yeri tak akan dengan mudah menerima ketidak masuk akalan semacam ini.

Yeri penuh dengan dugaan. Ia suka menduga semua hal dari sisi yang buruk. Walaupun aku tidak suka, tapi aku berusaha menerimanya. Aku tengah berusaha memahami Yeri.

Aku ingin memahaminya sebelum kuputuskan untuk benar-benar menerima keadaan yang terjadi pada kami.

Keadaan yang bagi Suho sudah terlihat jelas pada kami, namun sama-sama tidak bisa kami terima—Yeri yang terus mengelak dan berdiam, juga aku yang masih merasa hal ini tak mungkin.

“Kita sampai di Barcelona,” Yuta mengintip dari jendela kecil yang menghubungkan bagian depan dan box truk.

Ohayou, selamat datang dikehidupan barumu.” ucap Yuta saat melihat Yeri yang sudah terbangun.

Genggaman Yeri mulai mengerat padaku, dan tanda vitalnya mulai berubah.

“Jangan mulai Yuta.”

“Tidak, aku tak memulai apapun. Aku sudah mulai mengerti tentang kalian berdua.” ucapnya sambil kemudian mengalihkan pandangannya ke depan lagi.

“Apa yang ia bicarakan?” tanya Yeri.

Ah, ya. Sekarang ia menjadi satu-satunya nona tidak tahu disini. Yuta dan Ten pasti dengan mudah mendengarkan pembicaraan kami di belakang. Dan Sana sudah mengetahuinya hanya dengan melihat gesture kami—begitu ia menyimpulkannya.

Yeri satu-satunya yang tidak mengetahui apa-apa.

Dan aku tidak ingin ia tahu, untuk beberapa saat ini. Seperti yang kukatakan. Aku tengah berusaha memahaminya. Benar-benar memahaminya seperti yang manusia lakukan untuk memahami sesamanya.

Aku juga memberi Yeri waktu untuk mengatur perasaannya. Perjalanan ini akan melibatkan Yuta—entah sampai kapan—dan aku tahu rasa takut Yeri padanya tak akan hilang dalam waktu singkat.

Sementara Yuta, aku tahu ia masih merasa canggung padaku, maupun Yeri, karena aku benar-benar menyerangnya kemarin, kurasa keadaan kaku akan terus terjadi pada kami bertiga.

Keberadaan Ten juga bisa memperburuk. Karena ia bisa saja meneliti pikiran Yeri tentang kami semua. Ten masih muda, dan ia… benar-benar seperti manusia. Maksudku, ia sungguh punya emosi.

Satu-satunya manusia yang dipercayanya sekarang adalah Sana.

Dan Yeri? Ten pasti butuh waktu untuk mempercayainya.

Truk kami benar-benar berhenti. Aku tahu mereka pasti memarkir truk kami di tempat tersembunyi. Jadi kami akan meneruskan perjalanan ini, mencari Humanoid yang Wendy bicarakan.

“Kenapa kau terus menatapku seperti itu?” tanya Yeri pelan.

Yuta tergelak.

“Tentu saja karena aku senang masih melihatmu hidup.” ucapnya sambil lalu.

Aku ingin menyarangkan satu pukulan keras padanya, tapi kekerasan hanya akan membuat Yeri melihatku sebagai sosok Humanoid yang buruk bukan?

“Apa ia tidak suka padaku?”

“Apa?”

Yeri… tidak mengingatnya?

Sesuatu yang buruk benar-benar terjadi padanya. Dan Yuta adalah sasaran kemarahan utamaku karena keadaan Yeri sekarang.

“Apa dia benar-benar tidak suka padaku?” tanya Yeri, masih menatap Yuta dengan ketakutan yang sama dimatanya.

“Tidak,” jawabku kaku, sistemku mulai memanas saat sadar Yeri tidak pulih dengan sempurna, dan tatapanku segera tertuju pada Yuta, “dia memang seperti itu pada semua orang.” sambungku.

“Ah…” Yeri bergumam pelan, ia mengeratkan pegangannya dilenganku saat Yuta melangkah mendekatinya.

Yeri merasa takut. Tapi ia tak mengingat Yuta.

Aku menahan lengan Yuta saat ia akan bicara, tatapanku cukup menjadi alarm peringatan baginya untuk menjauh dari Yeri sebelum aku benar-benar tidak bisa menguasai diriku dan menghancurkan prosesornya.

Suho dan Sana menatapku khawatir, dan Yuta tak memutuskan untuk bicara apapun pada Yeri.

Aku menatap Yeri, melakukan scanning singkat padanya.

Tak ada yang salah. Seluruh organnya dalam keadaan fungsional. Ia baik-baik saja. Tapi kenapa ia tak bisa mengingat dengan baik?

“Apa kau ingat kemana kita akan pergi setelah ini?” tanyaku pada Yeri.

Ia tersenyum dan mengangguk.

“Kita akan ke Edinburgh bukan? Momo punya Owner di sana.” ucapnya.

Ia ingat. Ia mengingatnya. Tapi tadi ia tidak ingat alasan yang membuatnya ada disini bersama Yuta, Ten, Suho dan Sana.

“Kau ingat Wendy?”

“Tentu saja aku ingat, memangnya kenapa?” ia menatapku dengan sepasang mata cerahnya. “Temporary amnesia.” Ten berucap pelan padaku, “Yuta sudah membuatnya mengalami shock bukan? Kurasa ia lupa pada kejadian itu.” sambungnya.

Aku sudah akan mendiagnosanya seperti itu saat Ten mendahului pemikiranku. Apa Yeri akan baik-baik saja?

“Apa yang kau pikirkan?” aku tersenyum pada Yeri yang menatapku khawatir, dan segera menggenggam erat tangannya.

“Ayo, kita butuh tempat beristirahat.” ucapku.

Yeri tak bicara apapun. Dan ia belum mempertanyakan hal lain lagi selain Yuta. Ia tak lagi bicara tentang saat terakhir hidupnya kemarin, dan aku juga tak ingin membahasnya.

Apa ia juga lupa jika Ia kemarin terbunuh karena Yuta?

Entahlah. Tapi tadi saat terbangun ia ingat ia kembali kuhidupkan. Ia ingat bagaimana ia begitu menginginkan kematian bukan? Lalu sekarang…

Aku hanya harus memastikan seberapa banyak ingatan yang ia lupakan.

“Kau ingat saat aku pertama kali terbangun karenamu?” tanyaku.

Yeri mengangguk, dan senyum cerah muncul diwajahnya, “Kau menyelamatkan nyawaku saat itu, bagaimana aku bisa lupa?” ucapnya membuatku merasa lega, ia ingat.

“Lalu… Ingat saat kita masuk ke Yanke dan kau merasa kesal karena berjalan berjam-jam didalam Yanke?”

Yeri merengut.

“Kenapa membicarakannya lagi? Hari itu saat kita bertemu Momo bukan? Kau sangat tidak percaya pada Momo saat itu.” kenangnya.

Baiklah, ia ingat.

“Ingat rumah Ownerku di Lyon?”

Ia mengangguk.

“Hmm, ah, catatannya. Kurasa catatannya ada di… oh, tunggu, dimana aku menaruh catatan itu?” Yeri bergerak meraba-raba jaketnya.

Aku memang mengambil catatan itu tanpa diketahuinya, dan wajar saja ia mencari kemana catatan itu.

“Aku sudah mengambilnya,” ucapku membuat Yeri berhenti dari kegiatannya.

“Benarkah? Kapan?” ia menyernyit.

“Saat kau tidur tentu saja.”

Yeri mencibir pelan, tapi ia kemudian menyernyit, membuatku merasa waspada. Apa Ia sadar Ia melupakan sesuatu lagi?

“Ah, aku lapar.”

Baiklah, untuk sekarang ia hanya lupa beberapa hal saja.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kami memutuskan untuk menginap disebuah chėrie yang ada di pusat kota Barcelona. Dan malam ini adalah perayaan witness, sebuah hari yang diperingati manusia sebagai hari pengorbanan.

Biasanya di hari-hari ini akan ada banyak manusia yang diabaikan oleh keluarga mereka. Dibuang. Dan akan ada banyak Outsider baru.

“Kau mau berjalan-jalan diluar?” tanyaku.

“Kita akan kemana?” ucapnya bersemangat.

Apa pandanganku salah? Atau memang sepanjang hari ini Yeri selalu terlihat senang? Seolah tak ada masalah apapun yang membebani pikirannya.

“Pusat kota. Ini witness night.” ucapku membuat Yeri menyernyit, “Kenapa?” tanyaku melihat ekspresinya.

“Apa kau mau mengorbankanku untuk witness night?” tanyanya membuatku tak bisa membendung tawaku.

Sungguh.

Ia bercanda?

“Tidak, tentu tidak.”

“Baiklah, ayo.” ucapnya tanpa berpikir panjang seperti yang biasanya ia lakukan. Apa hilangnya beberapa memori berefek seperti ini pada Yeri?

“Kami akan segera kembali.” ucapku pada Ten yang tampak serius menekuni buku tua peninggalan Greek yang sekarang ada padanya.

Sana dan Suho sudah keluar sedari tadi. Sementara Yuta menghilang tanpa jejak, kurasa ia juga keluar, entah kemana.

“Baiklah,” ucap Ten.

Aku lebih mempercayai Ten daripada Yuta, karena aku yang menemukan Ten, dan aku yang berusaha meyakinkannya untuk mencari jawaban atas semua yang terjadi pada kami.

Aku memasangkan sebuah jaket tebal pada Yeri, dan ia tersenyum menerima perlakuanku. Perubahan drastis tanda vitalnya mulai menjadi nada indah yang masuk dalam sensorku.

Suhu di Barcelona memang tidak serendah di Lyon, tapi Yeri manusia, ia pasti akan merasa kedinginan cepat atau lambat bukan?

Aku melangkah bersama Yeri menyusuri jalanan lenggang Barcelona, semua orang pasti berkumpul di Sentral.

“Apa kau pernah melihat witness night?” tanyaku.

Yeri mengangguk pelan.

“Satu kali, saat aku ditinggalkan oleh Ayahku dan Irene,” jawabnya.

“Ah… Maaf, aku tak bermaksud membicarakan Irene.” ucapku.

“Tidak apa-apa. Aku bersamamu sekarang. Aku sudah tidak begitu khawatir tentang Irene.” ucapnya membuatku merasakan ketidak stabilan aneh itu lagi, perasaan kosong sesaat itu.

Senang.

“Setelah itu? Tidak pernah sama sekali?” tanyaku lagi.

Witness night selalu dilakukan saat lewat tengah malam. Aku tak mau tertangkap oleh Sentry.” terangnya.

Benar, ia Outsider, dan keberadaan Outsider tetap diburu walaupun saat witness night. Terutama karena akan muncul semakin banyak Outsider saat beberapa manusia dibuang begitu saja oleh keluarganya tanpa Humanoid, seperti yang terjadi pada Yeri.

“Tapi kau bersamaku sekarang, dan tak akan ada yang tahu kalau kau adalah Outsider.” ucapku.

“Benarkah?” ia menatapku terkejut.

“Bukankah aku sudah pernah memberitahumu? Aku sudah membuat identitas palsu untuk kita. Kau, Sara, dan aku, Grey.” Yeri mengangguk-angguk mendengar ucapanku.

“Aku ingat tentu saja,” ucapnya.

“Benarkah? Ah lega mendengarnya Yeri-ah.”

Yeri menatapku, menyernyit.

“Memangnya kenapa?” tanyanya membuatku menggeleng pelan, “Tidak, tidak ada apa-apa Yeri-ah.” jawabku.

“Kau memanggilku Yeri, bukankah seharusnya kau memanggilku Sara?” tanya Yeri sedikit mengejutkanku.

Selama ini Ia tak pernah mempertanyakan kenapa aku terus memanggilnya Yeri saat ia berpura-pura menjadi Sara.

“Karena itu namamu.”

Yeri menyernyit.

“Bagaimana jika seseorang diluar sini mendengar kau memanggilku dengan namaku?” tanyanya.

“Ah, benar juga. Aku akan memanggilmu Sara saat kita ada diluar ruangan.” ucapku membuat Yeri mengangguk-angguk antusias.

“Dan aku akan memanggilmu Grey.” katanya.

Aku memperhatikan Yeri, senyum di wajahnya seolah enggan menghilang. Dan aku suka, saat melihatnya terus tersenyum seperti ini, aku merasa lebih baik.

Seolah aku benar-benar telah melindunginya.

“Ngomong-ngomong, Yeri-ah.”

“Yeri?” ucapnya menyernyit.

“Baiklah, Sara, ada yang berbeda denganmu hari ini.” ucapku membuatnya menyernyit, “Apa itu?” tanyanya.

“Ini pertama kalinya kau mengikat rambutmu.”

Yeri mengerjap cepat.

“Benarkah? Aku tidak pernah menyadarinya.” katanya polos, tangannya bahkan bergerak merapikan ikatan rambutnya.

Begitu… membuatku merasa senang melihatnya seperti ini.

“Kau terlihat cantik,” pujiku, aku mengatakannya karena ia memang terlihat seperti ini dalam pandanganku.

“Terima kasih, Grey.”

Untuk pertama kalinya aku merasa asing saat ia menyebutku seperti ini. Tapi, ah, lupakan saja, ia hanya tengah membiasakan diri menyebutku seperti ini, karena kami ada diluar.

“Kita sampai.” ucapku saat sadar kami sudah sampai di Sentral, aku bahkan mulai tidak menyadari keberadaanku saat aku bersamanya.

Whoah, lihat itu, ada puluhan Humanoid.” ucapnya tampak begitu terkesima.

Sedikit banyak aku merasa menyesal telah membawa Yeri ke tempat ini. Karena ia terpaksa harus melihat puluhan orang, anak-anak, remaja, dipisahkan dari keluarga mereka.

Tidak. Witness night adalah hari perpisahan bagi sebuah keluarga. Hal yang begitu Yeri inginkan. Ia pasti akan—

“Mereka pasti akan bahagia bersama Humanoid-humanoid itu.”

Aku menyernyit mendengar ucapan Yeri. Ini kali pertama ia berucap seperti ini. Sebelumnya ia selalu merasa sedih saat membayangkan keluarga manusia berpisah, terlebih karena masa lalunya sendiri—

“Apa witness night akan selalu seperti ini?” ucapnya sambil menatapku.

“Ya, kurasa selalu seperti ini. Kenapa?” tanyaku.

Yeri menggeleng, dan tersenyum kecil. Bukan senyum kecewa karena melihat puluhan bahkan ratusan, tidak, jutaan keluarga terpisah pada malam ini, tapi ia tersenyum, tulus.

“Rasanya sangat mengharukan.”

“Apa?” aku sungguh terkejut mendengar ucapannya.

“Malam ini sangat penuh dengan haru. Tidakkah begitu?” tanyanya, “Ada banyak Humanoid yang diaktifkan, dan orang-orang terlihat begitu senang.” sambungnya.

Tidakkah perpisahan sebuah keluarga seharusnya mengusiknya?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

EHEM. Entah berapa hari berlalu sejak aku publish chapter 12. Dan yang jelas, seperti yang aku bilang, aku gasuka kisah cinta bahagia yang gitu-gitu aja HUAHAHAHA. Alhamdulillahnya aku menemukan cara buat ngebikin Yeri jadi abnormal /kemudian ditendang rame-rame/

Semoga masih ada yang nunggu fanfict ini meskipun semakin aneh dan abnormal seperti authornya. Jangan lupa tinggalkan vitamin kalian di kolom komentar! Ppyong!

.

Show! Show! Show! Let’s come to my SHOW!

[ https://beepbeepbaby.wordpress.com/ ]

Sincerely, IRISH.

123 tanggapan untuk “One and Only – Slice #13 — IRISH`s Story”

  1. Pdhl dr semua organ dlm’ny yeri yg terluka, otak’ny baik2 aja kan, ko tetiba dy jd temporary amnesia gitu? ciyeh.. baek, klo ada mksd laen pas elus2 pi2 yeri td jg gpp kok ^ ^ silahkan.. dih couple suho-sana udah nyolong start bwt ngdate aje mrk! itu si yuta ngayab kemana? jgn cari mslh/bikin onar lg deh -.-

  2. finally cabe bengkok dateng yeeey#reunian percabaian#plaak
    aah CHITTAKU uuu keren ih karakterny disini padahal aslinya juga muka” ice prince..wkwk jadi gampang bayangin dia jd robot..
    alah ini si yeri kenapa jd abnormal begini..cukup YUYUTKU yg abnormal#ditendang fans

  3. Aku setuju sama baek, ada yg beda dari yeri. apa bener kata ten tentang hilang ingatan*bahasa mudahnya*. Ooh yeri, maap ya. maap juga buat kak irish, tapi entah kenapa aku gak suka si yeri bahagia , aku sukanya yeri sebelum ini karena baekhyun khawatir mulu ama yeri.. Hahaha, mian kak aku udah berpikiran jahat..

    1. XD BUAHAHAHAHA iya ada yang salah tuh sama si Yeri XD wkwkwkwk HEEEYY XD XD KAMU KEZAMM, SEBENERNYA AKU JUGA BERPIKIR BUAT NGANIAYA DIA TERUS XD

  4. Chingu kok keadaan yeri jadi aneh sihh /? dia hilang ingatan, tempory amnesia . tapi kenapa ngubah sifat juga /?

  5. Sebentar kak Irish,aku belum bisa paham keadaan Yeri…dia seperti berbeda,tapi…
    Yeri jadi begitu asing.
    Aku juga nggk suka kisah cinta yang gitu2 aja.Kok kita samaan ya kak irish?? Wkwkwk*mohon abaikan*

    1. XD dia jadi berbeda kah? XD wkwkwkwkwk aku suka emang, bikin orang-orang udah seneng sama kisah cinta bahagianya kemudian di tengah-tengah aku kasih tragedi XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s